[FF Freelance] The Butler’s Pole (Chapter 1)

WPR215_11 - Copy

Scriptwriter : Liana D. S. // Fandom : Super Junior // Main Casts : Leeteuk (Park Jungsoo), Han Geng, Kim Kibum // Support Casts: Zhang Li Yin (SMEnt’s soloist), Kang Sora (actress) // Duration : Two-shots (6,8K+ words total) // Genre : Crime, Family // Rating : PG-17

Disclaimer           : Han Geng, Kang Sora dan semua karakter dari SM Entertainment bukan milik saya, tetapi milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Plot sepenuhnya milik saya dan saya tidak menarik kepentingan komersial apapun dari penulisan FF ini.

Summary             : Leeteuk adalah kepala pelayan di Kediaman Kim. Profesionalismenya membuatnya sangat protektif terhadap Kim Kibum, majikannya. Semua penjahat yang mengancam sang majikan akan ditumpasnya. Akan tetapi, ia bertemu dengan satu penjahat paradoksikal yang mematahkan teori kutub positif-negatifnya. Potongan puzzle dari sang penjahat akan membawa Leeteuk pada kisah kegelapan, cahaya, dan zona abu-abu.

***

 

 

Part 1: Clash

Leeteuk tidak mempercayai apa yang ada di hadapannya saat ini. Kepala pelayan berusia 32 tahun itu baru saja memasuki ruangan tuannya untuk membawakan mille-feuille sebagai teman minum teh. Dan apa yang ia temukan?

Seorang pria yang dua minggu lalu terlibat baku tembak dengannya.

“Mau apa kau?” Emosi Leeteuk jadi tak terkontrol karena merasakan aura mengancam dari si tamu. Ia menyangga nampannya dengan satu tangan, lalu menarik pistol dari dalam jas seragamnya. Pria di depannya juga melakukan hal yang sama. Dua moncong senjata api bertemu, tetapi tak satupun peluru keluar. Keduanya sama-sama ragu untuk menembak, walaupun mereka ingin sekali melakukannya.

“Tenang, Leeteuk-ssi. Tak sopan memperlakukan tamu seperti itu. Masukkan lagi senjatamu.” Kim Kibum, majikan muda Leeteuk, menyangga dagunya dengan sebelah tangan. Leeteuk mengangguk patuh dan mengembalikan senjatanya ke balik jas. Pandangannya tak juga lepas dari sang tamu, seorang pria tinggi berkontur wajah tajam dengan tatapan fokus khas penembak jitu. Kibum menunjuk tamunya itu dengan telapak tangan. “Dia adalah rekan kerjamu, pelayan baruku.”

Leeteuk tersentak. Orang ini akan menjadi rekan kerjanya? Lucu. Rasanya mereka baru saja saling menyerang, kini sudah harus bekerja sama. Kelihatannya hidup Leeteuk akan sulit setelah ini. Lihat saja; ia dan sang tamu sudah bertukar pandangan marah.

Namun, resolusi akhirnya tercapai di antara Leeteuk dan tamu Kibum, biarpun terpaksa.  Si tamu membungkukkan tubuh jangkungnya dan memperkenalkan diri dengan bahasa Korea yang terdengar sedikit berbeda.

“Saya Han Geng, staf baru di Kediaman Kim. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya.”

***

-Dua minggu sebelumnya-

Pesta di Kediaman Jung yang super mewah tidak menghilangkan kewaspadaan Kim Kibum sama sekali. Ia hanya berpura-pura meneguk anggurnya untuk menghormati tuan rumah; ia tak ingin mabuk saat ini. Tidak saat putri tunggal Keluarga Jung menjadi incaran musuh tak terlihat. Gadis itu harus selamat atau Kibum tak akan mendapatkan bayarannya. Beruntung, hingga saat ini, gadis Jung masih berdiri dengan anggun di sisi ayahnya, menikmati pesta.

Ada moncong senjata yang terarah ke kepala gadis itu dari balik sebuah tirai di lantai dua.

“Leeteuk-ssi, aku melihatnya. Arah jam sepuluh.”

