30 DAYS CUPID [Chap. 3]

30 DAYS CUPID

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC)Jeon Junmi, (BTS) J-Hope/Hoseok, (BTS) Rap Monster/Namjoon, (BTS) Suga/Yoongi, (A-Pink) Bomi, (OC) Han Gyeoul, (BTS) Jimin & (OC) Han Ssaem||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog|Chp.1|Chp.2>>Chp.3

HAPPY READING \(^O^)/

Oh Shina mendapat mawar lagi pagi ini!

Itu yang didengar Jungkook dari pembicaraan beberapa anak perempuan yang berdiri di dekat pintu kelasnya. Bersikap tidak peduli dengan kabar itu, Jungkook berjalan dengan santai menuju bangkunya. Ia lantas melirik ke sebelah bangkunya—bangku Taehyung, namun bangku itu masih kosong.

Sudah beberapa hari ini Jungkook lebih dulu tiba di sekolah dibanding pemuda berambut light caramel itu.

Jungkook duduk di bangkunya. Meletakkan tasnya di atas meja, lantas menenggelamkan wajahnya pada bagian depan tas. Pemuda itu menguap, kemudian memejamkan matanya. “Masih ada waktu 15 menit untuk tidur,” pikirnya.

Ya, tentu saja pemuda bermata elang itu masih membutuhkan waktu tidur. Semalam, semenjak terbangun dari mimpi buruk, ia tidak bisa tertidur lagi. Mimpi itu benar-benar buruk sehingga membuatnya sedikit takut untuk memejamkan mata.

“DASAR HIDUNG BESAR! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH? KAU MAU MEMBUATKU MALU DI DEPAN PEREMPUAN ITU, HM?” Begitu bentakan Namjoon, target kedua, di mimpi Jungkook semalam. Di dalam mimpi itu, Namjoon meremas kerah seragam Jungkook.

Jungkook diam. Kedua matanya melotot. Seluruh tubuhnya gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Ia takut sekali.

“A-ampun, Sunbae. Ampun. Aku hanya menjalankan tugas,” desis Jungkook di sela-sela rasa takutnya.

Namjoon semakin mempererat remasannya pada seragam Jungkook. “TUGAS? TUGAS APA, EOH?”

“A-Anu… itu… tugas menjadi cupid, Sunbae~” Mau tidak mau, Jungkook membongkar identitasnya saat ini.

Seketika Namjoon tertawa, “HUAHAHAHA.” Begitu tawanya mereda, ia lantas melanjutkan, “JANGAN BOHONG! MANA ADA CUPID BERWUJUD MANUSIA!? KAU MAU MEMPERMAINKANKU, HAH?”

Jungkook menggeleng cepat. “Tidak, Sunbae. Aku tidak bohong. Aku benar-benar cupid. Aku cupid. Aku cupid-30-hari!” ujar Jungkook meyakinkan.

Namun, Namjoon tidak percaya. “OMONG KOSONG! KAU PERLU DIBERI PELAJARAN!”

Dan, detik berikutnya terjadi adegan yang sukses membuat Jungkook terbangun tengah malam sambil berteriak ketakutan. Semalam bukan pertama kalinya ia bermimpi buruk tentang Kim Namjoon, jika dihitung, mungkin sudah ketiga kalinya.

“Kookie? Kau tidur?”

Sayup-sayup Jungkook mendengar seseorang bertanya padanya. Suaranya berat dan agak serak. Ah, Jungkook tahu siapa pemilik suara menyebalkan itu.

“Jung—”

“AISH! SEKARANG AKU SUDAH BANGUN, KIM TAEHYUNG!” semprot Jungkook, sukses membuat seluruh perhatian teman sekelas mengarah padanya. Ditegakkannya posisi tubuhnya, menyandar pada sandaran bangku, lalu melirik kesal ke arah pemuda berambut light caramel di sebelahnya.

“Iya! Seharusnya memang kau sudah bangun karena Han sonsaengnim sedang berjalan ke sini!” balas Taehyung.

Jungkook langsung menunjukkan wajah datarnya. Memandang sekitar dan mendapati semua temannya telah duduk di bangku masing-masing. Ia kemudian mengalihkan pandanganya ke arah Taehyung. “Terima kasih kalau begitu,” sahutnya singkat.

“Hmm~” balas Taehyung tanpa menoleh ke arah Jungkook. Sibuk mengeluarkan buku catatan dan buku paket mata pelajaran yang dibawakan oleh Han Sonsaengnim, Biologi.

Tidak lama kemudian, seorang wanita berkacamata masuk ke dalam kelas. Memeluk 2 buah buku paket dan sebuah tas hitam kulit yang tersampir di bahu kirinya, wanita yang dikenal dengan nama Han Sonsaengnim itu melangkah menuju meja guru.

Setelah berbasa-basi, memberi salam dan mengabsen siswa-siswinya, Han Sonsaengnim berjalan ke depan kelas, bersiap memberikan materi pelajaran. “Hari ini, sebelum memulai materi pelajaran, saya akan membagi kalian ke dalam beberapa kelompok! Mulai hari ini hingga akhir semester nanti, hanya akan ada tugas kelompok.”

Beberapa siswa-siswi terlihat menghela napas. Sementara beberapa lainnya terlihat senang. Bisa terlihat dimana letak perbedaan antara siswa-siswi yang akan menjadi korban teman sekelompok mereka dan siswa-siswi yang hanya memanfaatkan teman kelompoknya untuk mendapatkan nilai yang bagus.

“Semoga kita satu kelompok, Kookie~” seru Taehyung, memamerkan cengiran super lebarnya.

Jungkook tersenyum sekenanya. Tidak peduli tentang siapa yang akan menjadi teman kelompoknya dalam mata pelajaran biologi hingga beberapa bulan ke depan.

Han Sonsaengnim mulai membagi kelompok-kelompok siswa. Menyebutkan satu per satu nama siswa yang tergabung dalam kelompok yang sama. Beberapa siswa tampak antusias dan senang karena sekelompok dengan ‘tulang punggung kelas’. Namun, beberapa lainnya menghela napas, sedikit tidak terima dengan teman-teman kelompoknya.

“Selanjutnya, kelompok 5. Jeon Jungkook, Kim Taehyung…”

Yes! Kita sekelompok, Kookie!” seru Taehyung begitu mendengar namanya ikut disebut setelah nama sahabatnya. Sementara Jungkook terlihat biasa saja. Malah sibuk mencatat nama-nama teman sekelompoknya.

“… Min Chanmi dan terakhir…, eum… Oh Shina,” sebut Han Sonsaengnim. Seketika Jungkook terpaku. Shina? Dia sekelompok dengan gadis itu? Oh, God! Yang benar saja?

“Hei! Kita juga sekelompok dengan Shina,” gumam Taehyung, mencondongkan tubuhnya ke arah Jungkook.

