[FF Freelance] Our Little Promise – Blooming Again? (Chapter 4)

ourlittlepromise-redrose

Title                 :           Our Little Promise : Blooming Again?

Author           :           Red Rose

Length            :           Chaptered

Rating             :           PG-15

Genre              :           Romance, Angst, Hurt

Main Cast       :           Jung Soo Jung & Kim Jong In

Other Cast      :           Jung Soo Yeon & Song Qian

Previous          :          Chapter 1Chapter 2, Chapter 3,

Credit Poster  :          Lee Yong Mi @allthingsiwannapost.wordpress.com

Disclaimer      :           The story is mine. Read it and give me some advice about my story.

 

 

 

 

Hal pertama yang dilakukan Soo Jung ketika dia untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di negeri Paman Sam adalah terus menyakinkan dirinya bahwa apa yang telah dia lakukan ini adalah benar.

Sejak dia memutuskan bahwa dia akan menuruti kemauan ibunya, Soo Jung berusaha mati-matian menyakinkan dirinya bahwa keputusannya ini adalah benar dan dia berusaha untuk tidak menangis.

Ya. Dia berusaha menjaga agar kedua matanya itu tidak membuat pipinya basah.

Soo Jung sebenarnya tidak ingin lagi mengingat apa yang terjadi sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan Korea. Tapi, bayangan kejadian tersebut terus berputar hebat di kepalanya. Kata-kata laki-laki itu terus menari dipikirannya.

Soo Jung berusaha mengusir semua pikirannya tentang kejadian itu. Namun, hasilnya nihil. Mustahil memang jika Soo Jung berusaha mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Tepatnya dua hari sebelum dia berada di Amerika.

Ibunya saja masih belum bisa melupakan semua kenangan bersama ayahnya padahal mereka sudah berpisah cukup lama. Jadi, kesimpulannya Soo Jung belum bisa mengenyahkan laki-laki itu dari pikirannya.

Perkataan laki-laki itu.

Soo Jung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan bernuansa putih itu. Soo Jung membuang nafasnya kasar ketika melihat warna dinding yang putih itu.

Putih mengingatkannya pada Kim Jongin.

Desah kesal Soo Jong itu  membuat Soo Yeon-yang saat itu berdiri disampingnya-mengalihkan pandangannya kepada adik perempuannya itu.

“Soo Jung, kau baik-baik saja? Kau terlihat kesal. Apakah kau tidak senang berada dirumah ini?” Soo Yeon menatap Soo Jung khawatir mengingat ini adalah kali pertama adiknya itu datang dirumah yang selama ini hanya dia dan ayahnya saja yang tinggal didalamnya.

Soo Jung merutuki dirinya dalam hati. Apakah tadi kakaknya itu mendengar desahannya? Kakaknya pasti mendengarnya tadi, kalau tidak mana mungkin kakaknya akan melontarkan pertanyaan seperti itu kepada dirinya.

Kini Soo Jung merasa tidak enak hati kepada kakaknya. Baru pertama datang saja sudah menimbulkan kesan tidak baik pikirnya.

“Ah, tidak Eonnnie. Aku hanya merasa sedikit lelah dan aku rasa aku terkena jet lag.” Soo Jung memberikan senyum termanisnya, sebenarnya dia berusah sebaik mungkin agar senyumnya itu tidak terlihat seperti dipaksakan.

“Benar juga. Perjalanan dari Seoul kemari tidaklah singkat. Aku rasa kau harus segera beristirahat. Nanti barang-barangmu Eonnie saja yang mengaturnya. Kau istirahat saja.”

“Jangan Eonnie. Aku tidak ingin merepotkanmu. Kau tidak ingin melihat betapa banyak barang yang aku bawa kesini. Kau pasti akan kewalahan membereskannya.” Soo Jung menolak permintaan kakaknya itu dengan halus.

Soo Yeon menaikkan sebelah alisnya setelah mendengar Soo Jung menjawabnya. Soo Yeon lalu melirik barang yang dikatakan Soo Jung banyak itu. Soo Yeon hanya bisa melihat Soo Jung hanya membawa sebuah koper berukuran sedang-Soo Yeon yakin isinya tidak banyak karena sebelum tiba dirumah Soo Yeon dapat mengangkat koper itu dengan menggunakan satu tangannya-dan sebuah tas selempang yang terlihat kempes tidak berisi.

