30 DAYS CUPID [Prolog]

30 DAYS CUPID

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung, & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC) Jeon Junmi, (OC) Gu Sonsaengnim & (OC) Suster Ham, ||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

HAPPY READING \(^O^)/

Seperti biasa, suasana kantin hari ini sangat ramai. Siswa-siswi yang lapar memadati bagian depan tempat pemesanan, namun ada juga yang telah duduk santai menikmati makanan mereka. Aroma ramyeon dan beberapa makanan lainnya terhirup oleh hidung. Menambah perasaan lapar yang sejak tadi melanda. Di antara aroma yang menggugah itu, terdengar suara siswa-siswi yang berteriak tidak sabar untuk mendapatkan pesanan mereka, suara siswa-siswi yang tertawa di beberapa sudut kantin, juga suara sumpit besi yang bersentuhan dengan bibir mangkuk.

Di bagian sudut kanan depan kantin, dua orang pemuda tengah asik menikmati ramyeon masing-masing. Pemuda berambut light caramel mengunyah makanannya sedikit cepat sambil kedua matanya memandang ke sembarang arah di dalam kantin. Sementara itu, pemuda berambut merah marun yang berada di depannya makan dengan tenang. Kedua matanya menatap kuah ramyeon yang berwarna kecoklatan.

“Hei… sshh… Jungkook!” panggil pemuda berambut light caramel kepada pemuda berambut merah marun di depannya.

Pemuda berambut merah marun menegakkan sedikit lehernya menatap wajah sahabatnya, Taehyung, yang terlihat kemerahan, lengkap dengan bibir yang juga berwarna merah dan terlihat sedikit tebal, tidak lupa beberapa bulir keringat yang mengalir di pelipis kirinya. Jelas pemuda berambut light caramel itu terlihat kepedasan.

“Ada apa?” tanya Jungkook dengan nada datar.

Taehyung memberi kode dengan dagunya setelah ia meminum jus jeruk untuk menghilangkan rasa pedas di lidahnya—seperti meminta Jungkook untuk menoleh ke belakang. Mengerti arti dari kode itu, Jungkook menolehkan kepalanya ke arah belakang, mendapati sosok gadis berkacamata tengah memandang ke arahnya, namun sepersekian detik kemudian, gadis itu langsung menunduk. Malu karena ketahuan memandang Jungkook.

“Hampir seminggu ini aku perhatikan anak baru itu terus memandangimu diam-diam,” ujar Taehyung, membuat Jungkook mengalihkan pandangan ke arahnya.

“Oh, ya?” Jungkook tampak tidak percaya. Memilih menyuapkan ramyeon ke dalam mulutnya.

“Iya!” sahut Taehyung mantap. “Sepertinya…, dia menyukaimu.”

“Uhuk… uhuk… uhuk….” Seketika Jungkook terbatuk mendengar ucapan sok tahu dari sahabatnya. Bergegas ia meraih sebotol air mineral yang berada di sisi kanan mangkuk ramyeon-nya, meneguk sedikit air mineral itu.

“Kau tidak apa-apa?” Taehyung menatap cemas pemuda di hadapannya. Sedikit merasa bersalah karena membuat Jungkook tersedak mendengar ucapannya.

Jungkook mengangguk seraya meletakkan botol air mineral ke tempatnya semula. “Ya, aku baik-baik saja,” jawabnya.

Taehyung bernafas lega.

“Aku hanya terkejut dengan ucapanmu.”

Taehyung kembali antusias. “Tapi, aku benar-benar serius. Aku perhatikan, si anak baru itu selalu mencuri-curi pandang ke arahmu. Di kelas juga kadang-kadang dia begitu.”

Samar-samar Jungkook tersenyum sinis, mendengus. “Kau sampai tahu sejauh itu? Jangan-jangan kerjaanmu seminggu belakangan ini hanya memandangi gadis itu.”

Taehyung membulatkan kedua matanya. “Tidak! Secara kebetulan, aku selalu melihat gadis itu, mmm, siapa namanya…?”

“Shina.”

“Ya, Shina. Aku selalu mendapati dia melihat ke arahmu. Aku yakin dia menyukaimu, Jeon Jungkook.” Taehyung memantapkan kalimatnya.

Jungkook tertawa samar. “Sudahlah! Aku tidak mau membahas gadis berkacamata itu.”

Taehyung menyedot jus jeruknya lagi sebelum protes terhadap ucapan Jungkook. “Kau selalu seperti ini. Kau selalu tidak peduli pada gadis-gadis yang menyukaimu. Aku curiga kalau kau ini mati rasa.”

Tatapan setajam pisau langsung dilemparkan Jungkook kepada sahabatnya. “Aku ini tidak mati rasa, Kim Taehyung!”

“Kalau begitu, sekali-kali kau harus peduli kepada gadis-gadis yang mendekatimu, Brother! Kau ini bagaimana? Orang-orang malah susah payah mendekati seorang gadis, tetapi kau, gadis-gadis malah mendekatimu, tapi kau tidak peduli pada mereka. Apa jangan-jangan kau—”

Kedua manik mata Jungkook menatap Taehyung dalam-dalam, menunggu kelanjutan ucapan dari pemuda berambut light caramel itu.

“—homo!”

“Sinting!” Satu kata itu meluncur begitu saja dari mulut Jungkook. “Aku masih normal, Kim Taehyung!”

“Kalau begitu, tunjukkan padaku kalau kau benar-benar normal! Dekati anak baru itu!”

Jungkook meneguk air mineralnya lagi. “Memangnya kau siapa? Aku tidak mau membuktikan apapun padamu. Aku benar-benar normal, Kim Taehyung.”

“Kalau begitu, dekati Shina. Dia menyukaimu. Aku yakin itu.”

Jungkook mendengus. “Tidak dan tidak! Aku tidak akan mendekati siapapun gadis yang menyukaiku, kau paham, Kim Taehyung!?” tegas Jungkook. “Aku tidak mau membahas ini lagi.”

“Ya, sudah. Terserah kau saja,” pasrah Taehyung.

Keduanya lantas melanjutkan kegiatan makan mereka yang sempat tertunda. Namun dari kejauhan, gadis itu, Shina, kembali memandangi Jungkook dari balik kacamata yang membingkai kedua matanya.

Sepertinya Taehyung benar, gadis itu… menyukai Jungkook.

