[FF Freelance] Our Little Promise – About Us and Them (Chapter 8)

ourlittlepromise-redrose

Title                 :           Our Little Promise : About Us and Them

Author            :           Red Rose

Length             :           Chaptered

Rating              :           PG-15

Genre               :           Romance, Angst, Hurt

Main Cast       :           Jung Soo Jung & Kim Jong In

Other Cast      :           Jung Soo Yeon, Song Qian, & Choi Jin Ri

Previous         :          Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6, Chapter 7,

Credit Poster   :          Lee Yong Mi @allthingsiwannapost.wordpress.com

Disclaimer      :           The story is mine. Read it and give me some advice about my story.

 

 

 

 

Jong In tidak main-main dengan ucapannya.

Ketika Soo Jung mendengar kalimat pertama yang diucapkan oleh ibunya saat dia dan Jong In tiba, Soo Jung kembali teringat dengan apa yang dikatakan oleh Jong In dulu.

Jong In benar-benar melakukannya.

Soo Jung tidak tahu lagi harus bagaimana dan mengatakan apa. Saat ini yang dia bisa lakukan hanyalah diam dan diam. Bunyi tatakan cangkir yang baru saja mendarat mulus diatas meja-walau hanya menimbulkan bunyi ‘ting’ saja-membuat Soo Jung sedikit terkejut. Pertanda bahwa dirinya sedang tidak dalam kondisi yang baik.

Soo Jung mengambil cangkir yang ada didepannya lalu mulai mendekatkan bibir cangkir itu dengan mulutnya. Soo Jung baru saja merasakan bahwa perjalanan cairan yang berhasil dia pindahkan ke kerongkongannya itu baru mencapai separuh dan harus terhenti ketika dia mendengar apa yang dikatakan ibunya. Setelah itu Soo Jung batuk dengan keras akibat tersedak minumannya.

Ini kedua kalinya Soo Jung menjadi-bukan-seperti-dirinya-oleh hanya karena mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.

Berjuta-juta pertanyaan bersarang dikepala Soo Jung saat ini. Terlebih lagi ketika dirinya mendengar kalimat pertama yang diucapkan ibunya ketika berada bersama Jong In tadi. Apa maksud dari ‘menyempatkan diri’ seperti yang dikatakan oleh ibunya tadi? Apa maksudnya dengan kata ‘mengunjungi’ itu?

Soo Jung rasa dirinya terlihat seperti orang sinting detik itu juga. Detik itu juga, Soo Jung merasakan tangan ibunya mengelus hangat punggungnya karena insiden tersedak yang dialami Soo Jung. Gadis itu lalu menganggukkan kepalanya setelah dirasa bahwa keadaan lebih baik sedikit dari sebelumnya.

Soo Jung melirik kearah Jong In untuk memastikan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Soo Jung tidak pernah salah lihat ketika matanya menangkap bahwa Jong In tadi menatapnya lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Apa maksud orang itu pikir Soo Jung. Sudahlah apapun itu, Soo Jung tidak ingin repot-repot memikirkannya karena hal terpenting saat ini yang ingin dia tanyakan adalah tentang maksud ucapan ibunya tadi.

Soo Jung rasa ibunya adalah orang yang serba tahu. Belum sempat dirinya bertanya, ibunya sudah mulai membuka pembicaraan antara ibunya, Soo Jung, dan tentu saja Jong In termasuk.

“Soo Jung-ah, selama kau berada di Amerika, Jong In selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi ibu walau hanya sebentar saja.”

Jong In hanya tersenyum tipis setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibu Soo Jung kepada anaknya. Jong In bisa melihat ekspresi yang tergurat di wajah Soo Jung.

Antara percaya atau tidak.

Jong In tahu bahwa hal ini akan terjadi. Dia tidak terkejut sama sekali melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Soo Jung. Mengingat, pertemuan mereka yang terakhir yang bisa dikatakn sangat tidak menyenangkan. Terutama mengenai hal yang ada sangkut-pautnya dengan ibu Soo Jung.

Apa yang dilakukan Soo Jung?

Gadis itu hanya diam sambil pelan-pelan meletakkan kembali cangkir yang dipegangnya tadi diatas meja. Soo Jung-seperti yang diperkirakan oleh Jong In tadi-memberikan tatapan antara percaya atau tidak atas apa yang baru saja ibunya katakan.

Mungkin dia salah dengar.

Dan kenyataannya memang begitu. Soo Jung tidak salah dengar. Tidak mungkin dia salah dengar dengan posisinya yang berada tepat disamping ibunya.

