[FF Freelance] Our Little Promise – Of Friend and Karma (Chapter 9)

ourlittlepromise-redrose

Title                 :           Our Little Promise : Of Friend and Karma

Author            :           Red Rose

Length             :           Chaptered

Rating              :           PG-15

Genre               :           Romance, Angst, Hurt

Main Cast       :           Jung Soo Jung & Kim Jong In

Other Cast      :           Jung Soo Yeon, Song Qian, & Choi Jin Ri

Previous         :          Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6, Chapter 7, Chapter 8,

Credit Poster   :          Lee Yong Mi @allthingsiwannapost.wordpress.com

Disclaimer      :           The story is mine. Read it and give me some advice about my story.

 

 

Jong In merebahkan tubuhnya bersandar pada dinding putih di belakangnya. Jong In sedang berusaha mengumpulkan kembali pasokan oksigen dalam tubuhnya yang sudah terkuras cukup banyak selama 14 jam terakhir ini. Jong In mengambil nafas dengan terengah-engah seraya mengusap peluh yang membasahi wajahnya.

Butiran-butiran bening itu tidak membiarkan sesenti saja permukaan wajah Jong In untuk tidak basah. Bahkan, lebih tepatnya sekarang seluruh tubuhnya sudah bermandikan keringat. Kaos tanpa lengan yang memamerkan bentuk tangan Jong In sekarang sudah basah seluruhnya. Beruntung, seperempat bagian bawah kaos itu selamat dari cairan asin itu karena tidak bersentuhan langsung dengan tubuh Jong In. Tapi itu tidak akan bertahan lama Jong In rasa. Tunggu sampai cairan itu mengalami proses kapilaritas, lalu bagian yang kering itupun pasti akan basah juga.

Jong In merasa seluruh tenggorokannya bagaikan padang gurun saat ini. Seolah-olah matahari sedang bersinar di balik pita suaranya. Dia butuh sesuatu yang bisa-setidaknya-meredakan rasa itu. Jong In baru saja akan mengambil botol minuman yang berada di atas meja yang beberapa meter berada didepannya kalau saja benda itu belum mendarat ditangannya beberapa detik sesudahnya.

“Kau melakukannya dengan baik.”

Jong In menatap seseorang yang tadi baru saja melempar botol minuman itu. Tidak jauh berbeda dengan kondisi dirinya saat ini. Peluh orang itu bahkan jika ditampung di handuk, handuk itu akan sama seperti baru diangkat dari cucian.

Jong In membuka tutup botol itu dengan cepat dan segera memindahkan hampir seluruh isi botol itu ke dalam tubuhnya. Rasanya seperti baru saja selesai mandi. Jong In menjauhkan botol itu dari mulutnya lalu mengusap sisa-sisa air yang menempel di sekitar mulutnya.

“Kau juga. Lihatlah, kita sudah seperti tempat penampungan air sekarang.”

Orang itu tertawa kecil mendengar Jong In mengatakan hal itu.

“Lebih baik menjadi penampung air yang bisa memberikan manfaat pada semua orang.”

“Ya, kau benar. Penampungan air yang benar-benar menampung air. Kau tahu apa maksudku, bukan?”

Orang itu mengangguk paham. Lalu keduanya larut dalam kesunyian karena tidak ada percakapan yang terjadi setelah itu. Jong In terlihat sedang bersiap untuk memulai latihannya ketika orang itu menatap Jong In dengan tatapan tidak percaya.

Anak itu manusia atau mesin?

Jong In tahu jika orang itu pasti akan melakukan hal itu. Jong In juga tahu bahwa dirinya baru saja duduk merengganggkan otot-ototnya tadi. Tidak sampai 10 menit. Jong In tahu bahwa itu bukanlah waktu yang pantas untuk membayar latihannya selama lebih dari sepuluh jam non-stop. Tapi, Jong In tidak mempermasalahkan hal itu.

“Kau lanjut?”

“Ya. Aku rasa masih kurang yakin di beberapa bagian.”

“Jangan terlalu memaksakan dirimu. Percuma saja kau melakukan latihan yang bagus kalau pada saat yang kau tunggu-tunggu kau malah mengacaukan permainanmu sendiri.”

Jong In diam ketika mendengar apa yang dikatakan orang itu. Dia sadar bahwa dia butuh-sangat butuh malah-waktu istirahat yang cukup. Bukan hanya 10 menit. Mungkin satu hari. Itupun belum cukup Jong In rasa untuk membayar seluruh jam latihan yang dia lakukan.

Akhirnya Jong In memutuskan untuk menikmati waktu istirahatnya lebih lama lagi. Jong In sekarang duduk bersebelahan dengan orang itu. Jong In mengenal orang itu ketika mereka berdua bertemu di ruang latihan yang sama dan melakukan latihan sama-sama.

