Complicated Choices (Vignette)

f-x-krystal-cnblue-kang-min-hyuk

Complicated Choices

By

Arabella Xia

Cast: CN Blue’s Minhyuk & F(x)’s Soojung | Life & Romance | Teens | Vignette

.

.

.

“Apa yang membuatnya begitu special di matamu?” Tanya nya sambil menatap gadis yang begitu aku gilai dengan mata tajamnya.

“Dia tipe ku. Dia benar-benar tipe idealku. Semua yang aku inginkan ada di dirinya. Bagiku dia begitu sempurna.” Kali ini, mata tajamnya mengarah padaku. Tak lagi menatap gadis itu.

“Seperti apa tipe mu?”

“Tipe ku? Tentu saja gadis polos yang menggemaskan dan asik. Lihatlah dirinya, bukan kah dia terlihat begitu polos dan lucu? Dia begitu manis. Dia tersenyum pada setiap orang. Dia ramah, dia menyapa semua orang. Dia juga asik, itu alasan mengapa banyak sekali yang menyukainya. Termasuk diriku. Dia adalah tipe ideal semua Pria.”

“Jika begitu. Aku bukan tipemu, kan.” Lebih mirip seperti pernyataan daripada pertanyaan.

“Tidak! Bukan begitu maksudku—”

“Aku menyukaimu. Tapi kurasa kau tak akan pernah menyukaiku karena aku jauh sekali dari tipemu. Benarkah?”

.

.

.

Demi apapun.

Aku benar-benar membenci tatapan tajamnya.

Bukan karena aku takut padanya. Tapi karena aku benci di hakimi seperti itu.

Sikapnya memang tak menunjukan jika dia sedang menghakimiku. Tapi matanya berkata sebaliknya.

Tatapan tajam nya tak bisa dihilangkan.

“Oppa, apa kau mau jujur?” Tanya nya yang membuatku benar-benar seperti terdakwa yang akan dihukum mati.

“Jujur?” Aku hanya ingin memastikan jika apa yang aku pikirkan tentang pikirannya benar.

“Kau kembali berhubungan dengan Hyejin.” Lagi. Ini tak benar-benar mirip seperti pertanyaan. Ini adalah pernyataan. Meskipun apa yang dia ucapkan memang benar.

“Iya, Soojung. Kau benar.”

Aku sudah siap seratus persen jika dia akan memukuliku, menjambakku atau melakukan apapun yang mengartikan dia sedang mengungkapkan rasa marahnya karena aku selingkuhi. Seperti yang biasa gadis lakukan kepada kekasihnya yang berselingkuh.

Tapi, dia memang berbeda.

Dia malah tersenyum sambil berkata, “Akhirnya kau bisa mendapatkannya kembali. Selamat.”

“Aku minta maaf. Aku kembali mengecewakanmu, Soojung. Mungkin aku memang bukan untukmu.” Mohonku dengan bersungguh-sungguh.

Dia memalingkan wajahnya.

Meskipun begitu, aku tahu jika dia sedang menangis.

“Aku minta maaf,” Kataku lagi sambil berusaha memeluknya tapi dia malah menghindari pelukanku.

“Tidak. Cinta memang tak bisa dipaksakaan. Aku tahu kau hanya mencintai Hyejin dan tak akan pernah bisa membalas cintaku. Aku mengerti. Pertahankan dia. Jangan sampai dia lepas dari pelukanmu lagi.” Hiburnya dengan tangis dan senyuman.

“Sekali lagi, maafkan aku. Kau adalah sahabat terbaikku, Soojung.” Ucapku sekali lagi. Sangat berharap jika dia akan memaafkanku.

“Kau tak perlu minta maaf, Minhyuk-ssi. Memang begitulah seharusnya. Aku yang salah. Aku yang memaksamu.” Hati ku sedikit teriris saat dia tak memanggilku Oppa lagi. “Pergilah. Jagalah Hyejin. Ikat dia dan jangan pernah kau lepaskan.” Nasihat terakhirnya yang semakin membuat hatiku perih.

.

.

.

“Aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk mengatasimu, Hyejin. Aku menyerah.” Dengan begitu, aku benar-benar meninggalkan Hyejin di Restoran itu.

Ini adalah pertemuan pertama kami setelah kedatanganku dari Jepang karena pekerjaan. Berharap mendapat sapaan hangat. Dia malah memarahiku dan menghujaniku dengan berbagai umpatan yang tak seharusnya diucapkan oleh seorang gadis yang terkenal dengan image nya yang polos.

Aku lupa.

Aku benar-benar lupa alasan mengapa kami berpisah saat itu.