“Maksud Eomma?” Pertanyaan bodoh itu tidak terpikirkan sama sekali oleh Soo Jung ketika harus dikeluarkan pertama kalinya untuk menepis rasa keingintahuannya.

“Soo Jung-ah, Eomma tadi bilang bahwa selama kau tidak ada disini, Jong In yang menjaga eomma. Kau tahu, Jong In banyak sekali mengorbankan waktunya hanya untuk datang melihat eomma. Padahal eomma sudah sering kali memberitahukan Jong In bahwa dia tidak perlu melakukan hal seperti itu. Jong In memang anak yang baik. Tidak salah kalau kau memiliki sahabat sebaik dia.” Ibu Soo Jung bercerita dengan wajah yang riang seakan-akan Jong In adalah sesosok malaikat tampan yang datang entah-dari-mana.

Soo Jung mendengar ibunya dengan seksama dan lalu menatap Jong In. Laki-laki itu, apa benar dia melakukan semua itu? Soo Jung merasa senang karena ketika dia tidak berada disamping ibunya, ada orang yang menjaga ibunya. Tapi, disisi lain Soo Jung merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan terhadap Jong In.

Terutama tentang berpikir bahwa laki-laki itu hanya peumbar janji palsu.

Jong In bukan orang yang seperti itu. Dia menepati janjinya pada Soo Jung. Dia benar-benar melakukan apa yang dia katakan sebelum Soo Jung pergi ke Amerika tentang Jong In yang akan menjaga ibunya.

Jong In menepati janjinya.

***

Soo Jung menatap langit gelap diatasnya. Mengapa tidak ada bintang yang muncul malam ini? Mungkin bintang-bintang itu sedang lelah dan beristirahat. Apakah bintang juga bisa lelah? Apakah bintang sama seperti manusia yang butuh istirahat? Pekerjaan apa yang dilakukan bintang-bintang itu sampai mereka harus beristirahat? Oh, pertanyaan bodoh macam apa itu Tentu saja bintang-bintang itu bertugas untuk memperindah langit malam yang gelap.

Soo Jung terus menatap langit sambil berharap ada satu saja bintang yang muncul dan menemani bulan yang sendirian diatas sana. Kedua mata Soo Jung terus mencari benda bersinar itu ketika dia mendengar langkah orang yang datang menghampirinya.

“Kau belum pulang?”

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku butuh jawaban.”

“Kau tidak selalu mendapatkan jawaban yang kau inginkan.”

“Kebiasaan lama.”

“Kebiasaan lama.”

Soo Jung dan orang itu-yang tidak lain adalah Jong In-mengalihkan pandangan mereka sehingga sepasang mata hazel bertemu dengan sepasang mata yang mampu menyihir siapapun yang melihatnya. Termasuk Soo Jung saat ini.

Tidak ingin terpengaruh dengan tatapan itu, Soo Jung kembali menatap langit malam seraya melipat kedua tangannya didepan tubuhnya.

“Ada kalanya ketika kita ingin menyampaikan suatu hal yang menurut kita itu adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidup kita. Tapi, ketika itu juga hal yang paling membahagiakan itu bisa berubah menjadi senjata yang akan membuatmu tumbang ketika baru angkat mengangkat senjatamu. Suatu hal itu ibarat seperti mata pisau. Ketika sisinya tumpul, kau bisa memegang bagian matanya. Bahkan kau bisa menjadikan mata pisau itu sebagai teman baikmu. Tapi, ketika mata pisau itu kembali menjadi tajam, kau bahkan tidak memiliki kesempatan walau hanya untuk menyentuh ujungnya saja dengan ujung jarimu. Bisa saja saat itu juga, teman baikmu itu berubah menjadi musuh abadimu dalam hitungan detik.”

Jong In tidak tahu apa yang mendorongnya sehingga dia dapat mengatakan hal tadi yang seakan-akan terangkai begitu saja dalam pikirannya dan keluar dari mulutnya dengan lancar. Jong In menunggu reakasi Soo Jung dan mendapatkan gadis itu tidak bergeming dan masih menatap langit. Jong In tidak banyak berharap jika gadis itu mau mendengarnya. Jong In memutuskan untuk melanjutkannya.

“Kita lalu memutuskan untuk membagi kabar baik itu kepada orang-orang disekitar kita. Tapi, suatu penghalang yang dinamakan keraguan dan ketakutan datang menyelimuti kita sehingga kita berhenti sejenak atas langkah yang sudah kita ambil. Benarkah kita harus memberitahukan kabar itu? Bagaimana reaksi orang-orang itu kelak? Apakah mereka akan menerimanya atau tidak menggubris kita atau bahkan balik mengatakan bahwa kita adalah orang yang pamer?Apa yang harus kita lakukan dengan adanya kemungkinan-kemungkinan itu?”

