[Chapter 12] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: AU, Romance || Length: Chapter 12/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2014 by Shinyoung.

Chapter 12 — The News

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

*

Sebelumnya: Setelah berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan mereka mengenal satu sama lain, Myungsoo dan Naeun masing-masing kini merasakan debaran-debaran tak beraturan yang membuat jantung mereka terkadang ingin meledak—atau bahkan, Naeun yang merasakan dirinya sedikit rusak, tentu saja karena dia adalah setengah robot.

Kencan—Naeun tidak bisa menyebutnya kencan, mungkin jalan-jalan—sebentar yang dilakukan Naeun dan Myungsoo membuat mereka sedikit merasa lega. Namun, itu hanya sebentar setelah Bomi memarahi mereka dan perbuatan kejam Naeun terhadap Jaehyun yang sama sekali belum Jaehyun ketahui bahwa harta karun terbesarnya sudah ditebar.

*

Ya! Son Naeun!” Jaehyun berteriak marah ketika melihat harta karun berharganya berbaring di atas lantai dengan seenaknya dan disusun berkelok-kelok seperti jalan panjang. Ia menatap marah ke arah Naeun yang tampaknya puas-puas saja dengan pekerjaannya.

Bomi sendiri sama sekali tidak membantu sama sekali karena ia hanya tertawa-tertawa penampakan itu. Disisi lain, Myungsoo hanya menghela nafas panjang-panjang, lalu turun ke lantai satu untuk mengambil makanan.

Jaehyun segera memunguti harta karunnya itu dan segera melipatnya dengan rapi. Kemudian, ia menyimpannya rapat-rapat di tempat yang tidak akan ditemukan oleh Son Naeun.

“Son Naeun,” kata Jaehyun setelah menutup pintu kamarnya rapat-rapat. “Aku tidak mau kau masuk lagi ke kamarku. Ayo, bantu aku sekarang.”

Naeun hanya tersenyum kemudian mengangguk, lalu ia mengekori Jaehyun sambil terkekeh-kekeh. “Maafkan aku, ne. Aku hanya bercanda. Dengar,” ia mempercepat langkahnya agar bisa bersisian dengan Jaehyun, “aku akan melakukan apapun untukmu sebagai imbalannya.”

Jaehyun mendengus pelan. “Terserah, tapi sekarang bantu aku agar kita cepat selesai dan berbenah. Aku tidak mau berlama-lama.”

“Bagaimana jika kita hapus saja bagian mencari Robovent di seluruh dunia?” tanya Naeun. “Aku pikir, kita bertiga sudah cukup—maksudku, dengan kemampuan yang baru saja kau buat itu.”

Jaehyun tampak berpikir sejenak. Jika ia menghapus bagian itu, mungkin saja itu mempercepat mereka agar hidup sebagai manusia. Tapi, jika mereka kalah, sama saja itu artinya mereka akan mati. Mendengar kata mati saja sudah membuat jantung Jaehyun semakin berdentum-dentum. Terutama jika ia mengingat bagaimana menyeramkannya Barvseu yang akan dilawan mereka.

Tangannya mengutak-ngatik MacBook-nya sambil terus berpikir dan menimbang-nimbang soal menghapus bagian yang dimaksud Naeun. Tak lama, Bomi menghampiri mereka dengan dua piring yang diatasnya terdapat spaghetti dan diletakkannya di atas meja bundar dimana Naeun dan Jaehyun sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Spaghetti buatan Kim Myungsoo,” kata Bomi. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Cepat makan atau spaghetti itu tidak akan enak dimakan saat dingin,” sarannya. Ia mengusap tangannya pada celemek yang digunakannya dan pergi meninggalkan mereka.

Naeun meneliti spaghetti tersebut, berharap bahwa Myungsoo tidak meletakkan racun diatas makanannnya. “Aku berharap dia tidak membuatku mati.”

“Mati?”

“Aku hanya berjaga-jaga, takutnya ia meletakkan racun.”

“Apa yang kau maksud racun, Son Naeun? Aku tidak akan meletakkan itu.”

Naeun menoleh ke belakang dan membelalakkan matanya ketika melihat Myungsoo sudah berdiri di belakangnya dengan pandangan marah. Laki-laki itu bahkan menyipitkan matanya.

**

Siang itu merupakan hari dimana matahari tengah bersinar sangat terik. Sampai-sampai, menyengat masuk ke dalam kulit Naeun. Burung-burung yang biasanya terbang diatas rumah Bomi itu rupanya tidak menampakkan diri dan memilih untuk bersembunyi di dahan pohon rindang yang membuat bulu-bulu mereka semakin gelap.

Tak beda dengan manusia sendiri, Myungsoo tengah di dalam kamarnya menikmati film yang baru saja ia unduh dari internet tadi malam. Ketiga setengah robot itu sendiri sibuk merancang pesawat yang sudah hampir jadi itu. Bicara soal pesawat, akhir-akhir ini mereka menyibukkan diri mereka sampai larut malam dan tidur seadanya.

Bahkan, mereka bertiga sempat tidur di luar—tidak ada yang perlu mereka takutkan soal pencuri karena Jaehyun sudah memasang password luar biasa pada gerbang mereka dan juga tembok yang mengitari rumah itu dibangun sangat tinggi—rumah, maksudnya di halaman belakang.

