[FF Freelance] Our Little Promise – Cold Night (Chapter 6)

Sulli_Choi_424

Title                 :           Our Little Promise : Cold Night

Author            :           Red Rose

Length             :           Chaptered

Rating              :           PG-15

Genre               :           Romance, Angst, Hurt

Main Cast       :           Jung Soo Jung & Kim Jong In

Other Cast      :           Jung Soo Yeon, Song Qian, & Choi Jin Ri

Previous          :          Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4, Chapter 5,

Credit Poster   :          Taken from Google

Disclaimer      :           The story is mine. Read it and give me some advice about my story.

 

 

 

Kali pertama Jin Ri bertemu dengan Jong In ketika mereka berdua dipasangkan untuk membawakan iklan sebuah produk makanan. Ini bukan hal baru bagi Jin Ri yang selama karirnya di dunia seni, Jin Ri sudah banyak memegang puluhan job iklan yang memilih dirinya sebagai brand ambassador produk tersebut.

Hanya saja kali ini sedikit berbeda. Untuk pertama kalinya Jin Ri bekerja sama dengan seorang pendatang baru seperti Jong In. Awalnya Jin Ri berpikir pasti akan mengalami sedikit kesulitan beradu dengan lawan mainnya yang terbilang masih baru itu. Jin Ri berpikir akan sulit bagi laki-laki itu untuk membintangi iklan pertamanya.

Jin Ri adalah seorang gadis yang besar dikalangan berada dan memutuskan untuk meniti karirnya di dunia seni sejak usianya yang terbilang masih belia-tujuh tahun-ketimbang belajar untuk menjadi penerus usaha keluarganya.

Orangtuanya tidak mempermasalahkan keinginan Jin Ri tersebut. Ya, Jin Ri bisa bernafas lega karena dia mendapatkan restu dari kedua orangtuanya kalau tidak karena dirinya masih memiliki seorang adik laki-laki yang hanya terpaut dua tahun lebih muda dari dirinya. Setidaknya masih ada penerus usaha keluarganya.

Perjalanan karir Jin Ri di dunia akting dan model sudah sangat lama dan itu membuat orang-orang yang besar di dunia itu tidak meragukan lagi kemampuan dari seorang anak kecil yang sekarang sudah bertransformasi menjadi seorang gadis belia yang cantik.

Sudah banyak  film dan drama yang Jin Ri bintangi, mulai dari hanya menjadi seorang peran pembantu-atau populer dengan sebutan cameo di Korea-sampai dirinya dipercayakan untuk menjadi bintang utamanya. Segala bentuk peran sudah pernah Jin Ri rasakan. Protagonis, anatagonis, seorang psikopat, pembunuh bayaran, bahkan orang yang mengalami gangguan jiwa sekalipun sudah pernah Jin Ri mainkan.

Dan kali ini Jin Ri salah memperkirakan apa yang akan terjadi dengan artis baru yang dipasangkan dengan dirinya.

Jong In melakukan semuanya dengan baik seakan-akan laki-laki itu sudah lama berkiprah di dunia seni jurusan akting tersebut. Malah Jin Ri sendiri yang terlihat seperti anak kemarin sore saat proses pengambilan gambar berlangsung.

Jin Ri tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Hanya saja satu-satunya alasan yang terlintas dipikiran Jin Ri saat dicecar dengan pertanyaan mengapa dan apa adalah dirinya sedang tidak dalam kondisi yang baik.

Hal ini membuat manager dan asisten Jin Ri dihadiahi sebuah pidato singkat dari sang penanggung jawab dalam pembuatan iklan tersebut. Dan Jin Ri menyesal telah berbohong saat itu.

Selama proses syuting berlangsung, Jin Ri tidak pernah sedetikpun berada jauh dengan Jong In. Mungkin jarak terjauh antara mereka hanyalah ketika sutradara iklan tersebut berada ditengah-tengah mereka untuk memberikan arahan bagi mereka berdua.

Dan selama itu juga tidak ada percakapan yang terjadi antara Jin Ri dan Jong In. Jin Ri sedikit kecewa mengetahui bahwa ternyata Jong In bukanlah sosok yang banyak bicara, tidak seperti Park Chan Yeol-lawan mainnya dulu saat Jin Ri membintangi iklan baju dan sepatu-yang terlalu hiperaktif dengan berbicara tanpa henti sampai-sampai laki-laki itu harus dijauhkan secara paksa dari Jin Ri oleh kru-kru yang lain karena terlalu, ya berisik.

