Spring’s Agitator [Chapter 4]

spring

Spring’s Agitator

by Atikpiece

Main Cast : T.O.P as Choi Seunghyun (BIGBANG), Lee Parkbom (2NE1) | Support cast : SE7EN as Choi Dongwook, Park Hanbyul | Genre : Romance, Psychology, Hurt/Comfort, Life | Rating : PG-15 | Length : Chaptered | Desclaimer : Plot and story is mine. Don’t copy or repost without permission!

©2014

Spring’s Agitator : [Prolog] | [Chapter 1] | [Chapter 2] | [Chapter 3]

[Chapter 4] – Believe

Setelah mendengar teriakan dari salah seorang pengunjung, beberapa orang yang berlalu lalang melewati lorong-lorong rumah sakit sejenak menghentikan rutinitas mereka.

Suara riuh di sekitar area pintu utama rumah sakit pun semakin lama semakin memekakan telinga, usai mengetahui peristiwa yang terjadi sekitar lima menit lalu hingga menyita perhatian beberapa pasang mata untuk menyorot sosok yang kini membeku dengan kedua lengan dicengkeram erat oleh dua orang dokter. Tatapannya benar-benar kosong, tak menyiratkan apapun walau hanya sebesit. Namun napas terengahnya terus menderu ke segala penjuru, tanpa memedulikan bagaimana keadaannya saat ini sampai memicu teriakan menjijikkan dari beberapa orang yang melihatnya.

Bahkan ketika Parkbom tengah mengunci bibirnya rapat-rapat, berusaha mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara saat ia benar-benar berada tepat di hadapan pria itu, Seunghyun sama sekali tidak ingin melihat ke arah Parkbom. Menatapnya sejemang pun tidak, dan ia memandang ke arah lain tanpa tahu apa yang harus ia lakukan ketika wanita itu menelusurinya dengan bola mata membelalak serta raut tak percaya, bahkan nyaris merasakan nyeri yang teramat sangat di setiap jengkal dadanya.

Parkbom lantas mengangkat tangan kanannya hendak membekap mulutnya sendiri.

Sebab wanita itu melihat wajah Seunghyun penuh memar dan bercak darah, disertai tubuhnya yang sama sekali tidak tertutup kain sehelaipun.

Jemari dan tubuh Parkbom seketika gemetaran.

“Se—Seunghyun—ssi, kau…”

Yak! Bocah brengsek!”

Bibir Parkbom mendadak terkatup.Ia mendengar sebuah teriakan tiba-tiba dari jarak beberapa puluh senti darinya. Kemudian ia menoleh ke asal suara tanpa mengubah mimik tercengangnya. Orang-orang yang berdiri di sekitarnya pun dalam sekejap menutup mulut mereka yang terus mengoceh sedari tadi, hingga riuh yang diciptakan tiba-tiba berubah sepi dan sunyi. Dengan kelopak mata membulat, mereka baru menyadari, jika ada sosok lain yang sedang meronta tiada henti di bawah cengkeraman dua orang perawat yang berdiri tak jauh dari mereka. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya penuh luka, dan ia menyorot Seunghyun tajam penuh amarah.

“Beraninya kau melakukan hal kotor seperti itu pada istriku!!”

Seunghyun mengigit bagian bawah bibir, menahan perih di kedua ujung bibirnya. Kemudian menyusul beberapa pihak yang saling memandang bingung satu sama lain.

“Hei semuanya! Kalian dengar!?” Pria itu memelototi beberapa orang yang melihatnya dengan tatapan ngeri disertai napas yang masih memburu. “Si brengsek ini mencoba menggoda istriku dengan memperlihatkan miliknya di hadapan istriku! Dia masuk ke ruang rawat inapku dan menyentuh istriku tanpa sepengetahuanku. Dia telah menodai istriku! Menodainya!!”

Seunghyun membelalakkan mata, lantas menggeleng pelan seraya membiarkan bibirnya terbuka sepersekian mili begitu mendengar bisikan-bisikan dari beberapa sosok di sekelilingnya.

“Lihat! Kalian lihat tubuhnya yang telanjang itu!” Pria itu berteriak dengan darah dibiarkan muncrat dari bibirnya. ”Dia langsung menelanjangi dirinya sendiri setelah menyentuh istriku, dan dia berusaha menyakitinya dengan pikiran kotor dan jari-jarinya yang menjijikkan!! Kalian lihat itu! Lihatlah!”

Satu dua teriakan kecil terdengar di kedua telinga Seunghyun, membuat gelengan cepat itu semakin menguasai diri setelah mendapati beberapa puluh sorot mata yang seakan mengintimidasinya. Kemudian Seunghyun menengok ke belakang, melihat seorang wanita menangis terisak sembari menggeleng dan memeluk tubuhnya sendiri. Seunghyun hanya bisa memandanginya, mengharapkan sesuatu, namun wanita itu tetap tidak ingin mengatakan sepatah katapun.

“Heh, bocah tengik!” teriak si pria. “Tidak seharusnya kau berada di tempat seperti ini! Kau sudah mengotori istriku! Kau bajingan! Kau sudah kehilangan akal! Kau gila!”

Seunghyun bergegas menatap si pria, kemudian merintih pelan.

“Tidak…”

Pria tak dikenal itu langsung tersenyum miring, berdeham sarkastis.

“Lihat, kalian semua lihat??” Kelopak matanya kembali melebar. “Aku berusaha melindungi istriku darinya, hingga dia mengamuk dan melukai wajahku sampai seperti ini! Lihat! Kalian semua percaya padaku, kan??”

Pria itu sejurus saja menunjuk ke arah Seunghyun.

“Pria ini benar-benar sudah gila!!”

“Tidak…” Napas Seunghyun tercekat sekaligus menggeleng lagi dengan tak wajar.