Pemuda berambut merah marun itu melirik sekilas ke arah Taehyung. “Aku tahu. Aku dengar apa yang diucapkan Han Ssaem.”

“Untuk kelompok 5, ketua kelompoknya adalah Jeon Jungkook.”

Sementara di sisi lain, Shina pun terlihat sedikit gelisah. Ayolah. Sekelompok dengan lelaki yang pernah membuatnya menangis? Apa tidak ada yang lebih buruk lagi? Apa yang harus ia lakukan kalau mereka harus berkumpul untuk membahas tugas kelompok? Aish!

Han Sonsaengnim masih membagi nama-nama kelompok. Sementara Jungkook terdiam, mengetuk-ngetuk bagian bawah bibirnya dengan penutup polpen yang sengaja ia pasang di jari telunjuknya.

Bagaimana mungkin ia bekerjasama dengan gadis yang… dianggap dan menganggapnya tidak ada? Aish!

@@@@@

“Kau mau ke perpustakaan lagi?” tanya Taehyung sebelum ia berpisah dengan Jungkook di pertigaan koridor. Menolehkan wajahnya ke arah Jungkook yang berada di sebelahnya.

“Yap!” jawab Jungkook.

“Memangnya ada apa!? Belakangan kau jadi sering ke perpustakaan?” Taehyung heran.

“Ada sesuatu yang mau kerjakan. Kau tidak perlu tahu!”

Taehyung memanyunkan bibirnya. “Oke. Baiklah. Terserah kau saja. Aku mau ke kantin. Selamat bersenang-senang di tempat membosankan itu,” seru Taehyung, menepuk-nepuk bahu kanan Jungkook, lantas beranjak meninggalkan pemuda itu.

Jungkook memandang punggung Taehyung yang mulai menjauh untuk sejenak, kemudian mengayunkan kakinya menuju perpustakaan. Memilih menghabiskan jam istirahatnya di tempat yang ‘membosankan’ itu.

Satu-satunya alasan Jungkook dengan sukarela menghabiskan jam istirahatnya di tempat penuh buku itu adalah… karena di sana, ia bisa memata-matai Han Gyeoul, target wanita yang harus ia pasangkan dengan Kim Namjoon.

Seperti dugaan Jungkook, gadis berambut panjang sepinggang itu duduk di salah satu bangku yang berada di area baca perpustakaan. Kedua matanya yang bersembunyi dibalik kacamata ber-frame kotak menatap lekat setiap barisan huruf yang tertera pada permukaan kertas sebuah buku bersampul cokelat.

Bersikap seolah tidak ada niat untuk memata-matai, Jungkook beranjak ke salah satu rak buku, mengambil sembarang buku dari sana, lantas mengambil tempat yang tidak jauh dari Gyeoul. Menyembunyikan sebagian wajahnya di balik buku bersampul hijau yang dipegangnya.

Sampai hari ini, hal yang Jungkook tahu mengenai Gyeoul adalah… siswi kelas 2.2 yang kutu buku. Setiap jam istirahat, ia selalu menghabiskan 15 menit awal untuk membaca buku di perpustakaan dan 15 menit akhir untuk memakan bekal yang ia bawa dari rumah. Jungkook juga tahu kalau Gyeoul kerja part time di sebuah toko kue di kawasan Cheongdam-dong, tidak jauh dari rumahnya. Ya, Jungkook sudah tahu sampai sejauh itu. Sementara Namjoon, satu-satunya yang ia tahu adalah dia adalah senior paling galak di sekolah.

“Sampai kapan kau mau duduk memata-matai gadis itu?” Seperti biasa, Jin tiba-tiba muncul di dekat Jungkook. Duduk di sebelah pemuda berambut merah marun itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada, memandang ke arah target kedua Jungkook, Gyeoul.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Jungkook sudah terbiasa dengan kehadiran Jin yang tiba-tiba. “Sudahlah. Jangan banyak bicara, Jin. Aku melakukan ini untuk mencari tahu tentang Han Gyeoul, mengerti?” sahut Jungkook, tanpa mengalihkan perhatiannya ke arah Jin.

Jin memutar kedua bola matanya jengah. “Tapi, kau tidak akan tahu apa-apa kalau kau hanya duduk diam di sini. Kenapa tidak mencoba mengajak dia kenalan? Kau akan tahu lebih banyak dari pada duduk mengamati dari sini.”

Jungkook menolehkan wajahnya ke arah Jin. “Kau pikir aku akan melakukan itu? Gila!”

“Dari pada kau duduk di sini dan membuang-buang waktumu?! Kau harus ingat, waktumu tinggal 22 hari lagi.”

Jungkook mendengus. “Iya, iya. Aku tahu. Tidak perlu kau ingatkan, aku tahu waktuku tinggal 22 hari lagi. Cerewet!”

“Jungkook-ssi, kau bicara dengan siapa?” Entah sejak kapan Min Yoongi alias Min Sonsaengnim berdiri di belakang Jungkook. Menatap heran ke arah muridnya itu.

Seketika Jungkook menoleh ke asal suara, memamerkan senyum salah tingkahnya, lalu berkata, “Ah, ti-tidak, Min Ssaem. Aku… aku… aku hanya latihan dialog untuk drama kelas. Hehehe… he. Jin yang tidak terlihat oleh Min Sonsaengnim pun tertawa.

“Oh… ya. Aku pikir kau… kenapa sampai bicara sendiri seperti itu.”

Jungkook tertawa garing. “Ahehe… tidak, Ssaem. Aku tidak gila. Aku masih waras.”

Min Sonsaengnim menatap Jungkook sesaat, lalu menghela napas. “Ya sudah. Tapi, jangan buat keributan!? Kau tahu di tempat ini dilarang berisik, kan!?”

Jungkook mengangguk. “Iya, Sonsaengnim. Maafkan aku.”

Sepeninggal Min Sonsaengnim, Jungkook menoleh ke arah Jin yang masih terkekeh. Ingin rasanya ia memukul makhluk berpakain merah muda itu, namun ia takut jika ada orang yang menyadarinya, mengira ia bertingkah aneh. Sudah cukup Min Sonsaengnim yang menganggapnya tidak waras karena bicara sendiri hari ini.

“Berhenti tertawa, Jin! Kau hanya membuat keadaan bertambah buruk!” ketus Jungkook, kesal melihat Jin yang menertawainya.

“Haha… oh, astaga. Kau lihat tadi? Mimik wajah gurumu itu lucu sekali saat melihat kau bicara sendiri!”

“Aku tidak bicara sendiri! Aku bicara denganmu, Jin!” Jungkook mendengus.

“Hahaha… tapi, di mata gurumu, kau bicara sendiri, Jeon Jungkook!”

“Kalau begitu, lain kali, kalau kau mau menemuiku di sekolah, ganti pakaian jelekmu dengan seragam sekolahku!” ujar Jungkook dengan penekanan di beberapa kata terakhir.