Seorang pria bermata topaz yang berdiri di belakang Kibum mengangguk. “Dimengerti.”

Dalam sepersekian detik, Leeteuk, sang pria mata topaz, telah menepis peluru yang terarah ke kepala si gadis Jung dengan garpu yang ia lemparkan.

Mendengar letusan senjata, semua orang terkejut dan panik. Suasana kacau, tetapi Kibum dan Leeteuk tidak terbawa. Mereka berlari menuju si gadis Jung yang sedang berlutut sambil menjerit ketakutan. Kibum menepuk bahu gadis itu dan mengatakan padanya untuk tenang. Tepat setelahnya, lampu kristal yang menerangi ruang pesta pecah—ditembak oleh sang penjahat untuk menggelapkan ruangan.

“Ini taktik penculikan yang sangat murahan,” gumam Kibum, dengan cepat membiasakan diri dalam kegelapan, “Leeteuk-ssi, di mana dia?”

Layaknya kamera yang memiliki modus malam, Leeteuk dengan cepat memindai sekeliling. Ia menangkap pergerakan abnormal dari tirai dekat jendela teratas.

Benar saja.

“Tuan Muda, menunduk!”

Refleks, Kibum menarik sang klien ke sisinya dan melingkarkan lengannya pada gadis itu, protektif. Ia merunduk kemudian, seiring dengan bunyi peluru yang berdesingan, milik Leeteuk dan milik musuh. Orang-orang berteriak dan situasi semakin berantakan. Kibum tahu akan banyak korban tak bersalah yang jatuh jika situasi ini tidak dihindari. “Kita keluar. Dia bisa melukai orang lain di sini.” komandonya.

“Dia mungkin saja akan menyandera seseorang jika kita mencoba melarikan Nona Jung, Tuan Muda.” Leeteuk terlihat ragu. Kibum menatap bawahannya nanar. “Turuti saja aku.”

Tatapan melumpuhkan sang tuan muda berhasil membuat Leeteuk tunduk. Ia membungkukkan tubuhnya hormat.

Satu lagi peluru dimuntahkan dari senjata musuh. Gadis Jung gemetar. Peluru itu menyerempet lengan Kibum dan lukanya mengucurkan darah yang sangat mengerikan bagi gadis polos itu. Tidak bagi Kibum; luka serupa ia dapat hampir setiap hari, jadi ia menganggap luka itu biasa saja.

Leeteuk berusaha untuk tidak mengkhawatirkan Kibum. Dalam pekerjaannya sebagai ‘pemburu’ bersama Kibum, Leeteuk harus mengutamakan klien, jadi ia sementara harus menggeser perannya sebagai kepala pelayan sekaligus pelindung Kibum.

Kibum terus melindungi gadis Jung bersama Leeteuk yang berlari di belakang. Musuh mereka mengejar, tetapi tidak menembak selama di ruangan. Barulah setelah tiba di taman, orang itu menembak lagi. Leeteuk membelokkan peluru orang itu berkali-kali dengan pelurunya, lalu mengarahkan senjatanya pada kaki musuh. Sayang, lawan Leeteuk sangat cepat. Ia menghindar dan berlari secepat kilat menuju targetnya. Kibum sedikit terkejut karena tahu-tahu, orang itu berada di dekatnya. Moncong senapan terarah pada mata violet si gadis Jung.

Hal berikutnya terjadi dengan cepat.

Pria yang hampir menghancurkan mata si gadis Jung tersungkur ke tanah. Tanpa basa-basi, Leeteuk menembak sisi leher musuhnya di titik yang tidak vital. Teriakan kesakitan lolos dari bibir pria itu—dan darahnya bermuncratan semakin banyak. Gadis Jung menjerit lagi. Kibum membekapnya dengan tampang bosan. “Kau memecahkan gendang telingaku, Nona.” ujarnya, lalu mengarahkan tangannya ke atas, menutup mata si gadis Jung supaya si cantik tidak melihat banjir darah itu lebih lama. “Borgol.” perintah Kibum pada Leeteuk. Dengan cekatan, Leeteuk mengunci pergerakan musuhnya dan memborgol pria itu.

Grep!

