[FF Freelance] Behind The Library (Chapter 4B)

req-trafalkid2

Author                 :        trafalkid

Length                  :        Multi Chapter

Genre                   :        Horor and Romance

Rating                   :        PG-15

Main Cast            :        Shim Hana and Park Chan Yeol

Other Cast          :        Jurina Matsui, EXO’s member, Chan Yeol’s Fans, and Jurina’s Mother.

Previous              :        Chapter 1Chapter 2Chapter 3, Chapter 4A,

 

 

Jurina’s flashback

 

Pintu lemari terbuka lebar.

 

Ia ditemukan.

 

Aaaah. Bagaimana nasib ibu?” gumamnya dalam hati. Benar.. di kondisi seperti ini dia justru lebih mengkhawatirkan ibunya.

 

Frustasi. Ya, itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan gadis itu kini.

 

Pria Korea di depannya segera menarik paksa lengan Jurina.

 

“Kyaaa! Lepaskan!”

 

Semakin kencang teriakan Jurina maka semakin kencang pula cengkraman pria itu. Ia pun tidak memiliki kekuatan lebih untuk memberontak. Menyerangnya? Tidak mungkin. Ia tidak memiliki keterampilan yang mumpuni untuk bisa lepas dari jeratan pria itu.

 

Mengetahui ketidakberdayaannya akhirnya ia menutup mulut.

 

Mereka telah sampai di ruang keluarga. Pria tadi mendorong Jurina hingga jatuh terjerembab.

 

“Bagaimana bisa kau tidak ditemukan? Padahal semua sudah dijarah. Kenapa tidak ada yang mengutak-atik isi lemari pakaian itu!” ujar pria itu dengan menggunakan Bahasa Jepang.

 

Beberapa detik kemudian seringai licik tergambar dari sudut bibirnya. Kemudian ia mendekati Jurina. Ia mengambil posisi jongkok dan memegangi dagu Jurina. “Bagaimana rasanya udara luar? Segar bukan? Kau pasti lama berada dalam lemari itu. Dan kau pasti tidak bisa bergerak dengan leluasa”.

 

Jurina memalingkan mukanya.

 

Si pria Korea secara paksa membuat Jurina menghadap mukanya lagi. Pria itu menunjukkan sebuah bingkai foto. “Ini..”

 

Jurina sedikit melirik ke arah bingkai tersebut.

Matanya membelalak. Foto itu…. ia tahu foto apa itu dan maksud si pria menunjukkannya padanya. Ia menebak sesuatu dari foto itu.

 

“Pria dalam foto ini tewas. Sedangkan 2 wanita dalam foto ini belum diketemukan. Itulah yang membuatku curiga … dan… berhasil menemukanmu”. Seringainya terlukis di wajahnya dan makin menambah seram paras pria itu. “Dan… kurasa wanita yang satunya lagi masih ada di rumah ini. Benar bukan?”

 

“Tidak”, jawab Jurina. Kata-kata yang terlontar dari bibirnya hanya bisa didengar oleh pria di depannya. Ia terlihat begitu lesu dan tenggorokannya terasa begitu kering.

 

Sebuah tamparan tak terelakkan lagi.

 

“Jangan buat aku marah. Aku tak peduli kalau kau seorang bangsawan atau tidak! Jadi… dimana dia!”

 

Jurina menggelengkan kepalanya.

 

Sebuah tamparan lagi.

 

Kali ini si pria mencekik leher Jurina. “Dia… ibumu?”

 

Mata Jurina membelalak. “Oh, tidak”, pikirnya dalam hati.

 

Pria itu tertawa sekencang-kencangnya. “Hahaha, benar dugaanku. Ehm”, ia berdeham. “Seorang ibu yang baik pasti akan menolong anaknya, ‘kan?”

 

“Tidak!” Refleks mimik wajah Jurina kian bertambah muram. “Tidaaak!”

 

Pria itu melepaskan cengkramannya di leher Jurina. Ia  bergerak mundur.

 

Ia berbalik badan dan bergerak memungut sesuatu.

Sebuah senapan.

Ia mengecek apakah ada peluru yang tersisa atau tidak. Kemudian senyumnya mengembang.