Jin membulatkan kedua matanya. “Apa? Aku memakai seragam sekolahmu?!” ulangnya memastikan. “Ayolah, kau tidak mengharapkan itu terjadi. Bisa-bisa seluruh siswi di sekolahmu ini jatuh cinta karena ketampanan wajahku.”

Jungkook hanya bisa menatap Jin dengan tatapan ‘what-the-hell-did-you-say?’. Memutuskan untuk tidak memusingi hal itu lagi, Jungkook mengalihkan pandangannya ke arah Gyeoul berada. Sialnya, Gyeoul sudah tidak nampak di sana.

“Cih! Ini semua gara-gara kau, Jin! Sekarang Gyeoul Sunbae menghilang!” gerutu Jungkook.

“Maaf, maaf,” ucap Jin, berusaha menahan tawanya. “Ngomong-ngomong, sepertinya aku tidak asing dengan wajah gurumu itu.”

Jungkook mendengus. “Bicara apa kau, hah!? Kau cupid! Kau baru kali ini melihat wajah Min Sonsaengnim. Dasar!” ketus Jungkook. “Aku mau ke kantin dulu. Siapa tahu Gyeoul Sunbae ada di sana. Ah dan kau, jangan ikuti aku!” ucap pemuda itu, beranjak dari perpustakaan.

@@@@@

“Shina-ssi, Bomi-ssi, boleh aku duduk di sini?” Taehyung menghampiri dua gadis teman sekelasnya di kantin, duduk di sebuah meja dengan empat kursi, namun dua di antara kursi itu kosong.

“Ya, tentu saja,” sahut Shina dan Bomi nyaris bersamaan. Mendapat ijin, Taehyung langsung duduk di bangku yang berhadapan dengan Shina, meletakkan piring berisi gimbap di atas meja.

“Tumben kau sendirian. Dimana Jungkook?” tanya Bomi, lalu menyeruput jus jeruknya.

Taehyung yang sedang asik menyuapkan gimbap ke dalam mulutnya, melirik ke arah Bomi. Mendapati gadis itu tengah menatapnya. “Dhia dhi pherphusthakhaanh~” jawab Taehyung dengan mulut penuh gimbap.

“Ooh~” Bomi hanya mengangguk paham. Sekilas, Taehyung melirik Shina. Tidak ada respon dari gadis itu. Entahlah. Mungkin dia sudah tidak tertarik lagi pada Jungkook setelah kejadian hari itu.

“Oya, Shina-ssi, bagaimana dengan kado yang kuberikan, hm? Kau suka?” tanya Taehyung mengalihkan topik pembicaraan usai menelan gimbap yang memenuhi mulutnya beberapa saat lalu. Ia dan Bomi melihat ke arah Shina, penasaran mendengar jawaban dari gadis yang berulang tahun 3 hari yang lalu itu.

Shina mengangguk pelan. “Ya. Terima kasih, Taehyung-ssi. Aku sangat menyukainya.”

Bomi tersenyum. “Ya, tentu saja kau suka, eoh!? Taehyung memberikan boneka Hello Kitty yang sangat besar dan kotak bekal berwarna pink untukmu~” celetuk gadis berambut cokelat itu. “Taehyung-ssi, jangan-jangan kau tahu Shina suka Hello Kitty dan warna pink, ya!?” tanyanya menginterogasi.

Taehyung terkekeh. “Tidak. Aku hanya asal memilih saja. Bagus kalau Shina suka,” ujar Taehyung, melihat ke arah Shina, mendapati gadis itu tersenyum simpul padanya.

Sementara Taehyung asik mengobrol dengan Shina dan Bomi, tidak jauh dari mereka tampak Jungkook berjalan memasuki area kantin. Sama sekali tidak melihat Taehyung, begitu pun sebaliknya. Melangkah menuju rak roti, mengambil 2 bungkus dari sana, kemudian beranjak menuju lemari showcase dan mengambil sekaleng softdrink.

“Uh? Bukankah itu Jungkook!?” Bomi yang pertama kali menyadari keberadaan pemuda berambut merah marun itu.

Seketika Shina dan Taehyung melihat ke arah yang ditunjuk Bomi. “Ah, ya, itu Jungkook,” sahut Taehyung. “JEON JUNGKOOK!” Dan tanpa malu sama sekali, pemuda berambut light caramel itu berteriak seolah kantin ini adalah rumahnya.

Mendengar namanya disebut, Jungkook celingak-celinguk mencari asal suara. Tidak butuh waktu lama, ia bisa melihat pemuda berambut light caramel itu berdiri sambil memamerkan cengiran lebarnya, memanggil Jungkook agar menghampirinya. Jungkook hendak mengayunkan langkahnya ke arah Taehyung, namun sedetik kemudian, ia menyadari ada Shina di sana.

Oh, well, Jungkook tidak jadi menghampiri Taehyung. Memutuskan untuk mengayunkan langkah keluar dari area kantin, tapi…

“Ah! Aish!” gerutu Jungkook ketika seseorang di sebelahnya tanpa sengaja tersenggol dan menumpahkan hampir setengah gelas milkshake-nya ke seragam Jungkook.

“Uh, astaga kau tidak apa-apa?” tanya orang itu, seorang gadis yang rambutnya dikuncir ekor kuda. “Maaf. Maafkan aku. Aku tidak sengaja,” sesalnya dengan nada bersalah. Tanpa izin langsung mengelap bekas milkshake yang membasahi blazer pemuda itu dengan selembar tisu.

Jungkook melirik gadis itu sekilas. Mendengus. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, ia beranjak meninggalkan kantin. Taehyung, Bomi dan Shina yang melihat kejadian itu sedikit merasa iba.

“Dia mau kemana?” tanya Bomi penasaran, memandang punggung Jungkook yang mulai menjauh.

“Entahlah. Mungkin toilet,” jawab Taehyung, ikut memandang punggung Jungkook, lantas mengalihkan pandangannya ke arah dua gadis di hadapannya begitu punggung Jungkook menghilang di belokan.

Jungkook tampak terburu-buru berjalan ke toilet dengan bagian kiri blazer-nya ternoda warna merah muda dari milkshake rasa stroberi itu. Masuk ke dalam toilet pria, meletakkan roti dan minumannya di dekat wastafel, lantas melepas blazer-nya.

“Aish! Kotor sekali,” gerutunya, menyadari seberapa kotor blazer-nya saat ini.

Tepat di saat itu, seorang pemuda lain masuk ke dalam toilet. Ia melihat Jungkook yang berdiri di depan wastafel, membelakanginya, lantas masuk ke dalam salah satu stall di belakang Jungkook.

Cepat, Jungkook memutar kran wastafel, mencoba membersihkan noda-noda berwarna merah muda yang menempel di permukaan blazer kuningnya dengan air bersih. Tidak tahu harus melakukan apalagi untuk membuat seragamnya itu kembali bersih.

