[FF Freelance] Too Late

gr

Judul                : Too Late

Author             : Hana Kim

Genre              : Romance, angst

Rating              : General

Lenght             : Vignette

Cast                  : Suho EXO, Kim Hana (oc)

Disclaimer : this fanfiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, don’t bash me.

Author note : akhirnya! Saya berhasil buat oneshoot yang pertama kalinya. Cukup melelahkan dan menguras otak. Hasil pemikiran selama 3 jam dan akhirnya kelar juga. Masih banyak typo bertebaran dan mohon di maklumi. Ohh ya, ini FF pernah saya publish di blog pribadi saya cheonsadream.blogspot.com dan FB saya. Jangan lupa RCL…Okey okey happy reading!!

##

 

 

Kulahap choco cake di hadapanku dengan cepat. Aku telah lama di kedai roti ini dan tanpa ku sadari melupakan janji bertemu dengan seseorang. Hahh, ku berulang kali menghela napas berat. Hatiku tak nyaman untuk menemuinya. Berat terasa di dada. Untuk melangkah saja aku enggan, namun akhirnya aku pergi menemuinya.

Setelah aku membayar dikasir, aku langsung berlari menuju tempat yang sudah di janjikan. Di taman kota, di bawah pohon sakura. Tempat di mana kami bertemu pertama kali. Ya~ orang yang akan kutemui adalah yeojachinguku, kim Hana. Dia adalah cinta pertamaku. Kali ini aku sedang tak ingin bertemu dengannya, tapi…

Kulihat siluet tubuhnya yang duduk di bangku panjang di bawah pohon sakura yang mulai bermekaran. Di tangannya selalu ada sebuah buku yang ia baca, sepertinya ia sudah lama menungguku. Ku dekati Hana dan berhenti tepat di depannya. Ku lihat wajahnya yang masih sibuk membaca, ia tak menyadari aku datang.

“kau menungguku sejak kapan?” Tegurku. Wajahnya terangkat lalu melihatku dengan mata hazelnya. Ia tersenyum sangat manis.

“eoh, oppa~. Aku baru saja datang. Kemarilah! Duduk denganku.” Ia berdiri dan mengajakku untuk duduk di sampingnya. Wajahnya terlihat berseri, ia sedang senang.

“jangan bohong, kau selalu tepati janjimu. Ini sudah 15 menit kau menungguku kan?” Ucapku padanya, ia hanya cekikikan mendengarnya. Ia selalu seperti itu dan merepotkan diri sendiri, hal yang tak kusukai darinya.

“oppa~, kau terlihat tak senang hari ini. Katakan padaku apa masalahnya.” Aku tersenyum kecut mendengar ucapannya. Ia pintar membaca situasi.

“Hana~ya…” Aku ragu untuk mengatakan hal yang benar-benar akan melukai hatinya. Mau apalagi, aku harus katakan sekarang.

“eoh.” Ia berantusias mendengar apa yang akan ku katakan. Oh tuhan!

“kita akhiri sekarang hubungan ini.” Kataku, raut mukanya berubah serius kemudian Hana tersenyum. Apa ia tak kaget?

“jinja? Apa itu keputusanmu oppa~? Kau sungguh memikirkannya?” Ia memberikanku beberapa pertanyaan. Gadis ini memang terlihat menyedihkan.

“ne.” Jawabku singkat. Hana mengangguk lemah dan tetap tersenyum.

“baiklah, sepertinya memang kita sudah tak cocok lagi.” Ungkapnya padaku. Hana sama sekali tidak menampakkan wajah sedihnya.

“hahh, padahal aku ingin sekali ke taman bermain denganmu kali ini. Tapi… Ini sudah berakhir.” Ucapnya, lalu berdiri memunggungiku. Taman bermain? Jadi…

“mianhae, aku…” Maaf? Astaga! Kata-kata apa ini? Aku tak pantas mengatakan maaf padanya. Aku yakin ia sakit hati.