 

“Nah”, ujarnya sambil berbalik badan. “Coba kita lihat bagaimana kelanjutannya. Jika ia sayang padamu maka ia akan muncul dan mencoba menyelamatkanmu”.

 

Tubuh Jurina menegang. Bibirnya bergetar hebat. Kakinya membeku.

 

Pria itu secara perlahan menarik pelatuknya.

 

“Hentikan”.

 

Pria itu merasa ada sesuatu yang menyentuh kulitnya. Ia memastikan apa itu.

 

Sebuah katana –pedang samurai.

 

“Oh, jadi kau ibu dari gadis ini?”

 

“Diam atau biarkan pedang ini yang berbicara”, ujar ibu Jurina dengan begitu tenang. “Satu gerakan saja maka aku tidak akan membiarkan kepalamu menempel pada lehermu”.

 

Gruduk gruduk.

Seketika saja belasan pria berkebangsaan Korea memasuki ruang yang ditempati oleh Jurina.

Mereka mengacungkan senapan mereka –sebuah tanda bila mereka tengah bersiaga.

 

Ibu Jurina memejamkan matanya.

Ia memfokuskan pendengarannya. Suasana terasa begitu sunyi, tak ada yang berani bersuara. Kecuali suara yang ditimbulkan oleh daun gugur yang bergesekan.

 

Trang

Trang

Trang

Trang

Trang

Craas

 

Jurina membekap mulutnya sendiri. Matanya spontan melebar.

 

Pemandangan macam apa ini….?

 

Ibunya….

 

Krek

Terdengar suara pedang disarungkan.

 

Prok prok. “Wah wah lumayan untuk seorang wanita. Kurasa kau bukan dari golongan bangsawan. Ah, apa mungkin kau hanya pelindung keluarga ini? Atau kau adalah selir dari ayah anak ini?”

 

Brak

Muka pria korea itu menghantam keras lantai kayu di bawah. Ibu jurina mencengkram kepalanya. “Jaga bicaramu! Pantas saja bangsaku membenci negeri ini. Penduduknya benar-benar murahan!”

 

Jraaaas

Kali ini lubang seukuran kepala pria dewasa terbentuk di lantai kayu itu.

 

Darah mulai bersimbah.

“Jurin, bunuh dia”, perintah ibunya.

 

Awalnya Jurina syok mendengar perintah dari ibunya itu. Namun ia justru menundukkan kepalanya. “A-a-aku… tidak bisa, bu”.

 

Ibunya segera memalingkan pandangannya dari Jurina. “Pengecut. Aku tak pernah punya anak pengecut”. Perlahan ibu Jurina mengambil katana yang tadi disarungkannya.

 

Ia hendak menusukkannya di leher sang pria Korea.

 

“Aku sebenarnya malu memiliki putri seperti dirimu. Tidak becus. Kau selalu menghindari latihan bermain pedang dan bela diri. Kau memiliki berjuta alasan untuk tidak menghadirinya. Padahal kau tahu ‘kan jika kita ini wanita terhormat? Kau tahu ‘kan kita berasal dari golongan atas! Kau tahu ‘kan kita ini ditakdirkan untuk menjadi apa!”

 

Onna-bugeisha”. Jurina menutup telinganya sendiri. “Tapi aku bukanlah bagian dari itu! Aku hanya ingin menjadi remaja putri yang normal!”

 

“Tutup mulutmu. Jika kau berteriak lagi aku sendiri yang akan menghabisi nyawamu”, ujar ibu Jurina. “Kita adalah golongan bushi. Kau tahu ‘kan apa artinya?”.

 

Cairan itu kian mengalir dari sudut mata Jurina. “K-kita adalah golongan samurai, y-y-yang berarti kita… adalah golongan atas. Y-y-yang harusnya bisa melindungi diri dan keluarganya. Tak peduli bahwa kita adalah pria maupun wanita. T-t-terutama k-k-karena kita adalah keturunan langsung dari Hojo Masako”.

 

Sejenak sang pria Korea terkejut mendengarnya. “H-H-Hojo Masako?”. Tapi tak lama kemudian ia justru tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, itu tak berpengaruh!”

