Come In – Luhan [1/3]

 

luwluw

Author : Awsomeoneim

Casts :

  • EXO’s Luhan
  • OC

Genre : Romance

Rated : PG-15

Disclaimer :

  • The OC and The story is officially mine. Has posted here.
  • Xi Lu Han / Xiou Lu’s belongs to God, His Parents-Family, SMEnt, and his fans around the world.

+OoOoO+

Pentingkah pendapat semua orang saat yang kita butuhkan hanyalah ketegasan hati membuka diri untuk menjalani sebuah hubungan?

+OoOoO+

‘Beep’

Untuk kesekian kalinya jeritan voice mail box mendesak untuk segera disampaikan. Sangat bising. Hingga akhirnya pemuda yang baru saja menjejakkan kaki di dalam apartmennya kurang dari lima menit itu terpaksa menyeret tubuhnya ke arah suara sumbang tersebut berasal. Dengan asal ia memencet salah satu tombol yang ada.

‘Luhannie.. kau kemana saja? Aigoo ini sudah lewat tengah malam, dan aku menyempatkan diri untuk menghubungimu tapi kau belum juga pulang? Kau pulang larut lagi? Atau kali ini saat fajar menyingsing?

Aku tau kau masih muda, tapi jagalah dirimu itu baik-baik. Kau punya tubuh yang potensial untuk dimanfaatkan lebih baik daripada menghabiskan waktu di dalam ruangan pengap dengan minuman beralkohol itu.

Kau masih ingat tawaran Minseok? Tawaran itu masih ia sediakan untukmu, tapi aku tidak tau sampai berapa lama lagi ia akan bertahan. Jadi lebih baik kau cepat menemuinya dan membicarakan soal pekerjaan itu eo?

Luhannie, setidaknya cobalah menjadi barista untuk 3 bulan sampai pernikahanku selesai. Setelah itu, kembalilah ke kehidupanmu yang semula. Walau aku lebih berharap kau tidak akan kembali kesana.

Aku tidak ingin para tamu undangan memperlakukanmu dengan tidak semestinya hanya karena mereka mengetahui dimana tempatmu bekerja. Ini semua untuk kebaikanmu juga, kau tau kan?

Baiklah, kurasa itu saja. Istirahatlah. Dan jangan lupa pertimbangkan tawaran Minseok.

Aku menyayangimu, Luhannie.’

Tubuh Luhan semakin tenggelam ke dalam pelukan nyaman sofa tepat setelah voice mail dari kakaknya berakhir. Pikirannya didominasi perdebatan soal siapa yang benar. Pilihan hidupnya, atau pendapat orang lain.

Sudah tiga tahun lalu sejak ia meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak pernah seharipun ia mendengar seseorang mempermasalahkan pilihannya soal menggantungkan hidup pada roda perekonomian malam. Tidak sampai seminggu lalu saat Xi Qian, kakak perempuannya, akan segera menikah, dan semuanya berubah.

Seperti sebuah sistem provokasi terencana, satu persatu orang yang ia kenal, yang semula acuh, mulai mempertanyakan pekerjaannya.

Bekerja sebagai seorang bartender. Apakah itu buruk? Pilihan yang salah?

=OoOoO=

Sinar lembut matahari pagi mulai menerobos pori-pori halus gorden berwarna kelabu, mencoba menjemput sang pemilik kamar dari alam mimpi dan mengembalikannya pada rutinitas hariannya.

Namun tampaknya bed cover yang menggulung hangat tubuh pemuda tersebut tak ingin kalah dengan semakin mengeratkan pelukan kenyamanannya. Dan harusnya hal tersebut berhasil menahannya lebih lama untuk tinggal di sana jika saja deretan angka pada jam digital tidak segera menunjukkan pukul 07.15 a.m. dan  mengaktifkan raungan alarm untuk mengacaukan harmoni damai pagi ini.

“Ah alarm sialan!”

