[4th Chapter] INVISIBLE

Invisible - hanhyema design art

Credit : Hanhyema Design Art

 

INVISIBLE

By. Rebecca Lee

Lee Hyunra, Choi Seunghyun, Lee Seungri, Sandara Park.

Sad, Friendship, Romance | T | Chaptered

Disclaimer : This fiction is made by me and I borrow the cast name.

 Teaser | 1st chapter | 2nd chapter | 3rd chapter

~~~~

[From Me]

Hello,

Setelah 8 bulan FF ini terbengkalai tanpa pernah diupdate karena aku kehilangan jalan cerita dan aku pikir gagal untuk selesaiin FF ini, hari ini akhirnya aku bisa bawa 4th chapternya. Meskipun sebenernya chapter ini sendiri udah lama jadi, tapi aku putusin untuk rubah adegan dalam cerita tanpa mempengaruhi inti maupun alurnya. Not really sure if there’s people who wait for this chapter because they might be forget, but here it is. For read the previous chapter just click those links I put above. Happy reading and hope you enjoyed.😀

~~~~

.

“Hey, boleh duduk di sini?” suara seorang laki-laki mengejutkan Hyunra yang tengah menyantap makan siangnya dengan melamun di sudut kantin tempat ia biasa duduk. Gadis itu mendongakkan kepalanya untuk melihat sosok yang berdiri di hadapannya dengan membawa nampan makan siang.

“Tempat itu untuk,” Hyunra sempat melongo ketika tamu tak diundangnya itu telah meletakkan nampannya di meja bersiap untuk duduk. “Seunghyun hyung? Kalau begitu tempat ini kosong,” laki-laki itu kemudan dengan dagunya menunjuk orang yang memang Hyunra maksud. Meja tepat di tengah kantin di mana Dara dan kumpulannya duduk, Seunghyun ada di sana bergabung. Hyunra hanya berdecih kesal.

 
“Aku Lee Seungri, panggil saja Seungri,” lanjutnya mengenalkan diri dengan senyum ceria yang terkembang.

 
“Anak baru, kau sepupu gadis itu, ‘kan? Tidak usah mengenalkan diri aku juga tahu. Dan lebih baik kau diam dan habiskan makananmu. Aku tidak suka berbicara dengan orang asing,” ucap Hyunra dengan tegas dan kembali menekuri makan siangnya dengan tidak nyaman.

 
“Orang asing? Kau bahkan mengenal namaku, bagaimana bisa aku orang asing? Menurutku kita hanya belum akrab, Sunbaenim,” Seungri tersenyum dan mendapat balasan tatapan tidak peduli dari Hyunra.

 
“Aku tahu kau tidak suka berhubungan dengan siswa lain di sekolah ini kecuali dengan Seunghyun hyung karena dia sahabatmu.” Seungri kembali membuka suara.

 
“Tapi, sejak pertama masuk ke sekolah ini aku tertarik ingin berkenalan dengan sunbaenim.” Seungri menatap Hyunra yang terus saja fokus pada makan siangnya. Tentu saja namja itu sudah mempersiapkan dirinya untuk ini. Hyunra memang tidak pernah mudah untuk didekati.

 
“Kuharap kau tidak berpikiran buruk, aku benar-benar ingin berteman denganmu.”

 
“Aku tidak butuh teman baru. Daftarku sudah penuh.”

 
“Tapi kau hanya punya Seunghyun hyung,”

 
“Apa pedulimu?”

 
Seungri memutuskan untuk diam. Yang dikatakan Seunghyun memang benar bahwa hampir mustahil mengajak seorang Lee Hyunra berteman apapun usaha yang kau tempuh.

 
“Tunggu, kalian bekerja sama agar kau bisa dekat denganku?” sumpit Hyunra tepat mengarah ke wajah Seungri. Dengan kaku namja yang memiliki lingkar gelap di bawah matanya itu menggeleng.

