[FF Freelance] Krystal (Chapter 1)

Krystal - KeyStal Minho copy

TITLE : Krystal

AUTHOR : honeyNii

MAIN CAST : Krystal Jung, Kim Keybum, Choi Minho

RATE : PG13

LENGTH : chapter

GENRE : Romance, family, etc.

And other casts

DISCLAIMER: Semua cast bukanlah milik saya, but this story and plot is mine. FF ini sebelumnya pernah saya publish di wattpad dengan cast dan judul yang lain.

ooOOoo

Prologue

Key, pengusaha muda yang karirnya sedang menanjak, hampir frustasi oleh desakan Ummanya yang meminta Key untuk segera memperkenalkan calon istrinya, atau terpaksa menerima perjodohan yang disiapkan oleh Ummanya.

Dalam kekalutannya Key bertemu dengan seorang gadis yang tidak lagi memiliki semangat untuk hidup, seakan menanggung seluruh penderitaan yang ada didunia, secara tidak langsung gadis itu masuk dalam kehidupan Key.

Gadis itukah jalan keluar atas masalah Key? tapi apa yang menyebabkan dia bersikap seakan tidak ada lagi harapan untuknya?

Ahh, Key tidak peduli, yang penting dia terbebas dari desakan orang tuanya.

ooOoo

Part 1

Key menginjak rem sekuat tenaga berusaha menghentikan laju mobilnya. Tubuhnya sedikit tersentak. Jantungnya serasa hampir melompat keluar saking kerasnya berdetak. Hampir saja dia menghilangkan nyawa seseorang karena tidak konsentrasi saat menyetir. Pikirannya sedang melayang-layang entah kemana hingga tidak memperhatikan jalannya.

Key bergegas keluar unttuk melihat kondisi orang yang baru saja ditabraknya. Seorang gadis terduduk di aspal keras di depan mobilnya. Tidak ada luka serius, Key menghembuskan nafas lega.

“Kamu baik-baik saja ?” tanya Key mendekati gadis itu.

“Tidak.” Jawab gadis itu datar. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Apa kamu terluka ?, mari aku antar kerumah sakit.” Key berkata gugup.

“Tidak Perlu.”

“Lalu ?”

“Harusnya tadi kamu tidak usah menghentikan mobilmu, harusnya kamu tabrak aku sampai mati.”

Key mengernyit bingung oleh jawaban gadis itu.

“Kamu senggaja ingin menabrakkan diri ?”

“Tidak. Tapi aku jadi kehilangan satu kesempatan untuk mati, kalau kamu tidak menghentikan mobilmu itu tidak akan terjadi.”

“Sepertinya kamu mabuk dan bicara melantur, dimana rumahmu ?, aku akan mengantarmu pulang.”

“Aku tidak punya rumah.”

“Orang tua ?, keluargamu ?.” tanya Key tidak sabar.

“Tidak ada.”

Key meremas rambutnya frustasi, mimpi apa dia hingga mengalami kesialan seperti ini.

“Ya sudah, kalau begitu kamu ikut aku.”

Key menarik tangan gadis itu, membantunya berdiri dan menuntunnya menuju mobilnya. Setelah mendudukkannya di bangku penumpang, lalu Ia berlari memutari mobil dan duduk di bangku kemudi. Tanpa bicara lagi Key mengendarai mobil menuju apartemennya.

Key tinggal sendiri di apartemennya, apartemen itu tidak terlalu luas, hanya ada 2 kamar, 1 kamar tidur dan 1 lagi dijadikan ruang kerja Key, tapi furnitur yang ada didalamnya terkesan mewah dan mahal.

Setelah mengajak gadis itu masuk, Key menyuruhnya beristirahat di kamar tidurnya. Gadis itu hanya diam menurut. Sementara Key ke kamar mandi untuk membersihkan diri menyegarkan pikirannya.

Selesai mandi Key melihat gadis itu sudah terbaring meringkuk tertidur di tempat tidur king sizenya, Key baru ingat dia lupa menanyakan nama gadis itu. Menghembuskan nafas kesal, Key keluar menuju balkon dan duduk disana, menikmati angin yang bertiup memainkan rambutnya yang masih basah menutupi dahi.