Gerutuan dari suara parau pemuda itu terdengar setelah beberapa detik berlalu. Mengingat sebuah janji telah menunggunya, dengan setengah hati ia menyibak bed cover dan segera memberi kesempatan tetesan air dingin untuk menyegarkan wajahnya sebelum ia tergoda untuk berbaring lebih lama. Atau seharian.

Lebih cepat dari yang ia duga, satu set pakaian kasual telah menggantikan pakaian tidurnya. Namun helaian surai almond panggangnya belum mendapat perhatian lebih, sekalipun harus menyebrangi lautan manusia di jalanan pagi Seoul. Secara pribadi, itu menambah nilai sexy baginya. Masa bodoh jika orang lain tidak sependapat.

“Xiao Lu!”

Seru seseorang saat ia baru saja menikmati sambutan aroma kaffein yang menguar lembut setelah ia mendorong pintu kaca kafe yang baru diresmikan bulan lalu itu. Cafe milik Minseok.

“Ah, Minseok! Kukira kau sedang sibuk di dapur.”

Ia cukup sumringah saat menemui sosok yang mengenakan apron coklat tua dan kemeja putih bersih di balik meja barista.

“Kau mau sarapan?” tawar pemuda berpipi tembam yang tampak sibuk mengelap beberapa cangkir porselen.

“Tau saja aku belum sarapan,” kekehan lembut lolos diiringi sepasang kelopak yang mekar takjub.

“Dan kopi?”

“Kurasa, Americano buatanmu pasti yang terbaik!”

“Tentu saja,” Minseok meletakkan gelas terakhir di tangannya dan tak lupa ia  menambahkan sebuah hal sebelum membalikkan tubuhnya, “dan ini gratis.”

Luhan menggeram di tempat duduknya. Minseok selalu tepat waktu. Ia barusaja akan meraih dompet kulit di saku belakangnya dan kata-kata itu sudah meluncur mendahului gestur tangannya.

“Ahh, berhentilah memperlakukanku seperti pengemis hanya karena aku calon adik iparmu, Miseok-ah..”

Dan seperti biasa, gerutuan Luhan diabaikan menguap begitu saja oleh Minseok yang kini sudah menghilang di balik dapur.

=OoOoO=

“Apa ramai semalam?”

“Sangat. Kalau tidak salah, seorang anak pejabat merayakan ulang tahunnya.”

“Beruntung sekali tanganmu masih pada tempatnya, eo??”

Guyonan Minseok terdengar menggelitik daun telinganya dan ia memilih menyunggingkan cengiran sembari meneguk cairan kental pahit yang tersisa di cangkirnya.

Tidak seperti kakaknya yang berusaha memprovokasi dengan terang-terangan, Minseok tampak lebih tenang. Dan fakta bahwa seharusnya ia merasa tidak nyaman berada di dekat orang yang menjadi akar penyebab ia harus segera meninggalkan kesenangannya, justru tidak nampak.

“Ah, Qian menelponku semalam. Dia mengadu kau tidak mengangkat telpon darinya, kau pasti pulang sangat larut.”

“Dia hanya melebih-lebihkan. Seperti baru mengenal pekerjaanku.”

Minseok terkekeh saat menangkap raut sebal di sela-sela wajah pemuda yang kini sedang mengedarkan pandangan ke seantero cafenya.

“Atau jangan-jangan kau tidak pulang semalaman? Apakah seseorang dari mereka mengajakmu one night stand?”

“Yang benar saja hyung!” Dan seketika Luhan mengembalikan pandangannya, menatap pemilik kafe itu dengan tatapan bulat tak percaya sembari menyilangkan kedua tangan memeluk tubuhnya protektif, “Kau pikir pemuda macam apa aku ini..”

Sebuah tawa renyah tak lagi tertahankan untuk tidak lolos mendengar pembelaan yang terkesan polos dari pemuda cukup umur dihadapannya.

