Memoire and Rememoar

MnR Kaistal copyAuthor: Immocha

Cast :

    • Jung Soojung
    • Kim Jongin

Leght: Vignette

Genre: Romance, Angst, Sad

Salju di bulan Desember semakin tebal. Angin musim dingin yang menerpa pun dapat membuat tulang-tulang di sekujur tubuh bergemeletak. Namun sayangnya, itu tak berlaku untuk seorang gadis. Gadis yang saat ini menyandarkan punggungnya di salah satu sisi ranjang dengan kaki terjulur lurus di dinginnya lantai apartemen yang ia tinggali. Entahlah, kenapa gadis itu lebih memilih duduk tertidur beralaskan lantai yang dingin di bandingkan kasur empuknya yang menggoda. Ia menggeliat pelan, tangannya meraba mencari sebuah benda tipis persegi panjang yang sangat canggih, handphone. Setelah menemukan benda yang ia cari, dengan keadaan yang belum sepenuhnya sadar ia segera menekan tombol unlock pada bagian samping kanan handphone-nya, lalu tanpa pikir panjang ia menggeser slide lock pada layar touch screen-nya.

Gadis itu, Jung Soojung, mengerjapkan matanya beberapa kali sembari memandang layar handphone-nya berharap ia menemukan sebuah notifikasi seperti biasanya. Sayangnya, itu tak pernah terjadi lagi. Soojung membanting handphone-nya kesal, mengacak rambut panjangnya yang tergerai bebas karena frustasi, kemudian ia menyambar sebatang rokok dan segelas wine yang setia menemaninya sejak semalam. Langkah kakinya membawa Soojung menuju balkon kamarnya. Ia terduduk di salah satu kursi, mengabaikan udara dingin yang membuat giginya sedikit bergemelatuk. Meletakkan gelas berisi wine di atas meja, sembari menyesap dalam-dalam rokok yang ia pegang di tangan yang lain. Melakukan hal-hal yang sama sejak semalam dengan perasaan sedihnya. Soojung kembali beranjak masuk setelah menghabiskan sebatang rokok dan meneguk habis segelas wine.

Ia berjalan kearah kamar kamar mandi dan Soojung menemukan pantulan dirinya pada cermin wastafel kamar mandinya.

Hanya dua kata itu yang dapat mencerminkan dirinya saat ini, bahkan ia bergidik ngeri menatap pantulan dirinya sendiri, kedua matanya bengkak, belum lagi kini ia memiliki lingkaran hitam mirip seorang rekan kerjanya, Zi Tao. Meskipun lingkaran hitam itu tak terlihat jelas, tapi emosi Soojung jelas tergambar di matanya. Soojung bahkan tak memedulikan cara berpakaiannya di musim dingin seperti ini.

Ia meraih sikat giginya dengan malas, membubuhkan pasta gigi di atasnya lalu menyikat giginya asal. Sikat gigi masih di mulutnya saat ia memutuskan untuk melenggang keluar dari kamar mandi dan mendapati keadaan kamar apartemennya yang benar-benar berantakan. Beberapa helai baju berceceran di lantai, sekotak rokok dan sebotol wine tergeletak di bawah nakas, selimut yang tak berbentuk dan sebuah pigura foto berisi dirinya dan lelaki itu. Ia mendesah panjang sebelum akhirnya membalikkan badan, kembali ke kamar mandi.

Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, Soojung mulai membereskan kamar apartemennya. Memunguti baju-bajunya yang berserakan di lantai, menata kasur –yang bahkan tak tersentuh tubuhnya– dan melipat selimut dengan rapi. Soojung beranjak untuk mengambil penyedot debu di ruang penyimpanan, membersihkan debu sekaligus abu-abu rokoknya. Kegiatannya terhenti saat handphone-nya berbunyi nyaring. Setelah melihat siapa yang menelponnya di pagi buta begini, ia menjawab panggilan itu.

“Ada apa, Junso?”

“Kau akan bekerja hari ini?”

“Tentu saja.”

“Kau yakin akan baik-baik saja? Aku bisa membantu meminta ijin untukmu jika kau mau.”