Soo Jung masih tetap dalam posisinya sehingga Jong In terus melanjutkan ceritanya.

“Lalu kita memutuskan untuk tidak memberitahukan hal itu sampai menemukan waktu yang tepat. Tapi, kemudian orang-orang itu tahu akan hal itu. Bukan dari kita, melainkan orang itu tahu dengan sendirinya akibat ketidaksengajaan. Apa yang dilakukan orang-orang itu? Mereka langsung menuduh kita sebagai seorang pengecut yang tidak berani membuat keputusan. Tidak berani menerima resiko. Padahal, kita memiliki alasan yang kuat untuk tidak melakukan hal itu. Alasan takut akan kehilangan orang-orang itu. Mereka yang kita sayangi. Tapi, semuanya sudah terlambat. Mereka tetap membenci kita dan pergi menjauhi kita. Apa yang dapat kita lakukan? Menangis? Menyesal? Mengutuk kebodohan kita?”

“Tidak ada yang dapat kita lakukan ketika semua itu telah terjadi. Sekeras apapun kau menangis sampai airmatamu habis, sebesar apapun rasa penyesalanmu, mereka tidak akan seperti dulu lagi. Mereka sudah terlalu kecewa. Mereka yang selama ini terus mendukung kita akan merasa bahwa apa yang selama ini mereka percayakan kepada kita hanya omong kosong. Kita tidak bisa memutar kembali waktu sebelum mereka kecewa. Tidak akan pernah bisa.”

Akhirnya, Soo Jung membuka suara. Hal ini membuat Jong In sedikit atau bahkan sangat terkejut mengetahui bahwa Soo Jung mendengarkannya. Jong In tidak menyangka bahwa Soo Jung sedari tadi mendengarkannya sambil menatap langit yang gelap tanpa bintang itu.

Jong In mencerna semua kata-kata yang dikatakan Soo Jung tadi. Apakah memang seperti itu kenyataannya?

“Bagaimana kalau setelah sekian lama, kita mencoba kembali untuk membangun kembali kepercayaan mereka yang sudah runtuh itu? Apakah salah jika kita kembali mencoba? Bagaimana kalau kita berhasil dan mereka kembali menerima kita?”

“Tidak akan semudah itu mereka menerima kita. Mereka sudah terlalu kecewa. Kalaupun kita bisa kembali memperbaiki hubungan itu dengan mereka, mungkin itu semua tidak akan sama lagi. Kita harus berusaha sekeras mungkin jika kita ingin hubungan kita dengan mereka kembali seperti dulu.”

“Dan itulah yang sedang aku lakukan sekarang.”

Soo Jung menghela nafasnya-lagi-lalu mengalihkan pandangannya ke Jong In. Soo Jung tahu apa maksud dari panjang-lebar cerita yang Jong In katakan tadi. Laki-laki yang berada disampingnya itu terlalu pintar untuk menggunakan perumpamaan dalam ceritanya itu. Soo Jung sadar bahwa kita yang dimaksud oleh Jong In adalah Jong In sendiri. Sedangkan mereka, Soo Jung sudah bisa menebak siapa yang dimaksud oleh Jong In.

“Kau yakin kita mau memperbaiki semuanya lagi seperti semula sehingga mereka percaya lagi?”

Pertanyaan Soo Jung itu membuat Jong In melebarkan kedua matanya tidak percaya. Apa dirinya tidak salah dengar? Tidak. Jong In tidak salah dengar.

“Apa yang harus kita lakukan sehingga membuat mereka percaya kembali?”

“Kita tidak selalu mendapatkan jawaban yang kita inginkan, ingat? Kita harus berusaha menemukan jawaban itu.”

Soo Jung tersenyum melihat ekspresi Jong In yang sangat ingin mendapatkan jawaban darinya. Saat itu juga Jong In meloloskan senyum puasnya lalu kembali menatap langi malam yang gelap.

“Oh, lihat akhirnya yang ditunggu muncul juga.” Soo Jung memekik kegirangan ketika satu bintang muncul dilangit dan berada dekat dengan bulan.

“Mungkin bintang itu muncul ketika dia sudah mulai merasakan adanya dorongan yang kuat yang membuat dirinya untuk berada dilangit yang gelap dan menemani bulan saat ini.” Jong In juga melihat kehadiran bintang pertama itu.

