When I Become A Shadow

Poster ff When I become a Shadow

A fanfiction by

astriadhima

(http://astriadhima.wordpress.com/)

When I Become a

Shadow

 

Cast (s):

Park Sojin [Girl’s Day], Lee Jongsuk

Length : Oneshot (3500+ word)

Genre : Surealism, Family, Angst, Life, slight! Horror

Rating : PG – 15

Summary : Ketika aku hanya akan menjadi bayangan. Saat semua benda itu menembusku. Apa yang harus aku lakukan? Menunggu pria itu merenggut nyawaku.

 

“Kau Sojin kan? Dimana Sojin?”

Aku menutup kedua telingaku karena Bibi gila itu — Tetanggaku — terus-terus mengetuk pintu rumahku sambil berteriak. Setiap sore, setelah aku pulang dia selalu mendatangi rumahku dan berteriak. Entah apa maksudnya, aku sudah bosan mendengar suara seraknya. Aku meraih vas bunga disamping sofa dan melemparnya asal. Aku tak peduli kapan aku membelinya, yang jelas suara PRANG itu sukses membuat Bibi itu berlari ketakutan.

Lampu diruangan seluas empat kali lapangan tenis ini sengaja tak ku hidupkan. Biarkan temaramnya menemani malamku yang hambar. Di ujung ruangan, botol-botol hijau Soju berjajar rapi dengan gelas-gelas kecil disampingnya. Aku meraih satu. Menuangkan secuil isinya kedalam gelas berukuran sepuluh senti itu. Meneguknya, merasakan rasa manis bercampur keras menyentuh ujung lidahku.

“Aku benci Tae Woon. Jung Tae Woon kau tak pernah membiarkanku istirahat.” Racauku tak jelas. Mungkin zat-zat yang ada didalam Soju itu sedang bekerja. Merenggut sisa-sisa kesadaranku. Aku tak tahan dengan pekerjaanku. Dua tahun terakhir aku bekerja di sebuah agen mata-mata negara ini. Agak tersembunyi memang, bahkan pun aku melamar pekerjaan ini karena temanku yang juga bekerja di tempat yang sama. Bosku —Tae Woon— selalu menyuruhku bekerja hingga larut malam. Membobol website vital atau memalsu surat-surat harus kulakukan setiap harinya. Terkadang aku juga turut andil dalam pemboman suatu gedung demi membongkar kegiatan tikus-tikus negara. Agak keras memang, untuk wanita sepertiku. Bahkan aku sudah lupa bagaimana memoles wajahku dengan racun warna-warni atau yang sering kau sebut dengan kosmetik. Aku sudah lupa, lupa hingga mataku kini dihiasi lingkaran gelap disekelilingnya. Aku jarang tidur.

Aku memijit pelipisku dengan ujung jari. Beberapa hari ini kepalaku sering berkedut. Sakit sekali dan aku tak tahu penyebabnya. Kolega ku sempat memberiku obat sakit kepala, tetapi tetap saja. Hingga kini rasa sakit itu menghampiriku lagi. Otakku serasa berputar didalamnya. Bergerak ke kanan dan kiri di dalam tempurung kepalaku. Aku tak tahan. Aku mengerang kesakitan sambil memegangi kepalaku. Dan tak sengaja gelas Soju itu terjatuh dan menggores kulit ari kakiku. “Aku benci Soju!”

Aku terlelap. Seingatku setelah aku merasakan sakit yang amat sangat, aku tertidur di sofa. Namun, seperti alkohol yang menguap di udara, rasa sakit itu hilang. Tanpa bekas hingga aku tak bisa merasakan denyutan kecil yang ada di dasar otakku. Aku serasa ringan.

“Sojin, taruh baki ini ke pelanggan.”

Aku tersentak. Seorang Bibi tiba-tiba menyodorkanku sebuah baki berisi 2 botol hijau seukuran dua puluh senti dan beberapa gelas kecil disampingnya. Aku tercekat, sekali lagi aku merasa ringan. Tempatku berubah. Kursi-kursi plastik serta meja-meja lipat berjajar rapi didepanku. Juga terpal yang mulai berlubang pinggirnya menutupi tempat ini dari dunia luar. Mataku beredar, seorang pria gemuk sedang menghitung uangnya ditemani hembusan kipas angin yang mulai tua besi-besinya.

