[FF Freelance] On Rainy Day

sad-woman-silhouette

Author: Ghina

Title: On Rainy Day

Cast: Han Jinhye, Lee Sungmin, Cha Ga-Eun

Genre: Romance, Sad, Angst

Length: Oneshot

Rate: PG-13

 

Note: Terinspirasi dari lagunya B2ST yang sesuai dengan judul, jadi dibuat deh ff kayak gini. Menurut aku sih ini failed sad tapi gatau deh menurut kalian hahaha. Oya,  ff ini juga udah pernah di post di blog pribadi aku: specialoves.wordpress.com enjoy~

 

***

 

“Anda ingin memesan apa?”

 

“Secangkir vanilla latte.”

 

Pelayan itu mencoretkan pulpennya diatas sebuah buku notes berukuran kecil yang berada diatas telapak tangannya lalu menggangguk singkat padaku. Aku memberikan senyum kecil dan pelayan itu pun melenggang pergi menuju konter, mengirimkan pesananku.

 

Aku menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Menggerakkan kepalaku kearah kiri, menopangkan daguku pada kedua punggung tangan yang kusandarkan diatas meja bulat dihadapanku, dan mulai mengamati indahnya jutaan tetes air yang jatuh dari langit. Bunyi gemerisik yang ditimbulkannya karena beradu pada genteng dan tanah menjadi musik tersendiri bagiku. Tanpa sadar mataku terpejam, mencoba menikmati semua ini melalui seluruh indera dalam tubuhku. Namun tiba-tiba, kenangan itu melewati alam bawah sadarku, menyempatkan dirinya untuk bertamu dan membuatku gemetar karena rasa takut yang semu.

 

.

.

.

 

“Kita sudahi saja.”

 

Aku mendongak dari novel yang sedang kubaca. Keningku berkerut samar, menandakan kalau aku tidak mengerti sama sekali dengan kalimat yang ia ucapkan beberapa detik lalu. Kututup salah satu seri Fifty Shades yang berada diatas meja—tempat kami menikmati waktu sore sembari menjalankan aktivitas menyenangkan—dan memberikan fokusku padanya.

 

“Apa maksudmu?”

 

Dia mendongak dengan wajah sayu, membuat radar waspada pada diriku menjadi aktif.

 

“Hubungan ini. Akhiri saja.”

 

Aku menatap matanya lekat-lekat, mencari keraguan dan kebohongan disana, berharap kalau ini hanya salah satu triknya untuk menakutiku lagi, tapi tak satupun dari semua itu yang kudapati disana. Mendadak aku merasa lemah seolah-olah udara disekelilingku diambil secara paksa. Rasa sesak tak kasat mata menghujam dadaku tanpa ampun. Aku gelagapan, melihat kesana-kemari—kemana saja, asal tidak ke arah matanya. Aku tidak sanggup jika harus melihat keyakinan di mata teduhnya yang begitu sukai. Tidak, jika keyakinan itu membawa rasa sakit pada diriku.

 

Aku menurunkan kedua tanganku ke atas pangkuanku, meremasnya kuat-kuat. Hanya itu satu-satunya pertahananku agar air mataku tak jatuh disaat yang tidak tepat. Kuberanikan diri mendongak menatap wajahnya tampannya, mencoba bersikap santai dan biasa saja, benar-benar tidak mau jika dia harus melihat keadaanku yang hancur seperti ini. Mulutku terbuka namun mengatup sedetik kemudian. Banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi seolah disfungsional, pita suaraku menolak mengeluarkan alunan indahnya. Kerongkonganku terasa tercekat dan aku—

 

“Kenapa?”

 

Satu kata itu lolos dari mulutku meskipun aku mengucapkannya dengan suara serak dan lirih. Dia menghela napas, mengambil cangkir cappucinonya dan menyeruputnya sedikit. Dia nampak  tenang dan tidak merasa panik sedikitpun, berbanding 360 derajat dengan diriku yang gelisah sedari tadi. Jantungku berdentum-dentum memukul tulang dadaku, memberikan sensasi rasa sakit yang tak terelakkan. Menunggu jawabannya sama seperti menunggu keputusan antara surga dan neraka.