Soo Jung dan Jong In merasakan bahwa inilah awal dari apa yang akan mereka jalani nantinya. Awal dari semua masa lalu yang membuat keduanya terpisah secara fisik namun hubungan persahabatan yang mereka jalani selama ini, sulit untuk tidak dirajut kembali.

Soo Jung berpikir keras setelah pertemuannya kembali dengan Jong In dan setelah mendengarkan semua yang dijelaskan oleh ibunya tentang laki-laki itu. Soo Jung tidak tahu harus senang, sedih , atau apapun itu. Sekarang Soo Jung sudah benar-benar yakin dengan keputusan yang dia ambil.

Ini mungkin terasa sedikit aneh mengingat pertemuan mereka sebelumnya. Keduanya bahkan tidak sekalipun bertukar obrolan dan hanya sebatas memanggil saja. Terlebih lagi sikap keduanya sangat dingin. Soo Jung tidak tahu apa yang membuat keadaannya sekarang berubah dan itu terasa sangat cepat. Apakah ini semua karena ibunya? Alasan itu sedikitnya mempengaruhi. Tapi, Soo Jung berpendapat bahwa alasan yang membuat dirinya seperti sekarang adalah karena dirinya yang tidak ingin kehilangan satu-satunya sahabat yang dia miliki dan selalu menemaninya dalam jangka waktu yang cukup lama.

Begitu juga dengan Jong In. Keinginan terbesarnya untuk mempertahankan sahabatnya itu menjadi alasan mengapa dia bisa berbicar sepanjang tadi hanya untuk mendengar reaksi gadis tersebut dan menemukan jawabannya.

Pandangan Soo Jung beralih pada Jong In ketika keduanya mendengar bunyi ponsel yang berasal dari saku Jong In. Jong In melihat nama yang tertera dilayar ponsel miliknya. Soo Jung tahu siapa yang menelfon Jong In ketika melihat gerakan mulut Jong In yang mengatakan ‘Sulli’.

Jong In lalu menjawab panggilan tersebut.

“Yoboseyo. Sulli-ssi, ada apa?”

Kau pasti terkejut dengan apa yang akan aku beritahukan kepadamu.”

Jong In mengerutkan kedua alisnya sehingga ketika Soo Jung melihat ekspresinya yang seperti itu, Jong In tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Soo Jung.

“Apa?”

Jong In bisa mendengar tawa gembira Sulli diseberang sana dan hal itu semakin membuat Jong In dihinggapi rasa penasaran.

Dia kembali, Kai-ssi. Aku sangat menantikan kedatangannya. Kau pasti senang sekarang, bukan?”

Jong In menurunkan benda persegi panjang itu dari telinganya. Samar-samar, Jong In masih bisa mendengar suara Sulli yang terus-menerus memanggil namanya. Soo Jung melihat ekspresi wajah Jong In berubah secara drastis. Apa yang dikatakan oleh Sulli kepada Jong In sehingga membuat laki-laki itu terlihat terkejut dan dilanda rasa waspada?

Jong In menatap Soo Jung lemah. Baru saja Jong In merasakan beban yang selama ini ada dalam dirinya perlahan-lahan hilang dan sekarang setelah semuanya hampi saja hilang, beban itu kembali datang padanya dan mengisi penuh semua ruang dalam tubuh dan pikirannya.

Soo Jung menatap Jong In dan meninggalkan tanda tanya besar diatas kepalanya. Bersamaan denga itu juga, Soo jung melihat bahwa satu-satunya bintang yang tadi muncul dilangit, sekarang menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun.

***

9 thoughts on “[FF Freelance] Our Little Promise – About Us and Them (Chapter 8)

  1. uwaaaahh~ seneng gitu akhirnya soojung sama jongin baikan lagi lega gitu rasanya daripada saling canggung kan nggak enak
    eh itu apa? siapa yang kembali? apa ada hubungannya sama jongin, dan sepertinya kurang baik
    next part soon

  2. dia yang kembali siapa? baru aja mereka baikan kenapa ada masalah lagi,tapi seru si ceritanya wkwk next partnya panjangin ya thor,gomawo ^^ *bow*

  3. dia siapa…? kai jangan bikin krystal ngejauhin kamu lagi deh, klo ga ingin selamanya hidup dalam penyesalan ok! 🙂

  4. wah, akhirnya setelah ditunggu2 keluar juga chapter yang ini. gak sia2 deh karena di sini jongin sama soojungnya akhirnya baikan. yeaay! 😀
    tapi kenapa nanggung banget endingnya 😦

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s