“Sojin?”

“Iya?”

“Pelanggan kita menunggu.”

Kita? Sejak kapan dia oh maksudku kami membuka kedai pinggir jalan macam ini. Seingatku aku tak pandai berbisnis, pun juga aku termasuk orang Introvert. Aku lebih asyik dengan duniaku senidri ketimbang bertukar kata dengan orang lain.

“Oh ya, akan ku berikan.” Tanpa pikir panjang aku langsung membawa nampan itu ke sebuah meja pelanggan disudut. Mungkin dia adalah pelanggan terakhir kami. Mengingat langit diatasku mulai menggelap, setidaknya itu yang aku lihat sekarang. Pria itu duduk termangu dengan tatapannya yang terlihat menerawang. Jika aku boleh tebak, kini berbagai masalah tampak berputar-putar di dalam pikirannya. Ia mengenakan setelan hitam, juga kancing jas nya yang tak saling terkait satu sama lain makin mengisyaratkan bagaimana masalahnya kali itu. Sorot matanya, oh aku berani bertaruh, ia punya mata paling indah didunia. Umurnya? Mungkin sekitar dua puluh lima tahun. Tunggu, aku merasa diriku lebih rendah dari sebelumnya. Maksudku, tinggiku sedikit menyusut sepuluh senti dari biasanya. Dan ya tanganku juga kelihatan lebih ramping dan…. Muda

“Selamat malam. Maaf menunggu lama. Ini pesanan anda.” Aku mencoba memberi sapaan senormal mungkin. Aku tak pernah menyapa pelanggan sebelumnya, dan kurasa kata-kata itu sudah cukup sopan untuk pemula sepertiku. Pemuda itu terlihat tenang meski aku yakin ia menyadari keadaanku. Dan ya benda yang ada di dalam rongga dadaku berdesir aneh.

“Sojin!” teriak seorang wanita yang kurasa pernah memanggilku beberapa menit yang lalu. “Kemana kau taruh nampan Soju tadi?”

“Pelanggan kita masih menunggu.”

Aku tertegun. Baru saja aku meletakkan baki itu ke meja si Pemuda sebelum Bibi aneh itu berteriak. Dan sialnya, kenapa pemuda ini tak berkutik sama sekali. Sosok Bibi itu kudapati tengah melambai-lambai ke arahku. Tatapannya terlihat sedikit khawatir. Disampingnya seorang pria paruh baya sedang membentak-bentaknya. “Mana Soju-ku? Aku sudah menunggu lama.”

Kau tak tahu bagaimana terkejutnya aku tatkala menyadari sosok si Pemuda yang tak lagi duduk manis di bangkunya. Aku berani bersumpah, satu menit ah bahkan satu detik yang lalu ia masih duduk disini. Di tempat duduk yang ku tunjuk ini. Siapa yang bisa menjelaskannya?

Dia menghilang.

Aku benci Soju

“Sojin, Apa kau bisa mendengarku?”

Suara yang berasal dari walky-talky yang ada di tanganku sukses membuatku tersadar. Kepalaku hampir saja membentur tembok jika saja aku tak merunduk. Aku menelan ludah. Ruangan yang kupijaki kali ini benar-benar sempit. Aku juga tak ingat bagaimana caraku masuk.

“Siaga kamera satu.” Teriak seseorang lagi. Aku baru menyadari bahwa didepanku terdapat sebuah kamera kecil —seukuran kotak pensil— yang sedang mengarah ke sebuah ruangan. Aku bisa melihat jelas, disana seorang pria berbadan gemuk dan berkumis sedang riang berbincang dengan seseorang lain yang mengenakan setelan abu-abu. Ruangan kantor rupanya. Dan aku baru menyadari bahwa ruang yang ku tempati kali ini adalah atap yang aku tidak tahu mengapa bisa menjadi tempat tersembunyi seperti ini.