“Apa yang membuatmu bisa berkata seperti itu, huh!?”

“Tidak…”

“Cih, mengaku sajalah! Buat apa kau hidup jika benar-benar ditakdirkan untuk menjadi gila??”

“Tidaak…”

“Dasar bocah bangsat! Menjijikkaaan!”

“Tidaak…”

“Omong kosong!!”

“Tidaaak…”

“Manusia sepertimu memang pantas untuk mati!!”

“TIDAAAAAKK!!!!”

Seunghyun berteriak histeris. Sebagian orang bergerak mundur dengan tubuh gemetaran. Reaksi Seunghyun yang terus memekik tanpa henti seraya memberontak ingin melepaskan diri menyebabkan mimik ketakutan mereka menyeruak dalam hitungan detik. Ada beberapa anak yang langsung menangis lantas memeluk ibu mereka karena takut. Begitu pula dengan Parkbom yang kini hanya bisa mematung di tempat, mengembuskan napas berat sembari mempertahankan agar air matanya tak jatuh dari pelupuk. Dadanya terasa sangat sakit sedari tadi. Sesak, bahkan semakin menyesakkan ketika melihat Seunghyun menggeleng kuat-kuat dengan napas terengah bertubi-tubi.

“Aku tidak melakukannya! Dia bohong! Dia bohong!!” Tubuhnya terus menggeliat membuat kedua dokter itu mau tak mau harus mengencangkan cengkeraman mereka. “Aku tidak pernah melakukannyaa!! Tidak pernah! Tidak sekalipun! Tidaaaaak!!”

Parkbom merasakan paru-parunya hampir menyempit sesaat setelah memperhatikan air mata Seunghyun jatuh tanpa disadari. Dia terus menggelinjang tak tentu arah. Keadaan batinnya pun menggejolak hampir tidak bisa dikendalikan ketika dua sosok yang membawa Seunghyun memutuskan untuk menyeretnya menjauh dari pusat keramaian meski sedikit kewalahan menangani pria yang terus menjerit dan meronta di antara mereka.

Tetapi sebelum mereka benar-benar menariknya, arah pandang Seunghyun tetiba saja tertuju pada Parkbom. Ia memperhatikan wanita itu dengan alis mengernyit, berbeda jauh dengan Parkbom yang kini menemukan dirinya tidak bergerak sedikitpun akibat pancaran dari kelopak Seunghyun yang dipenuhi oleh cairan hangat, dan hampir menitik di pipi untuk kesekian kalinya.

“Kau…”

Parkbom sedikit terkejut. Seunghyun menggumam ke arahnya. Namun sekejap ia membisu, memastikan jika Seunghyun benar-benar berbicara padanya.

“K—kau!” ucap Seunghyun sekali lagi bersamaan dengan tubuhnya yang benar-benar akan ditarik paksa oleh kedua orang di sebelahnya.

“Kau percaya padaku?”

Parkbom mengerutkan keningnya.

“Kau percaya padaku, kan??” Seunghyun semakin mengencangkan suaranya.

“Kau percaya padaku… iya kan?? Hei!”

Namun Seunghyun tidak mendengar jawaban apapun dari Parkbom, membiarkan dirinya diseret entah ke mana dan terus meneriakkan kalimat yang sama sampai menggema agar Parkbom bisa mendengarnya. Siluet ketiga orang itu akhirnya benar-benar menghilang dari hadapan Parkbom disertai kerumunan yang perlahan menyebar, kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Parkbom mengepalkan kedua tangannya lantas menghempaskan udara, tidak mengerti harus melakukan apa, setelah melihat sosok—yang sebelumnya menghina Seunghyun habis-habisan—lenyap bersama dua orang perawat. Kemudian menyisakan dirinya berdiri menatap lorong yang baru saja dilewati Seunghyun dengan teriakannya yang masih terdengar samar.

 

*****

 

Sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas, Parkbom melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya seraya mendesah pelan. Otaknya sibuk berpikir, manakala kejadian barusan merupakan suatu hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ini kali pertama ia menyaksikan dua sosok dengan kondisi berbeda berkelahi sampai berakhir dengan salah seorang pasien terluka.

Dan yang lebih parahnya, dalam keadaan telanjang.

Walau bagaimanapun, situasi semacam itu benar-benar sulit diterima akal sehat bagi siapapun yang melihatnya, termasuk dirinya sendiri.

Kedengaran cukup memalukan memang, tetapi meskipun ia berusaha untuk mengenyahkan peristiwa itu berulang kali, namun seleret kalimat yang diucapkan Seunghyun terus-menerus padanya tidak pernah berhenti menerka dalam pikirannya. Pria itu berteriak hingga suaranya hampir habis. Napasnya menderu, raut wajahnya terbesit harapan, matanya membelalak seolah meyakinkan. Dan juga… air mata itu…

 

“Kau percaya padaku, iya kan??”

 

Ia tidak tahu.

Apa yang membuatnya harus percaya pada bocah itu?

Parkbom menundukkan kepalanya dalam-dalam, disusul langkahnya yang terhenti begitu saja. Kemudian ia menengok ke kiri, menghadap pintu cokelat kayu yang teronggok tak tersentuh. Jendela di sampingnya dibiarkan sedikit terbuka, memperlihatkan bias cahaya lampu yang menggantung di atas langit-langit ruangan. Mulanya Parkbom tidak begitu mempermasalahkan, hingga pupil matanya bertemu dengan sosok yang kini tengah meringkuk di atas ranjang dari balik jendela, memandang kosong dinding putih di hadapannya sambil memeluk kakinya erat-erat.

Parkbom lantas menahan napasnya.

Kemudian melirik angka yang tertulis pada papan pintu.

“Dokter Parkbom.”