@@@@@

Bulir-bulir air yang jatuh dari langit membasahi tubuh Jungkook yang sedang dalam perjalanan pulang. Pemuda berseragam kuning-hitam itu menambah kecepatan larinya, berusaha sebisa mungkin untuk segera tiba di rumah. Sesekali pemuda berambut merah marun itu tanpa sengaja menginjak genangan air, berhasil membuat sepatunya basah. Sial! Kenapa harus hujan di saat seperti ini, eoh?

Dalam keadaan basah kuyup dan tubuh yang menggigil, Jungkook tiba di rumahnya. Lekas masuk ke dalam rumah minimalis berwarna hijau mint itu, melepas sepatunya sebelum menjejakkan kaki pada lantai ruang tamu.

“Aku pulang~” teriak Jungkook.

Sepi. Tidak ada yang membalas ucapan pemuda itu. Suasana yang sudah biasa didapati Jungkook setiap harinya. Tentu saja, di rumah ini hanya ada dirinya dan sepupunya yang saat ini pasti masih bergelut dengan tumpukan file di kantornya.

Jungkook beringsut menuju kamarnya. Masuk ke dalam ruangan yang berukuran 3 x 4 meter itu, meletakkan ransel hitamnya di atas meja belajar di dekat pintu. Pemuda itu kemudian mengayunkan langkah menuju cermin yang hampir setinggi tubuhnya, melepaskan satu per satu pakaiannya yang basah dan menggantinya dengan kaos berwarna biru dan celana pendek selutut berwarna hitam.

Ia lantas berbaring di atas tempat tidurnya, memandang ke arah langit-langit kamar. Kedua tangannya ia jadikan bantalan kepalanya. Ia menghela napas. Lelah. Itu yang ia rasakan setelah menghabiskan beberapa waktu berharganya di ‘neraka dunia’ yang orang-orang sebut sebagai sekolah. Belum lagi saat pulang tadi, Taehyung terus mengatakan bahwa ‘Shina melihatmu, Jungkook’, ‘Lihat! Lihat! Dia melihatmu lagi!’, dan ‘Aku yakin kalau dia menyukaimu, Jeon Jungkook.’

Jungkook benar-benar tidak suka dengan hal itu. Tidak suka dengan sikap Taehyung yang menyebalkan. Juga, tidak suka kepada Shina yang menyukainya. Oh, ayolah, Jungkook memang selalu seperti itu. Ia tidak suka jika ada gadis yang menyukainya. Menurutnya, gadis-gadis yang mengejar-ngerjarnya selama ini hanya menyukainya untuk sementara. Ya, sementara. Meski ada beberapa dari gadis-gadis itu yang nekat mengatakan bahwa mereka mencintai Jungkook.

Oh! Tolong buang jauh-jauh kata itu.

Jungkook sama sekali tidak mengenal apa itu cinta. Baginya, cinta itu hanya sebuah kata murahan yang mudah saja diucapkan oleh orang-orang tanpa tahu hakikat cinta sebenarnya. Jungkook membenci cinta, mungkin begitu singkatnya.

Tapi, jangan pernah menyalahkan pemuda itu karena telah membenci cinta. Dia punya alasannya sendiri. Alasan yang membuatnya menjadi pemuda yang tumbuh dengan sifat dingin terhadap perempuan—selain sepupu yang tinggal bersamanya tentu saja. Menjadi pemuda yang tidak pernah memiliki kekasih hingga di usianya yang menginjak 18 tahun. Menjadi pemuda yang saat ini harus tinggal bersama sepupunya karena… kedua orang tuanya…

Haruman neowa naega hamkkehal su itdamyeon
Haruman neowa naega sonjabeul su itdamyeon
Haruman neowa naega hamkkehal su itdamyeon
Haruman (haruman)
Neowa naega hamkkehal su itdamyeon
~”

Mendengar ponselnya berdering, Jungkook beringsut menuju meja belajar, mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Tertera tulisan ‘Junmi Noona’ pada permukaan layar yang berkedap-kedip genit padanya.

“Halo?” Jungkook menjawab panggilan dari sepupunya.

“Halo, Jungkook-ah. Kau sudah ada di rumah?”

Jungkook berjalan kembali ke tempat tidurnya seraya berkata, “Ya, Noona. Kenapa?”

“Maaf, hari ini noona pulang terlambat. Kalau kau lapar, kau masak saja mi instant yang ada di kulkas, oke?”

Jungkook menghela napas. “Baiklah, kalau begitu.”

“Oke. Sudah dulu, Jungkook-ah. Noona ada tugas penting. Jaga rumah baik-baik.”

“Ya~”

Jungkook masih beruntung karena ada Junmi Noona, sepupu dari pihak ayah, yang mau tinggal bersamanya. Paling tidak, di rumah ini ada orang yang menemaninya setelah ayahnya meninggal. Ibunya? Lupakan! Semenjak ayah Jungkook meninggal, wanita itu menikah dengan pria lain dan… ya, meninggalkan Jungkook.

@@@@@

Hari-hari berlalu seperti biasa bagi Jungkook. Bangun tidur, sarapan, sekolah, pulang, makan siang, tidur, menonton, makan malam, belajar, tidur dan bangun lagi keesokan paginya. Selalu seperti itu. Monoton. Seringkali Jungkook merasa bosan dengan hidupnya yang begitu-begitu saja. Jika dilambangkan dengan warna, mungkin hidup Jungkook adalah warna abu-abu.

Di bawah Sang Raja Siang yang pagi ini tampak malu-malu menunjukkan wajah kuningnya kepada dunia, bersembunyi dibalik awan-awan yang berarak di langit biru, Jungkook dan teman-temannya berdiri di atas lapangan basket. Ada 27 siswa-siswi yang membentuk lingkaran berwarna biru tua—warna seragam olahraga sekolah Jungkook—di tengah lapangan.

Gu Sonsaengnim, guru olahraga, menjadi pusat dari lingkaran tersebut. Berdiri sambil memberikan arahan-arahan kepada anak-anak didiknya. Tangan kanan beliau sejak tadi memegang sebuah bola basket, memberi contoh gerakan passing dengan benda bulat berwarna oranye itu.