Orang itu berada dua tahun diatas Jong In namun masuk pada tahun yang sama dengan Jong In. Jong In sendiri manyadari bahwa selama mengenal orang itu, orang itu memiliki sikap dan bertindak jauh lebih dewasa dari usia yang dimiliki oleh orang itu.

Memasuki tahun kedua Jong In mengenal orang itu, Jong In memutuskan bahwa orang itu adalah panutannya untuk mewujudkan mimpinya. Mimpi yang sama dengan yang dimiliki oleh orang itu dan semua orang yang berada di posisi yang sama dengan Jong In saat ini.

Selama dua tahun ini, Jong In banyak belajar dari orang itu. Ketika itu adalah tahun pertama Jong In mejalani pelatihan dan belum terbiasanya Jong In dengan situasi baru yang dia hadapi. Terutama ketika Jong In berada jauh dari orangtua dan kakak-kakaknya.

Jong In sudah akan menyerah ketika dia mengalami suatu keadaan yang dinamakan home sick dimana Jong In benar-benar ingin pulang. Terlebih lagi tekanan yang cukup besar yang Jong In hadapi bahkan baru di tahun pertama dirinya masuk.

Beruntung orang itu datang dan membantu Jong In untuk melewati kondisi tersebut. Orang itu selalu menasehati Jong In layaknya seorang kakak yang sedang membantu adiknya mengerjakan soal-soal hitungan yang sulit. Jong In sedikit demi sedikit mulai bisa menghilangkan perasaan rindu rumahnya itu dan mulai terbiasa dengan tekanan-tekanan yang ada. Orang itu mengatakan bahwa semua yang kau lakukan pasti akan memerlukan pengorbanan dan kau akan menerima apa yang telah kau lakukan. Dan kata-kata itu Jong In terus ingat didalam pikirannya sejak saat itu.

Memasuki tahun kedua Jong In dan orang itu menjalani masa latihan mereka, Jong In memberanikan diri untuk menanyakan suatu hal yang Jong In pikir mungkin akan membuat orang itu tersinggung. Jong In mengurungkan niatnya itu ketika niatnya itu muncul karena takut menyakiti orang yang selama ini sudah membantunya. Tapi, Jong In tidak dapat lagi menahan dirinya karena rasa penasarannya lebih besar daripada rasa untuk mengurungkan niatnya itu.

Sore sekitar jam empat Jong In dan orang itu baru saja menyelesaikan latihan mereka selama 10 jam dan beristirahat. Jong In merasakan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan hal yang selama ini Jong In simpan.

Jong In menanyakan pada orang itu apakah orang itu tidak merindukan keluarganya karena selama ini, tidak pernah sekalipun Jong In melihat wajah orang itu berubah menjadi sedih karena merindukan orang-orang yang dia sayangi. Orang itu selalu memasang wajah ceria yang seolah-olah dia adalah orang paling bahagia di dunia ini.

Sejenak hanya diam yang menjawab pertanyaan Jong In tersebut. Jong In merasa bahwa inilah akhir dari pertemanannya dengan orang itu karena orang itu hanya diam saja. Jong In menyesali tindakannya saat itu.

Jong In bisa bernafas lega setelah dirinya mendengar orang itu menjawab dengan nada bicara yang tidak menunjukkan rasa tidak senang, tersinggung, ataupun marah didalamnya. Bahkan orang itu tertawa dan mengatakan bahwa penyakit home sick Jong In kambuh lagi. Dengan cepat Jong In membantah bahwa dia terkena home sick lagi. Mungkin hanya sedikit, pikir Jong In.

Jong In tidak pernah menduga jawaban yang akan keluar dari mulut orang itu seperti itu.

Orang itu mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dia khawatirkan dan dia tidak akan mengalami hal yang sama yang dialami oleh Jong In pada tahun pertama mereka masuk. Orang itu mengatakan bahwa tidak ada yang dia rindukan. Itu tidak mungkin terjadi.

Tidak ada orang lain yang akan mengkhawatirkan, mencemaskan, merindukan, ataupun berharap dirinya segera pulang dan duduk sambil menghabiskan waktu dengan orang lain didepan perapian saat musim dingin tiba.

Tidak ada bau daging panggang ketika malam Natal tiba dan duduk bersama-sama di meja makan sambil menikmati salju di malam Natal.

Tidak ada yang akan membuat coklat hangat ketika tubuhnya merasakan dingin yang luar biasa.

Tidak ada kembang api yang dia lihat bersama dengan orang-orang yang dia sayangi di malam penyambutan Tahun Baru.

Tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya tepat jam dua belas malam atau bahkan berjam-jam, berhari-hari, dan bertahun-tahun ketika hari lahirnya lewat.

Tidak ada yang akan menemaninya berburu jajanan malam kue ikan.

Tidak ada tercium bau roti panggang serta kopi hangat pada pagi hari ketika dirinya baru membuka mata.

Tidak akan ada yang menelfonnya agar jangan sampai telat makan.

Tidak ada yang akan mengingatkan dirinya untuk selalu menjaga kesehatannya.

Orang itu tidak memiliki siapa-siapa yang akan melakukan semua itu semua.

Orang itu tersenyum miris setelah merasa seperti mengejek dirinya sendiri. Orang itu mendesah nafasnya pelan lalu merebahkan tubuhnya ke lantai.

Jong In hanya bisa terdiam ketika untuk pertama kalinya dia mengetahui apa yang berada dibalik senyuman orang itu. Setelah itu, Jong In tidak pernah menanyakan apa-apa lagi tentang orang itu sampai mereka memasuki tahun ketiga dan Jong In merasakan ada sesuatu yang salah telah terjadi.

Orang itu berbeda. Orang itu seperti berada pada tempat yang salah. Orang itu bukanlah orang yang selama ini Jong In kenal. Orang itu sudah berubah. Jong In tidak lagi mengenal siapa orang itu.

Hal yang tidak pernah Jong In duga adalah orang itu melakukan suatu tindakan yang membuat kepercayaan Jong In selama ini terhadap orang itu jatuh.

Bukannya Jong In merasa tersaingi atau apapun itu. Jong In hanya tidak menyangka bahwa orang itu sanggup melakukannya dan hal itu membuat Jong In benar-benar merasa kecewa. Jong In merasa seperti diberi buah racun oleh temannya sendiri.

Jong In tahu bahwa orang itu memiliki bakat yang luar biasa. Bahkan berada diatasnya. Jong In juga tahu bahwa sejak awal merekka berdua masuk, seluruh perhatian dan pujian terarah pada satu orang. Orang itu. Jong In tahu hal itu sejak awal, karena itu Jong In berusah lebih keras agar dirinya bisa seperti orang itu dengan hasil keringatnya sendiri.

Tapi, Jong In sudah memakan setengah dari buah racun tersebut.

Kebaikan orang itu kepada Jong In hanyalah sebuah topeng. Jong In tidak menyangka bahwa dirinya dimanfaatkan mentah-mentah oleh orang itu. Orang itu berhasil menipu Jong In sejak awal dan Jong In dengan gampangnya membiarkan dirinya sendiri memasuki perangkap itu.

Orang itu pandai memanfaatkan kondisi Jong In yang belum terbiasa jauh dari rumahnya. Orang itu pintar dalam merangkai kata-kata yang bagi Jong In terdengar seperti sugesti positif di otaknya. Orang itu cerdik dalam hal itu bagaikan menemukan jalan keluar ketika berada didalam hutan yang gelap.

Dan sekarang, Jong In sudah memakan seluruh buah racun tersebut.

Jong In merasa bahwa dia dihantam oleh benda keras tepat di bagian belakang tubuhnya. Namun, Jong In tidak jatuh. Jong In tidak merasakan sakit. Jong In tidak merasakan apa-apa. Jong In seperti mati rasa. Jong In masih berdiri ditempatnya. Hanya saja, di dalam diri Jong In, hantaman itu sukses menghancurkan potongan-potongan bagian dalam dirinya.

Jong In sudah termakan dengan segala akting yang dilakukan oleh orang itu hanya karena tawaran untuk debut lebih cepat. Jong In jadi ragu atas jawaban yang diberikan oleh orang itu disaat Jong In menanyakan tentang keluarga orang itu. Jong In ragu atas kebenaran jawaban orang itu. Apakah itu adalah bagian dari akting orang itu? Apakah saat itu ada kamera tersembunyi yang merekam percakapan mereka?

Tapi untuk apa orang itu selama ini selalu memberinya dukungan dan selalu memberikannya semangat untuk bertahan. Apa itu bagian dari akting orang itu juga?

Jawabannya Jong In tidak tahu.

Yang Jong In tahu adalah ketika dirinya berhadapan satu lawan satu dengan orang itu. Orang itu sudah siap untuk pergi memulai keberhasilannya selama ini dengan melibatkan Jong In sendiri.

Jong In tidak akan merasa semarah dan sekecewa ini kalau saja orang itu tidak menghampirinya dan berbicara tepat di telinga Jong In.

