[Chapter 11] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: AU, Romance || Length: Chapter 11/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2014 by Shinyoung.

Chapter 11 — Date or Not? Pt. 2

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10

*

Sebelumnya: Naeun mengantarkan Myungsoo ke makam kedua orang tua Myungsoo yang berada di perbukitan kota Incheon. Bomi yang mengejek mereka berdua karena terlihati serasi harus terdiam di rumah berdua dengan Jaehyun untuk merancang transportasi mereka.

Ibu dari Jung Krystal yang bisa menghipnotis suaminya membuat suaminya berubah drastis. Tentu saja, Krystal terheran-heran melihat adegan itu. Myungsoo dan Naeun pergi ke kafe seteleah mereka pulang dari makam kedua orang tuanya. Bahkan, Myungsoo membuat adegan memalukan, ditambah dengan kata-kata terakhirnya yang membuat Naeun bingung setengah mati.

*

Naeun terdiam sejenak dan memberingsut. Ia menaikkan bola matanya ke atas sambil berpikir sejenak mencoba mencerna perkataan Myungsoo tadi. Perkataan Myungsoo tadi benar-benar membuatnya tidak mengerti. Atau memang program-nya tidak bekerja?

“Hei—.”

Naeun terlonjak ketika Myungsoo mencolek bahunya. Ia pun menghela nafas lega setelah tahu yang mencoleknya ternyata Myungsoo. Kini, mereka berdua sedang berada di depan toko baju yang sama sekali tidak menarik perhatian gadis itu. Ia justru menyibukkan dirinya dengan perkataan Myungsoo tadi.

“Naeun,” panggil Myungsoo mencoba menarik gadis itu keluar dari imajinasinya. “Ayolah. Aku membawamu kesini untuk membelikanmu pakaian dan kau justru berkhayal sendirian.”

Naeun mengerucutkan bibirnya sambil menggembungkan pipinya karena menyesal telah mengabaikan Myungsoo. Laki-laki di hadapannya itu tertawa pelan. “Maafkan aku. Aku masih memikirkan kata-kata terakhirmu tadi di mobil. Aku hanya—Um—Aku tidak mengerti.”

Laki-laki itu tersenyum tipis, kemudian mengacak pelan rambut gadis itu. “Lupakan saja soal itu. Aku tidak terlalu berharap kau memikirkannya lagi dan aku juga hanya asal berkata.” Naeun pun mengangguk lemah. “Nah, sekarang pilih bajunya lalu kita pergi lagi.”

“Serius?”

“Maksudmu serius itu apa?” Myungsoo menaikkan salah satu alisnya, lalu menurunkannya lagi. “Tentu saja aku serius membelikanmu baju-baju itu. Sejak kapan aku bermain-main denganmu, Son Naeun?”

“Bukan. Maksudku, kita akan pergi lagi setelah ini?” tanya Naeun.

Myungsoo mengangguk dan bergumam kecil menanggapi pertanyaan Naeun. “Ada apa?” tanyanya. “Kau tidak mau berjalan-jalan lagi? Aku butuh melegakan pikiranku dan kau pasti menyesal jika kau tidak mau ikut setelah ini.”

Naeun membulatkan matanya. “Tentu saja aku mau. Ayo, sekarang kita berangkat dan aku tidak mau dengan baju-baju itu. Aku sudah memilikinya banyak.” Naeun menarik Myungsoo keluar dari toko baju tersebut. “Ayo—Ayo!”

Myungsoo pun tersenyum kecil dan mengikuti gadis itu dengan sedikit tertarik-tarik ketika Naeun menariknya dengan paksa. Setelah Myungsoo membuka pintu kunci mobilnya, mereka berdua masuk ke dalam mobil Myungsoo.

Keduanya memasang sabuk pengaman masing-masing. Setelah itu, Myungsoo segera melajukan mobilnya. “Cha. . . Kita akan pergi ke danau dimana biasanya aku bisa membersihkan pikiranku. Disana suasananya tenang.”

“Membersihkan pikiranmu?” tanya Naeun. “Kau punya banyak pikiran kotor?”

Jelas-jelas, Myungsoo langsung melotot ke arah Naeun dan berteriak, “ya! Tentu saja tidak!” Myungsoo kembali menatap jalan raya. “Bukan begitu, Son Naeun. Apa kau tidak pernah merasa pusing dengan kehidupanmu?”

“Pernah—Pernah tidak, ya?” Naeun berpikir sejenak. “Sepertinya pernah. Tapi, aku tidak berpikir untuk membersihkan otakku. Kau saja yang aneh dan pasti kau sering menonton film kotor.”

“Kau sinting?” tanya Myungsoo. “Tentu saja aku tidak pernah menonton film itu dan aku taat pada agamaku. Diamlah, Son Naeun. Aku jadi tidak berkonsentrasi karena kau membicarakan hal sensitif ini.”

“Maaf,” gumam Naeun. “Aku tidak bermaksud mengganggumu.”

“Maka itu, aku tidak pernah menonton film seperti itu. Apa lagi mencoba berpikiran macam-macam.” Myungsoo memutar kemudinya ke arah kanan dan membuat mobilnya ikut berbelok. “Percayalah padaku.”

