[Chapter 13] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: AU, Romance || Length: Chapter 13/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2014 by Shinyoung.

Chapter 13 — Be Ready

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12

*

Sebelumnya: Hubungan diantara Naeun dan Myungsoo semakin tidak jelas setelah Myungsoo sering memberikannya perlakuan tidak wajar—maksudnya bukan yang aneh-aneh—akhir ini. Naeun yang tidak dapat menghubungi Namjoo.

Pesawat yang telah selesai dibuat dan datangnya Namjoo juga Sungjong dari tahun 2050 ke rumah Bomi membuat semuanya semakin kacau. Terutama, setelah berita menegangkan yang membuat Bomi dan Naeun semakin yakin bahwa kehidupan mereka tidak akan lama lagi.

*

“Hei, Son Naeun!” Myungsoo mengguncang-guncangkan tubuh gadis itu. “Bangunlah! Ini bukan waktunya untuk bercanda!” teriaknya.

Laki-laki itu mengguncang tubuh Naeun lagi, namun Naeun sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan bangun. Myungsoo mengerang kesal, kemudian ia membawa gadis itu ke dalam pelukannya.

“Myungsoo, dia pingsan sama seperti itu,” kata Namjoo menjelaskan.

Myungsoo membalikkan badannya. “Sama seperti itu? Dia bisa pingsan berhari-hari kalau sama seperi itu! Bahkan tak ada obatnya.”

Jaehyun tertawa. “Kita bisa membenarkan program-nya, bodoh. Sekarang bawa dia ke kamarnya setelah itu kita perbaiki Desktor-nya. Ada yang salah dengan Desktor-nya atau—“ Jaehyun menyeringai ke arah Myungsoo. “—memang dia merasakan sesuatu yang baru?”

“Apa maksudmu?” tanya Myungsoo bingung.

Myungsoo membawa Naeun ke dalam pelukannya, lalu menggendong gadis itu menuju tangga. Sedangkan Jaehyun hanya tersenyum kecil dan mengekori Myungsoo. Ia memilih untuk bungkam daripada harus menjawab pertanyaan Myungsoo.

“Apa yang terjadi?” tanya Bomi.

Namjoo tersenyum. “Bukan sesuatu yang besar. Dia hanya pingsan dalam beberapa hari jika tidak ada yang membenarkan Desktor-nya karena dia pasti merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Misalkan perasaan cinta—mungkin? Robogent yang mengalami hal itu pasti langsung pingsan agar tubuhnya bisa beradaptasi pelan-pelan menjadi manusia.”

“Hah?”

Bomi mengerutkan keningnya ke arah Namjoo dengan bingung. Ia bahkan tidak tahu ada hal-hal sepert itu atau memang ia belum menyelesaikan buku panduan Robolars yang diberikan Namjoo beberapa waktu yang lalu.

“Intinya, dia akan berubah menjadi manusia lebih mudah daripada kalian berdua—Jaehyun termasuk.”

“Ah, sial benar,” cibir Bomi. “Aku yakin yang melakukan itu adalah Myungsoo—Kim Myungsoo. Dasar laki-laki menyebalkan. Dia berkata bahwa dia tidak menyukai Naeun dalam perasaan spesial.”

“Tentu saja dia tidak akan mengatakannya,” komentar Sungjong. “Lagipula, dia pasti ingin mengatakannya langsung kepada Naeun.”

Namjoo menghadap ke arah Sungjong. “Kau tahu apa tentang laki-laki itu? Aku dengar dia yang menciptakan Jaehyun dan dia ada di tahun 3000. Aku tidak percaya soal itu.”

Laki-laki itu tersenyum misterius. “Bukan masalah. Myungsoo hanya mengalami sesuatu yang berbeda nanti. Ini tergantung pada kita nanti memenangkan Kim Joon-Myeon atau tidak.”

“Menyeramkan,” Bomi mencibir. “Aku tidak bisa membayangkannya.”

“Kalian tidak usah takut,” kata Sungjong berusaha menenangkan Bomi yang daritadi bersikap ketakutan. “Karena kami akan membantu kalian bertiga—atau berempat?”

“Berempat?”

“Kim Myungsoo?”

Namjoo tertawa meremehkan. “Apa laki-laki itu akan ikut membantu? Maksudku, apa dia punya keahlian untuk melawan Kim Joon-Myeon? Dia bahkan tidak pernah bertemu pria tua itu.”

Bomi mengangguk menyetujui Namjoo, tapi Sungjong justru tertawa. “Kita ikutkan dia. Dia bisa membantu kita dalam hal-hal kecil.”

“Jadi, kita tetap menggunakan pesawat tersebut?” tanya Bomi polos.

Sungjong tertawa lagi untuk entah kesekian kalinya ke arah Bomi. Ia mengangguk pelan. “Tentu saja, pengawal Kim Joon-Myeon tidak terhitung. Aku yakin, dia tidak akan membawa pesawat atau yang lainnya. Dia hanya akan membawa pengawal-pengawalnya saja.”

“Tidak mungkin,” tukas Bomi. “Dia pasti membawa sesuatu yang besar atau Barvseu.”