“Dalam hitungan ke tiga kau harus menekan tombol merah.”

Merah? Oh ya aku pernah melakukan ini sebelumnya. Melakukan pemboman sebuah gedung gembong koruptor. Aku menyukainya. Aku hanya akan mengawasi mereka, kemudian saat mereka lengah aku akan menekan tombol warna merah. Dan Bum gedung itu akan porak poranda. Kau tak perlu khawatir dengan keadaanku. Aku pasti sudah memakai pakaian baja sebelum beraksi. Kemudian aku akan berjalan disebuah lorong sempit yang telah disediakan rekanku. Dan seperti sekaran ini. Disamping tubuhku terbentang jalan kecil yang bisa kutebak akan tembus disisi gedung lain. Aku sudah memakai pakaian baja tentunya. Dan aku siap melakukan aksiku. Aku tak sabar.

Tunggu, jika aku tak salah target yang kami incar hanya dua orang. Satunya bernama Kim Tae Hwan dan satunya Park Yo Bam, yang kurasa adalah pria gemuk dan pria bersetelan abu-abu tadi. Itu yang tergambar dalam otakku. Tetapi seseorang lain tiba-tiba muncul disudut ruangan. Ia memakai setelan hitam tanpa mengaitkan kancing-kancingnya.

Dan sorot matanya..

Sebentar, kurasa aku pernah melihatnya. Tapi dimana?

“Tekan sekarang.”

“Tunggu. Ada orang lain dalam ruangan itu.” Aku meraung tak karuan. Tak tahu energi darimana yang menyambar sendi tanganku. Jempolku sudah menekan tombol itu tanpa disuruh.

BUM

Hentakan keras mengguncang gedung itu dan meluluh lantahkannya. Tak kusadari aku berteriak sekencang-kencangnya sambil menutup telingaku.

 

Srek…. Srek…..

Ranting dan daun-daun kering terdengar terinjak oleh segerombolan makhluk yang aku tak tahu namanya. Ruangan di sampingku serasa gelap. Tapi mana temboknya? Aku merasa bahwa aku sedang berada di luar ruangan sekarang. Angin malam yang mulai menggelitik hidungku dan gerak-gerak ranting pohon bisa menjelaskan padaku bahwa saat ini aku sedang berada di alam bebas. Bukannya tadi aku sedang menutup telingaku karena suara bom? Tetapi kenapa tanganku susah sekali terangkat.

Aku merunduk. Aku juga tidak tahu kenapa aku memilih merunduk daripada berjongkok atau berguling. Ya Tuhan! Moncong siapa ini? Indah sekali. Meskipun bibirku sulit tertarik membentuk cekungan senyuman, setidaknya dalam hati aku tersenyum. Sebuah moncong yang aku kira punya seekor rubah tepat berada dihadapanku. Bulu nya putih polos nan halus. Juga hidungnya yang berwarna merah jambu. Oh kau adalah makhluk paling indah di dunia. Aku ingin mengangkat tanganku dan menyentuhnya. Merasakan bagaimana bulu-bulu halus itu menggelitikku. Tetapi apa daya, tanganku terasa berat. Aku merasa seakan aku akan jatuh saat aku mengangkat kedua tanganku. Hei kenapa dia dekat sekali?

Moncong itu hanya berjarak sepuluh senti dengan wajahku, ini terlalu dekat sungguh. Dan yang aneh, mengapa moncongnya sejajar dengan tatapan wajahku?. Bukankah seharusnya moncong itu berada di seberangku?. Ini aneh. Aku mencoba berdiri, dan yah dia juga ikut berdiri. Setelah merasa tinggi tubuhku menyusut sepuluh senti, kali ini aku merasa tubuhku kembali menyusut bahkan berkali-kali lipat. Aku hanya setinggi setengah dari pohon oak, bayangkan.

Ya Tuhan! Aku baru menyadari. Saat aku mencoba melangkah, rubah itu mengikutiku bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Sampai-sampai aku tak bisa melihat kakiku sendiri, hanya kakinya. Ya! Kenapa aku ikut-ikutan berjalan dengan 4 kaki sepertinya.

