[FF Freelance] The Butler’s Pole (Chapter 2 – END)

WPR215_11 - Copy

Scriptwriter : Liana D. S. // Fandom : Super Junior // Main Casts : Leeteuk (Park Jungsoo), Han Geng, Kim Kibum // Support Casts: Zhang Li Yin (SMEnt’s soloist), Kang Sora (actress) // Duration : Two-shots (6,8K+ words total) // Genre : Crime, Family // Rating : PG-17 // Previous: Chapter 1,

Disclaimer           : Han Geng, Kang Sora dan semua karakter dari SM Entertainment bukan milik saya, tetapi milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Plot sepenuhnya milik saya dan saya tidak menarik kepentingan komersial apapun dari penulisan FF ini.

Summary             : Leeteuk adalah kepala pelayan di Kediaman Kim. Profesionalismenya membuatnya sangat protektif terhadap Kim Kibum, majikannya. Semua penjahat yang mengancam sang majikan akan ditumpasnya. Akan tetapi, ia bertemu dengan satu penjahat paradoksikal yang mematahkan teori kutub positif-negatifnya. Potongan puzzle dari sang penjahat akan membawa Leeteuk pada kisah kegelapan, cahaya, dan zona abu-abu.

Cerita sebelumnya:  Han Geng adalah penjahat yang ditarik Kibum untuk menjadi pelayannya. Leeteuk sebagai kepala pelayan tidak menerimanya, tetapi ternyata, masuknya Han Geng ke Kediaman Kim merupakan bagian dari rencana Kibum yang tidak diketahui Leeteuk.

***

 

 

Part 2: Conclusion

Leeteuk mengemudikan mobil Kibum sesuai instruksi Han Geng. Selama itu, Leeteuk terus mencengkeram kemudi. Ia tak terima pria Cina itu menyuruh-nyuruhnya untuk belok kanan, belok kiri, terus hingga perempatan, dan sebagainya, dan sebagainya. Memangnya siapa pria itu? Hanya Kibum yang berhak memerintah Leeteuk; ini menurut Leeteuk. Akan tetapi, ia tidak ingin menerima amarah Kibum seperti tadi sebelum berangkat, jadi ia tahan semua rasa tidak puasnya dalam hati saja.

Semuanya akan segera jelas. Mengapa kontrak ini terjadi, ke mana kami menuju, dan apakah Han Geng akan kembali ke penjara, semuanya akan segera jelas jika aku bersabar sedikit lagi. Serangkaian kata itu terus diulang Leeteuk dalam benaknya untuk menguatkan dirinya.

Mobil hitam milik Kibum berhenti di depan sebuah mansion yang cukup besar, walaupun tidak sebesar Kediaman Kim. Mansion itu dijaga dengan ketat oleh beberapa bodyguard berseragam. Hal ini cukup mengherankan karena lokasi mansion itu sudah cukup terlindung.

Apakah orang-orang ini adalah sewaan Tuan Muda? Ada siapa di dalam sana; pejabat penting atau penjahat besar? Ataukah tempat ini sengaja diamankan untuk Tuan Muda dan Han Geng?

Leeteuk, Han Geng, dan Kibum turun dari mobil. Barikade bodyguard langsung membuka saat orang-orang berjas hitam itu melihat Kibum dan Leeteuk. Kibum dan Han Geng berjalan cepat melewati mereka, tak terlalu peduli pada kehadiran orang-orang itu. Berbeda dengan Leeteuk. Jujur, ia tak mengenali satupun bodyguard itu, padahal jika benar mereka sewaan Kibum, Leeteuk biasanya langsung mengenali mereka. Ini membuat Leeteuk sedikit sakit hati.

Sudah berapa banyak hal yang aku lewatkan? Kenapa Tuan Muda sama sekali tidak mengatakan apapun tentang rencana ini padaku?

Dan seperti film romantis, di mana para pemain punya kemampuan membaca pikiran pasangannya, Kibum berhenti, berjalan menuju Leeteuk, dan menggandeng tangan pelayannya itu. Tingkahnya (plus tinggi badannya yang memang kurang dari Leeteuk) membuatnya terlihat seperti adik kecil Leeteuk, padahal wajah minim ekspresinya juga tetap terpasang.

