Goodbye

dikdotspace2-copy

GOODBYE

by

dikdotspace

Cast : ‘VIXX’ Lee Jae-Hwan as Lee Jaehwan, Song Ye-Jin as Yejin (OC) || Genre : Sad, Drama || Length : Oneshoot || Credit Poster : Poster by Ladyoong @ Poster Channel *

Salah. Ini salah. Apa yang kuperbuat selama ini salah. Dan selama ini pula aku menyadarinya. Tapi kenapa aku tak bisa melepaskannya? Kenapa aku tak bisa mengakhiri semua ini? Kenapa aku selalu luluh padanya?

“Jinie-ya? Apa kau masih di sana?” suara berat dari seberang sana menyadarkanku dari lamunanku.

“Eoh? Eoh. Waeyo?”

Suara kekehannya terdengar jelas di telingaku. Walau samar.

Yeobbeo, Aejin mencarimu. Kau sedang berbicara dengan siapa?”

Suara itu … Suara perempuan itu …

“Aku akan menyusulmu. Tuan Song aku harus pergi dulu.”

Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung memutus sambungan kami. Sialan. Perempuan itu selalu saja mengganggu hubungan kami. Tidak. Bukan perempuan itu yang mengganggu hubungan kami, tapi akulah yang mengganggu hubungan mereka. Akulah parasit dalam rumah tangga mereka.

Kalian ingin mencaci-makiku? Silahkan. Aku tak peduli lagi dengan semua omong kosong kalian. Silahkan mencaci-makiku sepuas kalian, asalkan kalian bisa memberiku jawaban tentang satu hal yang sampai sekarang masih mengganggu pikiranku. Kenapa cinta bisa datang pada waktu, tempat dan orang yang salah? Seperti yang menimpaku. Aku jatuh cinta pada seseorang yang telah menjadi suami wanita lain dan parahnya aku jatuh cinta padanya dihari pernikahannya.

Dan satu lagi, kenapa dia menggabungkan namaku dan nama istrinya untuk nama anak pertamanya? Maksudku, kenapa dia menggabungkan nama istri SAHnya dengan wanita SIMPANANnya? Oh ayolah, tidak ada orang yang berselingkuh yang menggabungkan nama pasangan sah dan simpanan. Mungkin bagi orang yang tidak tahu jika nama anak itu adalah nama gabungan yang tidak pantas, mereka tidak akan mempermasalahkannya. Tapi bagaimana dengan simpanannya yang mengetahui hal itu? Ah sudahlah. Toh ini mutlak kesalahanku yang masih menerimanya walau ia telah mempunyai seorang istri yang sempurna. Lupakan.

*

“Yejin-ssi, waeyo? Kau terlihat kurang sehat.”

Lagi dan lagi. Ia mengkhawatirkanku. Selalu saja begitu. Tapi seperti yang biasa, aku hanya bisa tersenyum. Tangan kanannya terulur. Memeriksa suhu tubuhku.

“Kau demam Yejin-ssi. Kenapa kau tak pulang dan beristirahat?”

Aku merindukanmu. Ingin sekali aku mengatakan hal itu, tetapi mulutku malah mengatakan hal lain, “Pekerjaanku masih banyak sajangnim.”

Aku demam. Ya aku tahu itu. Tapi tetap saja aku masuk ke kantor. Kenapa? Tentu saja untuk bertemu denganmu. Apa kau pikir aku masuk hanya karena pekerjaan yang menumpuk. Demi apapun Lee Jaehwan, tak bisakah kau peka?

“Aku tak mau kau sakit, jadi pulanglah,” ucapnya lirih.

Nan gwaenchana. Kau tak perlu khawatir oppa,” balasku tak kalah lirih. Aku takut jika ada yang mendengar ucapanku barusan.

“Hana-ssi, tolong kau urus semua pekerjaaan Yejin-ssi. Dan kau Yejin-ssi, pulanglah.”

Geunde sajangnim..”

“Aku tidak suka ada yang membantah perkataanku. Pulanglah.”

*

Oppa,” seruku manja ketika, akhirnya, ia menerima teleponku.

Yeobbeoseo?” terdengar suara anak kecil menyahut dari seberang. Aejin?

“Aejin-ah, kenapa kau bermain dengan telepon appa?”

Suara perempuan itu kembali terdengar, membuat panas telingaku. Tunggu.. Aejin? Aera? Jaehwan sedang bersama keluarganya? Bukankah ia masih dikantor?

Yeobbeoseo?” kali ini Aera menyahut.