Eh tunggu..

4 kaki? Lalu yang mana kakiku?

Ooh aku seekor rubah rupanya.

“Bunuh dia Sojin. Bunuh lelaki jalang itu.” Suara seseorang lamat-lamat tertangkap oleh indraku. Saat aku membuka mata, jajaran pohon oak yang menyejukkan berubah menjadi pusat kota yang ramai dan pengap. Aku sedang berdiri di tengah jalan. Ini benar-benar tepat di tengah jalan. Mobil-mobil telah berhenti dan berjajar sembarangan di depan dan belakangku. Juga klakson mereka yang bersahut-sahutan membuat telingaku ngilu. Dihadapanku seorang lelaki yang kurasa berumur empat puluh lima tahun keatas memelas meminta maaf padaku. Dari dahi dan tangannya darah segar mengucur dengan derasnya. Apa dia sedang sekarat?

Hei benda apa ini?. Tanganku teracung membentuk 180 derajat tepat ke ulu hati lelaki tersebut. Tentu saja dilengkapi dengan sebuah benda dengan pelatuk. Eh ini kan pistol Glock seri 19, ini adalah benda keinginanku. Tetapi kenapa aku harus mengacungkannya pada lelaki tak berdosa ini.

“Jangan banyak pikir, Sojin. Bunuh saja dia. Tarik pelatukmu!.” Aku menoleh, mencari sumber suara yang asing bagiku. Disana seorang perempuan berkulit putih susu berteriak histeris kearahku. Tas belanjanya bergerak kesana-kemari di tangannya. Ia terus meneriaki kata Bunuh dia kepadaku. “Nona Yura, anda harus tenang.” Seseorang menahan wanita itu agar tak memberingas. Yura? Aku pernah mendengarnya sebelum ini. Apa dia Kim Yura? Tetanggaku? Bibi gila itu?

Aku masih tak habis pikir. Bibi gila itu terlihat masih muda saat ini, aku berani bersumpah jika beberapa jam yang lalu ia sudah keriput. Bahkan rambutnya telah tertutup uban. Minum apa hingga ia bisa muda lagi seperti ini?

Seseorang menarik-narik kakiku hingga aku merasakan cairan basah merembes di sela-sela kaos kakiku. Dan kurasa saat itu aku sedang memakai seragam sekolah. Lelaki tadi memohon-mohon padaku “Jangan bunuh aku. Aku minta maaf, Sojin-ssi.” Katanya diselipi dengan isakan. Meskipun aku terkesan penyendiri dan anti sosial setidaknya aku tak tega melihat seseorang menangis. Entah tak tega ataupun benci, yang jelas aku tak menyukainya. Lelaki itu masih tak mau memandangku. Mungkin ia takut karena benda ini masih teracung ke arahnya. Lalu aku mencoba menurunkannya, menyimpannya dibalik tubuhku. Aku mencoba berjongkok, menyejajarkan parasku terhadapnya. Aku tak yakin ia masih punya banyak darah yang cukup untuk fungsi dalam tubuhnya. Darahnya banyak sekali. Aku ingin muntah. “Tuan. Apa salahmu?” lelaki itu tiba-tiba menatapku dengan ritme cepat. Matanya yang sembab diselilingi darah menatapku dengan tatapan sulit dimengerti. Agaknya ia heran mendapatiku yang 180 derajat berbeda dengan keadaan sekelilingnya. Ugh aku yakin pernah melihat wajah orang ini. Dulu sebelum… Sebelum orang tuaku mencampakanku.

Mataku membulat sempurna. Bukan karena wajah lelaki ini yang terasa familiar, tetapi dia. Dia yang pernah kutemui dengan jas hitam tanpa kancing yang terkait. Kenapa dia juga ada disini?. Bising kota tiba-tiba berhenti. Klakson, teriakan, ejekan dan manusia semua berhenti kecuali aku dan dia. Aku tak turut membeku karena aku yakin sepasang iris kami saling bersirobok. Mengalirkan sinyal-sinyal yang tak kumengerti. Aku bangkit, kemudian menatapnya lebih intens. Dia berjalan kearahku. Darah yang ada di serambi kananku berdesir lagi, bukan tanda saat kau menemui kakak kelasmu yang sangat tampan, ini seperti kau akan bertemu dengan… Ehm semacam ketakutan yang tiada tara.

