Dandelion Rain

dandelion rain

Kudengar, bunga dandelion punya filosofi yang bagus. Ia punya warna kuning yang menawan, tumbuh bersamaan, dan memberikan harapan tentang beberapa kebahagiaan. Bahkan setelah bunganya layu pun ia tetap indah dengan bulu-bulu halus yang menghias bekas-bekas tumbuhnya mahkota. Membuatnya menjadi hal yang romantis, menarik perhatian para gadis, dan mengajak orang-orang berkata manis untuk hidup yang paling miris.

Lalu, yang benar-benar mengusik hatiku, apa yang kau lakukan setelah meniup dandelion puffs?

Kupikir itu adalah bunga yang memiliki dua kali keindahan dengan mahkota kuningnya dan bulu putihnya yang mudah terbang terpilin angin. Dua-duanya jatuh di tempat yang tak terduga. Tempat yang hanya tentang harapan, semangat, dan cita-cita.

Tapi ketika ia tak lagi memiliki apa-apa, ketika ia telah memberikan kenikmatan pada peniupnya, ketika ia telah sampai pada suatu waktu yang lebih ia duga… saat itulah jawaban itu terasa sama seperti jawaban kisahku. Saat ia mulai berkata, “Jangan menangis.”

Maka, saat itulah serpihan benihku, habis tertiup olehnya.

“Jangan mengucapkan apapun,” tambahnya dengan pandangan yang mulai mengawang-awang ke atas langit. “Biar hanya Dia yang mendengarnya nanti.”

Aku bergeming, mencoba menertawakan kemarahan hatiku sendiri. Aku benci ketika aku kembali menjadi pemilik perasaan tak terdefinisikan ini. Marah tapi ingin menangis, sedih tapi ingin teriak.

Sore hari ini tak lagi indah dengan air mataku yang hampir jatuh. Sore hari ini tak lagi merdu dengan deru nafas yang tak lagi penuh rindu.

“Waktu itu aku hanya bilang berusaha. Tapi kupikir kau juga bukan gadis penunggu yang duduk diam di jendela.” Ia menghadap ke arahku, menghindari mataku, lalu berbalik ke arah lain yang tak kusuka…

“Hal yang tak bisa kudengar dengan baik adalah kata maaf yang diucapkan untuk sebuah perpisahan.”

…karena di situ ada dia, kau terus memandangnya. Karena di situ bukan aku, kau berusaha melihat ke arahnya.

Padahal itu adalah taman bungaku, yang kutanam dengan benang rindu yang tak tergapai olehmu. Padahal itu adalah tempat favoritku, yang tiba-tiba terisi penuh oleh seseorang selain diriku.

Kau harusnya tak menjelaskan pengertian-pengertian itu… supaya aku tak sesakit ini. Supaya kau tak seberdosa itu untuk segala kerusakan yang kualami…

“Aku punya dia dan janji yang lebih besar padaNya.” Jadi, denganku bukan termasuk janji? Kau menganggap hidupku hanya sebuah lelucon yang bisa kau tonton di pasar malam? Yang nantinya bisa kau buang setelah kau kenyang?

Kali ini aku jadi lebih sadar, cinta adalah hal yang menyakitkan ketika pelakunya lebih dari dua orang. Atau tanpa jika sekalipun, rasanya akan tetap sama pada akhirnya. Setidaknya begitu, bilamana ini akan menjadi seperti yang kau katakan. Sebuah perpisahan.

“Kuanggap kau akan selalu baik-baik saja.” ucapku mengabaikan keinginanmu untuk membuatku diam. Dengan nada mengambang karena patahan nafas yang hampir saja tak terhembuskan. Dengan suara lemah karena sudah kalah. Dengan segenap kerendahan hati untuk mengembalikan harga diri. “Aku tahunya begitu.”

Karena seperti yang kau tahu, kedinginanmu membuatku jatuh dan mengeluh. Menghadirkan cinta sepihak yang samar-samar akan sukar. Mendatangkan berbagai pertanyaan yang tak diberkahi dengan jawaban. Menahanku masuk ke kedalaman hati yang berakhir penyesalan diri.

Sekalipun aku mati rasa, ini tetap disebut cinta. Sekalipun aku berteriak ini bukan cinta, dunia akan menganggap hal ini sama.

Kau tak perlu membalasnya, kata-kata yang kau dengar tadi hanya iseng saja. Aku hanya perlu melangkah, tanpa perlu mengalah. Hanya perlu berjalan, tanpa berbalik. Kau abaikan aku saja. Karena kau tidak boleh tahu kalau-kalau sentuhanmu di hatiku bisa saja membekukan nafasku… Kalau-kalau aku menjatuhkan diriku untuk itu.

“Benar. Kau hanya boleh tahu aku begitu.”

Kau baik-baik saja dengan cinta yang kau puja? Kau baik-baik saja dengan rindu yang kau jaga? Kau baik-baik saja melepasku begitu saja?

Yang lalu, kuingat kau tersenyum padaku. Walaupun aku hanya melihatnya dari kaca yang hanya memantulkan bayanganmu, aku hanya terus percaya, kalau itu adalah kejujuran sebenarnya.

Perpisahan ini, aku hanya akan percaya, adalah kebaikan untuk dunia.

Karena kau dan aku sama. Kalau sebenarnya, kita saling mencinta.

Kalau ini hanya hujan senja.

15 thoughts on “Dandelion Rain

  1. Aku sukaaa bangett sama bahasanyaaaaa.. Tapi aku masih gangerti maksudnya apa thor hehe ._.v maap aku emg rada lemot._.v

  2. sukaaaaa banget sama ceritanya <3<3 bahasanya juga kece abis ijin copast buat tugas sekolah yaaa plisss :*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s