Leeteuk terkesiap. Tangannya tiba-tiba saja diremat dengan kuat oleh musuhnya, padahal musuh sudah dalam keadaan terborgol. Leeteuk mengerang; ia bisa merasakan beberapa otot terpelintir di dalam. Sekali lagi, Leeteuk hendak menembak pria yang ia bekuk, tetapi pria itu menepis tangannya dan membuat pistol Leeteuk terlempar jauh. Rantai borgolnya putus.

Tangannya terbebas dari borgol?, mata Leeteuk melebar, Dia…

Leeteuk tak sempat berpikir lebih jauh karena si ‘tahanan’ memukul sisi tubuhnya setelah mengubah posisi jadi terlentang. Giliran Leeteuk yang tersungkur. Posisi hampir berbalik, tetapi Kibum segera meraih senjata mematikan dari balik jasnya.

Sebatang jarum panjang tipis.

Dengan obat bius.

Jarum Kibum menancap tepat di leher belakang si penjahat. Pria itu terbelalak, tak siap dengan serangan kejutan ini. Leeteuk mencuri momen dan mengembalikan keadaan. Ia mengeluarkan satu borgol lagi—tak menyangka ia akhirnya menggunakan borgol cadangan itu—dan mengunci pergerakan tangan musuh dengan benda itu. Percuma, sebenarnya. Toh musuh sudah kehilangan kesadaran. Ia tak mungkin melawan.

Kibum memencet tombol merah di sisi kanan ponselnya. “Aku sudah menelepon polisi. Tugas kita selesai, Leeteuk-ssi.”

Leeteuk tidak  beranjak dari posisinya yang sedang menahan kepala si penjahat supaya terus tertelungkup. Lawannya satu ini agak tak terduga dan Leeteuk mengantisipasi serangan yang mungkin akan dilancarkan.

“Aku bilang, tugas kita sudah selesai, Leeteuk-ssi.” ulang Kibum. Leeteuk mendongak dengan raut wajah bersalah karena sudah ‘menyeleweng’ dari perintah. “Maafkan saya, Tuan, pria ini…”

“Dia sudah tidak berbahaya, bahkan jika dia sadar. Thiopental memberi efek melemahkan lebih lama daripada anestesi, jadi tidak masalah,” sahut Kibum, lalu menghembuskan napas panjang, “Aku tak mengira akhirnya harus pakai larutan terlarang itu juga…”

“Tapi dia bisa melukai Tuan Muda lagi. Serangannya sulit ditebak…”

“Lepaskan dia,” Kibum menekankan, “Kalau kau menahannya, aku tak bisa melakukan identifikasi.”

Dengan berat hati, Leeteuk melangkah ke samping, sementara Kibum maju dan mengangkat wajah pria yang sudah pingsan itu. “Lindungi Nona Jung.”

Bagaimana mungkin Leeteuk melindungi orang lain jika yang ingin ia lindungi hanya Kibum?

Tak sampai lima menit sejak ditelpon, polisi setempat telah datang. Kibum sudah merekam secara detil penampilan orang yang menarget penerus Keluarga Jung itu berkat ingatan fotografisnya. Polisi meringkus orang itu. Keluarga Jung kembali aman dan malam sibuk Kibum serta Leeteuk berakhir.

Orang yang diringkus polisi itu adalah Han Geng dan dia ada di Kediaman Kim sekarang karena Kibum, entah atas pertimbangan apa. Yang jelas, mulai saat itu, Leeteuk harus terus berjaga.

***

Sesuai perintah Kibum, Leeteuk mengajarkan pada Han Geng dasar-dasar untuk menjadi pelayan yang baik. Han Geng belajar dengan cepat untuk seorang newbie, padahal Leeteuk sendiri butuh waktu yang sangat lama untuk bisa masuk mansion Kim dan melayani Kibum.

“Terima kasih tehnya, Hankyung-ssi. Boleh kupanggil begitu?” tanya Kibum, suatu siang saat menikmati tehnya di sela mengerjakan laporan untuk kepolisian.

