Come In – Kai [2/3]

kaikai

 

 

Author : Awsomeoneim

Casts :

  • EXO’s Kai (Jong In, Kim)
  • OC

Genre : Romance

Rated : PG-15

Disclaimer :

  • The OC and The story is officially mine. Has posted here.
  • Kai’s belongs to God, His Parents-Family, SMEnt, and his fans around the world.

Previous Chapter : Luhan 

+OoOoO+

Pentingkah pendapat semua orang saat yang kita butuhkan hanyalah perhatian seseorang?

+OoOoO+

“…seorang bartender yang juga bekerja sebagai barista di cafe XX (Double X). Tidak ada catatan khusus mengenai keterkaitannya dengan Nona Lee. Sepertinya mereka hanya tidak sengaja bertemu semalam.”

Sebuah desahan lega terdengar lolos dari katup bibir keringnya setelah laporan yang disampaikan seorang pria bersuara berat dari voice mail tersebut berakhir. Ia lantas menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan. Mencoba mencari petunjuk waktu.

07.10 A.M.

Reflek sepasang tungkai miliknya menyeret tubuh jangkung yang belum sepenuhnya sadar menuju meja makan. Hanya ada sebuah gelas tinggi dengan cairan berwarna kuning lembut di dalamnya, dengan bonus sticky-note bertintakan goresan tangan yang familiar.

‘Habiskan sebelum kau beraktivitas, aku tau kau pulang dalam keadaan hangover semalam. Aku pergi ke suatu tempat. Jika ingin sarapan bersama, ponselku selalu siaga.’

-Junmyeon-

Sangat bisa ditebak, kakak lelakinya tidak akan mengizinkannya keluar dari apartement sebelum barang setetes cairan baru memasuki tubuhnya. Seperti yang selalu dilakukannya.

Pemuda tersebut mencoba meneguk sekali sebelum ia menuangkan seluruh isi gelas tersebut ke dalam wastafel. Tanpa sisa. Tanpa berpikir dua kali.

“Rasanya mengerikan.”

Cairan yang sebelumnya memenuhi permukaan wastafel berangsur memudar setelah dipertemukan dengan guyuran air segar kran yang mengalir. Tanpa menunggu tetesan terakhir meninggalkan permukaan wastafel, pemuda tersebut beringsut kembali ke kamarnya dan mengaduk isi kotak P3K miliknya. Mencari pereda hangover diantara obat lain yang berjejal penuh.

“Aku tidak ingat menyimpan obat sebanyak ini. Hah, sudah seperti lelaki penyakitan saja rasanya.”

Belum juga ia berhasil menemukan yang ia cari, ponselnya meraung menandakan panggilan masuk. Ia mau saja mengabaikan panggilan entah-dari-siapa-itu, jika saja nada sumbang tersebut tidak semakin membuat kepalanya nyaris pecah jika sedetik lebih lama diabaikan.

Yoboseyo,” nada sapaannya terdengar kasar karena rasa nyeri yang sedang ia tahan semakin menjadi.

“Kau akan sarapan denganku?”

Ah, ternyata kakak lelakinya.

“Tidak. Aku sudah memesan delivery order, hyung.”

Lagi-lagi kebohongan yang sama, hingga ritual berpikir dua kali tidak lagi diperlukan selagi perhatiannya tersita untuk bergumul dengan puluhan obat dihadapannya.

“Oh, baiklah. Aku akan sarapan dengan salah satu temanku. Kalau masih lapar, kau bebas saja menyusul kami.”

Dan tawaran kedua hanya ia jawab dengan deheman tanda setengah mengiyakan.

Yaaa Kim Jongin, kau meminum milkshake pisang yang kubuat pagi ini kan? Itu bisa mengurangi hangovermu semalam.”

“Aku sudah menghabiskannya hyung, tenang saja.”

Well, kali ini ia tidak seratus persen berbohong soal menghabiskan cairan itu, bukan? Toh ia mengirimkan cairan mengenaskan itu ke dalam pipa saluran air yang akhirnya akan bercampur dengan air cucian kotor di bawah sana.

Good boy,” pujian canggung dari kakak lelakinya terdengar mirip seperti pujian yang biasa ia lontarkan pada anak anjing di telinganya, dan ia hanya mendengus samar, “Kau ada acara hari ini?”

