[FF Freelance] Be Mine

woooooo 

Title : Be Mine | Author : magnaegihyun | Rating : PG-13 | Length : Vignette (2,602 words) | Genre : Romance, Fantasy, etc | Main Cast : Shin Yoonjo, Lee Howon. | Support Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy | Disclaimer : Ini pernah dipost di wp pribadi author. This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the pairing? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

***

 

 

Perubahan-

 

Panas. Tubuhku terasa sangat panas. Awalnya yang kurasakan hanya hangat di tangan kiriku. Namun api ini semakin menjalar di seluruh tubuhku. Apa-apaan ini? Siapa yang memantraiku? Aku harus membalasnya. Tapi mengapa api ini semakin membakarku?

 

Sakit. Aku yakin tak akan bisa bangun jika seperti ini. Kurasa aku sudah meneteskan air mata menahan sakit. Terlihat sekelebat penglihatan di pikiranku. Ah bukan penglihatan. Aku tahu itu kenyataan. Aku melihat ajjushi yang kuat dibunuh oleh seorang werewolf. Mereka membunuhnya tanpa ampun. Mereka menyiksanya dengan menunjukkan ekspresi eonni yang disiksa sebelum eonni dibunuh.

 

Ya, aku tahu semua ini salahku. Aku adalah orang yang benar-benar jahat. Semua orang terbunuh karenaku. Kurasa aku lebih baik mati. Aku harap api yang membakar tubuhku ini membakarku hingga mati. Aku harus bertanggung jawab atas mereka. Ini semua karenaku yang sok pintar menyelesaikan peperangan yang sudah hampir satu abad ini dirasakan kaumku.

 

Uhh

 

Api ini sungguh terasa sangat di tangan kiriku. Kurasa ini yang namanya sekarat. Aku sudah sekarat karena digigit oleh kawan werewolf itu. Ahh bukan kawan tapi musuh. Tapi kaum musuh werewolf ini malah tidak memihak kaumku. Mereka hanya sebuah kaum yang tak ada hubungannya dengan peperangan antara kaumku dan kaum werewolf. Ya, suatu hari nanti aku akan berterima kasih pada seseorang yang menggigitku ini. Karenanya, aku bisa menyusul ajjushi dan eonni. Aku harus tersenyum menyambutnya.

 

Ahh…

 

Tapi…

 

Tunggu…

 

Apinya menghilang. Ternyata api itu memang sudah hilang sebelumnya. Dan api itu menghilang seperti ada menghisapnya dari tangan kiriku. Tidak, aku tahu tidak ada taring yang menghisapnya. Apa ini? Aku mendengarkan udara di sekitarku. Kurasa aku juga dapat mendengar gerakan sepelan apapun. Bahkan aku juga dapat mendengar helaan nafas.

 

Aku mendengar hanya satu helaan nafas. Nafasnya teratur tapi jarak menghelanya cukup lama, kurasa itu aneh. Aku yakin itu bukan kaumku yang memang manusia. Itu sungguh berbeda. Siapa dia? Dan tunggu, dimana ini? Aku tak menyusul ajjushi dan eonni?

 

*

 

-Kenyataan-

 

Langit-langit yang berwarna cokelat tua dari kayu. Itulah yang kutangkap dari mataku pertama kali. Aku lalu memandang tempatku berada. Kurasa ini adalah sebuah kamar jenis elegan. Ruangan ini didominasi perabotan dari kayu. Aku juga tidur di ranjang dari kayu yang jelas dilengkapi kasur yang nyaman. Ranjang ini diselimuti sprai berwarna cokelat muda bermotif bunga dan tubuhku dipasangi selimut tipis berwarna abu-abu.

 

Aku benar-benar tak mengenali ruangan ini. Aku rasa aku belum pernah menginjakkan kaki disini. Ruangan ini terasa sangat asing. Aku juga sudah tahu bahwa bajuku berbeda dari hari dimana aku digigit. Entah siapa yang menggantikan bajuku, kurasa aku harus berterima kasih. Karena aku tahu bajuku sangat kotor, dan mungkin penuh darah.

 

“Kau sudah bangun, Yoonjo-ssi?”