“Ya, Tuan Muda.” jawab Han Geng setengah hati, lalu meletakkan poci teh tanpa suara di atas meja, di samping piring porselen. Kibum melirik sejenak poci teh yang ‘tenang’ itu. “Ini baru dua hari dan kau sudah bisa meletakkan peralatan makan tanpa bersuara. Apa kau benar-benar seorang pembunuh bayaran sebelumnya? Kau terlalu halus.”

Leeteuk tampaknya tak senang dengan pujian yang menurutnya salah arah itu. Secara tersirat, dia berusaha untuk menyelamatkan nama baiknya yang hampir diseret Han Geng.

“Seorang yang mahir karena terlatih dan karena berbakat tentu berbeda, Tuan Muda.”

Han Geng membelalakkan matanya sedikit pada Leeteuk, marah. Kibum malah tertawa kecil saat suasana di antara pelayan-pelayannya menegang. “Ya, aku mengerti,” satu-satunya pemuda di ruangan itu (ya, karena dua lainnya pria) meletakkan cangkirnya, “Kalian boleh pergi sekarang. Nanti kalau ada perlu, aku panggil lagi.”

Leeteuk dan Han Geng membungkukkan tubuh mereka, mohon diri. Mereka hendak keluar ruangan ketika Kibum menghentikan Leeteuk dengan kata-katanya.

“Leeteuk-ssi, ada baiknya kau mulai berhenti membaca buku dongeng. Hidup kita tidak semudah itu ditebak, jadi jangan gunakan kisah-kisah itu untuk acuan pikirmu.”

Leeteuk tak mengerti, tetapi tetap mengangguk.

Sekeluarnya dari ruangan, Leeteuk berucap dingin pada stafnya. “Kalau seorang penjahat dibawa ke rumah ini, berarti Tuan Muda punya rencana besar yang mungkin memanfaatkan penjahat itu. Ia tidak mungkin menarik seorang penjahat semata-mata karena rasa iba.”

“Saya tahu,” sahut Han Geng, membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah berbeda, “Kita hanya akan menjadi rekan kerja selama satu bulan. Setelah Tuan Muda Kim itu mendapatkan yang ia ingin, dia akan melepaskan saya dan memberikan reward yang pantas. Kemudian, kita bisa berpisah dan saling melupakan.”

***

Dini hari.

“Kumohon hentikanlah. Aku sudah tidak bisa melihatmu terluka lagi. Lagipula, korbanmu juga punya kehidupan yang harus mereka bina—mereka tak seharusnya mati secepat itu.”

“Kau juga tidak boleh mati secepat itu. Aku harus membunuh atau kau akan dibunuh oleh mereka.”

“Tidak akan, Ge, aku yakin. Karena itu, keluarlah dari pekerjaan ini, ya?”

“Jika aku bisa, aku pasti lakukan itu dari dulu, tetapi aku juga memikirkan keselamatanmu kalau aku keluar…”

Ge, kumohon…”

Tiba-tiba, Han Geng melihat manusia di depannya terbakar. Manusia itu—wanita itu—menjerit dan meneriakkan nama Han Geng, yang tidak bisa meraihnya karena panas api. Kemudian, wanita itu menghilang sebagai abu.

“Ah!”

Pekikan ketakutan Han Geng tak terlalu keras, tetapi kamar pelayan sedang sunyi karena semua penghuninya tertidur (awalnya). Jadi, suara samar pun bisa terdengar jelas di sini. Leeteuk, yang (dipaksa) berbagi kamar dengan Han Geng, terbangun dan berbalik. Dilihatnya Han Geng terduduk di ranjang dengan dahi dan leher berpeluh, tersengal-sengal. “Kenapa?” tanya Leeteuk pada rekannya di ranjang sebelah.

“Tidak ada apa-apa.” Han Geng mengusap lehernya.

Leeteuk tahu bahwa Han Geng tidak baik-baik saja dengan wajah pucat dan keringat dingin, tetapi ia tidak peduli. Setelah satu hari yang melelahkan, haruskah istirahat Leeteuk diusik oleh mimpi buruk (mantan) musuhnya? Han Geng toh bukan seseorang yang berarti dalam hidup Leeteuk. Akhirnya, Leeteuk memunggungi Han Geng lagi dan kembali tidur. Ia tak tahu bahwa Han Geng memikirkan sesuatu yang bahkan tak dipikirkan kepala pelayan paling setia sekalipun.

