[FF Freelance] Way To Believing

way2

WAY TO BELIEVING

Storyline by

Deriza Lau

Main Cast :Krystal f(x) &Kai EXO || Genre : Romance, Angst || Length : Vignette || Rating : Teen || Disclaimer : Inspired by “The Only Exception” Paramore

Typo bertebaran

Happy Reading! J

I’ve got a tight grip on reality,

But i can’t let go of what’s in front of me here

Menuju tengah malam di awal musim semi dan entah ini sudah berganti hari atau belum. Kai baru saja pulang dari sebuah pub milik seorang teman yang dikenalnya beberapa minggu lalu, tubuhnya besar dan wajahnya tirus seperti orang Amerika kebanyakan, rumornya pria itu berasal dari New York. Ia tidak ingat apa saja yang sudah dilakukannya sepanjang hari, kepalanya pening dan perutnya serasa melilit setelah menghabiskan beberapa botol bir dalam sekali duduk.

Ia menarik kakinya malas-malas, berhenti di depan pintu lalu memasukkan kode apartemannya secara asal, telunjuknya sudah terlalu biasa dengan kode-kode semacam ini. Terdengar jelas decitan pintu saat ia mendorong kasar knopnya. Sepi, seperti biasa. Semuanya terlihat gelap dan serba remang, suasana dalam apartemennya nampak seperti kuburan. Ia melangkah lagi sambil meraba-raba sisi dinding hingga sedetik kemudian lampu sudah menyala. Oh ia pasti lupa lampu apartemennya sudah dirancang otomatis. Matanya mengerjap sekali, semuanya terlihat sama kecuali kilatan cahaya yang secara masal menerjang irisnya. Kai tidak banyak merespon, kini tubuhnya sudah menghantam permukaan kasur dan ia membiarkan matanya terpejam.

Selama beberapa menit hanya ada guratan abstrak, kadag gelap, kadang terang, kadang juga siluet-siluet bermunculan dalam tidurnya. Bisa dibilang ia hanya terpejam tanpa kenikmatan. Sampai akhirnya kulit hangat seseorang menyentuh pipinya –Oh sepertinya ia sudah mulai bermimpi. Seingatnya ia tidak mengajak wanita mana pun masuk bersamanya sepulang dari pub. Kecuali jika gadis yang ada dalam pikirannya muncul secara ajaib dan memberinya sentuhan yang sudah lama ia rindukan.

“Kai,” Suara itu berdengung di telinganya. Sekilas intonasinya sama.

Tidak salah lagi, gadis itu memang disini, sedang membelai hangat pipinya.

Saat panggilan “Kai” kembali terdengar matanya refleks terbuka. Kai tidak bergerak, ia bisa merasakan sendi-sendinya yang seketika membeku. Dan untuk suatu alasan tidak jelas kantuknya menguap entah kemana, ia berada dalam keadaan sadar seratus persen.

Matanya mengerjab lagi, dan sosok itu tidak lantas hilang dari hadapannya. Tenggorokannya terasa kering saat akan meneriakkan namaKrystal dalam sela deru nafasnya yang tak atur. Hingga Kai memilih diam. Tempat tidurnya bergoyang saat gadis itu memutuskan untuk duduk. Ia menepuk-nepuk sisi kosong disebelahnya, sekedar memberi kode agar Kai segera bangkit dan menyusul disampingnya.

“Aku baru saja memutuskan Myungsoo,” Krystal menghela napas panjang. “Dia tidak menyenagkan,” Gadis itu menunduk lemas pada akhir kalimatnya.

Ya, Kai tahu pasti apa yang dirasakan gadis itu. Ia terlalu memaksakan diri, berkencang dengan pria yang tidak ia cintai dan berakhir dengan segala hal merepotkan –semacam pertengkaran misalnya. Tangannya bergerak tanpa aba-aba, menyentuh pundak Krystal pelan saat gadis itu mulai sesenggukan. Rambut merahnya acak-acakan, matanya pilu dan wajahnya benar-benar pucat. Melihat sekilas pun orang tidak akan tega melukai gadis serapuh ini. Soojung sudah tidak sekuat dulu lagi, tubuhnya bertambah kurus dengan garis hitam yang mulai menebal di bawah mata cekungnya.Kai tahu benar risiko yang akan ia tanggung, tapi ia tetap meminjamkan bahunya untuk Krystal malam ini. Gadis itu menangis. Gadis itu selalu menagis di depannya.

