That Glazed Winter – Chapter 4

that glazed winter

THAT GLAZED WINTER

“You’re Selected, The Winner.”

BY

Kiran

Casts :  Sulli (f(x)) & Do Kyungsoo (EXO-K)  ||  Support Casts : Kai (EXO-K), Tiffany (SNSD), Baekhyun (EXO-K), Kris (EXO-M),   ||  Genre  :  Romance, Fantasy, Western  ||  Rating  :  PG-16 || Length : Chapter || Credit Poster : funluobell

Inspired by C.S. Lewis’s The Chronicles of Narnia & Eloisa James’s Desperate Duchess Series

Previous Chapter :

Prologue | 1 | 2 | 3

*****

More Detail:

Sulli as Sulli Mareviere, putri dari James Mareviere, Duke of Rovaldine

D.O as Dio Soilaven, pewaris keluarga Nobel of Ritzoviral

Tiffany as Tiffany Reindfelt, putri Navis Reindfelt, Nobel of Everolen

Baekhyun as Baekhyun Byun, pewaris keluarga Nobel of Zousanorve [sub-urban family]

Kris as Kris Mareviere, pewaris keluarga Duke of Rovaldine

*****

“Kau masih di sini, Ritzoviral?” Suara itu benar-benar sebuah bencana! Sulli membencinya. Sungguh. Suara itu telah berhasil mengacaukan keinginannya dan membuatnya berdiri di suatu rak yang paling tak terlihat dari pintu utama dan berpura-pura sibuk dengan suatu telaah yang tentu saja tak dipahaminya.

“Oh, kau rupanya.” balas Dio santai saat ia menemukan Ron dan Stafan yang berdiri di dekat pintu. “Ya, aku sedang membaca. Lihat?” tambahnya sambil mengangkat sebuah buku yang ada di tangannya.

“Ah, aku dan Staffan berhasil menyelesaikan wabah aneh di El Temur. Dan sepertinya hipotesamu merupakan 93% faktor pendukung keberhasilan ini.” ucap Ron bersuka cita atas kerja keras yang dilaluinya. Ia memeluk si Soilaven sambil menepuk-nepuk punggung pria itu.

“Jumlah yang konyol. Tanggung sekali.”

“Biar saja. Kan aku yang menilainya.”

Sulli berharap pria-pria nakal itu cepat keluar dari sini. Ia tidak lagi menguping pembicaraan yang semakin didengarkan semakin terasa aneh itu. Ulna? Crenata? Istilah macam apa itu! Ia mulai mengganti bacaan bohongannya ke bacaan yang lebih simpel. Novel.

Apa salahku sampai harus terdampar di bagian paling ujung perpustakaan ini? Ini konyol. Aku dan dia bisa berpura-pura tidak saling mengenal. Ya. Ya. Aku bisa keluar sekarang. Aku bisa membuat alasan kalau mereka terlalu ribut. Selesai kan?, batinnya saat ia berhenti di halaman ke lima.

Tapi kalau aku keluar, bukankah kesempatanku untuk bertemu dengan Dio Soilaven akan habis? Hanya karena pria-pria pengganggu itu? Rasanya aku jadi begitu cemburu. Pada mereka.

Sulli menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak boleh keluar, tapi demi Aslan ia sudah tidak nyaman dengan keadaan ini. Kali ini ia sadar kalau ia benci bersembunyi.

Gadis itu berdiri, mengabaikan beberapa helaian rambut yang turun karena gelengan yang lumayan mengobrak-abrik karya Letitia itu. Ia duduk lagi. Bingung. Apakah ia harus keluar? Ataukah tetap menunggu? Atau… berjalan diam diam ke depan, sedikit demi sedikit, masih pura-pura membaca novel, dan setelahnya menjadi ‘terserah takdir’ yang menentukan bagaimana nasibnya?

Sepertinya pilihan ketiga lumayan tepat. Oh, ya. Ide brilian. Berserah diri pada takdir.

Sulli berdiri, menarik nafas, dan kali ini dengan yakin melangkah semakin ke depan. Tak lupa ekspresi saat ia membaca dikeluarkannya dengan tepat. Tidak ada yang tahu sekarang kalau sebenarnya hatinya berdegup kencang.

“Sulli,” sapa seorang pria saat ia belum berada di garis depan. Ia mendongak. Dengan santai, dan… ia tidak menyangka kalau pria itu adalah─oh, ia begitu terkejut dan sepertinya wajahnya benar-benar memalukan.

Sulli memukul pria itu. Ia benci kenyataan kalau degupan jantungnya selalu dimiliki si Zousanorve ini. “Kau baru saja membunuhku kalau saja aku punya penyakit jantung.” ucapnya dalam volume suara yang pelan.

“Kau harus bersyukur buku yang kau bawa tidak jatuh dan membuat tiga orang itu menoleh ke arahmu,” balasnya cuek. Oh, tidak. Kemarin-kemarin ia seperti pria baik, tapi sekarang? Benar-benar pria dengan dua kepribadian! Efek bergaul dengan si Ritzoviral, eh?