“Barvseu sudah dihancurkan olehnya,” kata Sungjong.

“Dia pasti bohong soal itu. Aku yakin dia bohong karena dia tidak bisa melawan tanpa ada bantuan dari Barvseu,” kata Namjoo yakin. “Dia merupakan pria pengecut. Dia pasti membutuhkan bala bantuan seperti Barvseu.”

“Itu benar. Kita harus siap dengan semua yang akan datang nanti. Terutama dengan apa yang akan terjadi di akhirnya—kita kalah atau menang. Bukan kita yang menentukan,” jelas Bomi.

Gigi mereka bertiga saling bergemeletuk karena ketakutan. Lawan terbesar yang pernah ada. Pria tua dengan pengawal-pengawalnya tampak seperti seorang Raja dan prajuritnya.

**

Suara tetesan air membangunkan Naeun. Perlahan ia membuka matanya. Tidak banyak yang bisa dilihat. Ia berbaring di kasur empuk yang ia kenali. Ia mengerjap dan saat itu juga ia menyadari bahwa ia memang masih berada di kamarnya.

Naeun beranjak duduk dan langsung menyesal. Rasa sakit yang panas menusuk kepalanya seperti paku besar, diikuti oleh gelombang mual yang menyiksa. Kalau ada seusuatu di dalam perutnya, ia pasti langsung muntah.

Ia melirik ke kanan dan ke kiri hingga ia menyadari bahwa ada Myungsoo di samping tempat tidurnya. Kepalanya terbaring di atas tempat tidur Naeun dengan kedua tangan sebagai bantalannya.

Dengan hati-hati, Naeun mengangkat tangannya lalu menyentuh rambut Myungsoo. Ia tersenyum saat ia berhasil menyentuh kepala laki-laki itu dan mengusapnya secara perlahan. Rambut halus milik Myungsoo membuat Naeun semakin ingin mengusapnya.

Namun detik selanjutnya, kepala Myungsoo bergerak menandakan bahwa laki-laki itu mulai terbangun. Cepat-cepat Naeun menarik tangannya kembali dan berpura-pura menatap kuku-kukunya yang sama sekali tidak menarik. Naeun bisa melirik dari sudut matanya bahwa Myungsoo sudah mengangkat kepalanya dan menguap lebar.

“Oh, kau sudah bangun?”

Naeun mengangguk pelan. Ia menurunkan tangannya, lalu menatap Myungsoo serius. “Apa yang terjadi denganku? Lebih tepatnya?”

“Kau pingsan seperti itu. Tapi, hanya beberapa jam karena Jaehyun sudah mengerjakan program rusak yang ada pada Desk—Desktop? Desktor?”

Naeun mengangguk lagi. “Iya, Desktor dan kau sendiri? Kau menungguiku?”

“Yap,” jawab Myungsoo sambil bangkit dari kursinya lalu ia berjalan menuju pintu kamar Naeun. Ia membuka pintu kamar tersebut dan membuat pintu itu menjerit. “Ada apa dengan pintumu?”

“Aku tidak tahu.” Naeun menghela nafas panjang. “Nanti bisa aku betulkan.”

Myungsoo hanya mengangguk kemudian ia membalikkan badannya. “Kau mau makan? Kau sudah pingsan dari tadi pagi dan artinya kau belum makan siang dan makan malam.”

Naeun mengangguk. Pantas saja ia merasakan bahwa perutnya benar-benar sakit saat terbangun tadi. Rupanya ia sudah pingsan sejak tadi pagi. Naeun melompat turun dari tempat tidurnya karena sudah tidak tahan lagi. Ia berjalan terseok-seok menuju kamar mandinya.

Wangi pengharum ruangan yang sebenarnya kapur barus itu menyeruak masuk ke hidung Naeun ketika ia membuka pintu kamar mandi. Gadis itu melangkah menuju wastafel dan segera membuka kerannya. Air dingin mengalir melalui tangannya dan menuju wajahnya. Dengan mata tertutup, tangannya meraba-raba mencari sabun cuci mukanya. Seusai mencuci mukanya, ia menyeka air yang ada di wajahnya dengan handuk.

Ketika ia keluar dari kamar mandi, pintu kamarnya ikut terbuka dan masuklah Myungsoo dengan nampan yang diatasnya ada sebuah mangkuk. Naeun bisa mencium bau bubur hangat yang ditaburi ayam di atasnya. Gadis itu kembali naik ke atas tempat tidurnya.

Myungsoo duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Naeun. Lalu, ia mengambil sendok dan mulai mengaduk bubur tersebut. Naeun memperhatikannya dengan seksama. Ia akan menolak mentah-mentah untuk makan bubur jika suasanya tidak sedang genting.

“Ayo, makan.”

“Aku bisa makan sendiri,” tolak Naeun dengan wajah tersinggung.

Myungsoo mengabaikannya, ia justru mengambil sesuap bubur ke atas sendok dan menyodorkannya ke mulut Naeun. Naeun menerimanya dengan terpaksa dan menelannya secara perlahan. Ada daging ayam kecil yang terselip diantara bubur tersebut.

