[FF Freelance] It’s Love (Chapter 5 – END)

It's Love

Title                       : It’s Love

Length                  : Chapter

Rating                   : General

Genre                   : Romance, Friendship, Sad story

Author                  : Inge Venesia (twitter: @ingevenesia)

Cast                       : Taeyeon (SNSD), Leeteuk (SJ), Sunny (SNSD), Ljoe (Teen Top)

Support cast       : SNSD and SJ members

Previous               : Chapter 1Chapter 2Chapter 3, Chapter 4,

Disclaimer           : Jika ada kesamaan nama, unsur cerita, dll berarti hanya kebetulan.

Summary:

Semua sisi kehidupan memiliki sisi terang maupun gelap. Bisa saja terang datang sebelum atau setelah gelap. Sama halnya dengan cinta. Cinta datang disaat yang tidak terduga. Cinta juga datang dari orang yang tak terduga. Cinta bisa datang dan pergi kapan saja tanpa bisa diprediksi. Cinta datang dengan indah dan dapat pergi dengan indah juga. Sebaliknya cinta datang dengan indah dan pergi menyisakan kenangan dan luka yang mendalam. Cinta bisa juga pergi dan kembali dalam beberapa waktu. Semua dapat dilakukan oleh sosok yang disebut cinta. Cinta itu baik. Cinta itu jahat. Cinta itu memberikan kita kebahagiaan. Cinta juga memberikan kita luka. Semua dapat dilakukan oleh cinta. Cinta sejati akan selalu menjadi hal terindah bagi setiap insan. Cinta yang tulus dan abadi akan menyisakan kenangan yang tak terlupakan bagi yang ditinggalkan. Cinta… cinta.. cinta…

 

 

Part 5

Taeyeon hanya terdiam di sudut ruang olahraga bersandar pada tiang ring basket sambil memperhatikan temannya yang lain sibuk dengan bola voli berwarna biru bercampur dengan warna kuning. Tanpa diduga Taeyeon ambruk dari tempatnya berdiri. Dengan segera semuanya menghentikan aktifitas dan mendekati Taeyeon lalu melarikan Taeyeon ke rumah sakit terdekat.

Sepanjang perjalanan Sunny dan Yuri—yang kebetulan mendampingi Taeyeon—terlihat benar-benar cemas menyaksikan sahabatnya terbujur tak berdaya di mobil fasilitas sekolah yang dikendarai oleh Minho karena tidak ada lagi orang yang memiliki waktu senggang dan bisa menyetir. Tidak sampai 10 menit mereka sudah sampai di rumah sakit dan segera membawa Taeyeon ke UGD. Disana sudah ada suster yang bersiaga menyambut kedatangan pasien. Yuri, Minho, dan Sunny duduk menunggu di ruang tunggu dan terus berdoa agar tidak ada hal yang serius yang terjadi pada Taeyeon.

Sekitar 4 jam tak sadarkan diri, akhirnya suster keluar dan mengatakan bahwa Taeyeon sudah siuman. Yuri, Sunny, dan Minho masih setia menunggu disana. Ljoe, Kangin, Donghae, GG9, semuanya juga ada disana. Mereka masuk ke ruangan. Walaupun dengan jumlah yang sangat banyak, mereka tetap menjaga ketenangan agar tidak mengganggu pasien yang lain. Namun pihak rumah sakit membatasi jumlah orang yang boleh masuk jadi hanya 5 orang: Sunny, Yuri, Ljoe, Kangin, dan Jessica.

“Taeyeon bagaimana? Apa yang sakit? Bagian mana? Beritahu aku kembaranku.” Rengek Sunny yang berbicara seperti kereta listrik berkecepatan ekstra.

“Tidak ada Sunny-ah, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu.” Jawab Taeyeon lirih. Wajahnya masih pucat dan suaranya sangat lemah.