Jungkook mendengus kesal. Dilihatnya blazer-nya kini menjadi lebih basah dari sebelumnya, meski sekarang sudah terlihat lebih bersih. Tapi, dengan blazer yang basah seperti ini, dia tidak mungkin bisa mengikuti pelajaran selanjutnya.

Pemuda yang tadi masuk ke dalam salah satu stall di belakang Jungkook pun keluar. Berjalan menuju wastafel, lantas mengguyur tangannya dengan air yang mengucur dari kran. Adegan Jungkook yang sedang mengibas-ngibaskan blazer-nya, menarik perhatian pemuda itu. Hingga, tanpa sengaja pemuda itu melihat sesuatu yang bergelantungan di leher Jungkook. Seketika pemuda itu membulatkan kedua matanya.

“Hei! Apa kau cupid-30-hari?” tanyanya, sontak membuat Jungkook menghentikan kegiatannya dan menatap pemuda itu heran.

Uh? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku…

Belum mendapat respon dari Jungkook, pemuda itu dengan mimik wajah gembira mengatakan, “Kau lihat? Aku juga cupid-30-hari.” Ditunjukkannya kalung yang serupa dengan kalung Jungkook sebagai bukti bahwa saat ini, ia sama dengan pemuda di hadapannya.

Jungkook mengerjap-ngerjapkan kedua matanya beberapa kali. Sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Jadi kau—Oh! Astaga! Jadi, bukan hanya aku yang sial di sekolah ini?” seru Jungkook kemudian.

“Ya. Bukan hanya kau dan aku. Tapi, masih ada beberapa orang lagi yang aku tahu,” jelas pemuda itu.

“Benarkah?”

Pemuda itu mengangguk. “Ya. Tentu saja. Kau pasti sudah diberitahu oleh mentormu kan bahwa bukan hanya kau yang menjalani hukuman bodoh ini!?” Dengan polosnya, Jungkook mengangguk. “This is the dumbest punishment ever!” lanjut pemuda itu.

Jungkook lantas memandang kembali kalung milik pemuda itu. Di dalam bandulnya sudah terdapat 3 buah hati yang artinya, sebentar lagi pemuda ini akan menyelesaikan hukumannya.

“Kalau boleh aku tahu, sekarang adalah hari ke berapamu sebagai cupid-30-hari?” tanya Jungkook.

Pemuda itu menghela napas. “Eung, ini hari yang ke-21. Aku masih harus menyatukan satu pasangan lagi dan tara… hukumanku selesai,” terangnya. “Bagaimana denganmu?”

“Ini hari yang ke-8. Aku masih harus menyatukan 3 pasangan lagi. Sialnya, target keduaku ini sulit sekali.”

Pemuda itu terkekeh. “Oh, ya? Memangnya siapa?”

Jungkook menghela napas berat seolah ada beban yang keluar seiring dengan helaan napasnya itu. “Kim Namjoon Sunbae dan Han Gyeoul Sunbae.”

“HAHAHA!!!” Pemuda itu langsung tertawa. “Kau bilang siapa? Namjoon? Astaga! Itu buruk sekali. Ckckck… bisa-bisanya Namjoon menjadi targetmu. Astaga. Aku tidak percaya ini. Kau sungguh malang… hahaha.”

Jungkook mendengus melihat pemuda itu malah menertawainya. Memangnya apa yang lucu? Harusnya pemuda itu memberi dukungan atau apapun itu yang bisa membuat Jungkook—setidaknya, lebih semangat menyelesaikan misi keduanya.

Sadar Jungkook menatapnya dengan tatapan kesal, pemuda itu berusaha meredam tawanya. “Oke. Aku minta maaf. Aku hanya merasa ini lucu,” terangnya sembari mengipas-ngipas wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya.

“Ini sama sekali tidak lucu!” tukas Jungkook kesal.

“Oke. Oke. Aku tahu. Maafkan aku,” sesal pemuda itu. “Oh, ya, Aku Jung Hoseok. Aku sekelas dengan Kim Namjoon.”

Jungkook membulatkan kedua matanya. “Benarkah? Jadi, kau—maksudku, Hoseok Sunbae sekelas dengan Namjoon Sunbae?”

Pemuda bernama Hoseok itu mengangguk.

“Bisakah kau membantuku?”

“Membantumu!?” ulang Hoseok memastikan. Jungkook mengangguk. Hoseok lantas mengelus-elus dagunya, bersikap seolah ia sedang memikirkan apakah ia harus membantu atau tidak.

“Aku akan mentraktirmu selama 2 hari, jika kau mau membantuku,” ucap Jungkook cepat.

Mendengar itu, Hoseok langsung menatap Jungkook. “Oke. Baiklah. Deal. Aku akan membantumu.”

“Benarkah? Oh, syukurlah. Terima kasih, Hoseok Sunbae. Terima kasih banyak.”

Hoseok mengangguk saja. “Ya, ya, ya. Kau pikirkan saja rencananya, aku akan membantumu. Aku mau kembali ke kelasku dulu. Temui saja aku kalau kau butuh informasi tentang si galak itu.”

Entah untuk keberapa kalinya Jungkook mengangguk. “Tentu saja, Sunbae.”

Hoseok lantas berjalan keluar dari toilet. Meninggalkan Jungkook yang cukup senang karena ada seseorang yang akan membantunya menjalankan misi keduanya sampai ia tidak sadar blazer-nya kini jatuh di lantai. Kotor dan basah.

“ASTAGA! BLAZER-KU!”

@@@@@

Hujan mengguyur Seoul sejak malam hingga pagi di keesokan harinya. Meski tidak sederas hujan semalam, namun rintik gerimis hujan cukup membuat sebagian besar siswa yang memasuki gerbang SOPA, mengenakan jaket, lengkap dengan tudung yang menutupi kepala.

“Hei! Tunggu aku, Shina-ya,” ujar Bomi, berusaha mengejar Shina yang berjalan lebih cepat darinya.

Bomi berusaha menyamakan langkah dengan sahabatnya. Bergegas menuju koridor utama untuk melindungi diri dari hujan yang perlahan-lahan mulai lebat seperti semalam. Begitu kaki kedua gadis manis itu berpijak pada lantai koridor, kompak keduanya bernapas lega.

“Hah~ sampai juga~” sahut Bomi, melepas tudung jaketnya yang menutupi rambut gelombangnya yang berwarna kecoklatan.

Shina tidak merespon ucapan sahabatnya. Lanjut berjalan menuju ruang loker. Lagi dan lagi, membuat Bomi terpaksa harus mengejarnya. “Hei! Tunggu aku!”

Tiba di ruang loker, Shina langsung menuju ke depan lokernya. Mengeluarkan kunci loker itu dari tas berwarna cokelat miliknya. Sejenak ia terdiam.

Apa hari ini akan ada mawar lagi?