 

Kudengar seseorang menyapaku. Aku memang sudah mendengar jejak kaki seseorang saat aku membuka mataku. Aku menoleh pada seseorang yang menyapaku. Seorang lelaki yang tampak sangat sempurna bagiku. Sepasang alis yang tebal membingkai sepasang mata yang tak terlalu lebar. Hidungnya cukup tinggi dan bibirnya terlihat sangat cocok dengan wajahnya. Tubuhnya atletis, meski tingginya memang bukan kategori tinggi. Namun ia terlihat begitu memesona.

 

Namun anehnya, kulitnya putih. Ahh bukan, terlalu putih. Tapi aku yakin itu bukan warna putih biasa ataupun putih pucat, ahh itu putih pualam. Ia… Vampir? Tapi bagaimana bisa ia menolongku? Bukankah vampir menghindari peperangan antara penyihir dan werewolf. Tapi bagaimana seorang vampir mau menolong seorang penyihir sepertiku?

 

“Kau pasti sangat terkejut melihatku, Yoonjo-ssi. Aku cukup paham akan itu. Namun ada satu hal yang harus kau percayai dan jangan menyesal karena itu tak berguna.”

 

Ia tersenyum manis. Sungguh manis hingga mataku cukup sulit mengalihkan perhatian darinya. Suaranya… Bukan merdu ataupun lembut… Namun jenis suara berat yang kekanakan, tapi aku tetap menyukai itu. Kini aku mengerti apa yang dikatakan Jiyoung. Ia jatuh cinta pada seseorang yang katanya lebih dari sempurna. Dan ia mengatakan bahwa seseorang itu adalah vampir. Dan kini aku paham. Orang di depanku sangat sempurna. Apapun yang ada di dalam dirinya kurasa akan memesonaku. Inilah daya tarik seorang vampir yang juga untuk melumpuhkan lawannya. Kini aku benar-benar mengerti.

 

“Dengarkan aku secara cermat, Yoonjo-ssi! Aku tak akan mengulanginya. Kau… Telah menjadi seorang vampir, Yoonjo-ssi.”

 

Lihat, ia sungguh memesona. Saat berbicara saja ia terlihat sangat sempurna. Gerakan bibirnya sangat cepat dan luwes. Suaranya yang kekanakan tampak menenangkan. Tapi tunggu, apa katanya? Aku? Vampir? Aku menjadi vampir? Tidak! Tidak! Itu semua bohong kan? Ini hanya lelucon sebelum si vampir ini menghisap darahku kan? Aku bukan vampir kan?

 

“Tidak. Aku bukan vampir. Aku adalah seorang manusia, Tuan vampir! Jangan bercanda! Leluconmu sangat tidak lucu!”

 

Aku mengelak. Ahh, bukan mengelak, tapi membenarkan. Apakah si tuan vampir ini bodoh? Mungkin ini kekurangannya. Aku pernah dengar suatu perkataan bahwa semuanya tidak ada yang sempurna. Aku yakin sesempurnanya sesuatu itu pasti ada kekurangannya. Aku menolak apa itu yang dikatakannya tadi. Ia boleh marah tentu saja, aku memang mengelak dengan nada kekanakan dan menunjukkan sisi keras kepalaku.

 

“Aku tak bercanda, Yoonjo-ssi. Aku dapat menunjukkannya. Berdiri dan bercerminlah!”

 

Si tuan vampir mulai sedikit emosi. Kelihatannya ia mulai merespon sesuai apa yang kuperkirakan. Dan kurasa ia sama keras kepalanya denganku. Kami saling pandang. Matanya hitam pekat yang cukup jernih. Tampak sarat emosi yang berenang disana. Aku tak takut dengan matanya itu. Aku menuruti perkataannya. Aku ingin membuktikan bahwa ia salah.

 

Cermin itu berada di sebelah meja dekat ranjang. Cukup dekat dan cermin itu tampak serasi dengan meja itu. Aku memandang bayangan diriku. Pasti terlihat diriku dengan kulitku yang putih biasa dan mataku yang hitam kecoklatan. Rambutku jelas akan tetap blonde ketika aku menjadi manusia ataupun vampir. Dan aku akan menjadi diriku yang biasa.

