[FF Freelance] Our Little Promise – Meeting In Silence (Chapter 7)

ourlittlepromise-redrose

Title                 :           Our Little Promise : Meeting In Silence

Author           :           Red Rose

Length           :           Chaptered

Rating            :           PG-15

Genre              :           Romance, Angst, Hurt

Main Cast       :           Jung Soo Jung & Kim Jong In

Other Cast     :           Song Qian & Choi Jin Ri

Previous         :          Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5, Chapter 6,

Credit Poster :          Lee Yong Mi @allthingsiwannapost.wordpress.com

Disclaimer      :           The story is mine. Read it and give me some advice about my story.

 

 

 

 

Tidak pernah sekalipun terlintas dipikiran Soo Jung bahwa dia harus bertemu lagi dengan orang itu. Disaat Soo Jung mulai menemukan titik terang untuk melupakan segala hal tentang orang itu, disaat itu juga Soo Jung jatuh kembali ke lubang besar gelap yang tidak memiliki dasar. Soo Jung merasa bahwa dia hanya melakukan kegiatan sia-sia selama ini.

Berusaha sekuat tenaga Soo Jung membersihkan pikiran-pikirannya dari orang itu. Dengan keras, Soo Jung mulai megobati luka dihatinya akibat orang itu. Disaat sampah-sampah itu sudah hilang separuhnya, kini Soo Jung merasa dilempar dengan cukup keras dan kuat ke dalam masa lalunya lagi.

Sampah-sampah itu semakin menumpuk dan bahkan tidak ada habis-habisnya dengan cara apapun untuk dibersihkan.

Soo Jung bisa merasakan tatapan tajam yang diberikan laki-laki itu ketika kedua mata mereka bertemu menatap satu sama lain. Soo Jung tidak ingin terlihat lemah dihadapan laki-laki itu. Soo Jung berusaha untuk menunjukkan bahwa sisi kuat dan tegar dalam dirinya masih ada. Walau persediannya mulai menipis.

Kedua kaki Soo Jung terasa bagaikan es krim yang berada di dalam mesin penghangat makanan. Seharusnya es krim itu dimasukkan ke dalam mesin pendingin agar es krim itu tidak meleleh.

Soo Jung memakai kostum halloween ketika berada di malam prom.

Soo Jung menuangkan garam ke dalam tehnya.

Soo Jung meletakkan penghangat dialas sepatunya ketika matahari tepat berada diatas kepalanya.

Soo Jung mematikan penghangat ruangan ketika musim dingin.

Soo Jung melihat pelangi ketika hujan tidak turun.

Soo Jung merasa jika semua hal itu terjadi hari ini akan jauh lebih baik daripada Soo Jung bertemu lagi dengan orang itu hari ini. Jauh beribu-ribu kali lebih baik.

Soo Jung bisa merasakan bahwa sedari tadi-sejak awal kedatangan dirinya dan Victoria-pandangan dari orang itu-Kim Jong In-tertuju hanya pada dirinya. Setiap detik Soo Jung melakukan pergerakan atau hal lain, kedua mata Jong In tidak pernah luput dari dirinya.

Mata itu seperti kamera pengintai bagi Soo Jung.

Jong In hanya mengalihkan pandangannya ketika Victoria meminta laki-laki itu menghadap ke depan. Hanya beberapa detik saja. Setelah itu, Soo Jung merasa terpenjara kembali hanya karena tatapan itu.

Soo Jung tidak suka terus menerus diawasi seperti itu. Soo Jung tidak suka ketika dirinya diawasi layaknya sasaran untuk diburu. Soo Jung tidak suka dilihat seperti itu.

Terlebih karena mata yang mengawasinya adalah milik Kim Jong In.

Seharusnya Jong In tahu kalau Soo Jung tidak suka dilihat seperti itu. Jong In adalah sahabat Soo Jung yang sudah mengenal lama dirinya.

Sahabat? Soo Jung bahkan tidak menemukan lagi arti kata itu di dalam diri Jong In sejak tiga tahun lalu. Lebih tepatnya, ketika Soo Jung menangis seperti orang bodoh dihadapan laki-laki itu.

Soo Jung menyesal atas semua airmata yang dikeluarkannya karena laki-laki itu. Dan kali ini, Soo Jung tidak akan lagi melelang airmatanya yang berharga hanya untuk laki-laki itu.