Hingga kemarin, gadis manis itu sudah mendapat 5 tangkai mawar dan semua mawar-mawar itu ia bawa ke rumah dan ia letakkan di dalam vas—meski mawar itu adalah mawar yang sudah diawetkan. Bahkan setiap malam, sejak ia mendapatkan mawar di lokernya setiap pagi, Shina selalu memikirkan siapa orang yang meletakkan mawar itu di lokernya. Terlebih, bagaimana cara orang itu memasukkan mawar ke dalam lokernya, sementara kunci loker itu sendiri ada padanya.

Satu-satunya yang punya duplikat kunci loker adalah penjaga sekolah. Pria tua yang memiliki 3 orang anak—dan salah satu anaknya berada di angakatan yang sama dengan Shina, kelas 1, namun berbeda kelas.

“Kenapa diam saja, hm?” tegur Bomi yang berdiri di sebelah Shina. Kebetulan, kedua gadis manis itu memiliki loker yang bersebelahan.

Shina menoleh ke arah Bomi. “Tidak apa. Aku hanya… berpikir, apa hari ini aku akan mendapat mawar lagi, hm?”

Bomi tersenyum, lantas menyentuh bahu Shina. “Sudahlah. Tidak usah terlalu memikirkan siapa orang iseng yang selalu menaruh bunga mawar di lokermu. Yang penting, orang itu tidak melakukan hal yang macam-macam, bukan!? Cepat atau lambat, aku yakin dia pasti akan mengaku.”

Shina menghela napas. “Ya, aku tahu. Tapi…, aku penasaran, Bomi-ya.”

Bomi tersenyum sekali lagi. “Kau pikir hanya kau yang penasaran? Aku juga. Bahkan, beberapa anak-anak di kelas juga penasaran,” ujar Bomi. “Sudahlah. Buka saja lokermu. Yang diletakkan orang itu kan hanya setangkai mawar, bukan bom. Tidak usah cemas,” lanjut Bomi, lalu terkekeh.

“Baiklah.”

Shina lantas menggerakkan tangan kanannya untuk membuka lokernya. Pelan, ia membuka pintu loker yang dibagian depannya terdapat tempelan Hello Kitty. Begitu terbuka, lagi, untuk keenam kalinya, Shina mendapat setangkai mawar yang diletakkan rapi di atas buku di dalam lokernya. Bunga mawar yang diawetkan, dibungkus dengan plastik bening dan diikat dengan pita berwarna merah muda.

“Ada mawar lagi, Bomi-ya~” kata Shina sembari mengambil mawar dari dalam lokernya, kemudian menunjukkan bunga yang indah itu kepada Bomi.

Bomi menghela napas. “Ya sudah. Lakukan seperti biasa saja. Masukkan ke dalam tasmu dan bawa pulang,” sahut Bomi sedikit cuek.

Shina memanyunkan bibirnya. “Tapi, sampai kapan aku melakukan itu!? Aku benar-benar penasaran, Bomi!”

“Lalu kau mau apa? Menyewa detektif? Menyuruh seseorang menjadi mata-mata?” balas Bomi.

Shina menatap setangkai mawar di dalam genggamannya. “Mungkin… besok aku akan datang lebih awal,” ucapnya kemudian.

“Kau yakin?” tanya Bomi sangsi.

Shina mengangguk mantap.

“Ya… terserah kau saja,” balas Bomi.

“Tapi, kau harus ikut denganku.”

Bomi membulatkan kedua matanya. “Apa? Kenapa kau menyuruhku ikut denganmu!?” protes Bomi. “Tidak mau! Aku tidak mau datang ke sekolah pagi-pagi!” tolaknya.

“Ayolah, Yoon Bomi yang cantik dan manis. Mau, ya~” Shina menggandeng lengan kanan Bomi, menunjukkan wajah memelas terbaik yang ia punya. “Yoon Bomi, please~” rajuknya.

Bomi menghela napas. “Baiklah. Baiklah. Tapi hanya sekali saja, oke? Hanya untuk besok!” tegas Bomi.

Seulas senyum terukir di wajah manis Shina. “Sip!”

“Ya sudah. Lekas simpan jaketmu. Kita harus ke kelas sekarang. Sekarang hari piketku,” perintah Bomi.

Bergegas Shina melepas jaket berwarna ungu yang membalut tubuhnya. Melipatnya, lantas memasukkan benda itu ke dalam loker.

“Cepat, Shina-ya!” teriak Bomi yang berada di luar ruang loker.

Shina yang nampak sedikit repot membuka tasnya untuk memasukkan bunga mawar pun berjalan menuju Bomi, “Iya. Iya. Aku segera ke—aduh!” Namun, tanpa sengaja ia menabrak seseorang.

Shina bergegas memungut mawarnya yang jatuh ke lantai, lalu mendongak untuk meminta maaf kepada orang yang baru saja ditabraknya. “Maafkan aku. Aku tidak—” Namun, gadis itu tidak meneruskan kalimatnya begitu melihat orang yang ia tabrak.

Jeon Jungkook.

Pemuda berambut merah marun itu menatap Shina dengan tatapan dingin dan tidak bersahabat. Sekilas, ia melirik setangkai mawar yang dipegang Shina, lantas berjalan menuju loker, tidak peduli akan permintamaafan Shina.

Shina memandang punggung Jungkook yang berjalan menjauhinya. Beberapa detik ia terdiam di tempatnya, memandang Jungkook yang mengambil beberapa buku dari dalam lokernya.

“Hei! Apa yang kau lihat? Cepat!”

Dan, suara Bomi berhasil membuat gadis manis itu menyudahi kegiatannya memandangi Jungkook.

@@@@@

Jungkook duduk di bangku taman di depan kelas. Menonton beberapa orang senior yang menunggu bel jam pelajaran pertama sambil bermain basket di lapangan yang agak lembab, bekas hujan yang telah reda sekitar 10 menit yang lalu. Tidak hanya Jungkook, namun ada beberapa siswa lain yang juga ikut menonton permainan basket senior mereka di sekitar Jungkook.

“Hei!” Seseorang menghampiri Jungkook, menepuk bahu kiri pemuda berambut merah marun itu.

Sontak Jungkook menoleh, mendapati Hoseok menyengir lebar, lantas mengambil tempat duduk di sebelahnya. “Ah, Sunbae.”

“Bagaimana? Kau sudah menyusun rencana?” tanya Hoseok. Kedua mata pemuda berwajah agak lonjong itu tidak mengarah pada Jungkook, malah mengarah pada teman-teman seangkatannya yang bermain bola basket.

Berbeda dengan Hoseok, Jungkook malah memandang pemuda berwajah agak lonjong itu. “Belum, Sunbae,” jawabnya. “Aku bingung. Aku… terlalu takut untuk mendekati Namjoon Sunbae.”