Aku baru ingat sekarang. Saat aku kembali dengannya.

Entahlah. Rasanya aku tak akan pernah mau peduli lagi dengan Hyejin. Aku tak menginginkannya lagi. Dia tidak polos. Dia tidak lembut. Dia bukan tipeku. Aku salah besar mengenai dirinya.

Aku pikir, Soojung yang dingin jauh lebih baik dari Hyejin.

Meskipun begitu dingin, blakblakan dan penuh dengan tatapan tajam. Soojung jauh lebih bisa mengerti perasaanku. Dia tak pernah menuntutku untuk menjadi apa yang dia inginkan. Tidak seperti Hyejin yang hanya ingin selalu dimengerti tapi tak pernah ingin mengerti aku.

Aku benar-benar merindukannya.

Aku menginginkannya.

Jika nanti aku bisa mendapat kesempatannya lagi, aku bersumpah tak akan menyinyiakannya lagi untuk gadis seperti Hyejin.

Aku juga manusia biasa. Aku juga ingin di mengerti. Aku juga kerap salah. Aku juga bisa merasakan yang namanya menyesal.

.

“Ada apa?” Tanya Yonghwa begitu aku datang ke rumahnya. “bertengkar lagi dengan kekasihmu yang ‘benar-benar tipemu’ itu?” tebaknya.

“Kau tahu.”

“Aku dengar setelah kau meninggalkannya kemarin dia langsung menelpon mantan kekasihnya Hyungsuk untuk menjemputnya.”

Aku tak kaget lagi.

Dulu, saat aku berhasil mendapatkan Hyejin dan tahu bagaimana sikapnya yang ‘sebenarnya’ aku benar-benar kecewa. Apalagi saat dia yang tanpa malu langsung mengenalkan kekasih baru nya kepada dunia. Padahal saat itu aku masih menjadi kekasihnya.

Di saat aku benar-benar terpuruk. Soojung lah yang kembali menghiburku. Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat yang begitu pengertian sepertinya meskipun aku tahu sikapnya yang begitu pengertian dia wujudkan sebagai rasa cintanya padaku. Ya, dialah orang yang pernah menyatakan cintanya padaku tanpa pernah ku jawab.

Semakin lama aku mulai merasa bersalah padanya. Dia begitu sabar denganku. Dia selalu menungguku untuk menoleh kearahnya. Dia selalu menanti balasan cintaku. Tapi sayangnya aku tak pernah bisa melakukan itu.

Akhirnya, aku pun nekat untuk memberinya harapan. Aku mengajaknya untuk menjalin sebuah hubungan. Menjalin hubungan meskipun aku tak mencintainya. Aku tak pernah memungkiri jika aku tak benar-benar bisa melupakan Hyejin.

Aku masih mencintainya saat itu. Dan aku begitu percaya jika sikap jeleknya hanya sesaat. Aku juga begitu percaya jika dia akan kembali kepelukanku.

Aku benar dan aku berhasil membuatnya kembali kepelukankku.

Untuk kedua kalinya aku merasa kecewa.

Tapi kekecewaanku padanya saat ini tak begitu besar dibanding yang dulu.

Kali ini, aku lebih kecewa pada diriku sendiri. Kecewa karena aku tak bisa dewasa. Aku mengecewakan Soojung. Aku memberinya harapan, memberinya sebuah hubungan tapi dengan santainya aku malah menduakannya untuk gadis seperti Hyejin.

Jika aku punya mesin waktu. Aku benar-benar ingin kembali ke hari itu. Tapi semua telah terlambat.

Yang aku perlukan sekarang hanyala mendapat kesempatannya. Semua orang juga pantas mendapat harapan kan?

“Jika aku jadi Soojung, aku tak akan pernah mau menerima mu lagi. Jujur saja,” Yonghwa sekali lagi bukannya menghiburku atau memberi solusi hebat, dia malah semakin menamparku dan semakin membuatku jatuh ke lubang yang sangat dalam. Tak cukup. Dia melanjutkan, “kau sudah mempermainkannya berkali-kali, Hyuk. Kau tak pantas untuk mendapat kesempatannya lagi. Tapi, jika kau benar-benar menyesal kali ini, jika kau benar-benar sanggup. Maka datangilah dan memohonlah dengan segala cara, sekalipun dengan nyawamu.”

.

.

.

Aku berdiri di seberangnya.

Soojung benar-benar berada di hadapanku sekarang.

Sungguh. Aku ingin sekali memeluknya saat aku melihatnya. Tapi sayangnya aku terlalu gugup.

Bingung juga untuk memikirkan alasan kenapa aku harus memeluknya padahal aku bukan siapa-siapanya lagi.