 
“Well, sejak berteman dengan Dara noona aku bertemu dengannya beberapa kali memang tapi sungguh tidak ada pembicaraan tentangmu di antara kami berdua. Dan jika saat ini aku bisa duduk bersamamu di meja ini… murni inisiatifku sendiri.” Karena mulai gugup Seungri tanpa sadar menyelipkan beberapa kata bohong. Ia sudah pernah bertanya tentang Hyunra pada Seunghyun meskipun tidak banyak bahkan Seunghyun memperingatkan adik tingkatnya itu untuk mengurungkan niat ingin berteman dengan Hyunra.

 
“Aku kenyang, kau membuatku kehilangan selera makan. Permisi,” Hyunra menyandang tas ranselnya di bahu dan berlalu begitu saja.

 
“Eh, tapi makananmu saja belum habis setengah. Hyunra-sshi!” Seungri berusaha memanggil Hyunra untuk kembali ke meja dan menghabiskan makanannya tapi gadis itu terus saja berjalan tanpa menghiraukan.

 
Seungri menoleh dan melihat Seunghyun telah berdiri bersiap mengejar sahabatnya. Tapi Seunghyun mengurungkan niatnya setelah Seungri memberikan tatapan isyarat untuk tetap tinggal. Seungri bergegas menyambar tasnya dan berlari ke luar kantin mengejar Hyunra.

 
Sunbaenim!!!“ seketika Hyunra menghentikan langkahnya dan berdiri tanpa membalikkan badan.

 
“Ada apa mengangguku lagi?” tanya Hyunra sedikitpun tidak melihat Seungri.

 
“Seunghyun hyung benar, gadis ini agak mengerikan untukku,” batin Seungri menerima perlakuan Hyunra yang semakin tidak bersahabat.

 
“Aku, aku hanya ingin minta maaf jika sudah terlalu menganggumu tadi, Sunbaenim.” Seungri berbicara dengan sopan berharap dengan menunjukkan sedikit hormatnya akan memberi pengharuh. Selain itu ia memang tulus meminta maaf karena telah membuat Hyunra merasa terganggu. Namun kelamaan Seungri semakin khawatir karena Hyunra tak kunjung memberi respon

 
Hyunra sedikit melirik Seungri meskipun kesal gadis itu tidak memungkiri cukup terkejut dengan sikapnya barusan. Baru kali ini ada seseorang yang ia rasa sudah cukup tahu tentang reputasinya di sekolah namun tetap saja berusaha mendekati dan bahkan meminta maaf atas perbuatannya karena merasa bersalah membuat seorang Lee Hyunra marah. Tindakan yang cukup polos dan menarik perhatian Hyunra diam-diam. Ketika kakinya telah beberapa langkah menjauhi Seungri ia sudah memutuskan.

 
“Sunbaenim!”

 
“Kau yakin dengan keinginanmu?” Seungri mengangguk ketika Hyunra membalikkan badannya.

 
“Jangan memanggilku noona dan sampai bertemu pulang sekolah nanti.”

 
“Gomawo.”

.

~…..~

.

Kau yakin Seungri akan baik-baik saja? Aku tahu Hyunra itu sahabatmu, tapi aku tetap saja khawatir. Anak itu, kau sama sekali tidak tahu seperti apa bodohnya sepupuku yang satu itu.

 

Begitulah isi pesan singkat Dara yang ia kirimkan ke Seunghyun secara sembunyi-sembunyi di tengah mata pelajaran Matematika di kelasnya. Sementara Seunghyun dengan santai membalas pesan dari dari bawah sebuah pohon rindang di sudut tersembunyi taman sekolahnya. Seperti biasa dia meninggalkan kelasnya.

 

Tenang saja, aku tahu benar seperti apa gadisku. Seungrimu akan pulang sama tampannya seperti terakhir kali kau melihatnya. Lebih baik kau fokus dengan pelajaranmu atau Si Botak Tua itu melempar penghapus padamu, Manis.

 

PLETAAK!!!

 
“Nona Park, peringatan pertamamu!”

 
Baru saja Dara selesai membaca pesan Seunghyun dan hal yang sesungguhnya terjadi. Guru matematika berusia setengah abad itu baru saja melemparkan penghapusnya yang berhasil mendarat tepat di meja Dara yang langsung dilanda syok dan segera menunduk meminta maaf.