“Ngomong-ngomong kapan kau masuk ke sini?” tanya Sulli ingin tahu.

“Bukan sesuatu yang menjadi urusanmu kalau kau tidak memberitahuku sejak kapan tempat ini menjadi ajang pertemuan pasangan backstreet.”

“Aslan! Kami baru sekali ini bertemu setelah sekian lama. Kuharap The Honorable Zousanorve memahami keadaannya sekarang.” ucap Sulli memasang wajah manis yang dipaksakan. “Jadi, Sir, aku akan lebih menghormatimu kalau─”

“Sayangnya aku tidak gila hormat.” ucapnya sambil memandang rak-rak buku di bagian atas. Menghindari kontak mata dengan Sulli Mareviere.

“Mister Byun, aku sungguh-sungguh berharap padamu.”

“Nah, aku lebih suka kata-kata ini, Cantik.” ucapnya dengan senyum rupawan. “Kau berutang kesempatan padaku sekarang. Senangnya.”

Baekhyun melangkah mendekati Dio sedangkan Sulli kembali ke posisi semula. Sulli mendengar beberapa kata yang diucapkan Baekhyun, setelahnya ia hanya terdengar pintu yang ditutup. Sekarang Sulli mendengar langkah kaki yang diyakininya sebagai kaki Dio Soilaven. Ia menghitung mundur. Memperkirakan waktu untuk Dio datang tepat di hadapannya.

Tiga… Dua… Satu… Tapi si kaki melangkah tetap saja diam. Menunggu Sulli yang menyapanya lebih dulu mungkin?

Sulli berbalik. Tersenyum. Kemudian memalingkan wajahnya lagi.

“Kau sedang menggodaku?” tanyanya sambil mencium tangan Sulli lembut.

“Aku berterima kasih kalau kau menganggapnya begitu.”

“Hm, minta dicium bibir rupanya.” ucap Dio sedikit seduktif. Ia melangkah lebih dekat ke arah Sulli. Tapi gadis itu adalah gadis lincah yang langsung berlari sebelum tubuhnya dikunci. Dio tidak akan sempat.

“Godaanmu sungguh berlebihan, Sayang. Kau membuat dadaku kembang-kempis.” ucap Dio setelah berhasil menangkap Sulli dengan menarik gaun gadis itu hingga membuat mereka jatuh bergelimpungan. “Ini pastilah pengalaman cinta yang berlebihan untuk diceritakan.”

“Kita sudah cukup punya pengalaman untuk bilang begitu?” tanya Sulli sambil menghadap ke arah Dio, memegang tangannya dan menggenggamnya begitu saja. “Seperti seakan kita punya banyak momen saja.”

Shit,” umpat Dio sambil memalingkan wajahnya. “Harusnya aku tak lihat dada naik-turun itu.”

Sulli tertawa. Ia senang Dio Soilaven mulai memahami keadaannya. Ia berdiri, merapikan rambut dan gaun yang mengusik penampilannya. Ia tersenyum pada Dio Soilaven yang tak melihat ke arahnya. Ia masih menunggu, sampai akhirnya ia lelah dan melempar sesuatu. “Aku memahami hormon pria.” Oh, tidak. Yang dilemparnya adalah selembar tisu.

~k~

“Vic, apa kau sudah tidur?” tanya Kris yang ternyata masih terjaga. Ia memutar tubuhnya ke arah Victoria yang masih bergeming.

“Hm?” balasnya dengan lenguhan pendek. “Hampir.”

Victoria memutar tubuhnya. Sekarang ia menghadap ke suaminya yang tampak tak bisa tidur dengan nyaman. “Ada apa?”

“Rasanya aku ingin bicara.”

“Bicaralah, aku akan mendengarkannya.”

“Aku khawatir tentang Sulli. Dia tak pernah dekat dengan seorang pria. Gaya pakaiannya juga tak pernah menarik. Kuharap pesta dansa ini membuahkan hasil. Akan sangat sayang sekali apabila seluruh keluargaku akan menikah di bawah tangan.”

“Tapi dia sangat cantik. Gadis sepertinya pasti akan mendapatkan pria baik-baik.”

“Sayangnya di dunia ini hanya ada gadis baik-baik tanpa pria baik-baik.”

“Benarkah? Lalu kau juga bukan pria baik-baik?” Vic mulai antusias pada pembicaraan ini. Ia memang belum mengenal Kris secara menyeluruh karena hubungan mereka yang baru berjalan selama tiga hari. Yang ia tahu namanya Kris Mareviere, seorang pewaris, berulang tahun pada 2 Desember, punya kebiasaan minum teh sebelum bekerja, dan liar di─oh tidak, seharusnya Vic tidak mengingat malam pertama mereka. Malam yang penuh kekalahan untuknya itu benar-benar memalukan.

“Ya, tentu saja. Aku melakukan itu tanpa bertanya apa kau sudah siap. Itu adalah malam pertama─maksudku pertama kalinya di suatu malam aku menyesali apa yang kulakukan.”