“Hahh, apa-apaan aku ini. Otakku pasti sedang kacau.” Kata Key pada dirinya sendiri. Dahinya terlihat berkerut tanda dia sedang berfikir.

Semua memang diluar kebiasaan Key, dia tidak pernah membawa seorang gadispun ke apartemennya, bahkan selama ini Key terkenal cuek terhadap perempuan. Yang diperdulikannya hanya pekerjaan dan bisnis.

Key merupakan pengusaha muda yang cukup sukses. Perusahaannya bergerak dibidang ekspor-impor, Key mengembangkan perusahaannya dengan mandiri dan kerja kerasnya sendiri. Dia bahkan menolak saat appanya menawarkan untuk mengelola perusahaan milik keluarganya yang sudah maju dengan alasan ingin mandiri dan berusaha sendiri tanpa embel-embel dari orangtuanya.

Diusianya sekarang yang masih terbilang muda, yaitu 24 tahun, Key sudah bisa dibilang mapan secara ekonomi, tapi Key tidak mudah puas dengan keadaannya, dia masih terus berusaha mengembangkan usahanya.

Keadaan ini membuat orangtua, terutama Ummanya menjadi khawatir, hingga saat ini Key belum pernah memperkenalkan pacarnya kepada mereka, bahkan terlihat dekat dengan seorang wanitapun tidak. Seluruh perhatiannya memang hanya tercurah pada urusan bisnis.

Hingga beberapa hari yang lalu masalah ini menjadi pertengkaran antara Key dan Ummanya. Pagi-pagi sekali Ummanya sudah menunggu diruangan Key, menandakan ada masalah serius. Ummanya menuntut agar Key cepat menikah, supaya ada yang mengurusinya dan Key sendiri tidak melulu mengurusi masalah pekerjaan. Key berkelit bahwa dia belum siap menikah dan masih ingin fokus pada pekerjaannya, selain itu Key juga mengaku masih bisa mengurusi dirinya sendiri.

Tapi Ummanya berkeras pada pendiriannya, semakin Key membantah semakin sengit Ummanya memaksa. Hingga mau tidak mau hal ini menjadi beban pikiran untuknya.

Itu pula yang membuat Key tidak berkonsentrasi saat menyetir mobilnya dan berakhir dengan seorang gadis yang tertidur di tempat tidurnya yang bahkan namanya saja Key tidak tau.

Malam itu Key terpaksa tidur di ruang kerjanya. Gadis itu masih tidur, tanpa mandi dan melewatkan makan malamnya. Key tidak berniat membangunkannya, gadis itu tidur dengan nyenyak dan wajahnya terlihat letih, berbeda dengan wajah tanpa ekspresi yang ditunjukkannya tadi. Key juga merasa lelah, baik fisik dan juga pikirannya, sehinnga dia memutuskan untuk langsung tidur.

Paginya saat bangun Key menemukan gadis itu sedang bersandar pada kulkas sambil memegang gelas  tapi tatapanya tampak kosong, dia melamun.

“Kamu sudah bangun.” Kata Key dengan suara serak khas bangun tidur.

Gadis itu hanya melirik sekilas padanya, tanpa mengucapkan apa-apa.

“Siapa namamu ?.” tanya Key juga cuek dengan tanggapan yang hampir tanpa reaksi itu.

“Krystal.” Jawabnya singkat.

“Aku Key. Dimana orangtuamu atau keluargamu.”

“Aku tidak punya siapa-siapa.” Sesaat Key melihat tatapan Krystal mengeras, tapi hanya sekilas hingga kembali keekspresi datarnya.

“Lalu apa yang membuatmu berfikir untuk mengakhiri hidupmu.”

“Aku tidak punya harapan. Jadi buat apa aku hidup, bahkan harapanku untuk mati saja tidak bisa terwujud.”

“Dasar bodoh, apa kamu pikir mati itu akan menyelesaikan masalah. Kalau semua orang berpikiran seperti kamu maka neraka akan cepat penuh.” Kata Key sinis, dia selalu menertawakan orang-orang yang berpikiran dangkal, karena baginya hidup harus dihadapi dengan berjuang keras dan tidak menyerah betapa beratpun masalah yang dihadapi.