 
“Saya mohon maaf, Songsaengnim,” ucap Dara dengan kepala tertunduk dalam dan menggigit bibir bawahnya. Sungguh setelah ini ia akan berpikir dua kali berhadapan dengan manusia setengah abad lebih bergelar professor matematika itu.

.

~…..~

.

Hyunra P.O.V

Kurasa aku tidak sesadar itu sampai Seungri mengucapkan terima kasih padaku di depan pintu kantin tadi. Duduk di atas kap mobilku aku berusaha mencerna kembali kalimat yang terucap semaunya oleh bibirku beberapa jam yang lalu. Harus kuakui aku cukup salut dengan Seungri dan kenekatannya menghampiri mejaku istirahat tadi, tapi aku sama sekali tidak mengerti kenapa setelah itu memberinya kesempatan yang tak seharusnya kuberikan kepada siapapun kecuali Seunghyun.

 
“Hyunra-sshi.” Tiba-tiba wajah dari makhluk yang sedang kupikirkan itu sudah berjarak 20cm dari wajahku dan membuatku sedikit terperanjat. Beruntung aku masih bisa mengendalikan diri dan kurasa terlihat cukup normal melihat ekspresi wajah Seungri yang sama sekali tidak berubah.

 
“Kenapa masih memanggilku seperti itu?”

 
“Aku tidak tahu bagaimana harus memanggil.”

 
“Kau tahu aku punya nama kenapa bingung?”

 
“Maksudnya, aku harus memanggilmu…”

 
“Seingatku orangtuaku hanya memberiku satu nama.”

 
“Baiklah kalau begitu, Hyun.. ra.”

 
“Masuk ke mobil.”

 

 

Aku memutuskan untuk menjalankan mobilku dan berhenti di 7-Eleven. “Ada yang ingin kubeli kau ingin titip sesuatu?” tanganku bergerak melepaskan sabuk pengaman. Seungri menggeleng pelan. “Baiklah, aku hanya 5 menit di dalam.”

 
Sambutan ramah dari seorang pegawai di balik meja kasir menyambutku. Aku menghampiri rak pendingin dan mengambil beberapa kaleng minuman yang biasanya sama sekali tidak kulirik dan tidak lupa memasukkan beberapa bungkus makanan ringan ukuran terbesar. Usai membayar semuanya aku bergegas kembali ke mobil.

 
“Beli apa saja?” Seungri mengintip kantong belanjaku dan ekspresinya menunjukkan keterkejutan. Aku tersenyum mengejek mendapati wajahnya. “Hanya bir ringan alkoholnya tidak akan membuatmu mabuk kecuali kau payah.”

 
“Aku belum cukup umur.” Tapi tangannya justru mengambil satu dari 4 kaleng di dalam kantong.

 
“Aku masih harus menunggu setahun lagi dan apa kau pikir aku peduli? Vodka pertamaku ketika umurku 16 tahun dan aku sudah teler dari gelas pertamaku.” Seungri memandangku tidak percaya. “Benarkah?”

 
“Aku baru bangun 18 jam setelahnya dan baru sadar sepenuhnya beberapa jam kemudian. Aku memang payah waktu itu, tapi siapa juga yang mengharapkan seorang gadis 16 tahun bisa selamat dari alkohol pertamanya?”

 
“Orangtuamu tahu?” Aku menginjak pedal rem karena lampu merah. “Ayahku tau,” mataku mengecek timer di atas lampu lalu lintas. “Dan dia menampar kedua pipiku tepat ketika mataku baru setengah terbuka. Coba saja bayangkan sendiri bagaimana rasanya ditambah sakit kepala yang nyaris membuatku berpikir aku siap meledak waktu itu.”

 
“Apa dia memaafkanmu?” Lampu berganti hijau dan aku mengangguk. “Baguslah.”

 
“Sangat bagus karena kemudian aku bisa hidup mandiri dan minum lebih banyak lagi,” Seungri melongo mendengar kalimatku barusan. “Dia pikir dengan menendangku keluar dari rumah akan membuatku tidak mengulangi kesalahanku. Bodoh!”

