[FF Freelance] Innocent Man (Chapter 3)

d .,qmew d

AUTHOR: Dandelion Doc

@naqisshiummu

MAIN CAST: DO KYUNGSOO

IM HYERIN

ADDITIONAL CAST : Temukan sendiri^^v

GENRE: Romantic, Comedy.

LENGTH : Chaptered

RATING:PG 16

PREVIOUS: Chapter 1, Chapter 2,

Chapter 3 selesaaai ^^ maaf lama, guru-guru disekolah sedang tega-teganya ngasih tugas bertumpukT_T *curcol* oke semoga tidak mengecewakan, happy reading guys^^

Saran dari author biar lebih dapet feel-nya, bacanya sambil denger lagu :

  1. Song Joong Ki – Really (Ost. Nice Guy)
  2. 2AM – I Wonder If You Hurt Like Me

 

 

 

We sailed on together

We drifted Apart

And here you are by my side

Hyerin dan Kyungsoo masih berada di perpustakaan. Sudah 2 jam Kyungsoo dengan sabar mengajari Hyerin berbagai rumus matematika untuk ujian besok.

“Kyungie, aku lelah.” Hyerin menyandarkan kepalanya dibahu Kyungsoo.

“Baiklah, kita istirahat sebentar.”

Hyerin bertopang dagu sambil memandangi Kyungsoo yang ada disampingnya. Kyungsoo balas menatapnya sebentar, kemudian tersenyum. Hyerin ikut tersenyum. Namja ini masih saja tidak bisa menatap matanya lama-lama, walau kini ia tidak segugup yang dulu.

“Jawab aku dengan jujur. Apa yang kau rasakan saat bersamaku?” Tanya Hyerin. Kyungsoo terdiam sejenak.

“Rasanya aneh. Jantungku berdegup kencang, dan dadaku sesak. Seperti rasa sakit dan bahagia disaat bersamaan.”

Hyerin tertegun. Perasaan aneh itu juga menghampiri dirinya entah sejak kapan, bahkan saat ini ia dapat merasakannya.

Hyerin memejamkan mata. Oh tuhan, tidak mungkin. Ia tidak mungkin jatuh cinta pada Do Kyungsoo. Namja ini hanyalah bagian dari permainannya. Ia sudah berjanji pada sahabat-sahabatnya untuk segera mencampakkan namja ini secepatnya.

“Dan rasanya sakit, kalau kau tidak ada didekatku.” Gumam Kyungsoo lagi.

Otaknya terus menolak, namun hatinya berkata lain. Bahwa nyatanya ia begitu menyukai cara namja ini tersenyum. Ia tidak pernah bosan berlama-lama menatap kedua matanya yang besar dan meneduhkan itu. Caranya menatap Hyerin. Wajahnya saat ia malu. Kedua tangannya yang hangat. Kehadirannya. Semuanya. Hyerin menyukai semuanya.

Tanpa Hyerin sadari, ia termakan umpan yang ia buat sendiri.

“Berjanjilah, Kyungsoo-ah.”

“Hm?”

“Apapun yang terjadi nanti, jangan tinggalkan aku. Jangan membenciku.”

Kyungsoo hanya diam, tidak mengerti apa maksud Hyerin. Namun dalam hati ia berjanji, karna ia tidak memiliki sedikitpun niat untuk meninggalkan yeoja yang tanpa ia sadari telah mengisi hatinya ini.

Dengan kaku, Kyungsoo membelai lembut kepala Hyerin yang kini bersandar di bahunya.

Flashback end.

Sudah seminggu sejak Hyerin mengakhiri hubungannya dengan Kyungsoo. Tanpa kata, tanpa penjelasan.

Kyungsoo kembali ke rutinitasnya seperti biasa, belajar dan belajar. Ia kembali mengabiskan waktunya di perpustakaan, tempat dimana seharusnya ia berada. Senyum yang mulai menghiasi wajahnya akhir-akhir ini, lenyap sudah. Ia kembali menjadi Kyungsoo yang dulu, pendiam dan tanpa ekspresi. Bahkan ini lebih buruk dari sebelumnya.

