[Ficlet] Waiting For You

waiting

Waiting For You

Kim Hye Lim / Hello Venus – Mark / GOT7

Ficlet | AU | General

A fiction by Yoo

.

.

Dia datang lagi dengan seikat bunga astilbe.

Pemuda dengan senyum menawan dan sorot matanya yang berbinar lembut itu bersandar di ambang pintu bangsal tempatku mendekam selama hampir sebulan. Dia tidak langsung melangkah masuk, alih-alih beranjak dari tempatnya, dia malah terus mengulas senyum simpul sambil mengarahkan irisnya tepat ke arahku. Menatapku intens.

Aku tidak terbiasa dengan tatapannya. Caranya memandangku berbeda dengan orang lain di luar sana yang terus meneriakiku tak waras, juga berbeda dengan tatapan keluargaku —yang menendangku ke bangsal rumah sakit jiwa karena menganggapku kehilangan akal sehat setelah menemukan kucing anggora kesayangan mereka tertidur lelap di pangkuanku dengan belati yang tertancap di punggungnya, padahal aku hanya membantu kucing yang sakit itu agar tidak merasakan rasa sakit untuk waktu yang sangat panjang. Aku kembali menangkap sorot mata pemuda itu, masih lurus tertuju padaku. Buru-buru aku memalingkan pandang, mengarahkan manikku ke arah pohon Ek yang berdiri kokoh di luar sana.

Aku mendengar derap kakinya mendekat. Lambat namun pasti. Ekor mataku masih bisa menangkap sosoknya yang beringsut ke meja tunggal di ruangan ini, mengganti bunga astilbe pemberiannya kemarin dengan yang baru pada vas kaca bening. Kemudian dia beranjak menghampiriku yang terduduk di sudut kiri ruangan, menghadap jendela.

“Bagaimana kabarmu hari ini, Hye Lim?”

Aku tak bergeming. Tidak juga mengalihkan pandang dari pohon Ek dari balik jendela.

Sekali lagi dirinya mengulas senyuman. Membuatku makin bersikukuh untuk tidak menatapnya. Aku benar-benar belum terbiasa dengan caranya memandangku. Tak pernah ada yang melihatku dengan sorot mata teduh dan penuh kelembutan sebelum ini. Tatapannya terasa seperti sesuatu yang benar-benar asing untukku. Bukan berarti aku membencinya, hanya saja ada sesuatu yang mengganjal dari dalam hatiku saat melihatnya menatapku.

“Aku membawakanmu astilbe lagi, apa kau suka?”

Kali ini aku sedikit mengerling padanya dan tepat saat itu juga aku bisa melihat sudut-sudut bibirnya yang makin terangkat naik hingga memamerkan deretan giginya yang sempurna.

“Apa sekarang kau sudah tahu arti bunga itu?”

Pertanyaan itu lagi.

Hampir sebulan ini dia menjadi satu-satunya pengunjung yang menjengukku di bangsal rumah sakit ini, selain Lim Seul Ong — psikiater yang merawatku— dan perawat lainnya tentu saja. Selama sebulan ini pula dia selalu membawakanku sebuket bunga astilbe, mengganti bunga yang lama dengan yang baru di vas kaca itu, seperti sudah menjadi rutinitas tersendiri baginya. Dan selama ini pula, dia selalu menanyakan pertanyaan yang sama padaku. Tentang arti astilbe.

Dia mendesah dalam senyumnya. Tangannya yang besar dan hangat mengacak puncak kepalaku. Perlakuannya ini juga sesuatu yang tak biasa bagiku, tapi anehnya, aku tak keberatan saat tangannya menyentuhku.

Seingatku dia pernah memberitahu namanya. Mark, begitulah nama panggilan pemuda itu. Dia mengaku sebagai adik angkat Lim Seul Ong, itu sebabnya dia kerap datang ke tempat ini, hingga dia bertemu denganku. Tak jarang dia menceritakan banyak hal padaku tiap kali berkunjung kemari. Tentang keluarga Lim yang mengadopsinya saat dia masih berumur sepuluh tahun, tentang psikiater itu, tentang kehidupan kampusnya, tentang apapun yang dia alami hari itu, tentang semuanya. Aku membiarkannya berceloteh banyak hal, meski kerap kali aku tak terlalu memperhatikan ceritanya, sibuk dalam lamunanku sendiri sembari meringkuk di sudut ruang, dan dia tahu itu. Tak masalah, katanya. Dia sudah cukup senang bercerita banyak hal padaku, walaupun lebih tepatnya mengoceh sendirian. Dia bilang, meski tak ada respon dariku, asal ada aku di dekatnya, itu sudah cukup.