 

Srek

Ujung katana ibu Jurina mulai melukai telinga pria Korea itu. “Kau buta sejarah. Jika tidak tahu diam saja. Jika kau terus berbicara itu akan menunjukkan ketololanmu sendiri”.

 

“Bwahahaha, aku tahu tentang Hojo Masako. Sebuah legenda samurai wanita yang terkenal dari negerimu. Tapi… itu sudah lama! Keturunannya pasti jauh lebih lemah! Lihatlah anakmu itu! Begitu cengeng dan…”.

 

Jraaas

Ujung pedang itu mulai menancap leher sang pria Korea, bahkan menembusnya.

 

“Pria Korea terlalu banyak bicara”. Sedetik kemudian ibu Jurina menarik kembali pedangnya. Warna merah mendominasi ujung bilah pedang tersebut.

 

“Kau bodoh! Sekarang keberadaan kita akan segera dicurigai. Belasan warga Korea terbunuh, siapa lagi penyebabnya kalau bukan kita! Cepat atau lambat kita akan ditemukan. Dan berharaplah semoga kita tidak dieksekusi di depan umum”.

 

Air mata Jurina mengalir kian deras. Tapi ia tak mengeluarkan satupun kata dari bibirnya.

 

“Kukira memiliki anak perempuan adalah anugerah. Ternyata justru musibah yang kudapat. Lebih baik aku tidak memiliki anak!”

 

Kata-kata itu bukanlah sesuatu yang ingin ia dengar. Dengan peristiwa yang membuatnya syok secara beruntun di hari ini apa ibunya masih betah untuk terus menghinanya?

 

Jurina menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Perasaannya benar-benar terlukai. Lubang besar itu kembali menganga di hatinya.

 

Anak tidak berguna.

 

Traaang

Katana yang dipegang oleh Ibu Jurina terlempar hingga ke sudut ruangan.

 

“Kau lebih memilih mengakhiri nyawamu sendiri, atau aku yang mengakhirinya?”

 

Rasanya air mata Jurina tak bisa jika tidak mengalir.

 

Brak brak

Terdengar derapan langkah kaki.

 

“Cepat lakukan, bodoh!” bentak Ibu Jurina.

 

Dengan tangan gemetar Jurina berusaha meraih katana itu.

Tapi bahkan ia terlalu takut bahkan hanya untuk memegangnya saja.

 

Ibu Jurina segera berlari dengan was-was untuk mengambil pedang itu.

 

Dan tepat setelah ia berhasil menyentuh gagang pedang itu sesuatu mengalihkannya.

 

Plak

Ibu Jurina terjungkal ke belakang.

 

Seorang pria dewasa dengan jambang yang lebat menunjukkan raut berang kepada 2 wanita Jepang itu.

 

“Berani-beraninya kau !”

 

Ibu Jurina merangsek maju, sayangnya ia dihadang oleh beberapa pria Korea lain.

 

Traang

Katana itu kembali terlempar. Dengan sigap pria berjambang tadi memungutnya. Sekilas ia melihat ada seorang perempuan lagi di ruangan itu. Raut ketakutan tersingkap dari paras ayunya.

 

Lalu pria itu membelah barisan pria yang tadi menghadang Ibu Jurina.

 

“Kau berniat mempermalukan kami? Seorang wanita mengalahkan belasan pria? Yang benar saja !”

 

Duk

Kali ini pria itu menendang dada wanita di depannya.

 

Ia memandangi segerombol mayat yang terkapar di lantai. “Benar-benar tidak becus mereka ini!”

Kemudian ia mengarahkan ekor matanya ke Ibu Jurina lagi. “Aku sedikit was-was sebenarnya ketika memasuki rumah ini. Yang aku takutkan bukanlah suamimu, ataupun pria penjaga rumah ini. Justru kau dan anakmu. Onna-bugeisha?”

 

“Cih”,  ibu Jurina meludah ke arah lantai.

 

“Jadi, itu bukan mitos belaka? Hahaha, tak kusangka akan ada orang seperti itu”, sambung pria Korea tadi. Kemudian ia melirik ke arah Jurina, “Aaaah, kita punya anak manis di sini”. Ia mulai melangkahkan kakinya mendekati Jurina. “Kurasa bahkan memegang katana pun kau tak bisa, iya ‘kan?”