Kalian salah sangka. Kami hanyalah sebatas teman belajar.”

Kyungsoo tersenyum getir. Gadis itu tak tau betapa kata-katanya menyakiti hati Kyungsoo.

Namun Kyungsoo tetap menepati janjinya. Ia tetap selalu ada untuk gadis itu.

Seperti pagi ini. Belum ada satupun orang di kelas, hanya ada Kyungsoo yang seperti biasa datang paling awal.

Ia mengeluarkan sekotak bekal dan sebotol susu dari tasnya, dan menaruhnya di loker yang tidak pernah terkunci, milik Im Hyerin. Kyungsoo tau betul, gadis ini pemalas sarapan dan tidak akan makan sebelum Kyungsoo membelikannya sarapan, pada saat itu.

Kyungsoo menaruh bekal buatannya diatas hadiah-hadiah dan surat cinta yang bertumpuk didalam loker itu, yang tentunya dari para fanboy Hyerin. Kyungsoo tersenyum tipis, berharap yeoja itu memakan bekalnya.

Beginilah seorang Kyungsoo saat ia  benar benar menyayangi seseorang. Tak peduli seseorang itu sudah mengkhianatinya, atau bahkan mungkin sudah melupakannya.

*************************

Hyerin berjalan tanpa semangat menuju kelasnya. Pagi ini mood-nya sedang berantakan, dan kepalanya masih terasa pusing akibat menghabiskan dua botol soju semalam.

Tidak seperti biasanya, tadi malam Hyerin menolak ajakan teman-temannya untuk pergi clubbing. Ia lebih memilih menyendiri di apartment-nya, karna suasana hatinya sedang buruk.

Karna terus merasa gelisah,  malam itu Hyerin memutuskan untuk menelfon ibunya yang sedang berada di jerman untuk urusan bisnis. Sialnya, eommanya tidak mengangkat telfon. Akhirnya ia menelfon Hyena— eonninya yang terakhir kali ia jumpai 3 bulan yang lalu.

“YAAA IM HYERIN!!! Kau baru ingat menghubungi eonnimu sekarang?” Dengan refleks  Hyerin menjauhkan benda itu dari telinganya.

“Eonni, kau masih hidup? Syukurlah.”

“Yaaaa adik kurang ajar!! Tentu saja aku masih hidup.” Pekik Hyena lagi. Hyerin terkekeh pelan.

“Yaa eonni, bisakah kau bicara sesuai ambang batas pendengaran manusia? Berisik sekali, tau!”

“Hehe mian adikku sayang. Ada apa? Tumben sekali kau menelfonku malam-malam begini.”

“Eonni, hatiku terasa sakit dan dadaku terasa sesak. Entah kenapa.”

“Mwo? Apa kau sakit?” Suara diseberang sana terdengar khawatir.

“Molla. Aku terus terfikir akan sesuatu, dan itu membuat hatiku sakit. Sesuatu yang membuatku merasa kehilangan.”

“Yaaa, jangan bertele-tele. Coba jelaskan padaku apa yang kau maksud ‘sesuatu’ itu dengan lebih manusiawi.” Tanya Hyena tak sabaran.

“Hm.. Seseorang?” Gumam Hyerin. Sejenak keheningan melanda mereka. Tapi beberapa saat setelah itu, Hyerin menyesal akan kata-katanya barusan.

“HAHAHAHAHA-” Dengan nistanya Hyena tertawa terbahak-bahak.

“Yaa! Apa yang kau tertawakan?”

“HAHHAHA DAEBAK. Kau sedang patah hati kan? Benar, adikku sedang patah hati! Seorang Im Hyerin sedang patah hati! Ini gila. Aku harus beritahu eomma nanti.” Kata Hyena bersemangat.

“Yaa Im Hyena, aku rasa kepalamu terbentur.”