 

“Aku dan kau memiliki banyak perbedaan dan aku yakin kau mengetahui hal itu. Pada awalnya aku mengira bahwa kita bisa menyatukannya dan membuat kedua belah pihak menjadi nyaman karenanya. Aku sebisa mungkin mencoba, tapi sejak kau diterima bekerja sebagai editor, kau malah semakin menjauh. Seringkali kau membatalkan janji yang kau buat, mengabaikanku, dan membiarkanku menunggumu semalaman. Kau lebih memetingkan pekerjaanmu dan membiarkanku berjuang pada hubungan ini. Lalu kemarin aku bepikir seharian tentang hubungan kita, mengulas balik semuanya. Dan akhirnya aku mendapatkan jawaban mengapa aku harus meninggalkanmu.”

 

Dia mengentikan ceritanya dan menatapku dengan pandangan memohon maaf yang sangat amat kubenci. “Karena aku jemu akan semua sikap dinginmu. Aku lelah, Jinhye-ya.”

 

Jemu… lelah… Dia bosan, Han Jinhye. Astaga, dia memang tidak pernah menginginkanmu. Aku mengerjapkan mataku berulangkali, menghalau airmata yang menganggu pandanganku. Jadi, semua karena sikapku. Semua kesalahan berada padaku. Tidak heran kalau dia merasa seperti itu. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku belum siap jika harus kehilangan lelaki ini. Aku tidak akan pernah siap.

 

“Kau yakin?”

 

“Apa?”

 

“Keputusanmu. Kau yakin dengan keputusanmu? Kau baru mencobanya seharian, kan? Aku rasa itu tidak cukup. Bagaimana kalau keputusan ini hanya salah satu bagian dari keteledoranmu dan kau malah menyesel setelahnya? Tidakkah kau butuh waktu untuk memikirkannya kembali?”

 

Aku berusaha membujuknya, mencoba menjauhkannya dari pikiran-pikiran buruknya mengenai hubungan kami. Memberi sugesti padanya agar dia tidak benar-benar melakukan sesuai dengan keinginannya tadi. Dia menatapku lama, penuh penilaian. Dan satu gelengan kepala yang kulihat setelahnya sudah menjawab semuanya.

 

Dia menolak. Dia menolak mencoba kembali dan memperbaiki hubungan ini. Dia memilih pergi dan membiarkanku jatuh sendiri dalam keterpurukanku.

 

“Maafkan aku.”

 

Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Menahan isakan yang mulai keluar dari sela-sela tangisku. Untuk kali ini saja, biarkan dia melihat sisi lemahku. Biarkan dia melihat betapa menderitanya aku karena keputusannya. Biarkan ini menjadi pemandangan terakhir yang ia lihat dari diriku. Agar tiap kali ia mengingatku, dia akan ingat betapa dalamnya luka yang dia torehkan di hatiku. Betapa bobroknya perasaanku karena ulahnya. Dan dia akan mendapati rasa ngilu itu juga. Meskipun tidak semengerikan yang aku rasakan, setidaknya hatinya juga akan ikut teremas melihatku seperti ini.

 

“Maafkan aku, Jinhye-ya. Maafkan aku.”

.

.

.

“Nona, nona…”

 

Aku tersentak dan tanganku langsung menuju ke arah dadaku yang terasa nyeri. Kepalaku menoleh kearah sumber suara dan menemukan pelayan tadi berdiri dihadapanku dengan nampan kosong digenggamannya dan sedang menatapku terkejut.

 

“Apakah Anda sakit? Wajah Anda pucat sekali. Anda juga berkeringat dan—menangis?”

 

Aku terdiam sejenak lalu menggumamkan kata terimakasih padanya. Dia berlalu dari hadapanku meskipun nampaknya rasa penasaran masih mengelilingi tubuhnya. Cepat-cepat aku menyambar tas merah marunku dan meletakkannya ke atas meja. Kuserakkan isinya dan mengambil selembar tisu dari sana. Tisu itu kupoleskan pada area sekitar pipiku, membersihkan wajahku dari sisa-sisa air bening yang dihasilkan kelenjar air mataku. Menarik selembar lagi dan mengelap keringat yang mengalir dari pelipis hingga daguku hingga wajahku kering dan tak berair lagi.