 

Jurina makin ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat.

 

Wo wo, tenang saja aku tak akan melukaimu, cantik. Aku hanya butuh bicara sebentar, bisa?” Tanpa menunggu jawaban dari Jurina pria itu segera berjongkok di depannya dan memegangi dagunya. “Sayang jika aku harus membunuhmu. Tapi mau  bagaimana lagi. Mengingat darah bangsa yang kubenci di tubuhmu itu.. aku tak bisa membiarkannya begitu saja”.

 

Lalu hidung mereka bertemu, “Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya melihat mayat-mayat berserakan? Tidakkah itu keren?”

 

Jurina memundurkan wajahnya, ia merasa jijik ketika tadi hidung mereka menempel.

 

Tangan pria itu segera mendorong dengan keras wajah Jurina hingga membentur tembok. “Bah, siapa yang mau menciummu, bodoh!”

 

Cairan merah mulai merembes di sekitar kepala Jurina. Pandangan gadis itu mulai memudar.

Tapi telinganya masih berfungsi dengan normal. Ia mendengar suara pelatuk ditarik.

 

Seulas senyum mulai terbentang di bibir Jurina. Ia pasrah jika nasibnya akan berakhir dalam beberapa sekon. “Lebih baik mati di tangan orang lain, daripada aku mati karena tanganku sendiri. Gadis bodoh sepertiku….”

 

Traang

 

Semburat merah menghalangi pemandangan Jurina. Masih buram. Ia rasa itu adalah darahnya.

 

Ia memberanikan diri untuk membuka matanya. Berharap bisa melihat dunia untuk yang terakhir kalinya.

 

Ibunya terlihat memegang katana di atas leher seseorang. Tunggu.. kenapa di lehernya …

 

Oh, tidak. Dengan cepat matanya membelo. Tidak ada kepala yang menempel di leher itu.

 

Ceceran darah mengotori lantai kayu di sekitar Jurina. Dan tepat ketika gadis itu menoleh ke kanan… “Kyaaaaaaa!” ia mendapati kepala pria berjambang itu tergeletak dengan warna putih yang mendominasi.

 

“Tidak ada 1 lelaki pun yang boleh menyentuh anak itu!” Mata ibu Jurina berkilat marah.

 

Selongsor peluru mulai berdesing.

 

Trang

Trang

Trang

 

Sang ibu melindungi anaknya dengan menangkis peluru-peluru itu. Bak perisai akhirnya Jurina tidak satupun terkena oleh serangan bertubi-tubi itu, karena ia sudah memiliki perisai. Ya.. perisai hidup.

 

Ibu Jurina terus bertahan di tengah situasinya yang mengenaskan. Beberapa peluru tertancap di beberapa anggota tubuhnya. Dan Jurina hanya bisa menangis menyaksikan itu semua.

 

Berhenti. Suara desingan peluru berhenti.

 

“Oi oi, amunisiku habis. Bagaimana denganmu?”

 

“A-a-a-aku juga”

 

Trang

Trang

Trang

 

Darah terciprat dimana-mana. Ibu Jurina memanfaatkan kondisi itu untuk menebas semua pria Korea itu.

 

“A-a-aku s-s-sudah di ambang batas”. Lalu wanita itu tumbang.

 

“Ibuuuu!” pekik Jurina. Ia menghampiri wanita tua itu dan menyandarkan kepala beliau di pahanya. “Ibuuuu!”

 

“L-l-larilah”, perintah Ibu Jurina dengan lirih.

 

“Tidak! Aku tidak akan meninggalkan ibu di sini! Aku….”

 

Dor

Sebuah peluru menembus kepala ibu Jurina.

 

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!”

 

Belum sempat ia mencerna pertistiwa yang baru saja terjadi di depan matanya, tanpa komando lagi kening Jurina menjadi sasaran.

 

Tubuh Jurina menolak untuk bergerak.

Tamat sudah.

….

 

Entah apa yang terjadi sehingga peluru itu berhenti di tengah jalan. Kemudian peluru itu hangus begitu saja.