“Kau tidak suka bubur?” Myungsoo bertanya. Ia kembali mengaduk bubur tersebut.

Bahunya langsung merosot saat mendengar pertanyaan Myungsoo. Ia mengangguk terpaksa. “Aku tidak suka bubur, tapi jika suasananya sedang genting—ya, aku harus terpaksa memakannya.”

Myungsoo tertawa tertahankan. “Kau harus menyukainya.”

**

“Kalian mau kemana?” Namjoo bertanya saat ia melihat Jaehyun dan Bomi yang diam-diam meninggalkan Namjoo.

Faylars itu sendiri tengah menyempurnakan pesawat buatan Robolars itu dan dibantu oleh Sungjong. Jaehyun dan Bomi langsung berhenti melangkah lalu menghela nafas dengan terpaksa.

“Kita mau—“

“Mengganggu Myungsoo dan Naeun,” lanjut Bomi ketika Jaehyun ingin menyelesaikan kalimatnya. Jaehyun langsung menyenggol gadis itu seakan ia tidak setuju jika Bomi membeberkan rahasia mereka.

Namjoo langsung tertawa ketika mendengar ucapan mereka. Ia mengepakkan sayapnya dan turun meninggalkan Sungjong yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Namjoo menyeringai ke arah mereka dan langsung disambut dengan helaan nafas Jaehyun.

“Kau mau ikutan?” tanya Jaehyun.

“Tentu saja!” Namjoo langsung bersemangat. “Siapa yang tidak ingin melewatkan momen-momen berharga ini. Ngomong-ngomong, siapa yang menyarankan ide jahil ini?”

Bomi langsung menunjuk Jaehyun dengan ibu jari tangan kanannya. Jaehyun pun memberengut kesal tapi ia sendiri senang.

“Kenapa?” tanya Namjoo.

“Maksudnya?” Jaehyun justru balik bertanya.

Namjoo memutar bola matanya kesal karena Jaehyun tidak mengerti pertanyaannya. Sedangkan Jaehyun hanya menatapnya dengan perasaan tidak bersalah, lalu mengangkat bahunya.

“Maksudku, dengan alasan apa kau merencanakan hal ini?”

“Ah itu—“ Jaehyun menyeringai lagi. “—karena Naeun pernah menebarkan celana dalamku. Aku mau balas dendam dan sekarang adalah saatnya. Setahuku tadi Myungsoo membawakan bubur ke kamarnya dan mengatakan bahwa Naeun sudah siuman.”

Ya! Namjoo, bantu aku!” seru Sungjong dari atas dan hanya disambut dengan gelengan kepala Namjoo dengan malas.

“Aku tidak mau!” jawab Namjoo. “Aku mau melakukan misi rahasia dulu.”

“Sialan kau, Kim Namjoo.”

Namjoo hanya tertawa saat mendengar gerutu Sungjong. Jaehyun, Bomi, dan Namjoo langsung bergegas meninggalkan halaman belakang lalu melangkah dengan hati-hati menuju tangga. Ketika mereka tiba di lantai dua, mereka bisa mendengar tawa Naeun dan Myungsoo secara bersamaan. Bomi dengan sigap mengambil langkah duluan dan menyuruh keduanya mengikutinya.

Pst, ayo.

Sabar,” bisik Jaehyun. “Yah, Namjoo, cepatlah.

Ketiganya pun tiba di depan kamar Naeun dan mereka langsung membuka pintu kamar Naeun secara perlahan. Tawa diantara Myungsoo dan Naeun belum juga selesai waktu ketiganya mendapatkan celah untuk mengintip. Bomi yang berada paling depan bisa melihat Myungsoo tengah menyuapkan makanan ke mulut Naeun.

Astaga,” bisik Bomi karena iri. “Kenapa mereka tidak pacaran saja sih?

Jangan tanya padaku bodoh. Aku bukan pakar cinta,” sahut Jaehyun malas.

Tanpa sadar, Myungsoo sedikit menoleh ke arah pintu. Laki-laki itu mendengar beberapa bisikan-bisikan horor yang membuatnya menoleh. Karena Myungsoo menoleh ke belakang, Naeun jadi ikut-ikutan menoleh ke belakang Myungsoo dan mencari-cari apa yang sedang dilihat oleh Myungsoo.

“Ada apa?” tanya Naeun.

Myungsoo membalikkan badannya dan menggeleng pelan. “Tidak ada, aku Cuma merasa mendengar sesuatu seperti bisikan. Tapi saat aku menoleh tidak ada siapapun.”

“Kau hanya berimajinasi. Tidak ada setan disini dan percayalah padaku.”

“Aku juga tidak percaya soal setan,” ucap Myungsoo. Ia menaruh piring bekas bubur Naeun yang sudah habis dan meletakkannya diatas nampan. Kini, ia beralih pada gelas putih bening yang berisi jus jeruk, kemudian ia menyerahkannya kepada Naeun.

“Kenapa jus jeruk?” tanya Naeun sambil menerima gelas tersebut.

“Aku tahu kau menyukai stroberi tapi sekarang kita tidak punya stroberi disini.” Myungsoo tersenyum tipis. “Sekali-kali kau harus mencoba sesuatu yang baru, Naeun-ah.”