Naeun tersenyum. “Tentu saja, aku percaya padamu. Jika aku tidak percaya padamu, aku tidak akan menceritakan keadaan diriku yang benar-benar membuatku malu. Apa aku bisa berubah menjadi manusia nanti?”

“Percayalah pada dirimu sendiri, setelah itu kau bisa percaya pada orang lain.” Myungsoo menginjak rem-nya secara perlahan. “Nah, kita sudah sampai. Ayo, turun dan kita bisa langsung ke sana.”

**

Jongin mengerutkan keningnya. “Jadi, sejak kejadian itu ayahmu berubah menjadi seperti itu?” Krystal hanya mengangguk. “Sungguh, aku masih tidak percaya soal itu, terutama soal ibumu.”

“Yah, percaya sajalah. Kau bisa lihat sendiri, Abeoji benar-benar berubah sekarang padaku dan dia benar-benar—wah—membagikan hartanya untukku.” Mata Krystal berbinar-binar. “Sepertinya ibuku benar-benar hebat.”

Jongin mendengus. “Aku berharap aku punya kekuatan seperti ibumu.” Ia memutar bola matanya. “Ngomong-ngomong, kamarmu kedap suara kan?”

“Tentu saja.”

“Jangan sampai ayahmu mendengar hal ini. Jika ia tahu, sungguh—aku tidak tahu harus apa.” Jongin memijit pelipisnya. “Bayangkan saja jika ia tahu soal ini, dia pasti kembali mencari tahu.”

“Aku berha—.”

“Diam dulu.” Jongin meletakkan telunjuknya di depan bibir Krystal. “Aku mendengar suara kaki seseorang menaiki tangga rumahmu,” bisiknya sepelan mungkin.

Krystal hanya mengangguk, lalu mengusir Jongin agar turun dari tempat tidurnya. Tentu saja, sejak saat itu ayahnya berubah menjadi baik kepada Jongin. Terutama, ketika tahu Jongin merupakan kekasih Krystal.

Ketika Jongin baru saja meletakkan bokongnya diatas sofa yang ada di kamar Krystal, pintu kamar Krystal diketuk. Krystal segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya.

“Oh, Eomma. Ada apa?” tanyanya.

Ibunya tersenyum tipis, lalu ia memberikan sebuah kartu kredit pada Krystal. “Ini untukmu dan aku harap kau bisa bersenang-senang mulai sekarang. Tapi, jangan terlalu boros.”

“Serius?” Krystal menatap kartu kredit tersebut dengan mata melebar. “Ini untukku?” tanyanya tidak percaya. Lalu, ia kembali menatap ibunya. “Sejujurnya aku tidak terlalu membutuhkannya.”

“Ambil saja,” kata ibunya. “Siapa tahu kau membutuhkannya.”

Krystal mengangguk pelan karena menyerah. “Baiklah. Ngomong-ngomong soal Abeo—.”

“Jangan bicarakan itu lagi. Setelah ini, kita harus melupakan soal itu dan anggap saja dia benar-benar seperti itu sejak awal.” Ibunya menatapnya tajam. “Aku harus pergi dengannya untuk meeting perusahannya. Dia mengajakku.”

Krystal mengangguk. “Yasudah. Hati-hati ya.”

“Dan kalian berdua.” Ibunya menunjuk Krystal dan Jongin dengan kedua jarinya secara bergantian. Ia menatap keduanya tajam. “Jangan bermacam-macam. Kalau sampai kalian bermacam-macam, kalian berdua menikah.”

“Menikah?” Jongin melebarkan matanya. Lalu, ia tersenyum jahil. “Kalau begitu, lebih baik aku melamarnya besok.”

Ibu Krsytal tersenyum tipis dan melangkah meninggalkan Krystal yang menatap ke arah Jongin kesal. Setelah itu, Krystal bisa mendengar suara pintu utama yang ditutup oleh pelayannya.

**

“Heol, untuk apa dia menelpon?” Myungsoo akhirnya menggeser layar ponselnya kemudian ia mendekatkan ponselnya ke arah telinganya. “Halo? Kenapa kau menelponku lagi?”

Aku hanya ingin memberitahumu satu hal. Ini kabar baik.”

“Apa?” tanya Myungsoo tegas. Matanya menatap Naeun yang tengah bermain di pinggir danau bersama seorang anak kecil laki-laki. Anak kecil tersebut menyipratkan air ke arah Naeun dan Naeun kembali membalas anak laki-laki tersebut. “Jangan menunda-nunda waktu.”

Krystal tertawa pelan disana. “Aku sedang serius, Kim Myungsoo.”

“Aku juga sedang serius, Jung Soojung. Cepat katakan kabar baik itu atau harus kututup sambungan telepon ini?”

Bawel sekali kau,” Krystal mencibir. “Tentunya kau pasti akan menyesal jika menutup teleponku secara sepihak. Aku hanya ingin memberitahu bahwa ayahku tidak akan pernah membunuhmu lagi.

“Cuma itu?” tanya Myungsoo sengit. “Baguslah, artinya dia berubah pikiran dan apa dendam yang dia punya?”