***

Hubungan Han Geng dan Leeteuk tidak membaik, terlebih saat Leeteuk mengetahui bahwa Han Geng ditunjuk oleh Kibum untuk menjadi peresensinya. Tugas peresensi adalah memilih buku-buku yang bisa dimasukkan ke koleksi perpustakaan Kim (yang harus merupakan buku hukum dengan validitas data tinggi) dan membuat resensi—kumpulan alasan kenapa buku itu dipilih—secara tertulis. Tugas itu bukan tugas main-main. Leeteuk merasa Han Geng tidak cukup mampu melakukannya. Tidak mengherankan jika Leeteuk tertawa meremehkan di penghujung minggu karena Han Geng tidak membawakan apa-apa untuk Kibum. Leeteuk cukup beradab untuk memelankan tawanya, tetapi Han Geng tetap memandangnya tak suka. Kibum sendiri mengacuhkan Leeteuk. Ia hanya ingin tahu apa alasan Han Geng tidak membawakan buku untuknya.

“Saya yakin Anda pasti sudah mengerti mengenai isi buku-buku hukum saat ini. Mereka hanya membahas detil-detil kebijakan yang digunakan untuk menjerat tersangka, juga mengenai hal remeh-temeh tentang pentingnya hukum yang sudah terlalu sering kita dengar.”

“Hukum memang penting dan bukan hal remeh-temeh.” sahut Leeteuk, terdengar menjatuhkan. Kibum mengangkat tangannya. “Tak apa. Lanjutkan, Hankyung-ssi.”

“Buku-buku yang penting Anda miliki adalah yang membahas tentang rehabilitasi, bukan melulu hukum yang menjerakan. Orang semakin sulit jera di jaman ini. Sebaliknya, jika orang-orang ini dipahamkan tentang diri mereka, mereka akan tahu apa alasan mereka untuk tidak lagi melakukan kejahatan. Ini memang sulit, tetapi lebih menarik untuk Anda pelajari.”

Kibum mengangguk-angguk mengerti. “Alasan itu bisa diterima,” dan dia tersenyum, “tetapi sepertinya itu menggambarkan keinginanmu sendiri.”

Han Geng diam sejenak, lalu melanjutkan dengan wajah minim ekspresi seperti sebelumnya. “Keinginan saya hanya lepas dari tempat ini, tidak terlalu muluk.”

“Hankyung-ssi, tolong jaga bicara Anda!”

“Tidak, tidak apa-apa,” Kibum mengibas-ngibaskan telapak tangannya, “Kata-katanya tidak akan membunuhku, jadi tak perlu dijaga. Hankyung-ssi, silahkan kembali.”

Han Geng melangkah keluar ruangan.

“Hingga punggungnya menghilang dari pandangan pun, kau masih menatapnya benci,” Kibum beralih pada Leeteuk, “Apakah kau tak pernah belajar memaafkan dan melupakan?”

“Maafkan saya, tetapi saya sangat sulit menerima kehadirannya. Bukan saya menentang keputusan Anda untuk menerimanya, hanya… ah, maksud saya,” Leeteuk kesulitan mengungkapkan penolakannya karena begitu bencinya ia pada Han Geng, “dia adalah orang yang menyakiti Tuan Muda. Ia juga berniat membunuh seorang gadis yang tak berdosa atas dasar bayaran. Ia tak kapabel melakukan tugas-tugas pelayan. Saya yakin, Anda pasti punya rencana lain menjadikannya pelayan di sini, bukan? Tidak sekedar berbaik hati padanya?”

“Benar katamu. Aku mengeluarkannya dari penjara karena punya keinginan tersendiri.” Kibum membalik halaman bukunya. Leeteuk berharap kalimat Kibum berlanjut. Sayangnya tidak. Pemuda itu memotong cheesecakenya yang belum habis. Ia berdiri dan menempelkan potongan manis itu di bibir Leeteuk, menyuruh sang kepala pelayan memakannya. Kikuk, Leeteuk menerima suapan Kibum dan mengunyah perlahan.