Jungkook, pemuda itu terlihat sangat serius memperhatikan penjelasan Gu Sonsaengnim. Berbeda dengan pemuda berambut light caramel di sebelah kirinya, Taehyung, yang malah sibuk melihat ke sana-sini, sama sekali tidak ada niat memperhatikan penjelasan Gu Sonsaengnim.

“Hei! Jungkook!” Taehyung berbisik sambil menyenggol-nyeonggol lengan kanan Jungkook.

Jungkook menoleh ke arah Taehyung, menunjukkan raut wajah kesal terbaik yang ia punya. “Apa?”

“Itu… Shina….” Taehyung melirik-lirikkan matanya kepada siswi berambut panjang yang wajahnya dihiasi kacamata berlensa tebal.

Oh, tidak lagi!

Tanpa melihat ke arah Shina, Jungkook kembali fokus kepada Gu Sonsaengnim. Tidak peduli Taehyung yang berbisik-bisik memaksanya untuk melihat ke arah Shina. Mencoba bersabar dalam hati sembari bertanya-tanya, sampai kapan Kim Taehyung berhenti mengganggunya?

“Kim Taehyung, kau sedang apa?”

Samar-samar terukir senyum di wajah Jungkook begitu Gu Sonsaengnim menegur pemuda di sebelahnya. Berhasil membuat pemuda itu berhenti mengganggu Jungkook.

Yang ditegur malah menggeleng pelan sambil memamerkan cengiran lebarnya. “Anu… Sonsaengnim, aku cuma memberitahu Jungkook kalau ada kotoran di rambutnya.”

Senyuman di wajah Jungkook berubah menjadi lengkungan sabit terbalik kala mendengar namanya disebut-sebut oleh Taehyung. Apa-apaan anak ini?

Gu Sonsaengnim menghela napas. Percaya saja dengan ucapan anak muridnya yang memang sedikit nakal. Tidak lama kemudian, beliau melanjutkan penjelasannya. “Untuk hari ini, kita akan latihan tanding basket, 3 on 3.”

Beberapa siswa bersorak senang, namun beberapa lainnya—yang lebih banyak—malah mendesah pelan. Hah~ latihan tanding seperti ini sangat menyebalkan.

“Kim Taehyung, Jeon Jungkook dan Choi Junhong, kalian bertiga satu tim.” Gu Sonsaengnim menyebut nama-nama siswa yang akan bertanding pada putaran pertama.

Mendengar namanya ikut disebut bersama nama Taehyung, Jungkook menoleh ke arah pemuda itu. Mendapati Taehyung cengar-cengir bahagia karena bisa satu tim dengan sahabatnya dan juga Junhong, anggota tim basket sekolah.

“Ini gara-gara kau, Kim Taehyung! Aku masuk di tim pertama,” gerutu Jungkook.

“Seharusnya kau senang karena satu tim denganku, Bro!” Tanpa merasa bersalah, Taehyung merangkul bahu Jungkook. God, bagaimana bisa aku bertahan dengan sahabat seperti ini?

Beberapa menit kemudian, Jungkook mendapati dirinya berlari di lapangan basket sambil men-dribble bola. Dua orang tim lawan mengejarnya, berusaha merebut bola, sedangkan Taehyung sejak tadi berteriak ‘Aku bebas. Berikan bolanya padaku!’, namun Jungkook sama sekali tidak menggubrisnya.

Siswa-siswi yang belum mendapat giliran untuk latihan tanding pun duduk di atas rerumputan yang mengelilingi lapangan basket. Beberapa siswi berteriak centil menyebut nama teman-teman mereka yang sedang bertanding—termasuk nama Jungkook—bermaksud memberi semangat. Sementara itu, di sudut luar lapangan, Shina dengan tatapan memuja terus memfokuskan marbel hitamnya pada sosok yang saat ini masih men-dribble bola.

“WOY! JUNGKOOK! BERIKAN BOLANYA PADAKU!” teriak Taehyung entah untuk keberapa kalinya.

Sadar posisinya dijaga ketat, begitu juga dengan posisi Junhong, mau tak mau Jungkook melemparkan bola oranye itu kepada Taehyung. Sayang, Jungkook melempar bola itu terlalu kencang, membuat bola melambung tinggi melewati Taehyung dan…

“BUUK!”

Dalam sekejap, siswa-siswi mengerumuni Shina yang jatuh pingsan setelah kepalanya dihantam bola basket.

@@@@@

“Ini semua gara-gara kau, Taehyung!” tuding Jungkook.

Usai insiden yang menyebabkan Shina kini terbaring tidak sadarkan diri di ruang UKS, siswa-siswi kembali melanjutkan kegiatan. Jungkook dan Taehyung yang gilirannya sudah selesai ditugaskan oleh Gu Sonsaengnim untuk menemani Shina di UKS—setidaknya mereka berdua berada di depan ruang UKS karena di dalam sudah ada suster yang menunggu Shina siuman.

“Loh? Kenapa kau malah menyalahkanku, Jungkook? Kau kan yang melempar bola itu terlalu tinggi.” Taehyung membela diri.

“Jelas ini salahmu! Kenapa kau tidak berusaha menangkap bola yang aku oper padamu!?” Jungkook juga tidak terima dirinya yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Apalagi, gadis yang menjadi korbannya adalah Oh Shina, gadis yang kata Taehyung, selalu memperhatikannya.

“CKLEK!”

Pintu ruang UKS terbuka dan Suster Ham, suster yang bertugas di UKS sekolah, menampakkan dirinya di hadapan Taehyung dan Jungkook. Seketika kedua pemuda itu terdiam, mengira diri mereka terlalu berisik sehingga Suster Ham keluar dari ruang UKS untuk menegur mereka. Namun ternyata…, dugaan mereka salah. Kenyataannya lebih buruk dari itu—setidaknya menurut Jungkook.

“Aku mau ke apotik untuk membeli obat-obatan. Kalian bisa, kan, menjaga Shina?!” Suster Ham memandang wajah Jungkook dan Taehyung bergantian. “Bisa, kan?”

Mau tidak mau, Jungkook dan Taehyung mengangguk. “Bi-bisa, Suster Ham.”

“Baguslah kalau begitu,” balasnya. “Sekarang kalian masuk ke dalam,” ujar Suster Ham. “Ah, dan jangan sampai kalian berisik, oke?” pesan Suster Ham sebelum ia benar-benar meninggalkan kedua pemuda itu.