Krystal tertawa mengejek. “Tentu saja dia berubah pikiran karena ibuku. Soal itu, aku tidak perlu menceritakan bagaimana. Tapi, tentang dendam itu—aku pasti akan menceritakannya. Bukan disini. Nanti, aku kirimkan pesan.

“Rajin benar kau,” kata Myungsoo. “Kalau aku menjadi dirimu, tentu saja aku lebih memilih menceritakannya sekarang daripada mengetikkannya.”

“Aku memilih itu karena disini ada pacarku, bodoh.”

Myungsoo tertawa. “Aku lupa kalau kau sudah punya pacar. Cepat sekali. Bahkan sampai sekarang, aku masih belum mendapatkan kekasih.” Myungsoo tersenyum getir. “Cepat kirimkan pesannya.”

“Bukannya kau masih mencintai Bae Suzy?”

“Tau darimana kau soal itu?” tanya Myungsoo tajam. “Setahuku tidak ada yang tahu soal itu kecuali ayahku dan ibuku. Atau—.”

“Ya, benar. Tentu saja, ayah tiriku yang menceritakannya. Kau lupa? Mereka berada dalam satu foto yang sama.” Krystal memetikkan jarinya. “Artinya mereka tentu saling kenal bukan?”

Myungsoo mendengus. “Aku tidak peduli soal Bae Suzy. Tentu saja, aku sudah tidak mencintai perempuan sinting itu. Aku pasti akan mencari yang lain.”

“Huh, sudah ya.”

Setelah itu sambungan ponsel terputus bersamaan dengan Naeun yang tercebur masuk ke dalam danau karena tergelincir. Myungsoo berteriak dan ia segera berlari menghampiri gadis itu.

Myungsoo menarik gadis itu keluar dan untungnya gadis itu hanya terbatuk-batuk dan anak laki-laki disamping Myungsoo langsung menangis. Cepat-cepat, Naeun menyentuh Screvisible-nya dan membuat dirinya menjadi kembali sehat, tanpa ada yang melihatnya.

“Jongshin-a, berhentilah menangis,” kata Naeun pelan. Kemudian ia mencolek bahu anak laki-laki itu. Sedangkan Myungsoo menatap Naeun tidak percaya karena gadis itu sudah kering lagi. Ketika Jongshin menatap Naeun, gadis itu berkata, “lihat! Aku sudah kering dan aku tidak apa-apa. Berhentilah menangis.”

Huaaa. . .” Jongshin menangis lagi. “Aku pikir Nuna akan meninggal tadi! Maafkan aku Nuna! Seharusnya tadi kita lebih berhati-hati. Huaaa. . .”

Naeun mengelus kepala anak laki-laki itu. “Tidak apa-apa. Lihat, aku sekarang sudah sehat. Nah, dimana ibumu, Jongshin-a? Tadi kau kesini bersama ibumu bukan?”

Jongshin mengangguk pelan sambil sesenggukkan. Myungsoo akhirnya memutuskan untuk menarik anak laki-laki tersebut dalam pelukannya dan menggendongnya. “Ayo, dimana ibumu?” tanya Myungsoo.

“Kau siapa, ahjussi?

Naeun sontak langsung tertawa pelan. “Jongshin-a, dia bukan ahjussi! Dia seumuran denganku! Lihat, dia masih muda dan tentu saja panggil dia dengan hyung.”

Jongshin tertawa. “Maafkan aku, hyung.” Myungsoo mengangguk menyerah. “Kau siapanya Noona? Aku lihat kalian tadi datang berdua. Apa kau pacarnya?”

“Bukan,” tukas Naeun. “Aku bukan pacarnya. Kami hanya berteman.”

Sontak, Jongshin langsung cemberut. “Padahal, aku tadi berharap kalian adalah sepasang kekasih. Kalian tampak serasi padahal.”

Myungsoo tersenyum jahil. “Dia hanya menutupi hubungan kita, Jongshin-a. Kami sebenarnya adalah sepasang kekasih. Tapi, karena Naeun masih malu, jadi dia sering menutupinya.”

“YA!” Naeun mendesis sepelan mungkin ke arah Myungsoo. Tapi, Myungsoo justru mengabaikan gadis itu dan malah berbincang-bincang dengan Jongshin soal kedua orang tuanya.

Setelah bertemu dengan orang tuanya, Jongshin langsung pergi dan mengucapkan salam perpisahan pada Myungsoo dan Naeun. Kepergian Jongshin meninggalkan keheningan diantara mereka berdua.

Naeun pun menyikut rusuk laki-laki tersebut dan membuat Myungsoo meringis pelan sambil menggosok tempat dimana Naeun memberikan pembalasannya. Ia menatap Naeun kesal. “Kenapa, hah?”

“Aku—Bukan—Pacarmu!”

“Aku hanya membuatnya senang.”

“Tapi—.”

“Kau tidak bisa mengelak. Kenyataanya, tadi dia mendukung kita untuk berpacaran.” Myungsoo menarik Naeun ke dalam rangkulannya. “Kalau begitu, bagaimana jika kita berpura-pura pacaran saja?”