 

Apa ini?

 

Kulitku… Putih. Ah tidak, tetapi terlalu putih. Ini sama dengan lelaki ini, putih pualam. Mataku hitam kemerahan. Aneh, warna ini sungguh aneh. Aku tak pernah melihat satupun warna lensa kontak yang seperti itu. Dan aku jelas tak percaya jika ini warna mataku. Wajahku… Entah mengapa, aku rasa aku harus jujur. Aku terlihat lebih-lebih baik dari yang sebelumnya. Aku tampak lebih indah dan memesona. Apa aku sudah benar-benar menjadi vampir? Sehingga aku sudah memiliki daya tarik seorang vampir.

 

“Kau lihat sendiri, kau berbeda kan sekarang? Jika kau sudah mengerti, aku akan menjelaskan hal-hal penting untukmu, Yoonjo-ssi.”

 

Aku menatap cermin itu nanar. Aku yakin cermin ini salah. Aku yang sebenarnya tak akan berbeda seperti kata lelaki itu. Cermin ini salah kan? Aku melempar pertanyaan tanpa tujuan di dalam hatiku. Kelihatannya kakiku melemas menerima kenyataan yang tak pernah aku kira sekalipun hingga aku merosot terduduk di lantai. Lelaki itu bergerak cepat menghampiriku.

 

“Kenapa? Kenapa seperti ini? Kenapa aku harus begini?”

 

Pertanyaan-pertanyaan memilukan meluncur dari mulutku. Tak lama kemudian, air mataku mulai menyusul. Tubuhku mulai gemetar saat tangisanku sesenggukan. Pedih. Sakit. Kini aku menyadari kenyataan bahwa aku sendiri bisa hidup selagi semua keluargaku pergi. Lelaki itu memelukku dari belakang. Pelukannya hangat. Menenangkan. Dan itu jugalah yang ia lakukan untukku sekarang. Namun air mataku ini terus mengalir tak mau menuruti keinginanku.

 

“Ini semua salahku. Ini semua salahku… Aku yang harusnya mati kan?”

 

Bibirku bergetar saat mengatakan pertanyaan itu. Hingga pertanyaan itu terdengar seperti berbisik. Tampaknya lelaki itu dapat mendengarnya. Memang, aku menginginkan ia mendengarnya. Aku ingin ada kenyataan yang menyenangkan, bahwa ada satu orang yang setuju denganku tentang hal itu.

 

“Tidak. Ini bukan salahmu. Ini salahku yang mengubahmu.”

 

Ia memutar tubuhku menghadap dirinya. Mungkin ia ingin aku melihat wajahnya saat ia menjawab pertanyaanku. Ia menjawab dengan dingin. Ia tidak setuju denganku. Ia tampaknya sangat yakin dengan itu. Raut wajahnya terluka. Kenapa?

 

Wae? Kenapa kau harus mengubahku? Aku tak mengenalmu dan aku tak pernah memintamu bukan?”

 

Aku bertanya dengan suara pelan. Nyaris tak punya kekuatan. Aku lelah dan lemah. Aku tak sanggup melihatnya terluka. Entah mengapa perasaan-perasaan aneh terus muncul padahal aku belum mengetahui namanya. Ia menatapku tajam. Aku balas menatapnya dalam. Terlihat ia sangat menderita dan tak sanggup mengatakan jawaban yang kunantikan.

 

Mianhae… Jeongmal mianhae… Aku sadar aku egois. Namun saat melihatmu sekarat, aku tak rela. Aku sangat-sangat egois. Karena itu kumohon… Jadilah milikku…”

 

*

 

-Pahit-

“Kau akan menjadi Kim Sae Young untuk menjaga jarak dari kawanan Jeongmin, Yoonjo-ssi. Dan mohon kau mau menurutiku kali ini untuk berburu. Kau bisa menderita jika seperti itu.”