“Sunny-ah, Yuri-ah, Sica-ah, Byunghun, Kangin oppa, aku benar-benar minta maaf jika selama ini aku punya salah kepada kalian. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih banyak atas segala kenangan yang sudah kalian berikan selama ini. Sunny-ah, pulang dari sini mampirlah ke rumahku dan ambil beberapa barang yang ada di bawah tempat tidurku. Sejak oppa pergi meninggalkan kita semua, aku tidak pernah yakin bagaimana caranya melewati hari-hariku. Tadi aku bertemu dengan oppa. Dia masih sama manis dan tampannya seperti terakhir aku bertemu dengannya. Ia mengenakan kemeja dan celana putih serta sepatu putih. Saat itu juga aku tidak ingin meninggalkannya. Tapi ia memaksaku untuk kembali dan melanjutkan hidupku. Sekarang aku sudah lelah dengan hidup ini. Aku ingin menyusul oppa, hidup abadi bersamanya. Bagaimana usaha yang sudah aku lakukan, aku tidak bisa melupakan oppa. Sahabatku, peri penerang hari-hariku, oppa yang sudah kuanggap seperti oppaku sendiri, dan teman masa kecil yang menjadi cinta pertamaku, aku mohon kalian jangan menangis. Ini semua tidak akan seburuk yang kalian kira. Selamat tinggal semuanya. Saranghae.” Taeyeon menutup matanya rapat setelah menyelesaikan pesan terakhir yang disampaikannya. Elektrokardiograf yang diletakkan disampingnya sudah menunjukkan garis lurus. Sontak Yuri, Sunny, Jessica, Kangin, dan Ljoe pecah dalam tangis. Dokter yang berada diluar ruangan segera mengecek apa yang terjadi dan menggelengkan kepala menjawab semua yang menjadi pertanyaan semua orang. Tangisan memenuhi seluruh koridor rumah sakit mengiringi kepergian Taeyeon ke surge.

Ljoe masih belum bisa menerima kenyataan. Nyatanya, dialah yang paling terpukul atas ini semua. Wanita yang baru saja ditemuinya kembali setelah beberapa tahun harus pergi meninggalkannya selama-lamanya. Mengapa takdir harus seperti ini? Itulah yang memenuhi kepala Ljoe dari tadi. Ia mengejar dokter yang merawat Taeyeon ke ruangannya dan menanyakan segala yang ingin diketahuinya.

“Dokter aku yakin ini semua ada kesalahan.” Ljoe masih menahan tangis dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa Taeyeon sudah pergi. Ia mengikuti sang dokter masuk ke ruangan dan mengambil posisi duduk tepat di depan dokter.

“Ini tidak ada kesalahan. Semua ini sebenarnya sudah terjadi dari lama. Pasien seharusnya memeriksakan dirinya dari awal. Karena lelah yang berkelanjutan, pasien menderita tifus parah, apalagi tidak pernah diperiksakan. Itulah yang merenggut nyawanya. Kami mohon maaf karena tidak bisa menyelamatkannya.” Kata sang dokter to the point. Ljoe kembali pecah dalam tangisan dan segera keluar dari ruangan dokter.

Langit kota Seoul menjadi mendung di musim semi seperti ikut terhanyut dalam suasana duka yang menyelimuti pemakaman Taeyeon. Ia dimakamkan tepat disebelah makam Leeteuk, laki-laki yang menjadi cinta sejatinya. Acara pemakaman diiringi dengan tangisan sahabat serta kerabat Taeyeon. Ibunya nyaris jatuh tak sadarkan diri saat tanah mulai menutupi peti jenazah anak perempuannya kala itu. Ia masih tidak menyangka bahwa sang putri dapat pergi meninggalkannya secepat ini. Ljoe hanya dapat berdiri mematung disebelah ibu Taeyeon, tidak dapat menangis ataupun melakukan hal apapun. Ia masih tidak menyangka orang-orang yang disayanginya, mulai dari sepupu hingga gadis yang menjadi cinta pertamanya dapat pergi secepat ini. Mengapa Tuhan tidak adil mengambil nyawa mereka? Mengapa ini semua dapat  terjadi?

Ljoe mengendarai mobilnya dengan cepat untuk mengantar Ibu Taeyeon kembali ke rumah serta Sunny yang ingin mengambil beberapa barang yang dititipkan Taeyeon di bawah tempat tidur. Entah apa yang dimaksud.

Setelah mengantarkan Ibu Taeyeon pulang ke rumah, Sunny dan Ljoe segera ke kamar Taeyeon dan mengambil barang yang dipesankan Taeyeon. Ternyata ada sebuah kotak berwarna putih yang tidak terlalu besar, hanya sebesar kertas HVS. Sunny membuka kotak tersebut dan isinya ada beberapa lembar surat dan foto-foto berukuran 2R. Mereka berdua berpamitan dengan Ibu Taeyeon dan kembali masuk ke mobil.