“Enak, tidak?” tanya Kibum. Leeteuk mengangguk; koki tua Ahn masih sangat mahir, walaupun umurnya sudah kepala lima.

“Menurutmu masuk akal kalau orang sejahat Hankyung-ssi membuat kue ini?”

Leeteuk terdiam. Kibum menyunggingkan sebuah senyum yang misterius, kemudian. Ia duduk kembali dan memakan potongan cake berikutnya.

“Kue yang dibuat dengan niat jahat tak pernah terasa semanis ini, Leeteuk-ssi.”

***

Matahari telah terbenam dan kata-kata Kibum masih terus terngiang di telinga Leeteuk. Niat jahat yang manis, ya? Apakah maksudnya Kibum ingin mempergunakan kekuatan Han Geng untuk menjalankan sebuah pekerjaan besar? Itu sangat menyedihkan; lalu apa fungsi Leeteuk di mansion itu? Selama ini, Leeteuk-lah tangan kanan Kibum dalam menjalankan pekerjaan sebagai penyelidik. Apakah posisi itu akan berpindah pada Han Geng?

Tidak. Tidak begitu. Keluarnya Han Geng dari penjara pasti hanya bersifat sementara. Dia tak akan mengambil posisiku di mansion ini: di samping Tuan Muda.

Leeteuk memasuki kamarnya dan kaget. Han Geng yang berada dalam kamar itupun sama. Pasalnya, Han Geng sedang berganti pakaian dan Leeteuk masuk di saat Han Geng baru melepas kemejanya. Keduanya terpaku agak lama, lalu Han Geng mengenakan kemeja longgar yang ia gunakan untuk tidur sembari tertawa miring. “Anda tak pernah melihat punggung laki-laki yang lebar? Sesekali Anda perlu bercermin dan memperlebar punggung Anda sendiri.”

Leeteuk melangkah santai dan menutup kamar dari dalam. “Saya hanya heran, apa Anda pernah tahu fungsi kamar mandi? Atau Anda tak pernah melihatnya? Ada di sebelah sana, Hankyung-ssi; itu tempat untuk berganti pakaian.”

Han Geng mengatupkan rahangnya rapat-rapat, menahan marah, seperti biasanya.

“Siapa yang baru saja menghajarmu?” tanya Leeteuk. Han Geng tak menduga akan mendapatkan pertanyaan ini. Pasti karena ia melihat bekas-bekas luka di punggungku, pikirnya. Ya, tadi saat Leeteuk memasuki kamar, yang pertama kali ia lihat adalah punggung Han Geng yang ‘dihiasi’ bekas sayatan dan luka tembak. Ini tentu memancing keingintahuan. Penjahat-penjahat seperti Han Geng bekerja dengan rapi, jadi mustahil jika mereka memperoleh luka-luka sekacau itu.

“Orang yang berhati dingin seperti Anda tak akan paham dari mana luka ini berasal, meskipun saya menjelaskan.” jawab Han Geng pada akhirnya.

“Andalah yang berhati dingin,” balas Leeteuk, tak terima, “Anda pembunuh yang tak mau memilah korban. Asal ada yang mau membayar tinggi untuk satu kepala, Anda langsung menghabisi targetnya, bukan? Siapa sebenarnya yang tak punya jiwa?”

“Anda dan saya sama-sama tidak memiliki jiwa,” Han Geng berbaring dan menaikkan selimutnya tanpa memandang Leeteuk, “Jiwa kita sudah dikendalikan oleh seseorang secara tidak langsung, sehingga kita rela melakukan apa saja demi pengendali jiwa kita itu. Anda belum menyadarinya, bukan?”

Leeteuk tak menjawab. Han Geng pun tak mengharapkan jawaban, tetapi pertanyaannya cukup serius hingga membuat Leeteuk merenungkannya.

Pengendali jiwaku? Siapa dia?

