Destiny

seuk jin

A FANFICTION BY Viayamada

DESTINY

||Genre Surrealism/? Friendship Sad Angst|Length 1258 [Vignette]|Ratting PG-15||

||Kim Seok Jin|Original Character from my imagination||

Note; tanpa tulisan perubahan point of view hati-hati ngebacanya😉

Happy reading^^

Karena kematian adalah takdir

.

.

.

nama gadis itu Kim Raehyun. Surainya berwarna merah keunguan, beiris hazel dan matanya sedikit belo untuk ukuran orang Korea. Hidungnya tak lebih mancung dariku dan tingginya hanya lebih pendek lima senti dariku. Tubuhnya begitu ramping.

Dan saat aku bercerita ini dirinya masih duduk diatas kursi taman. Matanya menatap lurus kedepan sejauh mata memandang dan aku berargumen bahwa dirinya saat ini sibuk berpikir mengenai—aku tidak tau mengingat aku bukanlah sosok pembaca pikiran seperti salah satu tokoh fanfiksi yang pernah aku baca.

Aku terus menatapnya sambil sesekali mengigit roti membiarkan rempah-rempah memasuki mulutku.

Omong-omong ini sudah kesekian kalinya aku mendapati gadis itu melamun dan saat aku tanya ia hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tak mau berbagi denganku ini mungkin masalah yang masih erat kaitannya dengan ayahnya yang disinyalir masih mabuk-mabukan dikampung halamannya, Insandong.

.

“kau baik-baik saja?” aku bertanya dengan nada sarat kekhawatiran saat mendapati Raehyun memasuki ruang kerjaku lengkap dengan ekspresi ketakutan yang terpatri diwajahnya.

Beberapa sekon kemudian aku mendapati Raehyun menganggukan wajahnya mungkin isyarat yang mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja seraya menghempaskan bokongnya pada sofa putih gading yang ada disalah satu sudut ruangan.

Baik-baik saja? Anak ini sudah gila.

“Rae…” aku mengucapkan namanya lengkap dengan nada memelas dan raut wajah memelas sebagai bentuk ungkapan bahwa aku betul-betul penasaran akan apa yang terjadi pada gadis yang lahir dua bulan lebih lama dariku.

“jika aku mengatakannya kau tak akan percaya.” Jawabnya ketus.

Aku mendesah pelan sembari mengumamkan kata ‘tidak akan’.

Ia memutar bola matanya terlihat malas.

“baiklah tapi jangan katai aku gila ya?”

Aku mengangguk lagipula untuk apa aku mengatai sahabatku sendiri dengan sebutan ‘gila’?

“aku bermimpi seorang ibu koma karena tertabrak mobil dan itu benar terjadi lalu aku bermimpi soal bocah yang tertabrak motor lalu koma dan itu terjadi. Aku berspekulasi bahwa mimpiku itu adalah petunjuk akan apa yang terjadi nanti. Bagaimana menurutmu?”

Raehyun menompang dagunya dengan sebelah tangannya. Matanya menilisik kearahku menuntutku untuk segera beragumentasi mengenai ucapannya.

Aku memikirkan kata-katanya dan menurutku itu juga sama seperti yang dituliskan salah satu penulis fanfiksi—okey, silahkan katakan bahwa aku gemar membaca fanfiksi karena itu memang benar.

“mungkin kau memang benar. Kau ditakdirkan untuk membantu mereka agar tak jatuh koma.” Ucapku akhirnya setelah beberapa menit tak bergeming dan membentuk gelombang keheningan diantara kami.

Sekon kemudian aku mendapati Raehyun—lagi-lagi—melamun.

“ada apa lagi?” bosan melihatnya seperti itu, akhirnya aku mengucapkan kata itu.

Raehyun terlihat ragu.

“jika memang begitu—kenapa harus seorang Kim Raehyun yang agak anti sosial?” ucap Raehyun akhirnya setelah ia terlihat menimang-nimang dengan penekanan pada kata ‘agak’.