Jong In sangat berbeda. Laki-laki itu tidak banyak bicara. Mereka hanya bertukar pandang sebentar lalu melakukan setiap gerakan yang diperlukan. Hanya itu saja. Tidak ada kata ‘hai’ ataupun ‘ehm’ yang keluar dari mulut laki-laki itu. Satu-satunya gerakan diluar kegiatan syuting yang diberikan oleh Jong In hanyalah membungkukkan badannya sebagai ucapan salam perkenalan ketika mereka bertemu di tempat itu.

Sebuah pikiran gila muncul di kepala Jin Ri saat itu. Mungkin Jong In tidak bisa bicara pikirnya. Cepat-cepat Jin Ri menghilangkan pikirannya tentang hal itu. Tidak mungkin Jong In bisa menjadi seorang artis kalau dia tidak bisa berbicara.

Berpikirlah dengan jernih dan masuk akal Jin Ri.

Rasa penasaran Jin Ri baru terjawab setelah sang sutradara meneriakkan kata ‘good job’ yang berarti pekerjaannya hari ini selesai. Bersamaan dengan itu, Jin Ri merasa seseorang berjalan menghampirinya dan berdiri dihadapannya yang saat itu masih duduk untuk melepaskan rasa penatnya.

“Kau pasti menyangka bahwa aku ini seseorang yang tidak bisa bicara bukan?”

Seuntai kalimat yang diucapkan oleh laki-laki itu membuat Jin Ri sontak kaget. Apakah laki-laki itu bisa membaca pikirannya tadi? Apakah laki-laki yang berada dihadapannya itu adalah seorang peramal.

“Kau bilang apa?”

Lagi-lagi Jin Ri terkejut. Laki-laki itu bahkan bisa menjawab dengan tepat ketika pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan. Jin Ri bisa bernafas lega beberapa saat setelahnya ketika mengetahui bahwa kalimat terkahir yang dirinya dengan itu bukan jawaban untuk pertanyaannya.

Jin Ri melihat Jong In melihat ke arah lain dan pertanyaan itu ditujukan oleh Jong In untuk orang yang berada beberapa meter dari mereka. Jadi, Jong In bukanlah seseorang yang bisa membaca pikiran orang atau sejenisnya.

Jong In kembali memusatkan perhatiannya kepada Jin Ri dan itu membuat Jin Ri diam seribu bahasa. Dan Jong In pun kembali membuka mulut.

“Kurasa kita harus berkenalan secara resmi walau aku tahu bahwa kau sudah tahu namaku dan aku juga tahu namamu. Perkenalkan namaku Kim Jong In. Kau bisa memanggilku Kai. Senang bisa bertemu dan bekerja sama denganmu.”

Tangan Jong In mengantung didepan mata Jin Ri dan membuat gadis itu sadar bahwa dia harus melakukan tindakan balasan. Jin Ri bangkit lalu menyambut tangan laki-laki itu.

“Namaku Choi Jin Ri. Kau bisa memanggilku Sulli. Senang juga bisa bertemu dan berkerja bersama seseorang yang profesional sepertimu.”

Entah ada angin apa yang menghampiri Jin Ri ketika dia megeluarkan kata-kata yang jarang sekali dia ucapkan kepada teman-temannya yang lain. Kata-kata itu sekan meluncur tanpa permisi dulu.

“Kurasa ada baiknya kita mengobrol di dalam ruangan hangat sambil minum kopi daripada harus berdiri beradu dengan udara dingin disini.”

Jin Ri ingin menarik kata-katanya itu. Tapi sebelum dirinya sempat untuk melakukan hal itu, anggukan kepala Jong In menjadi alasan mengapa Jin Ri tidak jadi menarik ucapannya.

***

Jin Ri berbagi cerita tentang kehidupan dirinya sebelum dan setelah dirinya mulai memutuskan untuk terjun di dunia seni. Keduanya menikmati obrolan mereka seraya menikmati kopi hangat dihadapan mereka ditengah cuaca malam yang dingin. Sesekali Jin Ri merapatkan jaket kulitnya agar tubuhnya tidak kedinginan. Jin Ri tidak habis pikir ketika dirinya berusaha untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin yang menusuk, Jong In malah terlihat seperti sedang berada di gurun pasir.