“Kau tak pernah sebaik ini, Sojin?”

Apa? Dia mengenalku? Dia menyebut namaku?. Kapan kita pernah bertukar nama? Ataupun berjabat tangan?

Diruangan serba putih itu aku berlari tergesa-gesa. Entah karena apa, aku hanya ingin berlari. Hingga diujung lorong, sebuah ruangan pasien menyita perhatianku. Disana tertulis “Nyonya Kim Sokyung”. Tanpa berfikir panjang aku langsung memutar kenopnya. Tempat tidur rumah sakit serta kelambu berwarna tosca tertangkap oleh irisku. Disana, di tempat tidur itu, seorang wanita paruh baya tengah menunduk sedih dengan tabung oksigen besar disampingnya. Demi Tuhan, aku ingin menangis sekarang juga. Aku berlari kearahnya. Sebelum aku mendekatinya, aku terdiam beberapa sekon. Memastikan bahwa garis wajah itu tetap sama. Sama sperti dua puluh tujuh tahun yang lalu. Seperti menyadari kehadiranku, wanita itu bangkit dari tempat tidurnya. Ia mencoba melebarkan matanya, mengedarkan pandangannya liar. Ia seperti mencari sosok ku. Ia meraba-raba nakas kecil disamping tempat tidurnya, mencari sebuah benda —tongkat. Ya Tuhan, ia buta. Ia mencoba berjalan kearahku. Tongkatnya bergerak beringas, tak sabar ingin meraihku. Perlahan bulir-bulir bening mulai turun dari sepasang iris rusaknya. Tanganku terangkat, mencoba menghapus bulir itu. Aku terkejut bukan kepalang, bersamaan dengan air mataku yang terjatuh, tanganku menembus wajahnya. Aku tak bisa menyentuhnya. Napasku serasa berhenti di kerongkongan. Alveolus ku tak bekerja, aku tak bisa bernafas. Aku hanya tersedu kecil menatapi maniknya yang kini makin deras kucuran air matanya. Juga garis-garis keriput yang mulai jelas adanya. Mana Kim Sokyung yang dulu? Kim Sokyung yang pandai bersolek dan cantik. Kenapa kau menjadi sejelek ini. Aku tak bisa menahan air mataku. Sesekali aku mencoba menyentuhnya lagi, tetap saja tangaku tembus.

“Sojin.”

Aku tercekat. Bahkan disaat aku tak bisa dilihatnya, ia masih bisa merasakan kehadiranku. Ironi memang, jikalaupun aku bisa menyentuhnya ia tak akan pernah bisa melihatku. Kita impas kan, aku memandangnya tanpa menyentuh dan ia merasakan getaran jiwaku.

“Kau ada disini kan, Nak?”

Air mataku makin deras saja saat wanita itu berujar demikian. Aku meremas tanganku hingga buku jarinya memutih. Aku kesal, kenapa aku tak bisa menyentuhnya.

“Ibu, aku ada disini. Apa ibu bisa merasakannya? Pegang disini, Bu.” Racauku ditengah sesenggukan yang semakin menjadi. Ia semakin liar menggerakkan tongkatnya. “Aku ingin melihatmu, Nak. Kemarilah.” Sesuai dengan perintahnya, aku mendekat hingga jarak kami hanya berbeda setengah meter. Aku tak bisa merasakan deru napasnya, sialnya saat ini aku berharap bahwa deru nafas kami saling berbenturan. Setidaknya sebagai tanda bahwa kami telah bertemu. Malah, sosoknya menembusku saat ia mencoba mendekatiku. Kami bersingkuran. Tetap dengan guraian air mata yang tak terbendung. Aku limbung, jatuh tersungkur di lantai. Aku tak kuasa menahan tangis. “Aku merindukanmu, Bu.”