“mungkin Tuhan bosan melihatmu bersikap seperti itu.” Ujarku asal lagipula aku juga tak tau kenapa Tuhan mentakdirkan dia menjadi sebagai ‘pelihat masa depan’ memangnya siapa diantara kita yang tau akan rencana Tuhan? Katakan padaku jika ada yang tau!

Raehyun pada akhirnya mengangguk—sebuah gesture yang menunjukan bahwa ia setuju akan ucapan asal milikku.

“kalau begitu aku tidur dulu.” Ucap Raehyun sembari membaringkan tubuhnya diatas sofa yang tadi ia duduki.

Omong-omong Raehyun memang acap kali tidur diruang kerjaku sampai aku beranjak pulang dan mengantarnya ke apartementnya yang tak jauh dari kantorku mungkin ini efek karena ia tak memiliki pekerjaan apapun selain sebagai pengantar susu dan loper koran dipagi hari dan ia tak punya teman selain diriku dan Nam Gayoung—beberapa orang menganggap Raehyun aneh, kenapa? Entah.

.

Aku melihatnya. Melihat tubuh Gayoung yang teronggok lemah diatas kasur rumah sakit lengkap dengan selang-selang yang menancap pada tubuhnya.

Aku menelan salivaku dengan susah payah menatapnya kembali teringat mengenai alasan mengapa sosok Gayoung ada dirumah sakit dengan keadaan seperti itu.

Saat itu Gayoung menyetir dengan tidak benar ia menangis karena baru saja dicampakkan oleh kekasihnya, Kim Namjoon, dan saat itu tanpa Gayoung sadari mobilnya terbentur pohon. Kepalanya mengenai setir mobil menyebabkan darah menyeruak keluar dari balik kulit putihnya

.

Hampir saja aku berteriak jika tidak menyadari keberadaan Seokjin disampingku lengkap dengan raut khawatir yang terpatri diatas wajahnya.

Peluh menetes dari pelipisku dan raut ketakutan mungkin nampak diatas wajahku.

Aku benar-benar takut melihat bagaimana sosok Gayoung kecelakaan dan ingat soal mimpiku yang bisa menjadi kenyataan? Oh, ini sungguh menakutkan.

“kau baik-baik saja?” tanya Seokjin sekali lagi kali ini sambil menyerahkan segelas air putih padaku.

Aku meminumnya secara perlahan berharap segala ketakutan luntur seketika itu juga.

Aku menyerahkan kembali gelas air itu dan ketika aku hendak menjawab pertanyaan Seokjin yang sebenarnya terlihat tak menuntut jawaban ketika handphoneku berteriak minta diperhatikan.

Satu panggilan dari Gayoung.

Aku menegak salivaku susah payah sebelum aku mengeser layar handphoneku dan menaruhnya didekat telingaku.

“ada apa Gayoung-ah?”

Hanya suara tangisan yang dapat terdengar dari seberang.

“Namjoon—dia mencampakkanku.” Ucap Gayoung pada akhirnya setelah ia tak bergeming selama beberapa sekon.

Ini sama seperti mimpiku.

“sekarang kau dimana?”

“diapartementku.

“aku akan segera kesana. Jangan kemana-mana sebelum aku datang! Mengerti?”

Aku segera memutuskan panggilan telepon, meraih mantel berwarna hijau tosca milikku lantas buru-buru pergi ke apartement milik Gayoung setelah Gayoung mengumamkan kata ‘ya’.

Ah, bahkan aku tak memperdulikan teriakan membahana milik Seokjin yang menuntut penjelasan.

Maaf, ini bukan waktu yang tepat Kim Seok Jin.

.

Nama gadis itu Kim Raehyun.

Ia bukan lagi Raehyun yang dikenal sebagai gadis aneh yang berprofesi sebagai loper koran sekaligus pengantar susu. Bukan sosok gadis biasa yang tinggal diapartement murah yang kualitasnya jauh dari kata ‘baik’.