 
Umpatanku barusan membuat Seungri semakin kaget, tapi aku bahkan lebih kaget darinya. Apa yang barusan aku ceritakan pada anak ini? Kau baru saja mengenalnya Lee Hyunra jangan cerita yang tidak-tidak. Kubelokkan mobilku masuk ke jalan yang lebih kecil dan berhenti tepat di depan sebuah bangunan kecil.

 
“Kita sampai.” Untuk kedua kalinya aku melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil kali ini dengan semua barang bawaanku. Seungri mengekor di belakangku melalui 10 anak tangga mencapai pintu utama rumah kecilku. Aku menekan beberapa nomor untuk membuka pintu rumah.

 
Salah satu hal yang cukup mengagumkan dari rumahku adalah daripada sebuah besi bernama kunci aku memakai nomor untuk mengamankannya. Oke, ini memang teknologi umum di Korea tapi bagaimanapun juga kau akan terkejut jika menemukannya di rumahku karena kau tidak mungkin percaya jika kau sudah melihat rumahku yang sederhana. Biar kuperjelas lagi SEDERHANA. Coba saja lihat rumah tetanggaku mereka semua masih pakai kunci biasa untuk membuka rumah.

 
“Apa menurutmu ini hebat untuk lingkungan seperti ini?” tanyaku setelah pintuku terbuka. Seungri mengangguk dan tersenyum.

 
“Dulunya memang masih pakai kunci biasa, tapi aku menabung selama beberapa bulan untuk memasang ini. Aku agak frustasi sering kehilangan kunci. Ayo masuk, agak berantakan memang.” Jari telunjukku menekan saklar lampu utama di samping pintu.

 
“Aku tidak tahu harus membawa kita ke mana, jadi lebih baik aku ajak kau ke tempatku.”

 
Daripada sebuah rumah bagian dalam rumahku ini lebih mirip sebuah apartemen standar. Satu ruang luas tanpa sekat yang terbagi untuk ruang tamu, kamar tidur, tempat cuci, dan dapur. Hanya satu ruangan terpisah untuk kamar mandi dan itupun hanya berukuran 2×2 meter. Oh, ada balkon juga di sini cukup luas dan pintunya ada di antara area dapur dan ranjang queen size–ku.

 
Not so big but enough for me. Aku lebih suka tinggal di sini daripada bersama orangtuaku. Terima kasih untuk ayahku yang mengusirku beberapa tahun lalu padahal jika tidak aku baru akan menempati rumah ini tahun depan ketika usiaku genap 19.

 
“Kau bisa langsung ke balkon kita ngobrol di sana saja bawa juga belanjaan yang tadi aku perlu ganti baju.” Seungri masih dengan tanpa suara mematuhiku.

 
Aku agak heran dengan anak itu. Tadi dia yang begitu senangnya menghampiriku di kantin dan berusaha mengajakku berbicara padahal aku bersikap cuek padanya. Sekarang ketika aku sudah sedikit menerimanya dan berusaha bersikap baik kenapa dia diam? Seingatku dia sama sekali tidak mengeluarkan suara sejak aku suruh masuk ke mobil di parkiran tadi.

 
“Aku tidak mengerti denganmu.” Ucapku ketika aku membuka pintu balkon dengan pakaian rumahku. Seungri berdiri di pinggir dengan tangannya yang bertumpu pada pembatas tembok setinggi perut. Ia menoleh mendengar suaraku dan membalikkan badannya.

 
“Tapi kurasa Seunghyun benar aku perlu teman selain dia.” Aku berjalan menghampiri Seungri. “Di sini pemandangannya indah, kan?” Aku kembali memandangnya dan jujur ada sesuatu yang asing kurasakan yang sedetik kemudian langsung kusadari. Aku tidak pernah seramah ini pada seseorang sebelumnya. Tidak sama sekali sebelum Seungri.

 
“Aku menghargai usahamu ingin berteman denganku, Seungri.” Pertama kalinya aku memanggil nama Seungri setelah ia sendiri menyebutkan nama itu beberapa jam yang lalu.