 

Sosok hitam berpendar. Lalu .. ia menghantam semua pria yang berada di rumahnya.

 

Sulit untuk mempercayai apa yang terjadi kini. Bagaimana mungkin ia… masih bisa.. melihat dunia?

 

“Tidak. Itu bukan dia”.

 

Korban terakhir adalah pria yang tadi membunuhnya. Ya, dengan kekuatan magisnya mudah untuk melenyapkan pria itu.

 

Selesai sudah tugasnya.

 

Ia menoleh ke arah belakang.

 

Jurina kaget bukan kepalang. Muka itu… sama sekali tidak mirip dengan…

 

“Seharusnya aku juga membunuhmu tadi. Tapi..”, ia memalingkan mukanya.

 

“Ibu… kaukah itu?” tanya Jurina dengan ragu. Ia belum bisa percaya wajahnya begitu… mengerikan. Rasanya sisi manusiawi wanita itu sudah tak berbekas.

 

Wanita yang ditanyai itu tak menjawabnya. Ia berdenyar dan mulai meninggalkan Jurina sendirian di rumah itu.

 

Butuh waktu beberapa saat bagi Jurina untuk menenangkan diri. Rentetan peristiwa itu membuatnya sakit.

 

Hingga ia menyadari bahwa suasana saat itu amat sunyi. Bahkan malam hampir tiba.

Kemana para pemberontak Korea yang berada di luar?

 

Tergerak karena penasaran akhirnya ia mencoba keluar dari rumahnya.

 

Semilir angin adalah satu-satunya suara yang terdengar dari jalanan.

 

Kreek. Baru saja Jurina membuka gerbang rumahnya, ia tersandung.

 

“Aww”, rintih Jurina. “Setahuku tidak ada batu di sini, lalu kenapa aku bisa tersandung?”

 

Bau anyir segera menusuk penciuman gadis itu. “Uh, siapa yang meletakkan bangkai di sini?”

 

Ia mengarahkan kepalanya ke belakang –ke arah sesuatu yang membuatnya tersandung.

 

 

Jurina membekap mulutnya sendiri. M-m-mayat warga sipil?

Kemudian matanya bergerak ke jalanan di depannya.

Jalanan disesaki oleh mayat. Baunya luar biasa menyengat.

 

“A-a-ada apa ini?” tanya Jurina dalam hati. “Inikah alasan mengapa aku tak mendengar suara apapun?”

 

“Masuklah kembali ke dalam, selagi mereka belum menemukanmu”

 

Jurina mencari suara asing itu. Tapi nihil. Tidak ada siapa-siapa. Apakah mayat bisa berbicara? Tentu tidak.

 

“Jika mereka menemukanmu pasti mereka akan menyangka bahwa kau adalah pelaku dari semua ini. Tentu kau akan menemui nasib yang sama nantinya. Ingatlah jika setan sudah memperbudak hati manusia, ia tak ‘kan peduli jika yang mereka bunuh adalah wanita ataupun anak-anak”.

 

Udara menjadi begitu dingin, terutama di belakang tengkuk Jurina. “Nah, anakku… bersyukurlah karena aku tak menghabisimu. Maka dari itu jadilah anak yang baik”.

 

Tubuh Jurina menegang seketika, ia dapat merasakan sesuatu yang asing dan mengerikan di balik tubuhnya. Karena ketakutan ia hanya bisa memejamkan matanya.

 

Dan ketika membuka mata ia mendapati bahwa ia berada di dalam rumahnya. Tepatnya di ruang keluarga.

 

Matahari mulai terbit.

 

Jurina mengucek matanya, “Ibu tidak membangunkanku?”

Lalu ia menguap, “Aaah, mungkin ia lembur tadi malam”. Segera setelah itu ia mulai beranjak dari kotatsu.

 

“Ibu… apakah ibu masih tidur? Aku lapar”.

 

Tidak ada jawaban.

 

“Bu…”.

 

 

Sesuatu menghalangi Jurina. Ia melihat ke bawah..

mayat ayahnya.