Krystal, gadis itu hanya diam tidak menanggapi perkataan Key, Key pun tidak ingin tahu lebih jauh masalah gadis itu. ‘Itu bukan urusanku, masalahku saja sudah lebih banyak’ pikirnya.

“Untuk sementara kamu boleh tinggal disini, tapi jangan melakukan hal-hal bodoh. Aku tidak mau sampai dibawa-bawa polisi kalau terjadi sesuatu denganmu. Dan aku hanya tinggal sendiri disini, tidak ada pembantu, hanya petugas kebersihan yang sekali-kali datang, jadi kamu harus mengurus dirimu sendiri.”

Setelah berkata begitu Key berlalu ke kamar mandi tanpa memperdulikan bahwa Krystal hampir-hampir tidak meresponnya.

“Ada supermarket tidak jauh dari sini, kamu bisa membeli pakaian dan makanan disana.” Kata Key sebelum berangkat bekerja. Dia telah meninggalkan uang tunai dan kunci cadangan untuk Krystal, karena seingatnya Krystal tidak menbawa apa-apa.

ooOoo

Sepeninggalan Key, Krystal hanya duduk melamun di meja makan, memandangi uang dan kunci yang ditinggalkan Key dengan tidak tertarik. Alih-alih dia malah beranjak masuk ke kamar Key, membuka lemarinya memilih salah satu polo-shirt dan celana olahraganya lalu masuk ke kamar mandi.

Baju itu jelas kedodoran di tubuhnya yang kurus, tapi Krystal terlihat sama sekali tidak peduli. Dia menghabiskan hari itu dengan duduk melamun di balkon. Makan persiadaan makanan Key yang penuh  sesak di kulkasnya dengan tidak berselera.

Bagi Krystal hidup tidak ada artinya lagi, dia menjalani hari-harinya seperti robot tanpa merasakan apa-apa.

Sementara Key menjalani harinya seperti biasa, penuh dengan rutinitas bisnis dan setumpuk pekerjaan yang harus ditangani.  Sepulangnya dari kantor  dia melihat Krystal masih duduk di balkon apartemennya, memakai baju dan celananya yang kedodoran ditubuh mungil gadis itu.

Krystal sedang menatap lurus ke depan, tapi tatapannya kosong. Key membiarkannya saja, dia juga menemukan uang dan kunci yang dia tinggalkan tadi pagi masih berada berada ditempat yang sama, tanpa bergeser sedikitpun.

Merasa lapar, Key membuka kulkasnya mengambil beberapa makanan dan sekaleng minuman ringan, menemukan bahwa Krystal hampir tidak memakan apa-apa. Key hanya menggelengkan kepala heran, bagaimana orang bisa berpikiran begitu bodohnya. Tapi dia tidak berniat bertanya apa yang membuat Krystal seperti itu.

ooOoo

Hari-hari selanjutnya berjalan sama. Key dan Krystal meski tinggal satu rumah tapi hampir-hampir tidak pernah berbicara.

Krystal tetap tidur di kamar Key, dan Key tidur di ruang kerjanya, dia tidak mempermasalahkan itu, karena tanpa ada Krystalpun Key lebih sering tidur di ruang kerja dari pada kamarnya sendiri.

Meski merasa heran dan kesal kenapa Krystal tidak membeli baju untuknya sendiri dan malah memilih memakai pakaian Key yang kedodoran untuknya, padahal Key selalu meninggalkan uang tunai yang tidak pernah disentuh oleh Krystal, Key hanya membiarkan saja kelakuan gadis itu, juga bersikap tidak peduli.

Dan ini sudah hari ke- 5 Krystal tinggal di apartemen Key.

Key sedang ada meeting penting dengan client saat handphonenya bergetar, caller idnya tertulis Umma.