 

Aku menyisir rambut panjangku dengan jari dan membenarkan letak syal di leherku. Setelah merasa penampilanku sudah cukup rapi, aku melemparkan dua lembar tisu bekas tadi ke dalam tas. Dan tepat pada saat itu, dia datang. Dengan setelan santai khas musim gugur, dia meletakkan payungnya di depan pintu masuk dan berjalan kearahku secara perlahan-lahan bak seorang model diatas catwalk. Setiap langkah yang ia ambil membuat dadaku berdetak setingkat lebih cepat dari sebelumnya.

 

Dia tersenyum padaku setelah sampai di depanku. Menarik kursi lalu duduk diatasnya. Wajahnya cerah seperti matahari di musim panas. Rambutnya ia potong pendek sehingga ia nampak lebih fresh. Dan tubuhnya lebih berisi dibandingkan saat terakhir aku melihatnya, tiga bulan lalu. Tapi, yang jauh lebih penting adalah, dia tidak berubah sama sekali. Dia masih Lee Sungmin yang ku kenal. Lee Sungmin yang ramah terhadap semua wanita dan selalu memberikan senyum terbaiknya.

 

Seperti sekarang, saat ia menunjukkan secuil ketampanannya pada pelayan wanita yang menanyakan pesanan. Pelayan itu pergi dengan wajah yang sedikit memerah, membuatku mendengus diam-diam. Ah, pesonanya tidak pernah berkurang dan malah semakin bertambah. Benar-benar menyebalkan.

 

“Hai, apa kabar?

 

Uh—oh, baik. Kau?”

 

“Sangat amat baik.”

 

Lalu dia tertawa pelan, membuatku terkesima untuk sejenak. Sudah lama sekali aku tidak mendengarnya tertawa sekeras ini. Terakhir adalah tiga tahun lalu, ketika aku masih menjalin hubungan dengannya. Setelah itu, tiap kali kami bertemu, kami akan memulainya dengan canggung dan mengakhirinya dengan canggung pula. Dia tidak akan banyak bicara dan lebih banyak diam. Menanggapi kalimatku seperlunya saja dan tak balik menanyakanku. Seolah-olah keadaanku tak jauh lebih penting dari kegiatannya. Well, aku tidak bisa menyalahkannya. Bukankah hubungan mantan kekasih memang sewajarnya seperti itu?

 

“Kau terlihat… oke.”

 

“Maksudmu?”

 

“Lebih cantik, lebih menawan. Apa kau mulai menuruti ucapanku untuk rajin merawat diri?”

 

Aku terkesiap. Dia masih mengingat permintaannya ketika dia masih berstatus sebagai kekasihku. Di bulan keenam kami berpacaran, dia memang memintaku untuk mulai memerhatikan diri. Semua bermula ketika ia menyambangi apartemenku setelah tiga hari tidak bertemu dan mendapati betapa berantakannya diriku karena terlalu sering tidur lewat tengah malam akibat lembur.

 

Dia mengomeliku tentang betapa pentingnya menjaga kecantikan diri dan kesehatan. Memintaku beristirahat sementara ia merapikan tempat tinggalku yang dihuni oleh serakan buku dan pakaian kotor dimana-mana, membersihkannya lalu membuatkan semangkuk besar bibimbap. Dan hari melelahkan itu kami akhiri dengan mencuci peralatan makan bersama serta menonton beberapa macam film yang dibawanya.

 

Aku tersadar dari lamunan saat tegurannya mengalun indah ke dalam indera telingaku. Kuberikan senyum canggungku padanya yang ia balas dengan raut wajah geli.

 

“Sedang mengkhayal lagi?”

 

Eo?

 

“Kudengar novel perdanamu memasuki cetakan ke 2 bulan ini.”