Ne, ne, arasseo.” Naeun segera meminum jus jeruk tersebut dalam sekali minum dan langsung ia habiskan. “Enak,” ujarnya sambil menyerahkan gelas tersebut kepada Myungsoo. “Gomawo ne.

“Bukan apa-apa,” kata Myungsoo sambil merapikan piring dan gelas diatas nampan. Kemudian, ia bangkit dan berkata, “setelah ini kita keluar lagi. Tugasmu sudah selesai kan?”

“Um.” Naeun berpikir sejenak lalu mengangguk. “Sudah. Ini jam berapa memangnya? Apa kita boleh keluar semalam ini?” tanyanya.

Myungsoo langsung mengangkat tangannya dan melihat ke arah jam digitalnya yang menunjukkan pukul 19:00. Ia mengangguk. “Ini memang sudah malam, tapi masih jam 7. Kita hanya akan mencari udara segar dan aku yakin Bomi pasti mengizinkan kita.”

Arasseo,” kata Naeun sambil tersenyum. “Kita berangkat setelah aku ganti baju—dan aku rasa kau juga perlu ganti baju. Aku bisa mencium bau keringat dari tubuhmu tadi.”

“Naeun,” Myungsoo menggerutu. “Aku tidak mencium bau itu.”

Ne, ne, aku hanya bercanda.”

**

Bomi melirik ke arah Myungsoo dengan kesal. Laki-laki itu mengeratkan syal yang melilit di lehernya kemudian tersenyum meremehkan ke arah Bomi. Bomi hanya mendengus pelan.

“Kalian mau kemana?”

“Mau mencari udara segar,” kata Myungsoo santai. “Kau mau ikut?”

“Tidak usah,” jawab Bomi ketus. “Aku tidak butuh udara segar. Lagipula, Naeun baru saja sembuh.”

Myungsoo langsung tertawa pelan. “Naeun adalah robot dan ia sembuh karena Jaehyun baru saja memperbaiki Desktor-nya.”

Bomi terdiam sejenak. Lalu, gadis itu memutar bola matanya malas. “Terserah kau. Jangan pulang malam, kalau pulang terlalu larut, aku tidak akan segan-segan mengunci pintu rumah.”

“Baiklah, Nona,” kata Myungsoo sambil tersenyum senang.

Tak lama kemudian, Naeun menuruni tangga dengan jaket cokelat tebalnya dan juga sebuah syal merah yang melilit di lehernya. Gadis itu menjalin seluruh rambutnya menjadi satu dan membiarkan angin menerpa juntaian rambut yang menggantung di dekat pelipisnya.

“Ayo,” ajak Myungsoo setelah Naeun mengucapkan salam perpisahan pada Bomi dan dihadiahi ejekan dari Bomi.

Keduanya melangkah keluar dari rumah Bomi dan menuju mobil Myungsoo yang terparkir di belakang mobil Jaehyun. Ia mengeluarkan kunci mobil yang daritadi terpendam di dalam saku jaketnya. Kunci pintu mobilnya langsung terbuka ketika Myungsoo menekan sebuah tombol diatas kunci mobilnya.

Naeun langsung masuk ke dalam mobil Myungsoo melalui pintu kanan, sedangkan Myungsoo masuk melalui pintu kemudi. Ia langsung melajukan mobilnya dengan kencang ketika ia sudah mengeluarkan mobilnya dari garasi dengan mulus.

Pagar rumah Bomi yang tertutup sendiri tidak menyusahkan mereka setidaknya.

Keduanya memilih diam dalam keheningan, menyibukkan diri mereka dengan aktifitas masing-masing. Naeun yang sibuk dengan pemandangan luar jendela walaupun gelapnya malam saat itu benar-benar menutup pemandangan indah dan juga Myungsoo yang menyibukkan diri dengan kemudinya. Ia memilih fokus dengan kemudinya daripada ia harus berbicara dengan Naeun dan menyebabkan kecelakaannya.

“Nah, kita sudah sampai,” kata Myungsoo. Ia menarik kopling mobilnya lalu mematikan mesin mobilnya. Sebelum keluar dari mobilnya, ia mencabut kunci mobilnya bersamaan dengan Naeun yang juga keluar dari mobil Myungsoo.

Naeun menghirup nafas dalam-dalam sambil merentangkan tangannya. Udara segar Kota Incheon membuat tubuhnya menjadi segar kembali. Sesaat ia memperhatikan Myungsoo yang tengah mengatur-ngatur kamera polaroidnya. Ia mengerutkan keningnya.

“Untuk apa kau membawa kamera?” tanyanya. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada dan menghampiri Myungsoo.

Myungsoo hanya bergumam sambil sibuk menyetel tombol-tombol pada kameranya. Setelah selesai, ia mengarahkan lensanya pada wajah Naeun. Sontak, Naeun langsung tersenyum cerah. Kilatan blitz yang keluar dari kamera membuat Naeun berkedip.

“Ini,” kata Myungsoo sambil menyodorkan selembar hasil foto polaroid yang sudah jadi.