Jong In hanya memakai sebuah kaos putih berkerah dan jeans. Tidak ada jaket ataupun syal yang bisa membuat dirinya hangat. Namun, Jin Ri suka melihat Jong In dengan berpakaian seperti itu. Ditambah lagi dengan ekspresi wajahnya yang terkesan arogan dan sedikit angkuh.

“Apakah kau tidak merasa bahwa udara malam ini membuat tulang-tulangmu ngilu?”

Jin Ri memberikan tatapan herannya melihat Jong In yang sama sekali tidak merasa kalau dirinya akan beku sebentar lagi karena tidak menggunakan pakaian tambahan untuk udara yang sedingin ini.

“Tidak. Aku tidak pernah merasakan malam ini begitu dingin. Hal yang sama aku lakukan ketika aku kecil dulu.”

Jong In menggedikkan bahunya seolah dia adalah manusia es.

“Mungkin karena kulitku yang sedikit agak lebih gelap dari kebanyakan orang sehingga udara dingin itu enggan dekat-dekat denganku.”

Kali ini Jin Ri tertawa kecil mendengar jawaban dari Jong In. Jin Ri pikir bahwa Jong In tidak memiliki selera humor kalau saja laki-laki itu tidak mengatakan hal tadi.

“Ya, kau mungkin ada benarnya juga. Beruntung sekali memiliki warna kulit sepertimu.”

Jong In menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Jin Ri masih bisa melihat senyum Jong In tersebut walau Jong In hanya menampakkan atas kepalanya saja. Laki-laki itu memiliki senyum yang manis dibalik wajah angkuhnya.

Lalu selama beberapa saat keduanya hanya diam sambil menyesap pelan-pelan kopi mereka yang mulai kalah dengan hawa dingin disekitar mereka. Kedua orang itu duduk dalam diam sampai suara lembut Jin Ri memecah keheningan.

“Jong In-ssi, apakah keluargamu mendukung jalan yang kau pilih ini?”

Jong In baru saja menaruh cangkir kopinya yang terasa lebih ringan karena isi cangkir itu sudah hilang separuhnya ketika Jin Ri menanyakan hal itu.

“Ya. Semua anggota keluargaku mendukungku sepenuhnya.”

Jin Ri mengangguk sebentar setelah itu dia bertanya lagi.

“Lalu teman-temanmu?”

Jong In diam beberapa saat dan hal itu membuat Jin Ri menjadi bingung. Apakah pertanyaannya tadi terdengar aneh? Lalu Jin Ri bisa mendengar Jong In mendesah pelan sehingga Jin Ri bisa melihat udara putih keluar dari celah mulut laki-laki itu.

“Aku tidak punya teman. Aku hanya punya sahabat. Satu sahabat. Ya, dia mendukungku sama seperti keluargaku. Bahkan dia yang selalu menyemangatiku agar aku terus berusaha mengejar impianku.”

“Wah… Kau beruntung sekali memiliki sahabat yang begitu setia untuk mendukungmu. Dia pasti sahabat yang baik.”

Jong In tersenyum miris lalu melanjutkan perkataannya.

“Memang. Dia adalah sahabat terbaik yang aku miliki. Hanya saja sekarang aku tidak tahu bagaimana keadaannya.”

Jin Ri merasakan suasana disekitar mereka berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Ditambah lagi ekspresi Jong In yang sedingin es. Raut sedih terpancar dari wajah laki-laki itu. Jin Ri bisa merasakannya. Karenanya dia merasa tidak enak dan buru-buru mencairkan lagi suasana yang sebentar lagi mungkin tidak bisa lagi diukur berapa suhunya.

“Jong In-ssi, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih.”

“Tidak apa-apa, Jin Ri-ssi. Aku baik-baik saja. Lagipula ini semua karena kesalahanku.”

Jin Ri ingin sekali bertanya apa maksud Jong In dengan ‘kesalahannya’ itu. Jin Ri lalu mengurungkan niatnya itu karena suasana hati Jong In mungkin sedang tidak baik. Pasti ada sesuatu yang terjadi antara Jong In dan sahabatnya itu sehingga eksprsi laki-laki itu begitu cepat berubah.

