[FF Freelance] Deer Love Story (Chapter 3)

deer love story

Title: Deer Love Story

Author: Sam Diey

Genre: Schoollife, Family, Romance

Rating: General

Cast: Xi Luhan – Im Yoona

SupCast: find by yourself

Previous: Chapter 1, Chapter 2,

Summary: Xi Luhan yang pendendam memutuskan untuk memperbaiki hubungannya dengan Im Yoona. Seorang siswi SMU Heirs yang merupakan musuh bebuyutannya. Bermodalkan rasa sabar dan seorang sunbae yang dekat dengannya ia meminta Yoona untuk berdamai. Bisakah dua orang yang sudah lama bermusuhan itu memperbaiki hubungan mereka? Atau malah akan lebih menyakiti satu sama lain.

***

“Siapa nama anak baru itu?”

“Anak bungsu pemilik JIM Corporation, Im Jaebum!!”

“Mwoo?!!!!”

“Dimana Xi Luhan!!!”

“Aku Xi Luhan!!”

***

            Luhan melempar tasnya kesembarang arah, beruntungnya Kris karena tubuhnya cukup tinggi jadi wajah tampannya tak menjadi korban ransel terbang Luhan. Kris duduk dengan santainya di atas kasur sepupunya.

“Ya, Xi Luhan!!” gertak Kris secepat ia duduk disamping Luhan.

“Mwoo?” jawab Luhan tanpa niat sedikitpun membuat Kris harus menahan rasa kesalnya ditengah malam.

“Mana pesananku?” tanya Kris to the point.

“Yah!! Apa kau pikir aku masih mengingat pesananmu saat aku bertemu Si Rusa Gila itu,” jawab Luhan membela diri saat ia sadar ia lupa mengambil pesanan Kris sepulang mengantar Yoona dan Sehun.

“Kau bertemu Yoona? Eodi?” tanya Kris penasaran, entah kenapa. Luhan merasa lega karena Kris lebih penasaran pada hal terkait Yoona daripada jaket pesananannya yang lupa diambil Luhan.

“Di restoran biasa. Dia bekerja disana dan sepupumu yang baik ini mengantarnya,” jawab Luhan dengan penuh kebanggaan membuat Kris menatapnya dalam.

“Ya, Xi Luhan.. kau tidak punya niat aneh-aneh pada anak itu bukan?” tanya Kris penuh ancaman. Seakan mengatakan ‘jika kau macam-macam dengan Im Yoona maka hadapilah aku’.

“Niat aneh seperti apa yang kau maksud?”  jawab Luhan terbata-bata saat Kris masih saja menatap tajam kedalam matanya. Jujur saja Luhan merasa takut saat sepupunya yang satu ini berubah jadi sangat serius.

“Niat seperti menyakitinya.. mungkin?”

            toktoktok

“Tuan muda Lu!!”

Sungguh, Luhan tak pernah merasa begitu terselamatkan oleh ketukan pintu seorang pelayan ditengah malam. Biasanya Luhan akan melemparkan jam weker di nakas sampingnya ke arah pintu dan mengusir jauh-jauh pelayan itu dari kamarnya. Tapi sekali lagi semua akan berbeda jika Luhan diinterogasi oleh Kris.

“Kenapa?!!” sahut Luhan syarat akan kegembiraan. Kris menatap Luhan aneh.

“Presdir, meminta anda untuk turun ke ruang baca sekarang,”

“Ya, aku akan turun sekarang!!”

“Sepertinya ada yang penting. Cepatlah turun,” ucap Kris singkat lalau masuk dalam selimut tebal di ranjang Luhan.

“Yah.. dimana kamarmu Wu Yifan,” ucap Luhan lirih namun tajam.

“Aish, kamarku terlalu jauh bodoh!!” Luhan menatap geram kesepupunya yang saat ini sudah memunggunginya. Menginterogasinya, merampok ranjangnya dan esok pagi awas jika Luhan menemukan setetes saja air liur Kris di bantalnya.

Luhan mengetuk pelan pintu besar yang terbuat dari kayu oak yang dicat putih dihadapannya. Aroma khas kertas-kertas tua menyeruak di indra pembau Luhan saat ia memasuki ruangan ini. Cukup lama memang Luhan tak masuk kemari, hanya pada saat genting ada yang diperbolehkan masuk ke ruangan ini bersama kakeknya, tuan Kim Yushin.