***

Penghujung minggu adalah jadwal belanja. Akhir pekan ini, Leeteuk turun tangan langsung dalam urusan belanja dan bukan maidnya. Daftar panjang kebutuhan yang harus dibeli menuntun Leeteuk berkeliling kota. Perjalanan yang ia tempuh agak panjang, tetapi cukup melegakan karena Han Geng tidak menyertainya. Pria yang baru Leeteuk ketahui berasal dari Cina itu (yang menjelaskan keanehan bahasa Koreanya) akhir-akhir ini semakin banyak memasuki ranah kerja Leeteuk. Ini karena Kibum, tentunya. Tuan Muda sendiri susah bergaul, tetapi ia malah memintaku untuk akrab dengan rekan kerjaku, keluh Leeteuk pada suatu hari secara sembunyi-sembunyi. Tak masalah. Tinggal satu minggu menuju akhir ‘bulan neraka’ ini dan Leeteuk akan terbebas dari pria jangkung itu selamanya.

“Ah!”

Karena sedang tidak fokus, Leeteuk menubruk seorang wanita muda yang berjalan di sampingnya. Jalanan cukup sempit saat diadakan pasar pagi seperti sekarang karena para penduduk yang sedang berlibur tumpah-ruah di sana. Yah, sebenarnya Leeteuk bisa saja pergi ke tempat belanja yang lebih nyaman, tetapi sebagai kepala pelayan yang (kadang, terlampau) ekonomis, Leeteuk lebih menyukai belanja di pasar pagi ini. Alhasil, ia harus rela berdesakan dengan pengunjung lain, termasuk wanita satu ini. Belanjaan mereka sama-sama terjatuh, tetapi beruntung, tidak ada dari mereka yang rugi: belanjaan mereka tidak terkotori tanah sama sekali, masih terlindung kantungnya.

“Maafkan saya, Tuan, maafkan saya…” Wanita muda itu membungkukkan tubuhnya berkali-kali ke arah Leeteuk, lalu dengan cepat memunguti belanjaan Leeteuk yang lebih berantakan keadaannya daripada miliknya. Dengan keramahan yang biasa, Leeteuk mengiyakan, kemudian menerima belanjaannya dari wanita itu. Baru Leeteuk menyadari bahwa wanita muda belia di depannya menggendong seorang bayi mungil, selain membawa belanjaan. Leeteuk jadi merasa sedikit bersalah sekaligus iba: wanita itu—gadis, lebih tepatnya—terlihat sangat kerepotan. “Butuh bantuan, Nona? Ke mana kau akan pergi?”

“Ke arah dari mana Anda datang. Saya akan pulang sebentar lagi,” jawab wanita itu sopan, kemudian wajahnya bersemu merah, “dan… uhm… sebenarnya saya adalah seorang nyonya, Tuan.”

“Oh?” Leeteuk melebarkan matanya karena terkejut, “Jadi, ini putra Anda?”

Wanita itu mengangguk lagi. “Tak perlu khawatir, Tuan. Adik saya menyertai di belakang. Ia akan membantu saya nanti. Terima kasih banyak atas tawarannya.”

Baru saja wanita itu mengatupkan bibirnya, terdengar suara cempreng dari kejauhan—yang Leeteuk yakini sebagai suara adik wanita yang ditabraknya.

Eonni!

Seorang wanita muda lain yang lebih pendek dari wanita pertama, juga berambut lebih pendek, menepuk bahu wanita muda di hadapan Leeteuk. “Astaga, Eonni, ke mana saja kau? Aku capek berkeliling untuk mencarimu dan Shao Zu! Kau—oh, siapa pria ini? Kenalanmu?” Wanita yang baru datang ini ‘mengerem mendadak’ mulutnya yang cerewet itu saat menyadari kehadiran Leeteuk.

“Ah, tidak. Kami bertubrukan tadi dan—“

“Hah?! Kau? Menubruk eonniku?”

Leeteuk tak tahu akan diapakan dirinya oleh wanita bawel ini. Bukan sesuatu yang baik, pasti.

“T-tapi aku sudah baik-baik saja… Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Pria ini bahkan menawarkan diri untuk menolongku membawa belanjaan,” sang kakak membela Leeteuk dengan ucapan yang begitu lembut, kontras dengan adiknya , “Ayo, kita pulang saja. Tuan, saya permisi dulu.”

