That Glazed Winter – Chapter 2

that glazed winter

THAT GLAZED WINTER

“Waiting for Responses”

BY

Kiran

Cast  :  Sulli (f(x)) & Do Kyungsoo (EXO-K)  ||  Cast : Tiffany (SNSD), Baekhyun (EXO-K), Kris (EXO-M),   ||  Genre  :  Romance, Fantasy, Western  ||  Rating  :  PG-16 || Length : Chapter || Credit Poster : funluobell

Inspired by C.S. Lewis’s Narnia & Eloisa James’s Desperate Duchess Series

Previous Chapter :

Prologue | 1

*****

More Detail:

Sulli as Sulli Mareviere, putri dari James Mareviere, Duke of Rovaldine

D.O as Dio Soilaven, pewaris keluarga Nobel of Ritzoviral

Tiffany as Tiffany Reindfelt, putri Navis Reindfelt, Nobel of Everolen

Baekhyun as Baekhyun Byun, pewaris keluarga Nobel of Zousanorve [sub-urban family]

Kris as Kris Mareviere, pewaris keluarga Duke of Rovaldine

*****

Jadi, di hari Senin yang dijanjikan pria itu, ia melangkah meninggalkan rumahnya menuju Rown Manor. Ia merencanakan untuk datang terlambat, dan ia sudah menyusun waktu kedatangannya setepat-tepatnya. Satu jam. Ya, semoga saja memang keterlambatannya satu jam.

Rown Manor adalah restoran dengan cita rasa manis. Interiornya biasa. Cenderung menipu kalau boleh dinilai. Dari luar gedung Rown Manor tampak seperti manor bergaya victorian yang didominasi dengan bangunan tinggi dengan relief-relief rumit di dindingnya─gaya bangsawan sekali, tembok-tembok kokoh yang tebal, arches yang menawan, dan bunga-bungaan seperti daisy dan chrysanthemum. Tapi saat masuk ke dalam, sangat minimalis sekali. Interiornya hitam putih tanpa detail yang menonjol. Benar-benar gaya para ilmuwan.

“Ada yang bisa kubantu, Miss?” tanya seorang waitress kepada Sulli. Senyumnya tampak ramah untuk seorang gadis yang kelihatan lelah karena tempat yang kelihatan penuh ini. Lihatlah, semuanya campur aduk di sini. Kelas Nobel bersatu dengan kelas Honorable, betapa anehnya!

“Mister Dio Soilaven, please,” balas Sulli dengan senyum. “Ada di sebelah mana?”

“Nama Anda, Miss?”

“Sulli Mareviere,”

Pelayan itu agak terkejut untuk sesuatu yang sepertinya tidak biasa, tapi ekspresinya segera dikembalikan ke bentuk semula. “Saya antar, Miss.”

Sulli mengikuti langkah waitress yang ada di depannya. Sembari melangkah, ia melihat-lihat bagaimana interaksi kedua kelompok sosialita itu. Ya, walaupun satu ruangan, tampaknya tak saling bercengkrama. Tidak ada yang semeja bahkan. Jadi, nantinya hanya aku?, batinnya saat ia mulai menyadari dengan siapakah ia akan bertemu. Mereka melangkah ke suatu ruang yang lebih sepi dan hanya ada pintu-pintu yang tertutup. Mereka berdua berhenti di pintu bernomor 4.

“Tamu Anda sudah datang, Sir. Sulli Mareviere ada di sini.”

“Masuk,” balas seseorang dari dalam ruangan. Dan… bukan suara Dio Soilaven. Lalu siapa?

“Miss, silakan masuk,” ucapnya. Ia pergi beberapa detik setelah Sulli memasuki ruangan.

Sekarang yang terdengar hanyalah suara sepatunya sendiri. Suasana seperti ini malah membuatnya takut, terlebih saat ia melihat meja yang kosong, dan ruangan ini bukan ruang makan VIP, melainkan… apa sebenarnya nama ruangan ini? Tempat singgah sementara? Ada sofa, rak buku, perapian… apa itu… tempat tidur? Ini kamar prostitusi?

Aslan, ini sarang penyamun!