Sial. Kenapa dia yang menyahut? Aku merindukan suamimu bodoh dan aku ingin mendengar suaranya bukan suaramu.

Ne, Nyonya Lee. Apa sajangnim berada disampingmu?”

“Ah Yejin-ssi, Jaehwan berada di kantor dan ponselnya tertinggal. Waeyo? Bukankah kau juga dikantor?”

Hei aku tak ingin berbasa-basi denganmu. Kenapa kau tak langsung memutus sambungan setelah bilang ponselnya tertinggal?

Aniyo. Saya hanya ingin memberitahu sajangnim bahwa saya tidak bisa masuk kerja dan beliau ada rapat direksi pukul 10 nanti.”

“Begitukah? Nanti akan kusampaikan. Apa kau sakit Yejin-ssi?”

Hentikan basa-basi ini. Aku tak ada niatan berbicara denganmu.

“Saya sedang tak enak badan Nyonya. Kalau begitu saya permisi.”

*

Sudah seminggu ini aku tidak melihatnya. Tidak pula mendengar suaranya. Ke mana ia pergi? Kenapa ia tak memberiku kabar? YA! Song Yejin! Seharusnya kau sadar. Kau bukan siapa-siapanya, lantas apa kewajibannya memberitahumu? Apa hakmu untuk tahu segalanya tentangnya?

Lee Jaehwan. Apa kau tak mengkhawatirkanku? Sudah seminggu ini aku sakit dan tak ada tanda-tanda perhatianmu–entah itu telepon, sms, mengirim bunga, buah-buahan, makanan bahkan dokter–satupun. Apa aku segitu tak berharganya dimatamu? Apa aku memang tak ternilai? Apa aku hanya mainan bagimu? Ketika mainan itu baru, kau akan sering memainkannya, tetapi jika kau sudah tak menyukainya kau bisa membuangnya kapan saja.

*

Perlahan kedua mataku ini terbuka. Samar-samar aku melihat seseorang tengah berdiri menghadap jendela besar.

Oppa?” panggilku serak.

Dia membalikkan badannya dan dia tersenyum. Aku mencoba bangkit tapi kedua tangan kekarnya berhasil menahanku. Sejak kapan dia berada di sampingku?

“Kau kenapa ehm? Kau tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu.”

“Kau ke mana saja? Kenapa kau tak meneleponku?” tanyaku balik.

Mianhae. Ibu mertuaku sakit dan aku …” ucapannya terhenti. Kau bahkan tak membalas kontak mataku Oppa-ya.

“Dan kau berada di sana bersama Aera dan Aejin. Lalu deongsaengnya juga ada di sana. Benar?” lanjutku. Ia terdiam. Sepertinya jawabanku benar adanya. Atau salah?

Jaehwan membaringkan badannya tepat disebelahku, lalu memelukku. Aku merindukan pelukanmu. Aku merindukan perhatianmu. Aku merindukan … dirimu, Lee Jaehwan. Namja yang tak bisa kumiliki sepenuhnya. Tak akan pernah bisa.

“Ehm? Kau kenapa? Kau bahkan tak membalas pelukkanku.”

Aku terdiam. Ia terdiam. Tiba-tiba saja aku memikirkan alasannya tadi hanyalah sebuah kebohongan belaka. Ibu mertuanya tidak sakit. Dan selama seminggu ia menghilang, ia dan Aera pergi liburan berdua. Melakukan bulan madu kesekian mereka.

“Kau marah?” tanyanya lagi.

“Apa aku berhak marah Oppa?” jawabku lirih. Aku menyembunyikan wajahku di dadanya. Menghirup aroma maskulin tubuhnya. Aroma yang bisa menenangkanku.

Tangan kanannya mengusap kepalaku beberapa kali. Sungguh aku sangat merindukan perlakuannya. Tangan kirinya mengangkat dagu. Ia mengecup bibirku. Hanya sebuah kecupan yang sangat singkat.

Oppa,” panggilku.

“Ehm?”

Aku menghembuskan nafas beberapa kali, mencoba menormalkan detak jantungku. Kurasa ini waktu yang tepat. Kurasa inilah saatnya.

“Kenapa kau menghembuskan nafas Jinie-ya? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Kalau aku mengatakannya, apa kau akan membantuku keluar dari masalahku?”

Jaehwan terdiam cukup lama. Sepertinya ia sedang memikirkan jawaban yang tepat atau … ? Atau apalah. Entahlah. Aku tidak pernah bisa mengerti jalan pikirannya.

“Kita akhiri saja hubungan kita. Aku tak mau jadi duri di keluarga kalian. Aku akan melupakanmu Oppa.”