Leeteuk mengangguk sambil meringis karena adik wanita yang ditubruknya masih sibuk ingin melabraknya. Heran juga, kenapa ada kakak-adik yang begitu kontras sifatnya? Satu hal lagi yang mengganjal di hati Leeteuk adalah mengenai wanita lembut yang tengah menggendong anak itu. Wanita itu pasti sudah menikah, walaupun usianya terlihat jauh lebih muda dari Leeteuk. Ia pasti memiliki suami, tetapi di mana pria sialan itu? Kenapa tidak mendampingi istrinya saat sang istri membutuhkan bantuan menjaga anaknya? Wanita itu sungguh wanita yang penyabar, masih sanggup menyuguhkan senyum untuk Leeteuk di saat dirinya sendiri menderita.

Belakangan ini, aku jadi suka ikut campur urusan orang, Leeteuk menyelipkan jemarinya di antara belantara rambut coklatnya, Itu tidak baik, tidak baik. Ada pekerjaan lain yang harus kulakukan…

…tetapi dunia ini benar-benar sudah hancur dan harus diperbaiki.

***

“Baiklah, ini sudah satu bulan, Kibum.”

Leeteuk memutar tubuhnya kasar ketika mendengar kata-kata penuh penekanan itu. “Hankyung-ssi, berapa kali harus saya katakan, jaga sopan-santun Anda terhadap Tuan Muda!”

“Persetan dengan tuan mudamu!” Han Geng tanpa ragu melontarkan kata-kata kasarnya, “Kontrakku dengannya sudah habis! Berikan apa yang aku inginkan, Kim Kibum!”

Kibum bangkit dari kursi kerjanya dan dengan tenang menepuk bahu Leeteuk, kemudia bicara pada Han Geng. “Sesuai dengan kesepakatan kita, aku akan memberi apa yang kau inginkan, tetapi kau harus memberi apa yang kepolisian inginkan juga.”

Apa-apaan ini?, batin Leeteuk, sama sekali tak memiliki ide tentang apa yang dibicarakan Kibum dan Han Geng. Ia memandang Kibum, mengharap jawaban, tetapi Kibum menatapnya balik sambil tersenyum. “Leeteuk-ssi, mau mengantar kami ke suatu tempat? Aku akan tunjukkan jalannya.”

“Tidak, Kibum, aku sudah muak dengan sikap manismu. Aku sudah menahan diri selama satu bulan untuk tidak membunuhmu, jadi bebaskan aku sekarang dan jauhkan orang itu dari hadapanku!” Han Geng menunjuk Leeteuk dengan geram. Leeteuk memicingkan matanya. Nada suaranya meninggi. “Satu bulan di sini tak ada artinya bagi Anda jika Anda masih bersikap tak lebih baik dari binatang. Minta maaf sekarang atau akan ada yang terluka, Hankyung-ssi!”

Brak!

Sama-sama terkejut, Leeteuk dan Han Geng menoleh pada meja kerja Kibum yang besar. Telapak tangan kanan Kibum ada di atas meja itu—jelas sekali bahwa Kibum baru saja menggebraknya. Pemuda itu tak menampakkan ekspresi apapun. Suasana dalam ruang kerja menjadi sangat dingin saat Kibum berjalan melewati Leeteuk dan Han Geng, menuju pintu.

“Leeteuk-ssi, kau yang menyetir. Hankyung-ssi, kau duduk di samping Leeteuk-ssi nanti dan tunjukkan jalan ke tujuan kita.”

Tak ada sepatah kata terucap lagi. Dua pelayan di ruang kerja akhirnya mengikuti tuan mereka keluar ruangan.

***

BERSAMBUNG

One thought on “[FF Freelance] The Butler’s Pole (Chapter 1)

  1. Huah….. bnr2 ribet nih critanya.
    Bikin penasaran bgt ama klanjutannya, trs… ap hub.nnya ama kta2 mreka tdi??
    Q tunggu chap 3-nya ya thor… chap 2-nya dalam tahap bca

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s