That Glazed Winter – Chapter 3

that glazed winter

THAT GLAZED WINTER

“A Bit Messy”

BY

Kiran

Casts  :  Sulli (f(x)) & Do Kyungsoo (EXO-K)  ||  Additional Casts : Kai (EXO-K), Tiffany (SNSD), Baekhyun (EXO-K), Kris (EXO-M),   ||  Genre  :  Romance, Fantasy, Western  ||  Rating  :  PG-16 || Length : Chapter || Credit Poster : funluobell

Inspired by C.S. Lewis’s Narnia & Eloisa James’s Desperate Duchess Series

Previous Chapter :

Prologue | 1 | 2

*****

More Detail:

Sulli as Sulli Mareviere, putri dari James Mareviere, Duke of Rovaldine

D.O as Dio Soilaven, pewaris keluarga Nobel of Ritzoviral

Tiffany as Tiffany Reindfelt, putri Navis Reindfelt, Nobel of Everolen

Baekhyun as Baekhyun Byun, pewaris keluarga Nobel of Zousanorve [sub-urban family]

Kris as Kris Mareviere, pewaris keluarga Duke of Rovaldine

*****

“Mister Byun,” ucap Sulli saat ia menyadari sosok Baekhyun adalah seseorang yang sempat membuat hatinya berdebar-debar. “Kau membuatku berpikir yang bukan-bukan,”

“Kau berharap ini Dio Soilaven?” ucapnya dengan membuka tangannya seolah-olah ia bisa mengubah sosoknya menjadi Dio Soilaven hanya dengan memutar tubuhnya ditambah beberapa gaya bak pesulap profesional.

“Shut!” ucap Sulli sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya. “Jangan menyinggungnya, Sir. Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?”

“Aku berterima kasih kau menemukan Tiffany,” ucap Baekhyun sebagai pendahuluan. “Ternyata dia diculik oleh bandit sewaktu melakukan riset di Black Forest dan dibuang di hutan lindung belakang Cair Paravel dalam keadaan berdarah.”

“Oh, Aslan! Apa dia menerima pelecehan?” ucap Sulli bersimpati. Ia tidak tega memikirkan seorang perempuan berdarah yang dibuang di hutan. Dunia memang terasa kejam saat seseorang tengah berjuang menghadapi kejadian seperti itu.

“Tidak. Organ vitalnya baik-baik saja, hanya saja bagian veterbrae retak dan ditemukan hematoma di kepalanya. Sekarang sudah baik-baik saja dan sudah bisa mempersiapkan pernikahan.”

“Pernikahan?” ucap Sulli untuk meyakinkan pendengarannya. Kenapa akhir-akhir ini banyak yang menikah sih?

“Ya. Dengan sepupuku, Fin, Nobel of Volureaf. Aku di sini tinggal bersama ayahku di rumah sepupuku itu. Ayahku gurunya Ritzoviral, maka dari itu aku dan dia berteman akrab.” jelas Baekhyun panjang lebar, tapi tak cukup untuk membuat Sulli mengerti.

“Tiffany akan menikah dengan seorang duda?”

“Bukan. Dia pewaris. Kami─para pewaris─para ilmuwan─terbiasa memanggil nama gelar di kehidupan sehari-hari.” jelas Baekhyun dan berhasil membuat Sulli paham.

“Oh, begitu. Jadi kenapa bukan Fin yang datang ke sini?”

“Karena dia Native Nobel─semacam keluarga Nobel yang menjadi panutan Nobel lainnya. Semacam Dio lah. Kau tahu sendiri aku hanya keluarga Nobel yang berasal dari Timur Narnia jadi pergerakanku tidak begitu diperhatikan.”

“Jadi itu yang membuatmu berani datang ke sini sedangkan Dio maupun Fin tidak?” tanya Sulli mencoba menyimpulkan.

“Begitulah. Ah, aku dapat pesan dari Dio. Ini.” ucap Baekhyun sambil memberikan kertas berstempel merah. Sulli membalik kertas itu, tapi ia tak menemukan apapun.

“Kau harus memasukkan ke dalam bak berisi air untuk melihat isinya. Dio tidak ingin aku tahu rahasia kalian berdua. Sangat kekanak-kanakan. Baiklah, aku pergi dulu. Kiriman kain dan perhiasan dari Fin sepertinya akan sampai besok. Aku sudah menyabotase namanya menjadi Gustav Ensor. Kau harus menerimanya, Miss Mareviere.”