Tepat saat itu ia menemukan obat yang ia cari, dan sembari tersenyum puas, ia menjawab dengan cepat pertanyaan hyungnya, “Seperti biasa.”

+OoOoO+

Kim Jong In, pemuda berusia dua puluh tahun, putra kedua dari tiga bersaudara keluarga ternama Kim. Ia dikenal sebagai satu-satunya yang memiliki kepribadian bertolak belakang dibandingkan dengan kedua saudaranya.

Perbedaan paling mencolok tentu terlihat jika ia disandingkan dengan kakak lelakinya, Kim Jun Myeon, yang di usia ke dua puluh tiga tahunnya telah berhasil mendapat predikat sebagai seorang dokter muda terbaik dan kini bekerja di sebuah Rumah Sakit ternama Seoul.

Ia juga memiliki seorang adik perempuan, Kim Yoo Ra, yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, namun gap diantara keduanya juga cukup besar mengingat gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun tersebut belum pernah sekalipun melepaskan prestasi juara kelas kepada orang lain.

Dengan sebuah judgment dangkal, seorang Kim Jong In otomatis mendapat label tidak terlalu menonjol di bidang kecerdasan diantara ketiga bersaudara Kim. Kalimat pembanding yang dilontarkan dengan nada tajam dan penuh cemoohan sudah begitu akrab di telinganya.

Dan seorang Kim Jong In tentu tidak akan peduli atau sekedar mau tau sudah sedalam apa jurang perbedaan yang telah ia gali sampai hari ini.

+OoOoO+

“Aku tidak menyangka kau yang membawanya kembali,”

Jong In menangkap suara kakak lelakinya menggema di salah satu lorong yang hendak ia tuju sehingga ia mengurungkan niatnya dan memilih menyembunyikan tubuhnya di persimpangan yang menghubungkan kedua lorong.

Kedua orang itu asik mengobrol sembari menunggu pintu lift terbuka. Dan agaknya Jong In familier dengan wajah lawan bicara kakak lelakinya.

“Sebenarnya ini tugas partnerku, tapi dia sudah ada janji. Jadi..ya..aku tidak punya pilihan.”

“Ah, tau begitu aku tidak perlu terburu-buru memacu mobil di pagi buta. Udara pagi ini sangat dingin dan jari-jemariku nyaris membeku. Kau mau kutraktir kopi?”

“Bagaimana dengan kafe Minseok?”

“Oh,  dia sudah membuka cafenya sendiri?”

“Astaga, lihat sudah berapa lama kau terkurung dalam penjara putih itu, Suho! Kau harus mencoba Americano buatannya. Benar-benar tidak ada tandingannya di seantero Seoul!”

Tanpa sadar Jong In mendengus remeh mendengar celotehan teman Junmyeon yang terkesan berlebihan dan lagi dilontarkan dengan nada yang begitu renyah.

Ah, lebih baik kalian berdua bersaing membuat Americano terbaik untukku, bagaimana?”

Aigoo lihat bicaramu mulai ngelantur.. Kau benar-benar membutuhkan kopi secepatnya.”

“Jangan canggung begitu, aku yakin kesepuluh jemarimu juga masih mengingat dengan sempurna semua pelajaran dari kelas barista yang kita bertiga datangi bersama!”

“Hahaha kau tau itu sudah lama sekali, Lu.”

Kali ini kakak lelakinya terdengar memilih mengalah atas keakuratan desakan tersebut. Kepandaian lawan bicara Junmyeon tidak perlu dipertanyakan ketika ia dapat menahan langkah Jong In untuk beringsut pergi dan berbalik mencuri dengar sedikit lebih lama dengan pertanyaan yang spontan ia lontarkan sebelum mereka berdua melangkah masuk ke dalam lift.

“Bagaimana kau mengenal gadis itu? Oh tunggu sebentar…  apakah dia gadis yang dijodohkan denganmu?”

“Kuharap begitu.”

+OoOoO+

“KAI!!”

“Pagi nona muda, kau tampak ceria pagi ini! Sesuatu yang baik terjadi?”

