[FF Freelance] Our Little Promise – Hi! (Chapter 5)

ourlittlepromise-redrose

Title                 :           Our Little Promise : Hi!

Author            :           Red Rose

Length             :           Chaptered

Rating              :           PG-15

Genre               :           Romance, Angst, Hurt

Main Cast       :           Jung Soo Jung & Kim Jong In

Other Cast      :           Jung Soo Yeon, Song Qian, & Choi Jin Ri

Previous          :          Chapter 1Chapter 2Chapter 3, Chapter 4,

Credit Poster   :          Lee Yong Mi @allthingsiwannapost.wordpress.com

Disclaimer      :           The story is mine. Read it and give me some advice about my story.

 

 

 

 

“Jong In-ssi, ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu.”

Jong In yang saat itu ingin sekali cepat-cepat pulang dan merebahkan tubuhnya diatas kasurnya yang lembut harus sedikit diuji kesabarannya ketika mendengar namanya dipanggil.

Tidak tahukan orang itu seberapa lelah dirinya saat ini? Tentu saja orang itu tidak tahu, Kim Jong In. Kalaupun orang itu tahu, apa peduli dia pada dirimu?

Jong In membalikkan tubuhnya dan menemukan sosok yang tidak asing lagi bagi dirinya. Jong In mendesah pelan agar suaranya tidak terdengar oleh sosok itu. Kalau yang menghampirinya adalah orang lain-bukan seseorang yang sedang berada beberapa meter didepannya-Jong In akan membalikkan lagi tubuhnya dan melenggang pergi.

Jong In tidak peduli jika orang itu akan berteriak-terika sekuat tenaga-sampai suara mereka hilang-Jong In tidak akan menoleh lagi. Terdengar kejam dan keterlaluan memang. Tapi itulah sosok dari seorang Kim Jong In sekarang.

Jong In bisa mendengar dengan jelas suara gesekan antara alas kaki orang itu dan aspal yang kini sedang dia pijak. Dan suara itu semakin terdengar lebih keras dari sebelumnya sampai Jong In merasakan bayangan orang itu berada didepan matanya.

Berusaha untuk menyembunyikan rasa lelahnya, Jong In mencoba untuk tersenyum-tanpa terlihat dipaksakan. Orang itu lalu mulai berbicara memecah keheningan suasana saat itu.

“Kau pasti sudah tahu bahwa besok kita kan mengadakan fitting baju untuk pemotretan majalah Zone.”

“Ehem.” Jong In menjawab seadanya dan hanya ditambah dengan anggukan pelan kepalanya, sebagai pemanis saja pikirnya. Sebenarnya dia tidak merasa nyaman dengan sikapnya seperti ini didepan orang itu. Orang itu pasti akan menganggap Jong In terganggu dengan kehadirannya. Tapi mau diapakan lagi, dia benar-benar lelah. Bahkan untuk mendengarkan orang bicara saja dia sudah muak.

“Ehm, kalau kau tidak keberatan, bisakah kau menemaniku makan siang setelah fitting baju kita selesai?”

Kali ini Jong In tidak bisa hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia harus membuka mulutnya, mengeluarkan suaranya, dan mencari jawaban yang tepat agar jam tidurnya tidak berkurang.

“Kita lihat saja keadaan besok. Kau tidak mungkin lupa dengan pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya. Saat kau merencanakan suatu hal dan hasilnya jauh dari apa yang sudah kau harapakan. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi. Begitu juga dengan kau, bukan?”

Jin Ri tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya ketika mendengar jawaban dari Jong In. Jong In bisa merasakan hal itu ketika dia melihat perubahan dari raut wajah Jin Ri. Dengan cepat Jong In memutar otaknya untuk mengurangi rasa bersalahnya terhadap Jin Ri.

“Kau tidak usah khawatir, besok kita pasti akan meyelesaikannya tepat waktu dan kita bisa makan siang bersama.” Jong In memberikan senyum terbaiknya di sela-sela rasa lelahnya.

“Baiklah kalau begitu. Aku juga berharap demikian. Terima kasih, Jong In-ssi.”

Jin Ri hendak meninggalkan Jong In ketika gadis itu tersadar bahwa dia ingat untuk mengatakan suatu hal.