“Apa aku begitu buruk? Aku bisa belajar kalau kau benar-benar menganggapku begitu. Apakah ada buku yang mengajarkan hal-hal seperti itu di perpustakaan?” Victoria mengucapkannya tanpa santai sama sekali. Seperti seakan ia telah memikirkannya beberapa waktu dan baru diluapkannya sekarang.

Kris terbelalak. Victoria salah tingkah. Jadi harusnya malam ini mereka bercerita tentang Sulli Mareviere, tapi mengapa malah begini?

Victoria menggulingkan tubuhnya menghadap arah lain yang berlainan. Sekarang ia menggigit bibirnya. Ia begitu antusias sampai-sampai malam ini ia malah terlihat seperti akan mengajak berperang.

Victoria memukul-mukul pelan dahinya seolah semua kekacauan ini adalah salahnya. Ia benar-benar lupa tentang ia akan mendengarkan semua kata-kata Kris supaya pria itu lebih bisa tidur.

Tapi keadaannya sudah tak memungkinkan. Ia begitu malu sekarang.

“Aku suka sapi lada hitam. Tapi nada bicaramu tadi benar-benar membuatku ingin yang lain.”

“Apa kau bisa membalik tubuhmu sekarang?” pinta Kris ragu-ragu. Tapi sepertinya Victoria sudah tertidur sebelum ajakan itu terlontar begitu saja.

~k~

“Kau sudah bangun?” sapa Victoria saat sedang menyiapkan sarapan pagi mereka. Ia memang sengaja tidak membangunkan Kris karena pria itu biasanya akan bangun sendiri lima menit setelah ia bangun. Biasanya ia langsung keluar kamar dan meminum secangkir teh yang dibuatnya sendiri.

Ia tidak pernah menyuruh orang lain membuatkannya. Dan memang dia tidak meminum teh yang dibuatkan orang lain. Sungguh mengherankan kenapa ada pria yang repot-repot ke dapur demi secangkir teh.

“Ya. Kupikir aku malah tak benar-benar tidur.” balasnya lesu setelah menguap dan kelihatan masih mengantuk. Kris langsung duduk di meja makan dan menyenderkan kepalanya pada meja kayu berwarna cokelat itu. Kalau dibiarkan pasti pria itu akan benar-benar tertidur.

“Mau kubuatkan teh?” tanya Victoria iseng.

“Ini bau lada hitam. Kau mendengarnya semalam?” jawab Kris sama sekali tidak nyambung.

“Kau bicara lagi setelah kejadian itu?” tanya Victoria agak bingung. Seingatnya ia langsung tertidur ketika tangannya berhenti memukul-mukul dahinya sendiri. Jadi pria itu berbicara ketika segalanya sudah tak lagi sama? “Maafkan aku. Kemarin benar-benar malam yang mengecewakan.”

“Lupakanlah. Aku baik-baik saja.” ucapnya sambil mendekat. Ia benar-benar ingin tahu bagaimana tampilan masakan itu di tangan Victoria. “Lagipula ini masakan kesukaanku, aku mana bisa marah padamu? Kelihatannya enak.”

“Kau yakin tidak akan meminum teh dulu?” tanya Vic untuk mengingatkan Kris akan kebiasaan kecilnya itu.

“Baiklah, karena kau istriku, aku akan membiarkanmu yang membuatnya untukku.”

Victoria tertawa kecil. Sepertinya Kris adalah pria yang manis.

“Segalanya akan siap dalam tiga menit. Kau boleh membaca koranmu dulu.”

Kris tidak mengindahkan nasihat Victoria. Gadis─hm, perempuan itu─sudah sibuk berlalu lalang menyiapkan makanan dan teh yang dijanjikannya akan jadi dalam waktu yang telah ditentukan.

Dan segalanya telah sempurna sekarang. Tinggal waktu menyantap.

“Tehnya enak. Seperti yang kubuat.” Ia meletakkan secangkir teh itu pada tempatnya. “Hm, sebenarnya aku mulai meminum teh sejak aku hidup di Volertin. Gadis-gadis di sana pandai merayu pria hanya dengan cara mereka membuat teh.

“Apa ada yang pernah singgah di hatimu?”

“Ada satu. Aku malah hampir memperkenalkannya pada Duke. Tapi ternyata ayahnya ketua pemberontak hingga tiga garis keturunannya harus dibantai. Aku tak bisa menolongnya karena hukum negara.” kenang Kris sambil melihat ke arah tehnya. “Kadang-kadang aku melihat dia tersenyum di sini.”

Rasanya seperti tiba-tiba ada batu besar yang jatuh di hati Victoria. Ia hanya tidak menyangka hati pria ini tidak sebersih yang ia kira. Ia kira lelaki ini tidak mencintai siapa-siapa. Tapi siapa sangka pria ini bahkan menceritakannya secara detail tanpa merasa ada kemungkinan seseorang di luar sana yang menjadi tidak lega. Apa pria bangsawan sungguh tak bisa diduga isi hatinya?