“Tidak, terima kasih. Aku akan berangkat ke kantor hari ini. Sampai bertemu, Junso.”

Tanpa menunggu balasan dari Junso, Soojung mengakhiri obrolan mereka. Soojung mengubah dirinya dari si kusut nan berantakan pecandu nikotin yang berbalut baju kebesaran di tubuhnya menjadi seorang fashion stylist yang menawan.

***

Soojung melangkahkan kaki jenjangnya menuju sebuah gedung tinggi. Kakinya dibalut oleh sepasang sepatu boot setinggi lutut, badannya dihangatkan oleh sebuah coat hangat sepanjang tiga per empat dari tubuhnya.

Good Morning, Junso,” sapanya saat memasuki ruang kerjanya, menyampirkan mantelnya pada sebuah tiang.

Junso membuka mulutnya, terkejut dengan pakaian yang di kenakan oleh sahabatnya hari ini. Meskipun mereka bekerja pada perusahaan fashion ternama di Korea tapi tak ada orang normal yang rela pergi ke kantor di musim dingin hanya menggunakan leather short pants berwarna hitam, dipadukan sebuah kemejalengan pendek bewarna putih tulang yang tertutup oleh drop-shoulder cashmere. Junso yakin Soojung mulai tidak normal sekarang.

What’s wrong, girl?”

You. Are you crazy, Soojung? Kau tidak sedang berada di daerah khatulistiwa atau setidaknya sedang hidup di negara tropis. Ini Seoul dan sekarang musim dingin,” cerca Junso sedikit berapi-api.

“Lalu? Aku hanya ingin memakai ini sekarang.”

“Terserah apa katamu. Aku akan membunuh lelaki bernama Jongin itu jika ia membuat dirimu lebih buruk dari hari ini.”

Soojung tertawa mendengar sumpah serapah Junso.

“Aku pastikan kau tidak akan melakukannya.”

“Kita lihat saja nanti, Nona.”

“Baiklah. Selamat bekerja Pyong Junso.”

***

Tak akan ada yang pernah percaya jika lelaki bernama lengkap, Kim Jongin akan melakukan perbuatan seperti ini. Mengkhianati cintanya hanya karena seorang gadis yang baru ia kenal tak lebih dari dua bulan. Bahkan sahabat terdekatnya tak pernah menyangka bahwa Jongin mampu menyakiti gadis yang selama ini ia cintai.

Kim Jongin, lelaki berpostur tubuh atletis itu kini sedang terduduk di salah satu kedai kopi bersama seorang gadis yang bergelayut manja di lengannya. Siapa sangka di balik senyuman yang selalu ia berikan pada Soojung, Jongin malah tertawa bahagia atau bahkan mencium gadis lain. Semuanya dia lakukan di belakang Soojung.

Brengsek? Tepat sekali.

Jongin seolah buta dan lupa akan janjinya pada Soojung saat mereka memutuskan untuk memulai hubungan. Saat Jongin menggenggam erat tangan Soojung dan bersumpah akan melindungi gadis itu dan tak akan mengkhianatinya. Dengan matanya yang berkilat-kilat menunjukkan kesungguhan, Jongin berjanji dengan sepenuh hatinya. Jika gadis itu memberikan sepenuh hatinya, ia akan menjaganya seburuk apapun kondisi yang mereka alami. Jongin lupa itu semua. Ironisnya janji-janji itu menguar entah kemana hanya karena pesona gadis bermata coklat yang langsung memikatnya beberapa waktu yang lalu. Ia bahkan melupakan sumpahnya jika mata Soojung merupakan mata paling indah yang pernah ia tatap.

Sebegitu besarkah pesona gadis itu?

Soojung sendiri penasaran. Ia tak habis pikir apa yang membuat Jongin memutuskan untuk berpaling darinya. Melakukan hal yang menyakitkan diam-diam di belakangnya seolah-olah tak puas jika ia hanya punya satu cinta saja. Mau tak mau Soojung membandingkan dirinya dengan gadis itu. Berkali-kali ia memikirkan apa alasan Jongin sebenarnya dan sialnya itu hanya berujung pada dirinya yang kembali menambah beban frustasi yang tengah menderanya.