Semburat merah muncul di pipi Naeun. Ia pun mendorong Myungsoo agar menjauh, tapi Myungsoo ternyata lebih kuat daripada dirinya. “Diamlah. Lagipula, aku tidak suka punya pacar sepertimu. Bawel sekali.”

“Benarkah?” Myungsoo memutar otaknya untuk mencari-cari pembalasan yang tepat bagi Naeun. “Kalau begitu, aku bisa mengubahnya. Kalau itu hanya syaratnya, ayo kita berpacaran.”

“YA!”

“Aku lebih tua.”

“Sial.”

“Kau tidak boleh mengatakan sial pada pacarmu.”

Orang-orang disekitar mereka pun mulai berbisik-bisik membicarakan mereka karena melihat mereka yang begitu ribut dan juga tampak serasi. Banyak juga yang mencibir mereka.

“Diamlah.” Naeun mendengus. “Orang-orang tengah membicarakan kita. Ini semua karena kau dan kau bahkan tidak mendengar mereka?”

Myungsoo tersenyum dan menoleh ke arah orang-orang tersebut. “Biarkan saja mereka membicarakan kita. Mungkin, mereka iri melihat kita bersamaan; kau cantik dan aku tampan.”

“Ha—Ha.” Naeun tertawa renyah. “Bagian aku cantik, aku menyetujuinya. Tapi, bagian kau tampan. Huh, aku sama sekali tidak menyetujuinya.”

“Kau harus menyetujuinya.” Rangkulan Myungsoo pada Naeun semakin erat dan membuat kedua orang tersebut semakin kehilangan jarak. “Aku memang tampan, Son Naeun. Kalau aku tidak tampan, mungkin orang-orang tidak akan membicarakan kita berdua.”

“Oh, diamlah.”

“Aku akan diam selama kau mau menjadi pacarku.”

“Tidak.”

“Aku serius.”

Naeun memelototinya. “Kau lucu sekali. Yang benar saja kalau kau serius, aku benar-benar akan menendangmu agar menjauh dariku.”

Myungsoo terkekeh pelan. “Tentu saja aku hanya bercanda.” Ia melepaskan rangkulannya dan membuat gadis itu sedikit merasa menyesal. Myungsoo mengacak rambut gadis itu. “Ayo, kita pulang. Sudah jam 5 sore. Bomi dan Jaehyun pasti mempertanyakan kita berdua.”

**

“YAH!”

Bomi berteriak tanpa puas ke arah Myungsoo dan Naeun yang baru saja pulang. Sedangkan yang diteriaki hanya menutup kuping mereka masing-masing sambil mulai melepas sepatu. Jaehyun yang notabene tengah asik menonton televisi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kalian darimana saja sih?” tanya Bomi kesal. “Kalian tahu jam berapa ini? Jam 7 malam! Dan kau Son Naeun, kau seharusnya ingat bahwa kita masih harus memprogram pesawat kita! Kalau tidak tepat waktu, kita tidak akan bisa hidup. Nyawa kita ada di tangan kita, tahu?”

“Aku tahu itu~” ujar Naeun santai, lalu ia ikut duduk di samping Jaehyun dan mengganti-ganti saluran televisi dengan malas. Jaehyun yang awalnya menonton juga ikut melihat dengan malas. “Lagipula, aku sudah membantu beberapa. Benar kan, Jaehyun?”

“Yup,” jawab Jaehyun yang mendukung Naeun sepenuhnya. “Biarkan saja mereka Bomi. Seperti yang aku katakan sebelumnya, mereka sedang dalam masa pendekatan, itu saja.”

Naeun langsung menoleh ke arah Jaehyun. “YA! Apa maksudmu?”

“Begitulah.”

“Naeun,” panggil Myungsoo. “Mandi sana.”

Naeun langsung terdiam, kemudian ia hanya manggut-manggut tidak jelas. Diletakkan remote televisi tersebut ke arah Jaehyun dan melangkah menuju tangga untuk menuju kamarnya. Sepeninggalan Naeun, Bomi langsung menyemprot Myungsoo habis-habisan.

“Kan aku hanya mengajaknya berjalan-jalan sebentar—.”

“Sebentar katamu?!”

“Ya begitulah. Lagipula, dia terlihat sangat menikmati perjalanan ini,” kata Myungsoo mencoba membela diri. “Atau besok, gantian saja. Jaehyun yang mengajakmu keluar untuk jalan-jalan. Siapa tahu kau juga ketagihan.”

“Aku tidak mau,” jawab Jaehyun santai. Lalu, ia merebahkan dirinya diatas sofa dan mulai memainkan ponselnya. “Aku sangat tidak betah berjalan-jalan dengannya. Terutama dia yang sama sekali tidak tahu caranya menyetir.”

“Aku sudah memprogram diriku!” Bomi memprotes. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. “Memangnya selalu harus aku yang menyetir?”

Myungsoo melambaikan tangannya ke arah mereka yang artinya dia sama sekali tidak mau ikut campur. Sepeninggalan Myungsoo, Myungsoo masih bisa mendengar bahwa kedua robot itu terus bertengkar dan mencoba memenangi perdebatan tanpa habis itu. Ia hanya bisa mendesah berat lalu melangkah menuju kamarnya. Sebelum ia sempat masuk, ia melirik ke arah pintu kamar Naeun.