***

Sekarang Soo Jung tahu bagaimana rasanya menjadi seorang robot yang dikendalikan dengan remote control oleh penciptanya. Dia tidak tahu apa yang telah dia lakukan sebelum dirinya sekarang duduk bersama dua orang lain di sebuah tempat yang menawarkan bermacam-macam jenis minuman yang terbuat dari olahan kopi.

Soo Jung menyukai tempat ini, tempat yang menawarkan minuman favoritnya itu. Soo Jung hanya tidak suka mengetahui bahwa dirinya saat ini duduk semeja dengan Kim Jong In. Beruntung masih ada Jin Ri yang bisa Soo Jung aja bicara nanti.

Baru saja Soo Jung ingin memesan minuman favoritnya ketika salah satu pelayan-dengan pakaian ala bar eklusif kalangan atas-menghampiri meja mereka kalau saja suara berat itu tidak mendahuluinya.

“Satu capuccino, satu americano, dan—Sulli kau mau minum apa?”

Espresso.”

“―satu espresso. Itu saja.”

Setelah mendengar ‘itu saja’ dari laki-laki itu, pelayan itu menganggukkan kepalanya seraya berjalan menuju ruangan tenpat mereka membuat pesanan kopi mereka tadi.

“Jong In-ssi, kau bahkan tidak membiarkan Krystal-ssi memesan minumannya.” Suara Jin Ri terdengar bingung sambil melihat kearah Soo Jung untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

“Aku sudah memesan milik Krystal.” Jawaban dari Jong In sukses membuat Jin Ri menaikkan sebelas alisnya memberikan tatapan bingung pada Jong In dan tatapan meminta penjelasan dari Soo Jung. Sedangkan Soo Jung, gadis itu hanya bisa memberikan senyum yang tidak terlihat dipaksakan dan ingin sekali saat ini juga menghajar wajah Jong In.

Apa yang sedang direncanakan oleh laki-laki itu pikir Soo Jung.

Ketiga anak manusia itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sampai pelayan tadi membawa baki berisi tiga cangkir minuman pesanan mereka dan meletakkannya di hadapan ketiga orang itu.

Jin Ri berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Sebenarnya, Jin Ri ingin menanyakan perihal Jong In yang memesan minuman Krystal tanpa berkompromi terlebih dulu dengan gadis itu.

“Kurasa kalian sudah mengenal satu sama lain sebelum ini. Jong In-ssi bahkan tahu minuman favoritmu.”

Bukan sebuah jawaban yang didapatkan oleh Jin Ri, Jong In lebih memilih membahas topik lain daripada memberika jawaban atas pertanyaan itu.

“Sulli, tidak bisakah kau mulai dari sekarang jangan memanggil aku dengan sebutan Jong In-ssi? Panggil aku Kai.”

Jin Ri memberikan tatapan kecewa kepada Jong In karena bukan itu yang diharapkan keluar dari mulut laki-laki itu. Soo Jung hanya menyaksikan dua orang itu seperti menerima kenyataan bahwa saat ini dia sedang menontn adegan sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

“Kau aneh. Selama ini kau sama sekali tidak menunjukkan sikap tidak suka ketika aku memanggilmu dengan sebutan itu. Baru kali ini kau memanggilku dengan nama itu. Ini aneh. Apa yang terjadi padamu hari ini, huh? Kau―”

“Sebaiknya kau ingat bahwa disini kita tidak hanya berdua saja. Masih ada satu orang lagi yang perlu kau libatkan dalam percakapan kita.”

Jong In menatap Soo Jung yang menatapnya kaku setelah mendengar kelanjutan kalimat Jong In.

“Semuanya sudah berubah. Tidak akan sama lagi.”

Soo Jung bisa merasakan maksud dari kalimat itu ditujukan pada dirinya. Jong In benar-benar sudah memulai permainannya. Kalau begitu, Soo Jung siap mengikuti permainan itu. Walau harus melanggar aturannya sekalipun.

“Sulli, kau tidak perlu bersikap seperti itu. Aku dan Kai tidak mengenal sebelumnya. Bahkan tidak kenal sama sekali. Mungkin dia tahu minuman favoritku karena Victoria memberi tahunya. Kau ingat bukan kalau tadi mereka terlibat dalam pembicaraan serius.”