Setelah Suster Ham pergi, Jungkook dan Taehyung pun masuk ke dalam ruangan 3 x 4 meter yang didominasi warna putih itu. Bau obat-obatan perlahan memasuki indera penciuman Jungkook dan Taehyung, sedikit membuat keduanya tidak nyaman. Kedua pemuda itu lantas membiarkan pandangan mereka menyusuri dinding-dinding bagian dalam ruang UKS, melihat beberapa poster larangan merokok, bahaya narkoba dan pencegahan virus HIV/AIDS terpajang rapi.

Jungkook memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang berada di ruang UKS, sementara Taehyung, pemuda itu malah mendekati tempat tidur, memperhatikan Shina yang masih memejamkan mata.

“Hei! Apa yang kau lakukan di situ?” tegur Jungkook.

Taehyung yang berada di sisi kiri tempat tidur, menatap wajah Shina, lantas menoleh ke arah Jungkook. “Kalau diperhatikan, Shina ini manis juga tanpa kacamata,” sahut Taehyung.

Jungkook mendecih. “Ketahuan! Rupanya selama ini kau menyukai Shina!? Kau sengaja mengatakan Shina memperhatikanku untuk menyembunyikan kenyataan, hah?!” tuding Jungkook sekali lagi. Entah kenapa pemuda ini gemar sekali menuding sahabatnya.

“Hei! Hei! Jaga ucapanmu! Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat. Kalau tidak percaya, mendekat ke sini dan lihat wajah Shina! Kau pasti akan berpikiran sama sepertiku,” jelas Taehyung. “Ah, dan untuk masalah itu, aku benar-benar tidak bohong. Gadis ini memang sering memperhatikanmu!” tambah Taehyung, beringsut ke arah Jungkook.

“Sudahlah! Tidak perlu banyak alasan, Kim Taehyung! Aku tahu kau menyukai Oh Shina. Hahaha… dasar pengecut! Tidak mau mengakui perasaannya sendiri. Cih!”

Taehyung mendengus mendengar ucapan sarkastik Jungkook. “Terserah kau saja, Jeon Jungkook,” balasnya. Pemuda berambut light caramel itu menekuk wajahnya sembari melipat kedua tangannya di depan dada, sementara sang sahabat terkekeh melihat reaksi kesal Taehyung.

Waktu terus berlalu dan sekarang sudah hampir 10 menit kedua pemuda itu berada di dalam ruang UKS, namun Shina belum menunjukkan tanda-tanda ia siuman. Jungkook sibuk memainkan ponselnya, sedangkan Taehyung kini berdiri di hadapan poster bahaya narkoba, membaca setiap baris tulisan yang tertera di poster itu.

“Jungkook-ah,” panggil Taehyung, melihat ke arah Jungkook yang tidak pernah sekalipun beranjak dari duduknya.

“Apa?” balas Jungkook tanpa melihat ke arah Taehyung.

“Aku haus. Aku mau ke kantin sebentar.”

Seketika Jungkook melihat ke arah Taehyung. “Hei! Hei! Kau mau mencoba lari dari kenyataan?” tuduh Jungkook entah untuk keberapa kalinya hari ini.

Taehyung mendengus. “Aku benar-benar haus, Jeon Jungkook.”

“Tahan dulu. Sebentar lagi Suster Ham akan pulang.”

“Ayolah. Aku benar-benar haus.”

“Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau keluar dari ruangan ini sampai Suster Ham datang.”

“Jungkook, please~”

No!”

Please~~~~” Kali ini Taehyung memperlihatkan keimutannya yang tentu saja membuat Jungkook mau muntah di ruang UKS yang harus dijaga kebersihannya.

“Ti—”

“Engh~” Terdengar ringisan yang sukses membuat Jungkook dan Taehyung mengalihkan pandangan mereka ke arah sosok yang terbaring di atas tempat tidur. Nampak Shina siuman, memegang keningnya yang terasa sedikit nyeri.

Jungkook dan Taehyung terpaku di tempat masing-masing sambil melihat Shina yang perlahan-lahan membuka kedua matanya, lantas memandang sekitar. Gadis itu lebih dulu melihat Taehyung yang tampak mencolok dengan rambut light caramel-nya dan beberapa detik kemudian, barulah gadis itu menyadari keberadaan Jungkook.

“Kalian?” gumam gadis itu pelan. “Apa yang kalian lakukan di sini? Dimana yang lain?” tanya Shina. Gadis itu sadar dirinya kini berada di ruang kesehatan sekolah, ruangan yang tidak asing baginya karena ia adalah salah satu siswi yang masuk ke dalam klub kesehatan.

“Aaah… itu… anu… Shina-ssi, yang lain sedang latihan tanding. Mm… Suster Ham meminta aku dan Jungkook untuk menemanimu karena dia sedang ke apotik,” jelas Taehyung, menghampiri Shina perlahan. “Ng…, kau… tidak apa-apa?” tanya Taehyung lagi.

Shina mengangguk pelan. “Kepalaku masih sedikit nyeri, tapi… aku baik-baik saja.”

“Oh~ syukurlah kalau begitu,” ucap Taehyung agak canggung. Pemuda itu lantas menoleh ke arah Jungkook, meminta pemuda itu mendekat. Jungkook menggeleng. Namun tanpa ia duga, Taehyung menghampirinya, lantas menarik pemuda itu mendekat ke arah Shina yang saat ini berusaha untuk mengambil posisi duduk.

“Katakan sesuatu, Jeon Jungkook. Ini semua gara-gara kau sehingga Shina pingsan!” ujar Taehyung begitu ia berhasil membawa Jungkook mendekat ke tempat tidur.

Shina, gadis itu menatap Jungkook. Menunggu pemuda itu berbicara, setidaknya menanyakan kabarnya atau… paling tidak mengucapkan kata maaf. Namun, pemuda itu malah membuang wajahnya dari tatapan Shina. Kesal setengah mati.

Tahu Jungkook tidak akan mengucapkan satu patah kata, Taehyung memutuskan untuk menjebak pemuda itu. “Shina-ssi, apa kau haus?” tanyanya sok ramah.

Shina mengangguk. “Ya.”

“Mau aku belikan air minum? Kebetulan aku juga mau ke kantin.” Jungkook melotot begitu mendengar ucapan sok manis dari Taehyung. Apa-apaan anak ini? Dia mau membiarkan aku berdua dengan Shina di sini?