“Apa dia sudah mandi ya?” gumamnya sambil melangkah mendekati pintu kamar Naeun. Setelah itu ia menggelengkan kepalanya. “Kalau sudah juga, dia pasti sangat lelah dan langsung tidur.”

Tiba-tiba, pintu kamar Naeun pun terbuka dan Naeun berdiri di depan Myungsoo dengan wajah malas. Ia bersender pada kusen pintu kamarnya, sedangkan Myungsoo langsung gelagapan. “Ada apa, Kim Myungsoo?”

“Ti—Tidak! Aku hanya penasaran apa kau sudah selesai mandi atau belum.”

“Kalau sudah memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa—Sungguh!”

Naeun pun hanya menganggukkan kepalanya kemudian menutup kembali pintu kamarnya rapat-rapat. Myungsoo mengelus dadanya dan menghela nafas panjang setelahnya. “Gila, bagaimana bisa dia tahu.”

**

Naeun mengucek matanya sembari melipat selimut yang baru saja ia gunakan untuk tidur. Lalu, kakinya melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan sikat gigi. Ia menyambar handuk yang digantungkan lalu mandi. Setelah selesai mandi, ia segera mengenakan baju kasualnya.

Ia menuruni tangga dan ia bisa melihat Bomi yang sendirian di halaman belakang. Naeun memutuskan kembali ke kamarnya dan mengambil MacBook-nya. Kemarin ia sama sekali tidak membantu, maka hari ini ia seharusnya membantu mereka dan bukannya bersenang-senang.

“Uh—Itu kan salahnya Myungsoo,” gumamnya sambil melangkah menuju dapur. Ia melihat Jaehyun yang tengah sibuk memasak makanan. “Pagi, Jaehyun.”

Jaehyun menoleh sebentar ke arah Naeun dan tersenyum tipis. “Pagi juga, Naeun-ah. Bomi ada di halaman belakang dan bantulah dia dalam mengatur programnya. Um—“ Jaehyun mencicipi masakannya, lalu melanjutkan, “kalau kau mau program yang kemarin. Kau bisa ambil di MacBook milkku.”

Arasseo,” jawab Naeun. “Selamat memasak. Ngomong-ngomong, masak yang enak ya!” titah Naeun dan mendapatkan dengusan dari Jaehyun yang lalu tertawa. Naeun pun melangkah keluar dari pantry tersebut dan menuju halaman belakang. Ia menggeser pintu kaca tersebut dan meletakkan MacBook-nya di atas meja bundar yang diduduki Bomi.

Bomi mengangkat wajahnya dan tersenyum cerah. “Pagi, Naeun,” sapanya. “Tumben kau bangun pagi.”

Naeun hanya terkekeh pelan. “Bukan apa-apa, aku hanya ingin membantu kalian. Soal kemarin, maafkan aku dan Myungsoo. Kami hanya berjalan-jalan. Besok, kalau kau mau kita bisa jalan-jalan juga—kita berempat.”

“Ah.” Bomi tersenyum. “Tidak usah dipikirkan. Soal jalan-jalan itu, kita bisa melakukannya setelah kita menyelesaikan pesawat ini dan melawan Barvseu. Untungnya, kita sudah mengerjakan sekitar ¼ bagiannya.”

“Kalian cepat ya.”

“Begitulah.” Bomi mulai mengutak-ngatik program tersebut. Lalu, ia beralih pada Naeun sambil menyodorkan MacBook milik Jaehyun. “Kata Jaehyun, kau harus mengkopi program ini dan ambil power yang sudah dibuat oleh Jaehyun.”

Naeun mengangguk dan mulai mengkopi program tersebut ke dalam flashdisk milikknya, lalu ia memindahkannya ke dalam MacBook-nya. Dalam sekejap, program tersebut sudah ter-install di dalam MacBook Naeun. Jari-jarinya mulai mengetikkan sesuatu disana.

“Bomi, dimana kabel datamu?”

Bomi mengeluarkan sebuah kabel yang berukuran panjang tersebut dan meneyrahkannya pada Naeun. “Ini,” katanya. “Ngomong-ngomong, untuk apa? Kau mau memasukkan program baru?”

“Begitulah.”

“HAH?”

“Kenapa?”

Bomi menatapnya dalam-dalam. “Kau mengerjakannya dalam beberapa menit, Son Naeun!” pekiknya. “Itu sungguh tidak mungkin!”

“Mungkin saja,” kata Naeun santai sambil menyolokkan kabel data tersebut pada lengan Bomi yang disana ada sebuah input-nya. Lalu, ia menghubungkannya pada MacBook miliknya. Dalam sekejap, program yang baru saja dibuat oleh Naeun sudah masuk dalam terinstall pada Bomi.

Bomi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Program apa ini?”

“Distorsi, Delay, dan Harmonics.”

“Kau membuat ketiganya secara bersamaan?!”

“Itu mudah.” Naeun mengutak-ngatik MacBook-nya lagi dan mengkopi sebuah program pada tubuh Bomi. “Aku hanya perlu membuat satu program dan meng-upgrade program lainnya. Seperti sebuah HTML yang sebenarnya sama tapi beda. Maksudku, ketiganya memiliki HTML yang hampir sama tapi ada yang berbeda untuk membedakan ketiganya.”