“Tidak disangka, adikku sudah mulai dewasa. Hahaha so, who’s that lucky guy?”

“Kau harus cepat menikah, eonni. Sebelum kau bertambah gila.” Bantah Hyerin.

“Heey jangan membalikkan keadaan!”

“Aku mau tidur! Bye eonni.”

Hyerin ingat malam itu ia langsung memutuskan telfon eonninya, kemudian kalap meminum hingga dua botol Soju. Dirinya? Patah hati? Huh, yang benar saja. Hyena eonni memang sudah gila.

Hyerin langsung disambut ketiga sahabatnya sesampai di kelas. Hyerin hanya menanggapi sapaan mereka sekilas kemudian langsung duduk di kursinya. Bertopang dagu, sambil menatap kosong kearah pintu.

Pas sekali, Kyungsoo yang baru kembali dari mengambil sekotak kapur di ruang guru masuk ke kelas. Pandangan Hyerin dan Kyungsoo bertemu. DEG. Kyungsoo segera menunduk dan Hyerin langsung membuang muka.

Kalau ia tidak sadar, mungkin ia sudah tersenyum dan menarik tangan namja itu ke kursi taman, tempat dimana biasanya mereka mengobrol. Seperti dulu.

Kenapa hatinya terasa begitu sakit? Dan perasaan ini.. Rindu? Sedih? Hyerin menggeleng gelengkan kepalanya keras. Ini gila.

“Hyerin-ah, kau masih sakit? Tanya Jae-hee yang heran melihat Hyerin.

“Hanya pusing sedikit.”

“Mau kami ambilkan obat?”

“Ah aniyo, tidak usah.” Tolak Hyerin.

“Kau baik-baik saja kan? Akhir-akhir ini kau bersikap aneh.” Kata Sooji dengan nada khawatir.

“Gwenchana. Kalian tidaj usah berfikiran macam-macam, aku hanya lelah” Elak Hyerin.

********************************

Bel istirahat berbunyi dengan nyaring.

Hyerin melangkahkan kaki menuju lokernya. Loker yang tidak pernah ia kunci. Yah, pikirnya buat apa juga dikunci, toh tidak akan ada yang mengambil isinya. Lagipula mana ada yang berani macam-macam dengan seorang Im Hyerin.

Hyerin  merasa lapar karna belum makan sejak semalam. Dan seingatnya, di lokernya ada puluhan coklat pemberian penggemarnya.

Hyerin mengernyitkan dahinya saat melihat kotak bekal makanan dan sebotol susu. Siapa yang memberinya ini? Hyerin menoleh kebelakang dan mengedarkan pandangannya. Hanya ada siswa siswa yang lalu lalang.

“Ah sudahlah. Siapapun kau, gomawo ya.”

Hyerin membuka kotak bekal itu. Isinya nasi goreng, dadar gulung, dan juga daging yang ditata dengan rapi. Hyerin tersenyum. Ini mengingatkannya pada namja itu lagi. Tapi tidak mungkin Kyungsoo yang melakukan ini kan? Namja itu pasti membencinya sekarang.

“Sama-sama.” Sebuah suara mengagetkan Hyerin.

Hyerin menoleh kaget. Lee Seojun. Namja yang waktu digandeng Hyerin didepan semua orang.

“Lee  Seojun? Kau yang memberiku ini?” Tanya Hyerin setengah tak percaya. Namja macam Lee Seojun melakukan hal seperti ini? Sulit dipercaya.

“Haha tentu saja chagiya. Aku hanya ingin member surprise kecil untukmu, kau suka?” Seojun tersenyum penuh arti.

Ini aneh. Tapi syukurlah, namja yang terkenal brengsek dan playboy macam Lee Seojun masih mepunyai sisi baik. Pikir Hyerin.

“Jinjayo? Gomawo.”

“Ah, tidak perlu berterima kasih. Bagaimana kalau aku temani kau makan dikelas?” Seojun tersenyum lebar. Hyerin hanya mengangguk.