“gwenchana oppa~, aku pergi dulu. Semoga kau sehat selalu.” Kata terakhir darinya, tanpa melihatku ia pergi. Berjalan menjauh dan semakin jauh. Kulihat pundaknya bergetar, ia menangis. Apa yang telah aku lakukan?

##

Alunan musik yang kudengar dari mp3player membuatku sedikit melupakan kejadian kemarin. Dimana aku begitu sadis dan tanpa perasaan membuat hati gadis yang pernah ku cintai. Rasa sesak saat itu masih terasa sampai sekarang. Ku tenggak lagi minuman gelas ke 4, ya~ aku setengah mabuk sekarang di apartemen. Mencoba menghilangkan bayangan Hana dari otakku. Apartemenku terlihat seperti gudang, banyak barang yang berserakan bukan pada tempatnya. Sisa-sisa gelas kopi tergeletak tak berdaya di dekatku. Ckkss, seperti yang dilihat aku frustasi. Senyuman Hana masih sangat jelas di mataku. Rambutnya yang panjang dan mata hazelnya yang cantik serta tatapannya yang sangat menyejukkan membuatku seperti orang bodoh sekarang. Aku benar-benar merasa menyesal. Menyesal telah menghancurkan rasa kasihnya padaku. Namun ini sudah terlanjur. Kesalahan fatal dan tak bisa dimaafkan.

Pip pip pip

Ponselku berdering sekali lagi. Ini sudah ke 10 kali ponselku berdering tapi tak satupun ku angkat. Kepalaku sudah terasa berat, sudah 5 gelas soju yang kuminum dan tetap saja bayangan Hana tak bisa hilang. Ini menyedihkan.

“hah! Namja memang seperti ini. Mudah bosan.” Kataku dalam hati. Mengisyaratkan bahwa aku benar-benar jahat. Kupandangi bingkai foto yang telah rusak ku hancurkan. Di dalamnya ada sepasang kekasih yang tersenyum bahagia. Senyum keduanya sangat melegakan namun bukan untuk saat ini.

##

Aku hanya memandangi choco cake di depanku. Tak memakannya sesendok pun. Aku kembali ke kedai roti yang kudatangi kemarin. Memesan menu yang sama. Aku terdiam sendirian di pojok kedai ini. Menatap kosong kue lezat di depanku. Aku sangat ingin memakannya tapi tangan ini terasa kaku untuk menghancurkan kue itu. Mungkin pelanggan serta pelayan di tempat ini heran melihatku atau mungkin mereka menganggapku orang gila. Aku ingat benar pertama kali aku masuk ke dalam kedai ini dan memakan choco cake.

*flashback

“oppa~, kau mau pesan apa? Kudengar kue-kue di sini terkenal lezat. Apalagi olahan coklatnya. Eumm…” Gadis di depanku ini sibuk membolak-balikkan buku menu di tangannya. Ia terlihat antusias dengan namanya coklat. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku menyukainya, menyukai caranya berbicara dan bersikap padaku.

“aku ingin choco cake, oppa ingin pesan apa? Biar aku pesankan di kasir sekaligus.” Ucapnya. Suaranya yang lembut sangat menentramkan hatiku. Entah apa yang membuatku jatuh cinta padanya.

“aku sama denganmu.” Jawabku.

“oppa~, kau tau mengapa aku sangat suka coklat?” Tanyanya padaku.

“molla.” Jawabku singkat, aku tak pernah menannyakan hal seperti itu padanya. Bibirnya mengerucut, ia kesal dengan jawabanku. Aku geli melihatnya.

“karena, coklat memiliki rasa yang kusuka. Ada rasa manis, seperti manisnya hidup ini. Namun kau juga akan dapatkan kepahitan di akhirnya. Hah, coklat adalah kepahitan di dalam manisnya kehidupan.” Jelasnya, aku hanya mengangguk mengerti. Satu poin baik untuknya, ia adalah gadis dewasa.

Kami makan kue yang sama untuk pertama kalinya. Pertama kali kencan dan memakan choco cake yang lezat. Menikmati awal yang indah dan entah kapan kebahagian ini akan berakhir.