 

Astaga, dia tahu! Jiwa kekanakkan di dalam diriku mulai berteriak-teriak seperti orang gila dan menari-nari layaknya orang kerasukan—merasa luar biasa senang. Aku memang sudah beralih profesi menjadi seorang novelis sejak setahun lalu. Novel pertamaku juga sudah diterbitkan oleh salah satu penerbit besar di Seoul pada akhir Agustus lalu. Tapi, mengenai cetakan kedua itu, baru aku dan orang kantorku saja yang mengetahuinya. Jadi, mengapa dia bisa tahu? Astaga, jangan katakan dia mencari informasi mengenai diriku?

 

“Ya, begitulah. Bagaimana kau bisa tahu?”

 

“Ga-Eun menceritakannya padaku.”

 

“Ga-Eun?” tanyaku dengan kening berkerut bingung.

 

“Salah satu editor di tempatmu bekerja.”

 

Aku memiringkan kepalaku mencoba mengingat rupanya. “Apakah aku mengenalnya?”

 

Pertanyaanku terinterupsi saat pelayan datang membawakan pesanannya. Dia menerimanya dengan senyuman, lagi-lagi membuat pelayan tersebut mabuk karena ketampanan yang ia pamerkan. Aku menunggu sembari mengamatinya yang tengah menyeruput… cappucino?

 

“Kau masih meminum kopi?”

 

Dia meletakkan cangkir pada alasnya lalu menatapku tenang. “Bertanyalah secara berurut, Nona Han. Kau belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan pertama dan berlanjut memberikan yang lain. Benar-benar tipikal seorang Han Jinhye yang haus akan informasi.”

 

Aku mengabaikan sindirannya dan memajukan tubuhku mendekati sisi meja, mencoba mengintimidasinya. “Lalu bagaimana dengan maag yang kau derita?”

 

“Apa kau mengkhawatirkanku?”

 

Skakmat! Aku mundur dengan gerakan yang luar biasa perlahan sampai punggungku bertabrakan pada sandaran kursi. Kukibaskan tanganku di depan wajah sembari tertawa kencang, berdalih seolah-olah hal yang ia ucapkan memang sangat lucu untuk di dengar. Suara tawaku pasti terdengar sumbang sekali. Dan aku tidak peduli sama sekali. Dia tidak boleh tahu. Lelaki ini tidak boleh sadar kalau aku masih sangat amat menyukainya.

 

“Jadi tidak, ya? Kau tidak mengkhawatirkanku?”

 

Tawaku terhenti dalam sekejap saat mendengar suaranya yang melemah. Aku mendongak dan sedikit kaget melihat wajahnya yang mendadak lesu dan ekspresi itu—astaga! Itu ekspresi yang selalu ia tunjukkan jika aku mulai mengabaikan keberadaannya. Ekspresi yang ia tampilkan ketika dia mengetahui aku terlibat kecelakaan beruntun tiga tahun lalu.

 

“Apa—maksudmu?”

 

Seperti anak kecil berumur lima tahun yang takut mainannya di ambil, dia dengan cepat mengubah ekspresi menjadi tidak peduli. Dia hanya memberiku kekehan kecil sebelum mengatakan sesuatu yang membuat rasa sakit itu timbul kembali. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengetesmu saja. Lagipula tidak seharusnya kau memerhatikan kondisi kesehatanku. Bukankah kita hanya teman?”

 

Aku terdiam sebentar, mencerna ucapannya baik-baik dan mengulanginya di kepalaku, merapalnya seperti mantra penimbul rasa perih. Hanya teman, hanya teman, hanya teman… “Kau benar. Kita hanya berteman.”

 

Aku terdiam setelah mengucapkannya. Masih tidak memercayai mulutku yang berani berucap seperti itu. Bahkan untuk menyebut namanya saja setelah kami selesai, aku tidak pernah berani. Ada rasa canggung yang menghimpitku yang membuatku harus menjaga jarak dengannya. Aku tidak akan berani lagi berdiri dekat-dekat dengannya, takut dia akan mendengar suara detak jantungku yang keras dan mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Untuk hal yang satu itu, aku tidak pernah siap membaginya dengan orang lain.

 

“Tunggu sebentar.”