“Naeun-ah,” panggil Jaehyun sambil memprogram tombol-tombol diatas panel untuk mengendalikan pesawat tersebut.

“Oh, sejak kapan kau menggunakan bahasa informal pada Naeun?” tanya Bomi penasaran. “Setahuku terakhir kali kalian bertengkar dan itu semua karena harta karun berhargamu yang membuatku gila.”

Jaehyun mendengus dan Naeun hanya terkekeh pelan. “Ada apa?” tanya Naeun sambil membantu Jaehyun memasang tombol-tombol itu. Ketika tombol-tombol itu sudah terpasang, bunyi bib terdengar dan artinya panel tersebut sudah terpasang dengan benar.

“Oh itu, Namjoo,” kata Jaehyun. Ia menarik Naeun dan Bomi agar mereka segera menuju bagian tengah pesawat itu. Kemudian, ketiganya langsung mulai mengutak-ngatik bagian tersebut. “Dia tidak pernah menghubungimu lagi?”

“Tidak.”

“Ada apa?” tanya Bomi ikut bersuara.

Naeun mengangkat bahunya. Ia juga baru sadar bahwa akhir-akhir ini Faylars tersebut belum menghubunginya sejak terakhir kali ia membicarakan soal Myungsoo dengan Namjoo. Terutama, fakta yang membuktikan bahwa Jaehyun diciptakan oleh Myungsoo. Itu benar-benar membuat kepala Naeun berputar-putar memikirkan hal tersebut.

Ia sendiri tampaknya tidak bisa mempercayai bahwa Myungsoo bisa membuat hal tersebut. Disisi lain, tampaknya Myungsoo sendiri santai-santai saja di kamarnya—menonton film. Memikirkan hal itu benar-benar membuat otak Naeun terkuras. Jika Jaehyun benar-benar diciptakan oleh Myungsoo, bisa jadi orang tersebut merupakan reinkarnasi dari Myungsoo.

Tidak mungkin Myungsoo bisa hidup sampai tahun 3000.

Naeun menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan tersebut. Sedangkan itu, Bomi menatapnya bingung. “Tidak apa-apa,” jawab Naeun melanjutkan pertanyaan Bomi tadi. “Mungkin dia sedang sibuk karena itu dia memutuskan untuk tidak menghubungiku—mungkin.”

“Ah, sayang sekali.” Bomi menghela nafas panjang.

“Sayang apanya?” tanya Jaehyun. Ia memutar obeng yang ada pada genggamannya untuk memasukkan sebuah mur agar panel tersebut terpasang dengan benar.

Panel yang mereka maksud berada pada langit-langit pesawat di bagian tengah. Awalnya, panel tersebut digunakan untuk menyiapkan tetek bengek—misalkan, makanan atau minuman, dan sebagainya—secara instan, namun Jaehyun justu mengubahnya menjadi panel yang digunakan untuk menyiapkan bom atau peluru besar untuk melawan Barvseu.

Tampaknya, Naeun terima-terima saja dengan keputusan itu. Namun, Bomi menolak habis-habisan karena Jaehyun justru mengubah fungsi panel super tersebut. Lagipula Bomi lebih menyukai makanan daripada peluru-peluru besar tersebut.

“Aku kan merindukannya, bodoh.” Bomi menyikut rusuk Jaehyun dan membuat laki-laki itu meringis kecil.

Jaehyun menoleh ke arahnya dan memberikan kilatan-kilatan pada matanya yang menandakan bahwa Bomi dilarang bermain-main dengannya. Yang diberikan pandangan hanya bersiul-siul.

**

Malam itu merupakan malam yang dingin dan membuat semua orang menggigil. Padahal seharusnya belum musim dingin, tapi sepertinya cuaca sekarang tidak dapat diperkirakan. Ketika semuanya masih dibalik selimut, Naeun justru memutuskan untuk naik ke atap rumah dan duduk di sebuah sofa sambil mengeratkan jaketnya.

Ia memandang keluar balkon sambil mencari-cari orang yang masih berkeliaran pada jam ini—jam 2. Karena tidak mendapatkan apa yang dicari, ia memutuskan untuk menghidupkan Screvisible-nya dan menghubungi Namjoo.

“Eh?”

Jarinya menyentuh pada contact yang terdapat pada layar Screvisible-nya dan munculah daftar nama yang dikenalnya—Namjoo, Jaehyun, dan Bomi—disana. Ia menyentuh nama Namjoo, namun sebuah tulisan peringatan muncul dan membuat Naeun mengerutkan keningnya.

Maaf, sambungan video call tidak dapat diteruskan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi. Ppyong!><

Lagi-lagi, Naeun mencoba menghubungin nomor tersebut. Namun, sebuah tulisan peringatan yang sama muncul lagi. Sebuah perasaan buruk mengalir pada darahnya dan membuat gadis itu sedikit keringatan. Jantungnya berdegup dengan kencang mengingat bahwa Kim Joon-Myeon bisa saja menyerang Namjoo.

Begitu banyak prasangka buruk yang berlalu-lalang dalam otaknya. Kim Joon-Myeon merupakan pria yang paling ia takutkan seumur hidupnya. Hidup dan matinya berada di tangan Kim Joon-Myeon.