Lagi-lagi lelaki berjas hitam itu berada di ruang pandangku. Kali ini ia berada di ranjang ibuku. Duduk santai sambil melipat tangannya. Kali ini tatapannya terlihat kasihan. Ia berjalan kearahku saat menyadari aku mengawasinya. Ia mengulurkan tangannya. Aku tak yakin, aku tak bisa menyentuh apapun disini.

“Kau bisa.” Seperti ia bisa membaca pikiranku, ia menarik tanganku asal dan aku berdiri dibuatnya. Air mataku telah berhenti, digantikan dengan serentetan pertanyaan yang tak akan habis kutanyakan. “Siapa kau?” aku berteriak. Dan dia hanya menatapku dengan tatapan yang selalu kudapati sebelum-sebelumnya.

“Scheduler.”

“Kau harus tetap disini ya. Jangan keluar rumah. Tunggu ibu kembali.”

“Baik, Umma.”

Aku melihat seorang anak kecil seusia enam tahun sedang dielus sayang oleh seorang wanita, aku rasa dia ibunya. Di tengah senja yang menyejukkan, memandang pemandangan seperti ini adalah yang terindah di dunia. Melihat seorang ibu yang sedang mengelus sayang putri bungsunya tanpa ada luka didalamnya. Itu impian Sojin sejak lama.

Umma mau kemana?”

Umma harus menyelesaikan beberapa urusan. Kau harus menunggu ya?”

“Apa aku tak boleh ikut?”

“Jangan, Nak. Ini terlalu berbahaya.”

“Bahaya itu apa, Bu?”

“Bahaya itu adalah saat ibu tidak bisa pulang. Tidak bisa membacakan dongeng untuk Sojin, menata rambut Sojin dan mengelus kepala Sojin. Sojin ingin ibu pulang kan?”

Sojin?

“Tentu saja. Aku ingin ibu pulang dan mengelus kepalaku. Seperti saat ini.”

“Oleh karena itu, Sojin harus menunggu ibu.”

Tawa renyah gadis kecil itu menggema di telingaku. Kenapa nama kami sama. Dia Sojin dan aku Sojin. Bahkan aku pernah punya gaun tidur seperti itu saat aku kecil.

“Nak, ibu harus pergi sekarang.” Kata-kata ibunya hanya disambut dengan dehaman pelan dari Sojin kecil. Matanya terpejam, menikmati sentuhan terakhir sebelum ibunya pergi. Dan saat itu juga tautan tangan mereka terlepas. Tak lupa kecupan di dahi Sojin sebagai tanda sayang sekaligus perpisahan yang menyejukkan.

“Sampai jumpa. Kamu harus terus menunggu ibu.” Lambaian tangan sang ibu memancing air mata di kedua iris cokelat itu. Begitu juga denganku, aku merasakan bulir-bulir air mata Sojin kecil juga tersalur kepadaku. Jika aku bukan bayangan seperti ini, aku ingin memeluknya. Memeluk Sojin kecil dan menghapus air matanya. Aku tak ingin ia menangis lagi. Aku benci seseorang yang menangis. Aku sudah sering menangis.

Kemudian sepasang kaki kecil itu berlari kearah beranda rumah. Aku mengikutinya. Sojin kecil menatap mobil hitam yang membawa ibunya pergi. Beriringan dengan cakrawala yang mulai menggelap, hati Sojin kecil turut menggelap. Air matanya semakin deras terkucur. Tetapi ia tidak tersedu, ia tak ingin menangisi kepergian ibunya. Bukannya ia akan kembali suatu hari nanti.

Sojin duduk di beranda rumahnya. Bersiul riang dan mengambil sebuah batu lalu melemparkannya asal, sekedar melawan gundah disela-sela penantiannya. Hingga langit gelap sempurna, ia masih terus menunggu. Air matanya sudah kering. Kini celoteh dari mulut kecilnya mengisi kesenjangan malam itu diantara Sojin kecil dan aku. Aku menekuk lutut disudut beranda rumah mereka. Menemani Sojin ditengah penantiannya. Aku menghela nafas. Kenapa aku merasa bahwa peristiwa yang dialami Sojin kecil pernah terjadi padaku juga?