“Oh ayolah, katakan saja yang sebenarnya Luhan-ah~” tampaknya Minseok belum berniat segera mengakhiri guyonannya.

“Apakah ini bagian dari interogasi titipan Qian?”

Huh? Maksudmu?”

“Demi Tuhan hyung, percayalah sepasang tanganku ini hanya kugunakan untuk meracik cairan berwarna atraktif yang membakar kerongkongan. Bukan untuk menyentuh kulit wanita yang terekspos dari sela-sela pakaian minim mereka.”

Luhan hampir kehabisan nafas di akhir kalimatnya akibat ia terlalu berapi-api menyatakan pembelaannya. Ya, ini titik akhir batas kesabarannya atas segala pertanyaan meragukan yang selalu dilontarkan padanya.

Luhan bukan tipe orang yang menggubris pemikiran kuno seseorang soal pilihannya, karena kenyataannya ia tetap Luhan yang sama seperti dulu. Alkohol tidak serta-merta mengambil alih fokus kehidupannya, alkohol hanya menjadi bagian kecil darinya. Sekedar menyalurkan hobi.

“Lagi pula aku tidak pernah tertarik dengan wanita berbedak tebal dan penggila minuman alkoholik.”

Minseok menyelipkan senyum penuh arti saat mendengar gumaman akhir Luhan. Ia memang belum mengenal lama calon adik iparnya itu, namun ia percaya pemuda sepertinya itu tidak mudah berbohong.

“Jadi maksudmu kau lebih tertarik dengan yeoja seperti yang duduk di pojok itu?”

Minseok mengarahkan dagunya ke arah seorang gadis berpakaian merah jambu dengan rambut hitam pekat yang terurai lembut melewati garis bahu yang terpaku menatap keluar jendela.

Luhan mendengus remeh setelah menangkap sosok yang ditunjukkan Minseok, “Bukan berarti aku menyukai gadis kurang kerjaan seperti dia juga, hyung.”

=OoOoO=

Sebulan berlalu sejak Luhan menanggalkan rompi hitam bartendernya dan menggantinya dengan apron coklat barista. Teror pidato harian kakaknya sudah tidak lagi terdengar setiap malam, dan Luhan cukup lega untuk hal yang satu itu.

Sudah sebulan itu pula secara tidak sadar ia terus mengamati gadis yang ditunjukkan oleh Minseok. Gadis yang resmi mendapat predikat aneh darinya hari ini karena benar-benar yang ia lakukan hanya berdiam di pojokan kafe menatap keluar jendela sejak awal kafe dibuka dengan secangkir caramel macchiato dan baru akan beranjak lima menit sebelum kafe ditutup.

Yeoja itu selalu seperti itu sejak awal kafe ini dibuka? Kau yakin ia tidak punya niatan jahat?” seru Luhan setengah histeris mendengar jawaban Jongdae, salah satu pegawai baru, yang sedang berganti pakaian untuk segera bertukar giliran dengannya.

Jongdae mengendik acuh sembari menerima apron yang diberikan Luhan,”Buktinya Minseok tidak melakukan tindakan apapun. Yang kulihat juga ia tidak menganggu.”

“Tetap saja tingkahnya terlihat janggal,” gumam Luhan samar sembari meraih tasnya dari dalam loker.

Sebelum Luhan melangkah keluar, pandangannya sempat menangkap punggung gadis itu menegak dan tampak memperhatikan dengan lebih fokus sesuatu di luar jendela kafe. Dengan penasaran ia mengikuti arah pandangan gadis itu dan menangkap sepasang kekasih berjalan keluar dari motel dengan mesra dan memasuki sebuah mobil mewah sebelum melesat pergi. Bahkan Luhan baru sadar jika tak jauh dari kafe Minseok terdapat sebuah motel yang cukup ramai.