Lengkungan senyuman pemuda itu tampak menawan saat irisnya menangkap sosok ceria yang menyambutnya di balik pintu mahoni sebuah apartemen bernomor 121. Pandangannya tidak teralihkan dan mengekor ke manapun gadis itu bergerak.

“Aku merasa lebih baik setelah minum ini. Suho oppa yang membuatnya. Mau mencicipi?”

“Bukankah itu…..Banana Milkshake?”

“Kata Suho oppa ini obat hangover terbaik, dan aku setuju dengannya! Kau mau mencobanya?”

Karena sudah pasti tidak dapat menolak permintaan gadis dihadapannya, Kai dengan pasrah menjalani penderitaan dengan meneguk cairan legit yang mencekik kerongkongan. Ia mendesis samar setelah semua cairan itu melewati kerongkongannya.

“Hangover? Kau mabuk semalam?”

“Aku tidak tau bagaimana, tapi itu yang dikatakan Suho oppa. Lagipula, rasanya memang kepalaku berat sekali saat aku mencoba membuka mata pagi ini.”

“Apa saja yang ia ceritakan?”

“Tidak banyak. Ia hanya menanyakan apa kepalaku masih terasa pening, kemudian membuatkanku milkshake ini. Suho oppa lebih banyak bicara dengan temannya. Ah, ya! Semalam temannya itu yang mengantarkanku pulang dan menjagaku sampai pagi.”

“Sampai pagi? Itu artinya dia… menginap disini semalam?”

Gadis berambut hitam pekat sebahu itu mengangguk ringan, hingga ia menyadari arti tatapan Kai yang masih bertahan dengan sorot curiga, “Hey, jangan berpikiran buruk! Ia tidur di sofa dan menggunakan kamar mandi di luar. Itu juga ia lakukan setelah Suho oppa datang, dan sepertinya hanya cuci muka. Kemudian ia ikut pergi dengan Suho oppa.”

‘Ah, jadi bartender itu teman Suho hyung.’

“Kau tau namanya?”

“Lu..Han? Ya, Luhan oppa! Dia setahun lebih tua dari Suho oppa. Tapi aku kurang ingat marganya, terlalu asing. Sepertinya ia bukan orang Korea.”

Kai hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjabaran gadis tersebut. Terlalu banyak pikiran yang berkelebat di kepalanya hingga ia mengabaikan pertanyaan untuknya.

“Kai juga mengenalnya?”

“Ya? Eh, apa? Kau bertanya sesuatu?”

“Kau juga mengenal Luhan oppa?”

“Uh.. tidak. Aku tidak terlalu akrab dengan teman-teman Suho hyung. Aku punya temanku sendiri.”

Sembari menampakkan sekilas senyuman, Kai memindahkan gelas kosong milik gadis tersebut dan miliknya ke dalam wastafel, lalu meminta gadis yang masih duduk tenang di kursi pantry untuk segera berganti pakaian karena mereka akan segera pergi menghirup udara segar. Dan gadis itu patuh begitu saja.

Pemuda tersebut memilih mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang sembari mencuri pandang keadaan luar dibalik sebuah kaca lebar yang menjadi pembatas ruang tengah apartemen tersebut.

‘Tampaknya dia belum ada perkembangan signifikan. Selama ini kau memberinya obat, vitamin, atau permen pelega nafas?’

“Kai, apa pakaian ini cocok denganku?”

Gadis itu kembali mengenakan dress biru cerah selutut, kemudian berjalan mendekat ke arah pemuda yang kini mengedip saja sulit baginya.

“Cocok,” ia menggumam pelan sebelum menangkup kedua bahu mungil gadis dihadapannya, “Tapi cuaca hari ini sangat dingin dan aku yakin kau tidak ingin membeku di luar sana, jadi akan lebih baik mengenakan sweater putih, bagaimana?”

Sekali lagi, gadis tersebut mengangguk antusias dan melesat kembali ke kamarnya. Cukup untuk membuat pemuda tersebut tersenyum puas.

Hingga sebuah pesan baru diterima.

‘Rekam medis yang terbaru sudah kukirim ke e-mailmu. Tebakan yang akurat. Tidak ada kemajuan signifikan, tapi kau patut bersyukur karena alkohol yang ia minum semalam tidak memperburuk kondisinya.’

Dan sebuah pesan lain dari pengirim yang sama menyusul.