Gomawo,” ujar Naeun sambil tersenyum. Ia menerima foto tersebut dan memperhatikan fotonya yang menurutnya tampak manis itu. Kemudian, ia melangkah menuju bangku kosong yang ada di bawah lampu.

Taman kota tersebut cukup ramai dan terang. Ada banyak anak-anak yang memilih bermain di halaman berpasir yang diatasnya terdapat beragam mainan anak-anak.

Naeun dengan santai menaikkan kedua kakinya, lalu ditekuknya, dan meletakkan dagunya diatas lututnya. Sedangkan Myungso sendiri tengah memotret anak kecil dan juga diam-diam memotret Naeun dengan kamera polaroidnya—untuk disimpan sendiri.

“Bagaimana?” tanya Myungsoo sambil mengambil tempat disamping Naeun. Naeun menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengangguk. “Ini adalah taman terindah yang pernah aku kunjungi di Incheon,” ujar Myungsoo. “Taman ini bukan taman seperti pada umumnya. Disini lebih ramai di malam hari karena biasanya orang-orang selalu memasang kembang api.”

“Kembang api?”

Myungsoo mengangguk. “Mereka membelinya dengan uang yang dikumpulkan dan memasangnya setiap malam Selasa. Hari ini Selasa bukan?” Naeun mengangguk pelan. “Jadi, kita bisa melihat kembang api yang kira-kira akan dipasang sebentar lagi.”

“Hebat,” komentar Naeun. “Kau tau segalanya.”

“Tentu saja,” ujar Myungsoo bangga. “Aku sering kesini dulu waktu masih SMP dan saat mengunjungi makam orang tuaku, aku akan menunggu hari Selasa dulu. Kembang api—aku sangat menyukainya. Warna mereka beragam. Mereka indah sesaat.”

“Sesaat?” Naeun mengerutkan keningnya.

Myungsoo menoleh ke arah Naeun sekilas dan terkekeh pelan. “Tentu saja, kembang api hanya di langit sebentar dan setelah itu mereka hilang. Mereka akan terganti oleh yang baru.”

“Oh iya,” Naeun membenarkan perkataan Myungsoo. “Kau benar.”

“Kau harus memperhatikan hal-hal seperti itu. Jika kau sering melakukannya, aku menjamin hidupmu akan bahagia.”

“Hidup tidak akan bahagia jika tidak ada cinta tahu,” ujar Naeun. “Aku sendiri sama sekali belum merasakan cinta. Cinta yang kutahu itu aneh.”

Myungsoo tertawa rendah. “Kau benar. Cinta itu—aneh—tidak menyenangkan. Tapi, jika kau mengalami dengan orang yang kau cintai, sesungguhnya menyenangkan. Seperti cerita cintaku dengan Suzy—hanya manis diawal dan pahit di akhir. Tidak ada yang selamanya bukan? Huh.”

“Setidaknya kau pernah merasakan cinta.”

“Apa kau tidak merasakan cinta sekarang?”

“Maksudmu?”

Myungsoo menarik pergelangan tangan Naeun dan membuat Naeun menoleh ke arah Myungsoo. Wajah mereka kini sangat dekat sehingga Naeun harus menahan nafasnya dan juga degup jantungnya.

“Apa kau sekarang merasakan cinta?” tanya Myungsoo.

Kedua matanya menatap ke dalam mata Naeun. Naeun terdiam sejenak. Ia bahkan tidak bisa berkata apapun ketika Myungsoo semakin dekat dengan wajahnya. Ketika jarak antara mereka hampir habis, kembang api pun tergambar di langit.

Myungsoo langsung tertawa pelan. Perlahan, ia melepaskan pergelangan tangan Naeun. Naeun sendrii hanya mencoba mengatur degup jantungnya yang terus-terusan berdentum. Keduanya diam dan memperhatikan keindahan kembang api yang terus-terusan dikirim ke langit.

**

YA! Minggir sedikit,” sahut Sungjong sambil menggeser Bomi ke kiri.

Bomi justru jadi menyikut Jaehyun yang tidak tertarik sama sekali dengan misi orang-orang sinting tersebut. Ia justru sibuk bermain game dalam ponselnya dan menimbulkan suara-suara yang tidak diinginkan oleh Namjoo, Bomi, dan juga Sungjong.

Mereka berempat—anggap saja Jaehyun mengikuti misi sinting mereka—rupanya sedang menguntit Myungsoo dan Naeun. Daritadi mereka hanya cekikan saat melihat Myungsoo dan Naeun yang tampak romantis menurut mereka.

“Aduh, Naeun itu bodoh atau apa?” tanya Sungjong kesal.

Bomi memberengut. “Kau pikir dia bisa mengerti perasaan Myungsoo?”

Namjoo pun ikut-ikutan menyetujui perkataan Sungjong dan dihadiahi dengan lirikan tajam dari Sungjong. “Apa kau bodoh?” tanya Sungjong. “Jika myungsoo menyukainya, otomatis Naeun pasti akan mengalami perubahan. Apa kau tidak membacanya, Namjoo?”

“Membaca apa dan perubahan apa? Aku sama sekali tidak mengerti dengan perkataanmu,” kata Namjoo polos.