Parkbom terkejut sesaat, kemudian menoleh ke arah perawat yang sedang melihatnya dengan senyum ramah. Lalu berkata agak tergagap.

“Y—Ya?”

“Sedang apa dokter di sini?”

Wanita itu sejenak terdiam, kemudian memutar kepalanya menghadap jendela, memandangi gelagat pria di dalam kamar sekali lagi. Sampai beberapa detik berlalu, ia kembali menatap perawat itu.

“Eng, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Ya?”

“Sekarang, pasien Choi Seunghyun dipindahkan di sini?”

“Benar,” jawab si perawat. “Karena sekitar dua jam lalu, pasien yang menjalani rawat inap di kamar ini sudah boleh pulang.”

“Oh,” balas Parkbom singkat sembari mengalihkan pandangannya ke arah Seunghyun. Pria itu tetap bergeming seperti sedia kala, namun beruntungnya dia sudah dapat mengeluarkan udara dengan lebih leluasa daripada beberapa menit sebelumnya. Wajahnya yang penuh luka lebam pun sepertinya sudah dikompres dalam kisaran dua puluh menit yang lalu, karena nampak jelas bahwa kini lukanya sudah agak berkurang. Bibir pucatnya dibiarkan mengering, tetapi anehnya, ia tidak sedikitpun merintih kesakitan meskipun kedua sudut bibirnya robek menyisakan darah yang belum juga membeku, seolah memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja.

Meski ia sendiri tahu, bahwa batinnya saat ini tidaklah demikian.

Terbukti ketika tubuhnya yang tiba-tiba saja gemetaran seirama dengan gerak bola matanya yang bergerak liar, menandakan bahwa pikirannya masih dikuasai oleh peristiwa menyakitkan yang baru saja menimpanya.

Parkbom mengernyitkan alisnya, memperhatikan Seunghyun yang kini semakin mempererat pelukan di tubuhnya, lantas mengembuskan napas panjang ke arah jendela.

“Apa Dokter Choi sudah tahu mengenai hal ini?”

“Sudah, dokter,” ucap si perawat. “Kami segera menghubunginya setelah pasien Seunghyun berhasil dibawa ke kamar ini.”

Perawat itu tersenyum kecil, lalu melirik sosok Seunghyun dari balik jendela dan menggeleng pelan beberapa menit kemudian. Decakannya mengudara seiring ia mendekatkan tubuhnya ke arah jendela.

“Kalau boleh jujur, sebenarnya saya merasa kesal, sekaligus kasihan padanya.”

Kerutan di kening Parkbom menyeruak, menyadari jika perawat itu sudah berdiri tepat di sampingnya.

“Dalam kondisi seperti itu, dia masih saja sempat melakukan hal seperti itu pada pasien lain.” Perawat itu membuang napas sejenak, kemudian melanjutkan. “Cukup keterlaluan memang bila dilakukan oleh pemuda seusianya, tetapi jika melihat keadaan psikisnya… saya rasa saya masih bisa memaklumi.”

Lalu ia menengok ke arah Parkbom seraya menyunggingkan senyum prihatin.

“Mungkin karena trauma berlebihan di masa lalunya, jadi dia sendiri masih kesulitan untuk mengontrol kadar emosi maupun kondisi jiwanya.”

“Aku benar-benar tidak mengerti soal ini.” Parkbom menunduk beberapa saat sembari tersenyum tipis. “Dokter Choi juga pernah berkata seperti itu padaku.“ Lantas menyirobokkan pandangannya kembali pada sosok Seunghyun seraya mendesah pelan, menyayangkan situasi yang sekarang benar-benar terjadi pada pria itu.

“Tidak kusangka, penyakitnya bisa sampai separah itu.”

“Saya sendiri juga berpikir begitu.” Perawat itu kemudian mengangkat bahu. “Ditambah sampai sekarang, saya juga masih memikirkan bagaimana perasaan orang tuanya saat mendapati anak mereka tengah menderita seperti ini.”

Kelopak Parkbom dalam sekejap membola. “Apa ayah dan ibunya sudah datang membesuk?”

Perawat itu menggeleng. “Sama sekali belum, dokter.”

Terdapat jeda sejenak, sampai beberapa sekon setelahnya perawat itu menatap langit-langit seraya berpikir.

“Atau mungkin lebih tepatnya, orang tua pasien Seunghyun tidak akan pernah datang untuk menjenguknya?”

Parkbom sejurus saja merasakan napasnya tercekat di tenggorokan.

“A—apa kau bilang?” Ia memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

“Saya hanya mengira-ngira saja, dokter.” Perawat itu tersenyum kecil.

“Karena semenjak dia dirawat di sini, tidak ada seorangpun yang menjenguknya selain Dokter Choi dan Dokter Parkbom sendiri. Bahkan dari pihak rumah sakit pun tidak bisa menghubungi keluarga dan sanak saudaranya. Jadi saya pikir, dia…”

Tubuh Parkbom seketika itu juga terasa sangat kaku.

Bibirnya pun tidak dapat digerakkan seincipun, saat tahu jika seseorang di dalam sana tengah menanggung penyakitnya sendirian tanpa bantuan dari siapapun. Ia nyaris tidak ingin mempercayai hal ini. Jemarinya mencengkeram erat kantung jas putihnya, menahan nyeri yang menyebar di sekujur dadanya dalam hitungan detik.

Perasaan ini lagi.

Parkbom hampir saja menahan udara dalam paru-parunya habis-habisan, sebab ia tak habis pikir.

Mengapa perih itu selalu membelenggu dadanya tiap kali ia mengetahui satu-persatu bagian paling menyakitkan dalam hidup Choi Seunghyun?