Cepat-cepat Sulli berbalik hendak menuju pintu yang tadi membawanya masuk ke ruangan ini. Tapi tubuhnya tertabrak sesuatu. Tubuh Dio Soilaven bertabrakan de─kenapa telanjang dada?

Ia mendongak, tapi pemandangannya jadi lebih bagus. Dio Soilaven baru saja mandi dan tanpa sengaja titik-titik air dari rambutnya itu jatuh ke pipi Sulli. Setelahnya, Sulli kembali sadar dari keterpesonaan sesat yang baru saja dialaminya.

“Sudah kuduga akan begini,” ucap Dio terlihat sombong. “Kau selalu jatuh dalam pesonaku,”

“Tidak mungkin!” Ah, salah kata. “Tidak semudah itu, Sir. Ngomong-ngomong tempat apa ini?” tanyanya untung mengalihkan pembicaraan. Sekarang terlihat pula nafas Sulli yang tak beraturan dan matanya yang menghindar berarah ke sana-sini.

“Setiap hari Senin aku ke sini untuk tidur dan kembali bekerja malam hari,”

“Ah, sarang kelelawar rupanya. Menangkap kupu-kupu malam, Sir?”

“Baiklah. Ini restoranku dan aku membangun ruanganku sendiri di ruang VIP nomor 4. Puas, cantik? Ngomong-ngomong tentang kupu-kupu malam bukankah kau…”

Dio mengangkat kakinya sebatas untuk berjalan. Ia melangkah mendekat ke arah Sulli yang semakin mundur mendekati pembatas ruang. Ia terpojok, tidak bisa bergerak. Dio Soilaven sungguh menakutkan sekarang.

“Sudah kutemukan serumnya,” ucap seorang pria yang keluar dari ruangan lain. “Oh tamumu seorang wanita. Agak tak biasa kau mengajak wanita ke sini. Halo, aku Baekhyun.” ucap pria itu kemudian mengulurkannya ke arah Sulli. Seketika Dio dan Sulli meninggalkan ekspresi sebelumnya saat Baekhyun mendekat. Sulli melupakan ketakutannya, sedangkan Dio merelakan kesempatan menggoda Sulli pergi ditelan angin.

“Hai, aku Sulli. Sulli Mareviere.” ucap Sulli dengan senyum khasnya. Ya, bagaimana tidak ia tidak berbagi senyumnya pada pria ini? Pria ini penyelamatnya hari ini.

“Oh, jadi kau gadis bangsawan yang dicium Dio di Cair Paravel?” Mendengar pernyataan itu Sulli melemas, jadi ia mulai mengambil kesimpulan kalau Baekhyun tak berbeda dengan Dio. Kelihatan sekali mereka sekomplotan.

“Anda tahu, Sir?” tanyanya sambil melirik ke arah Dio yang berjalan ke ruangan lain. Memakai kembali baju yang pantas mungkin?

“Aku melihatnya,” ucapnya setelah ada jeda sejenak. “Sebaiknya kalian putus saja. Kau kelas bangsawan paling dihormati. Dio pun juga sama. Nantinya, akan menyakiti masyarakat pada umumnya kalau hubungan kalian terungkap. Lagipula hubungan tersebut nantinya akan tidak berhasil.”

“Kami tidak berhubungan apapun, Sir. Kami hanya akan membahas tentang…” Sulli berpikir sejenak. Membahas tentang apa? Bukankah ia─sebentar, sepertinya ada. Sulli menghela nafas. “Tiffany.”

“Tiffany? Tiffany Reindfelt?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya akan memberitahukan kalau ada seseorang yang pingsan di Cair Paravel di hari itu sebelum aku keluar dari sana. Pelayanku membawanya ke St. Pourve. Mungkin dia yang bernama Tiffanny.” jelas Sulli kepada Baekhyun. Wajah Baekhyun kelihatan lega sekarang.

“Ah, benarkah? Aku pergi dulu. Bilang pada Ritzoviral kalau aku pergi.”

“Ya, aku mendengarnya.” balas Dio yang tiba-tiba muncul sambil membawa dua gelas anggur. “Kau pergilah mencari Tiffany.”