Tetapi sayangnya, ibu tak kembali untukku.

Penantiannya tak berujung. Hingga kudapati ia sudah terlelap dengan posisi berbaring yang lucu. Dengkuran halusnya memancingku untuk tersenyum. Ingin aku membelai surainya. Aku ingin menggantikan ibunya. Aku akan membacakanmu dongeng, mengikat rambutmu, dan mengelus puncak kepalamu. Itupun jika aku bisa.

Tepukan ringan mendarat di bahuku hingga membuatku terlonjak. Aku menoleh, mendapati pemuda berjas hitam itu lagi. Aku hampir bosan melihatnya. Dan terlintas sedikit rindu pada Tae Woon, mendengar ocehannya yang tiada akhir lebih baik daripada harus menghadapi pemuda macam dia. Kini ia menatapku tanpa berkedip.

“Ada apa denganmu Tuan?”

Sapaanku hanya dibalas gidikan yang kurasa bermaksud mengejek. Ia melipat tangannya di dada. Lalu ia tertawa. Apa lucunya memang. Cih.

“Sudah puas melihat masa lalumu, Sojin?” Alisku bertaut. Apa maksudnya ini? Taukah kau hei pemuda, ini sangat tidak lucu. “Pembual.” Aku berteriak. Ia tertawa sengau menampilkan deretan giginya yang terjalin rapi. “Bagaimana aku bisa membohongimu jika kau sendiri berkata demikian?”

Aku semakin tak mengerti. Jujur saja aku memang merasa begitu. Aku merasa semua ini adalah benar. Semua pernah terjadi kepadaku. Tetapi apa benar ini semua masa laluku. Lalu untuk apa aku melihatnya?

“Kenapa aku harus melihat masa laluku kembali?”

“Sudah pernah kukatakan padamu kan? Aku scheduler.”

Scheduler, apa itu?”

“Penjadwal. Penjadwal kematian.”

Apa maksutmu? Kau semakin bodoh saja. Ternyata tak semua lelaki tampan itu normal. Lihat orang ini, berpenampilan keren tetapi mengatakan hal bodoh. ‘Aku tak percaya.”

Ia berdecak pelan. “Bagaimana kau bisa menyentuhku sedangkan kau tak bisa menyentuh apapun?”

Aku tercenung. Selama ini saat aku mencoba menyentuh barang-barang yang ada disekitarku, selalu gagal. Tanganku menembus begitu saja tanpa aku tahu apa sebabnya. Hei tetapi apa aku harus mati sekarang?

“Lalu apa kau akan menjemput nyawaku sekarang?” aku mencoba menantang. Mengangkat wajahku hingga aku merasa bahwa ia sedikit tersentak dengan ekspresiku.

“Beberapa menit lagi.”

“Apa?” spontan aku mendelik. Mana mungkin aku bisa meninggalkan duniaku, Ehm maksudku pekerjaanku. Tae Woon baru saja menugasiku memalsu beberapa proposal..

“Bagaimana dengan pekerjaanku?”

“Manusia tak akan membebankan pekerjaannya pada orang mati.”

Tidak. Tidak. Aku menutup telingaku. Menutup segala kemungkinan yang akan ia utrarakan padaku. ‘Pergi. Pergi dari sini. Aku tak ingin melihatmu.”

“Apa kau takut kematian, Sojin?”

Tidak. Tidak. Aku tak takut mati. Hanya aku belum siap. Aku belum siap meninggalkan dunia ini. Masih banyak yang harus kukerjakan. Pekerjaan dan mencari ibuku. Mencari ibuku?

“Tunggu. Lalu apa benar wanita yang ada dirumah sakit itu adalah ibuku?”

“Ya.” Ia langsung menjawab pertanyaanku. Dan jawabannya sukses membuatku mati kutu. Jadi selama ini ia masih hidup, terdampar di sebuah rumah sakit dan buta.

“Bukankah kau ingin bertemu dengannya, Sojin?”