“Haraboji, anda memanggilku?”

“Oh, Luhan.. ada seseorang yang harus kau temui. Seorang gadis,”

Luhan merasa dibuang kedasar laut saat itu juga. Well, ia memang tak terlalu kaget karena tiga sepupunya yang lain sudah mengalami hal serupa. Dijodohkan. Tapi masalahnya sudah ada yang memiliki hati Luhan. Dan gadis itu yang pasti bukan orang yang akan dikenalkan padanya.

“Besok lusa datanglah ke pesta ulang tahun perusahaan Pamanmu, kau akan bertemu gadismu disana. Arraseo?”

“Nee haraboji,”

Tentu saja Luhan ingin menolak. Bukan. Semua saudaranya ingin menolak, memang siapa yang mau menerima kencan buta di usia 18 tahun. Lagipula ini abad ke 21 dimana teknologi berkembang dan cinta bisa tumbuh hanya dengan bertatap muka lewat SKYPE. Tapi tak ada yang berani melawan kekuatan kakeknya, termasuk Luhan dan saudara-saudaranya.

Tunggu, ayah Luhan berani. Beberapa minggu lalu saat Luhan dikenalkan kakeknya dengan seorang putri dari direktur sebuah Rumah Sakit, ayahnya membantu Luhan untuk menggagalkan pertemuan itu. Mungkin kali ini ayahnya bisa membantunya lagi?

“Luhan, mungkin besok akan ada yang mencarimu di sekolah?”

“Siapa haraboji? Yeoja?”

“Ahni, namja. Akan lebih baik jika kau mengenal yeoja itu dari adiknya sebelum kau bertemu langsung dengannya. Pastikan kau membuka ruang bacamu untuk anak itu besok,”

“nee,” jawab Luhan lesu. Jadi bukan hanya seorang wanita yang dipilihkan untuknya, tapi juga seorang teman baru. Luhan hanya bisa berharap orang itu bukan orang yang menyebalkan seperti Im Yoona.

***

“Aish.. jinjja, abeoji!! Bantulah aku sekali lagi,”

Oke, pernah mendengar seorang Xi Luhan merengek pada ayahnya? Jika belum, kau bisa membayangkan seorang anak yang merengek minta mainan pada ayahnya. Yah.. aku memang memalukan merengek seperti ini saat ingat umurku sudah 18 tahun. Tapi mau bagaimana lagi?

“Andwae, aku sudah mengenal yeoja itu. Dan dia yang paling cocok untukmu,”

Jawab ayahku disebrang telepon. Apa ia sedang bergurau aku sudah menemukan seseorang yang tepat disini. Kenapa dia harus menemukan yang tepat satu lagi untukku?

“God!! Aku yang paling tahu siapa yang cocok denganku abeoji,” balasku ketus sebelum kututup sambungan telponnya.

Jika saja aku tidak ingat ada Kris di kamarku, aku pasti sudah berteriak sekencang mungkin saat ini juga. Kris pasti sangat berbeda denganku ketika mendengar rencana perjodohannya. Park Chorong, tunangannya adalah yeoja yang dikenalnya dengan sangat baik, berasal dari keluarga terpandang, cantik dan baik hati.

Aku menatap dalam wajah Kris yang tertidur lelap. Benar-benar damai dan terlihat sangat bahagia walau aku tahu banyak rasa sakit yang terus disimpannya. Aku masih ingat bagaimana Kris empat tahun yang lalu. Wajah murungnya dan tatapan matanya yang sedingin es.

flashback

Hari itu adalah tiga hari sebelum natal, dan seluruh keluarga berkumpul di Shanghai untuk merayakan natal bersama. Xiumin, Suho, Sehun dan aku asyik berlarian saat seorang anak dengan penampilan kumal masuk kedalam ruang keluarga kami bersama seorang pelayan.

Ibuku berlari kearah anak itu dan memeluknya dengan sangat erat. Begitupun ibu Sehun, ibu kami menangis begitu keras malam itu. Sedangkan kedua pamanku hanya berdiri lemas setelah mendengar penjelasan dari pelayan tadi.

Ibu menarik tanganku untuk menyalami anak itu. Matanya terlihat jahat tapi juga terlihat penyayang. Aku mengulurkan tanganku dan membagi coklat panasku dengannya.