*flashback end

Aku tersenyum miris mengingatnya. Ku putuskan untuk memakannya walau hanya sesendok. Eoh, ini memang menyedihkan. Aku mulai kecanduan oleh makanan ini. Sekali suap aku tak bisa berhenti.

##

Sebulan sudah aku sendiri tanpa Hana di sampingku. Aku berjalan pelan di antara pohon-pohon sakura yang berdiri kokoh. Menatap kosong jalanan yang tertutupi oleh kelopak sakura yang berguguran. Jalanan yang pernah kulalui dengan Hana. Kakiku berhenti di sebuah bangku panjang d bawah pohon sakura. Tempat ini lagi. Saksi bisu awal serta akhir aku bersama Hana. Selama ini aku masih memikirkannya, kadang aku sempat berpikiran untuk menghubunginya sesekali. Namun, aku terlalu gengsi dan bersikap pengecut. Hana, gadis yang membuatku gila walaupun aku sudah melepaskannya. Aku ingin sekali bertemu dengannya sekali saja.

“si bunga sakura sudah tak ada di sampingku lagi.”

hahh, padahal aku ingin sekali ke taman bermain denganmu kali ini. Tapi… Ini sudah berakhir.” Taman bermain? Astaga! Aku ingat sekarang. Aku pernah berjanji untuk menaiki bianglala bersama di taman bermain. Dan di hari itu aku malah menghancurkannya.

“suho oppa!” Kudengar seseorang memanggilku. Aku menoleh ke segala arah dan tak ada siapapun. Mungkin aku hanya berhalusinasi.

“suho oppa~!” Lagi-lagi suara itu memanggilku. Suara yang familiar. Ini suara Hana, yaa suara gadis itu. Aku tak menghiraukannnya, pasti bukan dia.

Pip pip pip pip

Ponselku berdering. Dari nomor tak di kenal.

“yeobseyo.”

“…”

“mwo!”

“…”

“ahh… Ne.”

Betapa terkejutnya aku setelah menjawab telpon barusan. Aku langsung berlari di tengah malam. Mengabaikan kantuk yang mulai menyerang. Seseorang menelponku dan memberitahukan bahwa Hana sedang kritis di rs seoul. Tanpa pikir panjang aku terus berlari dan berhenti di halte dan menyetop sebuah taksi. Bus terakhir sudah berlalu ketika aku masih jauh dari halte.

“tunggu aku Hana.”

##

Dengan langkah cepat ku langkahkan kaki ini menuju ruang icu. Di sana kudapati seorang laki-laki paruh baya dan seorang gadis kecil yang menangis di kursi. Itu ayah dan adik Hana.

“apa yang sebenarnya terjadi, ahjussi?” Tanyaku langsung. Tn. Kim hanya menggeleng. Ia tak bisa berkata apapun. Ia terlihat shock.

“eonni, dia sekarat. Ia menderita meningitis parah. Kata uisa ia tak bisa di tolong lagi. Hanya bisa menunggu sampai keajaiban turun. Oppa~ aku takut.” Jelas hayoung, adik Hana. Jadi… Hana selama ini menyembunyikan sakitnya padaku dan aku malah…

“oppa~, ini ada surat dari eonni. Kurasa ini penting.” Ucap hayoung sambil memberikan sebuah amplop biru yang di tujukan untukku.

Kubuka perlahan dan membacanya.

For : kim joon myeon

Oppa~, jal jinae? Ku rasa kau baik-baik saja. Apa kau tak merindukanku? Aku sangat merindukannmu. Namun apa dayaku, kita telah berakhir. Ahh, sekarang aku kesepian tanpamu. Hari-hariku terasa hampa, aku seakan tak bisa menatap cahaya pagi tanpamu. Aku selalu mencoba untuk menghubungimu dan nyatanya kau tak mengangkat telponku.

Sebenarnya, aku membutuhkanmu. Membutuhkan kehangatan senyum  dan pelukanmu, lalu itu hanya menjadi angan-anganku. Oppa~, hati ini mencoba untuk tegar menerima keputusanmu tapi tak bisa. Kau sangat berharga bagiku.