Tapi Soojung sadar akan satu hal. Bahwa Jongin juga seorang pria. Ia layaknya kumbang yang bisa hinggap di bunga mana saja, Jongin mungkin saja bisa terperangkap pada pikatan gadis lainnya.

Ya, Jongin tak ayal seperti pria-pria yang bertebaran di luar sana. Tampak istimewa, tetapi nyatanya tak jauh berbeda dari yang biasa-biasa saja.

***

“Jadi berapa batang rokok yang telah kau habiskan semalam?” tanya Junso pada Soojung saat mereka baru tiba di apartemen Soojung.

“Jika kau ingin mengetahui angka pastinya, kau bisa menghitungnya di tong sampah Junso sayang. Aku belum membuangnya.”

“Nope, dear. Thanks.”

Junso berlalu dari hadapan Soojung, melangkahkan kakinya memasuki kamar Soojung. Soojung yang pasrah dengan omelan Junso hanya mengekor kemana pun Junso melangkah. Bau rokok menyengat indra penciuman Junso, ia sampai harus menggosok hidungnya beberapa kali karena merasa terganggu.

“Kau belum membereskan semuanya, Nona?”

Soojung hanya mengendikkan bahunya, tak peduli dengan omelan Junso. Tangannya mengambil salah satu pigura yang masih tergeletak di lantai.Di situ, Soojung melihat dirinya sendiri dalam pelukan hangat Jongin, melihat betapa bahagianya senyum mereka di foto membuat Soojung tak bisa menahan dirinya untuk ikut tersenyum. Namun, bukan senyum bahagia yang terlukis di bibirnya melainkan senyum yang pahit.

Soojung mengulang memori usangnya bersama Jongin. Soojung mencoba bertahan, namun ia tak bisa bertahan lebih lama. Ia hanya terlalu lelah dengan semua yang terjadi pada hubungan mereka, kepura-puraan yang menganggap hubungan mereka baik-baik saja. Soojung terlalu lelah untuk terus tersenyum dan berkata jika hubungan ini berjalan dengan baik. Soojung hanya ingin Jongin memikirkan perasaannya, memikirkan dirinya. Bukan keegoisan Jongin, atau bahkan wanita lain. Apakah Jongin akan berada di sisinya walaupun ia tak mengatakannya bahwa ia membutuhkanJongin? Apakah terlalu sulit untuk membuat Jongin memprioritaskan dirinya?

Masih segar di ingatan Soojung, bagaimana ia dan Jongin mengakhiri hubungan mereka. Jongin bilang bahwa Soojung berubah, kenyataanya Jongin sendirilah yang berubah. Berubah jadi laki-laki yang tidak lagi Soojung kenal, Jongin jadi acuh dan tak memperdulikan Soojung lagi. Hanya karena wanita yang baru masuk di kehidupan mereka, berdiri tepat diantara mereka, membawa Jongin menepi, menjauh dari Soojung.

You said that I Changed

But, That’s not it.

I’m just tired

“Jadi sampai kapan kau akan melamun? Kita jadi pergi, Soojung?” pertanyaan Junso membuyarkan lamunannya.

Soojung menyeka cepat air mata yang sempat jatuh membasahi pipinya. Ia menengadahkan kepalanya, melihat Junso sudah berkacak pinggang di depannya. Soojung tersenyum melihat sahabatnya yang sudah siap naik pitam karena dirinya.

“Tentu. Ayo, kita berangkat.”

Soojung meletakkan pigura itu pada tempat seharusnya. Ia mengapit lengan Junso, saat gadis itu berjalan sejajar dengan dirinya. Mereka berjalan menuju sebuah kafe yang tak jauh dari apartemen Soojung. Suasana hatinya buruk akhir-akhir ini karena terlalu banyak mengingat kenangan manis maupun pahit antara dirinya dan Jongin, membuat dirinya ingin menyeduh secangkir cokelat panas, minuman favoritnya.