“Apa kau begitu mencintainya?” tanya Victoria ingin tahu. Ia hanya ingin membuat hal ini tampak jelas.

“Aku begitu mencintaimu. Nanti. Secara bertahap.” Sungguh janji manis yang bisa menghancurkan ukuran batu itu menjadi setengahnya. Untuk alasan yang tak diketahuinya, ia kembali punya selera untuk makan.

“Ayo kita makan,” ajaknya sambil tersenyum kepada Kris.

~k~

Sulli Mareviere masih saja memandangi pop up yang diberikan Dio sebanyak tak terhingga terhitung mulai tadi malam saat ia meninggalkan si Soilaven begitu saja. Gambar itu tidak membosankan untuk dilihatnya berkali-kali, hal yang menurutnya ajaib mengingat ia tidak begitu menikmati karya seni.

“Your Grace, kuharap kita tepat waktu untuk sarapan bersama Duke dan Duchess.”

“Aku begitu bahagia, Let. Kau harus merasakannya juga.” ucap Sulli mantap masih dengan senyum ceria yang menempel di wajahnya.

“Kau mengatakannya berulang kali, Your Grace.” balas Letitia dengan raut muka yang kelihatan sekali sedang disabarkan.

“Memang, ini yang ke berapa kali?”

“Sembilan kali, Your Grace.”

“Ah, aku suka angka itu. Ayo kita turun untuk sarapan.”

“Mulai sekarang aku akan menjawab sembilan kali setiap kau tanya berapa, Your Grace.” ucap Letitia tersenyum sambil membukakan pintu untuk nona mudanya yang satu ini. Ia tidak boleh terus-menerus memanjakan gadis muda ini.

Sulli Mareviere menuruni tangga rumahnya dengan hati-hati karena gaun barunya yang kelihatan terlalu panjang jika ia tidak menggunakan sepatu hak tinggi. Ia menebarkan senyum kepada tukang masak dan tukang kebun yang baru saja selesai bekerja sambil mengucapkan terima kasih yang kelihatan enak untuk didengar.

Ia telah sampai ke ruang makan ketika ayah dan ibunya sedang meributkan suatu hal yang membuatnya mengubah penilaiannya tentang hari yang cerah ini.

“Duke, putri kita sepertinya punya kekasih. Kita harus menahannya menjadi ratu negeri ini. Tahukah kau dua bulan lalu dia mengaku padaku dia berciuman dengan seorang pria?” ucap sang Duchess tak sabar. Ia meletakkan kembali gelas tehnya yang sebelumnya hendak diminum.

“Aku juga tidak merencanakannya. Aku bahkan tidak tahu kalau Raja Demian IV melirik anak kita untuk jadi menantunya.” Duke of Rovaldine masih saja bersabar kepada istrinya yang akhir-akhir ini memiliki perilaku yang tidak stabil. Saat ia kira istrinya sudah bisa menerima Victoria Crownwell dan menurunkan kesensitivitasannya yang begitu tinggi, tiba-tiba ada saja masalah yang berusaha memompa darahnya kembali tinggi.

“Your Grace, kau pasti punya cara. Aku tidak bisa membiarkan putri kita yang ceria menjadi kesepian di istana. Kau harusnya tahu, kabar yang diberitakan Baret membuatku benar-benar melupakan nasihatmu semalam.”

“Baiklah, kita tanya saja keinginan gadis itu nanti pada pertemuan pagi. Sekarang, tenangkan dulu pikiranmu dan anggap tidak terjadi apa-apa.”

Setelah jeda lima detik, Sulli baru menampakkan diri di hadapan kedua orangtuanya. Ia memberikan salam hangat dengan menyebut kedua orangtuanya mother dan father seperti biasa. Tidak tampak keanehan. Sungguh pandai sekali ketiga orang ini menyembunyikan keadaan.

Dan ketika mereka sudah berpindah tempat, segalanya terasa berbeda sekarang. Wajah ibunya sudah agak tegang sedang wajah ayahnya masih tampak biasa saja.

Terlebih saat sang Duke sudah mulai berkata, “Sulli, ada yang ingin kubicarakan padamu.”

Walaupun ruang keluarga ini memiliki desain yang ceria, tetap saja rasa ketidaknyamanan ini tidak bisa disembunyikan. Sepertinya orang-orang ini membutuhkan sesuatu yang manis untuk menenangkan perasaan mereka masing-masing.

“Ada apa?” ucapnya masih agak cuek. Ini pasti pembicaraan yang melelahkan mengingat kedua orangtuanya tadi berdebat cukup lama dan sepertinya sejak semalam.

“Kau tahu apa yang kau lakukan kemarin di pesta dansa?” tanyanya dengan kata-kata pendahuluan yang tak pernah Sulli kira. Sepertinya pria tua ini juga sama bingungnya merangkai kata-kata.

“Ya. Aku mengatakan dengan super eksplisit kalau aku menolak tawaran pernikahan kerajaan. Bukan begitu?”