 

Sekelebat ingatan mulai mengacaukan pikiran gadis itu. Peristiwa pembantaian kemarin. Yang menewaskan kedua orang tuanya, dan juga warga sipil.

 

Dan ibunya…

“Di kulkas ada makanan. Masaklah sendiri”.

 

Jurina menengadahkan kepalanya.

Sesosok mengerikan yang terlihat transparan. “Ibu.. kau ‘kah itu?”

 

“Aku tidak memiliki banyak waktu denganmu. Begini.. tetaplah hidup dan jagalah rumah ini. Aku ada urusan di luar”.

 

Jurina mencoba menggenggam lengan sosok itu, tapi itu hanya menembusnya. “Aku ikut”.

 

Sosok itu tidak mengindahkannya dan segera melesat pergi.

 

Kalau daging di kulkas sudah habis, kau bisa menggunakan daging di sekitarmu”.

 

Spontan saja mata Jurina memeriksa sekelilingnya.

 

Beberapa mayat telah dicincang.

 

“Jangan keluar dari  rumah ini. Ingat! Dan siapapun yang berani menginjakkan kaki di sini akan merasakan kutukanku”.

 

Flashback end

~~~

 

Keringat dingin terus mengalir dari kening Hana.

Ia benar-benar tercekat akan itu.

 

Pelan-pelan Jurina melepaskan telunjuknya dari dahi Hana. “Kau bisa melihatnya bukan?” tanyanya.

 

Hana segera menoleh ke arah hantu itu. “Semua itu.. terasa begitu nyata dan… mengerikan”.

 

“Setidaknya aku sudah bersedia membeberkan rahasia itu”.

 

Sepertinya bel mulai berbunyi.

Dan suaranya terdengar hingga ke ruangan yang kini di tempati Hana.

 

Awalnya ia tak menggubrisnya. Ia hendak mengajukan beberapa pertanyaan bagi hantu itu.

Kemudian Hana meneput jidatnya sendiri. “Ah, Jurin, maaf tapi aku ada urusan sebentar. Begitu sudah selesai aku akan segera kembali ke sini”.

 

Krek

~~~

 

Baek Hyun sedikit celingak-celinguk ketika sudah sampai di aula. Ia benar-benar terlambat. Orang-orang sudah mulai berkumpul. Dan sekarang adalah waktunya Hanguk Muyong yang beraksi.

 

“Oi, sini!”, panggil Lay dari kejauhan. Ia melambaikan tangannya sebagai isyarat agar kedua temannya itu datang ke tempatnya.

 

Chan Yeol dan Baek Hyun segera mendatangi Lay.

 

“Ah, kalian terlambat”.

 

Kedua sahabat yang dimaksud Lay itu segera duduk di atas lantai, bersebelahan dengan teman-teman sekelas mereka.

 

Baek Hyun menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. “Maaf maaf. Kalau bukan karena anak ini pasti aku tak akan terlambat datang”.

 

“Memangnya ada apa?”, tanya Tao.

 

“Dia mulai mengunjungi perkumpulan fansnya. Hiii”, ujar Baek Hyun dengan memasang mimik jijik.

 

“Wah wah, sepertinya pahlawan sekolah mulai menebar pesonanya pada gadis-gadis”, goda Suho dengan menyikut lengan Chan Yeol.

 

Chan Yeol memamerkan deretan giginya. “Haha, ‘kan tidak apa-apa sekali-sekali membahagiakan mereka. Bukankah aku akan mendapatkan pahala, Tao?”.

 

Tao mengangguk dengan pasti. “Tentu saja. Tuhan memberkatimu”.

 

Chan Yeol kembali tertawa karena aksi religius temannya itu.

 

Baek Hyun yang sudah mendapatkan posisi pw-nya segera ikut dalam pembicaraan mereka.“Eh, ngomong-ngomong ini sudah tampilan ke berapa?”.

 

“7 mungkin?”, tebak Lay.

 

“Aaaah!” Baek Hyun terlihat kecewa sekali karena keterlambatannya itu. “Aku pasti banyak melewatkan penampilan yang menarik”.

 

“Tidak apa-apa. Ini masih acara pembuka”, hibur Lay.