Bomi sendiri hanya sibuk memperhatikan kedua orang tersebut yang tengah asik tertawa riang dan memasang kupingnya mendengarkan pembicaraan Namjoo-Sungjong yang siapa tahu bisa berguna baginya. Dengan keker yang dibawanya tadi, ia bisa melihat Myungsoo-Naeun lebih jelas, dan tentu saja ia kini tertawa bahagia mengejek kedua orang itu.

“Jadi, di buku Robolars itu dijelaskan kalau kau mencintai seseorang, kau akan mengalami perubahan. Kau disini maksudnya Robolars itu bukan kau—Kim Namjoo, jika kau tidak mengerti.”

Namjoo otomatis langsung menjitak kening Sungjong kesal. “Aku tentu saja mengerti dengan perkataanmu bodoh!” Sungjong sendiri hanya memberikan cengirannya.

“Lagipula, kau aneh. Kau memasang wajah bodoh, makanya itu aku menjelaskannya lagi padamu,” jelas Sungjong. Ia tentu saja tidak mau kalah daripada Namjoo walaupun mereka merupakan sepasang kekasih.

“Sudahlah, jelaskan saja.”

“Intinya,” lanjut Sungjong. “Kalau dia merasakan cinta, dia akan pingsan seperti kemarin. Artinya, dia mulai merasakan cinta. Dia pasti sudah merasakannya walaupun dia tampak orang bodoh yang tidak tahu cinta.”

“Kau serius?”

“Tentu saja aku serius.”

Namjoo menghela nafas. “Terserah deh, tapi ya sudahlah.”

“Hei, hei! Apa yang mereka lakukan?” ujar Bomi tiba-tiba. Ia memutar kekernya semakin dekat dengan wajah Myungsoo-Naeun yang berdekatan. “Apa mereka akan berciuman?”

Sungjong terkekeh pelan. Ia menyambar keker milik Bomi. “Tidak bodoh. Yang jelas, Myungsoo pasti mengatakan sesuatu.” Sungjong mengembalikan keker milik Bomi dan tepat saat itu kembang api pun meledak di langit. “Oh, oh, aku mengerti sekarang.”

Namjoo dan Bomi sama-sama mengerutkan kening mereka. “Apa maksudmu? Jangan bicara setengah-setengah.”

Dengan sabar, Sungjong menunjuk langit dan juga Myungsoo-Naeun yang kini diam-diaman menatap langit. “Lihat, Myungsoo membawa Naeun kesini pasti karena ada kembang apinya. Keterlaluan laki-laki itu, tidak bisa mencari sesuatu yang romantis?”

“Daripada kau,” sindir Namjoo kesal. “Kau tidak pernah mengajakku kemanapun.”

“Kalian masih mending, aku sama sekali tidak ada pasangan,” ujar Bomi berpura-pura sedih.

Sungjong tertawa pelan dan diikuti dengan senyum licik yang muncul di bibir Namjoo. Rupanya mereka berdua merencanakan sesuatu. “Kau sendiri?” tanya Sungjong iseng. Lalu, matanya melirik ke arah sesuatu—atau lebih tepatnya seseorang—di belakang Bomi. “Lalu itu apa?”

Otomatis, Bomi membalikkan badannya dan mendapatkan Jaehyun yang masih sibuk dengan game-nya dan sama sekali tidak mendengar perkataan ketiga orang sinting itu.

“Aku—tidak—sepadan—dengannya,” tegas Bomi.

“Lama-lama juga kau akan suka padanya,” celetuk Namjoo.

YA!”

“Hei, kapan kita akan pulang?” tanya Jaehyun tiba-tiba.

Ketiganya langsung terdiam dan menoleh ke arah tempat dimana Myungsoo-Naeun duduk. Bomi langsung membulatkan matanya ketika melihat Myungsoo-Naeun yang sudah hilang di tempat. Matanya mencari-cari keberadaan dua orang tersebut dan menangkap keduanya sudah menuju mobil.

“Kita pulang sekarang! Mereka sudah mau pulang juga!”

**

Keduanya tiba ketika rumah Bomi dalam keadaan sepi dan tak ada tanda-tanda kehidupan. Myungsoo menduga bahwa semuanya telah tidur. Naeun sendiri yang masih menambil beberapa kantung belanjaan di bagasi mobil segera menyusul Myungsoo masuk ke dalam rumah.

“E—Eh, gelap,” komentar Naeun.

Myungsoo pun langsung tersenyum kecil mendengar Naeun berkomentar seperti itu. “Kau ini lucu sekali,” kata Myungsoo. “Ayo masuk, aku akan mengikutimu dari belakang.”

“Kenapa kau yang di belakang?” tanya Naeun bingung.

Myungsoo langsung menghela nafas panjang. “Laki-laki yang melindungi gadis dari belakang. Ayo, jalan duluan.”

“Uh—Baiklah,” kata Naeun ogah-ogahan. Ia pun melangkah masuk melewati Myungsoo yang hendak menutup pintu. Kemudian keduanya mulai melangkah dengan hati-hati bak pencuri.