Beruntung sekali kau oppa~, kau tak perlu lagi memikirkan gadis sepertiku. Aku akan menjadi abu di lautan. Aku akan meninggalkan semuanya. Di hari itu, aku ingin sekali ke taman bermain, membuat kenangan manis untuk kukenang. Bahwa aku mempunyai kenangan terindah di dunia ini.

Oppa~ kau jaga kesehatanmu. Sekarang aku tak bisa lagi menemanimu ke kedai roti untuk makan kue bersama atau duduk berdua di bawah pohon sakura.

Saranghae!!!

Hana

Air mataku menetes, aku menangis. Menangis kecewa. Aku salah bertindak, aku malah membuatnya semakin menderita. Aku bahkan tak mengetahui isi hatinya yang terluka. Aku melangkah perlahan ke dalam kamar bercat putih yang di diami seorang gadis yang sedang sekarat. Wajah gadis itu pucat namun tetap memancarkan kecantikannya. Kim Hana, ia terbaring tak berdaya di ranjang kecil ini. Kugenggam tangannya yang lemas dan melihatnya tertidur dengan alat bantu kehidupan di tubuhnya.

“Hana~ya, ireonayo! Aku disini untuk menjemputmu pulang. Bukalah matamu.” Aku seperti orang gila berbicara dengan orang yang sama sekali mungkin tak mendengarku. Ia sekarat akibat penyakitnya. Sekarang aku menyadari bagaimana ia menahan sakit yang ia derita dengan senyuman hangat yang selalu menghiasi bibirnya.

Hana tak bergeming dari tidurnya, ia tak bisa mendengarku.

“ireonayo! Kau dengar aku kan? Ku bilang bangun!” Aku memekik histeris, Hana tetap terdiam. Kuguncangkan tubuhnya, berusaha untuk membangunkannya.

“aku minta maaf. Seharusnya aku tak mengatakan hal bodoh itu. Aku benar-benar menyesal. Aku sangat mencintaimu, Hana~ya. Ku mohon bangunlah.”

Tiiiiiiittttttttttttt

Alat pendeteksi detak jantung berbunyi. Grafik detaknya berubah menjadi sebuah garis datar. Andwe!! Jangan tinggalkan aku Hana!.

Beberapa orang masuk kedalam ruangan. Mereka berbaju putih dan langsung memeriksa tubuh Hana. Seorang dari mereka menggeleng. Semua penunjang kehidupan mereka lepas dari tubuh Hana dan menutup wajahnya dengan selimut putih.

“relakan nak, ia sudah tenang dengan kehadiranmu.” Ucap salah seorang dari mereka. Aku mundur, kakiku seakan lemas tak bertulang. Aku terduduk di lantai dingin ini. Menatap gadis yang ku cintai terbaring kaku di sana. Tn. Kim tak menangis, ia terlihat tegar. Ia tak akan menangis di depan hayoun karena anak bungsunya ini sangat membutuhkan ketenangan. Hayoung menangis histeris sambil terus memanggil nama kakaknya. Namun nihil, semua telah berakhir. Hana sudah tiada. Aku tak kuasa menahan tangisku. Ini menyiksaku sungguh menyiksa. Tuhan! Inikah balasanmu. Kau mengambil seorang yang ku cintai begitu cepat. Apa ini karmamu?

##

Ku letakkan sebuket bunga mawar putih di pusara Hana. Aku sudah bisa menerimanya semua. Surat dari Hana membuatku semangat kembali setelah membacanya berulang kali. Aku tahu dia menulis surat itu dengan susah payah dalam kesakitan. Sesal? Hanya sesal di hati ini. Hana pergi begitu saja tanpa persetujuanku.

“Hana~ya, semoga kau sehat dan tenang di sana. Kau akan selalu di hatiku, saranghae.” Sebuah ungkapan cinta yang terlambat. Aku terlambat menyadari kau begitu berharga bagiku. Aku tak akan melupakanmu, Hana. Selamat tinggal.

 

End

 

 

Advertisements

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s