“Ya, Taehyung-ssi. Aku minta tolong. Terima kasih,” sahut Shina.

Lagi-lagi Taehyung tersenyum sok ramah. “Kau dengar itu, Jungkook-ah? Shina haus. Aku mau ke kantin untuk membelikan dia air minum. Kau tunggu di sini sampai aku kembali, oke?” katanya, lalu bergegas meninggalkan Jungkook.

Pemuda berambut merah marun itu sekilas melihat senyum sinis Taehyung sebelum pemuda itu beranjak dari ruang UKS. Sialan kau, Kim Taehyung!

Sementara Taehyung dengan riangnya berjalan menuju kantin. Senyum lebar terukir di wajah tirusnya. Rasakan itu, Jeon Jungkook!

@@@@@

Baru 5 menit waktu berlalu sejak Taehyung meninggalkan Jungkook berdua dengan Shina, namun bagi Jungkook rasanya 5 jam. Entah sudah berapa kali pemuda itu melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sesekali terdengar decihan pelan darinya, benar-benar kesal. Di dekatnya, Shina masih duduk di atas tempat tidur. Memandang ke arah luar jendela, melihat taman belakang UKS. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ekor mata gadis itu sesekali melihat ke arah Jungkook.

Shina menghela napas. Berdiam diri dengan seseorang di dalam ruangan seperti ini membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Belum lagi penglihatannya yang tidak begitu jelas karena kacamata yang biasa ia gunakan kini berada di atas meja Suster Ham. Sebenarnya, ia mau meminta bantuan Jungkook untuk mengambilkan benda itu, hanya saja… ia segan. Apalagi saat ini Jungkook terlihat… terpaksa menemaninya.

“Hei!” Shina memanggil Jungkook.

Pemuda itu menoleh sejenak ke arah Shina, lantas mengalihkan wajahnya lagi tanpa membalas ucapan gadis manis itu.

“Terima kasih,” ujar Shina.

Untuk kedua kalinya, Jungkook menoleh ke arah Shina. Namun setidaknya, kali ini pemuda itu mau menatap wajah gadis di dekatnya. “Untuk?” tanya Jungkook.

“Karena mau menemaniku di sini.”

Jungkook mengalihkan wajahnya dari Shina. “Aku menemanimu karena disuruh Suster Ham. Tolong jangan berpikir macam-macam,” sahut Jungkook terdengar dingin.

Hati Shina sedikit mencelos karena apa yang ia pikirkan memang benar. Jungkook hanya terpaksa menemaninya. Tapi, gadis itu berusaha untuk paham. “Ya. Tapi, tetap saja kau mau menemaniku di sini. Aku tetap harus mengucapkan terima kasih.”

“Terserah kau saja.”

Shina menundukkan kepalanya mendengar balasan ketus dari Jungkook. Sesuatu di dalam dadanya berkecamuk. Di satu sisi, ia senang karena memiliki kesempatan untuk melihat Jungkook dalam jarak sedekat ini. Namun di sisi lain, ia merasa lebih baik tidak ada Jungkook di sini. Untuk apa membuat pemuda itu berada di dekatnya, tetapi pemuda itu terlihat sangat terpaksa!? Hah~

“Ehm!” Jungkook berdehem. Membuat Shina menegakkan lehernya, lantas melihat ke arah Jungkook yang nampak kabur dalam pandangannya. “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

Mendengar pertanyaan yang terkesan sangat serius itu, jantung Shina langsung berdegup kencang. “A-apa?” tanyanya dengan suara yang bergetar.

“Kata Taehyung, kau selalu melihatku secara diam-diam. Apa itu benar?” tanya Jungkook tanpa basa-basi.

Shina membulatkan kedua matanya, terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Lehernya tercekat. Menggigit bagian bawah bibirnya, bingung harus menjawab apa. Ia ingin membenarkan kalimat itu, tapi… ia juga takut. Bagaimana kalau Jungkook marah? Bagaimana kalau Jungkook membencinya? Hah, gadis itu terlalu takut jika semua hal itu terjadi.

Namun, diamnya Shina membuat Jungkook mengambil kesimpulan sendiri. “Jadi, benar? Kau selalu memperhatikanku?!”

Lagi, tidak ada jawaban dari Shina.

“Dengar, ya, Gadis Berkacamata! Aku tidak suka jika kau melihatku secara sembunyi-sembunyi. Mungkin kau menyukai hal itu, tapi aku merasa terganggu. Jadi, kurasa mulai hari ini, berhenti melakukan hal itu!”

“Bagaimana jika aku menyukaimu?”

Rahang Jungkook jatuh begitu mendengar satu kalimat yang meluncur begitu saja dari Shina. Sementara itu, Shina sibuk mengutuk tindakannya barusan. Bodoh! Bodoh! Kenapa aku malah mengucapkan kalimat itu?

Jungkook lantas tertawa samar. “Hei, Oh Shina! Tolong camkan kalimatku baik-baik di dalam kepalamu. Aku tidak butuh disukai gadis sepertimu, mengerti?”

“Tapi, aku benar-benar menyukaimu. Aku tulus mencintaimu,” ujar Shina. Ia sudah mengakui semuanya tadi. Toh, untuk apa menyembunyikan perasaannya lagi?

Namun, lagi, Jungkook tertawa samar. “Sudahlah! Berhenti melontarkan lelucon padaku! Kau tidak benar-benar menyukaiku. Aku tahu itu. Dari pada kau membuang-buang waktumu, kusarankan kau berhenti menyukaiku. Sukai orang lain saja. Taehyung, Junhong, siapa pun!”

“Tapi, aku hanya menyukaimu, Jungkook-ssi.” Sekali lagi Shina berusaha meyakinkan pemuda di dekatnya.

Jungkook mendecih. “Kau tidak mengerti juga, hah!? Aku… tidak menyukaimu! Aku sedikit pun tidak menyukaimu, Oh Shina! Jadi, jangan pernah mengatakan bahwa kau menyukaiku.”

“Tapi—”

“Cukup!” potong Jungkook. “Kita buat kesepakatan saja. Aku akan menganggapmu tidak ada di sekolah ini, begitu pun kau. Anggap aku tidak pernah bersekolah di sini. Setuju, kan?!”