“Jadi bagaimana Key, apa kamu sudah mempertimbangkan permintaan Umma. Jika kamu tidak segera mengenalkan calon istri kamu, maka Umma akan menjodohkan kamu dengan anak teman-teman Umma.” Cerocos Ummanya bahkan sebelum Key sempat mengucapkan Halo.

“Ohh Mom, please. Aku lagi ada meeting penting dengan client. Nanti aku hubungi Umma lagi, okey. See ya ma.” Key segera memutuskan sambungan telepon sebelum Ummanya bicara lagi dan merusak seluruh moodnya.

Key berusaha berkonsentrasi pada meetingnya. Untuk  pertama kalinya dia merasa tersiksa menjalani meeting panjang dan ingin segera pertemuan ini berakhir. Berkali-kali dia melirik jam tangannya, menemukan waktu seakan tidak bergerak sama sekali membuatnya mengerang dalam hati.

Saat semua selesai Key menghembuskan nafas lega. Ummanya sukses mengacaukan Key kali ini.

Sesampainya diruangannya sendiri, Key langsung menghubungi Ummanya.

“Ma, tolong dong lain kali jangan telepon aku kalau lagi kerja.”

“Trus Umma harus telepon kamu kapan Key. Kamu itu kerja seperti robot, seluruh waktu kamu habis untuk bekerja.”

“Okey Mom, sorry.”

“Jadi bagaimana, kamu mau kenalin calon istrimu sama Umma. Atau Umma yang akan mencarikannya untuk kamu.”

“No, jangan bercanda Ma. Umma pikir ini zaman apa masih pakai dijodohkan segala.”

“Ya sudah, berarti kamu harus bawa calon istri kamu secepatnya.”

“Tapi Ma, aku belum siap nikah.”

“Mau sampai kapan Key, Umma sama Appa sudah tua. Umma ingin melihat kamu punya keluarga, merasakan punya cucu sebelum Umma meninggal.”

“Jangan ngomong gitu lah Ma.”

“Kalau begitu kamu harus turuti keinginan Umma.”

Tutt… sambungan terputus.

Ini bukan permintaan tapi keputusan mutlak. Jika Key tidak segera memenuhinya, maka Ummanya tidak akan membiarkan hidup Key tenang.

ooOoo

Key bingung untuk memenuhi keinginan Ummanya itu, bagaimana mungkin dia mengenalkan calon istri pada Ummanya, bahkan teman dekat wanita saja dia tidak punya. Sedangkan untuk mengikuti saran Ummanya lebih tidak mungkin lagi.

Perjodohan. Kata-kata itu sepertinya adalah hal yang sangat mengerikan bagi Key. Dia tau seperti apa anak teman-teman Ummanya itu. Kebanyakan mereka adalah tipe perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktu di mall dan salon. Cantik tapi tidak bisa apa-apa dan berotak kosong.

Key mengetahuinya karena pernah beberapa kali diminta mengantarkan Ummanya dan dikenalkan dengan beberapa diantara mereka, yang lalu selalu merusak ketenangan hidup Key dengan berusaha menggoda dan menarik perhatian Key dengan berbagai cara, mereka benar-benar mengerikan. Tidak mungkin Key menyerahkan dirinya dalam bencana seperti itu.

Kini Key benar-benar kehilangan moodnya. Sekeras apapun dia mencoba berkonsentrasi pada pekerjaannya tetap saja gagal. Kata-kata Ummanya tetap mengganggu pikirannya. Karena tidak berhasil juga, Key memutuskan untuk pulang walaupun jam pulang masih beberapa jam lagi. Dia merasa butuh istirahat.

Sepanjang perjalanan Key memikirkan bagaiman jalan keluar untuk masalahnya, tapi otaknya terus-menerus menjadi buntu memikirkan masalah ini.

ooOoo

Sesampainya di apartemen dia menemukan Krystal yang duduk di balkon seperti biasa, entah bagaimana tiba-tiba sebuah ide terlintas diotaknya.

Dengan perasaan lebih ringan Key segera ke kamar mandi. Sambil mandi Key memikirkan idenya, sedikit bangga akan kecerdasan otaknya sendiri.

Setelah mandi dan berpakaian, Key segera menemui Krystal.

“Krystal, ada yang ingin aku bicarakan.”