“Jong In-ssi, mengenai pengalamanmu itu, aku rasa orang yang berjanji denganmu dapat memakluminya. Apalagi mereka tahu bahwa pekerjaanmu sekarang ini tidaklah mudah serta menguras cukup banyak tenaga dan waktu. Jadi, aku pikir kau tidak perlu bersikap tidak enak seperti itu. Aku juga akan begitu jika berada di posisimu sekarang.”

Jong In tersenyum seraya mengucapkan terima kasih kepada Jin Ri. Setelah itu, Jin Ri benar-benar pergi meninggalkan Jong In sendiri. Senyum diwajah Jong In menghilang seketika itu juga. Senyum itu digantikan oleh senyuman miris.

“Aku hanya tidak ingin janji itu menjadi senjata yang mematikan untuk diriku sendiri. Lagi.”

***

 

Jong In pulang dalam keadaan hati yang tidak menentu. Ingin sekali dia menertawai dirinya sendiri ketika dia mengingat perkataannya tadi. Dan dia ingin sekali menertawai kebodohannya itu.

Bodoh!

Bahkan sampai saat ini rasa bersalah itu masih bersarang dipikirannya. Juga dihatinya.

Kehilangan seseorang yang notabene adalah teman pertama dan satu-satunya sahabat yang kau miliki, membuat Jong In ingin sekali memukul dirinya sendiri sampai benar-benar babak belur. Ini semua karena kesalahannya.

Jika saja saat itu dia bisa mengunakan kejujuran dan keberaniannya dengan bijak, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Tidak menyakitkan seperti ini. Sekarang Jong In baru merasakan bahwa begitu besarnya kejujuran dan keberanian itu.

Dan Jong In tidak memilikinya tiga tahun yang lalu. Jong In tidak menyadari bahwa dua komponen itu begitu berarti dalam kehidupan seorang manusia tiga tahun yang lalu. Jong In tidak tahu bahwa dua komponen itu begitu berati ketika dirinya berada dalam posisi tiga tahun yang lalu. Jong In tidak mengerti bagaimana menggunakan dua komponen itu terhadap orang yang perasaanya terlalu halus untuk menerima kejutan dahsyat dari dirinya. Jong In tidak menggunakan kesempatan yang ada tiga tahun lalu dengan baik.

Jong In baru menyadari pentingnya dua komponen itu sekarang, sayangnya.

Tepat tiga tahun setelah kejadian itu terjadi. Parahnya lagi, dia tidak dapat melakukan apa-apa kecuali menelan bulat-bulat penyesalannya itu. Rasanya seperti sedang menelan api yang membakar habis seluruh bagian kerongkonganmu. Jong In tidak mungkin memutar kembali waktu ke tiga tahun yang lalu-seperti film yang sering dia tonton untuk membunuh rasa bosannya.

Jong In tidak mungkin secara tiba-tiba datang kepada orang itu, lalu meminta maaf atas semua yang telah terjadi. Itu semua mustahil akan terjadi, mengingat sampai saat ini Jong In tidak mengetahui sama sekali dimana keberadaan orang itu. Jong In hanya akan terlihat seperti tidak tahu malu jika membayangkan dirinya benar-benar melakukan hal itu.

Jong In resmi kehilangan kontak dengan orang itu sejak dirinya melihat orang itu berlari meninggalkan rumahnya dengan mata merah berair yang menatapnya.

***

Jong In hanya menatap kepergian gadis itu dalam diam. Seharusnya dia berlari mengejar gadis itu, menghentikan gadis itu, dan menjelaskan semuanya.

Namun, pada kenyataannya tidak.

Jong In hanya berdiri diam seperti kakinya ditimbun oleh cairan semen yang mulai mengeras. Bukan karena dirinya tidak memiliki niat untuk mengejar gadis itu, hanya saja dia rasa menjelaskannya sekarang akan terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Semuanya hanya pekerjaan sia-sia nanti.

Jong In hanya berdiri disitu sambil meremas kuat kertas yang digenggamnya. Kertas itu dimata Jong In sekarang sebagai senjata paling mematikan. Hanya karena selembar kertas itu, semuanya menjadi kacau.

Kacau layaknya kertas yang sudah tidak berbentuk lagi ditangan Jong In.

Jong In baru menyadari bahwa dirinya kesulitan membaca huruf-huruf hangul yang tercetak rapi dikertas itu malamnya. Kertas itu sudah seperti kertas daur ulang-atau mungkin lebih seperti bungkusan makanan berminyak yang diremas lalu dilemparkan ke sembarang tempat.