“Aku—”

“Oke! Aku anggap kau setuju!” potong Jungkook cepat. Tidak mau mendengar alasan lagi dari Shina.

Bulir-bulir air mata satu per satu menetes dari kedua mata gadis itu. Membuat pandangannya semakin kabur. Sakit. Tentu saja itu yang ia rasakan saat ini. Bagaimana mungkin ia akan bertindak seolah-olah Jeon Jungkook tidak ada di sekolah ini? Sementara setiap hari, sejak ia bersekolah di sini, hari-harinya telah dipenuhi oleh bayang-bayang Jungkook. Dia… menyukai pemuda itu sejak pertama kali melihatnya. Tapi…

“Hei! Apa yang terjadi di sini? Kenapa Shina menangis?” Taehyung yang baru saja kembali dari kantin tiba-tiba dihadapkan dengan pemandangan Shina yang tengah menangis. Sementara Jungkook yang berada di dekatnya seketika mengalihkan wajahnya dari pandangan Taehyung.

“Jungkook-ah, apa yang terjadi? Kenapa Shina menangis? Kau apakan dia?” tanya Taehyung.

“Tanyakan sendiri pada gadis itu,” sahut Jungkook tanpa nada bersalah sedikit pun, lalu dengan santainya mengayunkan langkah keluar dari UKS.

“Hei! Kau mau kemana?” teriak Taehyung sebelum pemuda itu benar-benar meninggalkannya di tempat ini. Tapi…, Jungkook tidak menggubrisnya sama sekali. Malah keluar dengan santainya dari UKS.

Taehyung bingung, ingin mengejar Jungkook atau membujuk Shina agar menghentikan tangisannya. Ia sempat melihat Shina sejenak, mendapati gadis itu terisak. Tidak lama, ia meletakkan sebotol air di hadapan Shina lantas berkata, “Aku harus bicara dengan Jungkook sebentar. Aku segera kembali.”

Secepat yang ia bisa, Taehyung mengejar Jungkook yang saat ini berjalan menyusuri koridor menuju kelas mereka. Jungkook yang tidak tahu ada Taehyung yang mengejarnya, tetap berjalan santai menuju kelas.

“Hei!” Taehyung meraih bahu kiri Jungkook, menariknya sehingga kini posisi Jungkook berhadapan dengannya. Taehyung bisa melihat tatapan cuek Jungkook.

“Apa?” tanya Jungkook dingin.

“Apa yang kau lakukan pada Shina?”

“Sudah kubilang, tanyakan sendiri padanya.”

“Bagaimana aku bisa menanyakannya kalau gadis itu terus menangis? Sebenarnya apa yang kau katakan padanya?”

“Untuk apa kau tahu? Bukan urusanmu!”

Taehyung mendengus. “Aku tahu ini bukan urusanku. Tapi, kau membuat seorang gadis menangis. Apa kau benar laki-laki?”

“Jaga ucapanmu, Kim Taehyung!” bentak Jungkook. Kilatan emosi tampak jelas pada kedua bola matanya. Tangan kanannya mengepal, menahan emosi.

Bro! Aku tahu kau selalu bersikap dingin pada gadis manapun yang mendekatimu. Tapi, kali ini aku tahu kau sudah cukup keterlaluan.”

“Lalu, maumu apa, hah?”

“Minta maaf padanya!” titah Taehyung.

Jungkook terkekeh. Tidak percaya Taehyung menyuruhnya untuk meminta maaf pada Shina. Menurut Jungkook, dalam kasus ini, ia sama sekali tidak bersalah. Dia hanya meminta Shina untuk berhenti menyukainya dari pada gadis itu harus membuang-buang waktu menyukai pemuda yang tidak akan pernah membalas perasaannya. Bukankah itu baik? Setidaknya, Shina tidak akan merasakan kekecewaan yang lebih besar dari yang ia rasakan saat ini.

“Tidak akan!” tegas Jungkook.

“Kau sudah menyakiti hati seorang perempuan! Kau tahu? Itu pantang dilakukan oleh laki-laki sejati!”

Lagi, Jungkook terkekeh samar. “Sejak kapan kau bicara seperti ini, Kim Taehyung? Hah! Apa yang terjadi padamu? Heran! Shina yang kepalanya terkena bola, tapi kenapa malah otakmu yang bergeser!? Gila!”

Jungkook mendorong Taehyung kasar sehingga pemuda itu mundur beberapa langkah. Lantas, Jungkook beranjak meninggalkan Taehyung. Tidak peduli pemuda berambut light caramel itu terus meneriakkan namanya.

Taehyung sangat menyebalkan hari ini!

@@@@@

“BRUUK!”

Jungkook baru saja tiba di rumahnya. Masuk ke dalam kamar, lalu membuang tas ke atas tempat tidur, namun sayangnya benda itu malah mendarat dengan tidak selamat dan jatuh di atas lantai, di dekat kaki tempat tidur. Sama sekali tidak berniat mengambil tas tersebut, Jungkook dengan kasar menanggalkan blazer kuningnnya, melemparkan benda itu ke sembarang arah. Ia lantas melompat ke atas tempat tidur. Tubuhnya terpantul-pantul pelan saat mendarat dengan selamat di atas benda yang dialasi sprei biru itu.

“Hah~” Jungkook menghela napas.

Menggunakan tangan kanannya menutup dahinya. Pikirannya melayang, mengingat sikapnya hari ini. Terbersit perasaan dimana ia membenarkan ucapan Taehyung. Hari ini ia sudah keterlaluan sehingga menyebabkan seorang gadis menangis. Namun di sisi lain, ia membenarkan tindakannya hari ini. Tindakan yang semata-mata ia lakukan agar gadis bernama Shina tidak merasakan kekecewaan yang lebih besar dari yang ia rasakan saat ini.

Tidak! Tidak! Tidak! Kau tidak keterlaluan, Jungkook. Tindakanmu hari ini benar!

Jungkook berusaha mengelak ucapan Taehyung dan meyakinkan dirinya akan tindakan yang ia lakukan hari ini adalah benar. Toh! Shina hanya buang-buang waktu untuk menyukainya karena sampai kapanpun, Jungkook tidak akan membalas perasaannya. Ya, setidaknya itu yang diyakini Jungkook.