Ah, sepertinya Baekhyun lebih tidak sopan daripada Sulli. Selain tidak mendengarkan balasannya, ia tidak memberi hormat, dan sedikitpun tidak menyentuh teh maupun camilan yang disediakan pelayannya. Poor Baekhyun!

Sulli cepat-cepat pergi ke kamar mandi. Ia menyumbat saluran air di wastafel kamarnya lalu menghidupkan keran dengan level maksimal. Saat air sudah cukup untuk merendam, kertas berukuran 10×20 cm itu langsung diletakkan di atas permukaan.

Beberapa saat terlihat tulisan yang muncul. Doverone Palace, Perpustakaan Barat Aula, Jam Kedua Pesta Pangeran Kai, begitulah yang tertulis. Sangat singkat, padat, dan jelas. Oh, kalau dipikir-pikir, Pangeran Kai sebaya dengannya, mungkin Dio di situ karena mereka saling mengenal dan lagipula pesta itu untuk bangsawan dan orang-orang yang mungkin berpengaruh di istana.

Ya, ini terjadi satu kali dalam satu generasi. Biasanya dilakukan dua belas tahun pasca penobatan putra mahkota. Pendidikan putra mahkota dilakukan selama sepuluh tahun dan dua tahun terakhir biasanya untuk pencarian calon putri mahkota. Jadi, pesta itu bisa berarti proses pemilihan maupun penetapan hasil. Tidak ada yang tahu kecuali raja yang memimpin, biasanya begitu.

Jadi hari itu benar-benar mendebarkan.

~k~

Hari ini Sulli datang lagi ke Rown Manor untuk kali keduanya. Ia bertemu dengan waitress yang sama dan diantarkan pula ke ruangan yang─oh tidak─ia melewati nomor 4. Sebenarnya─ia sedikit kecewa karena surat Tiffany benar-benar dari Tiffany. Sungguh saat-saat seperti ini ia benar-benar merindukan Dio.

“Silakan, Miss.” ucap perempuan itu saat berhenti di ruang nomor 7. Pelayan itu membukakan pintu untuk Sulli. Sulli segera melangkah dan─yah─benar-benar hanya ada seorang perempuan yang duduk di sana sambil menampilkan senyuman tulus yang dibalas Sulli dengan anggun.

“Kau sangat cantik, Miss Mareviere. Senyummu memperjelas semuanya.” sapa Tiffany sambil bersalaman dengan Sulli. “Aku sangat berterima kasih pelayanmu kau bolehkan untuk menolongku. Kau tidak bersamanya?”

“Dia mengantar ibuku jalan-jalan. Entahlah, semenjak Kris menikah di bawah tangan dan tak ingin melaksanakan pesta pernikahan, ia selalu pusing berada di rumah.”

“Ah, kudengar kakakmu menikah dengan putri Max Crownwell. Hal itu sempat memunculkan isu negatif di parlemen.”

“Ah, benarkah?”

“Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Kabar seperti itu belum tentu benar.”

Mereka berdua sudah duduk dan siap dilayani oleh seorang koki dan seorang waiter di dalam ruangan. Menu pertama mereka, anggur─tentu saja. Setelahnya ada appetizer yang lumayan menaikkan nafsu makan sehingga membuat mereka benar-benar menikmati hidangan utama. Dan beberapa dessert yang belum dikeluarkan.

“Kudengar dari Baekhyun, kau dekat dengan Dio,” ucap Tiffany berusaha bersikap akrab pada Sulli.

“Ya. Lumayan.” ucap Sulli sambil tersenyum dan membuat Tiffany lega.

“Kau tahu makanan kesukaannya? Olahraga yang disukainya? Buku-buku apa yang sering ia baca?”

Sulli berhenti makan. Kenapa Tiffany menanyakan pertanyaan ini? Apa mungkin─

“Aku tahu sedikit dari Baekhyun. Saat bertemu Baekhyun dia sering bercerita tentang Dio, Fin, Stafan, Ron, dan teman-teman main lainnya. Oh ya, apa aku sudah bilang aku tetangga Baekhyun?”

“Belum. Dan aku tidak tahu apapun tentang Dio.” jawab Sulli sedikit kecewa. Ia sedikit cemburu ada perempuan lain yang lebih tahu tentang Dio Soilaven.

“Aku hanya tahu olahraga favoritnya. Ia suka bermain tennis bersama dengan Fin, Stafan, dan Baekhyun.”

“Kukira kau tahu semua jawaban pertanyaan itu,” ucap Sulli lega. “Tadi aku hampir-hampir cemburu.” lanjutnya sambil tertawa.