“Aku tidak mengerti.” Bomi mengusap pelipisnya yang terasa pusing.

Naeun terkekeh pelan. “Itu bukan keahlianmu mungkin. Jika aku menjelaskan ini pada Jaehyun, mungkin dia sudah mengerti sejak awal. Dia—Dia terlalu pintar. Bahkan, program khusus yang ia berikan padamu itu sungguh keren.”

Banishment the World?”

“Yup.” Naeun menganggukkan kepalanya, lalu ia melepaskan kabel data yang terpasang pada lengan Bomi. “Itu keren. Dengan begitu, kita bisa bertarung dengan mudah.”

“Kau benar.”

**

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” tanya Myungsoo menghampiri Naeun yang sedang berdiri sendirian di dekat balkoon di atap. “Kau tidak kedinginan?”

Naeun menggeleng pelan. “Robot sepertiku tidak pernah merasa kedinginan—maksudku, aku bisa merasakan kedinginan. Tapi, itu hanya sedikit.” Naeun menyesap cokelatnya lalu menghela nafas panjang. “Kau sendiri?”

“Aku?”

“Ya, tentu saja. Siapa lagi.”

Myungsoo tertawa pelan menyadari kebodohannya. “Aku hanya mencari udara segar. Aku tidak bisa tidur jadi aku memutuskan kesini dan aku sedikit terkejut melihatmu sendirian.”

“Untuk apa terkejut?” tanya Naeun. Ia kembali menyesap cokelatnya, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di sekeliling cangkir cokelat panasnya. “Memangnya aku menyeramkan?”

“Kau—” Myungsoo menunjuk Naeun dari atas sampai bawah. “—menggunakan pakaian berwarna putih dan dari belakang rambutmu mencapai pinggang, karena itulah kau menyeramkan.”

Naeun terkekeh pelan. “Soal itu—“ Naeun terdiam sebentar mencoba memikirkan apa yang pas untuk menakut-nakuti Myungsoo. “—aku memang menyukai hal-hal yang berbau horor.”

Myungsoo melotot ke arahnya. “Kau benar-benar menyukai itu?” tanyanya dan Naeun hanya menanggguk pelan sambil tersenyum misterius. “Aku pikir kau tidak menyukai hal-hal itu.”

Naeun tertawa dan ia pun meletakkan cangkirnya di atas pijakan balkonnya. Lalu, ia menjatuhkan rambutnya ke depan wajahnya dan tertawa seram. Myungsoo yang melihatnya langsung menjerit ketakutan.

“Kau benar-benar takut?” tanya Naeun sambil mengembalikan rambutnya ke belakang dan menyisirnya menggunakan jari-jari tangan kanannya. “Aku pikir, kau tipe laki-laki pemberani soal seperti itu.”

Myungsoo mendesah berat dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Aku sangat tidak suka hal seperti itu. Terutama tadi—kau benar-benar. . .”

“Menyeramkan?” tanya Naeun dan Myungsoo pun mengangguk. “Itu bukan sesuatu yang harus kau takutkan. Seharusnya, kau takut saat melihat Barvseu.” Naeun mengambil kembali cangkirnya.

Obrolan hangat tersebut berlangsung hingga malam sampai-sampai Naeun tertidur di dekat balkon dan Myungso harus membawa gadis itu kembali ke kamarnya dengan tergopoh-gopoh. Walaupun begitu, Myungsoo merasa sedikit senang dengan kehadiran gadis itu—gadis setengah robot, maksudnya.

**

Naeun terbangun dengan mulut yang menguap lebar. Ia mengerjap-ngerjap mencari-cari ponselnya, lalu dengan mata yang masih mengantuk ia melirik ponselnya. Ponselnya menunjukkan pukul 7 pagi dan ia masih merasa ingin melanjutkan tidurnya.

“Tunggu—Tunggu. Seingatku kan—“

Naeun terdiam sebentar. Lalu, otaknya mulai bekerja mengingat-ingat apa tepatnya yng terjadi tadi malam. Seingatnya, ia masih berbicara dengan Myungsoo semalaman.

“—jangan-jangan, Myungsoo yang membawaku?”

Naeun mengeluh frustasi. Tangannya menggosok-gosok kepalanya sambil marah-marah pada dirinya sendiri karena membiarkan Myungsoo membawanya ke kamar. Seharusnya, ia tidak tertidur malam itu. Ia harus segera berterimakasih pada laki-laki itu.

Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan menyibakkan selimutnya. Setelah menyelesaikan aktifitasnya, ia melangkah keluar dari kamarnya. Tepat ketika ia membuka pintu kamarnya, Myungsoo juga membuka pintu kamarnya. Melihat itu, cepat-cepat Naeun langsung membungkuk ke arah Myungsoo.

Myungsoo tertawa.

“Ada apa?”

Naeun yang merasakan wajahnya memerah pun langsung berkata, “maafkan aku tadi malam! Aku tertidur.” Setelah berkata seperti itu, ia kembali bangkit dan mendapati wajah Myungsoo yang tampaknya biasa-biasa saja.