Ah, sudahlah. Leeteuk sepertinya cukup senang dengan perlakuan dari tuan kecilnya.

Pintu rumah terbuka. Tampak interior megah dan bersih dari rumah itu. Terdapat sebuah meja kecil di tengah ruang depan, ada vas keramik yang terisi mawar-mawar merah segar terletak di atasnya. Dua tangga memutar ‘membingkai’ ruang tengah di sisi kanan dan kiri, menambah keanggunan ruangan itu.

“Anda Kim Kibum, bukan?”

Telinga Leeteuk merasa familiar dengan suara ini, tetapi lupa di mana ia pernah mendengarnya. Barulah ketika si empunya suara menuruni tangga kiri, Leeteuk mengingatnya. Wanita berambut pendek itu adalah perempuan bawel yang hampir membunuh Leeteuk di pasar pagi.

Bagaimana wanita itu bisa ada di sini?

“Benar. Saya Kim Kibum,” Kibum membungkukkan tubuhnya, lalu memperkenalkan dua pelayannya, “Ini kepala pelayan saya, Leeteuk, dan yang ini Han Geng, atau Hankyung. Saya yakin Sora-ssi telah mengenal siapa Hankyung-ssi.”

Sora? Jadi wanita ini bernama Sora?

“Perkenalkan, ini Kang Sora. Dia polisi yang kutugaskan untuk memimpin pengamanan mansion ini.” Kibum mengarahkan telapak tangannya pada Sora, yang mengagetkan Leeteuk dan Han Geng.

Wanita cerewet itu ternyata adalah polisi khusus? Dan aku tak mengenalinya? Tuan Muda, apa saja yang Anda sembunyikan dariku?

Wanita ini… menjaga mansion? Itu berarti dia juga menjaga—

“Wah, pria tak sopan yang menabrak Eonni, bukan?” Sora tertawa renyah, lalu menepuk-nepuk punggung Leeteuk seperti teman lama, “Santai, Tuan. Aku tidak akan membunuhmu, apalagi kau kepala pelayan yang paling dihormati di Kediaman Kim. Mari bekerja sama!”

Kibum tertawa kecil. “Dia sangat mudah tegang, Sora-ssi. Harap maklum; Leeteuk-ssi memikul tanggung jawab berat di pundaknya. Terlebih dengan ketidaktahuannya mengenai rencana kita, pasti ada ganjalan besar di hatinya saat bertemu denganmu.”

“Oh, begitu? Aih, pria tak boleh sering tegang. Kau pernah dengar stroke, Leeteuk-ssi? Itu biasanya terjadi saat orang sedang stres dan mengalami tekanan darah tinggi. Kurasa pria lebih rentan mengalaminya!” Sora memperingatkan. Leeteuk mengiyakan sambil meringis kurang nyaman.

Kibum berdehem dan Sora langsung sadar sesuatu. “Oh, maaf, maaf. Harusnya aku mengantar kalian, ‘kan? Ya, ya, mari ikuti aku.”

Sora memimpin para pria menaiki tangga kanan, kemudian mereka berempat menyusuri lorong yang menghubungkan kedua tangga ruang depan. Di ujung lorong itu, ada sebuah pintu kayu eboni yang tertutup rapat. Pintu itu tampaknya jarang sekali dibuka-tutup, biarpun Leeteuk menduga usia pintu itu sudah puluhan tahun. Mansion Kim kebanyakan sudah sangat tua, tetapi kondisinya masih terawat. Buktinya, saat Sora membuka pintu itu, tak terdengar derit sama sekali. Yang terdengar malah suara bayi, merengek sebentar karena kaget oleh hembusan angin sepoi yang tiba-tiba dari pintu yang terbuka. Leeteuk menelengkan kepalanya sedikit, tidak bisa melongok ke dalam karena di depannya ada Kibum.

Anak siapa itu?