Hoseok menolehkan wajahnya ke arah Jungkook, terkekeh. “Aku cukup dekat dengan Namjoon. Dia tidak segalak rumor yang tersebar di sekolah. Bahkan, segalak-galaknya Namjoon, dia tidak akan memakanmu hidup-hidup! Hahaha.”

Jungkook memaksakan dirinya tertawa. “Kalau begitu, Namjoon Sunbae itu… sebenarnya orang yang seperti apa?”

“Kita bicarakan di kantin, bagaimana? Kebetulan pagi ini aku belum sempat sarapan,” kata Hoseok, menunjukkan cengiran lebarnya sekali lagi.

“Baiklah. Terserah Hoseok Sunbae saja.”

Sekitar 5 menit kemudian, Jungkook mendapati dirinya duduk di dalam area kantin. Berhadapan dengan Hoseok yang tampak menikmati sebungkus roti, bahkan masih ada 2 bungkus roti lagi yang berada di hadapannya, lengkap dengan satu kotak susu dingin. Sesaat, Jungkook terkejut melihat senior di hadapannya ini. Nafsu makannya begitu besar, tapi… kenapa badannya ceking?

“Kapan Hoseok Sunbae mau memberitahuku informasi tentang Namjoon Sunbae?” Pertanyaan Jungkook membuat Hoseok tersadar dari kenikmatan sarapannya di kantin.

Pemuda berambut cokelat itu menyedot sedikit susu kotaknya, lalu berkata, “Ah, ya, maaf. Aku benar-benar lapar… haha,” balasnya. “Eum, dengar ya, Namjoon itu tidak segalak yang orang-orang bilang. Dia anak yang baik. Dia pintar. Waktu tes TOEIC beberapa waktu lalu, skornya yang paling tinggi di kelas, 850. Hebat, kan!? Cuma ya, dia memang orang yang mudah marah. Dia paling benci jika ada orang yang mengganggunya. Tapi, aku pikir semua orang seperti itu, bukan!?”

Jungkook mengangguk. “Lalu, apa Namjoon Sunbae sudah punya kekasih?”

Hoseok menelan kunyahan rotinya sebelum menjawab pertanyaan Jungkook. “Hmm… Jungkook-ssi, aku beri tahu kau satu hal. Semua yang menjadi target dari cupid-30-hari adalah orang-orang yang belum memiliki pasangan. Jadi, tentu saja Namjoon itu tidak punya kekasih!”

“Kalau begitu, apakah Namjoon Sunbae menyukai Han Gyeoul Sunbae?” tanya Jungkook lagi, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Hoseok.

Hoseok menggidikkan bahunya. “Entahlah. Tapi, hal itu bisa terjadi. Hanya saja, kita tidak tahu apakah Namjoon yang menyukai Gyeoul atau sebaliknya. Atau…, mungkin saja mereka berdua tidak memiliki perasaan istimewa satu sama lain. Akan lebih sulit jika benar mereka tidak memiliki perasaan istimewa satu sama lain. Atau, mereka bahkan belum saling mengenal.”

“Lalu, apa kau pernah mendapat target seperti itu, Sunbae? Maksudku, target yang tidak memiliki perasaan istimewa satu sama lain atau tidak saling mengenal satu sama lain.”

“Tentu saja. Target pertamaku, Baekhyun dan Taeyeon, seperti itu,” jawab Hoseok sembari menyobek bungkusan roti keduanya.

“Apa yang kau lakukan untuk menyatukan mereka?” Jungkook nampak penasaran.

“Oh, itu…, aku—”

“WOY! Hoseok-ah! Ternyata kau ada di sini!?”

Hoseok tidak jadi meneruskan ucapannya begitu mendengar suara berat yang menyebut namanya. Seketika ia menoleh, mendapati seseorang yang sangat ia kenal berjalan menghampirinya.

“Oh, kau!” gumamnya.

Jungkook agak membulatkan kedua mata elangnya melihat seorang pemuda berambut spike bergabung di antara mereka—ia dan Hoseok. Masih lengkap dengan tas ransel di punggung, pemuda itu duduk di sebelah Hoseok, tanpa izin mengambil roti terakhir milik pemuda berwajah lonjong itu.

“Baru datang?” tanya Hoseok basa-basi, menyadari Namjoon masih bersama dengan ranselnya.

“Ya,” jawab Namjoon singkat. Tidak lama, pemuda itu melirik Jungkook. Sukses membuat pemuda berambut merah itu langsung menundukkan pandangannya. “Dia siapa? Temanmu?” Namjoon menoleh ke arah Hoseok.

“Ya, begitulah. Anak kelas 1,” jawab Hoseok. “Jungkook, Namjoon. Namjoon, Jungkook,” ujar Hoseok memperkenalkan.

Jungkook memandang Namjoon agak takut, namun sebisa mungkin ia membuat perasaan takutnya itu tidak muncul di permukaan. “Salam kenal, Namjoon Sunbae.”

“Ah, aku tahu kau! Aku pernah menghukummu saat masa orientasi, kan!?” celetuk Namjoon begitu melihat wajah Jungkook. Pemuda berambut merah itu mengangguk saja.

“Ya, salam kenal juga, Jungkook,” balas Namjoon. “Oh, ya, Hoseok-ah, sore ini ada bimbingan belajar dari Kwan Sonsaengnim. Kau jangan bolos lagi! Kwan Sonsaengnim akan mencoret namamu dari absen kalau kau bolos lagi,” kata Namjoon mengingatkan.

Hoseok memanyunkan bibirnya. “Iya, aku tahu.”

“TEEEEET!!!”

Bel tanda pelajaran pertama akan segera dimulai meraung-raung ke seluruh penjuru sekolah, termasuk kantin.

“Ah, sudah bel. Ayo ke kelas, Hoseok-ah,” ajak Namjoon, beranjak dari kursi yang didudukinya.

“Ya. Ayo,” balas Hoseok. “Oh, ya, Jungkook-ah, aku belum membayar semua roti dan minuman ini. Kau yang bayar, kan!?” Hoseok menatap Jungkook sambil menaik-turunkan alisnya. “Kau harus ingat janjimu kemarin, Jungkook-ah,” tambahnya.

Masih duduk di tempatnya, Jungkook mengangguk pasrah. “Iya, Sunbae. Aku ingat.”

Good!” Hoseok menunjukkan jempol kanannya pada Jungkook. “Aku ke kelas duluan, Jungkook-ah. Kalau kau masih butuh informasi, datang ke kelasku saja. Semoga harimu menyenangkan~” ujar Hoseok. Sesaat, Jungkook merasa Hoseok tengah meledeknya.

Oh, God! Jam istirahat nanti sepertinya aku tidak akan makan. Ck!

@@@@@

“Jadi, untuk ulangan harian minggu depan, tolong kalian pelajari tentang Ayat Jurnal Penyesuaian karena soal ujiannya berkaitan dengan itu,” pesan Yoongi atau yang lebih kenal dengan Min Sonsaengnim sebelum mengakhiri pelajarannya di kelas Jungkook.