Dan sepertinya kali ini Tiffany masuk dalam daftar teman terbaiknya.

“Kuucapkan selamat atas rencana pernikahanmu dengan Fin,” ucap Sulli tulus sebelum ia keluar dari Rown Manor. “Semoga itu adalah pernikahan yang membahagiakan. Aku akan menulis surat untukmu. Ah, biasanya keluargaku menyortir surat yang layak untuk sampai ke anggota keluarga. Aku tidak boleh menerima surat dari seorang pria kecuali pria yang masuk dalam daftar ayahku. Apa keluargamu juga begitu?”

“Entahlah, aku tidak terlalu perhatian dengan hal-hal seperti itu. Mungkin kau bisa menggunakan nama adik Dio, Jess Soilaven?”

“Ah, terima kasih atas ide brilian itu. Aku pergi. Ya, kali ini akan benar-benar pergi. Terima kasih untuk makan siang gratis. Setelah ini aku akan menyampaikan hadiah ini untuk Letitia.”

“Kau terlalu banyak bicara, Sulli Mareviere. Sungguh menyenangkan punya teman yang ceria.”

~k~

“Your Grace, jangan terlalu banyak bergerak. Eyelinernya bisa tidak rapi. Nah baiklah. Anda harus tetap memejamkan mata selama tiga menit. Tahan.” papar Letitia yang sibuk menjejalkan beberapa jenis make-up ke wajah Sulli. Sekarang ia mulai merapikan lagi bagian pipi agar tampak merona alami. Dan sungguh saat berganti ke masalah rambut sepertinya menjadi tidak mudah. Rambut yang cenderung jatuh itu sepertinya akan banyak memerlukan jepit dan hairspray.

“Lety, bolehkah aku membuka mataku?” pinta Sulli yang tidak tahan dengan keadaan gelap yang dirasakannya.

“Anda boleh, Miss. Terima kasih atas kesabarannya.”

“Hah, akhirnya. Uh, mukaku jadi seperti pelacur sekarang.” nilai Sulli saat ia melihat dirinya ke cermin. “Ah, seharusnya kau tidak usah menaikkan rambutku, Lety. Sungguh, aku tidak ingin terlihat seperti gadis bar-bar.”

“Your Grace, pesta kerajaan memang begitu. Apalagi kau akan bertemu dengan keluarga kerajaan dan bangsawan lainnya. Anda benar-benar harus begini, Miss. Buatlah semua orang terpukau. Hilangkanlah image gadis manis yang lugu itu sesaat dan bergantilah menjadi angsa merah yang menakjubkan.”

“Angsa merah?”

“Aku tidak bisa menyebutmu merak, Miss. Aku tidak ingin kau terlihat bar-bar dengan tipe itu. Lagipula ini debut pertamamu. Kau harus jadi yang paling memukau.”

“Ya, ini memang pesta pertamaku. Ya. Ya. Terserah padamu.”

“Saatnya memakai gaun, Your Grace,” ucap Letitia sambil mengeluarkan gaun merah lipid berbahan ivory silk model gown dengan dihiasi berlian-berlian kecil di sudut-sudut tertentu yang membuat gaun itu super mewah. “Tapi sebelum memakainya aku harus mengencangkan korset yang kau pakai, Your Grace.”

“Oh Lety, kau membuat dadaku…” kata-katanya terpotong oleh suara yang keluar dari bibir Letitia. “Terlihat indah, bukan begitu, Your Grace?”

“Ini pelecehan penglihatan. Seharusnya kau tidak melakukan ini kepada majikan setiamu.” bantah Sulli dengan nada sedikit lebih tinggi dari Letitia.

“Kali ini kau tidak boleh sembarangan memakai baju, Your Grace. Demi reputasimu di kalangan ton.”

“Baiklah. Aku akan mengingatnya. Kalau masih ingat.”

Sulli memasuki kereta kuda yang lebih mengkilap dari biasanya. Ia melepaskan senyum ke arah Letitia, mengkodenya apakah ini termasuk dalam kerja kerasnya. Letitia hanya mengangguk dan berkata, “Selamat jalan, Miss. Semoga saat kau pulang kau membawa kabar gembira.”

“Ah, Lety. Aku hampir lupa. Ambillah kotak berwarna merah hati di atas meja rias. Itu untukmu dari seseorang yang ingin berterima kasih padamu tapi belum sempat.”