 

Hal itu masih tak dapat membuat Baek Hyun bangkit dari posisinya yang nampak lesu.

 

“Padahal tadi ada penampilan yang menarik”.

 

Bak magnet kata-kata yang terucap dari si pria kecil –Suho –mampu membuat Baek Hyun tertarik untuk mendengarkan kelanjutan ceritanya.

 

Agaknya Chan Yeol juga penasaran. “Penampilan siapa?”.

 

Suho mendongakkan kepalanya. Ia terlihat tengah mencari sesorang.

 

“Nah.. itu…”.

Lay, Tao, Baek Hyun, dan Chan Yeol mengikuti arah yang ditunjuk oleh telunjuk Suho.

“Kau lihat itu? Gadis yang rambutnya digerai? Yang memakai t-shirt v-neck berwarna tosca?” Semua namja mengangguk tanda mengerti orang yang dimaksud oleh Suho.

 

“Eeeh?” Sepertinya Baek Hyun tak asing lagi dengan yeoja itu.

 

“Ada apa?” tanya Lay yang terkejut dengan gelagat Baek Hyun barusan.

 

Baek Hyun menoleh ke arah Chan Yeol. “Dia ‘kan yeoja yang waktu itu bertemu dengan kita. Di punggungnya tertempel secarik kertas yang isinya sedikit buruk”.

 

“Aku tidak ingat”, jawab Chan Yeol singkat.

 

“Aaargh! Kau ini!” gerutu Baek Hyun.

 

“Memangnya ia menampilkan apa?”, sambung Baek Hyun yang mulai kepo.

 

“Dia bernyanyi sambil bermain gitar. Aku tidak tahu lagu apa yang ia nyanyikan. Yang jelas itu bukan berbahasa Korea, Mandarin, ataupun Inggris”, jawab Tao. “Aku tidak menyangka ada siswi di sekolah ini yang memiliki suara unik yang merdu sepertinya. Tapi sayangnya ia tidak menyanyikan lagu religi. Padahal kurasa…”.

 

“Ya..ya ya..”, interupsi Chan Yeol. “Tolong jangan membicarakan hal ‘itu’ lagi”.

 

“Aku hanya….”.

 

“Sudah sudah!”, lerai Lay. “Lebih baik kita menyaksikan pertunjukan sekarang ini”.

 

Mereka semua segera menurut.

 

Baek Hyun sedari tadi tak bisa bersikap diam. Ada saja tingkahnya yang membuat teman-temannya merasa risih.

 

“Kau ini kenapa sih?”. Bahkan Chan Yeol yang posisi duduknya sedikit jauh dari Baek Hyun mulai risih juga.

 

“Aku ingin berbicara dengan gadis itu”.

 

Suho menaikkan sepasang alis tebalnya. “Siapa?”.

 

“Itu loh.. yeoja yang katanya tadi bermain gitar sambil menyanyi”.

 

Suho memutar bola matanya. “Ya tinggal kesana saja. Gitu aja kok repot”.

 

Lay sepertinya menduga hal yang lain. “Apa mungkin kau berniat untuk melakukan pendekatan dengannya?”

 

“Eh? Tentu saja tidak! Dia bukan seleraku! Seleraku hanya Seolhyun noona saja!” bantah Baek Hyun secara gamblang.

 

Tao tertawa kecil melihat polah temannya itu. “Lalu kenapa kau ingin berbicara dengannya?”

 

“Aku hanya.. “ Baek Hyun menghentikan kata-katanya. Ia mencoba mencari kata yang tepat”…. Kasihan padanya”.

 

“Hahaha, dasar! Ada saja alibimu untuk mendekati gadis itu”. Tanpa ia sadari beberapa pasang mata mulai memandang ke arahnya. Tawanya yang aneh itu berhasil membuat orang-orang menjadi salah fokus. Tapi ia adalah Suho. Ia tak peduli dengan itu semua, dan tetap menunjukkan tawa khasnya yang mungkin separah tawa hyena.

 

Baek Hyun masih membantah argumen Suho yang bertolak belakang dengan apa yang dipikrkan olehnya. “Justru aku ingin gadis itu bersama Chan Yeol”.

