[Chaptered] Who Are You? (Chapter 9)

Who Are You

 

Poster by : SURY

Author : Park Eun Ji

Cast :

Jung Jin Young ( Jinyoung “B1A4 )
Kim Myung Soo (L “Infinite”)
Bae Soo Ji (Suzy “Miss A”)
Choi Jun Hong ( Zelo “B.A.P”)
Im Yoon Ah ( Yoona “SNSD”)
Other

Genre : Romance, tragedy, friendship, school life

Length : Chaptered

Rating : PG-13

Disclaimer : Semua cast di sini milik Tuhan YME, keluarga masing-masing, dan diri mereka masing-masing. Alur cerita terinspirasi dari salah satu novel yang pernah author baca dengan perubahan (; FF ini juga di posting di beberapa blog :)

Enjoy it guys ;)

 

Hari Minggu pagi, waktunya bagi Myungsoo untuk bekerja paruh waktu. Itu kebiasaan rutinnya di akhir pekan. Lagipula ia harus membantu ayahnya dalam mencari nafkah. Ia hanya bekerja di akhir pekan saja karena hanya di saat seperti itulah Myungsoo mempunyai waktu luang. Kafe tempatnya bekerja memang selalu ramai di akhir pekan, oleh karena itu cafe itu membutuhkan tambahan tenaga kerja. Wajar saja karena kafe itu terletak di dekat tempat wisata yang cukup terkenal di Korea.

Tak terasa hari sudah sore dan itu berarti Myungsoo telah selesai dari pekerjaannya. Kepalanya terasa sangat penat. Mungkin karena ia bekerja lebih keras hari ini. Sesaat sebelum tutup, kafe tempatnya bekerja sempat kedatangan sekelompok anak sekolah dasar yang sedang mengikuti tur. Myungsoo mengambil segelas air dingin dan menghabiskannya dalam hitungan detik. Ia tak sempat minum tadi, sedikit beristirahat pun tak bisa.

Setelah berpamitan kepada rekan-rekan dan atasannya Myungsoo berjalan menyusuri pijakan kecil warna-warni di depan cafe. Angin pantai mulai menerpa wajahnya lembut. Myungsoo melihat ombak yang bergulung-gulung dan memantulkan semburat oranye dari matahari yang hampir terbenam. Pantai itu cukup sepi sekarang. Myungsoo jadi tersenyum sendiri mengingat beberapa jam yang lalu pantai ini sangat ramai. Myungsoo memutuskan untuk duduk sebentar di pantai sampai matahari terbenam. Ia tersenyum mengenang ibunya yang dulu suka mengajaknya ke pantai ini saat akhir pekan untuk melihat matahari terbenam.

Suatu saat Myungsoo pasti akan mengajak ayahnya ke sini karena pemandangannya sangat indah. Biasanya Myungsoo melepas kepenatan dengan mengkonsumsi makanan manis seperti coklat. Tapi, begitu melihat matahari terbenam kepenatannya jadi hilang. Hmm, ini cara yang bagus untuk melepas kepenatan, begitu pikirnya. Myungsoo sadar betul jika mengkonsumsi makanan manis terlalu sering itu tidak baik.

Myungsoo duduk di sana selama beberapa saat sampai matahari benar-benar tenggelam. Tapi saat matahari sudah tenggelam ia memutuskan untuk tinggal sesaat. Udara pantai yang khas telah membuatnya nyaman. Ia terus menatap ombak yang bergulung-gulung dan menimbulkan suara khas. Pikirannya mulai ke mana-mana. Ke ibunya, ke Jennifer, ke ayahnya, dan ke…Suzy.

Myungsoo menghentikan lamunannya yang menurutnya mulai melantur. Samar-samar ia mendengar isak tangis. Myungsoo menengok ke kiri dan ke kanan untuk mencari sumber suara itu. Rupanya berasal dari seorang gadis yang duduk tak jauh darinya. Gadis itu duduk sambil memeluk kedua lututnya, bahunya berguncang-guncang karena menangis. Myungsoo menyipitkan mata agar bisa mengenali gadis itu, tapi tak ada hasil. Penerangan di pantai yang minim membuat Myungsoo sulit mengenali gadis itu. Karena penasaran, Myungsoo bangkit berdiri dan menghampirinya. Oh, ternyata Suzy.