Dan kereta kuda itu melaju…

~k~

Aula Dansa Doverone Palace memang tidak pernah tidak menarik. Sungguh. Saat Sulli menapaki kakinya ke lantai karpet Doverone Palace, ia bahkan sudah terpukau dengan rangkaian-rangkaian bunga yang dipasang di sudut-sudut tertentu dan ditata dengan sangat baik. Benar-benar sebuah pesta kelas atas. Terlebih kemewahan itu dimeriahkan juga dengan alunan musik klasik yang memperkuat suasana.

Ia tak melihat banyak lelaki bujang. Kebanyakan sudah menikah dan bersama dengan istri mereka. Malahan lebih banyak gadis-gadis bangsawan yang datang pada acara ini. Dan Sulli tahu sepertinya sang pangeran belum akan mengumumkan sebuah pertunangan karena yah, lihatlah. Dia akan memilih seseorang untuk melaksanakan acara sakralnya itu.

“Your Grace,” sapa seorang pria sambil mencium tangan Sulli. “Mareviere memang memiliki keturunan yang fresh dan memikat. Mau berdansa denganku?”

“My Lord,” balas Sulli sambil tersenyum. “Kau yakin istrimu tidak apa-apa dengan ini? Kudengar ia seseorang yang membabi buta.” tambahnya sambil membayangkan wajah Lady Villeal yang bermuka merah dan bermata kecil itu mengamuk di tengah pesta ini.

“Dia tidak cemburu dengan putri seorang Duke. Kalaupun dia menemukanku dengan salah satunya, pola pikirnya akan berkata aku sedang menjilat.” balas Villeal sambil mengedipkan salah satu matanya.

“Kau jujur sekali, My Lord. Baiklah, ini hadiahmu.” ucap Sulli sambil menyerahkan tangannya kepada Villeal. Pria yang setengah rambutnya berwarna putih itu menerimanya dengan senang hati.

Setelah beberapa kali berdansa dengan bermacam-macam lord yang berbeda─yang dia kenal tentunya, kali ini Sulli benar-benar menguasai pesta. Ya, kelihatan sekali istri-istri bangsawan mulai berkasak-kusuk tentang Sulli Mareviere dan menguatlah pemikiran para istri itu untuk segera menikahkan putra mereka dengan putri Duke yang paling berkuasa ini apabila Pangeran Kai tak cukup bodoh untuk tak memilihnya.

Dan… lihatlah di sana seorang pria gagah yang matanya bersinar saat melihat Sulli Mareviere tertawa dan bercanda dengan Lord Villeal. Bukankah dia sang pangeran? Lalu pada siapakah hatinya jatuh? Sulli Mareviere─yang merupakan pacar gelap Dio Soilaven? Atau… seorang gadis yang tak kalah menarik yang berdiri di sebelahnya dalam jarak yang dekat?

Teng… Teng… Teng… Teng… Teng… Teng… Teng… Teng… Teng… Teng… sepuluh dentuman. Ya, ini adalah dua jam pertama pesta Pangeran Kai. Sulli harus keluar dari aula pesta ini tanpa disadari untuk bisa bertemu dengan Dio Soilaven. Pertama-tama ia harus melewati Lord Villeal, teman ayahnya yang humoris itu.

“My Lord, aku harus ke meja ayahku. Lihat ibuku sudah melambai ke arahku.” Ia memanfaatkan situasinya dengan baik. Dan Duchess membantunya lebih dari cukup. “Aa, silakan, Milady.”

Sebenarnya, ini juga tidak terlalu baik. Kakinya sudah mengarah ke sana, ke meja dua keluarga yang sepertinya masih tidak terlalu dekat. Terlihat sekali undangan yang hadir tempat duduknya telah diatur. Betapa membosankannya aturan duduk sepertu itu. Tapi sepertinya─ah, sepertinya Sulli memahami kenapa lord-lord tadi tampak tidak berniat untuk kembali duduk. Aturan duduknya berubah! Earl Carsson tidak semeja dengan Earl Lonsde, tapi dengan Marquess Marces. Sedangkan Earl Londsde dengan Duke Northway, yang biasanya duduk dengan Duke Rovaldine. Dan Duke Rovaldine duduk dengan… Astaga! Dunia terasa hampir runtuh untuk Sulli.

“Sweety, duduklah sayang.” ucap Duchess lembut. Sepertinya kesensitivannya terhadap Victoria sudah menghilang. Entahlah ini karena Letitia atau memang sang duchess sendiri yang menginginkannya untuk segera sadar dari kesia-siaan belaka.

