[ONESHOT] Longing

HOSUHO

Author : Awsomeoneim

Casts :

  • EXO’s Suho (Jun Myeon, Kim)

Genre : Drama

Lenght : 1,102 words

Rated : PG-12

Disclaimer :

  • The story is officially mine. Has posted here.
  • Suho’s belongs to God, His Parents-Family, SMEnt, and his fans around the world.

Summary : We will make it till the end.

(Again) I’m getting inspired by random things, just like a fanmade, and….hangers. Lol.

Here’s the FANMADE by TheMSRorro that gives me an inspiration and waked up the wild imagination in me.. Then TADAAAH~

Here’s my newest fanfiction for you guys.

Enjoy it~

+OoOoO+

HOSUHO

Author : Awsomeoneim

Casts :

  • EXO’s Suho (Jun Myeon, Kim)

Genre : Drama

Rated : PG-12

Disclaimer :

  • The story is officially mine.
  • Suho’s belongs to God, His Parents-Family, SMEnt, and his fans around the world.

Summary : We will make it ’till the end.

(Again) I’m getting inspired in the midnight by random things, just like a fanmade, and now…. hangers. Lol.

Here’s the FANMADE by TheMSRorro.

It gives me an inspiration that waked up the wild imagination then TADAAAH~ Here’s my newest fanfiction for you guys.

Enjoy it~

+OoOoO+

Disaat rekannya menikmati kudapan penutup makan malam, salah seorang lelaki berkulit putih bersih memilih menjadi orang pertama yang meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan gontai menuju sebuah ruangan yang dipenuhi sepatu, pakaian, dan rangkaian perlengkapan make up yang telah di tata sedemikian rupa hingga tidak lagi mirip dengan gudang penimbunan barang gelap seperti yang ia lihat beberapa waktu lalu sebelum matahari terbenam.

Menelusuri satu persatu barisan barang-barang tersebut, yang sudah sangat familier selama dua tahun terakhir baginya. Hingga pandangan manik jernihnya tertumbuk pada salah satu barisan pakaian untuk perform mereka.

Pakaian seragam sekolah dengan motif kotak-kotak. Satu kenangan terlintas begitu saja dan memancing ujung jemarinya menyapu satu per satu ujung bahu pakaian yang digantung berjajar sembari menghitung dengan enggan.

Satu..

Dua..

Alam sadarnya berusaha keras menarik pemuda tersebut dari hasutan provokatif kenangan masa lalu yang lagi-lagi akan membawanya kepada rasa pahit yang sama. Namun alam bawah sadarnya menolak dengan mentah-mentah peringatan sederhana itu.

Enam..

Tujuh..

Semakin menuju akhir hitungan, kenangan-kenangan lain membanjirinya tanpa ampun. Ia sudah siap jika hasil akhir dari hitungannya adalah angka kembar. Seperti yang akhir-akhir ini selalu ia dapatkan.

Sebelas…

Duabelas.

Kelopak matanya melebar untuk beberapa detik sebelum beberapa argumen menyeruak bersamaan dalam akal sehatnya.

‘Aku pasti salah menghitung,’

‘Ini hanya halusinasi,’

‘Mungkin mereka tidak sengaja membawa barang-nya,’

Barang-nya.

Dengan cekatan ia segera menghitung ulang barisan pakaian di hadapannya. Dan akhirnya ia menemukan biang keladi atas hasil hitungannya yang berbeda dengan prediksinya semula.

Sebuah gantungan pakaian kosong terselip diantara sebelas pakaian lain yang berjejer. Terselip diantara pakaian Luhan dan Suho.

Ya, kosong.

Hanya sebuah gantungan pakaian tanpa pakaian yang menyelimutinya.

Ia mengeluarkan gantungan pakaian tersebut sembari mendengus pelan, ‘Untuk apa digantung jika tidak ada pakaiannya?’

Sebuah goresan berhasil mencuri perhatiannya, sebelum insting motorik mendahuluinya hendak melemparkan gantungan tersebut ke dalam kardus terdekat.

Atau lebih tepatnya, sebuah inisial nama kepemilikan yang dituliskan dengan marker berwarna putih tebal di tengah-tengah gantungan tersebut.

K.

Sial! Hanya satu huruf dan itu lebih dari cukup untuk kembali mengaktifkan rasa rindu dan mendamba yang baru saja absen dari dalam dirinya untuk barang tidak lebih dari setengah jam. Mereka menyebar dengan cepat dan menginvasi sekujur tubuhnya dengan keringat dingin.

‘Betapa lemahnya kau Kim Junmyeon!’