“Kau benar-benar tidak ingin?” tanyanya untuk meyakinkan putrinya sekali lagi. “Maka, dari sekarang kau harus menanamkannya dalam hatimu. Aku, ibumu, keluargamu, dan seluruh dunia tidak bisa menolongmu karena hanya sebatas nasihat ini yang mungkin bisa kami katakan untuk mencegah dirimu terpilih sebagai putri mahkota.”

Sulli menelan ludahnya. Benar, ia melupakan fakta itu semalam. Ia sudah terpilih sebagai calon, tak bisa mengelak, kecuali berusaha menggagalkan diri dengan sebaik-baiknya. Tapi bagaimana ya? Biasanya pilihan raja selalu menang.

Father,” ucap Sulli perlahan. “Aku merasa seperti aku sudah melakukan sebuah kesalahan besar.”

Sulli menggelengkan kepalanya. Ia merasa begitu bodoh. Ini adalah hal yang sulit dihadapi, tapi tadi malam ia benar-benar kelihatan nekat. Ia lupa kalau ekpresi ibunya adalah bentuk kekhawatiran panjang tentang takdir yang berjalan.

“Tadi malam aku tersenyum untukmu. Untuk keberanianmu, untuk semua resiko yang mungkin sudah siap untuk kau lalui.” ucap pria itu sambil menghadap ke perapian yang sudah padam sejak tadi malam. “Kalau ternyata belum, anggap saja senyumku semalam adalah doa yang panjang supaya kau selalu berada di jalan yang benar.”

“Apa kau benar-benar sangat serius pada pria yang tempo dulu pernah berciuman denganmu?” tanya Duchess yang berusaha mengembalikan alur yang sempat berbelok beberapa saat tadi. “Beberapa gadis yang tidak ingin terpilih berusaha membuat dirinya hamil. Kau mungkin bisa mencobanya kalau ia juga punya kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan. Ini adalah cara yang umum untuk menghindar dari kekacauan yang tak kau inginkan.”

“Apa?” balas Sulli tak percaya. “Lalu bagaimana dengan citra keluarga kita?”

“Aku bisa mengesampingkannya kalau itu sudah berhubungan dengan kebahagian putriku. Kris sudah memberikan kemampuan terbaiknya sebagai putra pertama. Dia tidak akan bisa dilupakan begitu saja.”

“Lalu bagaimana dengan nasib suamiku nanti?” tanya Sulli mulai menggila. Ini memang ide yang cukup efektif, tapi resikonya bisa jadi tak terduga.

“Asalkan dia punya kedudukan di parlemen dan atau pewaris Duke, segalanya akan terlupakan begitu saja. Jadi katakanlah, siapa pria itu.”

Benarkah Sulli harus mengatakannya? Lalu dari mana? Nama depannya? Nama belakangnya? Gelar nobelnya? Bagaimana reaksi kedua orangtua yang berusaha memeberikan penyelesaian ini jika sang pembuat masalah malah memberikan jawaban yang lebih rumit lagi?

“Sulli, apa kau mendengarku? Siapa namanya? Dari keluarga mana?”

Mother,” ucap Sulli hampir-hampir menangis. Ia menghilangkan senyum ceria yang baru saja dilaluinya hanya dalam beberapa menit yang melelahkan. Ia tidak bisa mengatakannya. Bagaimana jika hati sang Duchess kembali hancur karena ulahnya lagi?

Tapi benarkah ia bisa? Menjadi putri mahkota yang berarti akan terkurung di istana? Atau, sanggupkah ia melepas Dio yang baru saja dilaluinya hanya karena kesalahan pihak ketiga?

Mana yang harus ia pilih? Mengatakan yang sebenarnya lalu mendapat jawaban yang lebih tak terduga dan menyebabkan hal-hal lain yang lebih buruk lagi? Atau memilih─entahlah.

“Bukankah Pangeran Kai akan mengusahakan Krystal yang terpilih?” tanya Sulli gemetar. Seingatnya, kandidat yang lain sudah lebih dulu menggetarkan hati pria itu. Mereka sudah berpegangan tangan diam-diam.

“Pangeran Kai hanya menunjukkan seseorang yang dicintainya. Bukan seseorang yang menjadi ratunya. Biasanya para raja mendapat nasihat untuk memisahkan urusan cinta dan perpolitikan negara. Aku memahaminya karena aku cukup dengan Raja Demian IV.” ucap Duke bijak seolah ia adalah penasihat yang sedang dibicarakan.

“Di istana, ada banyak hal yang disembunyikan yang tak akan pernah bisa diketahui dunia luar. Menurutmu Putri Elli dan Hayi lahir dari rahim siapa?”

“Bukan dari ratu?” tanya Sulli mulai memahami kenapa tiba-tiba Pangeran Kai berubah pikiran. Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan ia akan menyakiti hati Krystal, bukan begitu?

“Kau mengerti pembicaraanku rupanya. Raja tahu siapa yang dicintainya, dia hanya menjaganya dengan sepenuh kekuatannya.”