“Hah~”

Pemuda berambut merah marun dengan tubuh yang dibalut kemeja putih itu mengembuskan napas. Hari ini dia benar-benar kelelahan. Lelah dengan masalah Shina, lelah dengan Taehyung yang entah kenapa malah membela Shina, juga benar-benar lelah karena… selama satu jam ia terpaksa berdiri di depan kelas setelah tanpa sadar menguap lebar ketika Jung Sonsaengnim menjelaskan pelajaran sejarah.

Pelan-pelan, perasaan lelah itu memaksa Jungkook memejamkan kedua mata elangnya. Ia lelah. Dan yang ia butuhkan saat ini adalah tidur.

@@@@@

Jungkook terbangun dari tidurnya. Kedua matanya mengerjap-ngerjap begitu ia mendapati warna kamarnya telah di dominasi warna merah muda. JELAS, INI BUKAN KAMARNYA!

“Hah? Ini dimana?” kagetnya sembari mengambil posisi duduk. Matanya memandang sekitar. Dinding ruangan, tempat tidur dan selimut, semua benda di dalam ruangan ini penuh dengan warna merah muda.

Tempat ini benar-benar bukan kamarnya.

Bergegas Jungkook turun dari tempat tidur. Kedua irisnya masih memperhatikan sekitar. Tidak ada siapa pun di sini selain dirinya. Jungkook benar-benar tidak tahu dimana ia saat ini. Sedetik kemudian, kedua matanya terpaku pada pintu yang tertutup rapat. Jika ia membuka pintu itu, mungkin saja… ia akan tahu… tempat apa ini.

Pelan-pelan, Jungkook beringsut menuju pintu. Mula-mula, ia merapatkan daun telinganya pada pintu, bermaksud mendengar suara-suara di luar, tapi… ia tidak dapat mendengar apapun. Sunyi sekali di luar. Tangan kanan Jungkook lantas bergerak menyentuh knop pintu berbentuk bundar yang juga berwarna merah muda. Jungkook memutar benda itu ke arah kanan, lantas menarik mundur daun pintu pelan-pelan dan…

“JDUUUT!!!” Seseorang mendorong pintu itu agak kencang, tidak tahu akan keberadaan Jungkook di belakang pintu. Kepala Jungkook sukses terbentur akibat perbuatan orang itu.

“HEI! APA-APAAN—” Jungkook hendak menegur orang yang membuat dahinya sedikit benjol, namun seketika ia mengurungkan niatnya begitu melihat seorang pemuda yang nampak lebih tua darinya mengenakan kemeja berwarna merah muda, juga celana berwarna merah muda. Aneh! Namun keanehan itu semakin bertambah ketika Jungkook menyadari bahwa… di balik punggung pemuda itu ada sepasang sayap yang juga berwarna merah muda dan di kepala pemuda itu ada sepasang antena yang di ujungnya berbentuk hati.

“Kau sudah bangun rupanya,” ujar si pemuda itu.

Jungkook mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Memukul-mukul pipinya. Ini pasti mimpi! Ini pasti mimpi!

“Hei! Manusia bodoh! Kenapa menyakiti dirimu seperti itu, hah?” tegur si pemuda berbaju merah muda itu.

“Kau siapa, hah? Dimana aku?” tanya Jungkook bingung. Menatap pemuda yang memiliki lensa mata berwarna merah muda itu.

Pemuda berbaju merah muda itu mendengus. “Panggil aku Jin. Aku anak buah dari Dewi Venus. Saat ini kau berada di istana Dewi Venus.”

Dewi Venus?

Anak buah?

Istana?

Oke! Ini benar-benar mimpi yang sangat aneh! Aneh sekali. Jungkook harus segera bangun sebelum mimpi aneh ini berlanjut. Sekali lagi Jungkook memukul-mukul pipinya, berusaha untuk segera bangun. Tapi…, kenapa ia tidak juga bangun?!

“Berhentilah melakukan tindakan bodoh itu, Manusia! Kau kira kau sedang bermimpi? Haha… kau sama sekali tidak bermimpi! Ini semua nyata,” ujar Jin.

“Tidak mungkin!” elak Jungkook. “Ini pasti mimpi. Mana mungkin aku berada di istana dewi jika aku tidak sedang bermimpi? Kau pasti mengerjaiku, iya, kan? Haha! Sayang sekali, april mop sudah lewat! Kau terlambat!”

“Haha!” Jin pura-pura tertawa. “Sayang sekali kau salah besar, Manusia! Ini semua benar-benar nyata. Bukan mimpi!”

Jungkook membulatkan kedua matanya begitu mendengar pernyataan Jin. “Kau pasti bohong! Ini pasti mimpi! Ini pasti mimpi! Ini pasti mimpi!” Ia terus mengucapkan kalimat itu dan tanpa sadar hendak berlari keluar dari ruangan, tetapi… ia seketika berhenti di ambang pintu begitu sepasang mata miliknya melihat sesuatu yang lebih aneh lagi.

Di hadapannya, di luar ruangan, orang-orang—atau sebaiknya aku sebut makhluk asing berpakaian merah muda berlalu lalang di hadapan Jungkook. Suasananya terlihat seperti kantor dengan makhluk asing yang sibuk melakukan sesuatu. Anehnya, mereka semua memiliki sayap di punggung dan juga sepasang antenna di kepala. Sama seperti makhluk asing bernama Jin yang berada di dekatnya.

“Yang kau lihat adalah para Cupid, anak buah Dewi Venus,” jelas Jin tanpa diminta.

Jungkook menoleh ke arah pemuda itu. “Jadi…, ini benar-benar nyata? Bukan mimpi?”

“Tentu saja! Harus berapa kali aku katakan padamu bahwa yang kau lihat ini adalah nyata?!”

Jungkook terdiam. Otaknya berusaha keras menerima semua keanehan di tempat ini sebagai sesuatu yang nyata. Namun, tetap saja ada sisi lain dari dirinya yang mengatakan bahwa ini pasti hanya mimpi dan secara aneh, benar-benar terasa nyata.

“Kau di sini karena kau harus menjalani hukuman!” ucap Jin, sukses membuat Jungkook menoleh ke arahnya dengan mata melotot.

“Hu-hukuman? Hukuman apa? Kenapa aku dihukum?” panik Jungkook.

“Ikut aku. Nanti akan aku jelaskan!”