Baekhyun meninggalkan ruangan itu. Ya, ia benar-benar pergi dan hanya menyisakan mereka berdua. Dio memberikan salah satu gelas pada Sulli. Sulli menerimanya dengan hati-hati seolah kalau dia salah memegangnya gelas itu akan pecah.

“Minumlah. Aku tidak mungkin meracunimu.” jelasnya saat muncul keraguan di mata indah Sulli. “Jadi jelaskan alasanmu tentang pertemuan ini.”

Sulli meneguk anggurnya dengan hati-hati. Ia meletakkan anggurnya di meja terdekat dari posisinya berdiri.

“Ibuku tahu aku berciuman,” jawabnya sambil mengingat saat bagaimana ia harus menjelaskan pada ibunya kalau ia berciuman dengan seseorang. Terlihat jelas raut wajah ibunya lebih kelihatan cemas daripada marah. Ia menanyakan pada Sulli siapa pria itu, tapi Sulli hanya diam. Bagaimana ibunya harus menyikapi semua ini kalau dirinya saja tidak bisa menemukan bagaimana ia seharusnya bersikap?

“Lalu?” balas Dio saat kata-kata Sulli berhenti.

Sulli menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan kata-katanya. Ia juga bingung. Dulu sewaktu pertama kali ia mengalami peristiwa ini ia merasa lucu, tapi sekarang setelah beberapa saat perasaan itu berlalu… entahlah perasaannya juga tidak jelas.

“Kau mempermainkanku,” lanjut Sulli sedikit tidak yakin. “Sejauh ini, hanya itu yang bisa kutangkap.”

“Kemudian?” tanya Dio sambil meneguk segelas anggur di tangannya.

“Tidak ada.”

“Baiklah kau bisa pergi,”

“Ya, benar…” Kata-kata itu terasa mengantung. Seperti ada frasa yang seharusnya terucap tapi terlewatkan.

“Hati-hati di jalan,” Oh, tidak! Sulli tidak menyukainya. Oh, ayolah. Dia ingin Dio mengatakan ‘itu’ dan sedikit memaksanya. Demi Aslan, siapa yang tidak ingin dirayu oleh pria sekaku Dio Soilven?

“Ya, terima kasih.” balasnya sedikit ketus lalu keluar ruangan.

~k~

Sulli keluar dari restoran itu dan segera memerintahkan kusir keretanya untuk mengarah ke Lembah Dowstevy. Ia bersyukur hari ini Letitia menemani ibunya membeli kain, kalau tidak ia pasti sudah dicerca mati-matian oleh perempuan itu.

Hatinya agak kecewa untuk sesuatu yang memalukan. Ia ingin setidaknya si Soilaven menawarkan hubungan itu sekali lagi secara jelas. Tapi kenyataannya memang tidak terjadi apa-apa. Ya, tidak ada apa-apa untuk dirasakan hari ini kecuali rasa jengkel itu.

Rasanya ciuman pertama itu semakin menyakitkan. Kenapa Soilaven begitu dingin sekaligus memikat? Dasar pria memabukkan! Tidak tahu sopan santun tapi tetap saja menarik! Sial! Sial! Sial!

“Miss, sudah sampai,” ujar Jack membuka pintu. “Musim semi di Lembah Downstevy memang yang terindah. Semoga Anda mendapat kesegaran, Miss Mareviere.”

“Terima kasih, Jack. Kau tunggu di sini.”

“Ya, Miss.”

Sulli menyusuri jalan setapak yang menuju ke tengah-tengah lembah. Di sekeliling jalan setapak itu ditumbuhi dandelion dan beberapa daisy serta azalea yang sepertinya dibiarkan tumbuh secara acak.

Terasa semilir angin datang ke arahnya. Rambutnya menari kecil menyambut hembusan angin-angin liar yang datang dari sisi barat itu. Ia mendekat ke arah bangku kayu yang berjarak tiga meter di hadapannya. Ia duduk sambil sedikit merilekskan tubuhnya.

Ia menyukai Dio Soilaven. Sangat menyukai malah setelah beberapa saat ini. Tapi bagaimana ya? Mungkinkah? Sepertinya ia harus menyerah dan mulai memikirkan pernikahan seperti kata Letitia. Dio Soilaven seperti foto perspektif untuknya. Kadang-kadang bisa diraihnya dalam jarak yang jauh, tapi juga bisa terlalu besar untuk dirinya yang kelihatan kecil.