Walaupun Myungsoo ragu, ia pun memutuskan untuk mencengkram pergelangan Naeun dengan erat dan membuat darah Naeun langsung berdesir. Keduanya melangkah dengan hati-hati. Myungsoo dengan sabar mengikuti langkah Naeun yang kecil-kecil dan pelan itu. Ia mengerti bahwa Naeun memilih untuk berhati-hati daripada harus terburu-buru.

Toh, mereka juga bukan pencuri.

Ketika keduanya tiba di dapur, Myungsoo langsung meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Ia langsung menekan saklar lampu setelah mendapatkannya. Lampu langsung menyinari seluruh ruangan. Myungsoo pun bergerak menuju kulkas dan menaruh buah-buahan yang dibawanya. Sedangkan Naeun sendiri mengatur belanjaan yang ada dalam kantung yang dibawanya—menatanya masuk ke dalam lemari makanan.

Beberapa telur yang dibeli mereka segera diletakkan oleh Naeun ke atas rak telur dan berjajar dengan rapi. Sekotak keju yang dibeli oleh Myungsoo juga Naeun masukkan ke dalam lemari makanan. Dalam sekejap, barang-barang belanjaan mereka ludes dan sudah tertata rapi di tempatnya masing-masing. Keduanya menghela nafas lega.

Myungsoo menoleh ke arah Naeun. “Mau coklat panas?”

Gadis itu berpikir sejenak lalu ia menoleh ke arah Myungsoo dan memberikannya anggukan antusias sambil tersenyum. “Jangan terlalu panas, hangat saja. Aku mau membawanya ke kamar.”

Arasseo, kau menyukai coklat hangat bukan coklat panas. Lain kali aku cari stroberi hangat kalau ada,” kata Myungsoo sambil mengambil dua bungkus coklat instan. Naeun sendiri hanya tekekeh pelan mendengar perkataan Myungsoo.

Memang benar, Naeun menyukai stroberi. Tapi, bukan berarti ia harus memiliki segala yang berbau stroberi atau pink sebagai warnanya. Kenyataannya, ia menyukai coklat juga sebagai pengganti stroberi.

Lama-lama, ia juga mual karena terlalu banyak makan stroberi atau minum sesuatu yang berbau stroberi. Tak lama kemudian, Myungsoo sudah siap dengan dua gelas coklat hangat di tangannya. Laki-laki itu menyodorkan cangkir yang ada di tangan kanannya pada Naeun. Dengan sigap, Naeun menerimanya.

Gomawo,” komentar Naeun. Myungsoo hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu, gadis itu bangkit dari tempat ia duduk—lantai—untuk bersiap melangkah menuju kamarnya.

Tapi, sebelum ia benar-benar naik ke lantai dua, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ia meletakkan cangkirnya di atas salah satu anak tangga dan menghampiri Myungsoo yang memilih untuk menghabiskan coklatnya di dapur.

Menyadari bahwa Naeun kembali lagi, ia membalikkan badannya. “Ada apa? Ada yang tertinggal?”

“Ada,” katanya. Tiba-tiba saja wajahnya memerah. Dengan gerakan yang cepat dan bahkan tidak bisa Myungsoo tangkap, gadis itu mengecup pipinya. “Itu—uh—ucapan terimakasih untuk hari ini.”

Sebelum Myungsoo sempat mengucapkan satu kata, Naeun sudah melengos pergi dengan cepat dan menahan rasa malunya. Gadis itu meraih cangkirnya dan dengan hati-hati menaiki tangga dengan cepat.

Ketika ia tiba di kamarnya, barulah Naeun berteriak kencang menyalahkan dirinya sendiri. Gadsis itu bahkan membanting tubuhnya ke atas tempat tidur dan berteriak di balik bantalnya. Kemudian, ia terduduk di atas tempat tidurnya dan tersenyum kecil.

“AH! Ada apa denganku?” Naeun bermonolog layaknya orang tidak waras. “Kenapa aku mencium pipinya? Astaga! Astaga! Ada apa denganku? Ayolah, Son Naeun! Kau pasti sudah sinting. Besok, kau harus berobat ke Jaehyun atau kau akan sinting selamanya.”

Kemudian, ia kembali menelungkupkan badannya di atas kasur dan menggerakkan badannya dengan lincah tanpa henti disana. Seperti cacing yang kepanasan, ia tidak bisa diam sampai tengah malam.

Saat semua orang sudah tertidur, ia sendiri masih belum tertidur karena peristiwa tadi. Walaupun jiwanya masih segar, ia sama sekali tidak menyadari bahwa ada bahaya yang mengancam dirinya dan semua orang di dalam rumah tersebut.

**

Dengan cengiran yang muncul di bibirnya, ia mengetuk pintu kamar Jaehyun. Walaupun ia tahu ini tidak benar, tapi ia tetap melakukannya. Sampai akhirnya, terdengar sebuah suara untuk menyuruhnya masuk dari dalam.

“Ada apa kau kesini?”

Ia menutup pintu kamar Jaehyun. Jaehyun sendiri langsung membalikkan badannya—laki-laki itu tengah terduduk di atas tempat tidurnya—dan menatap Naeun dengan malas.