“Hankyung-ssi,” Kibum menoleh pada Han Geng yang wajahnya sudah menegang, “sebelum memasuki ruangan ini, kau harus berjanji untuk memberikan keterangan yang kami, pihak kepolisian, butuhkan. Dengan membiarkanmu masuk, kami sudah membuktikan niat baik kami padamu. Kami berharap kau juga melakukan hal yang sama.”

“Aku berjanji.” sahut Han Geng, tampak berjuang keras mengendalikan satu dorongan dalam dirinya, entah apa. Kibum tersenyum, lalu memperlebar pintu ruangan itu.

“Selamat datang kembali di rumah.”

Leeteuk tak pernah melihat Han Geng begitu diam, kaku, dan ragu-ragu melangkah. Dia ingin maju sedikit saja untuk melongok ke dalam kamar dan mencari tahu apa yang membuat Han Geng begitu gugup.

“Han-gege. Syukurlah kau selamat. Tak sia-sia aku menunggu.”

Seorang wanita di dalam kamar berbicara dalam bahasa Cina. Leeteuk mengedipkan matanya agak lebih cepat, tak percaya dengan yang ia dengar. Suara ini adalah suara lembut wanita yang tak sengaja ditabraknya di pasar pagi.

Kibum mengisyaratkan pada Leeteuk dan Sora untuk masuk kamar.

Di dalam, Leeteuk mendapati Han Geng tengah terpaku di hadapan wanita muda cantik berpakaian serba putih. Wanita di pasar pagi itu masih menggendong putranya, begitu sabar dalam kesendiriannya. Wanita ini pulalah yang berhasil membuat Han Geng, sang ‘penjahat berhati dingin’ (demikian Leeteuk melabelinya), bertekuk lutut.

“Li-Li Yin? Kau selamat?”

“Tentu saja. Kim Kibum, dia—“

Kalimat Li Yin—wanita berpakaian serba putih itu—tak tuntas. Han Geng sudah memeluknya hangat, lembut, penuh kerinduan. Air mata sang penjahat mengalir, menggambarkan cintanya yang begitu banyak pada dua orang (bayi Li Yin juga dihitung) yang dipeluknya.

Leeteuk ternganga. Sora menekan rahang bawah Leeteuk ke atas. “Mukamu tak elit, Leeteuk-ssi.” candanya. Leeteuk tak mendengarnya karena sibuk memikirkan perubahan drastis Han Geng di hadapan Li Yin. Siapa dia? Adik Han Geng? Sahabat—bodoh, mana mungkin ada persahabatan di antara laki-laki dan perempuan yang berakhir dengan pelukan semesra tadi?

Kekasih… ya?

Tiba-tiba saja, Han Geng berlutut di hadapan Kibum dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sembari mengendalikan isakannya, Han Geng berucap, “Kim Kibum, terima kasih banyak sudah melindungi istri dan anakku. Sekali lagi terima kasih…”

Nah, Leeteuk, itu dia jawaban pertanyaanmu. Li Yin istri Han Geng dan bayi manis berambut jarang itu anaknya.

Eh? Istri dan anak?

“Berterima kasihlah pada Sora-ssi juga. Dia yang pertama menemukan Riin-ssi dan putramu.” kata Kibum, menyebut Li Yin dengan Riin. Sora mengusap kepala belakangnya. “Yah, eum… tak perlu berterima kasih padaku, Hankyung-ssi, soalnya aku menemukan Riin-ssi hanya karena aku kebetulan patroli…”

“Bisakah ceritakan padaku apa yang terjadi? Ada apa dengan istriku?”

Sora hendak menceritakan semuanya, tetapi Kibum menghentikannya. “Tanyakan langsung saja pada Riin-ssi. Apa yang dia katakan akan lebih meyakinkanmu daripada apa yang kami katakan.”

Han Geng berpaling kembali pada Li Yin. Ia berjongkok di depan istrinya itu, posisinya lebih rendah. “Apa yang terjadi padamu? Ah… apakah kau baik-baik saja kalau menceritakan hal ini? Aku yakin kau juga tak suka mengingatnya kembali.”