Tidak ada salahnya menikah. Toh sampai mati ia tidak bisa membuat pria itu memeluknya hangat dengan segenap kebesarannya bak pria-pria hebat di luar sana.

Hm… Mengapa tidak bisa? Ada rahasia apa di masa lalu bangsa Thelmarines hingga memisahkan kesatuan yang sejenis? Apa benar sudah dipisah-pisahkan sesuai ketentuan Aslan? Lalu kalau tak bisa bersatu kenapa diciptakan di bawah langit yang sama? Dan ada yang saling mencin─ah tidak, ini cinta sepihak.

“Sepertinya kau menyukai tempat ini,” ucap seorang pria yang membuat Sulli langsung mencari letak suaranya. Oh, dia di sebelahnya dan tanpa pergerakan. Dio Soilaven.

“Oh, kau mengejarku, Sir? Baru merasa berharga sekarang?” balas Sulli ketus, terbawa suasana hati. Ia sekarang berdiri dan menatap Dio Soilaven yang juga ikut berdiri berhadapan dengannya.

“Aku memang tidak melewatkan apapun, Miss. Hanya menunggu waktu yang tepat, kurasa alasan itu sudah cukup untuk menghibur hatimu?” Dio membalas kata-kata Sulli dengan masih kelihatan jual mahal. Padahal kalau jantungnya dibuka, pasti isinya juga berupa kekhawatiran, rasa cinta yang tertahankan, dan keinginan untuk memiliki seseorang. Ya, kan?

“Sok tahu sekali! Memangnya kau punya? Bukankah anggota tubuhmu berisi kabel-kabel yang saling terhubung untuk sinkronisasi ilmu alam?”

“Kuberitahu kau satu hal,” ucap Dio sambil menggenggam salah satu tangan Sulli. “Dengarkan baik-baik.”

“Apa yang akan kau beritahukan padaku? Kata-kata konyol yang mengandung bis─”

Apa itu? Sebuah ciuman yang tepat jatuh di bibir Sulli? Dari Dio? Bercanda!

“Sepertinya bibir Anda lebih peka dari anggota tubuh apapun yang anda miliki, Miss Mareviere.”

“Oh…” Oh? Kata-kata apa itu? Sulli, kau di mana? Kenapa hanya tersisa tubuh tanpa jiwa yang sekarang terlihat sangat-sangat memalukan di hadapan Dio Soilaven?

“Dengarkan baik-baik,” ulang Dio sekali lagi. Sekarang wajahnya sudah terlihat serius dan siap menuturkan sebuah dongeng peghantar pertemuan pagi untuk selir-selir kerajaan.

“Apa aku terlihat mudah sekarang? Menyenangkankah bisa bermain hati denganku? Apa aku sudah terlihat lucu dari tempatmu berdiri?” tanya Sulli dengan suara cukup pelan namun tenang. Sepertinya gadis muda itu sudah mengetahui bagaimana ia seharusnya bersikap. Ia tampak yakin, tanpa keraguan, menatap mata Dio Soilaven yang sedingin es itu dengan kemarahan yang mengkilat. “Apa masih kurang puas sekarang sampai belum melepaskan tanganku?”

“Marahlah,” ucap Dio santai. “Aku juga kasihan padamu kalau terus-terusan berharap padaku.”

“Apa?” ucap Sulli tak percaya dengan kata-kata pria itu. Berharap? Aku? “Lepaskan tanganku!”

“Lepas!” bentak Sulli karena Dio tak juga melepaskan tangan mungil itu. “Kubilang lepas sekarang! Lepas!”

Sulli berusaha melepaskan tangan yang digenggam Dio dengan salah satu tangannya. Tapi, bagaimana ini? Ia masih saja tak bisa melepaskannya. Genggaman yang tak menyakitkan tapi terasa kuat ini membuatnya frustasi. Ia masih berusaha menarik-narik tangannya ketika tiba-tiba tangan itu menariknya ke dimensi yang membuatnya menahan napas.