“Aku Luhan. Siapa namamu?”

“Kris,”

“Bukan. Dia Wu Yifan, kalian mengingatnya bukan? Xiumin, Suho, Luhan kalian ingat bukan? Adik yang kalian ajari bersepeda,” ucap ibuku dengan air matanya yang terus mengalir.

Aku mengingatnya dengan jelas. Dan aku juga ingat hari saat ia tiba-tiba menghilang ketika bermain bersamaku dan kedua orang tuanya ditemukan tewas tiga hari berikutnya. Sebuah duka yang mendalam bagi kakekku.

flashback end

“Jika kau bisa menerima kehadiran kami empat tahun lalu dengan sedikit waktu, apakah aku bisa menerima kehadiran yeoja itu dengan sedikit waktu juga? Sama sepertimu,”

Wu Yifan mungkin banyak luka yang kau alami. Dan aku iri akan hal itu,

***

            Luhan menatap aneh ke arah bangunan ruang bacanya. Banyak anak yang berdesakan didepan sana. Apa sepupunya membuat gaduh dengan membuat acara free hug? Heii, sepupunya tidak sekonyol itu membuat acara free hug. Lagipula mereka tidak setampan itu untuk menggegerkan seluruh sekolah.

“Dimana Xi Luhan!!!”

Samar-samar Luhan bisa mendengar namanya disebut-sebut ditengah kerumunan itu. Tunggu. Mungkinkah adik dari yeoja yang akan dijodohkan dengannya? Tidak mungkin juga. Dengan sedikit usaha Luhan bisa sampai ditengah kerumunan itu.

Ia bisa melihat wajah lega Xiumin dan Suho saat melihat ia datang. Mungkin terlalu lelah menghadapain kebisingan disekitar mereka. Luhan melirik namja jangkung yang masih berteriak memanggil namanya.

“Aku Xi Luhan!!”

Dan yah.. Im Jaebum menatap Luhan. Mata coklat yang menatapnya itu mengingatkan Luhan pada seseorang. Orang menyebalkan yang dibencinya. Jaebum masih dengan tatapan mengejeknya, berpaling kearah Suho dan Xiumin.

“Jadi sunbae, apa aku boleh masuk sekarang?” ucap Jaebum datar.  Luhan, Xiumin dan Suho dibuat jengkel olehnya. Sangat tidak sopan. Tapi tidak ada pilihan lain selain membiarkan anak itu masuk ke ruang baca mereka.

“Masuklah,” jawab Luhan juga dengan datarnya.

Kerumunan itu berangsur kembali melakukan kegiatan mereka. Hanya satu yeoja yang masih berdiri mematung disana. Im Yoona, bahkan teriakan Yuri yang memanggilnya sama sekali tak terdengar. Saat ini Yoona tidak dengan pikiran warasnya. Ia bisa gila jika terus seperti ini.

***

            Lagi-lagi Yoona berdecak kesal saat Jaebum dengan sengaja tidak mengangkat telpon darinya. Masih belum menyerah Yoona terus membanjiri pesan adiknya dengan umpatan kejam khasnya. Umpannya berhasil, Im Jaebum menelponnya kembali.

“Yah!! Yeoja sinting, apa maumu huh?!!” geram Jaebum tepat setelah Yoona menjawab telponnya.

“Yah!! Bocah gila seharusnya aku yang menanyakannya padamu!! Cepat keluar darisana,” balas Yoona tak kalah geram.

“Tjh, kenapa aku harus keluar? Disini enak,” jawab Jaebum dengan nada mengejek. Yoona berdecak kesal mendengarnya.

“YA!!” jerit Yoona geram. Membuat beberapa hoobaenya yang lewat memandangnya aneh. Sekuat tenaga, Yoona menahan rasa marahnya.

“Kenapa noona? Kau takut identitasmu ketauan ya..” Oke, sekarang Im Jaebum sudahh mengatakan hal keramat bagi Yoona. Adiknya itu harus diberi pelajaran. Yoona menghela nafasnya pelan.

“Keluar darisana selagi aku memintamu baik-baik Im Jaebum dan temui aku di atap. Sekarang!!”

“Bagaimana ya.. hyung-hyung ini baik sih. Jadi aku tidak mau, byee..”