Cercaan pedas itu ia tujukan untuk dirinya sendiri, ketika ingatan akan sosok paling malang di muka bumi kembali menyebar ke setiap sel memorinya.

Ia, Kim Jun Myeon, pemuda berusia 22 tahun, yang setiap malam menjelang harus memaksa dirinya menelan sebutir obat tidur agar sistem tubuhnya tidak lagi meronta menolak tidur. Hanya karena ingin berhalusinasi seolah semua yang sedang melandanya kini hanya  sekedar bunga tidur busuk. Yang akan lenyap ketika mentari kembali menyala terang.

Kenyataannya, ini mimpi buruk terlama yang pernah ia alami. Mimpi buruk yang rasanya tidak akan berujung.

Sekedar iseng, ia menggoreskan kukunya perlahan ke permukaan marker tersebut. Nihil. Ia mengulanginya dengan lebih keras, namun tetap saja tidak ada yang berubah.

‘Harusnya aku ingat. Mereka pasti menuliskannya dengan spidol permanent.’

Dan sebuah pikiran kekanakan melintas begitu saja di benaknya, ‘Seandainya saja kau seperti marker ini, Kris.’

Yang kemudian ia tertawakan sendiri. Tidak seharusnya ia masih memikirkan hal semustahil itu. Tidak lagi.

Cukup lama ia menimbang-nimbang akan meletakkan gantungan pakaian itu kembali ke tempatnya, atau memindahkannya ke dalam kardus seperti yang ia rencanakan di awal.

Jika tetap diletakkan di tempat semula, gantungan pakaian ini bisa saja menjadi bom atom bagi kesepuluh rekannya. Karena jika sampai mereka menemukan ada duabelas gantungan pakaian yang tergantung di sana, bukan tidak mungkin hal sekecil ini dapat menghancurkan sugesti yang telah mereka ciptakan dengan susah payah selama seminggu terakhir. Hanya karena sebuah gantungan pakaian berinisial K.

Dan kardus kosong yang semula diincarnya kini juga tampak tidak terlalu meyakinkan.

Keputusan final yang ia ambil mungkin akan terdengar konyol. Namun ia tidak ingin ambil resiko dengan menghancurkan pertunjukan mahakarya mereka hanya karena kecerobohan salah seorang staff.

Ia memilih menyimpan sementara gantungan pakaian itu ke dalam kopernya sementara waktu.

Entah sampai kapan.

Dan entah untuk apa.

Ia kembali mengecek satu persatu jumlah pakaian, sepatu, dan aksesoris. Kali ini dengan lebih teliti. Mungkin saja ada barang milik-nya yang juga tidak sengaja masuk ke dalam barisan sehingga perlu di’amankan‘ lebih awal.

+OoOoO+

Sebelum ia melepas genggaman pada gagang pintu ruangan sepenuhnya, sepasang manik hitam miliknya menangkap kembali cetakan font tebal di atas sebuah kertas polos yang ditempelkan di pintu ruangan tersebut.

Ruang Ganti EXO.

Ya, ruangan ini akan menjadi salah satu saksi bisu kesibukan lelaki tersebut bersama kesepuluh rekannya selama tiga hari kedepan selain panggung megah dan ribuan kursi yang tertata rapi di luar sana atas perhelatan raksasa yang akan segera dilangsungkan. Konser Perdana mereka : The Lost Planet in Seoul.

Perlahan, ujung jemari kurus pucatnya menyentuh lembut permukaan kertas dihadapannya sembari menyampaikan sebait doa yang berkelebat di hatinya pada tiga baris huruf terakhir yang hanya balas diam memandanginya dengan angkuh.

EXO

We’re one.

+OoOoO+

Saat ia menunggu pintu lift terbuka, ponsel di dalam saku jaketnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk.

‘Apakah..’

“Kau sudah kembali ke kamarmu? Mereka semua sudah kembali ke kamar masing-masing sejak sepuluh menit lalu.”

-From : Manager Hyung-

Jujur, ada sedikit rasa kecewa dalam dadanya saat membaca nama pengirim pesan yang baru saja ia terima. Bukan orang yang ia harapkan.

“Ne, hyung. Aku sudah di dalam lift.”

-To : Manager Hyung-

Bersamaan dengan dentingan lift yang menandakan ia telah tiba di lantai yang ditujunya, sebuah pesan kembali masuk.

“Kembalilah ke kamarmu secepatnya. Besok kita akan melakukan rehearsal sebelum sarapan.

Kecuali kau berencana tidak tidur.”

-From : Manager Hyung-

Dan ia memilih mengabaikan pesan tersebut. Terlebih karena ia sudah berada di depan pintu kamarnya. Namun lagi-lagi ponselnya kembali bergetar.