*******************************

Kyungsoo menyandarkan kepalanya di meja sambil membaca sebuah komik. Ia juga suka membaca komik, apalagi saat pikirannya terasa lelah seperti sekarang ini.

“Hai! Boleh aku duduk disini?” Seorang yeoja cantik menunjuk-nunjuk kursi didepan Kyungsoo. Kyungsoo mengernyitkan dahinya cukup lama. Ah, Kyungsoo ingat. Yeoja ini adalah murid baru dikelasnya, yang baru saja pindah kemarin. Tapi Kyungsoo lupa namanya.

“Hello?” Yeoja itu melambai-lambaikan tangan didepan wajah Kyungsoo.

“A-ah ne, silahkan.”

Yeoja itu langsung duduk kemudian menatap Kyungsoo dengan mata berbinar-binar.

“Namaku Rachel. Yoo Rachel.” Gadis itu mengulurkan tangan dengan ramah.

“Kyungsoo. Do Kyungsoo.” Kyungsoo balas menjabat tangannya kaku.

“Mulai sekarang kita berteman ya, Kyungsoo-ah.” Rachel tersenyum manis. Kyungsoo hanya mengangguk, tidak menjawab karna pandangannya teralih pada dua orang yang baru saja masuk ke kelas. Mereka disambut dengan sorakan menggoda dari teman-temannya. Hyerin dan namjachingu-nya.

Kyungsoo tersenyum samar saat melihat gadis itu membawa kotak bekalnya.

“Omooo, kalian manis sekali. Dan sejak kapan kau membawa bekal, Hyerin-ah?” Goda Jae-hee.

“Haha tentu saja aku yang membuatkan bekal ini, special untuk yeojachingu-ku. Benar kan, honey?” Dengan bangga Seojun merangkul Hyerin.

Senyum di wajah Kyungsoo lenyap seketika. Kedua matanya menatap Seojun tajam. Kenapa Hyerin bisa bersama namja pembohong dan licik ini? Bahkan untuk hal kecil seperti itu saja ia berbohong. Kyungsoo menghela nafas berat. Ia marah, tapi ia bisa apa?

“Jadi itu yang namanya Im Hyerin? Benar, cantik sekali.” Kata Rachel. “Apa ada yeoja yang kau sukai disekolah ini, Kyungsoo-ah?” Tanya Rachel antusias. Kyungsoo terdiam sejenak.

“Molla. Mungkin saja.”

“Kau suka yeoja yang bagaimana? Apa yang cantik sepertiku? Aku cantik kan? Hahaha-“ Rachel tertawa-tawa. Kyungsoo ikut tertawa sekilas. Yeoja ini kelihatannya baik juga.

**********************

Dengan risih Hyerin menyingkirkan lengan Seojun yang merangkulnya, kemudian tersenyum terpaksa. Kyungsoo ada disini. Hyerin merasa semakin bersalah. Namja itu pasti semakin membencinya.

Tunggu. Disebelah Kyungsoo ada seorang yeoja. Hyerin memicingkan matanya. Bukankah itu si anak baru? Dan sejak kapan Kyungsoo mengobrol dengan yeoja selain dirinya? Batin Hyerin berkecamuk.

Dan lihatlah yeoja itu. Siapa dia seenaknya saja tertawa tawa seperti itu pada Kyungsoo. Dada Hyerin terasa bergemuruh.

“Genit sekali.” Gumam Hyerin tanpa sadar.

“Mwo? Kau bilang apa?” Tanya Seojun.

“Ah, aniyo.” Hyerin menggeleng.

Seojun melihat kearah Kyungsoo, namja itu juga sedang menatapnya tajam. Seojun menyeringai licik.

*********************

Jam 10.45, pelajaran matematika. Hyerin menatap papan tulis tanpa sepatah katapun. Pikirannya melayang entah kemana.