Keheranan Leeteuk tak berkesudahan. Bagaimana mungkin penembak jitu semacam Han Geng, yang dengan brutalnya merobek kulit Tuan Muda Kim yang berharga, yang hampir saja meletuskan kepala seorang gadis belia tak bersalah, yang melontarkan kata-kata menyakitkan tanpa merasa tak sopan, berubah begitu penyayang dan berhati-hati? Bagaimana pula Han Geng mendapatkan Li Yin yang begitu penyabar dan halus ini sebagai pendampingnya, padahal ia sendiri sangat kasar?

“Tak apa, Gege. Kim Kibum benar, aku akan menceritakan semuanya. Kuharap kau mempercayaiku seperti dulu.”

Han Geng menangkup dua tangan Li Yin dengan tangannya yang besar. “Pasti. Aku akan selalu percaya.”

***

Han Geng tak pernah menerima takdirnya sebagai putra penjahat (rincinya: putra penyelundup senjata api tersukses di Cina). Bukan karena ia tak bisa membunuh; tidak, senjata api adalah mainan masa kanak-kanaknya. ‘Dor!’ adalah bunyi yang pertama kali ia dengar, dulu sekali saat ibunya tewas di tangan ayahnya karena hendak membawa Han Geng lari dari markas. Usia 6 tahun, ia sudah meledakkan jantung pemimpin organisasi musuh dan membuat ayahnya memonopoli bisnis penyelundupan senjata. Dirinya memiliki bakat untuk menjadi iblis, tetapi hatinya terus memberontak. Ia yakin ia disiapkan untuk hal lain yang lebih baik.

Ternyata, Han Geng disiapkan oleh takdir untuk melindungi seseorang.

Han Geng, yang saat itu berusia 23 tahun, membuka kamarnya pada suatu hari dan menemukan seorang gadis yang lima tahun lebih muda darinya di dalam. Tentu saja ini mengagetkannya, apalagi gadis itu tahu-tahu saja berada di atas tempat tidurnya. Yah, apa yang seorang pemuda pikirkan jika ia mendapati seorang gadis cantik,yang tubuhnya hanya terbalut kemeja kebesaran, tersudut di ranjang dengan tubuh penuh luka?

Mengobatinya, tentu saja. Apa yang kalian pikirkan?

Han Geng mendekati Li Yin, gadis pucat yang tersudut itu, dan menepuk sudut bibir Li Yin yang berdarah dengan sobekan lengan bajunya. Ia melakukan hal yang sama pada luka-luka Li Yin yang terlihat dari luar. Terakhir, ia mengusap air mata Li Yin dan refleks menarik tangannya. Pipi Li Yin tidak terluka, sehingga masih halus sekali seperti pualam. Sebagai penembak, Han Geng tak biasa memegang barang sehalus itu.

“Maaf. Apa kau… takut kusentuh?” tanya Han Geng pada Li Yin. Ia sungguh khawatir akan merusak gadis di depannya. Yang ditanya mengangguk, untuk pertama kalinya berhasil mengakui ketakutannya akan lelaki, tidak, semua manusia. Li Yin, yang menjadi korban salah satu sindikat perdagangan orang, sering melihat korban-korban lain diperlakukan dengan sangat kejam.Karena itulah, ia terus menangis sunyi saat ia dilemparkan ke kamar ini sebagai barang belian .

Han Geng menjauh dan mencoba menyenangkan si gadis dengan tersenyum. Tulus. Untuk pertama kali.

“Jangan takut. Aku tak akan melakukan apa-apa padamu.”

Li Yin tak pernah percaya kata-kata semacam itu. Lelaki-lelaki seram di luar sana selalu mengatakan itu pada rekan-rekannya, tetapi pada akhirnya, mereka bertindak sangat mengerikan.

Namun, kali ini, Li Yin percaya karena kata-kata itu diucapkan oleh Han Geng.