Krystal melirik Key sekilas, lalu kembali melihat lurus ke depan. Key tidak peduli.

“Aku ingin menawarkan sesuatu.”

“Apa ?.” tanya Krystal acuh tak acuh.

“Kamu mau menikah dengan ku.” Kata Key to the point.

Mendengar perkataan KeyKrystal menoleh dan mengerutkan dahi.

“Jangan salah faham. Kita tidak benar-benar menikah, ini hanya formalitas. Sederhananya kita menikah kontrak.”Key menunggu reaksi Krystal, tapi Krystal hanya menatapnya seakan menuntut penjelasan.

“Orangtuaku memaksaku menikah, tapi aku belum siap untuk itu. Aku sama sekali belum memikirkan tentang masalah pernikahan. Tapi aku tidak bisa menolak permintaan Umma. Jadi aku menawarkanmu jika kamu bersedia untuk menikah kontrak denganku. Kita akan menikah selama 1 tahun, seluruh biaya hidupmu akan aku tanggung, dan setelah kita bercerai aku akan memberi imbalan yang cukup agar kamu bisa melanjutkan hidup sendiri.”

“Pernikahan ini hanya status, kita masing-masing bisa melanjutkan hidup seperti biasa. Aku juga tidak akan menuntut apa-apa darimu sebagai istri kecuai jika di hadapan orangtuaku.”Key memberi penjelasan panjang lebar.

“Diterima.”Krystal menjawab cepat, dia mengatakan itu tanpa berusaha untuk memikirkannya terlebih dahulu, bahkan dia sudah tidak memandang Key lagi saat mengucapkannya.

“Apa, oh, kamu bisa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Aku tidak memaksa, kamu boleh menolak jika tidak setuju. Aku tidak suka jika dianggap memanfaatkan orang lain.” Sedikit kaget dan tidak percaya mendengar Krystal yang seakan tanpa beban saat mengatakannya.

“Aku bilang bersedia, dan itu keputusanku.” Jawab Krystal dengan nada tidak peduli.

“Baiklah, aku akan mmembuatkan surat perjanjian secepatnya dengan pengacaraku.”Key mengakhiri pembicaraan dan berlalu masuk ke apartemennya.

ooOoo

Mereka duduk di ruang santai di depan TV, Krystal seperti biasa hanya duduk diam setengah melamun, jiwanya entah sedang berada di mana.

Key dengan cueknya asyik dengan tablet masih sempat-sempatnya mengurusi masalah pekerjaan. Sementara Minho bolak-balik menatap mereka satu-persatu, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Jadi kalian tinggal serumah ?.” tanya Minho masih setengah yakin.

“Hemm.” Jawab Key enteng.

“Kalian tidak melakukan hal-hal aneh kan.”

“Dan, kamu pikir aku anak kecil pakai istilah hal-hal aneh. Dan tidak, lupakan ide gila di otak kamu itu. Kami sama sekali tidak melakukan apa-apa. Kamu pikir apa yang aku lakukan pada gadis itu, lihat dia, seperti mayat hidup begitu. Dia bahkan tidak punya semangat untuk hidup.”

Minho mengamati Krystal yang masih membisu.

“Tapi itu baju kamu kan yang dia pakai.”

“Hahh, itu juga yang membuat aku bingung. Jangan sangka aku begitu pelit tidak memberinya uang untuk membeli pakaiannya sendiri. Tapi gadis aneh ini tidak pernah menyentuh uangku dan malah memakai pakaianku.” Keluh Key.

Mereka membicarakan Krystal seakan gadis itu tidak ada disana. Orang yang dibicarakan pun hanya berdiam diri tidak peduli.

Key memceritakan bagaimana kejadiannya sehingga Krystal bisa tinggal di rumahnya dan tujuan dia memanggil Minho.

Minho adalah sahabat sekaligus pengacara Key. Satu-satunya orang yang menjadi teman dekat Key. Key tidak terlalu suka bergaul, dia lebih senang menjalin hubungan bisnis.

“Kamu yakin dengan keputusan ini?”