Jin keluar dari ruangan tempat Jungkook berada, diikuti Jungkook yang berjalan di belakangnya. Pemuda itu tidak henti-hentinya membiarkan marbel matanya memandangi sekitar. Melihat makhluk-makhluk asing yang terlihat seperti manusia-merah-muda-bersayap. Beberapa di antara makhluk-makhluk asing itu memegang tongkat berwarna merah muda yang diujungnya terdapat bentuk hati. Sibuk mondar-mandir di sekitar Jungkook.

Jin lantas membawa Jungkook memasuki sebuah ruangan yang didalamya terdapat meja kerja berwarna merah muda, lengkap dengan dua buah kursi putar yang lagi-lagi berwarna merah muda. Tidak ada lagi benda lain selain ketiga benda itu di ruangan ini.

“Silakan duduk di kursi ini!” Jin menunjuk sebuah kursi di depan meja, kemudian ia sendiri duduk di kursi yang berada di balik meja.

Jungkook menuruti perkataan Jin.

“Jadi, Jeon Jungkook…” Jungkook kaget karena makhluk asing di hadapannya tahu siapa namanya, “… biar aku jelaskan ini semua terlebih dahulu. Aku tahu kau pasti terkejut, bukan?”

Dengan polosnya, Jungkook mengangguk. Ya, siapa pun pasti akan terkejut jika terbangun di suatu tempat yang dipenuhi dengan warna merah muda, lengkap dengan manusia-merah-muda-bersayap di dalamnya.

“Ini adalah istana Dewi Venus, Dewi Cinta. Tempat segala hal tentang cinta diatur. Dari tempat ini, kau bisa tahu siapa sedang jatuh cinta pada siapa, siapa yang sedang patah hati, siapa yang mencintai dengan tulus, siapa yang hanya memberi cinta palsu dan… siapa yang membenci cinta.”

Jungkook menelan ludah ketika mendengar kalimat terakhir itu keluar dari mulut Jin. Oke. Itu mungkin sindirian untuknya.

“Tempat ini dihuni oleh makhluk sepertiku, para Cupid, anak buah Dewi Venus. Makhluk sepertiku hidup dari kepercayaan manusia akan keajaiban cinta. Karena itu, setiap hari, makhluk-makhluk sepertiku akan turun ke bumi, menyebarkan virus-virus kasih sayang kepada umat manusia sehingga mereka bisa saling mencintai dan memberi kehidupan kepada kami.”

“Lantas apa hubungannya denganku?” tanya Jungkook, sedikit kesal dengan penjelasan yang entah kapan berakhir.

Jin menunjukkan smirk-nya. “Kau dibawa ke sini karena kau telah membuat seseorang patah hati. Kau membuat seseorang tidak percaya lagi terhadap kekuatan cinta.”

Jungkook menghela napas. Ia tahu siapa yang dimaksud Jin. “Shina?”

“Benar. Gadis bernama Oh Shina itu menjadi salah satu sumber kehidupan kami belakangan ini. Perasaan cinta yang dimilikinya kepada… ya, kau tahu siapa, sangat besar. Tapi sekarang, perasaan itu hancur. Itu artinya kami kehilangan satu sumber kehidupan kami.”

“Apa kau ingin menyuruhku meminta maaf pada Shina?”

Jin menggeleng pelan. “Tidak. Tidak semudah itu, Jeon Jungkook. Kau sudah membuat kami kehilangan sumber kehidupan dan itu artinya, kau harus diberi hukuman!”

“Hukuman apa, eoh? Bekerja sebagai office boy di sini?”

Jin mendengus. “Tempat ini tidak butuh office boy seperti di dunia manusia. Hanya dengan menjentikkan jari, tempat ini bisa bersih dalam sekejap.”

“Baguslah kalau begitu. Tidak bisa kubayangkan aku akan memakai baju berwarna merah muda sambil memegang alat pel yang juga berwarna merah muda. Haha!”

“Jangan tertawa!” bentak Jin. “Hukuman untukmu adalah kau harus berhasil menjodohkan 4 pasangan dalam waktu 30 hari!”

Jungkook membulatkan kedua matanya mendengar hukuman itu. Menelan ludah. “Menjodohkan 4 pasangan dalam waktu 30 hari? Kau gila, hah!? Memangnya kau pikir aku siapa? Mak comblang?”

Jin menggeleng pelan. “Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Jungkook berdiri dari duduknya. “Tidak! Tidak akan. Aku tidak mau melakukan tugas ini!”

“Kalau kau menolak itu sama saja kau menyatakan dirimu gagal. Itu artinya, kau akan meninggalkan kehidupanmu sebagai manusia dan tinggal di sini sebagai Cupid.”

Jungkook membulatkan kedua matanya. Tidak bisa ia bayangkan kalau dirinya akan menjadi makhluk asing berwujud manusia bersayap seperti apa yang ada di hadapannya saat ini. Gila! Ini benar-benar mimpi terburuk yang pernah aku alami!

“Bagaimana, Jeon Jungkook? Cepat putuskan! Aku tidak punya banyak waktu.”

Berpikir bahwa semua ini pasti hanyalah mimpi, Jungkook mengangguk. “Baiklah. Aku akan menerima hukuman itu!”

Lebih baik ia berkata itu agar semua mimpi buruk ini segera berakhir. Dan setelahnya, ia akan bangun dan mendapati dirinya berada di kamarnya kembali. Ya, pasti akan seperti itu. Jungkook yakin akan pikirannya.

Ini hanya mimpi buruk. Mimpi terburuk yang pernah aku rasakan!

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Fanfiction Side

 

A/N2: Annnyeong ^^/

Balik lagi dengan FF baru dengan cast utama brondong kesayangan saya, Jungkook… muehehehe😀 Tapi tenang aja, semua member BTS main kok di FF ini. Mereka bakal muncul seiring dengan jalannya cerita😀 Untuk sekarang sih, aku mau lihat respon dari reader dulu. Kalo responnya bagus, aku bakal lanjutin nge-post FF ini. Jadi…, mau dilanjut, gak, nih? Comment juseyo~~~

16 thoughts on “30 DAYS CUPID [Prolog]

  1. Dilanjut aja dong, seru & menarik nih ff nya^^
    Penasaran gimana jungkook ngejalanin hukumannya, dan siapa aja yg bakal dipasangin ><
    Lanjut juseyo~
    Btw, tbc nya lol!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s