“Siapa namamu?” tanya Han Geng setelah membantu Li Yin minum. Li Yin menyebutkan namanya dan entah kenapa jadi berdebar saat Han Geng bilang itu nama yang indah. Sungguh baik pemuda ini: sopan, lembut, ramah, dan tidak semena-mena. Ia membimbing Li Yin untuk membicarakan segala sesuatu, bukannya menguasai dan menyiksa Li Yin sepanjang malam.

“Terima kasih banyak, Gege. Terima kasih.” bisik Li Yin, malu-malu, dengan pipi yang basah, malam itu sebelum tidur di samping Han Geng. Gadis itu mengirimkan getaran yang sama, sehingga Han Geng tak tahan untuk tidak memeluknya saat tidur.

“Aku akan membawamu pergi.”

Han Geng menepati janjinya. Setelah cukup lama mencari jalan untuk lepas dari ayahnya, Han Geng lepas, tetapi mata naga ayahnya sangat tajam.

Hidup Han Geng dan Li Yin damai selama beberapa saat saja.

Suatu sore, Han Geng mendapati ayahnya dan beberapa ‘kecoa’ di rumahnya, menyandera Li Yin.

“Dia akan kulepaskan jika kau melakukan satu permintaan kami.”

Dan permintaan itu adalah menghabisi nyawa gadis Jung, pemilik mata violet paling indah di dunia. Mata gadis itu sangat langka dan mahal bagai amethyst, lumayan jika dilelang. Pemasukan organisasi akan bertambah. Reputasi mereka di dunia bawah tanah akan meningkat.  Akan tetapi, siapa yang mau melakukan hal kotor macam itu? Organisasi tidak mau mengotori tangan mereka sendiri. Han Geng pun tak ingin. Sejak mengenal Li Yin, ia paham apa arti rasa iba—dan gadis Jung terdengar terlalu muda untuk mati. Li Yin tak menghendaki demikian pula. Sayang, nyawa Li Yin ada di ujung tanduk, dan Han Geng harus memutuskan.

Gadis Jung-lah yang Han Geng korbankan nyawanya.

Li Yin tak lelah membujuk Han Geng untuk melepaskan gadis Jung, tetapi Han Geng berkeras membunuh gadis itu. Gadis Jung harus pergi supaya ayah Han Geng bisa pergi juga dari kehidupan Han Geng, dan Li Yin tetap tinggal. Egois? Memang. Posisi Han Geng tidak mudah; bukan sepenuhnya salahnya jika ia jadi begitu. Toh, dalam hatinya, ia juga tidak benar-benar berniat membunuh. Organisasi menginginkan mata si gadis, jadi ya matanya saja yang diambil. Itu pola pikir Han Geng.

Misi Han Geng gagal, sayangnya. Kim Kibum dan kepala pelayannya menjatuhkan Han Geng dalam penjara…

“Argh!!! Uhuk, uhuk!!! Sudah kubilang… ukh… aku tidak tahu!!!”

…dan serangkaian interogasi mematikan. Luka-luka di tubuh Han Geng yang dilihat Leeteuk itu ada karena interogasi ini.

Kepolisian menginginkan informasi dari Han Geng mengenai sindikat penyelundup senjata api, tetapi Han Geng tidak mengatakan apapun. Keyakinannya adalah jika ia melindungi sindikat, sindikat akan melindungi istrinya (dan anaknya, yang saat itu masih dalam kandungan). Ia menahan semua siksaan dari sayatan, peluru, air yang menyita napasnya, apa saja, tetapi tidak ada informasi yang lolos dari bibirnya. Kepolisian jengah karena ia tidak juga mengaku dan meminta bantuan pada Kibum.

Waktu kepolisian menghubungi Kibum sangat tepat.

Selama Han Geng disiksa di penjara, Li Yin mati-matian menghindari anggota sindikat yang hendak membunuhnya. Jika Han Geng tidak membocorkan informasi, Li Yin menjadi yang pertama dicari untuk sumber informasi utama setelah Han Geng. Jika Han Geng membocorkan informasi, Li Yin akan tetap dicari untuk dilindungi dan tetap akan dimintai keterangan pula, merugikan sindikat. Keduanya bisa dihentikan jika Li Yin tewas—dan itulah yang membuat Li Yin, dengan luka-luka di sekujur tubuhnya, ‘terlempar’ pada Kang Sora malam itu. Sindikat kehilangan jejak Li Yin dan Sora langsung melaporkan semua keterangan dari Li Yin pada Kibum sehari sebelum kepolisian meminta bantuan Kibum dalam interogasi.