 

*****

 

Suara pintu berderit tiba-tiba terdengar pelan ketika sosok jangkung dengan balutan jas putih melangkahkan kaki memasuki ruangan, kemudian bergegas menutup pintu di belakangnya dengan sangat hati-hati. Awalnya ia hanya mematung di depan pintu sejenak, setelah itu ia lantas membalikkan tubuhnya, menatap paras kosong Seunghyun yang kini duduk meringkuk menghadap pintu, sekaligus membelakangi jendela sembari meletakkan kedua pergelangan tangannya di atas lutut. Kepalanya sedikit tertunduk, namun tiba-tiba terangkat saat mengetahui ada seseorang yang kini mulai mendekati ranjangnya, mengambil sebuah kursi lalu dihadapkan ke arahnya. Kemudian menyandarkan tas jinjing hitamnya disertai mendudukkan dirinya di kursi tersebut.

Annyeong, Seunghyun-ssi.”

Tidak ada jawaban. Yang ada, Seunghyun masih terus memelototi lututnya, seakan sapaan ramah Dokter Choi barusan hanyalah sebatas angin lalu. Namun pria itu tetap bersikap tenang, malah ia masih sudi menyunggingkan senyum hangat itu di hadapan Seunghyun meski Seunghyun tidak benar-benar melihatnya.

Dokter Choi kemudian sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Seunghyun.

“Kau masih ingat siapa aku, kan?”

Lagi-lagi Seunghyun membisu, membiarkan angin dari balik jendela menelusup sebagai jawabannya. Akan tetapi sejemang kerutan alisnya begitu kentara, saat ia memperhatikan seseorang yang duduk di depannya itu saksama. Rambut putihnya terpotong rapi, pupilnya berwarna cokelat tua, di kedua ujung matanya terdapat kerutan yang nampak dari kacamata tuanya, postur tubuhnya tinggi, parasnya lembut menenangkan, dan yang lebih meyakinkannya lagi adalah, sunggingan di kedua ujung bibirnya yang khas. Seunghyun masih mengingat Dokter Choi, sebab ia dapat dengan mudah mengenali sosoknya yang sudah begitu familier di matanya meski tak bertemu sekitar seminggu belakangan.

Dokter Choi lalu menarik tubuhnya menjauhi wajah Seunghyun.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyanya sambil memangku tas jinjingnya dan membuka resleting. “Tidak terjadi sesuatu yang buruk, bukan?”

Dalam sekejap tubuh Seunghyun menegang, disusul jemarinya yang semakin erat mencengkeram kedua lututnya. Ia lantas menjauhkan diri hingga punggungnya membentur dinding dalam gerakan lambat, meringkuk lebih dalam. Bibir bagian bawahnya yang pucat tergigit, sementara pupilnya bergerak tak teratur. Mengisyaratkan bahwa ia tidak sedang dalam keadaan baik. Sekaligus membenarkan persepsi pria yang saat ini tengah mengeluarkan berkas-berkas dari dalam tasnya.

Terjadi sesuatu yang buruk, dan Dokter Choi memang sudah mengetahuinya. Terlihat ketika tatapan memprihatinkan sejurus saja menampakkan diri di wajah Dokter Choi namun cepat-cepat ditutupi oleh ringisan kecilnya demi menenangkan suasana seiring desahan panjangnya yang mengudara.

Kesunyian tiba-tiba membelenggu mereka, akan tetapi pecah begitu saja setelah dehaman kecil terdengar dari bibir Dokter Choi.

“Aku sudah tahu semuanya.”

Dokter Choi sejenak terdiam, memperhatikan tubuh Seunghyun yang masih bergeming.

“Meski hanya dari cerita kronologi beberapa orang. Tapi dari caramu mengekspresikan sesuatu, sepertinya masalah itu terlihat sangat rumit sehingga kau benar-benar tidak ingin menceritakannya padaku.” Pria jangkung itu tersenyum tipis, kemudian melanjutkan. “Dan sepertinya akan terasa sangat sulit bagimu menenangkan diri, setelah apa yang sudah terjadi padamu. Aku tahu jika ini begitu menyakitkan. Ditambah kau tidak punya siapa-siapa untuk bisa melindungimu,” tambahnya.

Senyum kecil Dokter Choi seketika terkembang.

“Tapi aku berada di sini, Seunghyun-ssi. Dan aku bisa merasakannya. Kau, dan hatimu.”

Tatapan Seunghyun tiba-tiba saja berubah kosong, mendengar penjelasan Dokter Choi yang sepertinya sedikit berhasil membuatnya tenang. Entah mengapa, gerak-gerik Seunghyun yang tak wajar beberapa menit lalu secara langsung telah membawa pengaruh yang cukup beresiko terhadap psikisnya. Bagaimana tidak, berkelahi dengan pasien tanpa memikirkan fisiknya sendiri yang sudah telanjang. Ditambah orang itu menghinanya habis-habisan hingga dirinya hampir dibuat menangis. Cuma orang tolol yang menganggap bahwa itu hanyalah masalah sepele yang sengaja dibesar-besarkan.

“Aku paham bahwa sekarang kau merasa seperti telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu, tapi apa kau tahu,” suara lembut Dokter Choi kembali menyapu telinga Seunghyun, dan kini pria itu meletakkan kedua tangannya di tepi ranjang.

“Tidak ada satupun manusia yang diciptakan untuk selalu melakukan hal dengan benar. Mereka tidak akan pernah luput dari kesalahan walau sedikitpun. Dan salah satu hal yang paling sulit dilakukan di dunia ini adalah memaafkan diri sendiri. Seperti yang sedang kaulakukan. Benar begitu, kan?”

Dokter Choi kemudian menarik kursi lebih dekat ke ranjang, lantas mendekatkan wajahnya lagi sembari mendesah dan tersenyum hangat.

“Kau hanya butuh waktu,” katanya. “Dan sekarang aku sudah berada di pihakmu. Tidak ada yang perlu kautakutkan lagi.”