 

Aku tersentak lalu mendongakkan kepalaku, menatapnya yang tengah merogoh saku mantel biru yang ia kenakan. Sama-samar ringtone ponsel terdengar, semakin lama semakin jelas, seiring dengan munculnya smartphone di genggaman tangan kanannya. Dia mengangguk kecil padaku—meminta izin—yang kubalas dengan satu senyuman singkat. Selanjutnya dia sudah tenggelam dengan dunianya bersama seseorang tak kasat mata diseberang sana.

 

Wajahnya cerah saat berbicara dengan orang itu, membuat awan mendung yang bersamayam di hatiku semakin kelam. Mereka berbicara tidak lebih dari tiga menit. Lalu, sepersekian detik setelah sambungan telepon dimatikan, dia langsung beranjak ke pintu depan, mengambil payungnya dan menyambut seorang gadis yang baru keluar dari dalam taksi.

 

Mereka berhenti sebentar di depan pintu, mengobrol singkat. Dan dari tempat dudukku sekarang, aku bisa melihat betapa mesranya mereka berdua. Gadis itu sibuk membersihkan bajunya yang terkena tetesan air hujan. Sedangkan dia—Lee Sungmin mengambil sapu tangan dari dalam kantong celana jeans-nya dan menarik gadis itu mendekat untuk kemudian menyentuhkan kain polos itu keatas kepala gadis tersebut, membersihkan rambutnya yang nampak basah. Dan detik itu juga, aku merasa kalau momen berhargaku dirampas begitu saja.

 

Aku membenarkan posisi dudukku saat pintu depan terbuka dan dia bersama gadis itu masuk berdua. Gadis itu tinggi dan memiliki wajahnya kecil dengan polesan make-up diatasnya. Tubuh proporsionalnya dibalut blouse putih bermotif polkadot dan rok ketat selutut berwarna hitam, menonjolkan lekuk-lekuknya yang luar biasa. Tas merah marun menghiasi lengan kanannya dengan sangat anggun, membuatnya nampak dua kali lipat lebih menawan. Pantas saja Sungmin terpikat. Gadis itu benar-benar cantik dan tahu cara berdandan yang baik, berbeda dengan diriku yang buta akan fashion dan segala tetek bengeknya.

 

Dia sampai terlebih dahulu di depanku sehingga aku bangkit dari dudukku, mencoba menyambut mereka berdua dengan senyuman tercipta di bibir. Sungmin memerkenalkan kami berdua, membuat gadis itu maju selangkah dan mengulurkan tangannya ke arahku.

 

“Cha Ga-Eun.”

 

“Han Jinhye,” ucapku tegas lalu membalas uluran tangannya.

 

Kami berjabat tangan sebentar sebelum aku menarik tanganku terlebih dahulu dan kembali ke kursiku. Sungmin menarik satu kursi disebelahnya dan memersilahkan gadis itu untuk duduk diatasnya. Gadis itu menggumamkan terimakasih yang dibalas Sungmin dengan satu ciuman singkat di dahinya. Benar-benar pasangan serasi yang membuat iri dan sakit hati.

 

“Maaf aku baru bisa mempertemukan kalian sekarang. Ga-Eun dan kau memiliki jadwal kerja yang jauh berbeda.” Sungmin membuka suara setelah memesankan satu gelas hot milk tea untuk gadis bernama Cha Ga-Eun itu. Pandangan matanya mengarah kepadaku, membuatku bisa melihat kalimat I’m sorry yang tertulis jelas-jelas di raut wajahnya. Aku tersenyum geli lalu mengangkat kedua bahuku, mengisyaratkan kalau aku tidak perlu mendebat hal yang satu itu.

 

Di tersenyum lalu menarik tangan gadis itu, menggenggamnya diatas meja. Seolah memamerkan kepadaku bahwa perasaanku tak lagi berguna. Aku sudah tertinggal sangat jauh dibelakang. “Ada satu hal yang ingin kami bicarakan.” Dia meremas tangan gadis itu yang berada di genggamannya sehingga gadis itu menoleh menatapnya dengan tatapan lembut.

 

“Kami akan menikah Sabtu ini.”