” Hei…Boleh aku duduk di sini?” Myungsoo mencoba bertanya kepada Suzy. Myungsoo rasa tak baik jika membiarkan Suzy sendirian, apalagi hari sudah mulai malam. Suzy langsung terkejut dan cepat-cepat menghapus air matanya.
” Maaf aku tidak bermaksud mengganggumu. Kalau begitu aku pergi saja.” Myungsoo merasa telah melontarkan pertanyaan yang konyol. Sudah tahu orang sedang sendirian malah diganggu, begitu pikirnya. Ia membalikkan badannya tapi tangannya ditahan Suzy.
” Duduk saja, tak apa-apa. Lagipula aku tidak merasa terganggu.” Suzy berkata dengan suara serak.
Akhirnya, Myungsoo duduk di sebelah Suzy. Keheningan mulai terasa di pantai itu. Yang terdengar hanya bunyi ombak.
” Kau sedang apa di sini?” Suzy bertanya sambil tetap memandang ombak. Kini ia merasa lebih tenang.
” Ngg, menemanimu. Aku mengganggu ya?” Myungsoo menggaruk kepalanya, bingung atas pertanyaan Suzy.
Suzy tersenyum. ” Tidak. Maksudku, sebelum bertemu denganku kau sedang apa?” Suzy mengulang pertanyaannya. Kali ini dengan lebih jelas.
” Aku bekerja paruh waktu di cafe di dekat sini. Kemudian aku memutuskan untuk tinggal di sini sebentar sebelum pulang.” Myungsoo memberi penjelasan sambil meringis malu karena kurang mengerti dengan pertanyaan Suzy.
” Oh, begitu.” Respon Suzy. Setelah itu suasana kembali hening.

Merasa Suzy telah cukup tenang, Myungsoo mencoba kembali membuka percakapan. Tapi sebelum Myungsoo membuka mulut, Suzy bicara terlebih dahulu. Ia menunjukkan sebuah foto kepada Myungsoo.

” Foto ini dikirim seminggu sebelum dia…meninggal.” Walaupun sudah lama berlalu, tapi sulit rasanya bagi Suzy untuk mengatakan hal itu.
” Masih mengingatnya?” tanya Suzy.
Myungsoo memandang foto yang dipegang Suzy. Myungsoo mencoba mengingat-ingat. Sepertinya ia pernah melihat orang ini. Tapi di mana? Oh, iya! Myungsoo pernah melihatnya di foto milik Suzy tempo hari.
” Iya, dia itu kekasihmu, kan?”
Suzy tersenyum. ” Wah, aku pikir kau melupakan kejadian itu.”
” Tentu saja tidak.” Ucap Myungsoo yakin. Ia tak akan pernah melupakan kejadian itu karena saat itulah untuk pertama kalinya Myungsoo melihat orang yang mirip dengannya. Padahal, mereka tak memiliki hubungan darah. Bahkan saling kenal pun tidak.