“Your Majesty,” sapa Sulli sambil membungkukkan badan dan mengayunkan tangan khas bangsawan kepada pria yang nantinya akan menggantikan singgasana Raja Demian IV itu.

Pangeran Kai berdiri, mencium tangan Sulli sebagai tanda kesopanan kebangsawanan terhadap seorang lady, dan mempersilakan duduk di kursi sebelahnya, kursi terakhir yang masih kosong dan jelas-jelas tertulis namanya di balik kursi itu.

“Jadi, apa yang akan kau bicarakan pada kami, Your Majesty?” tanya Lockar yang sepertinya siap dengan kemungkinan yang ada. Sesungguhnya ini terasa membingungkan. Bagaimana bisa ia yang seorang Baron duduk dengan Duke yang jelas-jelas punya kekuasaan yang besar di sebuah pesta kerajaan? Selisih empat tingkat kebangsawanan…

Bagi Sulli ini sebuah anugerah apabila Kai menyukai Krystal. Bukankah ia mengatur tempat duduk sedemikian rupa untuk menunjukkan pada dunia bahwa ia bisa mengatur segala sesuatunya sesuai dengan kekuatan dan kekuasaannya? Lalu apakah ia ingin membuktikan kalau ia tidak harus menikahi seseorang yang berasal dari keluarga Duke dengan pola duduk seperti ini?

“Kau terlalu jauh dariku, Sweety.” ucap Kai kepada Sulli. “Buat jarak yang sama seperti Krystal.”

“Your Majesty, itu─” Kai menatapnya sebelum kalimat itu diselesaikan. Pria itu mengangguk, memaksudkan untuk menuruti permintaannya.

Sulli menggesernya seanggun mungkin, tersenyum, dan masih bisa bersikap senormal mungkin terhadap ketidaksopanan ini. Hanya karena pria itu Your Majesty, semua orang mengabaikan kesopanan. Sungguh memuakkan!

“Sebelumnya kuucapkan selamat atas pernikahan Kris Mareviere. Kudengar mereka berangkat ke Wornbusk untuk berbulan madu hari ini.”

“Terima kasih, Your Majesty. Akan kusampaikan.” balas sang duke tulus, melupakan tatatan leluhur yang diacak-acak oleh sang pangeran. “Jadi bisakah Anda sampaikan maksud perubahan pola ini?”

“Ah, kujelaskan.” ucapnya sambil melihat keseluruhan ekspresi di meja ini. “Kuanggap kalian semua tahu fungsi diadakannya pesta ini. Baiklah, kuperjelas. Jadi aku telah menemukan kandidatnya.” Kai merilekskan duduknya dan kembali melanjutkan. “Sulli Mareviere─pilihan ayahku dan Krystal Borstone─pilihanku.”

Ini suasana yang sulit. Tak mudah diurai dengan kata-kata apapun. Maaf aneh, marah salah, diam malah membingungkan. Baik kedua kepala keluarga hanya diam. Tidak berani menghakimi sang pangeran mahkota yang tampak tidak puas. Ayolah, dia ingin si Duke marah dan menganggap ini sebuah hinaan untuk keluarganya, tapi lihatlah paras si Duke yang masih sabar seperti pastur yang berdoa dengan penuh ketenangan. Ia berhasil membuat sang pangeran resah dan merasa bersalah.

“Terima kasih, Your Majesty. Saya akan selalu mengingat kebaikan Anda.” ucap Sulli memecah ketegangan sambil tersenyum. Terlihat pula senyum samar telah terpampang di wajah sang duke dan duchess. Mereka bersyukur Sulli akan menyelesaikan ini dengan baik karena gadis pendoa itu sopan dalam bertutur kata.

“Anda bisa langsung menikahi Krystal kalau Anda menginginkannya. Bukankah dalam pacts yang mengatur tentang keluarga kerajaan disebutkan bahwa dalam pesta yang diselenggarakan oleh putra mahkota ditujukan untuk memilih putri mahkota secara bebas asalkan pengundangnya adalah Ratu? Saya menerima surat yang terdapat royal sign dan kupikir semua hadirin yang ada di sini juga sama. Saya melihat kelima golongan bangsawan ada di sini, jadi saya pikir pesta ini bukanlah sebuah konspirasi. Anda berhak menentukan pilihan Anda, Your Majesty.” Sulli melepaskan nafas yang sempat tercekat dengan kelegaan yang luar biasa. Ia kembali melirik ke arah kedua orangtuanya. Ayahnya mengangguk, namun ibunya tidak menampakkan ekspresi apapun. Ia berdiri, hendak undur diri dari sesuatu yang sepertinya tidak berhasil diselesaikannya dengan baik.