“YA!! Im Jaebum!! Ya!!!”

Bunyi beep menandakan Im Jaebum sudah memutus sambungan telponnya. Yoona membanting ponselnya karena kesal. dan tanpa sengaja hal itu percakapannya di telpon tadi didengar oleh seorang namja.

“Noona!!” Yoona hampir saja mengumpat jika saja suara itu tidak terdengar familiar. Oh Sehun,

“Ahh,. Kau mengagetkan saja Sehun-ah,”

“Hehe mianhe noona, kenapa kau membuang ponselmu?” Sehun berjogkok dan memungut ponsel Yoona. Yoona tersenyum simpul melihat senyum Sehun saat mengembalikan ponselnya.

“Gomawoyo..” Yoona menepuk pelan puncak kepala Sehun. Entah kenapa sikap Sehun membuat Yoona ingat tingkah manja Jaebum saat mereka masih kecil. Satu-satunya kenangan indah yang ia miliki saat kanak-kanak

“kenapa kau disini? Tidak ada kelas?” tanya Yoona ramah. Sehun menggeleng pelan.

“Guru-guru sibuk rapat karena Im Jaebum dan hyung-hyungku juga sibuk karena Im Jaebum. Aku dibuang noona,” Yoona terkekeh mendengar curhatan Sehun. Tidak menyangka jika anak ini begitu manja, berbeda dengan hyung-hyungnya yang menyebalkan dan sok keren.

“Oh iya.. Sehun-a bisakah noona minta tolong?” tanya Yoona ragu-ragu. Sehun mengangguk cepat.

“Apa noona?” jawabnya dengan ceria.

Yoona mendekatkan mulutnya ke telinga Sehun. Berbisik. Takut jika ada orang lain yang mendengar. Setidaknya Sehun adalah anak yang terlalu polos dan malas untuk bertanya-tanya kenapa ia memanggil Jaebum bukan?

“Bisakah kau ajak Jaebum ke atap sebentar?” bisik Yoona. Sehun menjauh dari Yoona dan menatapnya sebal.

“Mwoya? Noona juga ingin membuangku?” Yoona masih bisa terkekeh melihat bibir manyun Sehun.

“Tentu saja tidak, aku ada urusan sebentar dengan tikus pengganggu itu?”

“Oke deh, aku akan mengajaknya menemui Noona..” Sehun mengiyakan permintaan Yoona dan segera berjalan pergi menuju ruang bacanya.

***

            Aku menatap kagum pemandagan sekeliling sekolahku. Sudah lama juga rasanya berdiri sendirian disini. Terakhir kali aku kesini saat aku dibully oleh kakak kelas karen Xi Luhan dan saudara-saudaranya.

Udara diatas sini memang sangat berbeda dengan udara dibawah sana. Disini sangat sejuk dan menenangkan. Dibawah sana, huff banyak bau busuk orang-orang kaya ini.

“Yah!! Noona!!”

Aku membalikkan badan. Kudapati Jaebum dengan pose sok menakutkannya itu. Ia berjalan cepat menuju kearahku. Tangannya bersiap memukul pelan kepalaku. Sapaan akrabnya padaku saat aku sedikit memaksanya. Yeah, tentu saja aku menghindarinya.

“Idiot, kau mau membuka identitas mu huh?”

“ Bocah gila!! Mau apa kau kesini?” tanyaku to the point. Jaebum menatapku acuh tak acuh.

“Menurutmu? Aku juga terpaksa hoey!!”

“Kenapa kau tidak kembali ke Jepang dan malah ada di sekolahku?!!” tanyaku geram. Jaebum menatapku dengan tatapann tak percayanya.

“Noona, kenapa kau jadi begitu bodoh hah?” ejeknya lalu beranjak pergi meninggalkanku.

“Mwo?!! Yah!!”

“Kau akan dijodohkan!! Dengan salah satu dari lima anak itu!! Puas!!” ucapnya setengah berteriak tanpa berbalik kearahku.

BRAK.

Well, seharusnya aku tak terlalu kaget dengan perjodohan. Tapi tidak dengan dijodohkan dengan salah satu dari lima anak itu. Bagaimana bisa ini terjadi. Mereka sama sekali bukan style ku.

“What?!! Kau bercanda kan Jaebum? Yah!!”