“BAIK, SONSAENGNIM!!!” seru para siswa-siswi di kelas serempak.

“Ah, untuk Jeon Jungkook…”

Jungkook agak terkejut mendengar namanya disebut oleh Min Sonsaengnim. Beberapa siswa-siswi bahkan melihat ke arahnya. “Ya, Sonsaengnim?” balasnya.

“… tolong bawakan buku-buku ini ke ruang guru!” titah Min Sonsaengnim, menunjuk ke arah tumpukan buku yang berisi tugas membuat Jurnal Umum di atas meja guru.

Jungkook sedikit mendengus, namun mau tidak mau ia berkata, “Baik, Sonsaengnim~”

“Baiklah. Kalau begitu, selamat beristirahat~” ujar Min Sonsaengnim, lalu mengayunkan langkahnya keluar dari kelas, disusul beberapa siswa yang berjalan di belakangnya.

“Hei! Mau aku bantu?” tawar Taehyung, melihat Jungkook yang hendak bergerak menuju meja guru.

Jungkook menoleh ke arah pemuda bersuara berat itu, menggeleng. “Tidak usah. Aku bisa sendiri.”

“Kalau begitu, aku tunggu di kantin, oke?”

Jungkook menghela napas. “Hari ini aku tidak ke kantin, Taehyung-ah.”

“Loh? Kenapa?”

Jungkook menggeleng lemas. “Tidak apa. Hanya malas,” jawabnya acuh tak acuh.

Taehyung mengangguk paham. “Ya, sudah kalau begitu. Aku mau ke kantin~” ujarnya, menepuk bahu Jungkook, kemudian beranjak keluar dari kelas.

Sepeninggal Taehyung, Jungkook langsung mengambil tumpukan buku yang berada di atas meja guru, lantas membawanya menuju ruang guru seperti apa yang diperintahkan Min Ssaem. Sesaat Jungkook sempat bertanya-tanya, kenapa harus dia yang membawa buku-buku ini? Biasanya, yang mendapat tugas sebagai ‘pembantu’ guru adalah si ketua kelas.

Hah~ Entahlah.

Mungkin hari ini memang hari sial untuk Jungkook.

Tiba di ruang guru, Jungkook langsung berjalan menuju meja Min Ssaem. Melihat guru muda itu tengah duduk sambil mengobrol dengan guru lain yang berada di dekatnya.

“Permisi, Min Sonsaengnim. Ini buku dari kelas 1.2,” ucap Jungkook begitu ia berdiri di depan meja Min Ssaem.

Seketika Min Ssaem menyudahi perbincangannya, lantas menoleh ke arah Jungkook, tersenyum. “Ya, tolong letakkan di situ.” Yoongi menunjuk tempat di sebelah tumpukan buku cetaknya. “Oh, ya, Jungkook-ssi,” ujarnya sambil mengeluarkan sesuatu dari lacinya, “tolong berikan ini untuk Junmi, ya!? Kau masih tinggal serumah dengan dia, kan!?” lanjutnya, menyerahkan selembar undangan pernikahan.

Ah, jadi ini alasan mengapa Jungkook yang diperintahkan untuk membawa buku itu ke ruang guru?!

Benda berwarna merah muda yang dibungkus dengan plastik bening itu pun berpindah ke tangan Jungkook. “Uh, apakah ini undangan pernikahan Anda, Sonsaengnim?” tanya Jungkook, sedikit penasaran.

Yoongi terkekeh. “Bukan. Itu undangan pernikahan teman. Teman Junmi juga. Tolong berikan undangan itu padanya, oke?”

Jungkook mengangguk. “Baik, Ssaem. Nanti akan aku sampaikan.”

“Ya sudah. Kalau begitu, silakan istirahat. Terima kasih sudah membawakan buku ini ke mejaku.”

“Ya, Ssaem.”

Usai membungkuk tanda hormat, Jungkook kemudian meninggalkan ruang guru. Berjalan dengan santai menyusuri koridor menuju kelasnya. Benar-benar tidak mood ke kantin karena… ya, Hoseok telah menghabiskan separuh uang jajannya hari ini.

“Hoi! Jungkook! Apa kabar, Brother?” Seseorang bersuara agak cempreng yang entah muncul dari mana, tiba-tiba merangkul bahu Jungkook.

Begitu Jungkook menoleh untuk melihat siapa orang yang bersikap sok akrab padanya, didapatinya pemuda bermata sipit yang lebih pendek darinya. “Uh, Jimin Sunbae? Kau membuatku kaget.” Jungkook mengelus dadanya.

Jimin terkekeh. “Haha… maaf, Brother. Oh, ya, kau habis dari ruang guru?! Sedang apa?” tanya Jimin, lalu melepas rangkulannya.

“Ah, itu, Min Ssaem menyuruhku membawa buku catatan teman-teman ke meja~”

“Oh, begitu.” Jimin mengangguk paham. “Ng, kau sudah makan belum?”

“Belum,” jawab Jungkook, “Kenapa?”

“Bagus kalau begitu. Hari ini aku mau mentraktirmu!”

Jungkook membulatkan kedua matanya, terkejut bercampur senang. “Hah? Benarkah? Ada angin apa sampai Jimin Sunbae mau mentraktirku? Kita bahkan belum lama kenal.”

Jimin tersenyum. Senyum yang sulit diartikan oleh Jungkook. “Aku… pacaran dengan Hara.”

WHAT?

@@@@@

Jungkook duduk di depan meja belajar di dalam kamarnya. Ditemani sebuah lagu yang terputar di MP3 player-nya, pemuda berambut merah marun itu nampak tekun mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Hari ini, entah kenapa, Jungkook merasa ada sebagian dari dirinya yang merasa bahagia setelah mendengar kabar bahwa Jimin dan Hara berpacaran. Apalagi ditambah dengan traktiran Jimin yang sangat menyelematkannya dari ‘mati kelaparan’ di sekolah. Jungkook merasa kerja kerasnya sebagai cupid yang menyatukan Jimin dan Hara tidak sia-sia.

Jimin dan Hara akhirnya berpacaran.

“Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu? Apa yang kau pikirkan?” Seperti biasa, Jin secara tiba-tiba muncul di sekitar cupid-30-harinya.

Jungkook yang tengah menyandarkan punggungnya, tersenyum membayangkan sesuatu, sontak menoleh begitu mendengar suara Jin. Ia memutar kursinya 180 derajat agar bisa melihat Jin yang duduk di tepi tempat tidurnya.

“Aku tidak tahu, tapi… hari ini aku merasa bahagia.”

“Oh, ya? Apa yang membuatmu bahagia?” tanya Jin sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku tidak yakin, tapi… sepertinya aku bahagia karena Jimin Sunbae dan Hara Sunbae menjadi sepasang kekasih. Apalagi, kata Jimin Sunbae, aku sangat membantunya saat melakukan pendekatan dengan Hara Sunbae.”