Laki-laki itu tertawa pelan. “Lupakan saja.”

“Uh—Maafkan aku.”

“Ayo, kau mau sarapan tidak?” tanya Myungsoo mengalihkan pembicaraan.

Naeun pun mengangguk, lalu keduanya menuruni tangga rumah. Melihat bahwa rupanya Bomi belum bangun, Myungsoo memutuskan untuk memasakkan makanan hari ini. Mengingat bahwa Bomi sering memasakkan sarapan untuk mereka.

Sedangkan itu, Naeun melangkah menuju halaman belakang dengan hati gembira. Ia tersenyum lebar ketika melihat Jaehyun yang sudah membuat kerangka pesawat mereka. Rupanya, laki-laki itu terlihat sangat serius.

Terlintas ide jahil di otak Naeun. Gadis itu pun melangkah melewati pintu geser yang dibiarkan terbuka dan mengangkat tangannya untuk besiap-siap mengerjai Jaehyun. Dengan langkah sepelan mungkin, ia mendekati Jaehyun.

“Son Naeun?”

“HAH?”

Jaehyun berbalik dan menatap ke arah Naeun malas. “Sedang apa kau dan aku tahu bahwa kau masuk tadi. Jadi, jangan coba-coba untuk mengejutkanku. Jika kau melakukan itu, aku bisa merusak pesawat ini.”

Naeun memutar bola matanya malas, ia pun berbalik badan dan mencoba melangkah masuk ke dalam laboratorium yang diciptakan Jaehyun itu. Ada banyak panel-panel yang tidak dimengerti Naeun, tapi yang pasti ada sebuah layar besar yang menunjukkan kerangka-kerangka dan bagian-bagian rinci dari pesawat itu.

Besi-besi hingga mur-mur yang bergeletak dimasukkan ke dalam dus yang sama. Naeun hanya menghela nafas panjang, lalu melangkah keluar lagi. Ia berdiri memperhatikan Jaehyun yang mulai memasang besi-besi besar pada pesawat tersebut.

“Apa kau tidak lelah?” tanya Naeun tatkala melipat kedua lengannya di depan dadanya. Ia mengetuk-ngetukkan sepatunya pada halaman berumput tersebut.

Jaehyun yang tengah sibuk itu hanya menggeleng. “Kau bantu aku dalam program saja, aku berharap kau bisa menyelesaikan bagian transformasi-nya. Aku tidak bisa, terutama Bomi.”

“Baiklah—Huh—Dimana?”

“Dimana apa?”

Jaehyun membalikkan badannya dan menatap Naeun bingung.

“MacBook.”

“Ah—Itu, ada di—kamarku kalau tidak salah. Masuk saja.” Jaehyun kemudian kembali berkutat dengan pesawatnya dan Naeun hanya mendengus, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

**

Naeun membuka handel pintu kamar Jaehyun yang rupanya sama sekali tidak dikunci. Jika seperti itu jadinya, artinya laki-laki tersebut tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Terlintas ide jahil di otak Naeun untuk mengobrak-ngabrik kamar Jaehyun yang super rapi itu. Ia sempat menoleh ke kanan-kirinya untuk memastikan bahwa Jaehyun tidak memasang kamera pengintai—atau, sebenarnya dia sudah memasang kamera pengintai invisible.

Dalam hatinya, Naeun tertawa sendiri dan cekikikan karena hal itu tidak mungkin. Berhubung kalau kamera pengintai itu benar-benar dipasang, sudah seharusnya terhubung dengan MacBook milik Jaehyun yang notabene tertinggal di kamarnya. Gadis itu sampai menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat kerapian kamar Jaehyun yang melebihi kamarnya. Bahkan, di kamar laki-laki itu tidak ada satupun yang tergeletak seperti milik Naeun—maksudnya, celana dalamnya.

Sial, dia mengumpat dalam hatinya.

Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa bersikap lebih rapi dari seorang pria yang bahkan sebenarnya tampangnya ingin ia injak. Naeun tidak bisa menyembunyikannya karena saat pertama kali ia bertemu dengan Jaehyun, ia ingin sekali menginjak wajah super tengil itu. Apalagi saat melihat sikap Jaehyun yang terlalu—atau sok—baik itu terhadap Sajangnim.

Sambil mengubek-ngubek kamar Jaehyun—maksudnya, tentu saja setelah ia mengambil barang yang diambilnya, ia segera mengembalikannya, takut yang empu marah—dengan puas, ia sama sekali tidak menemukan MacBook yang dimaksud oleh Jaehyun. Ia berkacak pinggang sambil memikirkan dimana tepatnya barang tersebut. Karena barang itu berharga, mungkin saja Jaehyun menyimpannya di sudut mana yang tak bisa ditemukan orang lain.

Naeun menghela nafas panjang, lalu ia mengedarkan pandangannya dan lagi-lagi ia menemukan sebuah tas yang patut ia curigai—sebenarnya tidak terlalu aneh. Ia langsung melengos ke arah tas hitam yang lebih mirip seperti tas gunung itu. Ia membukanya dan benar saja, Jaehyun meletakkan MacBook-nya disana. Setelah dengan yakin bahwa ia tidak menimbulkan kekacauan, ia pun melangkah keluar.