 

Ucapannya seperti petir yang menyambar tubuhku dan membuatku mati dalam sekejap. Aku terdiam, tidak berkutik sama sekali. Membeku ditempatku tanpa bisa melakukan apa-apa. Tubuhku seolah mati rasa dan disfungsional. Aku masih bisa bertahan dengan fakta kalau dia berpacaran, tapi menikah? Memiliki anak dan menghabisakan sisa hidup berdua bersama wanita selain aku? Ya Tuhan, bunuh saja aku.

 

“Dan Ga-Eun berharap kau mau menjadi pengiring wanitanya.”

 

Bagus. Setelah berhasil membuatku terkena serangan jantung mendadak dan rasa sakit luar biasa, mereka malah semakin melempar ke jurang kepedihan. Kenapa harus aku? Seorang gadis yang masih disibuki dengan perasaan lamanya pada mantan kekasihnya. Seorang gadis yang masih mencintai pria di masa lalunya. Tidakkah mereka jahat sekali? Memintaku menjadi pengiring wanita—yang itu artinya menghadiri penyatuan sakral orang yang kucintai, melihat dan secara sukarela menempatkan diri pada nerakaku? Aku bukan wanita sekuat itu. Aku tidak setangguh itu.

 

Andwae!

 

Mereka berdua menoleh kearahku. Wajah Sungmin berkerut bingung, sedangkan wajah gadis itu datar, tetapi aku tahu kalau dia terkejut dengan perkataanku. Aku juga tidak tahu kenapa mulutku bisa berucap sekeras dan setegas itu. Yang aku tahu, aku merasa tertekan dengan tatapan heran dua orang dihadapanku. Aku ingin pergi. Aku ingin menenangkan diri.

 

“Kenapa?” ujar Sungmin, masih dengan mata yang disipitkan.

 

“Aku—aku sibuk.”

 

“Bukankah Sabtu adalah hari liburmu?”

 

“Ya, tapi—tapi aku benar-benar sibuk.”

 

“Kumohon. Aku sangat mengidolakanmu dan ingin sekali menjadikanmu sebagai pengiringku.” Kali ini gadis itu yang berbicara. Tatapannya memelas, membuatku iba. Aku menunduk dan menggigit bibirku kuat-kuat. Disatu sisi, aku ingin sekali membantunya. Aku tidak pernah tega menolak permintaan seseorang, apalagi jika hal itu bisa membuat mereka bahagia. Tapi disisi lain, aku tidak ingin melukai hatiku yang memang sudah bernanah sebelumnya.

 

Bisa saja aku datang ke pernikahan mereka, berpura-pura terlihat baik-baik saja dengan semua yang di sajikan didepan mataku, lalu pulang dengan keadaan sangat amat hancur. Dan kejadian tiga tahun lalu akan terulang lagi. Kejadian dimana aku mengurung diri sepulang dari pertemuan terakhirku dengannya sebagai sepasang kekasih. Tiga hari penuh aku tidak keluar dari kamar. Aku membolos dari pekerjaanku, menolak makan, menolak berinteraksi. Yang aku lakukan hanya bangun, melamun, lalu menangis. Bangun, melamun, dan kembali menangis. Begitu terus, sepanjang hari.

 

Butuh waktu sebulan bagiku untuk bisa menerima semua yang terjadi dengan kisah cintaku. Perlahan-lahan aku mencoba melupakannya. Aku bahkan membuang semua barang pemberiaan darinya, membakar semua foto-foto kami, dan pindah dari apartemen lamaku. Aku melakukannnya agar setidaknya aku bisa melupakan sedikit saja tentang dirinya. Tapi, tiga hal itu tidak satupun yang berguna. Semua hal tentangnya sudah terpahat dengan sangat baik di setiap sudut kepala dan hatiku. Dan hal itu membuat segala sesuatunya menjadi lebih sulit untuk dilakukan.

 

Jadi, bisa kau bayangkan akan betapa menderitanya aku jika aku harus memaksakan diri?

 

“Maaf, tapi aku tidak bisa.”

 

“Baiklah, kalau kau tidak mau. Tapi, beri kami satu alasan yang masuk akal.”