“Apakah Duke akan baik-baik saja kalau aku memilihmu, Your Grace?” Kai melirik ke arah Sulli. Ekspresinya senang tapi mengandung sesuatu yang membuat Sulli berpikir dalam mengartikan gerakannya.

“Anda tak cukup bijak untuk mengatakan itu ketika Anda telah memilih pilihan yang Anda anggap benar, Your Majesty. Kewibawaan Anda adalah segala-galanya, benar?”

Kai berdiri, menatap Sulli, dan mencoba menilainya. Gadis itu terlihat spontan, tapi kata-katanya teratur. Gadis yang cerdas, mudah memahami situasi, dan hampir-hampir menghilangkan fokus Kai pada Krystal.

Duke of Rovaldine sepertinya juga bukan pria rakus mengingat hubungan yang dekat dengan ayahnya. Keluarga itu sepertinya penuh pendidikan moral dan ketakwaan. Jadi sekarang yang harus dilakukannya adalah menemui sang Ratu dan memintanya memilih.

Kai mencium tangan Sulli, “Kupersilakan kau memahami situasi ini, Your Grace. Akan kupertimbangkan kau menjadi ratu di Narnia ini.”

Oh, tidak! Ia tidak ingin begini. Ia ingin memiliki dan dimiliki oleh pria yang menunggunya di perpustakaan. Bukan malah menjadi ratu yang membatasi ruang lingkupnya. Istana adalah tempat yang kejam─setidaknya ia menganggapnya begitu. Ia tidak boleh masuk dalam silsilah Pevensie. Jangan sampai!

Sulli tersenyum. Sedikit canggung lalu meninggalkan kediaman orang-orang yang mulai menyadari bagaimana situasinya sekarang. Ia tidak memberikan tatapan apapun pada siapapun ketika semua orang mulai berspekulasi tentang terpilihnya dia sebagai calon istri Kai.

Kai mengangkat tangannya, memberikan kode kepada ajudan ratu untuk mendekat. “Miller, agendakan pertemuan ratu dengan Krystal dan Sulli. Buat Her Majesty memilih salah satunya.”

~k~

“Kau lama sekali, Your Grace.” komentar Dio saat mengetahui siapa yang datang ke perpustakaan yang telah dijanjikannya. “Pakaianmu…”

“Hm, pilihan Letitia.” balasnya sambil duduk di kursi terdekat. “Angsa merah katanya.”

Dio mendecih kemudian tertawa simpel. “Dia hanya membesarkan hatimu, Manisku. Sini kupeluk. Mendekatlah.” Tangan Dio merentang bak siap terbang. Bibirnya merekah menyambut kekasih yang sempat membuatnya khawatir beberapa saat yang lalu.

“Dasar,” ucap Sulli kemudian memeluk Dio Soilaven dengan nyaman. Tubuh pria itu kelihatan pas dengan tangannya.

“Kau mau kucium?” tanyanya konyol. “Ciuman adalah hal biasa yang sering kulakukan. Aku mengatakannya untuk menjawab semua pertanyaan yang intinya kenapa kau mudah sekali menciumku waktu itu.”

“Benarkah?” tanya Sulli tak percaya. Ia bahkan wanita yang memuja kesucian jiwa raga, tapi pria itu… malah bertindak sebaliknya? “Ciuman bibir?”

“Pernah lebih malah. Kau harus percaya semua ilmuwan melakukan seks setelah mereka menyelesaikan pendidikan.”

Well, aku memang tidak tahu sistem pendidikan yang kau jalani.” ucap Sulli sambil berjalan ke rak buku. “Mungkin kau yang nakal.”

“Aku hanya mencoba bicara jujur padamu.” Dio mendekat ke arah Sulli sambil memeluknya dari belakang.

“Kau bicara seolah-olah kita akan menikah besok.”

Dio berdeham. “Bagaimana kalau hari ini kita jadian?”

“Apa? Jadian?” ucap Sulli tak paham. Frasa apa itu? Ia tidak pernah mendengar kata ‘jadian’ sebelumnya.

“Hubungan pra-tunangan,” jelasnya sambil berpikir kata-kata yang tepat. “Kuanggap kau menyetujuinya,”

“Hubungan gelap yang kau maksud?”