Seketika posisinya sudah berciuman. Lembut. Kali ini ia merasa bibir Dio bergerak di permukaan bibirnya. Ada sebuah sensasi di sini, tidak seperti ciuman-ciuman yang sebelumnya. Dan kali ini Sulli luluh lantah di hadapan Dio Soilaven karena hal yang sama.

Dio mengakhiri ciuman berdurasi dua puluh enam detik itu dengan indah. Sekarang, tubuhnya sedang memeluk Sulli. “Aku merindukanmu sampai seluruh dadaku terasa sesak…”

“… kuharap alasan itu cukup untuk menyembuhkan kemarahan hatimu,” tambahnya saat ia tak menemukan respon Sulli selama beberapa menit.

~k~

Sulli kembali ke Flevare House setelah mengambil baju yang akan digunakan untuk pesta Pangeran Kai yang diadakan dua hari lagi. Hari ini ia sudah siap menyambut Kris yang pulang dari Doverone Palace setelah bertemu dengan Raja Demian IV. Ah, bagaimana kakak kesayangannya itu sekarang? Sudah tidak bertemu tiga tahun, berarti usianya sekarang dua puluh delapan tahun, seumuran dengan… Dio.

Dio Soilaven… sudah satu bulan sejak pertemuan gantung itu, Sulli masih belum mendapat penjelasan bagaimana lanjutan kisah mereka. Terakhir bertemu di hari Rabu, mereka hanya saling melepas senyum tanpa kode pertemuan di suatu tempat. Entahlah… ia juga tak ingin memaksa Soilaven untuk mengajak bertemu. Tidak mungkin juga kan ia memberikan seluruh harga dirinya pada Dio dengan mengajaknya bertemu lebih dulu?

“Miss, ada kartu ucapan untukmu,” ucap Baret, kepala pekerja rumah tangga di Flevare House. Sulli menoleh dan mengucapkan terima kasih pada pelayan itu saat menerimanya. Ia membuka amplopnya dan membacanya.

   Sulli Mareviere, nama yang seindah hati pemiliknya. Terima kasih telah mengenal Baekhyun dan membawanya menjemputku. Oh ya, mungkin kau belum mengenalku. Aku Tiffany, perempuan beruntung yang menerima pertolongan pelayanmu. Terima kasih sekali lagi. Bisakah kita bertemu di Rown Manor jam satu siang Senin depan? Aku menunggumu.

Tiffany Reindfelt

Rown Manor? Senin? Jam satu siang? Dio…

“Miss, Mister Kris sudah datang,” ucap seorang pelayan yang mengabarkan berita itu dibalik pintu kamarnya.

Ia bergegas keluar dan mengabaikan teka-teki itu.

Di sana. Di ruang tamu yang biasanya selalu sepi, berjajar rapi para pelayan dan keluarga inti menyambut kedangatan Kris. Sulli tanpa kesopanan seorang bangsawan langsung berlari memeluk Kris dan mengungkapkan betapa rindunya ia pada pria itu.

Dan saat itu ia baru menyadari ada seorang wanita yang datang bersama Kris. Siapa dia? Istri Kris? Pernikahan di bawah tangan sudah dilakukan tanpa diketahuinya? Oh tidak, perkebunan itu berarti… giliranku.

Mata Sulli kini menatap perempuan itu. Wajahnya sudah menunjukkan keingintahuan tentang siapa gadis itu.

“Dia istri Kris, Sayang. Baik kau atau ibumu tidak ada yang kuberitahu supaya nantinya kalian dapat saling mengenal di lingkungan yang sesuai.”

“Ah,” ucap Sulli paham. Apa bukan dari keluarga Duke? Oh, tidak. Sepertinya malah bukan dari keluarga bangsawan kalau ditemukan kata ‘lingkungan yang sesuai’.

“Perkenalkan, namaku Victoria Crown─” Ia lupa. Seharusnya mulai dua minggu lalu ia sudah menggunakan Mareviere sebagai nama belakangnya. Dan sepertinya sang Duchess tidak menyukai kesalahan itu. “Mareviere,” lanjutnya dengan senyum kaku dan sedikit takut.

“Victoria putri Max Crownwell. Kau tahu kan, Sulli?” tanya Kris memecah keadaan yang sebelumnya terasa kikuk.