 
“Mereka bilang kau menakutkan. Bahkan Seunghyun hyung memperingatkanku, tapi kurasa mereka semua salah. Noona, maksudku kau, kau tidak seperti yang mereka pikirkan.” Aku tertawa kecil mendengar itu. Kurasa dia memang sepolos yang kupikirkan.

 
“Yang mereka semua katakan benar termasuk Seunghyun. Well, Seunghyun menjadi sahabatku karena kami punya banyak kesamaan.”

 
“Lalu bagaimana denganku? Aku cukup mudah mendekatimu. Eem, awalnya sih tidak.” Seungri mengoreksi kalimatnya. “Kurasa karena keberuntunganmu,” atau karena kau datang disaat yang tepat dengan cara yang tidak terlalu buruk, lanjutku dalam hati.

 
“Bagaimana dengan mereka?” Aku berjalan mengambil satu kaleng bir yang telah ditata rapi oleh Seungri di meja kecil lengkap dengan makanan kecil yang lain. Aku membuka satu dan mengulurkannya pada Seungri sebelum membuka kaleng lain untukku sendiri.

 
Hyung dan noona kelihatan baik. Dara noona bahkan sering mengacuhkanku kalau ada Seunghyun hyung. Kurasa mereka cocok,” kalimat itu membuatku langsung meneguk banyak bir. “Sepertinya tidak lama lagi akan ada pasangan sensasional di sekolah.” Dan aku berharap saat itu juga Seungri menghentikan hal yang menurutku omong kosong belaka.

 
Sayangnya aku salah besar. Aku bahkan sangat menyalahkan diriku sendiri yang menanyakan pada Seungri kabar tentang sahabatku dan gadisnya. Seharusnya aku tahu apapun yang akan dikatakan Seungri aku pasti akan membencinya. Seharusnya aku mencari topik pembicaraan yang lain jika tahu si mata panda ini tidak akan berhenti bercerita jika dia sudah mulai. Tanpa terasa kaleng keduaku sudah jatuh dan menimbulkan bunyi klontang yang menghentikan Seungri dari bicaranya.

 
“Kau cepat sekali minum? Punyaku bahkan belum habis setengah.” Seungri memandangi kaleng birnya sendiri.

 
“Jika kau tidak keberatan yang ini punyaku juga,” aku menunjuk satu kaleng bir yang tersisa dan seharusnya ini jatah Seungri. Dengan gerakan sedikit mengangkat kaleng birnya Seungri memberikanku izin. “Itu uangmu–“

 
“Tapi aku membelikannya untukmu, terima kasih. Harusnya aku beli 1 saja yang ringan untukmu dan sisanya aku beli kesukaanku.” Ucapku tanpa bermaksud menyesali perbuatan baikku pada Seungri. “Kurasa kau bisa menghabiskan makanannya saja.” Seungri setuju.

 
Kami melanjutkan pembicaraan kami dan aku bersyukur tidak ada lagi nama Seunghyun dan gadis itu disebut. Namja itu semakin banyak bercerita dan membuatku tertawa dengan leluconnya. Aku terus memperhatikannya hanya untuk tersadar sepertinya aku sudah lupa bagaimana rasanya bisa tertawa sungguhan. Dan bagaimana rasanya untuk pertama kalinya aku bisa melupakan… Seunghyun.

 
Nama itu, aku bahkan baru mengingatnya kembali sekarang setelah hampir 2 jam yang lalu aku merasa muak dengan cerita Seungri tentangnya bersama gadis itu. Tunggu, bahkan aku baru tersadar sekarang. Sejak bersama Seungri di sekolah aku baru 2 kali mengingat Seunghyun dan aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.

 
Aku selalu menghabiskan hariku melakukan apapun dengan otak yang tak pernah mengizinkanku semenit saja melupakan namanya. Dan kini bersama Seungri di sampingku aku tidak hanya dibuat bingung karena bisa bersikap baik padanya begitu cepat tapi juga melupakan Seunghyun sejenak. Aku telah berhasil melupakannya sejauh ini.

 
Benarkah ini?