Seunghyun menelan ludahnya, lantas mengendurkan cengkeraman di lutut sembari masih mengatupkan bibirnya. Kerutan di keningnya lambat laun kian memudar, hanya tersisa pancaran mata yang berusaha untuk yakin jika masih ada harapan baginya ketika Dokter Choi menampakkan senyum khasnya seperti biasa.

Namun ketika raut Dokter Choi berubah sedikit lesu disertai jemarinya yang hendak meraih puncak kepala Seunghyun, sejurus saja Seunghyun mengelak. Rasa takut itu kembali muncul.

“K—kau… pasti… tidak… percaya p—padaku… kan?”

Kelopak Dokter Choi terbuka lebar, tidak mengerti apa maksud di balik ucapan Seunghyun. Tetapi pria paruh baya itu mungkin tahu, bahwa ini ada kaitannya dengan masalah yang sedang dihadapi bocah itu sehingga ketika kondisi Seunghyun sudah lebih tenang dan memungkinkan, pria itu kembali memamerkan senyumnya disertai jemarinya yang kembali meraih puncak kepala Seunghyun, dan kali ini Seunghyun membiarkannya sampai jemari Dokter Choi benar-benar berada di atas kepalanya, mengusap anak-anak rambutnya lembut.

“Aku percaya padamu, Seunghyun-ssi.”

Gerak bola mata Seunghyun dalam hitungan detik berubah agak teratur, seiring dirinya yang tiba-tiba saja tersentak karena teringat sesuatu.

“Dan… juga… dokter… itu?”

Dokter Choi mengangkat sebelah alisnya. “Dokter siapa?”

Seunghyun tidak menjawab. Butuh waktu beberapa detik untuk membiarkan kesenyapan menyelimutinya, sampai sebuah gumaman menelusup ke gendang telinganya disusul pergelangan tangannya yang kembali bergetar.

 

“P—Park… bom…”

 

*****

 

Two days later…

 

Dokter Choi sejemang menghempaskan udara begitu keras setelah menutup pintu kamar 203 yang kini teronggok begitu saja di hadapannya. Ia menundukkan kepalanya beberapa saat, memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya lima belas menit yang lalu lantas bergegas melangkah menuju ruang kerjanya. Entah mengapa hari ini terasa begitu melelahkan, ditandai dengan keringat membasahi setiap jengkal keningnya yang kemudian cepat-cepat ia bersihkan dengan sapu tangan, seiring kakinya meminimalisir jarak antara ia dan kamar yang ia masuki beberapa menit lalu. Mengetahui bahwa kini keadaan Seunghyun sedikit tidak memungkinkan, ia merasa cukup resah. Apalagi ketika lelaki itu berteriak sambil menggeleng tidak wajar seperti yang dilakukan beberapa hari lalu hanya karena sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat.

Dokter Choi memutar kenop pintu ruangannya, namun tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar seseorang memanggilnya.

“Dokter Choi.”

Pria paruh baya itu menoleh. “Oh, Dokter Parkbom.” Kemudian tersenyum kecil ketika wanita itu berlari mendekatinya. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”

“Bagaimana Seunghyun?”

Seketika senyuman di wajah Dokter Choi melenyap. Begitulah apa yang dilihat Parkbom. Lalu ia mulai berspekulasi. Pasti terjadi sesuatu, melihat Dokter Choi yang tidak biasanya memasang paras lesu seperti ini. Pun kali ini pria itu tengah memasang senyum yang agaknya dipaksakan.

“Ceritanya sedikit panjang,” jawabnya. “Tidak baik jika aku menceritakannya di sini. Mungkin aku bisa jelaskan di dalam.”

Parkbom terdiam beberapa detik, sampai akhirnya ia membalas dengan sebuah anggukan kecil.

 

*****

 

Setelah mendudukkan pantatnya di kursi tepat di depan ranjang Seunghyun, Dokter Choi sejenak tersenyum hangat ke arah pria yang kini duduk meringkuk di hadapannya. Kondisi yang dialami pria itu sama sekali tidak berubah, yakni menundukkan kepalanya seraya menggenggam lutut kuat-kuat, tak peduli sudah seberapa kusut kain celana yang melekat di kakinya. Ditambah pupilnya kini bergerak hampa seolah tidak menyiratkan apapun. Kosong dan tak berarti.

“Selamat pagi, Seunghyun-ssi.”

Tidak ada suara menyeruak.

“Kau sudah merasa baikan, bukan?” tanyanya, dan dibalas oleh kepala Seunghyun yang agak terangkat.

“Omong-omong, kita sudah melewati minggu pertama. Sepertinya tampak sedikit lebih baik. Coba kita lihat, ya.”

Dokter Choi mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya, kemudian mengambil selembar kertas kosong yang ditempatkan di atas papan cokelat sebagai landasan. Usai direkatkan oleh sepasang penjepit kertas, Dokter Choi mengeluarkan pulpen dari kantung jasnya.

Akan tetapi setelah itu, sebuah pekikan secara tiba-tiba mengagetkannya.

“A—apa itu??” Kelopak Seunghyun membelalak lebar seraya menunjuk pulpen yang digenggam Dokter Choi dengan tangan bergetar hebat. “Apa itu?? Jauhkan benda itu dariku!!”

“Ada apa denganmu, Seunghyun-ssi?” tanya Dokter Choi bingung. “Ini hanya pulpen biasa. Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

“Pokoknya jauhkan benda itu dariku!! Pergi!! Pergi!!”

Seunghyun mengibaskan tangannya berulang kali sembari berteriak tiada henti. Sementara Dokter Choi terdiam sesaat ketika pria yang terus melayangkan tangannya dalam sekejap menyembunyikannya di dalam selimut yang sejak tadi membungkus kedua kakinya. Seunghyun masih berteriak histeris. Karena tak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk, akhirnya Dokter Choi memutuskan untuk mengembalikan pulpennya ke dalam kantung jas.