“Kurasa sebaiknya kau harus segera beristirahat Jung-ah. Kau terlihat tidak baik-baik saja.”

Akhirnya Soo Yeon melangkah keluar dan menutup pelan pintu kamar Soo Jung. Setelah memastikan bahwa hanya dia sendiri berada diruangan itu, Soo Jung menghela nafasnya dengan kuat dan merebahkan atau bisa dikatakan membanting tubuhnya dengan kuat di atas kasur yang empuk itu.

Soo Jung merasa bodoh dihadapan kakaknya saat ini. Apa yang dia lakukan seperti orang yang kehilangan arah.

Begitu besarkah dampak kejadian itu terhadap dirinya?

Soo Jung ingin sekali berteriak kalau dia tidak ingat bahwa saat ini dia tidak berada dikamarnya. Dia berada dirumah ayahnya dan itu berarti dia tidak boleh seenaknya, walaupun itu ayah kandungnya sekalipun.

Soo Jung lalu bangkit dari posisinya saat itu. Kini dia duduk menatap apa yang ada dihadapannya. Soo Jung melihat sebuah koper berukuran sedang berwarna hitam tanpa ada gambar apapun yang menghiasinya.

Soo Jung bangkit lalu berjalan menuju koper itu. Soo Jung pikir lebih baik dia membereskan semua barang-barangnya yang ada di dalam koper tersebut. Soo Jung menarik pegangan koper itu dan mulai menariknya.

Dan koper itu jatuh.

Melihat barang itu jatuh tidak membuat Soo Jung langsung berinisiatif mengembalikan posisi kopernya seperti sedia kala. Dia menatap lama koper itu lalu baru mulai mengangkatnya. Soo Jung merasakan bahwa dia seperti mengangkat sekarung kapas yang beratnya tidak sampai 10 kg.

Tiba-tiba Soo Jung teringat sesuatu. Pantas saja kakaknya menyuruh dirinya untuk segera beristirahat. Dia ingat tadi mengatakan bahwa bawaannya banyak. Lalu Soo Jung menatap kopernya itu.

Ini bahkan lebih ringan dari balita berumur tiga tahun.

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh kakaknya tadi.

Dia benar-benar butuh istirahat. Istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisinya saat ini.

***

“Soo Jung, kau mau ikut dengan kakak?”

“Kemana?”

“Kau tidak perlu tahu dimana, yang penting kau mau ikut atau tidak? Kakak jamin kau pasti akan senang berada di tempat itu.”

Soo Jung hanya menggedikkan bahunya. Lebih baik pergi bersama kakaknya daripada menunggu sendirian dirumah. Soo Jung segera bersiap-siap dan menyusul kakaknya yang sudah siap dengan mobilnya.

Sepanjang perjalanan, kedua kakak beradik itu saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Mereka berdua terlihat sangat akrab. Mengingat keduanya hanya bertemu setahun sekali, tidak membuat hubungan keduanya menjadi longgar.

Mobil itu berhenti di depan sebuah gedung yang Soo Jung yakini sebagai sebuah kantor. Kedua kakak beradik itu turun dari mobil lalu masuk menuju gedung itu. Soo Jung melihat banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang di dalam gedung itu. Beberapa diantara mereka adalah perempuan dan ada juga beberapa….. Soo Jung sulit untuk mengakuinya bahwa dia melihat ada seorang laki-laki yang berpakaian seperti perempuan.

Itu seperti flamboyan.

Soo Jung cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari laki-laki-atau mungkin bisa dibilang perpaduan-supaya tidak menyebabkan orang itu tersinggung. Soo Jung berlari kecil menyusul kakaknya yang sudah cukup jauh berjalan didepannya. Ini pasti karena dia tadi memperhatikan orang itu.

Akhirnya, Soo Jung sampai di sebuah ruangan yang ukurannya cukup besar untuk kakaknya sendiri. Saat Soo Yeon membuka pintu ruangan itu, Soo Jung membulatkan matanya dan merasa bahwa ruangan ini terasa tidak terlalu besar untuk kakaknya. Apalagi dengan ditambah dengan dirinya saat ini.

Ada sekitar lima manekin yang tiga diantaranya dibalut dengan gaun cantik sedangkan sisanya dibiarkan tidak tertutupi apa-apa. Soo Jung berjalan menuju salah satu manekin itu.

Gaun merah yang indah.