“Coba lihat apa isinya. Jadi kita bisa tahu mau dikemanakan isi kotak itu.” Ljoe menyuruh Sunny mengecek apa di dalam kotak tersebut sesaat setelah mereka masuk ke mobil. Ternyata di dalam kotak tersebut terdapat 10 lembar amplop yang masing-masing sudah tertulis ditujukan kepada siapa.

“Joe, ada surat untuk ibunya!” Sunny mengambil surat tersebut dan membolak-balikkannya. Surat tersebut wangi, sama seperti parfum yang sering Taeyeon gunakan. Mereka berdua akhirnya turun dari mobil dan kembali masuk ke rumah Taeyeon. Walaupun mereka ragu untuk memberikan surat itu kepada Ibunya Taeyeon, tapi itu mungkin pesan terakhir dari Taeyeon.

Tok… tok… tok…

Sekitar 1 menit, pintu terbuka.

“Ah, Sunny dan Ljoe, ada apa? Ada barang yang tertinggal?” Tanya ibu nya Taeyeon sambil meleparkan seulas senyuman yang sangat jelas tergambar kesedihan di dalamnya.

“Bukan begitu, ini ada surat dari kotak yang tadi kami ambil, katanya untuk tante.” Jawab Sunny sembari memberikan surat beramplop putih

“Gomawo.” gumam Ibu Taeyeon dan langsung membuka amplop tersebut. Seketika ibunya langsung terhanyut dalam tangisan dan memberikan surat tersebut kepada Sunny dan Ljoe.

Dear Mom,

Annyeonghaseo eomma, ini aku Taeyeon. Mungkin saat eomma membaca surat ini, aku sudah tenang di alam lain. Eomma, terima kasih atas segala yang eomma berikan padaku. Eomma sudah mengandungku selama 9 bulan, menjaga dan merawatku, membesarkanku sampai sekarang. Eomma rela menahan rasa sakit melahirkanku, membesarkanku tanpa campur tangan appa yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kita. Eomma rela bekerja keras mencari uang agar aku bisa hidup layak dan melanjutkan sekolah. Tidak terhitung berapa banyak biaya yang sudah eomma habiskan untuk membesarkan aku, tapi aku masih saja sering melawan eomma, membantah nasihat eomma, mengabaikan saat eomma menyuruhku belajar, menyuruhku makan, mandi, tidur. Mianhae eomma, jeongmal mianhae. Sekarang eomma tidak perlu lagi repot untuk menjagaku, memikirkan bagaimana kelangsungan hidupku, apa aku sudah makan atau belum, aku sakit atau sehat. Eomma, eomma jaga kesehatan baik-baik ya, jangan sakit seperti aku. Kalau eomma sakit, nanti aku sedih disini dan tidak dapat tenang. Aku tidak pernah memberitahu eomma tentang kesehatanku selama ini. Aku tidak ingin menambah beban berat yang eomma pikul selama ini. Aku tidak ingin eomma selalu mencemaskan keadaanku. Lebih baik aku menanggungnya sendiri daripada harus member eomma rasa khawatir berlebih. Eomma  juga jangan menangisi aku. Setiap tetes air mata yang eomma jatuhkan hanya akan membuatku gelisah disini. Eomma, aku ingin menemui appa, ingin tahu bagaimana wajah appa yang tidak pernah kulihat seumur hidupku. Kalau eomma rindu padaku, aku akan datang ke dalam mimpi eomma. Eomma terima kasih atas segalanya. Aku sadar apapun yang aku lakukan, tidak dapat membalas apa yang sudah eomma berikan kepadaku sepanjang umurku. Eomma, SARANGHAE!

Your beloved daughter,

Kim Taeyeon

Ljoe segera melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi bersama dengan Sunny menuju Myeongdong café, tempat yang sudah disepakati menjadi tempat ketemuan dengan anggota GG9 lainnya. Sepanjangan jalan mereka hanya diam, entah berkhayal kemana memikikan apa yang Taeyeon tulis di dalam surat untuk mereka. Masih tersisa 9 amplop surat di dalam kotak tersebut; Jessica, Tiffany, Sunny, Yuri, Hyoyeon, Sooyoung, Seohyun, Yoona, dan Ljoe serta ratusan foto yang sudah dikumpulkan, foto kebersamaan mereka selama mereka saling mengenal. Terselip juga beberapa foto Taeyeon bersama Leeteuk.

Akhirnya tibalah mereka di Myeongdong café. Ketujuh gadis lain sudah menunggu dengan cemas apa yang akan Sunny dan Ljoe bawa. Tanpa basa basi, Sunny langsung membagikan semua surat tersebut ke nama yang tertera.