 

Lelaki vampir itu… Ahh bukan, ia menyuruhku memanggilnya Howon. Ia mengaku bernama Lee Howon. Lee Howon adalah lelaki yang sangat egois, menurutku. Ia memaksaku menjadi vampir dan menjadi miliknya. Kurasa itu lebih menderita dari saat aku harus bersembunyi dari kawanan werewolf. Tapi entah mengapa perasaan aneh yang kurasakan sejak aku bangun itu, terus muncul saat ia di hadapanku.

 

“Kumohon ikutlah berburu, Yoonjo-ssi!” Ia memasang wajah memelas untuk membujukku. Namun tampaknya hal itu jelas tak berhasil. Aku tak akan pernah mau menghisap darah manusia. Aku tak mau menjadi monster.

 

“Tidak. Lebih baik aku mati, Howon-ssi! Aku malu kepada kaumku. Karenaku, mereka banyak yang terluka. Karenaku yang bodoh percaya pada si menyebalkan Lee Jeongmin.”

 

Aku membalas bujukannya. Aku tak akan sekalipun terbujuk. Bagaimanapun aku tetap kukuh dengan pendirianku. Aku tak akan minum darah dan berburu. Mungkin jika aku kelaparan lalu bertambah lemah dan dapat menyusul ajjushi dan eonni. Mungkin yang harus disalahkan sedari tadi adalah Lee Howon. Karena ialah yang mengubahku. Tapi aku tak sanggup membuatnya terluka. Ahh, pikiran apa itu.

 

“Lalu apa maumu, Yoonjo-ssi? Kau tak akan bisa mati karena kelaparan. Kau hanya akan lemah dan akan terus dihinggapi perasaan haus. Dan kau akan meledak jika mencium bau darah.” Ia bertanya dengan rahang kaku. Matanya menatap tajam diriku. Tampak sangat menusuk dan mengintimidasi. Aku takut. Aku takut ia akan marah padaku dan meninggalkanku. Aku takut bayangannya tak akan muncul lagi di mataku.

 

“Musnahkan aku! Buat aku mati! Aku tak akan mengeluh ketika merasakan sakit. Kumohon, Howon-ssi!

 

Aku memohon padanya dengan suara yang mungkin tampak seperti bisikan. Namun karena kami adalah vampir, jelas kami mendengarnya. Rahangnya terkatup kaku. Wajahnya garang. Ia tampak menahan marah namun ia lalu mengubah ekspresinya dengan ekspresi terluka. Ahh. Tak bisakah ia tetap marah? Itu lebih baik kulihat daripada melihat ia terluka.

 

“Aku mau memusnahkanmu dengan satu syarat, Yoonjo-ssi. Mari kita saling memutuskan leher masing-masing dan berlari ke api bersama-sama. Cukup selama seratus tahun ini aku hidup tanpamu dalam kegelapan.”

 

Gerakan bibirnya terlalu cepat. Namun aku tetap mendengar apa yang dikatakannya. Ia tak membalasku dengan bisikan, namun dengan suara lantang. Suaranya tetap kekanakan seperti biasanya. Dan aku juga tetap suka seperti biasa. Tunggu, ia bilang apa syaratnya tadi? Saling memutuskan leher? Ia juga ingin mati? Tidak, aku tak rela. Ia harus tetap hidup, ia tak ada hubungannya dengan kesalahanku terhadap ahjussi dan eonni. Aku ngeri membayangkannya mati, aku sungguh-sungguh tak rela.

 

“Kenapa? Kenapa kau mau mati denganku? Aku tak rela dan bahkan ngeri membayangkannya.”

 

Aku menyahut dengan suara lemah. Tubuhku rasanya masih mengginggil membayangkan Lee Howon mati. Aku rasa aku tak akan sanggup melihatnya. Ia menatap mataku dalam. Ya, aku seakan terbius dengan bola matanya yang berwarna hitam gelap. Bola mata itu mengunci mataku agar tetap menatapnya.