“Hei.”

Naeun membalikkan badannya dan mendapati Jaehyun yang tengah melangkah mendekatinya. Jaket tebal hitam yang terpasang ditubuhnya tampak hangat. Ia juga mengenakan sebuah syal berwarna putih yang tampak manis. Kemudian laki-laki itu duduk disampingnya.

Laki-laki itu mengeluarkan MacBook-nya dan kembali sibuk dengan program-programnya. Matanya yang kecil meneliti layar MacBook-nya. Sedangkan itu, Naeun hanya memperhatikannya.

“Ada apa?” tanya Jaehyun. “Ada yang mengganggu pikiranmu?”

Naeun terdiam cukup lama hingga akhirnya ia menjawab, “ada. Namjoo tidak dapat dihubungi. Saat aku mengubunginya, jaringan tidak dapat diteruskan dan aku punya prasangka buruk.”

Jaehyun menutup MacBook-nya, lalu menyilangkan kedua kakinya ke atas sofa dan berpikir keras. Laki-laki itu menyentuh layar Screvisible-nya dan menghubungi seseorang yang tidak dikenal oleh Naeun.

“Dongwoon-a!”

Oh, hyung!” sahut suara disana. Naeun memperhatikan laki-laki dengan rambut yang dicat warna ungu itu. Wajahnya tampak seperti orang luar negeri dan dia adalah seorang Faylars di tahun 3000. Laki-laki itu memperhatikan Naeun dan tersenyum cerah. “Siapa gadis manis disampingmu?

Jaehyun memijit pelipisnya. “Abaikan dia. Dia sahabatku.”

“Oh, begitu,” kata Dongwoon sambil tersenyum jahil. Laki-laki itu mengerucutkan bibirnya. “Bukan pacarmu kan? Atau dia sudah punya pacar? Kalau belum, bolehkan untukku?”

“Astaga,” cibir Naeun sambil menggeleng-geleng.

“Aku mau tanya,” tukas Jaehyun. “Dimana Kim Joon-Myeon?”

Dongwoon mengepakkan sayapnya yang berwarna hitam itu. Ia tampak berpikir, lalu ia menggeser layar Screvisible-nya ke arah sebuah pemandangan—rumah besar dan beraura kelam.

“Rumah siapa?” tanya Jaehyun sambil menunjuk rumah tersebut.

Dongwoon mencibir. “Rumah Kim Joon-Myeon, bodoh. Aku sedang melakukan perjalanan ke tahun 2050. Dan—“ Dongwon menatap ke arah Naeun dan tampaknya laki-laki itu sedang berpikir keras, mencoba mengingat-ingat. Ia menggosok-gosok dagunya sambil terus meneliti wajah Naeun.

“Ada apa?” tanya Naeun yang tidak sanggup ditatapi seperti itu oleh Dongwoon. Terutama, tatapan laki-laki itu tampak mengintimidasi.

“—sepertinya aku pernah melihat wajahmu, dimana ya,” lanjut Dongwoon. “Aku yakin aku pernah melihat wajahmu pada sebuah kertas dan ya ada satu orang perempuan lagi yang aku yakin wajahnya terpampang di sebuah layar besar Veloza Land.

“Jangan bercanda,” kata Naeun marah.

Aku tidak pernah bercanda,” tukas Dongwoon. “Tanya Jaehyun, apa aku pernah bercanda jika aku berekspresi seperti ini?

Jaehyun menggeleng dan membenarkan perkataan Dongwoon. Ia menatap Naeun serius. “Ada yang tidak beres dengan Namjoo dan aku yakin bahwa wajahmu dicari oleh para pengawal Kim Joon-Myeon.”

Sedangkan itu, Dongwoon tampaknya berjalan-jalan di Veloza Land, hingga akhirnya ia tiba di tengah kota Veloza Land dimana sebuah layar besar yang biasanya mengumumkan sesuatu berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan dan tak pernah Naeun bayangkan.

Nah, maksudku itu!” Dongwoon menunjuk layar besar tersebut.

Naeun membelalakkan matanya, begitupula dengan Jaehyun yang tak kalah terkejut. Layar tersebut menampilkan wajah Naeun dan Bomi. Dibawah wajah mereka, tertulis ‘Wanted’ secara besar-besaran. Setelah itu, sebuah video dengan durasi sebentar dari Kim Joon-Myeon muncul.

Keringat Naeun mulai berjatuhan.

Halo, warga Veloza Land!” sapa pria itu dengan balutan jas hitam yang tampak mewah di tubuhnya.

Kini, orang-orang mulai berkumpul mendekati layar besar tersebut agar bisa melihat dengan jelas. Sedangkan Dongwoon yang berdiri cukup jauh tidak mau mengambil resiko untuk berdesak-desakan dengan warga.

Aku mau mengucapkan salam kembali! Setelah melalui peristiwa yang sama sekali tidak aku inginkan—“ Pria itu berdeham sebentar lalu menyeringai seseram mungkin. “—maaf. Aku punya masalah dengan tenggorokan. Lupakan. Aku mau kalian mencari kedua Robolars ini. Mereka berbahaya dan harus dihancurkan. Bagaimanapun itu. Bagi yang menemukan mereka, akan aku beri hadiah sebesar mungkin! HAHAHA.