‘Jaga dia lebih baik lagi. Jika sudah tidak sanggup, lebih baik berikan kuasamu kepadaku.’

Tanpa menunggu detik berganti, pesan itu terhapus begitu saja dari daftar pesan masuk ponsel dalam genggamannya.

“Mengembalikan kekuatan memorinya saja belum berhasil sudah berani mengancam mengambil alih. Ternyata seperti ini kinerja dokter muda terbaik yang dimiliki Rumah Sakit ternama Seoul? Menyedihkan.”

+OoOoO+

Kai memasuki motel dengan didampingi seseorang berpakaian dress selutut berwarna turqoise yang tampak manis dengan surai ikal coklat hazel. Keangkuhan di wajahnya dipertegas oleh sebuah kacamata hitam yang menandai tren fashion wanita kelas atas beserta absennya barang seulas senyuman tipis dari bibir mungil miliknya.

Mereka berjalan berdampingan menuju lift. Hingga pintu lift tertutup rapat, barulah desisan iri pegawai motel dapat teredam.

Aaarghh aku bisa gila!!” lengkingan bernada bass itu terucap dari mulut partner Kai, sedetik setelah keduanya memasuki kamar mereka.

“Bersabarlah, hyung. Chanyeol sudah dalam perjalanan membawakan pakaian gantimu.”

Lelaki yang dipanggilnya hyung kini sudah merebahkan diri di atas matras yang ada di kamar itu setelah menelantarkan wig yang ia kenakan di lantai bersama dengan tas tangan, heels, dan aksesori lainnya. Seandainya bukan karena iming-iming mengajar piano di SMA terfavorit di Seoul, sudah pasti ia lebih memilih dipukuli yakuza hingga mati daripada membantu menjalankan rencana Kai. Menyamar menjadi perempuan dan menemaninya keluar-masuk motel.

Dan seakan menjawab doa kedua orang tersebut, suara pintu diketuk terdengar dan seorang pria jangkung masuk dengan membawa sebuah tas kertas.

Annyeong Kai!! Dimana—Hahahahahaastaga dia manis sekali.. aukh!! Tanganmu masih sekeras baja, Baek!”

“Biar tau rasa kau Park Chanyeol!” ujar lawan bicaranya yang kemudian tanpa babibu sudah merebut tas kertas dari tangannya lalu melesat ke kamar mandi.

“Kai, kau harus mencoba memakaikan baju warna merah jambu, pasti dia manis sekali..”

“Berhentilah menggodanya sebelum Baekhyun hyung bernafsu mematahkan lehermu, Chanyeol-ah,” gurau Kai melihat kawannya masih mengusap kepalanya yang baru saja mendapat bogem mentah.

“Jemarinya lebih indah dari bulu angsa tapi tinjunya sekeras baja. Aigoo manusia macam apa dia..”

“Terimakasih, jariku memang indah dan cepat antar aku ke sekolah sekarang juga jika tidak ingin kepalan baja ini kembali mendarat di kepalamu.”

Tau-tau lelaki yang mereka bicarakan sudah kembali dengan jeans dan kaos yang dibalut jas kelabu.

Well seleraku tidak buruk kan?”

“Bisa kuperhitungkan.”

“Tapi bagaimanapun aku lebih menyukaimu dengan dress tad– aaakh baik-baik aku akan segera memanaskan mobil, tapi berhentilah menyiksaku! Kita akan lewat pintu belakang.”

“Kau sudah pastikan tidak ada pegawaimu di sekitar sini?”

“Aku sendiri yang tidak rela membagikan pemandangan indah saat kau memakai dress itu kepada siapapu— ampun Byun Baekhyun kau mau memecahkan kepalaku hah?!”

Dan pembicaraan berisik itu baru berakhir sepuluh menit kemudian. Setelah Park Chanyeol, manager sekaligus pemilik motel yang disewa Kai, didorong keluar oleh Byun Baekhyun, seorang jenius piano klasik yang lebih memilih mengajar dibanding menerima tawaran tampil diatas panggung mewah dan berkelas keliling dunia.

Terlepas dari label ‘kolega’, keduanya adalah teman terdekat yang dimiliki Kai dan bersedia membantu pemuda tersebut disaat tersulitnya saat ini. Dan ia boleh bersyukur untuk hal itu.