Soo Jung menyentuh setiap helaian benang yang menyatu. Hiasan di bagian leher serta bagian pinggang yang membuat gaun itu tampak elegan.

“Ini dijahit dengan tangan sendiri. Bagian lehernya mungkin agak sulit, namun dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membuat gaun itu tampak monoton dengan warna merahnya. Tidak terlalu banyak hiasan ataupun manik-manik yang digunakan untuk gaun ini. warna merah biasanya identik dengan warna yang norak. Karena itulah aku memilih tidak menambahkan banyak hiasan sehingga kesan norak yang selama ini menjadi anggapan orang banyak akan berubah menjadi kesan elegan dan berharga.”

Soojung menatap kakaknya tidak percaya.

Eonnie yang membuat ini?” Soojung berkata sambil menunjuk gaun merah tersebut.

Soo Yeon hanya tersenyum. “Seseorang yang bernama Jessica yang membuatnya.”

Belum sempat Soo Jung melemparkan pertanyaan lain, seseorang masuk. Dan baru orang itu yang Soo Jung lihat tidak membawa apa-apa ditangannya.

Morning.”

Morning.”

Soo Jung mendengar kakaknya menjawab dan dia hanya terpaku melihat orang itu. Satu kata yang Soo Jung bisa pikirkan ketika melihat orang itu.

Wanita itu juga cantik, pikir Soo Jung. Soo Jung hanya membalas senyum canggung ketika wanita itu melemparkan senyum untuk dirinya.

Hello Jess. Kudengar karyamu diterima dengan baik. Congratulation. I’m so glad to hear that.”

“Oh, thanks. Ini semua juga berkat bantuanmu.”

Sedari tadi ada yang mengganjal pikiran Soo Jung. Bukan karena dia tidak mengerti ketika kedua orang itu berbicara dalam bahasa asing. Hanya saja dia sedari tadi mendengar orang-orang memanggil kakaknya dengan sebutan Jess.

“Siapa ini?”

Wanita itu menatap Soo Jung penuh arti. Soo Yeon hampir lupa untuk memperkenalkan adiknya itu kepada sahabatnya itu.

“Oh, aku hampir lupa. Kenalkan ini Jung Soo Jung. Adikku yang nantinya akan sekolah disini.”

“Oh. Jessica’s little sister, right? Hello, my name in Victoria. You can call me Vic or Victoria. Whatever you want. Nice to meet you.”

Yes, nice to meet you too.

Mulut Soo Jung sudah terasa gatal ingin menanyakan mengapa orang-orang memanggil kakaknya dengan sebutan Jess. Akhirnya, Soo Jung memberanikan diri untuk mengutarakan pikirannya.

“Ehm… Maaf sebelumnya. Kalau boleh aku bertanya, mengapa kau memanggil kakakku dengan sebutan Jess? Nama kakakku Jung Soo Yeon bukan Jess.”

Victoria memandang Soo Jung dengan tatapan tidak percaya lalu dia menatap Soo Yeon.

“Kau tidak memberitahunya?”

Soo Yeon hanya menggeleng pelan. Lalu menatap Soo Jung.

“Jung-ah, begini. Disini kami semua memakai nama panggung kami, ya bisa dibilang seperti itu. Jadi, kami semua memutuskan untuk tidak memakai nama asli kami, kecuali memang orang asli negara ini. Dan Jessica aku pilih sebagai nama panggungku.”

Soo Jung lalu menatap Victoria seakan ingin mengatakan kau juga kan?

Victoria yang seakan mengerti arti tatapan Soo Jung tersenyum lalu berbicara.

“Namaku Song Qian. Annyeonghasseyo.”

Soo Jung terkejut ketika mendengar Victoria mengucapkan salam dengan bahasa itu.

“Kau orang Korea juga?” Soo Jung menekan nada bicaranya pada kata ’juga’ karena dirinya terkejut.

“Tidak. Aku Chinese. Aku pernah tinggal di Korea karena masalah pekerjaan. Aku baru saja tiba dari Korea lima hari yang lalu.”

Soo Jung mengangguk mengerti mendengar penjelasan Victoria. Lalu, pandangannya beralih pada gaun merah yang sedari tadi mencuri perhatiannya. Soo Jung melemparkan tatapan kesal pada kakaknya yang sekarang hanya menahan senyum menunggu reaksi adiknya itu.