Jong In terus memandangi kertas itu. Dia terus memikirkan apakah keputusannya ini benar atau tidak.

“Mau bagaimana lagi? Itu cita-citamu. Aku akan menjadi orang yang jahat bila aku melarangmu pergi. Aku tidak mungkin membuat susah orang yang ingin meraih cita-citanya. Aku tidak sejahat itu.”

Jong In kembali mengingat ucapan gadis itu beberapa waktu yang lalu sesaat setelah dia memberi tahu gadis itu tentang keinginannya. Gadis itu mendukung sepenuhnya keinginannya itu, tapi mengapa tiba-tiba gadis itu berubah sekarang. Berubah di waktu yang tidak tepat.

Ketika pintu menuju impiannya itu sudah terbuka lebar didepan matanya. Bahkan terlalu lebar untuk dirinya sendiri masuk.

“Kapan kau memberitahuku?”

“Besok.”

“Besok. Cerdas sekali, Kim Jongin.”

Tidak, gadis itu tidak berubah. Gadis itu tetap mendukungnya kalau saja dia berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Bukan menjadi pengecut yang takut akan kehilangan sahabatnya. Dan itulah yang terjadi sekarang. Dia benar-benar telah kehilangan sosok sahabatnya itu.

Dan dia merindukan sosok tersebut. Sangat merindukannya.

“Kau akan memberitahuku dengan cara apa? Menulis surat lalu menyuruh seseorang untuk memberinya kepadaku? Atau kau punya cara lain? Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku tidak perlu khawatir mengenai ibuku sementara kau juga tidak akan berada disini dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.”

Jong In mengacak rambutnya kesal. Potongan-potongan kejadian antara dirinya dan gadis itu menari riang di kepalanya seolah-olah sedang mengejek keadaannya sekarang. Ya, dia memeang pantas mendapatkan itu semua.

“Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaga bibi.”

Jong In tidak menyangka bahwa perkataannya waktu itu malah berubah menjadi boomerang yang tidak terelakkan bagi dirinya. Dia bukan sosok yang hanya sembarangan bicara, mengumbar janji yang tidak jelas, dan hanya suka bermain-main.

Dia selalu serius dan sungguh-sungguh akan melakukan apa yang sudah diucapkannya. Jong In adalah sosok yang seperti itu. Terlebih ini menyangkut tentang gadis itu.

Jong In tidak bermaksud untuk meyakiti perasaan gadis itu, terlebih lagi itu ada hubungannya dengan wanita yang sangat gadis itu sayangi. Hanya saja, keadaan yang membuat semua ini harus berakhir jauh dari ekspetasinya.

“Kau harus janji untuk tidak melupakanku jika kau sudah berhasil nanti. Kau juga harus menghubungiku, walau aku tahu kau pasti akan sangat sibuk nanti. Sempat kau saja. Bagaimana mudah, kan?”

“Baiklah aku janji akan menghubungimu. Aku janji itu.”

Jong In tersenyum miris mengingat kalau dia berjanji akan selalu menjaga komunikasinya dengan gadis itu. Senyum miris itu perlahan berubah menjadi isakan kecil. Jong In tahu ini sangat memalukan mengingat dia adalah seorang laki-laki yang mengatakan bahwa dirinya kuat dan tidak akan pernah menangis.

Kalau keadaannya sudah begini, bukan tidak mungkin laki-laki yang kuat itupun akhirnya rapuh juga. Dia sudah bisa mewujudkan impiannya sekarang dengan kerja keras, penantian, dan kekecewaan.

Dia kecewa ketika dirinya sudah berdiri sebagai seseorang yang sukses, tidak ada gadis yang selama ini menemaninya dalam keadaan apapun. Gadis yang selalu setia mendengar cerita-ceritanya. Jong In ingat ketika umur mereka lima belas tahun Jong In menceritakan kekesalannya terhadap salah satu teman mereka yang dan cerita itu berubah menjadi sebuah dongeng yang sangat panjang karena saat menceritakannya, gadis itu terlelap di meja belajar Jong In dengan masih berpakaian seragam.

Jong In ingat ketika gadis itu menangis saat umurnya menginjak 16 tahun karena tidak bisa masuk dalam team cheerleaders-Jong In bersyukur sekali karena konyol nantinya gadis itu akan menari tidak jelas dihadapan anak-anak basket yang mata keanjang-yang berakhir pada tawa canda keduanya setelah Jong In memutuskan menonton Running Man untuk menghibur gadis itu.