Jong In mengambil ponselnya dan melihat jam menunjukkan hampir jam sebelas. Jong In menatap Jin Ri sebentar sebelum akhirnya Jong In mengatakan sesuatu yang membuat Jin Ri tersadar dari lamunannya tentang sahabat Jong In itu.

“Sudah larut malam. Jin Ri-ssi sebaiknya kita pulang. Tidak baik jika seorang gadis pulang terlalu malam.”

Jin Ri sontak melihat ponselnya-juga-dan menyadari bahwa ini memang sudah malam. Bahkan hampir larut malam.

“Kita terlalu asyik mengobrol hingga lupa waktu.”

Jin Ri mengambil tasnya lalu bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal pada Jong In ketika laki-laki itu mengucapkan sebaris kalimat yang tidak bisa Jin Ri tolak.

“Aku akan mengantarmu pulang.”

***

Perjalanan mereka memakan waktu sekitar 15 menit untuk mencapai rumah Jin Ri. Selama perjalanan, Jin Ri memilih diam. Jong In juga tidak berniat untuk berbicara. Jadi, perjalanan pulang mereka sangatlah sunyi. Hanya terdengar deru mesin dan bunyi ban mobil Jong In yang bergesekan dengan aspal.

Mobil Jong In berhenti didepan sebuah rumah besar namun terlihat sederhana dengan nuansa putih dan diterangi lampu yang memancarkan sinar seperti saat matahari terbenam.

Jin Ri keluar dari mobil Jong In dan melihat jendela mobil itu turun.

“Terima kasih kau bersedia mengantarku pulang, Jong In-ssi.”

“Tidak masalah. Itu sudah menjadi tugasku sebagai temanmu. Baiklah, aku pulang.”

“Hati-hati.”

Terakhir yang bisa Jin Ri lihat adalah Jong In mengangguk pelan lalu jendela mobilnya perlahan naik memyembunyikan segala yang ada didalam mobil itu lalu kendaraan roda empat itu melaju menembus keheningan malam.

“Itu sudah menjadi tugasku sebagai temanmu.”

Jin Ri tidak menyangka Jong In menganggap dirinya sebagai teman mengingat Jong In mengatakan dia tidak punya teman tadi. Siapa orang bodoh yang tidak mau berteman dengan orang sebaik Jong In?

Jin Ri merasa bahwa dinginnya suasana malam itu membuat pipinya sudah semerah buah tomat sekarang. Jin Ri merapatkan kembali jaketnya yang terasa sangat tipis malam itu. Kedua kakinya melangkah masuk menuju rumahnya. Jika dia berdiri lebih lama lagi disini, bisa-bisa dirinya terkena flu besok.

Namun, Jin Ri tidak yakin apakah udara malam itu penyebabanya. Karena bersamaan dengan itu juga, Jin Ri merasakan bahwa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

***

20 thoughts on “[FF Freelance] Our Little Promise – Cold Night (Chapter 6)

  1. waduh, kok malah deket ama jinri, krystal kmn ga ada sama sekali di paart ini? ayo dong momen kaistalnya🙂

  2. oh ini cerita gimana kai dan sulli bertemu dan akhirnya berteman sampai sekarang ya. manis juga sih~ caranya sulli jadi jatuh cinta pada kai ituloh hihi
    oke next part soon

  3. Ini chapnya sulli ya? Soo jungnya ga ada. Kayanya sulli jatuh hati sama kamjong ya, tapi apa bener kamjong cuma menganggap teman baik sama soo jung? Tak adakah sedikit cinta disana?

  4. Thor kalo disambungin part 5 ama sekarang beda yah, ini ceritanya flasback gitu ?
    Lanjuutt lagi oke ^^ kalo bisa di part selanjutnya banyakin kaistal yg hurt ya xD

  5. ini dia sudut pandangnya sulli. aduh, aku kurang greget baca part ini maaf ya😦 soalnya aku udah nyantol banget sama kaistal dan tiba-tiba ada orang ketiganya. tapi… it’s ok lah. biar ceritanya makin rame soalnya yakan? hehe. dan apakah jinri akan mendukung mereka nantinya? jeng jeng jeng jeeeeng~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s