“Jangan bilang kau kesini untuk melakukan operasi harta karun?”

Tawa Naeun langsung meledak. Ia memegangi perutnya dengan tawa yang masih bersuara di mulutnya. “Ayolah!” Naeun melambaikan tangannya ke arah Jaehyun usil. “Aku kesini tentu saja untuk sesuatu yang lebih penting.”

Tanpa malu-malu, Naeun langsung duduk diatas tempat tidur Jaehyun dan menarik nafas dalam-dalam. Jaehyun sendiri hanya mengerutkan keningnya menatap tingkah gadis itu.

“Aku kesini karena aku merasa aku sudah sinting,” katanya.

Jaehyun langsung memutar bola matanya. “Kau memang sudah sinting dari dulu. Jadi, sekarang keluar dari kamarku karena aku tidak bisa mengatasinya.”

“Ayolah,” kata Naeun memaksa. “Aku benar-benar merasa gila. Kenapa aku bisa sampai-sampai mencium pipi Myungsoo tadi malam?”

“Son Naeun,” kata Jaehyun dengan marah. “Itu artinya bukan gila. Kau me-nyu-ka-i-nya, bodoh. Cinta. Kau tahu cinta kan?”

“Astaga, itu tidak mungkin,” tolak Naeun. “Aku tidak mungkin memiliki perasaan padanya.”

Jaehyun kembali memutar bola matanya dengan malas. “Aku malas menjelaskannya padamu. Yang jelas, Bomi, Namjoo, dan Sungjong juga tahu bahwa kau dan Myungsoo sama-sama memiliki perasaan yang sama.”

Naeun langsung tertawa. “Aku tidak percaya soal itu,” katanya. Wajahnya pun kembali serius menatap Jaehyun. “Aku serius Jaehyun. Tolong benarkan aku! Aku pasti sudah gila.”

“Itu bukan gila, bodoh!”

Jaehyun bangkit dari tempat tidurnya, lalu tak segan-segan ia menarik Naeun agar turun dari tempat tidurnya. Gadis itu terpaksa mengikuti Jaehyun dan Jaehyun segera menendangnya keluar.

Ia menghela nafas panjang, lalu ia menuruni anak tangga. Tepat saat itu, terdengar suara pasukan berderap. Bahkan, rumah Bomi ikut bergetar sampai-sampai Bomi muncul keluar dari dapur.

Naeun menatap Bomi dengan bingung dan Bomi juga sama-sama menatap Naeun dengan bingung. Myungsoo yang sedang menonton televisi pun ikut mengerutkan keningnya.

“Astaga!” Namjoo memekik.

“Kita harus bersiap sekarang!” kata Sungjong tak kalah terkejut.

“Tunggu! Siapa?” tanya Naeun bingung.

Namjoo menyahut dengan suara yang sangat pelan. Walaupun begitu, Bomi dan Naeun sama-sama merasakan bahwa keringat dingin mulai menjalari leher mereka. Tidak ada yang salah jika mereka harus merasakan hal itu. Sampai-sampai Jaehyun pun ikut muncul dari balik kamarnya dan menarik nafas dalam-dalam.

“Kim Joon-Myeon. . .”

**

Advertisements

15 thoughts on “[Chapter 13] 2050

  1. Aaaa… Thorr inii update jm brpa siih?? Kmren mlem blom adaa looh, dn skrng ising nyari udh lnjut ajaa,, ~ㅋㅋㅋㅋ doohhh myungeun scenenya dpt, hohoh mkin romantis ajaa mreka,, ayoo thorr lnjutkan (ง’̀⌣’́)ง fighting :3

  2. naeun mulai jatuh cinta ni ye~
    tambah penasaran saya sama ceritanya next chapter ditunggu ya thor~

  3. Ee cieee, myungeunnya tambah romantis tuh moment nyaa,,
    Itu naeun kenapa sihh, kok nyangkal mulu suka sama myung=))
    Wahh, kim joonmyeon nya udah dateng tuh, ga sabar nunggu next chapter, ditunggu secepatnya thorr~~

  4. waw waw waw…
    kelanjutannya ga sabaaar thor 😄
    penasaran banget, tuh beneran kim joon myeon?
    kyaa next chap nya ya thooor~
    😀 파이팅~ 🙂

  5. Aaaaaaa update soon soon soon really really soon authornim kkkk
    Suka suka suka ceritanya, myungeun momentnya juga.

  6. aaaaa.. aaku suka banget sama part ini.. myungeunnya banyak terus romantis romantis semua lagi … aaah udah Ceptan kalahin Kim Jonmyeon biar naeun sama myungsoo bisa bersatu hihihi.. ditunggu lanjutanyya author

  7. Masa aku suka bagian yang menjelang tbc, misterius misterius gimanaa gitu/?
    Next chapter ditunggu authornim~

  8. Naeun ya ampun lucunya~ Udah kelakuannya yg jahil itu, dan sekarang kelakuannya karena perasaannya itu, maka memang dia harus mulai disadari akan perasaannya. lel.
    Myungsoo tp main” ini mah.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s