Aku tidak mengerti ucapannya itu. Setiap dia mengatakan hal tak masuk akal itu, aku merasa jika dia juga butuh perawatan intensif, mungkin saja dia sudah gila sama sepertiku. Ah, tidak, aku tidak gila. Orang-orang itu saja yang seenaknya memvonisku terkena gangguan jiwa.

“Astilbe punya makna tersendiri, tentang sebuah penantian,” tuturnya.

Aku mengangguk singkat, pelan, tapi tidak benar-benar paham maksud perkataannya.

“Bunga ini melambangkan apa yang kurasakan saat ini,” ia kembali mengucap kata. Beberapa detik menunduk dan mendesah, sebelum mendongak menatapku lagi. “Aku menunggumu, Kim Hye Lim.”

Satu baris kalimat yang terucap dari bibirnya mampu menarik segenap konsentrasiku terpusat sepenuhnya pada pemuda itu. Lagi-lagi dia mengatakan hal yang tidak kupahami. Kata-katanya juga terdengar asing di telingaku. Tidak pernah ada yang mengucapkan hal serupa padaku, dia yang pertama kali mengatakannya. Orang pertama yang berujar akan menungguku.

Dia memamerkan senyumnya untuk kesekian kali. Sementara tangannya meraih puncak kepalaku, dan seketika perasaan hangat itu kembali menjalari tubuhku. Oh, sepertinya benar-benar ada yang aneh denganku.

“Jika mereka memperbolehkanmu keluar nantinya, apa kau mau tinggal bersamaku, Hye Lim?” tanyanya. Ada binar berbeda terpancar dari balik kelopak matanya. “Aku akan segera menyelesaikan kuliahku, mencari pekerjaan, lalu menyewa tempat tinggal untuk kita. Tenang saja, aku akan meminta ijin pada keluargamu, kuharap mereka mau mengijinkanmu tinggal bersamaku. Aku akan merawatmu dengan baik, mungkin tidak sebaik Seul Ong Hyung, tapi aku janji akan berusaha menjagamu lebih baik dari lelaki manapun.”

Aku memiringkan kepala, tidak mengerti. Dia memintaku untuk tinggal bersamanya. Dia mengatakan akan menjagaku dengan baik. Mengapa harus? Entahlah. Tapi kata-katanya itu terdengar menyenangkan di telingaku, meski aku tak sepenuhnya memahami apa makna dari ucapannya. Apa dia ingin membawaku keluar dari tempat ini dan pergi jauh? Ah, pemuda ini memang selalu membicarakan hal aneh yang sulit kutangkap.

“Aku akan menunggumu. Ketika hari itu tiba, apa kau mau tinggal bersamaku, Hye Lim?”

Tinggal bersama dengannya lebih terdengar menyenangkan dibanding terkurung di ruangan ini atau kembali ke rumah keluargaku. Aku lalu memfokuskan diri memandang kedua matanya. Sorot mata itu menjawab semua keraguanku, semua ketakutanku.

Lalu, aku pun mengangguk.

 fin.

Dipublish juga di

Paper of Stories

Ps: Kalau ada yang belum tahu bunga astilbe, ini saya cantumin gambarnya hehe. Terakhir, mind to review?🙂

45ebc0242812c9548f5448bc0eba6d4e

5 thoughts on “[Ficlet] Waiting For You

  1. YAYAYAYAYA MARK AKU MAU /APA.
    ya ampun itu kenapa hye limnya ;_; dia gila karena apa huhu kasian. omg marknya manis banget sih minta dikawinin banget ya ;w; btw, aku suka diksinya, meksipun ada beberapa kata yang kurang tepat ditulis, tapi aku suka ceritanya kok.
    tbh ini pertama kalinya lagi aku baca ff lurus……………………….
    terus berkarya!😀

  2. Mark, kamu keren, nak!! Ngelamar pake acara nyogok bunga tiap hari dan senyum-oh-so-handsome di pinggir pintu siapa yang bisa nolaaaaak?
    Ah, cewenya masuk RSJ gara-gara bunuh kucing? kayanya keluarganya yang harus masuk ya… heuheu opini pribadi sih hahaa
    Eum… mau deh bunuh kucing trus masuk RSJ asal dapet jodoh adiknya dokter. Apalagi Mark~ #maunya
    Hahaaaa anyway it’s a great story!! Really!! Simple, Short, Sweet, and kinda fluffy~ I enjoy it sooo much~

  3. Akhirnyaada juga ff yang castnya anggota got7
    Rada susah nyari soalnya…
    Mark got.in.bi sedang apa kau???
    Kebayang senyumnya mark
    Bisa gila kalo liat langsung

    Moga ff yang castnya mark makin banyak…
    Hahaha

    Ini ffsimple,short tapi ngena

  4. Mark mark mark
    aku aja yang tinggal sama kamu hoho
    mau bingittsss haha
    baru tau bunga astilbe
    cantik banget warnanya

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s