Setelah tawa menggelegar itu, video tersebut mati dan muncul dua foto lagi yang tak lain adalah wajah Naeun dan Bomi yang dipasang besar. Tubuh Naeun bergetar ketika melihat foto itu. Sedangkan Dongwoon tampaknya santai-santai saja.

Jadi, apa kalian benar-benar berbahaya?” tanya Dongwoon.

Jaehyun menggeleng pelan. “Bukan berbahaya bagi para penduduk. Tapi, Robogent memang bisa menghancurkan kedudukan Kim Joon-Myeon. Karena itulah, ia meninginkan mereka lenyap. Ia takut posisinya tergeser.”

Bah.” Dongwoon mendengus. “Pria itu memang selalu seperti itu dan dia akan hidup selamanya jika Robogent sudah dihancurkan dan punah. Itu adalah keuntungannya.

“Intinya, terimakasih Dongwoon,” kata Jaehyun.

Dongwoon mengangguk dan sambungan video call-pun terputus. Setelah itu, Jaehyun menatap Naeun yang masih bergetar. Gadis itu tampaknya tidak terima setelah melihat video barusan. Tangan Jaehyun mengacak rambut gadis itu, berusaha menenangkannya.

“Aku takut,” ujar Naeun.

“Jangan takut, kita harus seger menyelesaikan pesawat kita. Setelah itu, kita bisa berangkat dan mencari Barvseu. Kita kalahkan dia, maka kita bisa hidup menjadi manusia selamanya dan menghancurkan posisi Kim Joon-Myeon,” kata Jaehyun. Laki-laki itu menepuk kepala Naeun dengan lembut.

“Tapi, jika kita kalah?” tanya Naeun. Wajahnya menatap Jaehyun serius, namun ada sekilas rasa ketakutan di matanya. Ada juga keberanian dibalik wajahnya itu.

“Kita pasti bisa.”

**

Myungsoo menguap lebar ketika Bomi menyuruhnya untuk pergi ke supermarket terdekat. Persediaan makanan mereka sudah mendekati akhir hayat, jadi Myungsoo terpaksa harus pergi ke supermarket—sendirian. Laki-laki itu mengambil kunci mobilnya yang tergantung di dekat pintu utama lalu melangkah keluar dari rumah dengan mata mengantuk. Ia berjalan sempoyongan menuju mobilnya, setelah itu pagar rumahnya terbuka otomatis ketika Myungsoo memundurkan mobilnya.

Laki-laki itu kembali mengingat-ingat daftar belanja yang diberikan oleh Bomi. Ia melajukan mobilnya dengan cepat menuju supermarket setelah pagar kembali tertutup dengan sendirinya. Setibanya disana, ia langsung masuk dan beberapa pegawai langsung menyapanya seperti biasa.

Tak butuh waktu lama bagi seorang Kim Myungsoo untuk belanja. Laki-laki itu mengambil beberapa kup ramen yang dijual disana. Ia juga mengambil sebuah botol anggur yang akan ia minum dengan Jaehyun di malam hari jika mereka bosan. Tak lupa, ia juga membeli beberapa keperluan.

Setelah itu, ia kembali ke mobilnya dan melaju menuju rumah. Ia memasuki rumah dengan tiga kantung belanjaan. Kebetulan, Naeun yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Myungsoo yang tampak kewalahan. Gadis itu langsung merebut salah satu kantung.

“Hei—Kembalikan!”

“Aku membantumu, Kim Myungsoo,” kata Naeun malas. Lalu, ia melangkah menuju dapur dan segera memasukkan barang-barang belanjaan tersebut ke dalam lemari dan kulkas.

Aigoo, ternyata kau cepat juga membelinya,” Bomi menyahut dari belakang mereka. Kemudian ia ikut membantu membereskan barang-barang tersebut. “Ayo, Kim Myungsoo, sekarang bantu aku memasak dan Naeun silahkan bantu Jaehyun.”

Arasseo,” ujar Naeun. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kemudian ia meninggalkan Myungsoo dan Bomi yang hendak memasak.

“Jangan melihat kepergiannya sepert itu,” komentar Bomi. Ia mengambil sebuah tomat dan mulai memotongnya di ata ssebuah nampan. “Kau menyukainya?”

Myungsoo tertawa. “Tidak. Aku tidak menyukainya dalam arti yang spesial. Aku tentu saja menyukainya—bukan membenci,” kata Myungsoo. Laki-laki itu mengambil empat bungkus ramen dan mulai membukanya.

“Bah, laki-laki selalu berbohong,” kata Bomi. Ia mengambil ramen-ramen tersebut dan memasukkannya ke dalam sebuah panci, lalu menyiraminya dengan air. Ia menghidupkan kompornya dan menaruh panci tersebut diatas kompor itu. “Aku tahu kau menyukainya. Jangan membuatnya menaruh impian terlalu tinggi padamu. Maksudku, jangan membuatnya berharap jika kau tidak menyukainya.”

“A—Apa maksudmu?”