Tapi kenapa aku?, ucap Sulli dalam diam. Sudah cukup aku punya cinta yang sulit. Kenapa harus ditambah-tambah!

Father, Mother, aku harus berpikir.” ucap Sulli dalam kebingungan. Ia meninggalkan ruangan dengan perasaan yang tak tertahankan. Ia ingin menangis. Ia ingin mengatakannya pada Dio Soilaven. Ia ingin sejenak bernapas dalam keadaan hati yang lebih baik. Ia ingin. Ia ingin. Sungguh sangat ingin untuk tidak terlibat dalam masalah yang membuat lelah.

“Kita lupa mengatakan padanya kalau Pangeran Kai akan datang hari ini.”

~k~

Satu menit ini Letitia hanya mondar-mandir di depan pintu kamar Sulli Mareviere. Setelah mendapat pesan dari Baret, hatinya begitu bimbang. Ia jadi memahami kenapa dari tadi gadis itu hanya terdiam dan tidak melakukan kegiatan apapun.

Letitia sudah memegang gagang pintu, bersiap untuk menekannya. Ia membukanya, mengintip. Tapi sepertinya Sulli Mareviere sedang tertidur. Dia tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama.

“Your Grace,” ucapnya ketika Letitia sudah berada dalam jarak yang dekat. “Anda harus bangun sekarang.”

Perlu waktu yang cukup lama untuk mendengar lenguhan Sulli. Gadis itu kadang-kadang susah dibangunkan. Sepertinya Letitia harus mencoba membangunkannya lagi setelah ia menyiapkan semua keperluan mandi.

Wanita itu bergegas menyiapkan segala keperluan. Menyalakan air kemudian membangunkannya lagi. Menyiapkan handuk kemudian membangunkannya lagi. Dan begitu terus sampai segalanya benar-benar siap.

Letitia bisa lega sekarang. Sulli Mareviere telah mulai membuka matanya perlahan-lahan dan berkata, “Ini jam berapa?”

“Jam tiga sore. Anda harus segera mandi, Your Grace.”

“Ada apa? Kenapa? Biasanya aku mandi pukul empat sore.” Sulli bangkit dari posisinya dan menyenderkan tubuhnya pada bantal. Rasanya ia enggan untuk beranjak dari tempat tidur yang nyaman ini. “Kau khawatir sekali.”

“Eh,” balas Letitia gugup. “Hari ini akan ada tamu. Bukankah biasanya kalau ada tamu semua keluarga akan menyambutnya?”

“Ini bukan hari kunjungan kan? Apa ada tamu spesial atau tamu yang datang dari jauh?”

“Sepertinya begitu. Aku tidak bertanya detailnya pada Baret.” Ini pertama kalinya Letitia membohongi Sulli. Tapi bagaimana lagi, sepertinya gadis itu tidak akan siap kalau Pangeran Kai yang akan datang mengunjunginya.

“Baiklah aku akan mandi kalau semuanya sudah disiapkan. Kau punya waktu dua puluh menit untuk menyiapkan segala sesuatunya bukan? Ah ya, aku tidak ingin memakai gaun yang berlebihan.”

“Your Grace, segalanya telah kusiapkan bersamaan dengan kegiatan membangunkan Anda.”

“Ah, begitu.”

Sulli menuruti semua kata Letitia dengan setengah hati. Rasanya malas sekali mandi bukan pada waktunya. Biasanya Sulli mulai benar-benar mandi jam setengah lima sore. Tapi apa ini? Ia bahkan tidak merasa nyaman dengan sinar matahari yang samar-samar membuatnya merasa tidak nyaman.

“Jangan lupa untuk keramas, Your Grace.” Letitia mengingatkan dari balik pintu.

“Ya,” sahutnya dari dalam.

~k~

“Anda ingin gaya rambut yang seperti apa, Your Grace?” tanya Letitia ingin tahu. Ia tidak ingin merusak mood gadis ini hanya karena gaya rambut yang tidak sesuai dengan kepribadiannya.

“Aku jadi curiga sesuatu,” ucap Sulli penuh selidik. “Kenapa kau harus benar-benar mementingkan fashionku? Sebenarnya siapa yang akan datang?”

“Anda ingin aku menanyakannya pada Baret, Your Grace?”

“Kalau kau pergi, mungkin aku takkan kembali ke sini.”

“Jadi kau ingin Baret melihatmu begini, Your Grace?” tantang Letitia tidak serius.

“Baiklah, aku ingin rambutku diurai.”

“Anda sudah terlalu sering mengurai rambut ini tanpa memberikannya sentuhan manis sedikitpun, Your Grace.” ucapnya sambil mengangkat sebagian rambut Sulli. Ia hanya tidak mengerti kenapa gadis ini tidak ingin terlihat cantik. Sungguh tidak seperti wanita pada umunya.