 

Perlahan ia melangkah mendekat. Aku dapat melihat kesempurnaan di wajahnya dengan jelas. Ia tampak begitu memesona sejak awal. Apakah ini keajaiban imprint? Tidak, ia bukan werewolf. Mana mungkin ia mempunyai kemampuan itu. Aku pernah membaca suatu buku tentang vampir. Katanya, vampir itu hidup berpasangan. Dan pasangan itu akan saling terpesona satu sama lain. Tapi mana mungkin Lee Howon akan terpesona padaku? Shin Yoonjo adalah gadis yang sangat biasa. Mungkin kata biasa itu harus dicetak tebal, miring dan digarisbawahi.

 

Matanya menatapku sendu. Tangannya perlahan menyentuh rambutku. Rambutku disisir dengan jari-jarinya lembut. Ya kami dalam jarak yang sangat dekat sekarang. Kurang beberapa senti lagi, hidung kami akan bersentuhan. Jangtungku berdetak cepat, meski aku tak yakin dengan wujud seperti ini, masihkah aku memiliki jantung atau tidak. Ia memejamkan matanya. Otakku berpikir keras. Untuk apa ia memejamkan matanya? Membunuhku kah? Ya, mungkin itu adalah hal yang benar. Saat kurasakan tangannya memeluk tengkukku. Aku pun memejamkan mata juga. Tentu dengan senyum bahagia. Akhirnya aku akan menyusul semua keluargaku.

 

 

Lembut. Dingin. Ahh tidak, ini bukan dingin untukku namun ini sama dengan suhu tubuhku. Oh tidak, ini terlalu aneh. Apa-apaan ini? Ada benda yang bergerak di bibirku. Benda ini terlalu agresif. Dan anehnya benda ini bergerak sinkron dengan tangan Howon. Jangan bilang, bahwa… Benda itu… Bibir Howon???

 

Aku segera membuka mataku. Ya, ini benar. Benar apa yang kuduga. Aku kini melihat wajah Howon sangat dekat. Ya, wajah ini benar-benar cocok untuk membuat wanita atau gadis manapun terpesona. Di dalam wajah itu ia tampak sangat menikmati hal ini. Tapi bukankah begitu juga dalam faktanya. Jika orang memejamkan mata mereka, itu berarti mereka menikmatinya. Lalu apa yang harus kulakukan?

 

Aku ikut memejamkan mataku. Sudahlah lebih baik kali ini aku mengikuti egoku, perasaanku terdalam. Ku biarkan aku larut kedalam dirinya. Mengikutinya. Aku dapat merasakan perasaannya. Ia frustasi. Ia terluka. Ia mengintimidasiku. Ia menghinoptisku. Semua hal itu dominan di dalam dirinya. Dan kurasa kini aku benar-benar jatuh. Jatuh kedalam dirinya.

 

Ia melepaskannya. Ia terengah begitupun diriku. Matanya tetap memandangku dan mengunci mataku agar tak mengalihkan perhatian,”Tetaplah hidup, kumohon! Aku… Menyayangimu dan akan melindungimu sampai kapanpun, Shin Yoonjo… Ah bukan Lee Saeyoung-ahh.”

 

Na… Nado saranghaeyo… Howon-ssi…,” aku menjawab dengan suara pelan. Aku harus mengakui aku sangat malu. Aku menunduk berusaha menyembunyikan wajahku. Namun tangannya menghalangiku. Ia mengangkat daguku menyuruhku melihatnya. Ia tersenyum. Ia tersenyum bahagia, sangat bahagia.

 

Let’s go together, don’t walk the hard path

It wasn’t easy for you

I just don’t want you to go through that again

 

Be mine, I will love you

I will worry about you

I will take responsibility for you till the end

02.37 – 03.06

(Infinite – Be Mine, English Translation)

 

*

 

`-Sempurna-

 

“Ahh, ini gadis yang kau selamatkan, Howon-ahh? Aku jadi mengingat diriku dulu saja.”

 

Seorang gadis cantik menyapaku dan Howon di apartemen kami. Tampaknya ia juga vampir begitupun dengan pasangannya. Pasangannya adalah seorang lelaki tampan pendiam. Mereka pasangan yang cocok kurasa, sama-sama cantik dan tampan.

 

“Ah, gadismu tampaknya berpikir aku pendiam, Howon-ahh. Kurasa aku mempunyai imej yang baik bukan?”