Kenapa ia tersenyum pada yeoja lain? Aku kan sudah bilang kalau dia hanya boleh melakukan itu padaku. Kau ingin mati, Do Kyungsoo? Perang batin Hyerin masih belum selesai.

Ya Im Hyerin, kenapa kau marah? Memangnya kau siapa melarangnya dekat dengan yeoja lain? Batin Hyerin berkecamuk.

Apa ia cemburu? Tidak. Tidak mungkin. Sekuat tenaga Hyerin berusaha menolaknya, tapi hatinya terasa panas. Hyerin memejamkan mata dan meniup poninya kesal.

“Ehem. EHEM!” Deheman Ms.Bae membuyarkan lamunan Hyerin.

“Nona Im, aku menyuruhmu mengerjakan latihan di papan tulis. Bukan mempelototinya.” Sindir Ms.Bae.

“Nde, songsaenim.” Jawab Hyerin malas.

“Apa kau sudah mengerti? Aku rasa tidak karna dari tadi kau hanya melamun.” Hyerin memutar-mutar bola matanya. Wanita tua ini cerewet sekali.

“Do Kyungsoo?” Mata Ms.Bae mencari-cari Kyungsoo. Kyungsoo mengangkat tangannya ragu, perasaannya mulai tidak enak.

“Bukankah kau tutor belajar Im Hyerin? Kenapa kalian duduk berjauhan sekali? Cepat kemari dan duduk disebelah nona ini. Ajari ia sampai bisa.” Perintah Ms.Bae. Wajah Kyungsoo pucat seketika. Bisik-bisikan anak sekelas mulai terdengar. Hyerin memejamkan matanya berat. Sungguh, ia masih belum siap berhadapan dengan Kyungsoo.

“Anu songsaenim, tapi aku..” Kata Kyungsoo gugup.

“Apa kau keberatan, Mr.Do?” Kata Ms.Bae dengan nada ‘tidak ada penolakan’.

“A-ani imnida.” Kyungsoo menelan ludah dengan susah payah.

“Bagus. Silahkan. Semuanya diam dan kerjakan kembali latihan kalian!” Teriak Ms.Bae.

*****************************

Hyerin mengetukkan penanya ke meja, tanpa menatap Kyungsoo. Begitupun dengan namja itu, ia meremas-remas ujung dasinya. Suasana canggung itu sudah terjadi lebih dari 5 menit, tanpa ada satupun yang membuka percakapan.

“Mian. Soal nomer berapa yang belum kau mengerti?” Kyungsoo memberanikan diri.

“Semuanya.” Jawab Hyerin pelan.

“Baiklah, aku jelaskan dari awal ya.” Kyungsoo mulai menjelaskan tentang Trigonometri.

Hyerin akhirnya menatap wajah namja didepannya. Memperhatikan dengan seksama wajah namja itu. Sungguh ia bahagia. Ini pertama kalinya mereka saling bicara setelah lebih dari seminggu. Bisa melihatnya dari dekat, bisa mendengar suaranya lagi. Ada banyak kata yang ingin ia sampaikan, namun lidahnya terasa kelu.

Bahagia namun menyakitkan. Mengingat apa yang telah ia lakukan pada namja tidak bersalah ini. Menyakitkan bahwa kini mereka kembali seperti orang yang tidak saling kenal, bahkan menatap wajahnya saja Kyungsoo tidak mau. Perasaan Hyerin bercampur aduk.

“Kyungsoo-ssi.” Gumam Hyerin setelah 10 menit Kyungsoo menjelaskan. Kyungsoo mendongak.

“Aku tau kau tidak nyaman dengan semua ini. Kalau kau mau, kau tidak perlu lagi menjadi tutorku.” Hyerin berusaha berbicara dengan tenang.

“Aniyo, aku tidak merasa terpaksa. Sungguh.”

“Tapi ini membuatku merasa bersalah.” Suara Hyerin semakin mengecil.

“…………..”

“Mianhae.” Lirih Hyerin.