” Namanya Jung Jin Young. Jinyoung bersekolah di Australia, saat liburan musim panas dia meneleponku dan mengatakan bahwa ia akan pulang ke Seoul. Aku sangat bahagia waktu itu, tapi di saat yang bersamaan aku merasa firasat yang aneh.” Suzy mulai bercerita. Myungsoo mendengarkan Suzy dengan seksama.
Suzy berhenti sejenak, tak mudah untuk menceritakan apa yang terjadi selanjutnya.
” Kalau kau tak sanggup menceritakannya tak apa.” Myungsoo berkata lembut. Suzy tersenyum kecil.
” Tidak apa-apa. Kau harus mendengarnya sampai akhir.” Suzy kemudian melanjutkan. ” Aku berusaha mengabaikan firasat itu dan terus berpikir positif, tapi ternyata firasatku terbukti. Jinyoung meninggal dalam kecelakaan pesawat.” Air mata Suzy mulai mengalir pelan. Ia segera menghapusnya.
” Maaf ya, kau jadi mendengarkan ceritaku. Padahal kita belum terlalu dekat.” Suzy meminta maaf kepada Myungsoo karena merasa telah menceritakan hal yang ‘tidak penting’ kepada Myungsoo.
” Kau tidak perlu sungkan kepadaku.” Ucap Myungsoo tenang. Ia paham betul rasa kehilangan yang dialami Suzy karena ia juga mengalami apa yang dialami Suzy.
” Kau tahu, jika warna rambut dan bola mata dan rambutmu berwarna coklat , aku pasti menyangka Jinyoung hidup kembali.” Suzy tertawa kecil sambil memainkan bintang laut yang diambil beberapa detik yang lalu.
Myungsoo tersenyum.” Aku seperti berkaca saja jika melihat foto ini.”  Suzy tetap memandangi foto itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
” Aku juga pernah kehilangan orang yang kucintai. Pertama ibuku, kedua kekasihku.” Myungsoo berkata dengan tenang seperti tak terjadi apa-apa.
” Ibuku meninggal beberapa tahun yang lalu. Banyak orang mengatakan sifatku mirip dengan ibuku. Beliau sangat suka membaca sama sepertiku. Setiap pagi, beliau selalu membuatkanku bibimbap yang sangat enak. Itu adalah makanan yang paling enak yang pernah kucoba sampai sekarang.” Myungsoo tersenyum mengenang ibunya.
” Ibuku meninggal karena kanker paru-paru. Padahal ibuku bukan perokok aktif. Entahlah karena apa ibuku terkena penyakit itu.” Myungsoo mengangkat bahu ringan.
” Kalau kekasihmu?” Tanya Suzy hati-hati.
” Jennifer meninggal karena menjadi korban tabrak lari. Ia sempat koma beberapa hari sebelum meninggal. Aku sangat ingat dia menyukai musik Rock. Ia mengoleksi banyak kaset Metallica, band favoritnya. Aku yakin orang yang belum mengenalnya pasti tak akan menyangka ia menyukai musik Rock karena tertipu oleh wajahnya yang manis.” Myungsoo tertawa kecil mengingat gaya berpakaian Jennifer yang feminin walaupun ia menyukai musik Rock.
” Bagaimana perasaanmu saat ini?” Tanya Suzy sambil menaruh bintang laut dan memeluk lututnya.
” Hmm, aku merasa baik-baik saja sekarang. Yah, walaupun dulu aku sulit menerimanya.Seiring berjalannya waktu, aku sadar aku harus melanjutkan hidup. Cepat atau lambat perpisahan pasti terjadi, aku harus siap menghadapinya. “ Myungsoo tersenyum lebar dan seperti tanpa beban. Mau tak mau Suzy ikut tersenyum.

Dalam hati Suzy merasa kagum kepada Myungsoo karena ia bisa terlihat kuat walaupun sudah dua kali kehilangan orang yang dicintainya. Suzy berjanji ia pasti akan sekuat Myungsoo suatu saat nanti. Myungsoo saja bisa melakukannya, kenapa ia tidak?

._..-.._..-.._..-.._..-.._..-.._..-.._..-.._..-.._..-.._..-.._..-.._..-.._..-.