“Tetapi bukan dengan cara seperti ini.” Aku mengerang kesal. Ingin aku memukul pemuda ini sejadi-jadinya. “Tetapi tidak ada cara lagi. Waktumu sudah habis.” Mataku mebulat sempurna. Mendengar kata-katanya serasa menancapkan duri di jantungku sendiri. “Tidak. Pergi menjauh dariku.”

“Tenang saja. Di kehidupan selanjutnya kau akan menjadi rubah. Sesuai dengan keinginanmu kan?”

“Bahkan kau pernah mencoba sebelumnya.”

Duniaku semakin menggila. Ini seperti aku ingin terjun dari lantai dua puluh lima, lalu memakan jariku sendiri. Jadi.. rubah itu benar-benar diriku? Reinkarnasiku akan menjadi rubah. Jangan konyol. Pemuda ini semakin tidak waras saja.

Tanpa kusadari sebuah kotak seukuran tinggiku berada tepat setengah meter di hadapanku. Pintunya terbuka. Mengepulkan asap putih dari dindingnya yang berlapis beludru.

“Kim Sojin, meninggal dengan tenang tepat pukul 1 dini hari. Aku menunduk kepadamu sebagai rasa hormat.” Pemuda itu menunduk sembilan puluh derajat kearahku. Hei kenapa kau mengatakan bahwa aku sudah meninggal. Lalu benda apa ini. “Silahkan masuk.” Pemuda itu mengacungkan jarinya mengisyaratkan aku untuk memasuki benda itu. Yang benar saja.

Beberapa makhluk tiba-tiba keluar dari kotak itu. Kurasa ada 4. Tingginya sekitar satu setengah diriku. Juga, sayapnya yang kuarasa dua meter lebarnya. Mereka putih dan sangat halus. Uh-Oh apakah ini yang dimaksud malaikat?. Lalu sesuatu yang berasal dari badan mereka terjulur. Seperti sebuah tangan namun terbuat dari cahaya. Sangat silau hingga aku ingin menutup mataku. Dan tak tahu mengapa aku meraihnya. Seperti sergapan es, tangan cahaya itu membelit pergelangan tanganku hingga aku merasakan getaran halus yang menenangkan. Mereka menuntunku memasuki kotak. Melebarkan sayapnya agar aku merasa nyaman.

“Hari ini Scheduler Lee Jongsuk telah selesai melaksanakan tugas.”

Sekarang aku berada di kotak sempit itu. Dindingnya yang berbalut beludru membuatku sangat nyaman. Mataku terasa berat, aku ingin terpejam. Entah kekuatan darimana, setelah bergumul dengan rasa tidak percayaku aku lebih memilih untuk mengalah. Mengalah akan ego yang telah merampas separuh hidupku selama ini. Pandanganku kabur. Hanya kegelapan yang mulai menggantikan ruang lihatku. Dan kotak ini tertutup lalu bergerak.

Aku menutup mataku.

Dimana aku sekarang?

 

End.

End? iya emang endingnya kayak gini dan aku gak tau ini ending enaknya dibawa kemana. Buat yang pertama kali baca sureal, selamat berbingung-bingung guys. Aku ngucapin beribu makasih buat kalian yang udah mencapai footnote ga penting ini Kyak~😀

FF ini sekaligus jadi comeback aku setelah UKK kemaren, meski ff ini gak fresh (pernah aku ikutin event) semoga bisa ngehibur ya dikit-dikit. Juga aku mau promosiin projek aku yang saat ini masih dalam proses pembuatan. Judul projeknya “Another Fairy Tales”  kok aneh ya? Nanti disini aku bakalan bikin 3 ff (itupun kalo gak ada perubahan) yang bertema sisi lain dari dongeng (?) apasih. Yang jelas disini aku bakalan bikin fic yang jauh dari kata manis. Seperti dongeng putri salju, udah tau dong ya cerita putri salju itu yang kayak gimana. Nah di projek aku bakalan nyeritain putri salju di versi yang lain. Alias versi asli. Loh emang ada ya versi asli? Pasti ada, makanya tungguin ya projek aku dan semoga cepet kelar😀😀

Semoga terhibur

6 thoughts on “When I Become A Shadow

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s