Ia tetap kukuh mengabaikan pesan terbaru tersebut dan memilih menenggak segelas air putih bersama dengan sebutir obat tidur. Namun sebuah dorongan memaksanya untuk menggeser layar hitam pekat dari layar ponselnya dan membuka pesan tersebut sebelum merebahkan diri.

Dan ia tetap terjaga sampai 3 menit berikutnya untuk sekedar diam menatap layar ponsel sambil membaca sebaris kalimat dari pesan tersebut berulang kali.

 ‘Happy birthday EXO’s Suho, Kim Jun Myeon.’

-From : 우리그리스-

Dan kini Suho tau apa yang akan ia lakukan dengan gantungan baju itu.

Menggunakannya untuk memukul Kris sepertinya bukan ide yang buruk.

+끝+

Yeah honestly, I’m the one who longing for Kris presence here. ㅋㅋㅋ /sobs/

Well, let’s wish the best fate for each side guys~

바이팅!!

EXO 사랑하자~

10 thoughts on “[ONESHOT] Longing

  1. Ah, you open up my ‘not so old’ scar. ㅠㅡㅠ honestly, not long ago I also always thought the same thing just like junmyeon, that ‘this is just a dream, a nightmare, a long nightmare, and will be ended once we wake.’ Tapi ternyata sampe sekarang belom bangun juga. ㅠㅡㅠ
    What a nice story thor, kaya udh ngewakilin perasaan kita juga. Keep Writing while we wait for a miracle.❤

    • Sini-sini saya bagiin jeruk nipis geratis, yang mau lukanya ditetesin jeruk nipis come to meee~
      #DutaGalau2014
      Keep main 2048 aja yuk, saya kan belum keliatan muka kris T^T

  2. disaat aku mulai move on, kenapa kau membuatku harus mengingatnya lagi thorrr~ #dramatis
    Papi suho si butiran debu, tidak sekuat seperti kelihatannya😦

    • karena luka tidak kan terasa se-sakit ini jika ditanggung bersama.
      #DutaGalau2014
      It’s oke tobe galau guys ‘-‘)/ /bagiin jetzet atu-atu/

  3. Jujur aja deh. Ini comment pertamaku di wp ini. Baru nemu wp ini kemaren sumvah. Tapi intinya bukan itu. Intinya… Kenapa ceritanya harus kayak giniii…😥
    Aku udah rela in Kris pergi ke alam(?)nya..
    Tapi ini malah diingetin lagi. Tapi ff nya keren kok. (agak) Singkat tapi ngena. Ah.. panjang-sebelah-tali-s’patuku aja deh.
    Keep writing

    • saya juga udah setengah jalan muvon chingu, ini cuma tau” keliatan hanger trus muncul ide. yang menyakitkan. hiks.
      eniwei gomawooooo~😀
      rajin komen yaaaa~ welavkomen~ /slaps/

    • (once again) It’s Oke To Be Galau, chingu..
      So, marilah kita gathering saja ya setelah ini, nyemil bareng Jetzet choco, sambil nyanyi PANJANG SEBELAAAH~ /slaps/

  4. sakiiiiiiiiit.
    yg tulisan korea terakhir itu jujur saya g bisa baca, tapi begitu pendamping saya tercinta bilang ‘uri keuriseu’ saya langsung teriak.
    keren, nulisnya rapi, feelnya dapeeeet banget.
    selama ini aku selalu beranggapan bahwa suho itu selalu siap membunuh kris setelah kris keluar, tetapi setelah baca FF ini, mungkin…. suho juga nggak benar2 membenci dia.
    silahkan berkarya lagi, tapi jangan model galau yah….
    #pundungdipojokan #ambilgunting #potongkakikris #bercanda

    • Ya ampun… readernya aja baca ada pendampingnya, ini authornya hari gini masih aja nulis sendirian… nyesek huhuhu /slaps/
      Euu, character Suho ini cuma sekedar pemikiran pribadi author ya chingu, soalnya dari sorot mata Kim Suho dia nampak seperti sosok yang lemah-lembut-kadang rapuh-so butiran debu-but strong leader, jadi jujur, ngga pernah kepikiran sejak awal masalah itu keluar kalo dia bakal bunuh Kris.

      Kalo mukulin pake hanger ato tutup panci sih bisa jadi ya… /double slaps/

      Neee chingu, I’ll keep writing~😀
      Thankyou ya sudah leave comment~
      FYI, saya orang yang jarang galau ko chingu, cuma gegara liat hanger itu.. jadi.. begini..
      [lagi – lagi salah hanger]

      Daripada potong kaki kris potong tali sepatu aja yuk sini biar ngga PANJANG SEBELAAAAH~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s