“Kukira kau memahami image yang kubangun, Lety. Lihatlah, aku sudah tampak cantik tanpa menggunakan apapun. Lagipula, aku tidak pernah melakukannya ketika aku keluar rumah. Jadi karena ini acara rumahan, kuharap kau memahami apa yang kupikirkan.”

“Ya, aku akan menambahkan jepit bunga sakura ini supaya rambut Anda kelihatan lebih menarik, Your Grace.” ucapnya sambil menunjukkan jepit yang dimaksud. “Kali ini Anda harus menyerahkan segalanya padaku.”

Setelah Sulli selesai, Letitia keluar dari kamar gadis itu dengan lega. Ia tidak terlambat, gadis itu masih bisa bersantai sekitar kurang lebih sepuluh menit─sungguh waktu santai yang mengerikan.

Sulli sendiri sekarang sudah terhanyut dalam sebuah buku novel yang cukup tebal di atas kasurnya. Ia tidak benar-benar sadar waktu berlalu begitu cepat. Hingga ketika pintu itu terbuka begitu saja, ia baru sadar kemungkinan tamunya telah masuk ke kamarnya.

Ia mengamati sosok seseorang yang baru saja masuk. Bukan seseorang yang asing. Bukan juga seorang saudara jauh yang sepertinya Sulli pernah lihat. Pakaiannya tampak aneh. Bukan pakaian seorang bangsawan.

“Your Grace, Pangeran Kai ada di sini.” ucapnya kemudian mundur sampai kembali ke pintu. Sulli melihat pintu itu dengan perasaan yang tak terdefinisikan. Sesaat kemudian, ia memang melihat sosok yang dibicarakannya muncul begitu saja dan mendekat ke arahnya.

“Kau begitu terkejut. Ada yang salah?” tanyanya lembut, tapi semakin membuat Sulli takut. Ia berjalan ke arah Sulli, memegang buku yang dibawanya, membalik judulnya, kemudian meletakkannya di suatu tempat. “Charles Dickens, kau menyukai karyanya? Ia banyak menulis novel bertema kehidupan anak-anak jalanan.”

“Your Majesty,” salamnya pada Pangeran Kai ketika ia mulai sadar tentang sikap yang seharusnya ditunjukkan kepada seseorang yang berasal dari keluarga kerajaan. “Saya terkejut karena Anda tiba-tiba ada di sini.”

“Ah, kukira kau sudah diberi tahu oleh Duke kalau aku akan ada di sini,” balasnya sambil duduk di hadapan Sulli. Mereka sekarang telah satu alas. Sungguh aneh berada pada satu tempat tidur dengan seorang pria yang kedatangannya begitu mencengkam, terlebih saat pria itu mulai sedikit merapikan rambut Sulli yang tak beraturan karena tergesek-gesek bantal. “Apa semua orang menyembunyikan kedatanganku darimu?”

“Tapi kau cukup cantik hari ini.” puji Kai entah kepada siapa. Ia merasakan ucapan itu begitu kosong. Tak berenergi. “Mendekatlah padaku. Aku akan membisikkan sesuatu.”

Sulli menggeleng. Ia begitu takut untuk mendengar satu katapun.

“Kau terlalu keras menggelengkan kepalamu, Your Grace. Apa begitu sulit menjadi calon ratu di Narnia ini?”

Rasanya Sulli seperti berhenti bernapas. Ketegangan ini seperti tak berujung, membawanya pada kehampaan. Ia takut kalau-kalau pria ini akan menegaskan sesuatu hal yang ditakutinya, sesuatu yang tak ingin dibicarakan seakan itu adalah kabar yang menggembirakan.

“Your Majesty, itu terlalu─” tapi Kai bahkan telah merangkulkan tangannya dengan cepat hingga Sulli berada dalam jarak yang tak bernilai. Mereka begitu dekat. Bersentuhan. Terlihat begitu intens hingga orang-orang yang berdiri di dekat pintu mulai membalikkan badan, kecuali Sang Duke dan Duchess, tentu saja. Mereka tidak ingin putri mereka kenapa-napa.

“Mulai sekarang kau tidak boleh dekat dengan pria lain, Your Grace. Kau sudah terpilih untuk alasan yang kupercaya. Kau adalah pemenangnya.”

Sulli sekali lagi tidak bisa memahami keadaan ini. Perasaannya tak terhingga. Tak terdefinisikan. Wajahnya mendingin, beku, seperti seluruh dunia sedang berada di zaman es…

“Kupikir, ibuku membenci ayahku, jadi waktu itu aku hampir memastikan Krystal sebagai pemenangnya karena kuyakin ibuku takkan memilih pilihan ayahku. Tapi dia begitu tahu kursi ratu adalah kursi yang paling panas.” bisiknya di telinga kiri Sulli. Pria itu benar-benar mempermainkan nada bicaranya dengan baik. Ia berhasil membuat seorang Sulli Mareviere lemas dan tak berdaya. “Her Majesty benar-benar tahu siapa yang pantas duduk di situ.”