“Bawa dia ke mansion Kim. Buatkan pembebasan sementara untuknya.”

Kibum memiliki senyum terpalsu di dunia ini, tetapi hatinya masih cukup bersih. Dia juga cukup cerdas untuk mengutak-atik situasi. Jadi, Kibum memancing Han Geng dengan Li Yin untuk melakukan interogasi, tetapi sebelumnya, dia butuh ‘persiapan’. Ia membuat situasi tampak sangat sulit bagi Han Geng (menjadi pelayan dadakan selama satu bulan dan seterusnya), tetapi di akhir cerita, Han Geng akan mendapat reward yang besar sesuai perjanjian: istrinya (plus anaknya; sesuai perkiraan Kibum, dalam rentang kurang dari satu bulan sejak penangkapan Han Geng, Li Yin melahirkan). Li Yin akan menceritakan apa yang diperbuat sindikat padanya selama Han Geng tidak ada. Han Geng akan jadi sangat percaya pada Kibum dan membenci sindikat. Dengan keadaan keluarganya yang sudah diamankan Kibum, maka Han Geng akan memaparkan semua yang Kibum (dan kepolisian) ingin ketahui.

***

“Bagaimana?” Kibum tersenyum lagi, “Kau mempercayai istrimu, bukan? Sindikat mengabaikanmu dan mementingkan diri mereka sendiri. Nah, kau lebih dari siap untuk memberi keterangan tentang mereka saat ini, kurasa.”

Han Geng berdiri. Guris-guris air mata di pipinya lenyap, mungkin menguap karena api kemarahannya.

“Aku siap memberi keterangan.”

***

Sindikat penyelundupan senjata api itu hancur. Han Geng masih ditahan atas percobaan pembunuhan, tetapi baik Han Geng maupun Li Yin tidak mempermasalahkannya. Mereka masih bertemu pada jam besuk. Anak mereka tumbuh dengan sehat. Ketiganya aman di bawah pengamanan polisi dan Kibum. Bukan ending yang sempurna, tetapi cukup baik bagi Kibum.

Dan Leeteuk.

“Kau percaya dengan zona abu-abu?” tanya Kibum pada Leeteuk, suatu hari dalam perjalanan menuju kantor polisi, “Cahaya dan kegelapan selalu berbatas tidak jelas. Hankyung-ssi berada di batas itu. Menurutku, dia masih pantas mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri.”

Leeteuk tak menyangkal. Jika Han Geng benar iblis, ia tak akan bisa lembut dalam menangani adonan cheesecake, meletakkan poci teh tanpa suara, menahan amarah selama satu bulan, juga memperlakukan wanita dengan begitu penuh cinta.

“Yang aku hargai dari Hankyung-ssi adalah kesetiaan dan kasih sayangnya,” Kibum menyangga dagunya dengan punggung tangan, lalu memandang keluar jendela, “Li Yin dan—ah, siapa nama anak itu?—Shao Zu? Ya, Li Yin dan Shao Zu benar-benar beruntung memiliki pelindung yang begitu loyal dan pengasih, tetapi juga tangguh.”

Leeteuk merasa Kibum akan mengganti kepala pelayan di Kediaman Kim.

“Jangan gila. Aku tahu yang kau pikirkan,” Kibum tertawa, “Hankyung-ssi pandai membuat cheesecake dan menembak musuh-musuhku, tetapi macaroonnya hambar, hatinya terlalu putih untuk jadi pembunuh orang jahat, dan sikapnya kurang memenuhi standar perilaku seorang kepala pelayan Kim. Kau harus tetap di sini, Leeteuk-ssi.”