 +OoOoO+

‘Bagaimana kabar Nona Lee?’

‘Kemampuan mengingatnya belum sepenuhnya membaik.’

‘Apakah Suho tidak mengatakan padamu gadis itu terserang penyakit apa?’

‘Anterograde Amnesia.’

‘Bukankan itu–‘

‘Ya, aku tau. Seharusnya ini hanya akan mempersulit transfer ingatan jangka pendek yang baru ke dalam ingatan jangka panjang, tapi accident itu juga hilang begitu saja dari ingatannya.’

‘Sayang sekali.. Kau tau kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Kai.’

‘Kau ingin aku membenturkan kepalanya ke dinding atau mungkin membayar seseorang untuk menabraknya di jalan raya?’

‘Hey hey.. santai sedikit, Tuan Muda.. Aku tidak memintamu membunuh kekasihmu, okay?’

Kai kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela sejenak. Ia menangkap gadis itu sedang menyesap caramel macchiatto sebelum kembali menatap ke arah motel. Menunggu sesuatu terjadi.

‘Ah, aku ingat kau bilang ada seorang saksi mata lain, bukan?’

‘Aku berusaha mendekatinya.’

‘Bagus! Jika dia bisa menjadi informan yang dapat diandalkan, kurasa kita tidak perlu melibatkan Nona Lee.’

‘Kuharap begitu.’

Tepat saat itu seseorang berapron coklat tampak duduk di hadapan gadis yang menjadi sasaran utama pandangan Kai, dan ketika ia menyipitkan pandangannya, ia dapat dengan jelas melihat siapa pemuda itu.

‘Tapi kurasa akan lebih banyak informasi jika kita menggunakan keduanya sebagai saksi mata.’

Setengah jam kemudian setelah obrolan via ponsel tersebut diputuskan, pintu kamar motel Kai membuat celah dan seorang pemuda masuk dengan wajah bersungut-sungut.

“Kau harusnya mengatakan sejak pagi buta jika hari ini kita akan ‘melakukannya’ lebih awal. Aku hampir berhasil mengajak kencan salah satu muridku jika telfon darimu tidak datang.”

“Akan kenalkan wanita yang lebih baik untukmu, hyung. Sudah cepat ganti pakaianmu!”

“Jangan coba-coba mengenalkan wanita kelab manapun padaku atau akan kujejali mulutmu dengan patiturku, ingat itu Kim Jong In!!”

Seorang Byun Baekhyun kali ini harus mengalah dengan langit sore yang tampak mulai menghitam karena hal tersebut lebih menyita perhatian pemuda berambut pirang bermarga Kim, daripada teriakan kekesalan yang ia suarakan dari dalam kamar mandi.

“Kurasa sebentar lagi akan turun hujan. Aku tidak mau dia kehujanan. Ia benci basah.”

+OoOoO+

Kai masuk ke dalam cafe untuk pertama kalinya. Karena selama ini ia hanya mengantarkan tanpa turun dari mobil, lalu menunggu gadis itu diluar saat menjemputnya sore hari.

Seorang pelayan yang sedang mengelap meja menyambutnya dengan dialek yang khas, dan Kai dengan mudah menebak ia yang bernama Chen. Kai hanya mengangguk singkat dan menuju meja di pojok cafe yang menghadap jendela. Dimana gadisnya berada.

“Cafe ini sangat nyaman,” ujar Kai sambil mengedarkan pandangannya setelah menyapa gadis itu terlebih dahulu.

“Kau pasti tertarik setelah mendengar ceritaku!”

Seruan gadis yang masih duduk nyaman di kursinya mengembalikan fokus Kai kepadanya dan seulas senyum mengembang di wajah pemuda itu.

‘Ya, aku jadi tertarik. Tetapi dengan objek yang berbeda.’

“Kau tidak mau duduk dulu? Kita bisa tinggal lebih lama dan mencoba Caramel Macchiato mereka jika kau mau.”

“Maaf, tapi tidak bisa hari ini. Kita harus segera pulang,” senyuman diwajahnya kini bercampur dengan rasa bersalah.

“Aku akan membayar caramel macchiato-mu, lalu kita langsung pulang, hm?”