Dan sesuai tebakannya, setelah pertunjukan itu berakhir, gadis tersebut kembali melesakkan punggungnya ke kursi. Wajah gadis itu juga nampak lebih suram dari sebelumnya.

‘Apakah pria itu yang selalu ia perhatikan?’

Sedetik kemudian Luhan menggelengkan kepalanya heran, ‘Apa peduliku dengannya? Aih dia bahkan membuatku kehilangan dua menit yang berharga!’

=OoOoO=

Alunan musik berirama dubstep menyambut Luhan saat ia keluar dari ruang ganti dan menuju meja karir bersejarahnya. Ya, ia tidak sepenuhnya meninggalkan profesi kebanggaannya itu. Sekali seminggu ia sempatkan datang kembali untuk memuaskan dahaga para penggemarnya. Sebagai bartender yang memiliki wajah tampan disamping skill mumpuni, waktu tiga tahun sudah pasti membuat pamornya cukup bersinar diantara para penikmat kehidupan malam. Dan hal itu yang membuat kakaknya khawatir. Cukup beralasan, karena dugaan seperti yang pernah dilontarkan Minseok pasti juga pernah mampir ke pikiran siapa saja yang mendengar profesinya sebagai bartender.

Ditengah kesibukannya meracik cairan alkoholik, ia tidak sengaja menangkap sosok yang cukup familiar diantara sorotan lampu redup kelab malam. Sosok yang diperhatikan oleh gadis aneh di meja pojok kafe Minseok. Lelaki yang tampak menikmati larutan alkoholik didampingi seorang wanita kelab berpenampilan mencolok.

Tidak sampai satu menit Luhan segera mengalihkan tatapannya. Pemandangan tersebut terlampau menjijikkan dan belum membuatnya terbiasa sekalipun sudah ribuan jam ia lalui sambil berulangkali menyaksikan pemandangan serupa.

Hingga saat ia memutar badan untuk menyandarkan punggungnya di meja barista, kedua iris coklat jernihnya menangkap sosok yang membuatnya terdiam untuk beberapa detik. Mencoba mengingat apa ada yang spesial dengan hari ini hingga ia harus bertemu dua orang yang nampaknya akan memasuki kehidupannya dalam waktu dekat.

“Luhan hyung, kau bisa membantuku?”

Lamunan Luhan menguap saat salah satu rekan baristanya berdiri di hadapannya, menghalangi pemandangan ganjil yang baru saja hendak diproses lebih jauh oleh sistem nalarnya.

“Oh Tao-ya, kau membutuhkanku?”

Pemuda jangkung di hadapannya mengangguk antusias sembari membisikkan permohonannya dan menunjuk objek yang tengah ia maksud.

“Kau bisa membantuku mengantarkan nona muda itu pulang? Aku sudah ada janji kencan dengan kekasihku, lagipula jam kerjamu akan berakhir lima menit lagi hyung, jadi–”

“Ini bukan jebakan one night stand kan?”

Sedetik kemudian Luhan merutuki kebodohan pertanyaannya, terlebih saat lawan bicaranya hanya berkedip monotone dan diam tak merespon.

Ah, hyung igeo–”

Arraseo, aku akan mengantarkannya. Jaga dia selagi aku ke ruang ganti.”

Sebelum kedua kakinya membawa tubuhnya menjauh dari keramaian sepenuhnya, pandangan Luhan tertumbuk ke arah objek yang ditunjuk Tao beberapa menit lalu.

‘Pabo! Apa kau datang kemari karena pria itu juga?’

=OoOoO=

2 thoughts on “Come In – Luhan [1/3]

  1. jangan-jangan yeoja aneh itu aku #plak *abaikan*. Well, apa yang akan terjadi selanjutnya? Next chap ditunggu thor~ Cepet gak pake lama *mentang2 luhan yg jadi cast nya –* eyoo fighting!

    • aku khawatir kamu akan tertipu chingu ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ
      sudah kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya~ jejejejejeng

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s