“Jadi, ini adalah gaun rancangan Jessica yang tidak lain adalah Jung Soo Yeon?”

***

Tiga tahun kemudian…

“Aku rasa pada bagian lehernya terlalu banyak manik-manik. Ini menimbulkan kesan berat dan tidak bagus untuk dilihat. Lebih baik kita hilangkan bagian itu. Kita fokuskan saja pada bagian layer bawahnya.”

Soo Jung memberikan pendapatnya tentang gambar yang baru saja diperlihatkan padanya. Victoria mengangguk puas atas apa yang baru saja Soo Jung katakan. Anak itu berbakat, pikirnya.

“Jika aku baru pertama kalinya mengenalmu, aku akan mengira kau adalah salah satu desainer muda yang mempunyai karya fantastis dan dikenal di seluruh dunia.”

Soo Jung hanya tersenyum tipis.

“Aku hanya seorang trainer disini. Aku masih perlu belajar banyak.”

“Ya, kau benar. Kau perlu belajar banyak, tapi tidak disini.”

Perkataan Victoria tadi membuat Soo Jung harus mengalihkan pandangannya pada seniornya itu. Soo Jung memberinya tatapan agar wanita itu menjelaskan apa maksud perkatannya tadi.

“Kau harus belajar banyak tapi tidak disini. Di tempat lain. Kau ingat, sudah tiga tahun kau belajar disini. Entah itu dengan kakakmu atau dengan aku. Kami berdua sepakat mengatakan bahwa kau memiliki potensi besar. Kau belajar dengan cepat. Bahkan, kakakmu saja dulu harus belajar lebih lama dari yang kau lakukan sekarang hingga kakakmu bisa menjadi sesukses ini. Kau memiliki itu Soo Jung.”

“Tapi aku ragu.”

“Jangan berkata seperti itu. Kau harus yakin dengan kemampuan yang kau miliki sekarang. Kau hanya tinggal mengembangkannya sedikit dan kau bisa melihat hasilnya. Kau itu seperti mutiara di dasar laut. Kau hanya perlu keluar dari tempatmu, berusaha mencapai permukaan laut, dan menunjukkan bahwa kau adalah salah satu yang bersinar.”

Soo Jung berusaha mencerna dan memutuskan apa yang akan dia lakukan setelah mendengar perkataan Victoria tadi. Memang benar, dia sudah mendapatkan banyak pelajaran disini. Terlebih lagi, kakaknya dengan senang hati mengijinkan Soo Jung untuk ikut terjun memberikan masukan serta kritikan tentang hasil-hasil rancangan kakaknya.

Begitu juga dengan Victoria. Wanita itu sama baiknya dengan kakaknya. Dia tidak sombong dan tidak pelit ilmu. Soo Jung banyak belajar dari Victoria tentang dunia fashion. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Victoria. Dia harus yakin dan berani mencoba.

“Ehm… Apakah Eonnie tahu tentang hal ini?”

“Tentu saja aku tahu. Aku dan Victoria sudah lama merencanakan ini semua.”

Soo Yeon muncul secara tidak terduga dari balik pintu sehingga membuat Soo Jung dan Victoria sedikit terkejut.

“Kau harus yakin, Soo Jung-ah. Victoria pasti akan menjagamu dengan baik kelak.”

“Maksud Eonnie, Eonnie tidak ikut?”

Soo Yeon menggelengkan kepalanya pelan.

“Masih banyak yang harus aku lakukan disini.”

Soo Jung memandang kakaknya sedih. Rasanya baru saja dia tinggal bersama kakaknya dan kini mereka harus berpisah lagi. Soo Jung menghela nafasnya pelan lalu menatap dua wanita yang saat ini berdiri dihadapannya.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan mencobanya.”

Soo Yeon maupun Victoria tersenyum satu sama lain setelah mendengar keputusan Soo Jung. Soo Jung lalu kembali membuka suaranya.

“Kalau boleh aku tahu, apa yang akan dan bisa aku lakukan disana? Aku pasti akan menrepotkanmu mengingat aku ini masih baru.”

Victoria yang seakan tahu pertanyaan itu akan keluar dari mulut Soo Jung segera menjawab pertanyaan itu dengan antusias.