Jaebum terus berjalan menjauh. Ia berhenti sesaat sebelum membuka pintu di tangga. Menatapku dengan tatapan sendunya, mengingatkanku jika hanya akulah yang tersisa untuk melindungi mimpi-mimpinya. Membuatku sadar jika bukan saatnya aku menjadi egois.

“Noona, sebaiknya kau tidak menolak perjodohan yang ini atau kita benar-benar akan hancur..”

Jaebum tak pernah seputus asa itu sebelum ini. Bahkan saat aku menendang Siwon dikencan pertama kami dan Jaebum yang membantuku kabur. Ia sama sekali tak takut untuk melawan nenek sihir itu. Tapi ia begitu takut sekarang? Apa yang dilakukan nenek sihir itu padanya.

Drrtt.. Aku mengangkat panggilan dari Nenek. Sangat pas sekali aku jadi tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menelponnya.

“Kau sudah mendengar dari adikmu bukan?”

“Apa yang kau lakukan pada Jaebum hingga ia menurut seperti ini?”

“Nenek tidak melakukan apa-apa sayang. Bagaimana? Kau menyukai anak itu bukan?”

“Hah!! Kau bercanda tentu saja aku menolak!! Kami sama-sama masih anak SMU,”

“Lalu bagaimana jika aku menghentikan pengobatan wanita itu? Masih menolak?”

“Nyonya Im, kau benar-benar kejam..”

“Aku anggap itu pujian Im Yoona,”

Yoona menatap sendu kearah langit biru diatasnya. Kenapa dunianya terasa sangat menyesakkan akhir-akhir ini. Yoona benar-benar butuh tempat bernapas yang membiarkannya sebebas burung diatas langit sana.

***

            Bel makan siang berbunyi dan tentu saja para siswa sudah siap mengantri untuk makan siang mereka. Termasuk Yoona dan Tiffany yang bergerak cepat menuju kantin di gedung mereka. Entah setan apa yang mengutuk gedung belajar kelas XII hari ini. Koridor sudah macet karena kerumunan anak kelas X dan XI.

“God!! Ada apalagi?!!” jerit Tiffany frustasi. Sungguh ia sudah kelaparan sejak pagi tadi tapi rasa penasarannya juga terlalu besar, maklum saja, keluarganya adalah pemilik stasiun TV terkemuka di Korea. Jiwa-jiwa pemburu berita.

“Yah!! Apalagi sekarang?!!” tanya Yoona geram pada hoobae didekatnya. Hoobae yeojanya hanya mendelik takut sambil menunjuk kearah gym hall. Yoona menajamkan pandangannya. Tunggu, ada yang berkelahi.

“Sialan!!” umpat Yoona saat menyadari siapa yang berkelahi didalam sana.

Dengan brutalnya Yoona mendorong semua anak yang berkerumun didepannya. Kini ia bisa melihat langsung wajah babak belur dua anak yang berkelahi itu. Yoona menatap Empat namja yang menonton perkelahian itu dengan santai tanpa mencoba menghentikannya. ‘Aku bersumpah akan mematahkan tulang-tulang mereka tahun depan,’ sumpah Yoona dalam hati.

“YAH!!” jerit Yoona sambil menahan namja jangkung yang akan memukul Jaebum. Yoona membantingnya dengan cepat. Bukti bahwa ia seorang pemegang sabuk hitam taekwondo.

“Noona,” gumam Sehun dengan kagum. Luhan, Suho dan Xiumin mengernyit saat melihat Kris dibanting oleh Yoona. Pasti sakit.

“Ya, kalian berempat tinggal menunggu giliran. Akan kubunuh kalian satu persatu,” ancam Yoona dengan mata kejamnya.

Sehun hanya tersenyum polos. Berbeda dengan hyung-hyungnya yang bergidik ngeri. Yoona membantu Jaebum berdiri, menatap adiknya dengan tatapan menghina. Jaebum menatap kesal kearah noonanya.

“Kau gila? Identitasmu bisa ketauan bodoh,” gumam Jaebum sambil terbatuk.

“Apa eomma benar-benar melahirkanmu. Kenapa kau lemah sekali huh?” balas Yoona datar. Jaebum berdecak kesal mendengar itu dari mulut noonanya sendiri.