Jin Ri menatap Soo Jung yakin. Jin Ri percaya bahwa Soo Jung tidak mungkin berbohong.

“Krystal, kau benar-benar orang yang baik. Aku yakin bahwa banyak sekali orang yang senang dan merasa nyaman didekatmu.” Jin Ri tersenyum menatap Soo Jung dan Soo Jung membalas senyuman itu.

Tidak banyak yang mereka bicarakan bertiga. Hal ini dikarenakan ketika Jin Ri berbicara dengan Soo Jung, Jong In memilih diam dan hanya mendengarkannya saja. Begitu juga ketika Jin Ri berbicara dengan Jong In, Soo Jung bersikap bahwa Jin Ri sedang menggerutu sendiri.

Mengharapkan Soo Jung dan Jong In bertukar obrolan satu sama lain?

Mustahil untuk terjadi.

Jin Ri adalah satu-satunya orang yang aktif untuk mengajak mereka berdua berbicara. Soo Jung bersyukur karena kelihatannya Jin Ri tidak sedikitpun menampakkan raut wajah kelelahan karena terus saja berbicara sampai Jin Ri sudah menyesap cangkir kopi ketiganya dalam waktu satu jam.

Jin Ri akhirnya memutuskan untuk pulang setelah gadis itu merasa bahwa perutnya kembung akibat minum tiga cangkir kopi dalam rentan waktu yang singkat.

Yang tidak diinginkan Soo Jung terjadi.

Jin Ri memilih pulang dengan jalan taksi karena tiba-tiba dia harus memenuhi panggilan managernya untuk membahas tentang film terbarunya. Itu berarti Soo Jung harus tinggal bersama dengan Jong In berdua saja. Soo Jung ingin sekali masuk ke dalam taksi yang ditumpangi Jin Ri.

Sayangnya, Jin Ri sama sekali tidak menawarkan Soo Jung untuk pulang bersamanya.

“Kai, tolong antar Krystal. Aku pulang dulu.”

Itu adalah kalimat terakhir dari Jin Ri sebelum dia menutup pintu taksi dan taksi itupun meluncur ke tempat tujuan Jin Ri.

Soo Jung sudah siap menjulurkan tangannya untuk memberikan tanda pada sebuah taksi yang datang kearahnya kalau saja tidak ada sebuah tangan yang mencegahnya melakukan hal itu.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak dengar apa yang dikatakan oleh Sulli?”

“Tidak. Aku pikir itu hanya formalitas saja dan aku tidak berharap bahwa kau akan melakukannya.”

“Kau harus ke dokter bagian telinga untuk mengecek kondisi telingamu.”

“Kau harus ke dokter jiwa untuk memeriksa kondisi kejiwaanmu setelah apa yang kau lakukan sampai saat ini.”

Keduanya diam. Soo Jung tidak menyangka bahwa dirinya bisa berkata demikian. Soo Jung melihat Jong In juga diam. Soo Jung merasa emosinya meletup saat itu juga. Sebenarnya Soo Jung sudah menahan emosinya sejak Jong In memberikan pernyataan yang membuat telinganya sakit ketika mendengarnya.

Jong In yang sekarang dihadapannya bukan lagi Jong In yang dulu dia kenal.

Yang dulu adalah sahabat terbaiknya. Sahabat yang dia miliki dan satu-satunya yang bisa membuat dirinya selalu merasa nyaman apabila berada didekat laki-laki itu.

Kini semuanya sudah berubah. Tidak ada lagi Jong In yang akan menungguinya tiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Tidak ada lagi Jong In yang selalu menolongnya mengerjakan tugas. Tidak ada lagi Jong In yang setia duduk sambil mendengarkan semua keluhannya.

Tidak ada lagi. Tidak akan ada lagi.

Benar kata Jong In, semuanya sudah berubah.

Ditengah-tengah pikirannya yang kacau, Soo Jung tersentak ketika Jong In mengatakan sesuatu yang membuat dirinya semakin kacau.

“Kau mau pulang ke rumah ibumu, kan?”

***

Jong In mengantar Soo Jung pulang.

Setelah mereka berdua beradu argumen-cukup lama-Soo Jung akhirnya pulang bersama Jong In-perlu usaha keras dari Jong In untuk hal ini-hari itu.