Namun, sebuah ide jahat terlintas di otaknya.

Belum sempat ia melakukan ide jahat tersebut, seseorang justru berdiri di depan pintu kamar Jaehyun dan membuat jantung Naeun berdebar-debar karena seseorang itu masih berambut basah dengan handuk yang menempel pada bahunya. Seseorang itu menyipitkan matanya sambil mencoba menerka-nerka apa yang dilakukan Naeun disana.

“Jangan disini, Kim Myungsoo,” desis Naeun. Gadis itu membalikkan badannya, lalu mulai mengobrak-ngabrik dimana tempat Jaehyun menyimpan barang berharganya. Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah laci kecil yang rupanya bisa ia jadikan sasaran empuk.

Myungsoo mendengus. “Kau sendiri sedang apa?” tanya Myungsoo tak kalah jutek. “Di kamar laki-laki lagi.” Myungsoo seolah-olah menekankan kata laki-laki tersebut pada Naeun, namun Naeun tidak menggubrisnya.

Gadis itu justru menemukan sebuah tumpukan celana dalam bersih berwarna-warni dan Naeun langsung tertawa jahat. Cepat-cepat ia menyambar tumpukan itu dan membuat Myungsoo langsung melotot ke arah Naeun seolah tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu. Ia bahkan tidak sempat berkata apa-apa ketika Naeun mulai menyusun jalan berkelok-kelok menggunakan celana dalam tersebut.

Salah sendiri dia membiarkanku masuk, pikir Naeun.

Tak sempat ia meletakkan benda berharga milik Jaehyun yang terakhir itu di dekat tangga, Bomi sudah memekik. Namun, pekikannya berubah menjadi ledakan tawa yang luar biasa saat melihat sebuah alur jalan celana dalam berwarna-warni yang berasal dari anak tangga di lantai dua sampai di depan pintu kamar Jaehyun.

“Astaga,” ujar Bomi sambil tak bisa menahan tawanya lagi.

Maka, setelah itu tawanya pun meledak lagi dan Naeun langsung cekikikan. Sedangkan, Myungsoo yang tidak bisa melakukan apapun hanya geleng-geleng kepala. Dari kejadian ini, dia mendapatkan suatu pelajaran: Jangan pernah mengizinkan Son Naeun untuk masuk ke dalam kamarnya.

*

*

*

to be continue

 

A/n: Haiiii! Nah. Makasih banyak yang udah comment, likefeedback, give rate, dan read! Terakhir, aku gak mau basa-basi lagi. Intinya aku udah ngubah cerita ini jadi aku bakalan bikin sampe sekitar part 16 aja mungkin ya? Soal ending-nya aku udah pikirin matang-matang dan aku udah yakin kalau itu ending-nya. HEHE. Makasih banyaaaak♥

Advertisements

25 thoughts on “[Chapter 11] 2050

  1. naeun bener2 evil…smpai aku ketawa nggak jelas..aku hrap next chapter myungsoo dan naeun mulai jatuh cinta wlaupun mungkin mustahil untk naeun…

  2. Yeww.. Udh update /tebarr coklat/ /idupin petasan/ hohoho.. Critanya mkiinn bkin pnsaran, jdii gmna sma myungeun, kwkwk.. Pngen adaa skinskip myungeun ehh,, kloo myungsoo cium naeun gmna reaksii naeun kwkwkw.. Ayoo thorr d lnjutt d lnjutt (ง’̀⌣’́)ง fighting ^^

  3. keren thor next part jangan lama lama thor
    mau nanya thor bomi atau jaehyun gak ada kaya suka sama siapa gitu?

  4. waaaah… maikn menarik aja ceritanya.. haha Naeun jail bangeeeet siiih …
    ayo thor gimana sama nasibnya Myungeun ?? hehe
    dilanjut pasrt 12 thor. .

    • makasihhh udah baca<3 wehehehe. iya dong kalau gak jail gak bakalan seru muehehehe. nasibnya myungeun? hint nya aku kasih nanti pas chap 12. kekeke. sip!

  5. Wah Myungsoo Naeun Makin romantis aja :-* . Naeun Cuek Banget orangnya . . Tpi Tetap keren (y) . Ditnggu Next Chapternya ^^

    • WEHEHEHE><Naeun juga aslinya iseng kok. Kayak waktu di Apink News season 2, dia nyembunyiin makanannya anak-anak apink. Terus yang disalahin Hayoung, padahal dia sendiri. Mana, dia ketawa horor gitu/?
      Muahahaha, buat scene sweet-nya sorry ya belum begitu sweet karena mereka kan masih dalam tahap dag-dig-dug. Lol.
      Makasih banyaaaak udah nunggu hehe<3

    • Wehehehehe. Gapapa kok, makasih banyak udah baca dan udah nyempetin waktu buat ngebut baca cerita ini, aku masih amatiran bikin ff AU ehehehehe.
      Salam kenaaaal juga<3 wehehehe.

  6. Baru baca lagi setelah pending satu bulan lebih 😀
    Di blog kamu kok ga ketemu ya? Aku buka library-nya tapi kosong

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s