***

            Kami berlima hanya terdiam saat petugas UKS membersihkan luka diwajah Kris. Khawatir? Tidak sama sekali karena Kris hanya bertanding dengan Im Jaebum. Tapi tidak dengan dibanting oleh Im Yoona. Tunggu.. Im? Apa mereka saudara?

Eii, tidak mungkin juga…

“Eh, apa tidak aneh jika Im Yoona sangat menjaga anak itu?” ujar Xiumin memecah keheningan. Kris bangkit sesaat dari tidurnya.

“Aneh sih, biasanya dia hanya peduli pada anak kelas kepedulian sosial bukan?” sahut Suho. Aku mengangguk pelan, merasa aneh juga saat Im Yoona menerobos masuk dan membantu Jaebum.

“Keunde, Yoona noona melakukan banyak pekerjaan. Mungkin saja noona bekerja jadi bodyguard Im Jaebum disekolah ini,” ucap Sehun memotong pembicaraan kami. Tapi masuk akal juga sih jika seperti itu. Tunggu.. noona?

“Yah!! Kenapa kau memanggilnya noona huh?!!” protesku. Sehun menatapku sebal.

“Karena Yoona noona memang noonaku. Wae? Tidak boleh?!!” balasnya bersungut-sungut.

“Tentu saja tidak boleh!! Yoona itu musuhku, manabisa kau akrab dengannya!!”

“Yah!! Apa kau belum berdamai dengan Im Yoona” sahut Xiumin yang berbaring di kasur. Aku membuat wajahku seolah seperti orang muntah.

“Kenapa aku harus berdamai dengannya,” balasku bersungut sebal. Suho melempar bukunya kearahku.

“Bodoh!! Kami tidak mau menghabiskan musim panas di sekolah ini denganmu lagi Xi Luhan. Yah, apa kau lupa kejadian dua tahun yang lalu?!!” ucap Suho penuh amarah.

Aku ingat saat kami kelas satu. Aku dan Yoona membuat keributan besar dengan menghancurkan lab fisika dan akhirnya kami berempat dihukum untuk membersihkan laboratorium sepanjang liburan musim panas oleh ayahku. Sebuah kenangan masa lalu yang kelam.

“Tapi hyung, aku kira kau sudah baikan dengan noona. Kan semalam kita mengantarnya pulang?” ucap Sehun dengan polosnya.

Ingin sekali kupotong lidah anak itu. Oke terlalu kejam. Kris menatapku dengan tatapan sendunya, entah kenapa. Suho dan Xiumin menatapku dengan senyum aneh diwajah mereka. Pasti ada drama yang bermain di otak mereka sekarang ini. Dasar,

“Mwoya? Apa kisah cintamu sudah dimulai,” ucap Suho

“Dengan Im Yoona. Musuh bebuyutanmu? Ahahay,” sambung Xiumin. Haaah, orang-orang ini, apa benar mereka saudara sepupuku. Benar-benar menyebalkan,

TBC

Advertisements

8 thoughts on “[FF Freelance] Deer Love Story (Chapter 3)

  1. Luyoon dijodohin daebak.
    kenapa jaebum sama kris berantem? Halmoni Im kenapa sih? terus ibu yoona yang salit ya?kenapa? next asap dong sama panjagin juga ya hehe.Figthing:))

  2. akhirnyaaaaaa di post jugaaaa wkwk bagus thor~~ tapi panjangin lagi cerita di chapternya 😀 ditunggu chapter berikutnya ^^

  3. Masalah Kris jg sedikit dituangkan disini….

    Eeh Sehun polos bgt deh —
    Yoong eonni daebak! Two thumbs up for eonni!! (y) (y)
    Berarti Yoona maupun Lu Han blm tau dgn siapa mereka akan dijodohkan ya~ Kebayang, pasti shock ga ketulungan mereka wkwk

    Typo ada beberapa.. n alurnya agak sedikit kecepatan. Tp it’s ok 🙂

    Sippo…. Keep writing n fighting ya!! ^^
    Ditunggu kelanjutannya 😉

  4. Siapa wanita yg disukai luhan ya sampai dia menolak perjodohannya.penasaran ama reaksi luyoon saat mereka tau dijodohkan.sprtinya kris suka ma yoona meskipun udh pnya tunangan.sehun sdh tau jatidiri yoona ya.next part jgn lm2 thor.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s