“Tentu saja maksudku jangan bersikap seolah kau menyukainya jika kau tidak menyukainya. Gadis sepertinya tidak pernah mengenal cinta,” jelas Bomi kemudian menyenderkan tubuhnya pada kulkas. “Robolars seperti kami tidak pernah mengenal cinta. Kita dibuat untuk bekerja bukan untuk jatuh cinta.”

Myungsoo tidak ingin bertanya untuk apa mereka diciptakan jika tidak ada rasa cinta bagi mereka. Tapi, sepertinya ia memilih untuk membungkam mulutnya karena ia takut Bomi akan memberikan jawaban yang membuatnya semakin bingung. Ia mengaduk-ngaduk ramen yang ada di dalam panci.

“Aku rasa ramennya sudah matang,” kata Myungsoo. Tangannya menunjuk ramen di dalam panci tersebut dengan ujung pengaduk yang digenggamnya.

Wangi ramen direbus menyeruak masuk ke dalam hidung Bomi. Air yang sudah mendidih itu membuat ramen tersebut naik ke permukaaan. Buih-buih putih yang menggelembung hampir keluar jika Bomi tidak segera mematikan kompor tersebut dengan cepat.

Bomi menuangkan ramen ke empat piring dengan jumlah yang sama. Sedangkan Myungsoo menuangkan bumbu ke masing-masing piring lalu mengaduknya dengan sumpit yang dipegangnya. Dalam waktu sekejap, makanan mereka sudah siap.

Keduanya membawa dua piring masing-masing dan meletakkannya di atas meja. Bomi mengatur piring masing-masing dan Myungsoo melengos pergi menuju halaman belakang untuk memanggil Jaehyun dan Naeun yang daritadi tampaknya sibuk dengan pesawat mereka.

Pesawat yang sudah hampir selesai itu tampak asing di mata Myungsoo. Myungoso menghela nafas mengingat bahwa mereka bertiga berasal dari masa depan dan artinya pendidikan teknologi mereka lebih tinggi. Ketiganya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang makan.

“Selamat makan!” kata Naeun sambil menghirup wangi ramen tersebut.

Keempatnya makan dalam keheningan karena tidak tahu harus membicarakan apa atau juga karena terlalu menikmati ramen tersebut. Suara kuah ramen yang masuk menjadi satu-satunya yang menyebabkan keadaan tidak terlalu hening.

Naeun yang memilih diam, Bomi yang memilih untuk menyantap ramennya, dan Jaehyun yang memilih untuk makan dalam nikmat. Hanya Myungsoo satu-satunya yang merasa tidak enak dengan suasana ini. Tapi, ia memilih untuk bungkam karena ia menyadari bahwa hanya dirinya yang merasa aneh dengan keheningan ini.

“Kau sudah menghubungi Namjoo lagi?” tanya Bomi ketika ia sudah menyelesaikan makanannya.

“Belum,” jawab Naeun sambil menyantap habis ramennya. Kemudian, ia meraih sebuah gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya. “Sejak kejadian terakhir itu, aku belum sempat menghubunginya lagi.”

“Kim Joon-Myeon.”

Jaehyun menarik nafas dalam-dalam ketika Bomi menyebutkan nama itu. Seakan ia tidak siap untuk mati sekarang. Siap atau tidak itu bukan masalah, yang menjadi masalah sekarang adalah mereka harus segera bertindak cepat dan menuntaskan tugas mereka.

**

Gadis itu terbangun ketika menyadari bahwa ia tengah berada di penjara bawah tanah dan sama sekali tidak bisa meloloskan diri. Tempat tidur yang sama sekali tidak empuk membuat lehernya menjadi sakit. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan gelap tersebut. Penerangan satu-satunya hanya berasal dari terang bulan.

Bau jerami busuk dan juga air bocor yang mengalir pada penjara tersebut menyeruak masuk ke dalam hidung gadis itu. Ia meneliti sudut demi sudut ruangan penjara tersebut. Ada sebuah wastafel dimana ia bisa mencuci wajahnya, namun ia sama sekali tidak tertarik. Warna wastafel tersebut sudah menjadi cokelat berkerak.

Suara langkah sepatu boot bergema di koridor penjara bawah tanah tersebut. Cepat-cepat, gadis itu kembali ke tempat tidurnya dan berpura-pura untuk tidur. Langkah tersebut berhenti tepat di depan penjaranya. Gadis itu menahan getaran tubuhnya ketika melihat laki-laki bertubuh besar dengan pakaian besi membuka kunci penjaranya.

Laki-laki itu mendekatinya dan membuka pakaian besi yang menutupi kepalanya. Gadis yang tertidur menghadap ke arah tembok itu tentu saja tidak dapat melihat bagaimana wajah laki-laki tersebut. Namun, laki-laki itu justru terjongkok disamping gadis itu.

“Namjoo-ya,” bisiknya.

Gadis itu membalikkan badannya. Ia langsung tersentak ketika melihat wajah laki-laki tersebut. Ia ingin berteriak namun tangan laki-laki itu langsung menutup mulutnya.

“Ini aku Sungjong, bodoh,” bisiknya lagi. Ia menyentil kening gadis itu lalu terkekeh pelan. “Ayo, keluar dari sini.”

Laki-laki itu melepaskan tangannya dari mulut Namjoo. Namjoo pun mengangguk kemudian menunggu laki-laki tersebut yang sedang mengutak-ngatik Screvisible-nya sembari mencuri-curi pandang ke arah pintu penjara yang sempat ditutupnya.