“Aku bisa terang-terangan kalau kau mau.”

“Menakjubkan. Kita bisa berciuman sekarang?” tanyanya antusias, jelas sekali dibuat-buat.

“Gadis nakal,” ekspresi Dio tampak berubah menjadi galak, namun sedetik kemudian tampak cerah. “Kita berpelukan saja ya.” ucapnya kemudian memeluk Sulli.

Sulli hanya tertawa mendengarnya. “Kau pasti akan melakukan lebih nantinya.”

Sulli terdiam. Sekarang ia hanya menatap mata Dio dengan tatapan tulusnya. Ia meletakkan kepalanya di dada pria itu. Samar-samar ia mendengar bagaimana jantung itu berdetak tak karuan.

“Sebelumnya buku ini tertulis di kitab kuno yang ditulis Rhyteros Aimer,” ucapnya sebagai awalan untuk sesuatu yang Sulli tidak pahami. Sepertinya akan ada pembicaraan yang serius. “Di situ dituliskan dulu pada saat Raja Caspian memerintah, sekitar 650 tahun lalu, ada sebuah tindakan penaklukan wilayah di barat daya Narnia. Di situ ditemukan orang-orang dengan kebiasaan membuat ramuan-ramuan tertentu yang disebut bangsa Chemiav. Dan… Raja Caspian tertarik dengan mereka.

Ia mempersembahkan para perempuan untuk menjadi gundik para pria Chemiav. Saat mereka hamil, mereka baru boleh kembali ke Narnia. Dan karena hal itu para perempuan berlomba-lomba membuat dirinya hamil. Tapi mereka tidak tahu bahwa kehamilan mereka membawa kematian.

Saat melahirkan anaknya, tidak ada satu wanitapun yang bisa selamat. Hal itupun terjadi pada wanita terakhir. Penduduk Narnia menganggap ini ancaman kutukan dari Chemiav, lalu sesuai perkiraan, Raja Caspian memutuskan berperang untuk melawan mereka.”

“Lalu, apa hubungannya dengan kita?”

“Aku belum selesai.” ucap Dio sedikit tersenyum. “Kemudian dua puluh tahun setelah kitab Rytheros Aimer muncul, ada hipotesa Luchag Roveun yang ditulis dalam jurnal ilmiahnya. Di situ tertulis kalau keturunan Chemiav-Thelmarines memiliki IQ yang tinggi dan cenderung berotak cerdas dengan pola pikir ilmiah. Di situ tertulis bahwa Raja memberi gelar Nobel pertama pada seseorang bernama Rio Verdtenvarest. Jadi pikirkanlah, apakah nama keluarga itu berasal dari kalangan ton?”

“Sekali dengar aku langsung tahu kalau itu keluarga ilmuwan,”

“Tepat! Aku juga berpikir begitu.” ujar Dio senang melihat kepekaan Sulli terhadap hal-hal yang tidak biasanya ia temui.

“Jadi kau menemukan penyebab kematian perempuan-perempuan itu?”

“Kau benar-benar pandai dalam menentukan rumusan masalah, Sulli Mareviere. Kalau itu sudah dipastikan karena ramuan aneh yang mereka minum sewaktu pesta penyambutan.”

“Kira-kira apa? Maksudku jenis ramuan itu?” tanyanya mulai tertarik.

“Aku juga masih sama berpikirnya seperti dirimu.”

“Jadi kau menceritakan asal usul keturunanmu? Sudah percaya untuk menceritakan semua yang kau pikirkan padaku?” balas Sulli pada akhirnya.

“Ya. Dan aku menghabiskan waktuku di bagian rak antropologi untuk mencari literatur lain.” ucapnya sambil tersenyum kecil ke arah Sulli sambil memencet hidung gadis itu dengan lembut.

“Kupikir kau akan mengungkapkan alasan romantis. Ternyata lagi-lagi hanya ini. Sungguh tak terduga.”

“Hal itu juga nanti,” ucapnya cepat dengan nada suara yang tidak stabil. “Aku ingin kita punya waktu spesial di suatu hari.”

“Baiklah, aku pulang sekarang kalau masih nanti.”

“Ya, pulanglah. Tapi tiga detik lagi kembali ke pelukanku.”

“Tidak sopan,” balas Sulli menatap ke mata Dio. “Menyuruh pulang untuk kembali, keinginan macam apa itu?”

“Oh, manisku. Kau tidak pantas berkata begitu. Lagipula aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan tangan hampa.” Dio tersenyum, wajahnya masih cukup menantang untuk tetap diperhatikan Sulli. Pria itu menjauh, memberikan jarak.