Jong In ingat ketika dirinya kesal setengah mati dibuat oleh gadis itu karena melahap habis semua jatah ayam gorengnya dengan wajah tanpa dosa dari gadis itu namun itu tidak berlangsung lama karena ada saja cara gadis itu untuk membuatnya menjadi tidak kesal.

Jong In ingat ketika umur mereka baru menginjak sepuluh tahun ketika dirinya bermain bola sampai sore dengan teman-temannya sampai Jong In lupa untuk datang les bersama gadis itu. Gadis itu datang ke tenpat les dengan wajah yang berseri-seri namun digantikan dengan tampang yang masam ketika mengetahui Jong In tidak berada disitu. Mati-matian Jong In berusaha agar membuat gadis itu tersenyum lagi sampai-sampai Jong In sudah menunggu gadis itu didepan rumahnya pagi-pagi sekali untuk mengajak gadis itu berangkat bersama-sama. Dan Jong In berhasil setelah perjuangan yang dia lakukan selama seminggu lebih dua hari.

Terlalu banyak kenangan yang terjadi antara dirinya dan gadis itu. Diantara banyaknya kenangan itu, pasti pernah terjadi pertengkaran antara Jong In dan gadis itu, dan semua itu bisa terselesaikan dengan baik dan tidak pernah dibayangkan oleh kebanyakan orang.

Tapi Jong In tidak yakin hal itu akan terjadi sekarang. Apalagi dalam waktu yang tidak singkat ini. Jong In hanya berharap sebuah keajaiban datang dan mengantarkan gadis itu dihadapannya. Jong In sudah siap menerima apapun reaksi gadis itu ketika melihatnya.

Yang terpenting adalah dia bisa melihat wajah gadis itu lagi. Walau itu adalah terakhir kalinya dia melihat wajah gadis itu lagi.

***

“Krystal-ah, kau sudah siap untuk melakukan tugasmu hari ini?”

Suara melengking Victoria cukup membuat Soo Jung kaget pagi itu. Soo Jung sempat berpikir mengapa Victoria tidak menjadi penyanyi opera saja karena suaranya-Soo Jung yakin itu bisa mencapai tiga oktaf atau lebih mungkin-yang tinggi.

“Tentu saja, Vic. Aku sudah siap.”

Soo Jung berhenti sebentar terlihat sedang memikirkan sesuatu dan hal ini membuat Victoria menjadi khawatir lalu berjalan menuju gadis itu.

“Ada apa, Krystal?” Victoria menatap Soo Jung khawatir.

“Ada suatu hal yang sudah lama ingin aku tanyakan padamu. Ehm, apakah tidak apa-apa kalau aku memanggilmu Victoria saja? Mengingat ehm… Kau diatasku.” Soo Jung merasa tidak enak untuk mengatkan hal ini.

“Ah, itu. Tidak masalah kau mau memanggilku dengan apa saja. Terserah kau saja.” Victoria hanya tersenyum lega karena mengira terjadi entah apa dengan Soo Jung.

“Baiklah kalau begitu mulai aku akan memanggilmu dengan Victoria Eonnie.”

Victoria hanya tersenyum memandang Soo Jung yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.

“Ayo kita harus berangkat sekarang. Kau tidak ingin terlambat dihari pertama kau bekerja bukan?”

***

“Kita akan bekerja sama dengan artis?” Soo Jung membulatkan matanya tidak percaya atas apa yang baru saja Victoria jelaskan padanya.

“Iya. Dan kau tahu, kemampuan mereka harus diberikan bintang walau usia mereka masih terbilang cukup muda. Aku rasa mereka seumuran dengan kau.”

Soo Jung hanya tersenyum tipis ketika Victoria menyebutkan kata ‘artis’ itu. Soo Jung sudah tidak tertarik lagi dengan orang-orang seperti itu walaupun Victoria menjelaskan kemampuan mereka dengan sangat bersemangat-terlalu bersemangat malah. Soo Jung merasakan dadanya sesak lagi entah mengapa. Bukan karena dadanya sakit, tapi karena hal lain.

Sesuatu yang telah dipendamnya sejak lama.