” Hei Suzy, kau kencan dengan Myungsoo ya?” Yoona langsung bertanya to the point begitu bertemu Suzy di kampus.
” Tidak. Memang sih aku bertemu dengannya kemarin, tapi itu hanya kebetulan saja.” Jelas Suzy cuek.
” Tapi kalian terlihat cocok. ” Yoona berkata dengan nada menggoda.
Wajah Suzy langsung memanas. ” Jangan bicara sembarangan, Yoona. Lagipula, kau tahu darimana gosip itu?”
” Aku tak sengaja bertemu kalian. Aku tak ingin mengganggu, jadi aku tak menegur kalian.” Jelas Yoona.
” Tapi, aku tak berkencan dengannya. Sungguh.”
” Kalian harus berkencan suatu saat nanti.” Ucap Yoona bersemangat.
” Tapi bagaimana dengan Zelo ya? Dia kan menyukaimu.” Yoona langsung menutup mulutnya dengan tangan karena keceplosan.
” Hei, itu V bukan?” Suzy melihat ke arah V yang sedang menghampiri mereka.
” Kau tak mendengar ucapanku barusan?” Yoona bertanya dengan hati-hati.
” Perkataanmu yang mana?” Suzy malah bertanya balik.
Yoona menghela napas lega karena Suzy tak mendengar perkataan itu. ” Ah, tidak bukan apa-apa. “
Suzy memandang Yoona heran. ” Kau ini kenapa sih? Aku pergi dulu ya, masih ada kelas yang harus aku hadiri. Semoga sukses.” Suzy mengedipkan sebelah mata sambil tersenyum jahil.

” Hai Yoona. ” Sapa V dengan senyum simpul.
” Ha..hai.” Yoona jadi agak grogi melihat senyum simpul V.
” Tadi ada temanmu kan?”
” Oh, Suzy bilang dia masih ada kelas. Oleh karena itu dia pergi. ” Jelas Yoona. Tapi sesungguhnya Yoona tahu betul Suzy tak ada kelas lagi hari ini. Suzy sengaja membiarkan dia berdua dengan V.
” Begitu. Oh ya, mau makan siang bersama?” Tawar V.
” Tentu saja.” Yoona menjawab dengan riang. Justru itulah yang paling ia tunggu-tunggu.

Zelo menikmati sore dengan melihat kota Seoul dari Namsan Tower. Walaupun matanya tertuju pada kota Seoul, tapi pikirannya tertuju pada Suzy. Ia teringat pesan yang dikirim Yoona semalam.

From: Yoona
Subject: –
Aku bertemu Suzy dan Myungsoo. Kurasa mereka berkencan. Mereka terlihat cocok X)

P.S : kau harus bergerak cepat sebelum Myungsoo!

 

Zelo merasa dadanya sesak sekali. Suzy hanya menganggapnya sebagai teman. Tak lebih dari itu, bagi Zelo itu sudah menjawab semuanya. Bahwa Suzy tak punya perasaan khusus, bahwa ia tak mungkin bersama Suzy sebagai lebih dari sekadar teman.

Zelo berjalan keluar untuk mencari udara segar. Ribuan gembok dipasang di berbagai tempat. Zelo menuju ke salah satu tempat yang ia sudah hafal betul. Ia mengambil salah satu gembok berwarna merah yang sudah usang dan bertuliskan tulisan tangan buram khas anak SMP.

Jinyoung + Suzy = Love

Zelo membaca tulisan itu dengan senyum sedih. Ia ingat tak sengaja menemukan tulisan ini ketika sedang berjalan-jalan bersama temannya beberapa bulan yang lalu. Selain itu, ia juga menemukan gembok Suzy dan Jinyoung di beberapa tempat. Tampaknya mereka sudah sering berkunjung ke sini.

Zelo iseng untuk melihat-lihat gembok yang lain. Berbagai macam tulisan terpajang. Mulai tulisan rapi khas perempuan, yang berantakan khas pria, bahkan tulisan anak sd pun ada. Zelo sampai tersenyum geli karena melihat tulisan-tulisan tersebut. Sampai akhirnya Zelo menemukan sebuah gembok putih yang masih bersih.

Jennifer Park & Kim Myung Soo

Tulisan itu singkat, tapi membuat Zelo merasakan perasaan yang aneh. Myungsoo? Kalau ia masih mempunyai kekasih kenapa ia malah mendekati Suzy?, banyak pertanyaan mulai muncul di benak Zelo. Jika ia bertemu dengan Myungsoo ia harus membicarakan hal ini. Zelo memotret gembok itu dengan hp nya sebagai bukti untuk ditunjukkan kepada Myungsoo.