Dear Sunny,

Hallo kembaranku, ini Taeyeon. Kangen tidak denganku? Pasti jawabannya tidak -_- Sunny-ah, terima kasih karena kau mau menjadi kembaranku walaupun berbeda ayah dan ibu. Terima kasih juga karena persahabatan kita selama ini, segala pengorbanan yang sudah kau berikan, segala sesuatu yang kita bagikan selama ini. Terima kasih juga kau mau menemaniku curhat sampai pagi, menenangkanku saat kepergian oppa, menjadi bidadari kecil yang super menggemaskan, membuat hari-hariku menjadi lebih berwarna setelah kepergian oppa. Maafkan juga mungkin selama ini aku memiliki salah padamu, kadang aku egois dan tidak mau mendengarkan saranmu. Aku sadar semua itu ternyata berarti bagiku. Sunny-ah, jika sudah sampai waktunya aku tidak bisa lagi melihat kalian, tidak bisa melihat senyuman canda tawa kalian, tidak bisa lagi memarahi kalian atas perselisihan bodoh yang kalian lakukan, tidak bisa lagi memberikan kalian arahan atas tugas-tugas yang perlu dilakukan, mohon lakukanlah itu semua untukku. Setidaknya jagalah persahabatan yang sudah kita bangun selama ini. Aku tidak ingin kalian nantinya memiliki konflik besar, apalagi karena hal sepele. Cobalah juga bersahabat lebih dekat dengan Ljoe, dia adalah laki-laki yang baik, jauh diluar yang kau bayangkan. Walaupun mungkin kau memiliki alasan untuk membencinya karena dia sudah menyakitimu, tapi tolong bukalah sedikit hatimu untuk menyadari bagaimana pengorbanannya selama ini. Sunny-ah, jangan menangis hanya untuk aku. Simpan air matamu untuk hal yang memang patut kau tangisi, bukan aku. Kalau kau rindu padaku, aku akan datang ke dalam mimpimu hehe.. oke, anyeongihaseo Sunny-ah. SARANGHAE~

Your beloved fake-twin,

Kim Taeyeon

Dear Ljoe,

Lee Byunghun, annyeonghaseo. Sampai saat ini aku tidak menyangka Ljoe yang aku kenal ada Lee Byunghun, teman masa kecilku dan merupakan cinta pertamaku. Tapi itu semua dulu. Kau adalah orang yang sempat membuatku menutup hati untuk pria lain. Kau tahu? 3 tahun aku tidak bisa melihat pria lain. Yang kupikirkan hanyalah dirimu kala itu, lelaki kecil bermata sipit dan berambut coklat. Tapi semuanya berubah ketika aku bertemu dengan sepupumu. Saat itu aku menyadari bahwa di dunia ini masih banyak laki-laki dan aku yakin kau tidak akan ingat lagi padaku. Ternyata dugaanku itu salah. Byunghun-ah, memang dulu aku sempat menyukaimu, tapi itu dulu. Suka pada jaman kita masih kecil berbeda dengan rasa suka pada saat SMA. Rasa suka yang dulu aku rasakan padamu berbeda dengan rasa suka yang kurasakan dengan sepupumu. Maybe you can have my body, but you can’t have my heart. Byunghun, terima kasih atas segalanya. Terima kasih karena kau masih mau mencintaiku meskipun kau tahu rasa cintaku hanya untuk Leeteuk oppa. Maaf karena aku tidak bisa menerima perasaanmu. Perasaanmu yang begitu tulus tidak pantas kau berikan padaku, pada gadis yang masih menyimpan kenangan laki-laki lain di dalam hatinya. Ku mohon padamu, terimalah kenyataan. Tolong jaga Sunny, dia seperti hidupku. Dia gadis yang baik, lebih baik dari yang kau pikirkan. Tolong jaga Sunny demi aku. Tolong juga jaga ibuku, tidak ada lagi orang yang bisa kuandalkan selain dirimu. Kumohon padamu… SARANGHAE.

Your first love,

Kim Taeyeon

Semuanya meneteskan air mata setelah membaca surat dari Taeyeon. Gadis yang baik, rasanya hidupnya terlalu singkat jika harus berakhir seperti ini. Taeyeon-ah, hidup tenanglah disana, kami yakin apa yang kau lakukan adalah yang terbaik…

 

 

END

One thought on “[FF Freelance] It’s Love (Chapter 5 – END)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s