“Kau akan membantuku disana nantinya. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyuruhmu melakukan hal-hal yang menyulitkan dirimu. Aku akan membantumu belajar sedikit demi sedikit. Aku juga masih perlu belajar untuk mengetahui bagaimana karaktermu nanti. Kita berdua akan bersama-sama mengerjakan proyek besar nantinya. Proyek itu sudah berada didalam genggaman kita. Kau memang masih baru, tapi bakat seni sudah lama tertanam dalam dirimu.”

“Dan satu lagi, kau harus mempersiapkan nama panggungmu.”

“Bagaimana kalau nama panggungnya Krystal? Ya, Krystal.”

Soo Yeon tiba-tiba menyebutkan nama itu. Soo Jung yang mendengar nama itu langsung mengangguk setuju dengan nama yang kakaknya berikan itu.

“Ehm, that’s sound good, beautiful, sweet, strong, and valuable.

Victoria juga memberikan pendapat yang serupa dan tersenyum puas.

“Jadi, Krystal adalah nama yang akan kau pakai nantinya.”

Soo Jung mendengarkannya dengan antusias. Ini seperti mimpi bagi Soo Jung. Ini adalah keinginannya dari dulu dan semua itu sudah berada didepan matanya.

Satu hal yang terpikirkan lagi dalam benak Soo Jung. Ini bisa menjadi cara yang tepat untuk dirinya benar-benar menghilangkan semua pikiran, kenangan, serta rasa kecewanya tiga tahun yang lalu. Dengan dia berada jauh dalam jangkauan orang itu, Soo Jung yakin dirinya pasti bisa melupakan orang itu.

Ini langkah yang baik bagi Soo Jung. Soo Jung merasa dirinya seperti terlahir kembali. Ini adalah masa depannya yang baru dan masa lalunya yang membuatnya terpuruk tidak akan membuatnya lemah.

“Lalu dimana tempat itu?”

“Kau pasti akan senang jika aku menyebutkan tempat ini. Korea. Kita akan ke Korea.”

***

N.B : Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih untuk semua pembaca yang sudah mau meluangkan waktunya membaca dan memberikan komentar untuk ff ini. Maaf jika aku lama melanjutkan ff ini. Aku sedang sibuk walau aku sudah sangat ingin melanjutkan ff ini. Mungkin setelah membaca ini banyak pembaca yang akan bertanya Kenapa ff ini tidak ada unsur romantisnya? Padahal genrenya jelas tertulis romance dan diletakkan paling depan. Atau, kok ceritanya begini-begini aja?Mungkin pembaca sekalian sudah mulai bosan karena ceritanya ini tidak seperti yang kalian inginkan.

Untuk itu aku akan menjelaskan bahwa ini semua baru awalnya saja. Mungkin untuk chapter selanjutnya akan menjawab semuanya. Aku tidak akan membocorkan chapter selanjutnya disini. Jadi, bagi kalian yang masih penasaran kelanjutan ceritanya, dimohon dengan sangat kalian bersabar untuk chapter selanjutnya karena aku tidak setiap hari bisa berkutat dengan laptopku.

Satu hal lagi, aku tidak mempermasalahkan adanya silent readers. Aku tidak memaksa kalian setelah membaca ff ini harus memberikan komentar. Aku menulis ff ini bukan untuk mendapat perhatian, melainkan aku hanya ingin menyalurkan apa yang menjadi hobi aku dan menghibur pembaca yang membutuhkan warna baru dalam cerita ff.

Untuk itu, maaf kalau aku harus membuat kalian bosan membaca note ini. Aku hanya tidak ingin kalian kecewa karena cerita ff yang aku buat ini tidak menarik dan berbelit-belit. Tapi begitulah aku. Ini hanyalah satu dari berbagai cara penyampaian cerita yang aku buat.

Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih kepada kalian yang masih setia dengan ff ini dan juga untuk para silent readers. Untuk kalian semua, selamat membaca dan aku usahakan untuk tetap memberikan yang terbaik untuk kalian melalui ff ini. J

Advertisements

16 thoughts on “[FF Freelance] Our Little Promise – Blooming Again? (Chapter 4)

  1. woah~ setelah sekian lama belajar disana, akhirnya krystal balik juga ke korea
    apa nanti dia bajal ketwmu lagi dengan kai? seru mungkin~
    next part soon

  2. setelah sekian lama, dan nunggu dengan sabar akhirnyuncul juga. yeay!!
    bagus kak, but, jongin gak diceritain yah disini. pingin taunih kabarnya jongin. baguss. lanjut

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s