Jin mengukir senyum di wajahnya. “Itu efek dari cinta, Jungkook-ah. Kau akan merasa senang melihat targetmu saling jatuh cinta. Bukankah itu hadiah yang indah untuk kerja kerasmu menyatukan mereka, hm?”

“Entahlah, Jin. Mungkin kau benar. Aku… benar-benar merasa bahagian melihat mereka bersama.”

Jin terkekeh. “Tentu saja aku benar. Aku cupid.”

“Ah, ya, kau cupid,” ulang Jungkook.

“Lalu, bagaimana dengan target keduamu? Sudah ada kemajuan, hm?” tanya Jin, mengalihkan topik pembicaraan. Lagi pula, tugasnya untuk mengecek perkembangan dari target yang diberikan kepada cupid trainee-nya.

Jungkook menghela napas. “Belum ada perkembangan yang berarti, Jin. Tapi, setidaknya hari ini aku sudah berkenalan dengan Namjoon Sunbae,” jelas Jungkook. “Oh, ya, aku lupa memberitahu satu hal padamu. Aku bertemu dengan cupid-30-hari di sekolah. Namanya Jung Hoseok Sunbae. Apa kau tahu dia?”

“Ah, Jung Hoseok!? Aku tahu. Mentornya bernama Hime. Kata Hime, Hoseok itu cukup cepat menyatukan para target dibanding cupid-30-hari yang pernah ia tangani.”

Jungkook mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Tapi, hari ini dia hampir membuatku mati kelaparan di sekolah. Untung ada Jimin Sunbae,” ujar Jungkook sedikit kesal mengingat betapa ‘cerdik’-nya Hoseok hari ini.

“Memangnya apa yang dia perbuat padamu?” tanya Jin nampak penasaran.

“Tok! Tok! Tok!”

Suara ketukan pintu menginterupsi perbincangan cupid dan cupid-30-hari itu. Sontak membuat keduanya menoleh ke arah pintu nyaris bersamaan.

“Itu noona-ku,” kata Jungkook kepada Jin. “Tunggu sebentar, Noona~” sahut Jungkook, beranjak membuka pintu.

Begitu daun pintu terbuka agak lebar, Jungkook mendapati Junmi berdiri di depannya. “Jungkook-ah, apa kau punya stepler? Peluru stepler-ku habis,” ujar Junmi.

“Ah, ada, Noona. Tunggu, akan aku ambilkan.” Jungkook berjalan menuju beja belajarnya diikuti oleh Junmi. Beruntung, malam ini Jin mengenakan pakaian cupidnya sehingga Junmi tidak bisa melihatnya.

“Kau sedang mengerjakan tugas?” tanya Junmi, melihat beberapa buah buku berserakan di atas meja belajar Jungkook.

“Iya, Noona,” jawab Jungkook sembari mencari stepler di dalam laci meja belajarnya yang sedikit berantakan. “Ah, ini stepler yang noona cari,” ujar Jungkook, lalu menyerahkan benda itu kepada Junmi.

“Ah, ya. Terima kasih, Jungkook-ah. Maaf mengganggumu,” kata Junmi, hendak keluar dari kamar, namun Jungkook lebih dulu mencegahnya.

“Tunggu dulu, Noona. Ada yang ingin aku sampaikan padamu,” cegat pemuda berambut merah marun itu.

Junmi mengerutkan keningnya. “Uh? Memangnya apa yang ingin kau sampaikan?” tanyanya, melihat ke arah Jungkook yang sedang mencari sesuatu di dalam ranselnya.

“Ini,” sahut Jungkook, mengeluarkan sebuah undangan berwarna merah muda dan menyerahkannya pada Junmi. “Tadi Min Ssaem—maksudku, Yoongi Hyung memberikan undangan itu padaku.”

Lagi, Junmi mengerutkan keningnya. “Yoongi? Maksudmu… Min Yoongi? Apa yang dia lakukan di sekolahmu?” tanyanya heran.

Jungkook terkekeh. “Dia guru akuntansi di sekolahku, Noona. Aku lupa memberitahumu.”

Gadis berambut sebahu itu membulatkan kedua matanya. “Apa? Yoongi menjadi guru di sekolahmu? Astaga! Kau pasti bercanda.”

Jungkook menggeleng cepat. “Tidak, Noona. Yoongi Hyung benar-benar mengajar di sekolahku,” ujarnya, membela diri.

Junmi menghela napas. “Baiklah, aku percaya. Terima kasih, ya, Jungkook. Selamat belajar~” katanya, lalu keluar dari kamar. Jungkook lantas menutup pintu kamarnya setelah saudara sepupunya itu beranjak menuju kamarnya.

Tidak lama, ia berbalik menghadap Jin. Namun, Jungkook terheran melihat wajah Jin yang nampak tegang. Kedua mata cupid itu bahkan tidak lepas memandang pintu.

“Jin, kau kenapa?” tegur Jungkook yang kembali duduk di kursinya. Memandang Jin dengan tatapan heran.

Pelan, Jin menolehkan wajahnya ke arah Jungkook. Sepersekian detik kemudian, ia berkata, “Apakah wanita yang barusan masuk ke kamarmu bernama… Jeon Junmi?”

Jungkook membulatkan kedua matanya, cukup terkejut. “Kau… bagaimana kau bisa tahu nama Junmi Noona?”

Jin menundukkan pandangannya, menghindari kontak mata dengan Jungkook. “Itu… karena… aku pernah mengenalnya.”

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

A/N2: Annyeong ^^/

Ehm, di sini aku mau menjelaskan tentang komen-komen yang masuk di beberapa chapter sebelumnya. Kalo ada yang merasa FF ini MIRIP sama film Thailand-yang-mungkin-kalian-lupa-judulnya-apa, saya mau bilang kalo IYA, FF ini memang terinspirasi dari film itu—judulnya MY NAME IS LOVE. Dari chapter prolog aku sudah nulis keterangan itu di DISCLAIMER FF. Di situ aku sudah tulis dengan jelas ide untuk membuat FF ini berasal dari mana. Terima kasih. ^^

13 thoughts on “30 DAYS CUPID [Chap. 3]

  1. wahh,akhrnya d publish jg part3 nya..ceritanya makin seruu~ penasaran ni knpa jin bisa kenal sama junmi..d tggu part4 nya..hwaitting^^

  2. Hah???? Jin knl sma noonanya jungkook? Kok bsa…
    Q msh pensaran ama pasangan trakhirnya?? kok q mikirinnya jungkook ama si shina ya? Dan… mreka stu kelompok

  3. Itu jangan jangan taehyung suka sina ya terus kirim kirim mawar 😮 haha sotau nih readernya
    Lanjut thor, bikin penasaran banget nih ceritanya 😀
    Fighting!! ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s