Selama perjalanan, dua anak manusia itu diam. Jika diibaratkan, mereka seperti sedang berada di dalam satu bus. Soo Jung duduk di kursi yang paling depan sedangkan Jong In duduk di kursi paling belakang. Mereka tidak akan bisa berbicara satu sama lain dengan jarak sejauh itu.

Jarak mereka yang sekarang hanya dibatasi oleh tuas gigi mobil saja mereka tidak berbicara.

Soo Jung menatap kosong ke luar jendela sedangkan Jong In menatap lurus ke depan. Tidak ada satupun dari mereka yang berinisiatif untuk memulai ‘meramaikan’ suasana. Diam mereka bertahan sampai ban mobil itu berhentu di sebuah rumah yang tidak asing lagi bagi keduanya.

Soo Jung keluar dari mobil itu.  Jong In juga keluar mengikuti Soo Jung yang sudah berjalan jauh didepannya. Ketika Soo Jung sudah sampai di depan pintu rumahnya, Soo Jung berbalik dan menatap Jong In.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang. Sekarang kau boleh pu―”

Perkataan Soo Jung terhenti ketika dia merasakan pintu di belakangnya terbuka. Di balik pintu kayu itu, muncul seorang wanita berumur empat puluhan dengan senyum manis selalu menghiasi wajahnya.

Eomma.”

Soo Jung memeluk ibunya itu. Rasanya Soo Jung masih tidak percaya bahwa dia bisa merasakan lagi pelukan hangat ibunya setelah beberapa tahun ini dia tidak mendapat pelukan sehangat itu.

Pandangan ibu Soo Jung tertuju pada sosok laki-laki yang kini berdiri dibelakang Soo Jung. Ibu Soo Jung tersenyum tipis mengetahui siapa laki-laki itu.

Terakhir yang bisa Soo Jung dengar adalah ibunya mengatakan sesuatu yang membuat dirinya seperti dihantam oleh suatu benda keras dengan cukup kuat yang menimbulkan tanda tanya besar di atas kepala Soo Jung.

Mungkin dia benar-benar harus pergi ke dokter telinga.

“Jong In, terima kasih sudah mengantar Soo Jung pulang. Kau masih saja menyempatkan diri untuk mengunjungi bibi ditengah jadwalmu yang padat.”

***

28 thoughts on “[FF Freelance] Our Little Promise – Meeting In Silence (Chapter 7)

      • Jangan pisahin Jongin sama Soojung kak, kasian kan sahabat jadi cintanya ngga kesampean hihi 😀 ditunggu banget kak chap 9 nya, harus panjang sekali yaa 😉

  1. Kai tipikal calon menantu yang baik :’) Ayooo kapan jadian sih ah gemes. Line berapa thor biar enak manggilnya hehe

  2. Kai tipikal calon menantu yang baik :’) Ayooo kapan jadian sih ah gemes. Line berapa thor? biar enak manggilnya hehe

  3. kai baik banget sii masih inget sama janjinya,bagaimana ya reaksi krystal selanjutnya setelah tau kai nepatin janjinya,next yaa gomawo ^^

  4. aduh kai segitunya banget kayanya mau sulli tau kalo dia sama krystal udah kenal lama
    oh kai menepati janjinya untuk selalu jagain eommanya krystal hadu memang anak baik~
    ayodong kai krystal jangan canggung gitu, tapi lucu juga sih hihi
    next part soon

  5. aaaa part ini berasa dikit bgttt huhu atau emang dikit ya? wkwk duh jongin tepatin janjinya padahal :’) ditunggu lanjutannya :3

  6. jadi selama ini jongin selalu mengunjungi ibunya soojung? jangankan soojung, aku aja ikut kaget bacanya. pasti soojung ngerasa bersalah banget tuh 😦 ayo dong baikan kaliannya plisss 😦 /kok maksa/ /becanda kok yehet~ :D/
    akhirnya aku bisa marathon baca sampe part 7. yeay~
    aku tunggu chapter selanjutnya!

  7. jongin sama ibunya soojung?
    penasaran sama lanjutannya 😀
    ditunggu lanjutannya 😀
    fighting and keep writing 😀

  8. apa ini,,? kai ternyata selama ini tetep nepatin janjinya…? krystal cepetan minta maaf ma kai, sebelum kai berpaling ma orang lain -_-

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s