 

“Hah?” Kali ini giliran Chan Yeol yang memasang mimik melongo yang tak kalah aneh dari tawa Suho.

 

“Ih! Anak ini! Ayo ikut aku”. Dan kini Baek Hyun kembali tak menghiraukan rengekan sahabatnya yang meminta agar tidak ikut dengannya. Baek Hyun bersikap masa bodoh dengan itu. Lagipula ini juga bisa menjadi moment pembalasan dendam yang tepat.

 

Baek Hyun berdeham pelan. “Mmm, annyeong”.

 

Gadis itu tidak meresponnya.

 

Baek Hyun segera berjongkok di sampingnya. “Annyeoooooong!”. Kali ini sang gadis menoleh. Tentu saja. Setelah Baek Hyun meneriakkan kata itu dengan cukup keras tepat di dekat telinga yeoja itu pastinya ia bakal menoleh.

 

Gadis itu menunjukkan mimik malas ketika bertemu pandang dengan Baek Hyun.

 

“Temanku ingin berkenalan denganmu”. Spontan hal itu membuat Chan Yeol bereaksi dengan berlebihan.

 

“Eh?” Chan Yeol refleks menggelengkan kepalanya, “Tidak, tidak!”.

 

Gadis itu mengalihkan pandangannya pada penampilan yang sedang berlangsung di depan. “Buang-buang waktu saja”.

Chan Yeol merasa terkejut dengan ucapan pedas gadis itu. “Maaf sebelumnya, tapi aku memang tidak ingin berkenalan denganmu. Baek Hyun lah yang memaksaku melakukannya”.

 

Gadis itu kini beralih menonton penampilan di depan. Ia enggan bertatap muka dengan 2 namja itu. “Bodoh. Kalau tidak mau kau tak perlu kesini”.

 

“Ya ampun, kau itu yeoja tapi bicaramu kasar sekali!” Baek Hyun mulai merasa bahwa gadis itu bukan gadis yang ramah dan mudah didekati. Sejenak kemudian ia teringat bahwa gadis itu..

“Ah, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti”, sambung Baek Hyun.

 

Chan Yeol melirik sahabatnya itu. Bagaimana bisa namja itu memaklumi kata-kata pedas gadis itu? Mungkin dia sudah gila. Ah, bukan. Memang namja itu sudah gila.

 

Bisik-bisik mulai terdengar.

Para gadis mulai menyadari bahwa Chan Yeol datang, dan ia terlihat sedang mendekati.. seorang gadis?

 

“Chan Yeol!” panggil sebuah suara.

 

Namja yang dimaksud menoleh ke sana kemari mencari sumber suara.

 

Tiba-tiba saja sesosok yeoja dengan tubuh yang semampai sudah berdiri di depannya. “Jadi… ini yang kau lakukan ketika aku berada di Jepang?”

 

~~~

A/N : Hai hai semuanya ^^ Maaf baru bisa nglanjutin ff ini sekarang u.uv Aku tau kalo molornya bener-bener keterlaluan ._. Sekali lagi maaf banget buat yang udah nunggu kelanjutan ff ini T.T

Finally, ada waktu free sejenak dari semua kesibukanku di sekolah. Dan mendadak ada mood buat nulis lagi. Sebenernya chapter ini udah lama selesainya, cuma masih belum aku edit diksinya. Terus aku pengen feelnya dapet jadi nunggu beneran mood buat nulis ._.

Semoga kalian menikmati chapter ini ^^ Akhirul kalam terima kasih telah membaca ^^

 

4 thoughts on “[FF Freelance] Behind The Library (Chapter 4B)

  1. Bagus bangt, makin nyata .
    Next chapnya ya
    gasabar. serius *teriak pake toa*
    okeee pokoknya next chapnya ditunggu

    • hai, slr ya soalnya kemaren2 fokus un ._.v
      next chapnya nunggu diposting kok ^^
      atau kalo penasaran, cek di trafkid.wordpress.com, itu blogku ^^

    • lanjutannya nunggu diposting ya ^^
      kalo penasaran, cek blogku di trafkid.wordpress.com ^^
      btw, slr ya soalnya kemaren2 lagi sibuk persiapan un ._.v

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s