Selama perjalanan menuju tempat tujuan mereka, Soo Jung hanya mendengarkan Victoria bercerita dan Soo Jung menjawab seadanya saja. Mood-nya tidak terlalu bagus untuk awal yang seharusnya membuatnya bersemangat ini.

Sesampainya di tempat tujuan mereka, Soo Jung dan Victoria masuk ke dalam sebuah gedung yang merupakan tempat lahirnya orang-orang sukses karirnya sebagai artis. Soo Jung masuk mengikuti Victoria sambil sesekali melihat bahwa didalam gedung itu tidak banyak orang-orang yang ada.

Mungkin semua artisnya sedang berada di lokasi syuting saat ini. Kecuali artis yang saat ini sedang menunggu kedatangan dirinya dan Victoria.

Eonnie, aku gugup sekali.” Perkataan Soo Jung membuat Victoria menghentikan langkahnya berbalik menghadap Soo Jung. Victoria hanya memberi tatapan menyakinkan Soo Jung bahwa dirinya pasti bisa melakukan semua ini dengan baik.

Ketika Soo Jung mulai memasuki ruangan itu, Soo Jung merasakan energi yang diserap oleh tubuhnya semakin bertambah. Energi keyakinan hatinya.

Hal pertama yang Soo Jung lihat adalah seorang gadis yang wajahnya seperti boneka. Soo Jung tidak menyangka bahwa ada orang semanis itu. Kulitnya putih tapi-tidak terlihat pucat dan kedua pipinya merah seperti tomat. Tubuhnya tinggi dan langsing. Sempurna.

Orang itu lalu berjalan menuju Soo Jung  dan Victoria seraya memperkenalkan dirinya.

Anyeonghasseyo. Namaku Choi Jin Ri. Kalian bisa memanggilku Sulli. Senang berkenalan dengan kalian.”

Soo Jung hanya bisa bengong ketika melihat cara orang itu memperkenalkan dirinya. Anggun sekali. Pantas saja dia bisa menjadi model, pikir Soo Jung.

“Senang juga berkenalan denganmu, Sulli-ssi. Perkenalkan aku Victoria Song dan ini ada Krystal. Kami berdua sangat senang bisa bekerja sama denganmu. Aku harap kami dapat membantu.”

Soo Jung bersalaman dengan Sulli begitu juga dengan Victoria.

“Nama yang bagus, Krystal-ssi.” Merasa namanya disebut, Soo Jung sontak menjawab perkataan Sulli.

“Ah, tidak. Kau juga terlihat cantik. Ehm, panggil saja aku Krystal. Kurasa kita seumuran.”

Sulli mengangguk paham lalu pandangannya seperti sedang mencari seseorang.

“Kuharap kalian bersabar sedikit. Masih ada satu orang lagi yang belum da― Itu dia!”

Soo Jung mengalihkan pandangannya untuk melihat orang yang disebutkan Sulli tadi. Jika saja tidak ada penopang pada mata Soo Jung, kedua matanya mungkin akan jatuh ketika mendapati siapa yang baru saja muncul dihadapannya.

Jika saja tidak mengingat ada Victoria disini dan profesionalismenya dalam bekerja, mungkin sekarang Soo Jung sudah berlari keluar dari gedung ini dan menangis sepuas hatinya. Mengapa mereka harus bertemu lagi dalam situasi yang seperti ini?

Soo Jung berharap orang yang berada dihadapannya ini adalah bukan orang yang sama dengan orang yang tidak ingin lagi dia ingat selama tiga tahun terakhir ini. Ingat Soo Jung, mungkin ini hanyalah satu dari sekian banyak orang yang wajahnya mirip dengan orang itu.

Tapi Soo Jung tidak bisa membohongi penglihatannya bahwa orang ini benar-benar orang yang ingin Soo Jung lupakan. Di kepala Soo Jung kini terputar kembali kejadian itu setelah susah payah dirinya selama tiga tahun ini berusaha melupakan kejadian itu.

Masih dengan pikirannya yang kacau, Soo Jung mendengar Sulli memperkenalkan orang itu dan Soo Jung terkejut ketika tangan orang itu sudah berada dihadapannya untuk bersalaman.

Soo Jung merasa tangannya sedang mengangkat besi seberat seratus ton. Berat sekali untuk dirinya hanya untuk mengangkat tangannya saja. Akhirnya, Soo Jung berhasil mengangkat tangannya dan membiarkan tangannya itu bersalaman dengan tangan orang itu.