 

Lee Sungmin sialan! Apa dia masih perlu alasan lagi? Aku mencintainya dan tentu saja hal itu menjadi penghalang. “Ada proyek novel baruku. Deadline-nya seminggu lagi sedangkan aku baru menulis sampai bab lima. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menyelesaikannya. Kuharap kalian bisa memaklumi.”

 

“Tidak apa-apa. Bertemu denganmu saja sudah membawa suatu kegembiraan untukku.” Cha Ga-Eun berbicara dengan suara lembut, sarat akan ketulusan. Membuatku memaki diriku sendiri karena berani-beraninya berbohong di depan gadis sebaik dia.

 

Kami saling melempar senyum sebelum Sungmin menarik perhatian gadis itu dan membuatnya menoleh. Kurasa dia sedang menghibur calon istrinya yang sedang kecewa. Shit. Aku tidak bisa berada disini lebih lama lagi. Tidak jika harus melihat keromantisan mereka yang membuat dadaku serasa diremas. Cepat-cepat aku menyambar tasku, mengambil beberapa lembar uang won dan meletakkannya diatas meja sebelum bangkit berdiri. Kuraih mantel kuning gading yang kusampirkan pada sandaran kursi lalu menatap kedua orang itu—yang juga ikut berdiri—dengan perasaan tidak karuan.

 

“Kau pulang?” tanya Sungmin dengan nada… takut? Ya ampun, ucapku akal sehatku dalam hati. Ini bukan waktunya menerka-nerka dan mencari sedikit celah untuk perasaanmu, Han Jinhye. Kau harus pulang sekarang atau kau akan memermalukan dirimu dengan menangis disini.

 

“Ya, aku ada janji.”

 

“Kalau begitu, sampai berjumpa lagi,” kata Sungmin sembari mengulurkan tangan kanannya. Aku menatap uluran tangannya lalu kembali ke wajahnya. Memang hanya ini yang kau dapatkan Han Jinhye. Tidak akan ada lagi pelukan dan ciuman mesra. Yang tersisa memang hanya ini. Kubalas uluran tangannya dengan satu senyuman sopan dan berlalu begitu saja. Tidak peduli kalau dia menganggapku sebagai wanita yang tak memiliki tata krama.

 

Tepat ketika aku mendorong pintu depan dan menggapai payung putih transparanku, dua tetes airmata yang kutahan sedari tadi meluncur bebas, menghancurkan pertahan diriku. Mengancurkan tembok tinggi yang kubuat sedemikian rapi. Kupakai payungku sebagai pelindung tubuhku dari hujan dan mulai melangkahkan kakiku, selangkah demi selangkah, meninggalkan tempat ini. Tempat dimana aku menerima kesakitan untuk yang kedua kalinya setelah tiga tahun berlalu. Masih tempat yang sama dan masih menyisakan luka yang sama. disini, dihatiku. Dan aku berjanji untuk tidak akan pernah melewati jalan ini lagi. Tidak akan pernah melihat kafe itu lagi. Tidak akan mau mengunjunginya lagi. Dan itu artinya aku harus meninggalkan semua kenangan dibelakang. Membiarkan masa depan membawaku pergi ke tempat yang membahagiakan, ke tempat sunyi yang dapat menghapuskan semua luka.

 

Dan setiap langkah yang kuambil, membawaku semakin jauh dari dirinya. Lee Sungmin, lelaki yang sangat amat kucintai. Kuharap dia berbahagia. Aku mencintainya dan akan selalu mendukungnya. Meskipun itu artinya luka baru bagi diriku. Hari ini, pada saat hujan mengguyur kota Seoul, aku bertekad untuk tidak akan pernah menemuinya lagi. Aku akan pergi, meninggalkan negara ini, meninggalkan semua yang terjadi. Memperbaiki diri. Mencari setetes embun penyembuh luka hati.

 

END

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] On Rainy Day

  1. Feelnya dapet banget, gimana yah perasaan JinHye waktu itu. Sungmin tuh berasa lagi pamitan ke ELF kalo dia mau nikah sama Sa Eun, hwee 😥 ini nyesekin T,T

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s