“Kau hanya perlu mencari yang lain, yang lebih menyenangkan,” Akhirnya Kai bicara. Suaranya pelan dengan guratan wajah yang nyaris sama pilunya dengan Krystal. “Bagaimana dengan kris? Kudengar ia juga menyukaimu,”

Gadis itu mengeleng pelan, tetap dengan kebisuan sepanjang isak tangisnya. Bahkan Kai sendiri tidak yakin dengan sarannya. Krystal sudah berulang kali jatuh dan selalu berakhir dengan menangis di hadapannya. Ia hanya tidak ingin gadis itu kembali dalam keadaan yang sama suatu saat nanti.

Kalau saja dulu ia tidak mengenal Krystal dengan baik mungkin tidak akan jadi begini sekarang. Mereka seharusnya tidak bertemu di halte bus sepulang sekolah empat tahun lalu, mereka tidak seharusnya berteman dan berubah menjadi akrab dalam hitungan hari, dan mereka tidak seharusnya –

Ah, semakin lama pemikiran itu makin rancu.

Semua menjurus pada kejadian yang dulu ia yakini sebagai cinta, dan kini perasaan itu telah dijungkir balik waktu menjadi kepedihan.

Krystal memperdalam pelukannya, ia terisak dan tubuhnya berguncang. Ia merindukan kekasihnya, rindu pada aroma mint dan corainder yang menempel pada setiap kemaja milik Kai. Dusta sekali jika Krystal hanya menganggap pelukan ini sebagai penenang sesaat, ia menumpahkan semua tagisnya disana –hanya pada bahu pria itu.

“Tapi aku hanya ingin denganmu Kai,”

Krystal terkekeh dengan air mata yang terus berjatuan dari sudut matanya –ia sudah hampir gila sekarang. Jari lentiknya kembali meraba wajah Kai, membiarkan memori masa lalu menusuknya lewat kulit mereka yang bersentuhan. “Aku hanya ingin kekasihku kembali,”

Kai mendesah pelan, ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia tidak menolak sentuhan gadis itu, bahkan ia berharap lebih.

“Soojung,” tanpa sadar Kai melafalkan nama itu, membuat Krystal refleks mendongak dan menatapnya. Manik mata mereka bertemu. Kai sudah lupa kapan terakhir kali memandang wajah kekasihnya – ah tidak

Bukan kekasihnya, kini Krystal bukan lagi kekasihnya.

“Kita tidak bisa, kita tidak bisa seperti dulu,” Kai membuang nafasnya barat. Ada nada penyesalan dalam sela kalimatanya. Sepertinya apa yang Kai ungkapkan hanya mempersulit keadaan. Gadis itu makin bersedih sekarang.

Bohong jika Kai sudah melupakan perasaannya pada Krystal. Tiga minggu lalu mereka masih pergi bersama, saling menelepon saat senggang, dan terkadang menikmati malam minggu di sebuah bioskop dekat kampus. Rasa-rasanya jadwal kegiatan semacam itu sudah menjadi rutinitas mereka setiap pekan –seharusnya berlaku juga untuk malam ini. Tapi itu tidak pernah terjadi lagi.

Tidak setelah orang tua mereka menikah, mengenalkannya pada Krystal layaknya orang asing, dan bergurau di meja makan seperti keluarga normal lainnya.Bagi Kai malam itu menjadi akhir segalanya. Dan saat matahari naik ke permukaan mereka adalah orang baru yang dilahirkan menjadi saudara.

Kai tidak bisa menghitung berapa kali ia mengunjungi bar atau club-club malam setelah itu. Mencari wanita yang akan menjadi pelampiasan sesaatnya, menjalin hubungan satu hari dengan gadis manapun yang mau diajaknya berkencan. Bisa dibilang ia frustasi dan ingin cepat-cepat menghindar dari keadaan yang ada dihadapannya saat itu.

Lalu dengan Krystal?

Entahlah, gadis itu lebih banyak menyendiri. Terkadang ia mencoba berkencang dengan para senior yang memang sudah lama menyukainya atau pergi berbelanja dengan teman satu gengnya. Tapi Krystal sama saja dengan gadis mana pun dimuka bumi, setiap malam ia akan menangis di sudut kamar layaknya anak TK, memilih tidur seharian tanpa aktivitas berarti, sampai pada yang lebih parah mendatangi Kai dengan wajah kusut dan menyedihkan –seperti sekarang ini.

Kai tidak bisa menangis seperti Krystal. Saat sendiri Ia lebih suka melampiaskan emosi pada benda pecah belah disekitarnya. Ia ingat, dulu saat ibunya dimakamkan, sang ayah pernah berkata “Kau itu laki-laki, berhentilah menangis” dan tanpa sadar konsep itu sudah terpatri jauh di dalam kepalanya.