Rasanya masih sama. Tangan orang itu masih sama hangatnya dengan tangan yang selalu bisa membuat dirinya tenang. Tidak ada yang berubah. Sama sekali tidak.

Hanya saja waktu tidak mendukung mereka saat ini.

“Selamat pagi. Perkenalkan namaku Kai. Senang bertemu denganmu.”

Soo Jung tersentak ketika mendengar suara berat yang sudah lama tidak melintasi saluran telinganya. Terlebih lagi tidak terdengar sedikitpun nada gugup dari perkataan orang itu.

Mungkin latihan keras yang orang itu lakukan berhasil membuat orang itu terlihat seperti berkenalan biasa dengan orang yang baru pertama kali dia lihat.

“Selamat pagi. Namaku Krystal. Senang bertemu denganmu, Kai-ssi.”

Soo Jung bisa melihat pandangan Jong In sedikit terkejut ketika dirinya menyebutkan nama Jong In yang lain. Kai.

Soo Jung sendiri juga bingung, darimana dia mendapatkan keberanian untuk menatap kedua mata orang itu.

Soo Jung tidak tahu apa alasan yang membuat Jong In mengubah namanya. Mungkin itu nama panggungnya, sama seperti yang saat ini dia gunakan.

“Baiklah, sekarang semuanya sudah lengkap. Mari kita mulai bekerja.”

Suara Victoria membuat Soo Jung sadar bahwa dia harus berkonsentrasi dengan pekerjaannya saat ini. Dia tidak ingin mengecewakan Victoria yang sudah banyak membantunya.

Saat Soo Jung mulai melangkahkan kakinya mengikuti Victoria dan Sulli yang sudah berjalan mendahuluinya, Soo Jung merasakan tangannya tertahan sesuatu.

Jong In menahannya.

Soo Jung ingin sekali melepaskan tangannya dari Jong In tapi percuma. Energi yang dirasanya tadi pagi mengisi penuh tubuhnya, kini tiba-tiba saja menghilang entah kemana.

Lalu Soo Jung mendengar suara Jong In yang begitu dekat dengan telinganya sehingga membuat Soo Jung sedikit merinding dan Soo Jung tidak tahu apa maksud perkataan Jong In itu.

“Aku berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengabulkan permohonanku dalam jangka waktu semalam. Aku harap ini pertanada baik.”

***

24 thoughts on “[FF Freelance] Our Little Promise – Hi! (Chapter 5)

  1. wihi… ketemu lagi akhirnya.. ga tau knp pasangan kai-krystal ini nyata bgt di pikiranku🙂
    kira” lanjutannya reaksi mereka gmn ya, penasaran… nextnya jangan lama” jebal.. ^^

  2. nah loh kan ketemu lagi kan~ ah ini yang namanya takdir *sok tau
    hadu senengnya mereka berdua bisa ketemu lagi, jadi ngikut deg degan coba hihi
    next part soon

  3. yeay akhirnya ketemu. kirain Jongin bakal lupa wajah krystal atau gimanaa gitu, jadi begitu tau kebenarannya bakal wah banget. tapi bagus kok ceritanya, ditunggu lanjutannya yaaa

  4. Salam kenal author namaku purnika 98 line asal bali, maaf di ff sebelumnya aku gak ninggalin komentar koneksi internetnya sedikit lola :v
    di chapter ini jujur aku nangis lo, diawal nangis gara2 jongin nangis😥 pas diending nangis lagi gara2 mereka ketemu huaaaa nangis terharu jadinya :’v kak lanjutan ff ini jgn lama2 ya ^^ nanti mati penasaran jadinya :v oh ya jinri bukan pacar jongin kan😦 jangan buat soojung nangis lagi kak😥 kalo soojung nangis lagi dijamin kai nggak akan hidup tenang :v

    • hallo purnika dewi salam kenal juga
      maaf ya kalau aku bikin kamu nangis di part ini
      Makasih ya udah baca ff gaje ini dan sekali lagi maaf kalau kamu nangis gara-gara ini, aku jadi ikutan terharu baca comment kamu

  5. uh ketemu jongin juga akhirnyaaa ><
    zonk momentnya ituloh bikin greget. maunya lebih lama lagi biar makin greget hihihi tapi gapapa kok.
    ayo dong baikan merekanya. udah tiga tahun ini loh…😦

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s