“Cepatlah!” desis Namjoo saat mendengar langkah kaki sepatu boot yang lainnya.

Cepat-cepat Sungjong memakai penutup kepalanya, kemudian ia menutup Screvisible-nya. Tiba-tiba sebuah makanan yang tampak busuk muncul entah dari mana. Kemudian, saat langkah tersebut sudah berada di depan penjara Namjoo, Sungjong memberikan piring tersebut.

“Cepat makan!” titah Sungjong dengan kemarahan dibuat-buat.

“Oh, kau sedang memberinya makan, Jang Dongwoo?” tanya laki-laki tersebut sambil memperhatikan Namjoo yang membuat wajah memelas. “Wah—Wah, aku pikir dia anaknya Kim Joon-Myeon. Tahunya bukan. Jangan sampai dia kabur, bodoh.”

“Iya—Iya, tenang saja, Lee Sungyeol.”

Setelah itu laki-laki tersebut meninggalkan penjara itu. Namjoo menghela nafas lega dengan sangat pelan. Cepat-cepat, Sungjong melepaskan penutup kepalanya. Ia kembali menyentuh Screvisible-nya.

“Caranya kita kabur bagaimana?” tanya Namjoo bingung.

“Kita ke tahun 2014.”

“Apa?” Namjoo menatapnya tak percaya. “Kau bisa melakukannya? Tu—Tunggu, kenapa harus tahun 2014? Kenapa tidak tahun yang lain? Naeun dan Bomi ada disana.”

Sungjong menyentuh Screvisible-nya dengan cepat. “Bisa, karena tahun 2014 adalah tahun dimana satu-satunya yang membuka portalnya sekarang. Jika kita tidak berangkat sekarang, kita tidak bisa kabur.”

“Apa setelah itu portalnya tertutup?”

“Ya.” Sungjong mengangguk pelan sambil menyentuh Screvisible-nya lagi. “Ayo, ambil barang-barangmu, jangan sampai ada yang tertinggal.”

Namjoo segera bergegas membereskan barang-barangnya, lalu ia mengepaknay di dalam tas yang sama. Kemudian, ia mengecek lagi setiap sudut ruangan penjara tersebut. Lalu, ia mengangguk ke arah Sungjong. Sungjong menarik pergelangan tangan Namjoo dengan erat kemudian ia menekan sebuah tombol pada Screvisible tersebut.

“Ini akan cepat.”

**

“Akhirnya sele—.”

“AAAA!”

Naeun membelalakkan matanya ketika melihat apa yang baru saja jatuh di hadapannya. “Namjoo?!” pekiknya tak tertahankan ketika melihat Namjoo dan seorang laki-laki lain yang sepertinya ia kenal jatuh dari langit.

Jaehyun yang berada disampingnya juga ikut terlonjak ketika melihat mereka. Cepat-cepat Jaehyun membantu kedua orang yang baru tiba itu berdiri. Sedangkan, Bomi dan Myungsoo langsung berhambur masuk ke halaman belakang. Sama seperti Naeun dan Jaehyun, mereka berdua membelalakkan matanya.

“O—O—Oh!” Naeun berseru sambil menunjuk laki-laki yagn ada disamping Namjoo dengan mata melebar dan tidak percaya. “Kau bukannya asisten dari Myungsoo? Lee Sungjong!”

“Hah?”

Kini giliran Namjoo yang ikut bingung dibuat oleh Naeun. Ia menatap Naeun dengan pandangan bingung. “Apa maksudnya, Naeun?”

“Aku mengenalnya! Tentu saja,” kata Naeun sambil menunjuk laki-laki itu. Lalu, ia membalikkan badannya dan menatap Myungsoo yang sama tak percayanya dengan Naeun. “Myungsoo, benar kan dia Sungjong asistenmu waktu di studio?”

Myungsoo mengangguk pelan. “Ta—Tapi, bagaimana bisa?”

“Oke! Oke,” potong Sungjong. “Aku akan menjelaskan segalanya!” katanya dengan mata berapi-api. Tapi, detik selanjutnya, wajahnya langsung berubah menjadi manis. “Aku sebenarnya sudah lama tinggal di tahun 2014. Karena itulah aku menjadi asisten Myungsoo. Tapi, karena aku terlalu lama, kekuatanku sebagai Faylars perlahan menghilang. Sejak Myungsoo vakum dari pekerjaannya sebagai fotografer, aku memutuskan untuk kembali ke tahun 2050 dan bekerja untuk Kim Joon-Myeon—.”

“Kim Joon-Myeon?” potong Bomi.

Sungjong mengangguk pelan. “Aku bekerja untuknya dan aku ditugaskan untuk mengawasi kalian semua, tapi rupanya aku tidak bisa melakukannya karena aku—.”

“Jangan diteruskan!” Namjoo menatapnya tajam.

Tapi, sepertinya yang lain hanya mengangguk-ngangguk mengerti. Naeun tersenyum jahil dan menatap Namjoo dengan wajah mengejek. “Aigo, dia menyukaimu kan?” tanya Naeun tepat sasaran.