 
Aku terus memandang Seungri yang tidak menyadari bagaimana caraku menatapnya. Namja ini, dia tidak sadar telah berbuat banyak untukku sejak awal kehadirannya. Tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Aku hanya merasa nyaman dan bahagia bersamanya.

 
“Seungri, aku–“ kalimatku terhenti begitu saja karena ada hal lain yang tak sanggup kuhentikan.

 

 

Seungri P.O.V

 

Hal terakhir yang kuingat adalah aku masih sibuk bercerita dan Hyunra memanggil namaku tanpa menyelesaikan kalimatnya. Dan kini ketika aku menyadari sepenuhnya kami telah melakukan hal yang lain.

 
Berciuman.

 
Aku tidak ingat kapan dan bagaimana ini terjadi hanya satu kepastian bahwa jelas bukan aku yang memulai semua ini. Satu tarikan dan sesuatu yang hangat telah menyentuh tepat di bibirku. Katakan saja aku ini terlambat tapi dalam keterkejutanku aku menikmatinya. She stole my kiss.

 
Lembut, hangat dan manis. Aku tidak menyangka caranya berciuman jauh berbeda dengan kepribadiannya yang dingin dan keras. Aku munafik jika tidak menyukai ini. Mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang kuharapkan. Aku bersungguh-sungguh hingga detik Hyunra menciumku aku hanya ingin sekedar berteman dengannya. Aku bahkan tidak berpikiran ciuman ini adalah pernyataan tidak langsungnya menyukaiku dalam hal apapun. Atau mungkin aku akan berubah pikiran nantinya?

 
Hyunra bergerak dari posisinya dan aku mengikutinya berdiri. Seolah tanpa keraguan ia mengalungkan kedua tangannya ke leherku dan mengetahui itu aku membiarkan tanganku memegang kedua bagian pinggangnya. Aku tidak berniat untuk membuat kami semakin panas karena aku cukup menikmati kami hanya saling melumat bibir satu dan lain. Namun sebelah tangannya bergerak membelai dadaku dan menarik pelan kerah baju seragamku. Aku hanya memahaminya begitu saja, dia menginginkan yang lebih.

 
Aku sedikit mengangkat dagunya dengan kedua jariku dan dia mengizinkanku masuk. Kurasakan tangannya yang membelai tengkuk dan kepalaku mendorongku memperdalam ciumanku. Semuanya berlangsung dengan sempurna hingga aku merasakan ada yang menarikku membuatku jatuh mengikuti arah gravitasi.

 
“BAJINGAN KAU!!!”

 
Aku baru melihat orang yang menarikku ketika punggungku sudah beradu dengan lantai. Seunghyun hyung sudah kembali menerjangku dan bersiap melemparkan tinjunya.

 
“Hentikan jika kau tidak ingin menjelaskan apapun pada Dara.” Dan aku hanya melihat tangan itu berhenti tepat di depan hidungku.

 
“Aku tahu kau tidak ingin menjelaskan apapun padanya jika Seungri pulang dengan kondisi babak belur dan bukan aku pelakunya.” Dari balik pundak Seunghyun hyung aku melihat Hyunra menariknya untuk menyingkir dari atasku.

 
“Kau baik-baik saja, Seungri?” Mengejutkan ketika Hyunra mengacuhkan sahabatnya untuk menolongku. Aku hanya mengangguk dan melirik Seunghyun hyung sekilas, matanya masih tajam padaku.

 
“Sebaiknya kau pulang sekarang karena mendadak ada yang harus kuatasi di sini. Kau tidak apa-apa pulang sendiri?” aku kembali menatap Hyunra dan mengangguk untuk kedua kalinya. Rasanya aku belum selesai dengan keterkejutanku dan sebuah tatapan mengintimidasi itu membuat bibirku semakin kelu untuk difungsikan.

 
Hyunra membantuku berdiri dan membersihkan punggungku yang kotor. “Kau hati-hati dan sampai jumpa besok.” Kurasakan dorongan pelan di bahuku, aku tersenyum sebagai tanda pamitku pada Hyunra dan sedikit membungkuk pada Seunghyun hyung. Aku hanya berharap setelah ini mereka akan baik-baik saja.

 

 

~TBC~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s