Dia menatapku. Dia tak tersenyum. Dia tetap datar.

Dengan tekat yang mengembara aku menyebrangi jalan untuk mendekatinya. Sayangnya dia sama sekali tak bereaksi apapun. Untuk sekedar memperdulikan aku pun tidak.

Dia hanya terus berkutik dengan membuka gembok pagar rumahnya.

“Soojung?” Panggil ku duluan yang berharap mendapat respon besar. Jika dia merespon ku dengan sindiran pun tak apa. Asal dia merespon.

“Ya.” Dia memang merespon. Tapi ini terlalu datar, sungguh

“Aku ingin bicara denganmu. Boleh kah aku ikut masuk?” tanya ku gugup.

Ku pikir aku akan mendapat respon tidak atau caci makian. Tapi dia malah tersenyum sambil menjawab, “kenapa tidak?”

Dia memang tak bisa ditebak.

.

Akhirnya, disinilah aku. Di tempat dimana aku meninggalkannya terakhir kali. Tangisan kecilnya masih terngiang. Ingin rasanya aku memutar waktu untuk menenangkan tangisnya sambil memeluknya lalu aku akan mengatakan jika aku menyesal dan aku tak akan pernah meninggalkannya. Ingin rasanya. Tapi itu tidak bisa.

“Apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Kita sudah tak bertemu cukup lama. Aku.. merindukanmu.” Aku memulai pembicaraan duluan untuk menghilangkan kecanggungan kami.

“Aku baik.” Lagi dan lagi. Datar selalu. “Bagaimana denganmu, Oppa? Apa hubunganmu dengan Hyejin baik-baik saja? Apa kerjaanmu sebagai manager lancar? Aku harap semuanya berjalan lancar untukmu, Oppa. Aku juga merindukanmu. Kau adalah temanku satu-satunya disini, bagaimana aku tak merindukanmu?” Aku tarik ucapanku.

Sungguh aku tak pernah menyangka jika dia akan berbicara sepanjang ini.

“Kalau aku boleh jujur, tanpamu aku sebenarnya hancur. Kau jiwaku.”

Dia terkekeh. Mungkin dia berfikir jika aku sedang bercanda saat ini. “Jiwamu adalah Hyejin.”

“Bisakah kau berhenti menyebut namanya? Aku emosi saat mendengar namanya, Soojung. Aku hanya ingin mendengar namamu. Melihat dirimu.”

“Apa yang terjadi padamu sebenarnya?”

“Aku menyesal Soojung. Aku ingin dirimu. Jadilah milikku. Aku tahu aku sangat egois tapi aku tak bisa pungkiri jika aku memang menginginkan dirimu. Ku mohon, bisakah kita memulai hubungan kita dulu? Lupakan semua tentang gadis menyebalkan itu. Hanya kau dan aku. Kita berdua. Bisakah?”

“Kapan aku pernah bisa menolakmu, Oppa?”

Aku meraih tangannya. Mengenggamnya erat. Mencoba untuk tak melepaskannya selamanya. Aku ingin menguncinya. Aku ingin memilikinya seutuhnya. Milikku, hanya milikku. Mine.

Aku menatap mata nya. Ah, apa aku perlu mengubah pikiranku tentang matanya?
Mungkin selama ini aku salah. Matanya tak begitu tajam. Sebaliknya matanya adalah mata terteduh yang pernah ada. Dengan menatapnya aku bisa merasakan kehangatan yang tak ada matinya.

Meskipun Jung Soojung mungkin bukan tipeku. Meskipun dia tak terlihat polos dan selalu ceria. Tapi dia mampu membuatku luluh. Alih-alih menetapkan ideal untuk mencari gadis polos nan lucu tapi aku malah mendapatkan gadis dingin yang begitu blakblakan.

Tapi aku tak akan menyesal. Aku mencintainya.

Tak selamanya kita harus bahagia dengan apa yang sudah kita tentukan sendiri kan?

Soojung membuatku nyaman. Itulah yang terpenting.

“Aku mencintaimu.” Bisikku saat bibirku mulai mendekati bibirnya. Bibir kami pun bertemu. Di seling perciuman kami, aku selalu mengucapkan kata ‘aku mencintaimu.’

.

.

.

“Tapi, jika ternyata aku sudah memiliki lelaki lain yang lebih bisa mengertiku dan langsung meresponku tanpa aku harus menunggunya bertahun-tahun, apa yang kau lakukan?”

Plak. Inilah tamparan yang sesungguhnya.[]

 

 

 

5 thoughts on “Complicated Choices (Vignette)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s