“Baiklah, baiklah,” gumam Dokter Choi. “Aku tidak akan memperlihatkan benda itu lagi padamu, oke? Jadi, sekarang tenanglah.”

Napas terengah Seunghyun mengudara di seluruh penjuru ruangan, disertai dadanya yang naik turun tidak beraturan akibat oksigen yang dihirup mati-matian olehnya. Dokter Choi tidak habis pikir. Biasanya ia sering menggunakan pensil untuk mencatat bagaimana kondisi Seunghyun beberapa hari terakhir. Akan tetapi hari ini ia lupa membawanya, dan terpaksa meminjam pulpen dari pihak resepsionis.

Namun sialnya, pulpen itu malah memberikan kesan buruk dan membahayakan bagi psikis Seunghyun.

Tetapi ini aneh. Bahkan membingungkan.

Jika Seunghyun melihat pulpen itu sebagai benda tajam dalam halusinasinya, lalu bagaimana dengan pensilnya?

Bukankah ujung pensil yang biasa ia gunakan justru lebih tajam ketimbang pulpen yang ia pakai sekarang?

Ia benar-benar tidak mengerti.

“Selamat pagi, dokter.”

Dokter Choi sedikit terkejut, lantas memutar kepalanya dan menarik kedua sudut bibirnya mendapati seorang perawat memasuki ruangan lalu tersenyum ramah seraya membawa pot bunga berukuran sedang.

“Maaf mengganggu sebentar. Saya hanya ingin menempatkan Tulip ini di dekat jendela.”

“Oh, baiklah. Silahkan.”

Perawat itu sedikit membungkuk dan hendak berjalan mendekati ranjang Seunghyun, namun tiba-tiba saja sebuah bantal menghantam pot tersebut disertai pekikan kencang.

PRAANG!!!

“Yaak!! Singkirkan benda itu dariku, brengsek!!”

Perawat itu langsung tersentak. Ia terlunjak dan bergidik ketakutan. Tubuhnya gemetaran sembari menengok ke arah Dokter Choi berulang kali. Sementara Seunghyun terus berteriak histeris layaknya orang kesetanan, dan perawat itu tidak tahu harus berbuat apa.

Tanpa buang waktu, Dokter Choi cepat-cepat mencengkeram kedua lengan Seunghyun kuat-kuat meskipun pria itu bersikeras melepaskan kedua tangan Dokter Choi darinya. Ia berusaha untuk menenangkan, namun naasnya Seunghyun masih saja meronta dan memekik keras.

“Lepaskan!! Lepaskan aku!! Singkirkan benda itu dariku! Tidak!! Aku benci padanya!! Aku benci!!”

“Dokter, saya harus bagaimana?” tanya perawat itu dengan suara bergetar. “Apakah pasien Seunghyun harus diberi suntik obat penenang?”

“Tidak, tidak perlu,” bantah Dokter Choi. “Biar saya yang urus semuanya. Lebih baik sekarang kau cepat keluar, sebelum kondisinya bertambah buruk.”

“B—baik, dokter.”

Perawat itu bergegas keluar dari ruangan, disusul Dokter Choi yang kini tengah berusaha membuat Seunghyun tak lagi mengguncang-guncangkan tubuhnya yang sedikit ringkih.

“Sudahlah, Seunghyun-ssi, tenanglah. Dia sudah pergi.” Nada bicara Dokter Choi terdengar keras namun sedikit melemahkan. Seunghyun masih memberontak, akan tetapi setelah pria paruh baya itu menggumamkan kalimat yang sama dengan sangat keras, secara perlahan Seunghyun memandang kedua bola mata Dokter Choi dengan lengan sedikit meronta. Sorot mata Dokter Choi terlihat begitu meyakinkan, sehingga sedikit demi sedikit ia menghentikan guncangan tubuhnya. Seunghyun sudah agak lebih tenang. Dan yang tersisa hanya deru napas terengahnya yang menggema di kedua telinga Dokter Choi.

Pria itu menatap Seunghyun dengan alis mengernyit dalam, ditambah ia juga memperhatikan bahwa ada setitik air mata yang jatuh dari kelopak kanan Seunghyun.

“Dia sudah pergi,” lirih Dokter Choi. “Bunga itu sudah tidak ada. Dia sudah lenyap. Kau mengerti, kan?”

Pancaran mata Seunghyun mengarah ke bawah, hingga beberapa menit berlalu, ia mengangguk cepat dan kembali memandang Dokter Choi.

Sementara pria paruh baya itu mendesah panjang, lantas tersenyum tipis lantaran cairan bening dari kelopak Seunghyun kembali jatuh di pipinya.

“Jangan menangis… dia sudah tidak ada…”

 

*****

 

“Aku benar-benar tidak mengerti.”

Parkbom mengerutkan keningnya ketika Dokter Choi mengeluarkan udara sembari menatap langit-langit ruangan, kemudian memandang kembali wajah Parkbom dan menggeleng pelan. Sebuah senyum kecil menghias paras tirusnya.

“Kau tadi sempat mendengar teriakannya, kan?” tanya pria itu, sedikit memiringkan kepalanya. “Dia berteriak benar-benar keras hingga menggema sampai ke ruanganmu. Maafkan aku. Kupikir kejadian barusan sedikit mengganggu pekerjaanmu. Bukan begitu?”