Langkahnya mendadak terhenti, tawanya yang sempat mengembang karena bercanda sepanjang jalan bersama Junso juga mendadak menghilang digantikan oleh senyum getir yang menghiasi bibirnya. Junso yang menyadari perubahan wajah Soojung, langsung mengikuti arah pandang gadis itu.

“Apa kita perlu pindah ke kafedi ujung jalan sana, dear?”

“Tidak perlu. Aku perlu menghadapi kenyataan.”

“Kau yakin sanggup?”

Soojung mengangguk mantap, kemudian berujar, “Asalkan seorang Pyong Junso yang cerewet ini ada di sampingku, kurasa aku akan sanggup.”

Junso sontak meninju pelan lengan Soojung seraya tertawa.

“Baiklah, ayo.”

.

.

Kring

.

.

Suara bel yang diakibatkan oleh pintu kafeyang terbuka. Junso dan Soojung memasuki kafe, mereka segera berjalan untuk memesan minuman.

“Secangkir coklat panas dan secangkir hot cappuccino,” ujar Soojung pada seorang pelayan kafe itu.

Setelah menunggu beberapa menit, mereka mendapatkan pesanannya. Soojung membawa nampannya, kepalanya terus menunduk, menghindari kontak mata dengan Jongin yang sedang duduk di sudut kafe. Junso menggurutu sepanjang jalan menuju kursi mereka karena ia merasa membawa nenek-nenek yang susah berjalan dengan benar.

“Jungie?”

Tubuhnya sontak membeku, panggilan khusus yang diberikan Jongin untuknya. Lelaki itu sedang menyapa sekarang. Seakan kehilangan kata-kata ia hanya berdiam diri di tempatnya, Junso bahkan perlu menyikut lengan Soojung untuk mengembalikan gadis itu pada dunia sekitarnya.

Tersenyumlah dan semua akan baik-baik saja.

Perlahan Soojung mengangkat kepalanya dengan senyum manis yang terukir di bibirnya untuk menyapa lelaki yang masih berada di hatinya.

“Hai, Jongin. Senang bertemu denganmu di sini,”Soojung menahan suaranya agar tak bergetar.

“Bagaimana kabarmu?” Jongin mengeratkan pelukan pada gadisnya, berharap Soojung akan berlari pergi dengan berlinang air mata.

“Seperti yang kau lihat. Aku jauh lebih baik tanpamu.”

Jongin terdiam, dugaannya tentang reaksi Soojung ternyata salah.

“Kalian terlihat serasi. Semoga kalian bahagia,” Soojung mengakhiri ucapannya dengan tersenyum tulus, lalu berlalu dari hadapan Jongin.

 

No more pain goodbye goodbye.

I will shed and throw away my weakness and overcome myself.

Bring me back to me.

No more cry goodbye goodbye.

I will jump over this world alright

***

Junso tak melepaskan pandangannya barang sedikit pun dari Soojung. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik yang Soojung lakukan. Junso bisa saja menangis jika saja ia tahu bagaimana kacaunya Soojung semalam, tapi Soojung selalu tersenyum dan menyembunyikan perasaannya. Junso benci itu.

“Aku tahu aku cantik, berhenti mengagumiku,” ujar Soojung yang sadar akan tatapan Junso.

“Kau memang cantik, siapa yang tak tahu itu? Tapi semua juga tahu jika kau masih tak bisa mengalahkanku.”

Soojung seketika berhenti menyeruput coklat hangatnya, menaruh kembali cangkir itu di atas mejanya sebelum ia tertawa terbahak-bahak. Terdengar asing saat Soojung menyadari jika ia sedang tertawa seorang diri, seketika ia berhenti saat melihat air muka Junso yang berubah serius.

“Tapi kau naif, Soojung.”

“Sangat naif.”

Soojung menghembuskan napasnya pelan.

“Apa yang kau akan terus seperti ini? Terus mencintainya?”

“Aku bahagia dengan keadaanku sekarang.”

“Kau masih mencintainya, Soojung?”

“Perasaanku tak mungkin hilang begitu saja Junso.”

“Lalu kau akan terus seperti ini?”