Sontak, wajah Namjoo langsung berubah menjadi semerah tomat. Gadis itu menyikut lengan Naeun sambil tertawa masam. Lalu, gadis itu mengambil tasnya yang sempat terlempar di dekat pasawat. Gadis itu melebarkan matanya saat melihat pesawat itu.

“Ka—Kalian sudah selesai?” tanyanya.

Naeun, Bomi, dan Jaehyun langsung mengangguk. “Kita baru saja menyelesaikannya tadi, sedetik sebelum kau tiba,” jelas Jaehyun. “Kita berencana untuk berangkat dua hari lagi.”

Tiba-tiba wajah Namjoo langsung berubah menjadi murung. Sungjong yang ada di sampingnya juga ikut mengubah ekspresinya. Naeun yang menangkap perubahan ekspresi tersebut langsung menatap mereka bingung.

“Ada apa?” tanya Naeun penasaran.

“Kita bisa jelaskan, tapi bisakah kita duduk dulu?” tanya Sungjong mendahului Namjoo yang ingin buka suara.

“Ah—Ah, tentu saja!” seru Bomi sambil mengajak mereka semua masuk ke dalam rumahnya.

Keenamnya langsung duduk di sofa yang berada di ruang televisi. Ketika Myungsoo ingin duduk disamping Naeun, cepat-cepat Bomi menyingkir dan membiarkan Myungsoo duduk disamping gadis itu.

Keduanya duduk bersebrangan dengan Sungjong dan Namjoo. Sedangkan itu, Jaehyun dan Bomi mengambil sofa sendiri yang saling bersebrangan. Ketika mereka sudah mengatur posisi mereka, Sungjong pun berdeham.

“Aku minta maaf,” kata Namjoo mengawali pembicaraan. “Aku harap kalian tidak kecewa dengan berita kali ini.”

“Apa maksudnya?” tanya Naeun semakin penasaran.

Myungsoo langsung menyentil kening gadis itu dan tertawa. “Dengarkan perkataan Namjoo dulu, baru berkomentar.”

Naeun mengerucutkan bibirnya lalu mengangguk pelan. “Arasseo, lanjutkan saja Namjoo.”

“Ini tentang aku yang tidak dapat dihubungi akhir-akhir ini.” Namjoo menghela nafas panjang. “Diawali dengan terakhir kali kita berhubungan yaitu saat kau bertanya soal pesawat. Hari itu, aku benar-benar sibuk dan aku harus memperkuat sihir pada Kim Joon-Myeon yang lupa ingatan.”

“Saat itu,” tambah Sungjong. “Kim Joon-Myeon mulai teringat akan masa lalunya karena saat itu Lee Sungyeol yang datang ke rumah Kim Joon-Myeon dan semuanya langsung berubah. . .”

 

 

Veloza Land, 2050

“Aku ingin bertemu dengan Tuan,” kata Lee Sungyeol dengan nada galak terhadap pengawal rumah Kim Joon-Myeon yang sudah siap dengan senjata mereka. “Aku akan membantunya mengingat segalanya. Aku yakin ada yang membuat ingatannya hilang.”

“Kau tidak bisa seenaknya masuk jika tidak membuat janji dulu dengan Tuan Kim Joon-Myeon,” sahut pengawal di kanan dengan nama Yang Yoseob.

Pengawal di kiri yang bernama Yoon Doojoon mengangguk menyetujui perkataan Yoseob. “Benar, kau harus membuat janji dulu. Jika tidak membuat janji, kita tidak akan membiarkan kau masuk seenaknya dan ada urusan apa dengan lupa ingatan itu?”

“Bah,” Sungyeol mencibir lalu ia tertawa mengejek. “Apa kalian semua tidak ingat dengan kejadian saat itu? Kejadian saat Tuan Kim Joon-Myeon mengejar setengah Robolars.”

“Setengah Robolars?” Doojoon mengerutkan keningnya lalu ia menatap ke arah Yoseob dan secara bersamaan mereka berdua langsung tertawa terbahak-bahak. “Setengah Robolars katamu? Memangnya ada?”

Sungyeol menarik ujung bibirnya. “Biarkan aku masuk!”

“Tidak!” sahut Yoseob tegas. “Buat janjinya dulu maka kami akan mengijinkanmu untuk masuk sekarang. Silah—.”

“Ada apa ribut-ribut?”

Suara rendah tersebut membuat ketiganya langsung terdiam dalam ketegangan. Kim Joon-Myeon muncul di balik pintu utama rumahnya dengan balutan piyama tidur. Ia menatap Sungyeol dari atas sampai bawah.

“Lee Sungyeol rupanya,” ujarnya. “Ada apa kau kesini malam-malam?”

“Aku akan membantu Tuan untuk mengingat kembali masa lalu Tuan yang pernah hilang.”

“Hilang?” tanya Joon-Myeon dengan wajah bingung. Ia tertawa pelan dan kembali menjadi serius lagi. “Aku tidak pernah menghilangkan ingatanku. Jikalau aku memang kehilangan ingatanku, bisakah kau mengembalikannya? Apa kau tahu detail kehidupanku? Apa saja yang aku lupakan? Apa semua itu penting bagiku?”