Kai menangkap sorot kekecewaan yang sama di wajah yang sedang ia pandangi, namun gadis itu segera mengibaskan tangannya ke udara, mengisyaratkan pemuda tersebur untuk segera pergi sementara ia membereskan barangnya. Dan Kai melakukannya.

“Aku akan membayar caramel macchiato untuk agasshi yang ada di sana.”

“Oh, aku akan panggilkan temanku. Dia yang lebih tau soal pesanan agasshi itu. Tunggu sebentar.”

Suara pelayan itu cukup keras saat memanggil nama seseorang yang tidak kunjung menyahutnya, tapi tak berapa lama kemudian Kai menangkap suara yang familier membalas panggilan tersebut.

“Xiumin baru saja keluar. Biar aku saja yang melayaninya.”

“Kau akan membayar pesanan agasshi itu– Oh, bukankah kau adik Suho?”

“Apakah itu penting?”

“Jadi kau kekasih agasshi itu?”

“Bisakah aku membayarnya sekarang?”

Agasshi itu tidak makin membaik tapi kau tetap mengurungnya di cafe ini seharian, sementara kau bebas menikmati hidupmu baik siang maupun malam. Itukan peran kekasih?”

“Dan bagimu membicarakan penyakit seseorang pantas dijadikan bahan obrolan di meja kasir?”

“Kau tau aku tidak akan sesarkastik ini jika kau sendiri bisa menjaga kelakuanmu.”

“Kau tidak mengerti apapun. Dan hanya karena kau teman hyungku bukan berarti kau punya hak istimewa menceramahi kehidupan pribadiku, okay?”

“Kurasa aku cukup tau banyak tentangmu.”

“Xiao Lu kau–”

“Seorang anggota intel jenius sepertimu tentu tidak akan melupakan apa yang sedang kau lakukan sebelum accident itu terjadi, bukan begitu, Kim Kai?”

+OoOoO+

Setelah memastikan gadis itu sudah nyaman dalam belutan selimutnya, Kai memadamkan lampu utama dan menutup pintu kamar perlahan.

Langit malam tampak begitu jelas saat ia melewati ruang tengah untuk mengambil jaket dan kunci mobil yang ia letakkan di sofa. Desahan beratnya tidak lagi dapat disembunyikan.

Rasanya, semakin hari ia semakin membenci malam. Karena malam akan menarik gadisnya ke alam mimpi, lalu menghapuskan 40% kenangan yang sudah mereka tuliskan bersama hari ini. Langit pagi esok hari akan lebih menyakitkan baginya, karena menghadapkannya pada kenyataan bahwa hanya 60% dari yang sudah ia lakukan untuk gadis itu yang tersisa.

Tapi ia tidak membenci gadis itu.

Jika boleh, ia hanya ingin memiliki satu langit di bumi. Entah langit malam, atau pagi. Asal tidak keduanya. Sampai kemampuan mengingat gadis itu pulih sepenuhnya, hanya doa di luar akal sehat itu yang selalu ia panjatkan.

‘Aku harus cepat pergi dari sini sebelum aku benar-benar gila.’

Kenyataannya meninggalkan basement parkir kompleks apartemen tersebut tidak semudah yang ia rencanakan semenit lalu. Menyalakan mesin kendaraan saja enggan. Ia masih termenung di balik kemudi.

Kemudian pandangannya teralih pada notes yang ia lempar sendiri ke arah jok penumpang begitu menjejakkan kaki ke dalam mobil kesayangannya.

Lembar Pertama

Hari Pertama

Aku mengajukan sepuluh pertanyaan.

Ia hanya bisa menjawab tiga dengan benar.

Ia tidak mengingatku, bahkan ia memanggilku ‘Tuan’.

Aku tidak pernah tau jika panggilan itu keluar dari mulutnya rasanya akan sesakit ini.

Lembar Keempat

Minggu Pertama, Hari Kedelapan

Ia  tampak bersemangat saat melihatku berdiri di ambang pintu.

Aku mengajukan sepuluh pertanyaan.

Ia menjawab lima dengan benar.

Sejak mengetahui namaku seminggu lalu, ini pertama kalinya ia mengatakan, ia menyukai namaku.

‘Dalam bahasa Jepang, Kai artinya membuka. Kurasa itu cocok denganmu, karena kau selalu berhasil membuka satu per satu ingatanku.’