“Tentu saja, aku tidak dengan senang hati melakukannya. Tapi tidak ada cara lain, aku tidak mau Umma terus-terusan merongrongku dan mengacaukan pekerjaanku.”

“Tapi dengan dia, apakah…”

“Dia bersedia, dan aku tidak bisa memikirkan kandidat lain.” Potong Key sebelum Minho menyelesaikan kalimatnya.

“Baiklah, terserah kamu. You’re the Boss. Aku akan buat surat perjanjiannya, mungkin besok aku akan mengantarkannya kemari.”

“Tidak, buat sekarang. Aku sudah buatkan point-point pejanjiannya tinggal buatkan surat resminya saja.”

“Oh, Okey. Baiklah.”Minho akhirnya menyerah. Dia kenal baik bagaiman sifat Key, kalau sudah membuat keputusan dia tidak suka menunda-nunda, apalagi dibantah.

“Jadi, siapa nama lengkapnya.” Tanya Minho bersiap dengan laptop di hadapannya.

“Apa itu perlu.”Key menanggapi dengan acuh.

“Tentu saja, jangan bodoh begitu.” Jawab Minho kesal.

“Siapa nama kamu ?.” tanya Key bahkan tanpa mengalihkan perhatian dari tabletnya.

“Krystal.”Krystal menjawab singkat, sam tak acuhnya.

“Nama lengkapmu.”

“Hanya Krystal.”

“Jangan bercanda. Kamu sudah setuju jadi kamu harus mengikuti prosedur.” Kata Key tajam, kali ini sambil menatap kearah Krystal, sepertinya kesabarannya mulai habis.

Tapi Krystal tidak menanggapinya sama sekali. Minho yang melihat gelagat tidak baik merasa harus turun tangan. Dia sama seekali tidak mengerti dengan keadaan Krystal, atau apa yang terjadi dengan gadis itu.

Tapi dia merasa untuk menghadapi orang-orang dengan keadaan seperti Krystal diperlukan kesabaran dan juga perlahan, hal yang tidak mungkin akan dilakukan oleh Key.

“Krystal, begini, aku butuh nama lengkap kamu. Rasanya tidak mungkin jika nama kamu hanya Krystal, bisa tolong kamu sebutkan.” Kata Minho hati-hati.

“KrystalBehavour Jung.”

“Behavour.”Minho menatap wajah Krystal lekat sambil mengingat dimana dia pernah mendengar nama Behavour. Karena sepertinya dia pernah mendengar nama itu, hanya saja dia tidak bisa mengingatnya.

“Ada apa ?.” tanya Key merasa ada yang aneh.

“Tidak, bukan apa-apa.”

Minho melanjutkan membuat surat perjanjian itu dengan mengikuti point-point yang telah dibuat oleh Key sambil menanyakan pesetujuan pada Krystal.

Tapi itu hanya jadi komunikasi monolog karena Krystal hanya merespon dengan anggukan pada tiap point yang ditanyakan Minho bahkan sebelum pertanyaannya selesai dibacakan Minho. Krystal sama sekali tidak repot-repot untuk mempertimbangkannya.

Key sebenarnya merasa geram dan sedikit kesal karena kelakuan Krystal, tapi memilih untuk diam.

“Apa perjanjian ini sah, jika dia terus seperti itu.”Key menjadi sangsi melihat sikap Krystal yang tidak peduli.

“Selama dia masih sadar dan tidak dibawah tekanan maka perjanjian ini sah.”

“Ohh.”

Setelah surat perjanjian itu selesai mereka bergantian menandatanganinya. Tepat setelah Key meletakkan pulpennya handphonenya bergetar.

Umma.

Key menghela nafas berat.

“Key..”

“Iya mom, minggu depan aku akan bawa calon istriku sama Umma.” Potong Key sebelum Ummanya selesai bicara.

“Kamu serius?.” Suara Ummanya terdengar antusias.

“NeUmma.”

“Bagus, Umma akan menyiapkan hidangan istimewa buat kalian.”

“Okey, Mom.”

ooOOOoo

RCL juseyo.. ^_^

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “[FF Freelance] Krystal (Chapter 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s