Sungyeol mengangguk. “Aku bisa mengembalikannya. Tentu saja tidak dan banyak yang kau lupakan, Tuanku. Semua itu penting karena itu berhubungan dengan memunahkan seluruh setengah Robolars yang bisa menyingkirkanmu sebagai penguasa Veloza Land.”

Kim Joon-Myeon terdiam sejenak dan tepat saat itu tubuhnya bergoyang hebat. Kepalanya langsung merasa pusing dan sentruman-sentruman menjalar di kulitnya. Cepat-cepat, Yoseob dan Doojoon menangkap tubuh pria itu ketika hendak terjatuh.

Mereka membawa Kim Joon-Myeon masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan pria itu di atas tempat tidurnya.

**

“. . .Setelah itu, Kim Joon-Myeon kembali mengingat masa lalunya dan Namjoo sama sekali tidak berani membuat resiko lagi. Kebetulan ternyata dia tengah berdiri di luar kamarnya dan dapat mendengar perkataan Kim Joon-Myeon,” lanjut Sungjong.

Tubuh Naeun kini bergetar. Myungsoo menggenggam lengan gadis itu dengan erat mencoba menghilangkan rasa ketakutan yang mulai menjalari gadis itu.

“Lalu,” Namjoo melanjutkan. “Sungjong benar-benar mengejarku dan aku berhasil kabur karena dia yeah—uh—menyatakan itu.” Wajahnya kembali merona dan Sungjong hanya terkekeh pelan melihat wajah gadis itu.

“Getaran cinta,” cibir Bomi. “Menyebalkan, dasar Faylars.”

“Kau bisa jatuh cinta setelah menjadi manusia,” balas Namjoo lalu keduanya tertawa. “Kemudian aku kabur dan mencari tempat dimana aku bisa menyembunyikan diriku. Namun sepertinya Kim Joon-Myeon tidak gentar mencariku. Ia menemukanku dan aku tidak tahu lagi setelah itu.”

“Kenapa kita tidak berubah menjadi manusia jika Kim Joon-Myeon sudah menghancurkan Barvseu?” tanya Naeun.

Bomi dan Jaehyun mengangguk menyetujui pertanyaan yang diajukan Naeun. Namjoo pun menghela nafas panjang. Ia menggosok pelipisnya seakan ia merasa malas untuk menjelaskannya lagi kepada mereka bertiga.

“Seperti yang dikatakan pada buku itu. Hanya setengah Robolars yang bisa menghancurkannya dan mereka bisa berubah menjadi manusia. Jika Kim Joon-Myeon yang menghancurkannya, maka kalian tidak bisa berubah menjadi manusia,” jelasnya.

Naeun mendengus kesal. “Dasar pria tua.”

Sungjong langsung terkekeh pelan. “Intinya, ketika aku sudah membiarkan Namjoo pergi, aku kembali ke rumah Kim Joon-Myeon dan mengatakan bahwa Namjoo sudah menghilang entah kemana. Pria itu tampaknya tidak marah dengan kegagalanku, tapi dia terus mencari Namjoo. Disaat pengawalnya terus mencari Namjoo, aku menyempatkan diri untuk selalu mencuri dengar informasi Kim Joon-Myeon.”

“Kau belum menceritakannya padaku,” protes Namjoo.

“Aku memang belum menceritakannya tapi akan,” balas Sungjong. “Informasi yang aku dapatkan salah satunya adalah Kim Joon-Myeon akan membawa seluruh pengawalnya untuk menghancurkan kalian berdua dan. . .”

“Dan?” tanya Bomi.

“Melakukan perjalanan ke tahun 2014.”

*

*

*

to be continue.

A/n: Halo! Sengaja lagi nyisipin author note nya dibawah biar pada baca semua. Tiap hari aku selalu bilang kalau aku makasih banget sama yang udah baca, komentar, like, bahkan yang kasih rate. Makasih banyak♥ Soal ending, tenang aja kok. Aku udah persiapin matang-matang soal ending yang udah ada di otakku. Dan yang terakhir, kabar bahagianya aku SMA:’) Abaikan aja HAHAHA. Intinya, makasih yang udah baca sampai chapter ini dan selalu setia menunggu setiap harinya lol.

BuatJayanthi—yang sering komentar pertama, DkJung, DheeZha, Refitafj, Anisa, dan para pembaca lain yang selalu setia berkomentar. Laaf

13 thoughts on “[Chapter 12] 2050

  1. Makin menegangkan thor >///< yaamfon penasaran deh ama next chapternya !! Ditunggu ya next partnya good luck oh iya slmt ya yg udah jadi anak sma muehehe

  2. Ahh cieacieaciee,, nmakuu ituu bka /g, jdii trsandung /eehh~ㅋㅋㅋㅋ dooh mian ga bsa jdii coment prtma, sbuk nget, tpii krenn niih critanya mkii,, grrrr.. Jdii pnsaran gmna sma myungsoo pas mreka prtmpur, slmat thorr udhh SMA ciee :* ayuuahh fighting (ง’̀⌣’́)ง

  3. daebak thor!!! makin keren ceritanya ><
    next jangan lama2 ya thor. Fighting!!! '-')9

  4. penasaran ni apa akan jadi..aku harap mereka ketemu barveus ya sebelum suho sampai..kalau nggak cerita ni aku anggap akan jadi sad ending….

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s