“Kau tidak bersalah. Hanya aku yang bodoh. Dan kembalilah seperti yang biasa, anggap saja aku tidak ada. Na gwenchana.” Balas Kyungsoo lirih.

Tenggorokan Hyerin tercekat, tak mampu berkata apa-apa lagi. Matanya berkaca-kaca. Bahkan sampai bel pulang terdengar, dan ia hanya bisa memandangi punggung namja itu yang beranjak menjauh.

*****************************

“Kenapa kau tidak bilang kalau kau adalah tutornya Im Hyerin?” Tanya Rachel sambil meminum Mango Smoothie-nya. Mereka berdua kini berada di Cafe sekolah, setelah Rachel berhasil menarik Kyungsoo kesini.

“Kau tidak tanya.” Jawab Kyungsoo polos.

“Aku penasaran, kenapa kalian terlihat canggung sekali tadi?”

“Kau benar-benar ingin tau?”

“Tentu sajaaa. Cepat ceritakan, Kyungsoo-ah.” Kata Rachel gemas.

“Aku tak tau bagaimana menceritakannya. Yang jelas kami pernah dekat, kemudian.. dia meninggalkanku.”

“Mworago? Benarkah?” Rachel nyaris terpekik. Kyungsoo hanya mengangguk tanpa ekspresi.

“Kau tidak membencinya?”

“Aku tidak bisa.”

“Kalau begitu, kau masih menyukainya? Tanya Rachel hati-hati.

“Ya.” Jawab Kyungsoo jujur. Rachel tersenyum hambar mendengarnya.

“Dia bodoh sekali. Menyia-nyiakan namja sebaik dirimu, Kyungsoo-ah.” Gumam Rachel.

*******************

Hari demi hari berlalu, Kyungsoo masih belum berubah. Ia masih saja tetap meletakkan bekal buatannya di loker Hyerin, ataupun diam-diam meletakkan buku catatan pelajaran yang sudah ditulisnya rapi diatas meja Hyerin.

Walaupun ia tahu Hyerin tidak pernah menganggapnya ada. Walaupun ia mengira namja lain yang melakukannya. Namja brengsek, Lee Seojun.

Beberapa hari yang lalu, saat ia seperti biasa meletakkan kotak bekal itu di loker Hyerin, namja itu datang mengagetkannya.

“Ckckck. Kau baik hati sekali, melakukan hal-hal manis untuk yeoja yang kau sayangi. Walaupun ia sudah mencampakkanmu.” Kata Seojun dengan nada mengejek. Kyungsoo hanya diam.

“Ngomong-ngomong, terimakasih bekalnya. Aku rasa Hyerin menyukaiku sekarang. Hahaha sebenarnya aku kasihan padamu, Kyungsoo.” Seojun tersenyum licik.

“Setidaknya aku tidak sepertimu, berbohong demi mendapatkan perhatiannya. Bekal buatanmu? Yang benar saja.” Balas Kyungsoo dingin.

“Kau berani juga rupanya. Tapi jangan pernah berpikir untuk macam-macam denganku. Dan jangan berani-berani bilang pada Hyerin bahwa ternyata kaulah yang memberinya bekal itu. Ingat? Kalau tidak kau mati ditanganku.” Ancam Seojun.

“Aku juga tidak berniat member tahunya. Aku tidak seperti kau.” Kata Kyungsoo kemudian ia segera pergi dari situ.

Flashback end.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, hari ini ia datang pagi-pagi sekali, kemudian meletakkan kotak bekalnya di loker Hyerin. Kyungsoo meletakkannya disana dengan hati hati, kemudian menutup pintu lokernya pelan. Ia melihat ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada murid yang lewat.

DEG. Betapa kagetnya Kyungsoo saat membalikkan badannya kebelakang. Jantungnya berpacu berkali lipat karna seseorang yeoja berdiri disana, memergokinya. Kyungsoo bahkan tak berani membayangkan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.

TO BE CONTINUE

 

 

 

One thought on “[FF Freelance] Innocent Man (Chapter 3)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s