Walaupun hari ini Zelo tak ada kegiatan maupun kelas, ia sengaja datang ke kampus. Lebih tepatnya ke gedung tempat Myungsoo berkuliah. Tangannya mengepal keras. Ia tahu Suzy punya perasaan kepada Myungsoo. Zelo tak ingin Suzy sakit hati karena Myungsoo sudah mempunyai kekasih. Selama beberapa saat menunggu, Zelo bertemu dengan Myungsoo. Ia langsung menghampirinya.

” Hai, Masih ingat padaku?” Zelo berusaha mengatur emosinya agar lebih tenang. Ia tak boleh terbawa emosi, ia harus mendengarkan penjelasan Myungsoo.
” Temannya Suzy kan? Kau mencari Suzy?”
” Tidak, aku mencarimu. Kau ada waktu? Ada suatu hal yang ingin kubicarakan.”
” Aku tak ada kelas lagi hari ini. Kau mau membicarakan tentang apa?” Myungsoo mengerutkan kening.
” Kau sudah mempunyai kekasih? ” Zelo melontarkan pertanyaan kepada Myungsoo. Ia juga menunjukkan foto yang ia ambil kemarin sambil berkata. ” Ini punyamu kan?”
Sesaat, Zelo sempat melihat perubahan raut wajah Myungsoo yang sedih. Myungsoo langsung menutupinya dengan senyuman.
” Iya, aku mempunyai kekasih. Tapi dia sudah meninggal.”
Zelo terkejut mendengar jawaban Myungsoo. Tak disangka olehnya jika kekasih Myungsoo sudah meninggal.
” Maaf, aku tak tahu jika kekasihmu sudah…meninggal.” Zelo menyesal karena sudah emosi terhadap Myungsoo tadi.
Melihat ekspresi Zelo Myungsoo langsung merangkul bahunya dengan gestur bersahabat. ” Tak apa, salah paham bisa terjadi kepada siapapun.” Myungsoo berkata bijak sambil tersenyum lebar.
” Nah, mau kuajak ke suatu tempat?” Myungsoo tersenyum misterius.

” Ini makam kekasihku.” Dengan tenang Myungsoo menunjukkan sebuah pusara, di depannya terdapat sebuket bunga mawar merah yang setengah mengering. Myungsoo menaruh buket bunga baru, menggantikan buket bunga yang lama.
Zelo menatap foto yang dipasang pusara itu. Jennifer tersenyum tenang. Walaupun belum bertemu, Zelo yakin Jennifer pasti orang yang baik -terlihat jelas dari caranya tersenyum-.
” Gembok itu baru kupasang sebulan yang lalu. Aku menulisnya dengan harapan Jennifer bisa bangun dari komanya. Tapi, keesokan harinya dia meninggal.” Myungsoo memandang pusara Jennifer dengan pandangan yang sarat akan kesedihan.
Ketika Zelo mendengar cerita itu, Zelo menyadari satu hal. Myungsoo pasti lebih mengerti Suzy karena ia juga mengalami apa yang dialami oleh Suzy.
” Kau orang yang kuat Myungsoo.” Zelo menepuk bahu Myungsoo. Mendengar perkataan Zelo, Myungsoo tersenyum pahit.
” Aku harus kuat. Kalau tidak, aku bisa gila.” Myungsoo berujar ringan.

-TBC-

A/N : Halo ^^ udah lama banget rasanya aku gak posting FF :’)

Ada yang kangen gak? Maaf ya harus buat kalian nunggu lama untuk kelanjutan FF ini karena aku sibuk dengan persiapan SBMPTN. Doain aja ya semoga lulus hehe…

Oh ya, selamat berpuasa ya bagi yang menjalankan ^^ Ayo tinggal beberapa jam lagi menuju buka puasa. Semangat ya menjalaninya ^^ Semoga bulan Ramadhan ini memberikan banyak berkah dan manfaat positif untuk kita semua ^^ #haveaniceday

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s