“Ya, siapa yang tidak tahu Prime Minister Max? Kakak ipar, kau mau berjalan-jalan di kebun bunga Flevare House?” tawar Sulli kepada Victoria. “Duchess sangat menyukai bunga, kurasa kau juga begitu bukan?”

“Aku tidak akan menerimanya sebelum pesta pernikahan dilangsungkan,” ucap sang Duchess kemudian meninggalkan keramaian ruangan ini.

“Tidak usah takut. Ikut saja denganku. Semuanya akan baik-baik saja kalau suamimu Kris Mareviere.” ucapnya untuk menghibur hati Victoria. Ia membawa Victoria menuju kebun belakang keluarga Mareviere.

Well, ini terlalu luas untuk dibilang rumah, semua orang tahu keluarga bangsawan tinggal di dalam manor, tapi tidak semua bangsawan menyebut tempat tinggal mereka manor. Kalau Rown Manor, itu pengecualian tanpa alasan. Entahlah bagaimana mereka membuat restoran dengan konsep manor yang memang kelihatan seperti manor dengan wilayah yang luas dilengkapi arena balap kuda di belakang restoran.

Flevare House terbagi menjadi lima wilayah. Bagian selatan sampai pintu pagar depan untuk kebun bunga, taman, kolam ikan, dan air mancur, yang hak miliknya menjadi sepenuhnya milik Duchess. Di depan air mancur terdapat rumah inti. Arah barat rumah inti terdapat rumah yang lebih kecil dilengkapi dengan gazebo dan peralatan lain, biasanya untuk para tamu yang menginap. Di samping kanan agak ke depan terdapat istal dan kamar para pelayan. Di sebelahnya lagi terdapat gudang sandang pangan untuk persedian desa yang menjadi tanggung jawab Duke of Rovaldine.

“Taman bunga milik Rovaldine memang yang terindah,” ucap Victoria sambil mengagumi keindahannya. “Ngomong-ngomong bagaimana kau tahu aku menyukai bunga-bunga?”

“Kalau kau tidak menyukai bunga, namamu akan tercoret dari awal. Ayahku sedikit pemilih tentang wanita. Kakakku juga.”

“Kenapa begitu? Maksudku tentang wanita yang menyukai bunga─apakah diharuskan?”

“Kau tidak tahu kalau bunga-bunga Rovaldine dikirim ke istana untuk menghias kamar putri kerajaan saat mereka berulang tahun di musim semi?” tanya Sulli sambil terus berjalan menuju kolam ikan di ujung sana. “Sepertinya kau tidak bergaul dengan para bangsawan, benar begitu?”

Victoria mengangguk. Ia tidak punya teman bangsawan, ia lebih dekat dengan sejenisnya, orang biasa yang keluarganya punya kedudukan di House of Commons. Ia juga tidak mengerti kenapa ia bisa terpilih tanpa pilihan untuk dinikahkan dengan seorang bangsawan. Tanpa pernikahan pula.

Ia menikah dua minggu lalu dan baru hari ini bertemu dengan suaminya untuk diajak ke Doverone Palace menghadap raja. Pengalaman yang mengerikan sekaligus mendebarkan. Ia tidak pernah melihat seorang Kris Mareviere sebelumnya. Dan untung saja, Kris Mareviere sosok yang menarik yang pantas disandingkan dengan Victoria Crownwell─The Most Wanted Wives.

“Ya, aku juga baru pertama kali bertemu dengan Kris hari ini. Selebihnya aku hanya tahu nama tanpa tubuh.”

“Oh, Vic. Kuharap kalian saling mencintai nanti malam.”

Victoria Mareviere memiliki pipi yang mudah memerah rupanya. Lihatlah, sepertinya ia mulai menyadari tentang sesuatu yang mungkin terjadi nanti malam.

“Oh, Miss. Kau mendapatkan seorang tamu.” ucap Baret dengan nafas tak teratur.

“Siapa?”

“Itu… sepertinya dari keluarga ilmuwan,” ucap Baret tak yakin. Ia yakin teman-teman Sulli hanya dari keluarga Duke dan sedikit keluarga Earl.

“Hah?” ucap Sulli kaget. “Apa Duke mengetahuinya?”