 

Lelaki pendiam tadi mengedip padaku sambil tertawa. Aku heran. Bagaimana ia bisa tahu apa yang kupikirkan? Ia membaca pikiranku? Kurasa aku harus menjaga pikiranku jika berada di dekat lelaki ini. Howon menatapku. Ahh aku malu. Ia berjalan mendekatiku. Dan segera meraihku ke pelukannya. Aku tahu, pasti darahku menjalar ke pipiku.

 

“Young-ahh, asal kau tahu. Dia adalah lelaki berkepribadian empat dimensi. Kau mengerti betapa anehnya dia?” Ia menuturiku dengan suara lembutnya. Ah bukan, kekanakan. Dan itu adalah favoritku. Baiklah aku memahami apa yang ia katakan. Aku tersentak saat ia memelukku lebih erat.

 

YAA, kau tak boleh merusak imejku seperti itu. Yayaya, jangan memamerkan kemesraan padaku dan Sooji. Kami bisa memamerkan hal yang lebih ekstrem dari itu loh!”

 

Lelaki pendiam itu memandang kami remeh sambil menarik pasangannya lebih dekat. Pipi gadis tadi bersemu merah. Dan kurasa kami berdua, sesama gadis dengan pipi merah jambu. Namun tampaknya si gadis itu lebih berani dariku. Ia memandang horor pada lelakinya lalu memukuli lengannya pelan.

 

“Kalian berdua, berhentilah. Dan ini Sooji dan Myungsoo, Young-ahh!” Howon memperkenalkan pasangan itu padaku.

 

Ahh nde, Anyeong haseyo Kim Saeyoung imnida. Bangapseumnida!” Aku memperkenalkan diriku secara resmi kepada pasangan di depanku ini dengan membungkuk. Pasangan itu membalasnya dengan membungkuk juga dan tersenyum. Mereka lalu memasuki dapur apartemen Howon. Entahlah, mungkin mengambil minuman? Tapi apa vampir perlu minum seperti manusia biasa?

 

“Apa yang kaupikirkan, Young-ahh? Myungsoo dan Sooji? Kita akan bisa menjadi seperti mereka. Lagipula Myungsoo pula yang mengubah Sooji. Namun kita akan lebih romantis!”

 

Ucapan Howon membuatku menoleh. Tampaknya pipiku semakin memerah mendengar kalimat terakhirnya. Tak kukira, ia cukup handal dalam merayu ataupun menggoda. Kurasa hidupku akan lebih baik sekarang. Aku tak mempunyai musuh ataupun dalam pengejaran lagi sekarang. Aku akan hidup bahagia dengan Lee Howon, lelaki sempurnaku, selamanya.

 

Like a moon I revolve around you

Take your extinguished love and look at me

I will cover your deeply wounded scars

I will make you smile, I will make you mine

– 03.14 – 03.22

(Infinite – Be Mine, English Tranlation)

*

  1. 1005

Author’s Note :

Anyeong! Ini ff pertama author yg dipost di blog ini ya. Bangapseumnida! And do you know the cast? Dia aktris ato member girlgroup, hayoo? Yang tahu silakan, angkat bahu-.- ._.v

 

Magnaegihyun dapet ide bikin ff ini abis nonton drama Can You Hear My Heart yang nggak ada hubungannya sama ff ini dan novel Fallen. Inget, ini nggak terinspirasi sama sekali dari lagu Be Mine meski magnaegihyun pake beberapa liriknya sampe pake buat judul, ini karena magnaegihyun lagi-lagi bikin failed title-_- tapi apa judul ini cocok? Bisa beri saran kok~ Dan apakah ada yang protes ama castnya? Itu maaf sekali ya, soalnya magnaegihyun uda kehabisan ide buat cast OC. Jadilah mereka saya pasangkan. Well, don’t bash and copas this-_- hargain karya saya ini. Sampai jumpa di ff lainnya. GIVE ME YOUR FEEDBACK »»»

 

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Be Mine

  1. oh jadi seorang vampire yg jatuh cinta dengan seorang penyihir. segitu terobsesinya ya sampe memaksa menjadikannya vampire
    nice ff! aku suka

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s