Tanpa sadar, Leeteuk menghembuskan napas lega. “Pasti, Tuan Muda. Saya akan selalu melayani Anda.”

“’Selalu’?” Kibum lagi-lagi jahil, ketularan temannya yang bangsawan Cho itu, “Kau akan mati, pria tua, mana mungkin selalu ada di mansion untukku? Selain itu, kalau kau terus melayaniku, kau akan susah punya anak dengan Kang Sora!”

Glk! Leeteuk mengerem mendadak mendengar nama Kang Sora. “A-apa maksud Tuan Muda?”

“Apanya?” Kibum memasang wajah innocent, “Maksudku, nanti, aku akan menemui Hankyung-ssi. Kau temani saja Kang Sora sampai aku kembali.”

“Oh…”

Kibum tersenyum miring saat Leeteuk mengangguk kosong. Pria ini polos sekali, pikir jenius muda itu.

Sesampainya di kepolisian, Leeteuk hanya berbicara sebentar dengan Kang Sora. Kibum tahu pria itu butuh awalan, tidak bisa mendadak, jadi ia mengajak Leeteuk menemui Han Geng dulu.

“Saya kira minyak dan air tidak akan bisa bercampur.” canda Han Geng, terdengar lebih tulus dan menerima Leeteuk.

“Yang berbeda belum tentu berpisah. Kutub utara dan selatan magnet malah tarik-menarik, Anda tahu itu, bukan?” Leeteuk menanggapi. Keduanya tertawa, melupakan permusuhan yang sudah berakhir.

“Bagaimana Kediaman Kim, Leeteuk-ssi? Saya dengar ada beberapa staf muda yang mengacau di kebun.”

“Mereka hanya perlu pembiasaan. Lebih baik kalau Anda yang mendisiplinkan mereka. Saya sering merasa diacuhkan.”

“Buku-buku manajemen remaja banyak sekali di pasaran. Anda bisa minta saran peresensi baru.”

Leeteuk menghembuskan napas panjang. “Peresensi baru ini juga masih muda sekali. Dia akan merekomendasikan buku yang menguntungkan dirinya sendiri nanti. Saya rasa saya benar-benar butuh orang tua untuk mendidik staf-staf muda ini.”

“Koki Ahn sudah punya cucu. Anda bisa—“

“Tidak,” sahut Leeteuk, tergelak, “maksud saya, Anda. Anda sudah menjadi orang tua, bukan?”

“Anak saya masih belum bisa mengacau seperti staf-staf baru Anda, Leeteuk-ssi. Lagipula,” binar di mata Han Geng meredup, “entahlah… saya merasa belum menjadi orang tua. Saya bahkan tak yakin dapat mendampingi anak saya melalui masa remaja.”

Leeteuk ingin mengerti perasaan Han Geng, tetapi sangat sulit. Ia sendiri belum punya anak.

“Daripada itu,” Han Geng tersenyum kembali, “kenapa tak coba menjadi ayah, Leeteuk-ssi? Rasanya sangat menyenangkan memiliki putra.”

Leeteuk melirik polisi wanita yang sedang mengetik laporan beberapa meter di belakangnya dan jadi malu sendiri.

“Dia punya lesung pipit yang cukup dalam juga, sama seperti milik Anda. Ada baiknya langsung dihampiri.”

“Anda pernah mengatakan soal pengendali jiwa,” sahut Leeteuk, tak ingin meneruskan pembicaraan bertopik Kang Sora lagi, “Saya rasa untuk sementara ini, Tuan Muda saja yang jadi pengendali jiwa saya. Kesetiaan saya masih ada padanya, belum untuk yang lain-lain.”

“Kim Kibum menunggu putra Anda pula,” goda Han Geng, membuat Leeteuk panas, “Tuan muda Anda itu membutuhkan seseorang yang cerdas untuk mendampinginya. Pelayan yang bisa meneruskan keahlian seorang Park dalam Kediaman Kim. Di samping itu, terlepas dari kebutuhan tuan muda Anda, yang jauh lebih membutuhkan putra adalah Anda sendiri.”