Dia sudah berbeda.

Kini Raehyun adalah penyelamat bagi sebagaian orang berkat mimpi-mimpinya mengenai orang-orang koma karena kecelakaan.

Semuanya berjalan dengan baik-baik saja hingga Raehyun merasakan sesuatu yang aneh pagi itu.

Ia tak lagi bermimpi.

Ia sudah bermimpi sebagai manusia normal seperti sebelumnya.

Raehyun memang menginginkan hal itu tapi—bukankah ini aneh?

“pagi Raehyun.”

Raehyun sedikit terlonjak kaget tatakla ia menemukan eksistensi Seokjin didepan rumahnya lengakp dengan kaos berwarna putih polos dan celana jeans yang menyentuh mata kakainya dan sebuah sneakers berwarna biru sebagai alas kakinya.

Raehyun mengangkat satu alisnya bertanya-tanya alasan yang membuat Seokjin repot-repot datang ketika matahari baru setinggi galah?

“ada apa?”

“aku sudah meminta izin pada bos-mu. Aku akan mengajakmu ke bersenang-senang seharian penuh ini.”

Dan tanpa sedikitpun persetujuan Raehyun, pemuda itu sudah meraih tangan Raehyun dan menarik tangannya.

.

Raehyun ingat betul ia tidak bermimpi soal orang kecelakaan lagi pagi itu tapi kenapa ini semua terjadi?

Raehyun menatap lekat ongokkan tubuh Seokjin yang sudah dibasahi oleh cairan berwarna pekat berbau anyir yang disebut sebagai darah.

Sedikit informasi, Seokjin tertabrak sebuah motor besar ketika mereka hendak menyebrang. Motor itu melaju dengan kencang walau dengan jelas lampu menunjukan warna hijau untuk para pejalan kaki. Tubuh Seokjin terlempar sejauh satu meter lengakap dengan tubuh yang bermandikan darah.

Sekon kemudian Raehyun mendapati orang-orang mulai membentuk lingakaran dengan menatap ngeri kearah Seokjin, ada yang menelpon polisi dan ada yang menelpon rumah sakit sedangkan Raehyun hanya bisa tertunduk lemah didekat ongokkan tubuh Seokjin dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.

.

Raehyun menatap nanar kearah batu nisan dihadapannya yang mengukir nama Kim Seok Jin dalam tulisan hangul.

Seokjin pada akhirnya kembali kepangkuan Tuhan setelah ia kehilangan berliter-liter leukosit akibat kecelakaan itu.

Air mata tak henti-hentinya membuat sungai dipipi Raehyun.

Raehyun merasa bersalah, kenapa ia tidak bermimpi malam itu?

“Raehyun ini sudah takdir. Jangan salahkan dirimu sendiri. Kau hanya bermimpi tentang orang-orang yang kecelakaan dan berakhir dengan kondisi koma bukan berakhir mati seperti Seokjin. Kenapa kau tak bermimpi tentang kecelakaan Seokjin? Itu karena kau tidak bisa merubah takdir seseorang. Mati adalah takdir Raehyun-ah.”

Raehyun termenung memikirkan setiap frasa yang keluar dari katup bibir seorang Nam Gayoung.

Jika dipikir-pikir Gayoung memang benar.

Mati adalah takdir.

Tak ada yang tau kapan dewa kematian mendatangi seseorang.

Tak ada siapapun yang bisa merubah takdir seseorang.

“kau mengerti?”

Raehyun mengangguk seraya mengulas senyum yang agaknya berhasil membuat Gayoung menghela napas lega.

FIN

hai, aku author baru disini. btw, maaf gak bisa bikin fic fresh from the oven untuk saat ini. tapi mungkin minggu besok aku bikin fic baru.

Thank you buat yang udah meluangkan waktu buat baca. aku berharap review dari kalian😉

XX

Viayamada

2 thoughts on “Destiny

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s