Dio mengambil sebuah amplop di sebuah rak dan memberikannya kepada Sulli. Sulli menerimanya, bertanya-tanya, tapi masih tetap diam saja. Apa ini? Terlihat terlalu tebal untuk ukuran surat.

Sulli membukanya. “Kartu ucapan?” Dio diam saja. Ia hanya ingin Sulli mengetahuinya sendiri.

Lelah menunggu balasannya, Sulli langsung membuka kartu itu. Sebuah pop-up yang berisi sketsa berwarna dirinya dan Dio yang sedang duduk di kursi di lembah Downstevy. Tertulis Sulliku, dia bersamaku.

“Kau membuatnya sendiri?” tanya Sulli ingin tahu.

“Sedikit dibantu.” balasnya singkat sambil tersenyum kecil.

“Kau menghilangkan kesan romantis!”

“Tapi aku telah menjunjung tinggi asas kejujuran.”

Ia memeluk gadis itu lagi. Damai. Sebuah perasaan yang dirasakannya sekarang─setidaknya sebelum ia mendengar langkah kaki dua orang yang mendekat. Semakin mendekat. Dan… “Kau masih di sini, Ritzoviral?”

*****

15 thoughts on “That Glazed Winter – Chapter 3

  1. Wah…sulli unni punya pilihan sulit nih..milih d.o atau kai…ternyata d.o oppa bisa romantis jga ya ke sulli unni…but overall nice ff dapet banget feelnya…lanjut thor

  2. hmm ini ceritanya emang nggak bisa diloncatin deh, kelewat dikit aja bisa nggak paham sama ceritanya, kalo aku sih~
    aduh kai udah kamu sama pilihanmu aja deh, biarin sulli bahagia sama dio
    interaksinya dio sama sulli ituloh, bikin senyum senyum sendiri maniiss banget~
    oh itu siapa? apa baekhyun atau orang lain?
    next part soon

  3. aduh kai sm krystala aja ya ,biarin ssul sm dio…
    ternyata dio bisa romantis jg ke sulli hihihi🙂
    kereeen author , lanjut😉

  4. Glazed

    Tuh kan kalo orang pinter ngasih surat aja keren hahaha
    Ratu aku mohon jangan pilih sulli jadi pasangan kai, sulli mareviere udah jodoh sama dio soilaven
    Romantisnya dio tuh unik tapi bikin suprise dan imajinasi aku jalan banget pas baca ff ini
    Aduh itu siapa lagi yang masuk keperpustakaan?? Deg degan nih
    Ayo terus semangat yah dan ga sabar buat next partnya😀 semangattt

    • Duh seneng deh baca comment yang panjang begini hehehe

      Gimana yaa? Jadi ceritanya aku si Ratu nih? Hahahaha

      sebenernya aku masih agak galau alurnya mau a atau b. Huhuhu

  5. omaigaaattt..udah dirilis ternyata#telat hampir dua minggu yaa berarti aku..
    seperti biasa ff nya keren, interaksi dio-sulli juga sweet banget
    tapi kenapa aku ngerasa kayak ff nya kurang panjang yaa. apalagi interaksi dio-sull nya masih kurang.
    pengen banget gitu kayak satu chap dibuat moment mereka semua##hehe..
    dan kenapa abis ngebaca chap ini aku jadi mengkhayal kalo entar bakal ada acara rebut-rebutan antara kai ama dio.
    trs sedih sedihan gituu# oke terlalu jauh yaa
    dan kayaknya aku juga terlalu banyak ngoceh

    next chap nya ditunggu yaaa.. on progress kan ya??

    • Hello, iya km telat. Tapi balesanku ini lebih telat. Haha

      Nggak kepikiran deh aku kalo satu chap isinya dio-sulli semua, betapa bingungnya aku nanti membuat percakapan mereka. Terlebih dengan dio yg karakternya entahlah itu. Tapi aku pernah ngerasain kyak km waktu baca ff hawanya pengen cuma si pairing favorit. Eaaaa

      Hm, sepertinya nggak perebutan, tp lebih ke menjatuhkan salah satu pihak. Siapa coba yg berani melanggar perintah raja? *eh, spoiler lho ini haha

      Iya proggress kok. Ini udh mau dilanjut lagi, maklum biasanya aku bikinnya dikit2 soalnya aku jg ngerasa kesusahan mau bikin cerita yg manis. Huaaa, bantuu

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s