“Anda membuat persoalan ini seolah darurat.”

“Memang. Masalah keturunan ini penting, tidak boleh dilupakan. Putra Andalah pengendali jiwa Anda yang sesungguhnya. Penerus Anda. Kebanggaan Anda. Bukti keandalan Anda sebagai pendidik dan pemimpin. Bertahun-tahun sebagai kepala pelayan tidak akan memberikan prestise yang dimiliki seorang ayah.”

Kadang, Leeteuk heran bagaimana pria Cina yang setahun lebih muda darinya ini bisa menjadi penjahat.

“Saya akan pikirkan ini matang-matang sebelum memulai. Terima kasih atas pendapat Anda, Hankyung-ssi. Kuharap Shao Zu bisa tumbuh jadi anak yang baik untuk Anda.”

“Terima kasih kembali. Sampaikan salam saya untuk Shao Zu, juga istri saya.”

Leeteuk mengangguk. Tanpa dibilang pun, ia akan melakukannya. Kerinduan seorang suami dan ayah merupakan bagian dari seni mencintai dalam sebuah keluarga. Tak peduli apakah sang kepala keluarga adalah penembak jitu, jenius yang sering dimintai bantuan kepolisian, kepala pelayan, malaikat, atau iblis sekalipun. Mereka, para pria ini, masih memiliki perasaan dan bisa memutuskan yang terbaik untuk anggota keluarga yang mereka pimpin, itulah yang penting.

“Leeteuk-ssi, saya mengambil libur Jumat ini,” Sora mencegat Leeteuk sebelum Leeteuk meninggalkan kantor polisi, “Mau makan siang bersama?”

Leeteuk menoleh pada Kibum, tetapi Kibum mengibaskan tangannya cuek. “Ya, ya, cuti sehari dua hari tak masalah bagiku.”

Leeteuk tertawa kecil, lalu berpaling pada Sora. “Baiklah, Sora-ssi. Anda saja yang tentukan tempatnya. Saya tak akan membawa uang lebih, jadi persiapkan dompet Anda.”

Sora menggeleng-geleng dalam gelaknya. “Saya akan minta Kibum-ssi menggaji Anda lebih awal, kok.”

Kang Sora mungkin tidak selembut Li Yin, tetapi Leeteuk bisa membayangkan Sora menjadi ibu.

Dan dia menjadi ayah.

***

TAMAT

Author’s note: *dying* Ini apa, sih? Sumpah ya absurd banget… Berhubung bikinnya juga mepet deadline, jadinya agak kurang tertata, fokusnya juga melebar. Tapi intinya dapet ‘kan? Bahwa manusia itu nggak mutlak baik atau buruk dan selalu ada pengampunan? Agak boros kata sih, mungkin kebawa perasaan habis baca karya-karya abad 19, kayak punyanya Louisa Mat Alcott. Plus kebawa emosi gara-gara anak SuJu, yang lagi aktif, yang hiatus, maupun yang keluar, nggak nikah-nikah juga!!

Dan saya yakin ini banyak pelanggarannya T.T Pertama, ada sedikit marriage life di sini, walaupun nggak utama. Kedua, Kang Sora nggak saya tag di ‘form’ pendaftarannya. Ketiga, itu HanYinnya NC nggak sih? Saya akan berterima kasih kalau director mau menerima FF ini…

Stop this. Mind to review? Untuk improvement saya pribadi. Maaf kalau misalnya nggak dibales, tapi saya sungguh menghargai comment yang masuk ^^ Also visit http://archiveofourown.org/users/Liana_DS/works for more works ^^

 

One thought on “[FF Freelance] The Butler’s Pole (Chapter 2 – END)

  1. Ini pertama kli q bca ff yg dmana si leeteuk jdi seorang sprti itu??? Kebanyakan ff yg sya bca leeteuk bkalan jdi manager gtu.
    Bnr2 deh…. gk bayangin leeteuk jdi ayh, tpi… kl dlm aslinya kan leeteuk jga sbntr lgi bkl jdi ayh kkkkk.
    Q tunggu klanjutannya….

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s