Parkbom tidak mengatakan sepatah katapun. Karena ucapan Dokter Choi barusan kemungkinan ada benarnya, meskipun itu hanyalah secuil dari kenyataan. Namun itu bukanlah hal yang harus dipermasalahkan, karena di balik semua itu ada suatu hal yang jauh lebih penting untuk diselesaikan secara matang. Mengingat penjelasan Dokter Choi mengenai Seunghyun barusan membuatnya sedikit bergidik. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana jika ia berada di posisi Dokter Choi saat itu, dan dengan susah payah menenangkan Seunghyun yang terus memberontak lantas menangis di hadapannya.

Sungguh, bagi Parkbom, melihat Seunghyun menitikkan air matanya saja sudah cukup menyakitkan, apalagi mengetahui jika kondisi psikisnya sedang terganggu.

Desahan kecil meluncur dari bibir Parkbom, seirama dengan Dokter Choi yang kini menegakkan posisi duduknya.

“Tetapi, dengan adanya peristiwa itu, kurasa aku bisa mengambil sedikit kesimpulan, dokter Parkbom.”

Dokter Choi menarik kursinya agar lebih dekat ke meja. Kemudian mengambil tas jinjingnya dan mengeluarkan selembar kertas berisi tulisan khas dokter yang tidak begitu jelas. Ia meletakkannya di meja, disusul sebuah pulpen dan setangkai Tulip yang telah layu disusun tepat di kedua sisinya.

Melihat ketiga benda tersebut, Parkbom mengangkat kedua alisnya. Ia bingung, sekaligus tidak mengerti.

“Saat itu, Seunghyun benar-benar ketakutan ketika melihat kedua benda ini.” Dokter Choi lalu menunjuk pulpen dan Tulip bersamaan, lantas menopang kepalanya dengan kedua tangan dan diletakkan di atas meja. “Dan kau tahu, keduanya sama sekali tidak membahayakan. Tetapi baginya, ini seperti sebuah senjata yang tidak segan-segan akan menghancurkan hidupnya saat itu juga.”

Parkbom memperhatikan keduanya saksama. Kemudian menyilangkan tangan di depan dada. “Kalau begitu…”

Wanita itu lalu mendekatkan wajahnya ke dua benda yang teronggok manis di depannya. Mulanya ia menatap pulpen hitam dengan ujungnya yang tumpul itu barang semenit, tetapi itu tidak berlangsung lama, ketika ia memperhatikan Tulip biru di sebelahnya dengan mahkota bunga yang hampir mengering. Tangkainya nyaris patah. Daunnya berserakan di meja. Namun Parkbom mulai berpikir, ada sesuatu yang janggal.

Bunga itu mengingatkannya akan perihal yang terjadi dalam satu minggu belakangan. Sepertinya ini ada kaitannya dengan Seunghyun, terlebih ketika pria itu masih ditempatkan di ruang kerja Dokter Choi.

Oh, ya.

Waktu itu Choi Seunghyun pernah memecahkan pot Tulip yang sengaja Parkbom tempatkan di meja Dokter Choi.

Alis Parkbom berkerut samar. Jantungnya hampir saja melompat dari tempatnya ketika kembali teringat akan kejadian itu. Lalu ia menekuk kepalanya, hendak menyentuh meja.

Kemudian ia berkata agak lirih.

“Jadi, memang sejak awal bocah itu sudah tidak menyukai Tulip, ya.”

“Apa?”

“Eh, ti—tidak,” kata Parkbom tergagap. “Sa—saya hanya merasa jika Seunghyun memang benar-benar membenci Tulip sejak lahir. Atau bisa jadi semacam… fobia, mungkin saja.” Parkbom asal berucap. Sementara sosok yang sedang ia ajak bicara tidak berniat menanggapi, dan hanya membalas ungkapan wanita itu dengan seringai tipis.

“Yah, mungkin kau benar, dokter Parkbom.” Dokter Choi mengangguk setuju. “Tapi di sisi lain, aku sedikit tidak yakin. Terutama pada pulpen ini.” Ia mengangkat pulpen tepat di depan Parkbom. “Sekiranya aku percaya, jika Seunghyun berhalusinasi jika pulpen ini adalah benda tajam yang pernah menyakitinya di masa lalu. Sementara Tulipnya adalah poin tambahan. Seperti pemicu. Entahlah. Itu menurut pemikiranku.”

“Benarkah?” Bola mata Parkbom membulat sempurna. “Maksud dokter, seperti kenangan di mana ia bersama orang lain?”

“Tentu.” Dokter Choi mengangkat bahunya. “Tadinya aku hampir putus asa ketika memikirkan semua ini, tapi paling tidak, pasti ada sedikit keterkaitan. Bisa jadi ini ada hubungannya dengan Ekshibisionisme yang ia derita. Itupun jika aku tidak salah menganalisa.” Pria itu membiarkan sunyi membelenggunya sesaat, kemudian ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sembari terkekeh pelan dan menepuk pelan keningnya. “Astaga, tidak kusangka aku bisa berpikiran seperti itu. Kenapa aku jadi sok detektif sekali?”

“Tapi saya suka dengan pola pikir dokter.” Parkbom tersenyum lebar. “Dan saya pun bisa memahaminya. Pemikiran seorang dokter psikologi memang hebat.”

“Ya ampun, kau terlalu menyanjungku. Tapi, terima kasih.”

Dokter Choi tertawa. Sedangkan Parkbom tersenyum cerah, disertai kembali memandangi satu persatu benda yang masih menetap di meja dalam kisaran waktu sepuluh menit. Kemudian ia mendesah sangat pelan, saat bayangan Seunghyun tiba-tiba melintas dalam otaknya. Mengelilingi pikirannya secara cepat, berputar bagai roll film. Ia bahkan tidak mengerti bagaimana cara mengenyahkan sosok lelaki berusia 25 tahun itu dari kepalanya. Yang ada, ia membiarkan dirinya sendiri larut di dalamnya, berpikir seakan itu sudah menjadi hal lumrah semenjak pria itu dirawat di sini.