Jaehwan melepaskan pelukkan secara tiba-tiba. Sorot matanya menusuk mataku tajam. Sungguh aku tidak menyukai tatapan itu. Oppa jangan tatap aku dengan tatapan itu. Aku takut.

“Apa? Apa maksudmu?” bentaknya keras.

Tuhan, apa yang aku lakukan ini benar bukan? Aku tidak salah kan? Walau aku, aku akan tersakiti, tapi aku yakin inilah yang benar. Dia memang bukan milikku. Dan tak akan pernah menjadi milikku. Tak. Akan. Pernah.

Oppa, aku akan menghilang dari hidupmu. Kau tak perlu mencemaskanku. Aku akan baik-baik saja.”

“TIDAK! AKU TIDAK MAU JINIE-YA! AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU!”

Oppa, apa yang kita lakukan ini salah. Kau sudah mempunyai istri dan seorang anak. Sedangkan aku? Aku tidak bisa selalu ada disampingmu. Aku tidak bisa selalu bersamamu. Aku tidak bisa begini terus. Aku juga ingin mempunyai keluargaku sendiri. Mempunyai seorang suami. Dan aku tidak bisa mengharapkanmu sebagai suamiku karena kau suami Aera.”

Aku berhenti sejenak. Menormalkan deru nafas dan detak jantungku. Jaehwan terdiam. Ia tak lagi berbaring disebelahku, ia berdiri menatap keluar jendela besar. Oppa, mianhae. Ini yang terbaik bagi kita. Aku bangkit dan berjalan ke arahnya. Memeluknya dari belakang.

“Jika kita tak mengakhirinya sekarang, pada akhirnya kau akan dihadapkan pilihan. Antara aku dan Aera. Dan aku yakin, dengan segala pertimbangan, kau akan memilih Aera. Tak akan pernah ada kesempatan bagiku memilikimu. Jadi Oppa, kita akhiri segalanya. Ini semua demi kebaikanmu.”

Aku melepas pelukkanku dan memutar tubuhnya lalu kukecup singkat bibir tebalnya. Dengan seuntai senyuman tulus aku berkata, “Oppa, annyeong.”

-fin

*

Author kembali lagi dengan fanfic galau-lagi-. Entahlah apa yang terjadi, tapi kebanyakan fanfic drafku pasti berakhir sad. Ini otak gak bisa diajak bikin fanfic seneng. Dan mungkin, author akan menjadi author khusus sad ending u.u. Oh ya kali ini author menggandeng pacar kesekian author untuk jadi castnya *plak. Tiba-tiba aja pengen buat fanfic tentang ayang Ken. Hehe. Btw, komenan kalian author tunggu lho. I DON’T LIKE SIDERS, OK?! Sekian dan terima kasih *bow bareng Ken

Advertisements

9 thoughts on “Goodbye

  1. aki kudu comment apa thor
    ini keren >////< oh tidak Kenku selingkuh
    sad endingnya gak bikin ngeluarin mutiara kok thor /apaini/
    suka suka keep writing authornim bikin ff kennjhuma yg banyak ^^

  2. aduh si ken jadi bahan nistaan *ketawa ngakak*
    ehem, aku gk nyangka ken selingkuh dari aku *meluk hongbin* *plakk
    aduh bagus banget thorr, gpp deh sad ending, aku malah bahagia (?) apalagi castnya ken hahhaa. gk bisa byngin di selingkuh kyk gimn >_<
    ditunggu karya lainnya thor *bukan yang main pilem thor ya*

  3. aaaaaah kalo kaya gini harus sebel ke siapanya hayoo coba bingung x-x
    cewenya juga nempel gara” dikasi space sama Ken huhuhu nappeun namja!!
    mana nama anaknya juga digabung nama selingkuhan,
    Ken whywhywhy otak kamu kenapaaa??
    yah untung sebelum fin uda bilang annyeong, jadi ga sebel deh sama si mba-nya XD
    termasuk jarang nemu fic yang ngebahas chara perusak hubungan, jadi ini uniiiik~

    diksinya ngena thor, feelnya juga dapet
    ikutan kangen, sebel, sedih, galau, petjah deh ini *two thumbs up* 😀

    sebenernya masih penasaran sih Ken kenapa bisa juga suka -banget-, dan ya kembali lagi, sampai nama selingkuhan dia masukkan ke nama anaknya..

    tapi karena judulnya goodbye ya…. jadi…. goodbye sajalah maz Ken
    kembalilah ke keluargamu ❤
    eyaeyaeya

    terus berkarya dengan fic yang unik ya thor!! Fighting!! BD

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s