“Berhentilah menangis, kau bisa membuat kemejaku basah kuyup,” Kai tertawa garing. Sedikit dipaksakan sebenarnya.

Ia mengusap pipi tirus gadis itu, menyingkirkan air mata yang masih tersisa disana. Gadis manapun pasti tahu, menangis sudah cukup membuat mereka merasakan sakit bahkan tanpa perlu melukai diri sendiri.

“Aku mecintaimu Kai. I love you, i love you,” Kata demi kata begitu ringan Krystal ucapkan. Ia mencengkeram erat kemeja milik Kai dan membiarkan sunyi menyergap setelahnya.

Kai memandangi manik mata Krystal. Ia mencari kebohongan disana –andai saja bisa,tapi gadis itu benar-benar jujur. Kini rasa frustasinya benar-benar sudah keluar batas. Sudut bibirnya meninggi dan tangannya membelai rambut merah milik Krystal lambat-lambat.

“Soojung, Kim Soojung” sekali lagi ia melafalkan nama adiknya. “Aku tidak bisa lagi berbohong,” dan bersamaan dengan itu tangan kanannya menaikkan dagu milik Krystal lalu. . .  bibir mereka bertemu.

Ia pasti sudah gila. Ya, sepertinya itu sebutan yang benar-benar pas untuk dua makhluk itu. Kai membiarkan perasaan itu menghantam ulu hatinya. Gadis itu juga tidak menarik diri, membiarkan apa yang terjadi saat ini mengalir apa adanya.

Jika sebelumnya Kai percaya takdir yang menyatukan mereka. Maka kini ia percaya bahwa Tuhanlah yang menggariskan segal kejadian ini. Ia tidak tahu pasti akan jadi seperti apa esok hari, tapi ia sedang dalam perjalanan untuk percaya.

I’m on my way to believing..

Fin

Sebelumnya saya minta maaf kalau ini ff terlalu absurd. Sebenernya ngga nyambung kalo ini ff terinspirasi dari The only exception-nya paramore. Ini gara-gara efek patah hati ditinggal Baekhyun Ldan semenjak itu saya jadi sering dengerin lagu the only exception. Sampai akhirnya disuatu malam ide buat ini ff langsung nongol gitu aja.

Terima kasih bagi para reader yang sudah berkenan membaca. Mohon meninggalkan jejak, sekedar cuap-cuap, saran, atau kritik mungkin.

13 thoughts on “[FF Freelance] Way To Believing

  1. huaaaaa nggak nyangka ternyata mereka harus berpisah karena orangtuanya menikah, dan kai juga krystal nggak bisa apa apa lagi
    nyesek juga sih. tapi aku suka endingnya, udah selesai tapi masih penuh tanda tanya
    nice ff! keren

    • Hai aichanie…
      Terima kasih ya atas review kamu🙂
      Maaf juga kalau FF ini terlalu banyak typo hehe.. tp semoga tidak mengecewakan.

    • Wkwkwk… xD
      Maaf aku emang ngga bakat buat ngedit smpe teliti. Baru sadar ada kata kencan berubah jd kencang haha.. *sekali lagi maaf*

      Terima kasih atas review-nya😀

  2. Oh my……. gmbarnya aj udh bikin sensi bgt apalagi critanya……
    Bnr2 dah…… tpi terlalu pendek thor. Ttp sja q ska kok, bikin negnvy bgt…. ksh cinta pra maknae ini

  3. Hai salam kenal..🙂
    makasih atas review-nya di FF freelance aku hehe.. myungstal? aku juga suka mereka kok. Pokoknya aku terobsesi bgt sama couple yg ada krystal-nya. Ini sebenernya lagi ngerjain ff myungstal, tp ngga janji sih. Btw sebenernya diksiku masih awut-awutan, banyak typo lagi hehe ._.v

    Terima kasih udah mau baca ff ini🙂

  4. Agilaaa ganyangka bgt gataunya krystal sama kai mau itu saudaraan! Keren thor keren! Keep writing! Ditunggh ff selanjutnya:D

  5. aih, nyesek bacanya, author-nim.
    mereka nggak bisa bersama karena ortu mereka?
    heol, I need sequel, pls~ endingnya ganting sih. tapi saya cukup paham masalah cari ide buat sequel itu susah.
    yaudah ditunggu ff lainnya aja, keep writing~

  6. omg
    daebbak. angstnya kerasa banget. sakit.

    mereka saudara tiri kn?
    jgn berhenti mencintai soojung, jong
    ayo ajak krystal kawin lari. aku ga tega kalian berpisah

    nice fanfic author-nim

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s