Namun di sela ia masih bersikukuh dalam lamunannya, sejurus saja seleret kalimat seolah menari di depan matanya.

 

“Kau percaya padaku, iya kan??”

 

“Oh, iya. Aku ingin bertanya sesuatu.”

Tubuh Parkbom seketika terlunjak ketika suara Dokter Choi berhasil menelusup ke gendang telinganya, seiring untaian kata yang tiba-tiba saja menghilang dari pupilnya. Parkbom terdiam sejenak, berdecak sangat pelan. Ia nyaris akan memaki dirinya sendiri sebab akhir-akhir ini kata-kata itu yang selalu menghampirinya silih berganti.

“Mengenai kejadian dua hari lalu…”

Parkbom baru saja hendak memfokuskan arah pandangnya pada Dokter Choi ketika pria itu sudah benar-benar memposisikan diri tepat di hadapannya. Kemudian ia mendengar desahan kecil Dokter Choi disertai mimik wajahnya yang seketika berubah serius.

“Apa separah itukah, sampai Seunghyun memintaku untuk percaya padanya?”

Parkbom merasa napasnya seperti tertahan di dalam paru-paru. Dadanya terasa sempit. Kelopaknya membelalak sangat lebar. Ia hampir tidak memercayai indera pendengarannya. Tunggu. Kejadian dua hari lalu… peristiwa itu… saat itu… Seunghyun…

“D—dokter bicara apa?”

“Tragedi perkelahian itu…” Dokter Choi menatap kedua manik Parkbom dalam. “Apa benar kejadiannya memang seperti itu?” tanyanya. “Seunghyun sendiri yang menyuruhku memercayainya.”

“Dan dokter percaya padanya?”

Mata Dokter Choi berkedip berulang kali, sedikit aneh melihat reaksi Parkbom yang dalam sekejap merasa ingin tahu, sekaligus menggebu mengharapkan jawaban. Menurut pria itu sendiri, Seunghyun mungkin juga mempertanyakan hal yang sama pada Parkbom sehingga membuat wanita ini seolah tengah berada di posisi yang sama dengannya. Ingin mengiyakan, namun ia sendiri masih tidak mengerti sebab diselimuti oleh kebenaran semu.

“Ya… aku mengatakan jika aku memercayainya.” Dokter Choi mengangguk sambil memutar bola matanya. “Dengan berbagai pertimbangan. Karena kau harus tahu, dokter Parkbom,”

Parkbom menggigit bagian bawah bibirnya ketika Dokter Choi kembali mendekatkan diri ke meja, membuang napas sejenak lantas menyatukan jemarinya di atas meja.

“Seorang penderita Eskhibionis, tidak akan berani menyakiti fisik orang lain, kecuali jika itu memang sudah dalam keadaan akut maupun karena terpaksa,” jelas Dokter Choi. “Yang ada, mereka sibuk mengurus urusan mereka sendiri tanpa melihat orang di sekelilingnya. Mereka hanya akan melihat apabila hendak memuaskan hasrat seksualnya saja, setelah itu tidak lagi.”

Parkbom membeku seraya menatap Dokter Choi di tempat. Kemudian ia memijat pelipisnya sejenak saat tahu kejadian itu menyeruak kembali dalam pikirannya. Jika dilihat dari mimik wajah yang dipancarkan Seunghyun, mungkin penjelasan Dokter Choi ada benarnya. Apalagi ketika ia terus meneriakkan kata ‘tidak’ demi membela diri. Bahkan ia sengaja meneriakkannya begitu keras agar beberapa pasang mata yang melihatnya benar-benar percaya bahwa dia tidak melakukan hal itu.

“Tapi… entahlah, dokter. Saya masih meragukannya,” lirih Parkbom di sela Dokter Choi berdiri dan menurunkan tirai jendela di sebelahnya.

“Saya ingin mengatakan jika saya percaya padanya, namun terkadang, saya tak tahu mengapa kalimat itu terasa sulit sekali untuk diucapkan begitu saja, seakan membiarkannya tergantung kuat-kuat di dalam kerongkongan. Kelihatannya Seunghyun memang mengatakan yang sebenarnya tapi…”

 

“Jika itu tidak benar, apa yang harus saya percayakan darinya?”

 

-to be continued-

A/N : Aloohaaa~ Long time no see, long time no see~ *nyanyi DOOM DADA-nya T.O.P*😄 Ada yang masih mengharapkan kelanjutan fic ini?? :’> Maafkan daku ya kalau fic ini jadinya lamaaaa bangeeet. Mungkin karena efek WB yang merajalela di otak selama dua bulan huhu :’> Pokoknya minta maaf banget deh kalo fic ini dibiarin lumutan buat sementara.
Tapi makasih banget-banget-bangetan kalo masih ada yang mau baca sampe akhir. Rencana di chapter selanjutnya bakal ada pergantian scene masa lalu Seunghyun dengan masa sekarang. Ada yang mau tahu?? (kurasa tidak, haha.)
Okay! Thank you very much for reading or comment!❤ ^^

18 thoughts on “Spring’s Agitator [Chapter 4]

  1. Akhirnya dipost juga aaaakh… aku pnasaran nih sm kelanjutannya,, kasian seunghyun…😦
    keep writing kak author😉

  2. Haii, thor
    Sebenernya aku udh baca dri part awal tpi bru bsa komen d sini. Maf ya🙂
    Mkin ksini mkin rumit aja msalahnya. complicated. Tapi ttp keren banget kok.
    Buruan dlanjut ya🙂
    Diyan imnida, 98line,,,

    • Haloo diyaan😀
      Yup, ngga apa-apa kok. Orang ada reader yang cuma baca ff saya ini saya udh seneng banget kok ^^ Tapi makasih yaa udh nyempetin baca + komen. Atik imnida~ salam kenal diyaan😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s