Soojung mengurut pelan dahinya, pertanyaan Junso terlalu bertubi-tubi dan selalu berulang. Soojung memejamkan matanya sejenak, mengambil napas dalam, lalu menghembuskannya. Dengan sangat perlahan dia berkata pada Junso.

“Kau tahu bukan sudah berapa lama aku dan Jongin bersama?” Junso mengangguk pelan sambil menyeruput hot cappucino-nya.

“Waktu yang kami habiskan tidak sebentar Junso. Ada banyak hal yang tak dapat aku lupakan darinya.”

“Lalu kau akan terus meratapi punggungnya yang semakin menjauh. Come on! Aku tahu kau buka wanita lemah dear.”

“Aku hanya bisa melanjutkan hidupku seperti ini.”

“Dengan cinta yang kau biarkan dibawa Jongin pergi?”

Exactly.”

Soojung tersenyum lebar yang tergambar indah di wajahnya, membuat matanya menyipit. Sebenarnya hati Soojung terkoyak. Semua sudah terjadi, tak bisa dipungkiri dan dimunafikkan. Meski mereka kini berjalan terpisah, namun jauh di dalam lubuk hati Soojung menyisihkan harap jika semuanya baik-baik saja.

Raganya ada disini tapi tidak dengan jiwanya, ia menyerahkan setengah jiwanya untuk Jongin. Mungkin Tuhan tidak mengizinkan skenarionya berjalan sesuai pemikirannya. Ia hanya manusia, maka tidak akan bisa memprediksikan apa yang akan terjadi di menit bahkan detik berikutnya.

Biarkan kugenggam erat tangannya seolah ini tidak akan berakhir

Dan izinkan aku terus mencintainya, Tuhan

Dengan caraku

 

Advertisements

13 thoughts on “Memoire and Rememoar

  1. jongin terlalu ye, emang dasar si item -_- bikin sequel dung biar tau rasa jongin dah ninggalin soojung bt gadis yg ga lebih baik dr soojung

  2. ya ampun puasa-puasa gini dibuat gondok sama Jongin ya… oke, untung cuma ff. kalo nggak gatau deh aku bakal gimanain itu anak :))

    aku suka banget ceritanya. bahasanya gampang dicerna, penulisannya juga rapi. overa udah bagus banget deh 🙂

  3. Eeeehey Jong In punya perasaan gh sihh kasian Soo Jung udah Setia selama ini tapi malah di selingkuhin 😦 udah gitu ketemuan di cafe malah sengaja “manis” di depan Soo Jung 😦

  4. ya ampun jahatnya jongin, seenaknya coba ninggalin soojung gitu aja
    tapi bersyukurlah soojung masih bisa tersenyum didepannya walaupun masih sakit~
    nice ff! keren

  5. jongin jahat bener deh– gua harap ada lanjutannya, pendek aja gitu thor soojung nya ketemu cowok baru mungkin? nice story

  6. Jonginnya ngeselin yaaaaa :”) sequeal ya thoooor TT ah thor yang jadi Junso kalo di ganti Sehun gimana? kayanya ngena gitu hehehehe.. usul doang nih 😀

  7. Kai-Staaaalll~
    pairing kesayangan!!
    Ah sayang ya lagi ga barengan huhuhu
    Karakter Soojung ngena banget secara dia kan memang looks like a tough girl

    well kalo bisa, saran nih ya thor,
    tolong dikasi detail ratednya,
    terutama kan disini pembacanya bebas umur,
    sementara author ngebahas cara seseorang melampiaskan sakit hati dengan cara ‘mereka’ yang sudah cukup umur,
    jadi akan lebih baik kalo dikasi warning semacam pg-15 atau ‘peringatan, terdapat pemakaian nikotin dan minuman beralkohol di dalam cerita hanya untuk penggambaran behavior tokoh fanfic semata’

    overall sudah kereeen,
    cuma masi menemukan beberapa kata yang kurang baku, seperti,
    ‘menaruh kembali’ bisa digantikan dengan ‘meletakkan kembali’

    sekian, selamat lanjut berkarya author!! 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s