Mungkinkah aku juga mampu membuka hatimu? Sekali lagi? Untukku?

Lembar Ketujuh

Minggu Kedua, Hari Keempat belas

Ia menyambutku dengan senyuman secerah langit musim semi meski wajahnya agak pucat.

Aku mengajukan sepuluh pertanyaan.

Ia menjawab tujuh dengan benar.

Hari ini ia bercerita bagaimana ia mengingat kebiasaan pemilik cafe ketika menyambutnya.

Ia juga mengingat aroma caramel macchiato cafe itu.

Dan aku menyukai senyuman serta rona pipi di wajah pucatnya saat aku memuji kemajuannya.

Lembar Kesebelas

Minggu Ketiga, Hari Kedua puluh satu

Hari ini ia mengikat rambut sebahunya. Agak berantakan,dia memintaku membantu membenahinya.

Perkembangan ingatannya signifikan.

Aku mengajukan sepuluh pertanyaan.

Ia menjawab semuanya dengan tuntas.

Aku ingin merayakannya di luar, sayang mendadak hujan turun dengan lebat. Aku tidak mungkin membawanya keluar.

Ia memintaku membuat pasta.

Aku tidak akan pernah melupakan manik matanya membulat penasaran dan bibir mungilnya yang terus menggumam mencoba mengingat semua yang kulakukan.

Meski aku tau tidak akan ada yang berbekas di kepalanya esok hari, aku membiarkannya saja.

Dia berjanji akan memasakkan pasta untukku.

Mungkin besok. Besoknya besok. Dan besok besoknya lagi.

Lembar Keempatbelas

Minggu Keempat, Hari Kedua puluh tujuh

Selain menjawab sempurna pertanyaanku, ia mulai mengingat apa saja yang terjadi setengah dari kejadian yang ia lewati di hari sebelumnya. Meski tidak seluruhnya, aku rasa itu cukup untuk dikategorikan kemajuan.

Hari ini ia kembali bercerita soal cafe itu.

Ia mengingat nama kedua pelayan cafe tersebut dan juga bercerita soal kedua pelayan cafe yang memiliki kepribadian berbeda.

Salah satunya bernama Chen, pemilik suara ceria yang sesekali mengajaknya bercanda.

Yang satu lagi bernama Luhan, orang yang lebih pendiam namun memiliki sepasang manik mata yang jernih dan cerah.

Aku jadi ingin tau pandangannya tentangku. Tapi jika aku bertanya sekarang, pasti aneh.

Aku akan menanyakan padanya lain kali.

Saat aku mencuci piring makan malam kami, tiba-tiba ia mengatakan punggungku mengingatkannya kepada pemuda yang mirip denganku yang selalu keluar-masuk motel di seberang cafe dengan seorang wanita.

Aku mencoba menggodanya dengan bertanya ‘bagaimana jika itu aku?’ dan seketika ia berdecak marah.

Aku suka bibirnya yang mengerucut cemburu.

Tapi aku tidak suka membuatnya cemburu.

+OoOoO+

Sekilas, ia merasa pesan dari Suho kembali melintas kembali di pikirannya.

‘Lee Yu Bi, akankah lebih baik jika kau bersama Suho hyung?’

+OoOoO+

**Sekilas info~ ini dia penamakan Caramel Macchiato~ [cr: google]

caramel-macchiato-frappuccino

Suka-engganya kembali ke selera, tapi kalau ada yang mau coba-coba minuman kopi tapi ga suka yang pahit, minuman ini memang highly recommended!

Yang masih bingung mau buka sama minuman apa yang manis, segar, nagih, buruan ke Starbu*ks nyobain menu ini ya~~ ^^

[sebenernya minuman di sana bikin kalap semua, tapi berhubung kita lagi bahas CM, saya rekomen ini dulu ya…ㅋㅋㅋ]

euheuheuheu~~

2 thoughts on “Come In – Kai [2/3]

  1. saolohhhh Kim jonginnnnnn! ini ketcehhhhhh loh thor.. aku rapopo biarpun Luhan hanya lewat doang, hihihi..
    ini tiap chap berhubungan kah dan POV nya yang beda tau gimana?
    Next next next!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s