“Balas pelukanku sekarang.” ucap Kai lembut. “Tunjukkan pada mereka kau sedang bahagia sekarang. Itu adalah cara terbaik supaya mereka tak menangisimu setiap malam.”

Lalu dengan kata-kata apa lagi nantinya Sulli membela diri? Segalanya tak mudah lagi untuk dijelaskan. Pilihan terbaik yang masih bisa dimungkinkan memang hanya itu.

Dengan segenap kekuatan yang masih dimilikinya, Sulli memeluknya dengan hati-hati. Sekarang ia tahu, ada juga kondisi dimana seseorang yang memberikan kebahagiannya pada orang lain akan kehilangan kebahagiaannya juga. Ya, hal itu terjadi begitu saja… dengan sendirinya…

*****

Hello, everyone! Ini kedua kalinya saya menampakkan diri saya dalam fanfiksi yang saya buat. Saya mau minta pendapat boleh? Cerita ini kalau saya selesein sesuai dengan yang saya pikirkan, bakalan menyedihkan kayaknya. Hm, apa ada yang punya masalah dengan sad ending dan atau cerita gantung? Soalnya jujur saja saya penikmat sad ending dan cerita gantung (yang termuat kode kalau itu happy ending tapi). Saya nggak benar-benar menikmati cerita happy ending, it’s so classic, haha. Kalau yang suka happy ending mungkin bisa memberikan argumentasinya gimana caranya nih cerita bisa jadi happy ending. Apakah kalian setuju dengan ideku dan atau mungkin kalian ingin alur cerita yang berbeda denganku? Silakan berkomentar. *salam imut

14 thoughts on “That Glazed Winter – Chapter 4

  1. Jadi yang di pilih sulli?
    Terus gimana nasib d.o sm sulli😦
    Ah kalo endingnya terserah author aja deh ,tapi aku sih sk nya happy ending,tp aku gak tau mesti ngasih tau gimana ini ff bisa happy ending😀
    Penasaran sm lanjutannya
    Lanjuut ya🙂

    • Hm, gimana yaa. Iya, mungkin. Soalnya kalo Sulli nggak kepilih, aku malah bingung bikin alasan kenapa tuh dua kelas (bangsawan & ilmuwan) tidak saling bergaul. Udah kupikirin alasan ilmiahnya, tapi kok kayaknya tetep nggak ilmiah yaa, jadi aku rubah alur aja supaya lebih logis cara aku njelasinnya nanti. Biar ceritanya nggak jadi aneh gitu.

      Mungkin nanti akan happy ending, mungkin lho.
      Hihihi

  2. oh my god~ kai memilih sulli..
    lalu krystal bagaimana? dan dio juga? ya ampun masa dicampakkan begitu aja sih kasian juga kan
    tapi kalo sulli terus memaksakan dio hesh rasanya bakal sulit banget deh buat keduanya
    ah kalo buat endingnya terserah aja sih, kalo sad ending juga bisa mungkin bakal lebih dapet geregetnya yah walaupun agak gak lega ya pasti. ya tapi terserah kakaknya aja deh dapet feelnya dimana
    next part soon

    • Bukan Kai yang memilih Sulli, tapi Ratu yang memilih Sulli *koreksi sedikit haha

      Ada jalan sendiri buat mereka nanti, lha tapi itulah pokoknya empat-empatnya sama-sama kasihan huhuf😦

      Okedeh, coba kita lihat di chap depan yaa. Oke?

  3. kayaknya ending gantung tapi ada unsur happy endingnya lebih menarik kak. soalnya dari awal ceritanya kompleks banget. jadi kalo happy ending is so mainstream

  4. Ya ampun kai kenapa milih sulli, krystal plis lah pertahanin kai
    Baru aja kemaren sulli dio bahagia tapi sekarang😦
    Kadang2 aku juga suka sama sad ending cuma karena ada dio jadi berubah, aku harap happy ending aja
    Kalaupun mau sad ending boleh ga kaya romeo juliet aja, yah mungkin cerita itu kita udah ga aneh tapi setidaknya ada kesan berarti dalam kisah romeo juliet
    Oke onnie keep writing dan ditunggu next partnya yah ^^

    • wkwkwk… aku malah gatau cerita romeo juliet aslinya kayak gimana. Tahunya endingnya aja sih kalo opera romeo juliet gitu kan yang dishoot endingnya doang.

      Iyaa tungguin chap lanjutannya yaaa, jangan bosen-bosen bacanya😀

  5. Dio itu diam2 tapi romantis sbenernya, dia mungkin kelewat jujut tapi itulah kelebihannya. #meltingdeh
    Aigooo Kai knapa sih malah milih sulli? supaya Krystal gak bnyak kerjaan ngurusin Narnia, tapi tetap bisa barengan sma dia dg jadi selir? #soktahu
    Kiran eonni~ update juseyo

    • hello Kalizta, karena masih sibuk orientasi kuliah aku agak tersendat-sendat nih nulis lanjutannya. Didoakan cepat selesai yaa adaptasinya biar FFnya bisa lanjut lagi

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s