“Tidak,” balasnya. “Duke sudah pergi ke House of Lords,”

“Vic, aku harus segera menemui tamuku. Jadi, nikmatilah waktumu,”

Sulli meninggalkan Victoria tanpa menunggu responnya. Siapa yang berani datang ke sini tanpa membuat janji? Oh, mungkinkah ini si Dio Soilaven? Tidak! Jangan!

Dan saat Sulli berada di ruang tamunya, ia benar-benar tidak perlu merasa penasaran sekarang. Oh, apa ini sudah cukup untuk dibilang melegakan? Setidaknya, Sulli sudah tahu siapa yang sebenarnya duduk di situ dan berhenti membuatnya berdebar-debar.

*****

18 thoughts on “That Glazed Winter – Chapter 2

  1. Aaaaaaakkhhh..sumpah ini bikin frustasi..
    Kenapa moment mereka sedikit sekaleehh..
    Antusias banget nunggu fic nyaa..
    Ceritanya bakalan kayak romeo juliet kah??..#aku suka looh genre cerita yang kayak gini..
    Next nya jangan lama lama dong yaahh..

    • Lhoo kamu suka historical romance? Di gramedia banyak lhoo novel2 begituan tapi ya ada bumbu2 spicynya alias critanya saru. Penerbitnya biasanya dastan books (FYI biasanya cerita kayak gt cerita terjemahan).
      Haha pasti jengkel yaa udah nunggu lama lama eh dio sulli munculnya dikit *evil laugh
      Chap depan depannya lagi pasti udah fokus dio sulli kok😀

      • Haha..iya aku emang suka genre yang kayak gitu..tapi kalo buat novel lebih suka yang fantasi..
        Kayak percy jack ama harpot..
        Hihi..
        Siip..aku tunggu kelanjutanya

      • Aku juga! Harpot freakers deh hihi. Nanti kalo udah besar mungkin jadi suka haha
        Iya nih lagi diketik nyampe 2/9 hihi. Lagi semangat semangatnya

  2. Akhirnya update juga setelah aku menunggu
    Dio tunjukin dong sama sulli kalo kamu punya rasa sama dia jangan malah jadi nyebelin tapi dengan ciuman dan kata2nya di lembah cukup mewakili perasaanmu
    Yang kerumah itu dio kan?? Aduh gimana kalo ketahuan sama orang lain??
    Oke tetap semangat dan ditunggu next part secepatnya yah

    • Hello, makasih ya udah nunggu😀
      Aku sempet stuck sebelumnyaa, makanya lama dan kepentok regis PTN nih.
      Ah masaa? Berani taruhan kalo itu Dio? Hahaha *digampar

      • Lulus tahun ini bukan?
        Yakin ga yakin sih itu dio apa bukan hehehe
        Abisnya tuh anak bikin greget sih pengen dibawa pulang aja kerumah *ngarep😀

      • Iyaaa. Aku lulus tahun ini. Lhoo jangan jangan kamu juga?
        Iyaaa dibawa aja ke rumah aja, terus nanti tu rumah bakal hancur gegara fansnya dio deh hihi😀

  3. dio emang kaku ya jadi nggak semudah itu untuk menunjukkan perasaannya, tapi sekalinya udah jujur uhh~ romantis banget ih
    setelah nggak ketemu seminggu terus mereka saling melempar senyum, masa nggak ada gitu keinginan untuk saling bertemu
    next part soon

  4. Akhhh akhirnya keluar jga chpter 2nya
    Kereen, gemes sm si d.o, dia jga suka kan sma sulli kkk~
    Trus itu siapa yg dteng? D.o kah?
    Next chap ditunggu🙂

    • Lhoo? Kok? Hahaha
      Lha gimama ThaNiaa kalo jaraknya nggak segitu mereka gabisa nikah entar. Apa mau dibuat nggak berjodoh aja? Hihihi

  5. Aih penasaran banget sama kisah kasihnya sulli dio..
    Itu kris dateng dateng udah bawa istri ajja..
    Jadi penasaran juga sama ceritanya kris…
    Gag sabar nunggu next chapter
    Kalo yang dateng dio trus ketawan sama kris gmana yah???

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s