“Kau tahu, tidak ada yang bisa kau jadikan kawan jika kau berada ditempat ini. Kalaupun ada yang bisa kau jadikan kawan, itupun karena kepentingan pribadimu semata. Tidak ada yang namanya kawan disini. Yang ada hanyalah bagaimana cara kau bisa bersianar lebih terang dan paling terang diantara semua yang terbuang.”

Tangan Jong In mengepal kuat menahan emosinya yang sudah memuncak saat itu. Rasanya ingin sekali dia menghadiahkan pukulannya sebagai ucapan perpisahan yang mungkin akan berkesan bagi orang itu.

Tapi, Jong In sudah belajar tentang cara untuk menghadapi situasi seperti ini. Jong In harus bisa menahan emosinya kalau tetap ingin berada disini.

Orang itu memberikan senyum mengejeknya dan mengatakan hal terakhir sebelum dia pergi.

“Selamat berjuang, Jong In yang malang.”

Lalu orang itu menepuk pundak Jong In dan berlalu begitu saja.

Jong In tidak pernah tahu betapa sakitnya ketika orang yang kau percaya selama ini malah menjadi musuh yang tidak terduga. Hanya ada satu nama yang melintas dipikiran Jong In setelah itu.

Jung Soo Jung

Jong In kembali teringat akan kata-kata yang pernah dia dengar dari orang itu.

…semua yang kau lakukan pasti akan memerlukan pengorbanan dan kau akan menerima apa yang telah kau lakukan…

Apakah dia sudah menerima apa yang dia lakukan dulu?

***

Jong In merasakan seperti deja vu ketika mendapati dirinya kembali duduk bersama Sulli dan Soo Jung ditempat yang sama ketika dia untuk pertama kalinya bertemu dengan Soo Jung.

Hanya saja kali ini kondisinya sudah berbeda. Ini bukan mengenai Soo Jung. Ini mengenai orang lain. Tapi masih dalam satu tema yang sama dengan Soo Jung. Seorang teman.

Jong In tidak tahu mengapa masalah dala hidupnya harus mengenai satu kata tersebut.

Berbeda sekali dengan Jong In, Sulli terlihat sangat antusias seperti akan bertemu dengan pangeran idamannya. Sulli terlihat senang sekali.

Sesekali Jong In melihat ke arah Soo Jung yang saat itu juga melemparkan pandangan ada apa sebenarnya? kepada Jong In yang hanya bisa di balas oleh laki-laki itu dengan mengacuhkan tatapan Soo Jung.

Soo Jung baru saja akan membuka suaranya kalau saja Sulli tidak mengajak Soo Jung berbicara. Jong In mendapatkan keuntungan untuk keadaan itu.

“Krystal, maaf kalau kau juga harus menunggu seperti ini. Salahkan aku karena mengajakmu ikut.”

“Ah, tidak-tidak. Aku tidak apa-apa. Aku juga sudah terbiasa menunggu. Bahkan lebih lama dari ini.”

Pernyataan Soo Jung tadi terdengar seperti ledakan kecil di telinga Jong In. Mengapa mood wanita cepat sekali berubah dan sangat-sangat tidak stabil. Kemarin baru saja Jong In merasakan Soo Jung kembali seperti dulu. Namun sekarang hanya dalam waktu kurang dari 12 jam, Soo Jung kembali ke situasi ketika pertama kali mereka bertemu kembali.

Jong In benar-benar bingung hanya karena sikap wanita yang berubah-ubah itu. Ditambah lagi berita mengejutkan dari Sulli kemarin.

Sebenarnya, Soo Jung tidak punya maksud apa-apa dengan mengatakan hal tadi. Soo Jung bahkan baru sadar atas perkataannya beberapa menit kemudian ditambah setelah Soo Jung menangkap raut wajah Jong In yang sulit untuk diartikan.

Antara gelisah, kesal, dan seperti ingin segera meninggalkan tempat ini.

Kontras sekali dengan Sulli yang terlihat sangat senang. Sedari tadi Soo Jung perhatikan, tidak sedetik pun senyum itu lepas dari wajah Sulli.

Tiba-tiba pandangan ketiganya tertuju pada pintu masuk ketika pintu itu menimbulkan suara yang menandakan ada orang yang baru saja masuk. Jong In melihat orang yang baru saja masuk itu dengan tatapan kosong. Soo Jung bisa melihat Jong In mengepalkan tangannya di bawah meja.

Sulli yang menyadari kedatangan orang tersebut, melambaikan tangannya memberikan tanda agar dia datang menuju meja mereka sekarang.

Orang itu semakin dekat menuju meja mereka. Jong In berusaha sekuat tenaga menahan dirinya ketika harus melihat wajah orang itu lagi ketika Sulli menyambut orang itu dengan memberika pelukan hangat.

Lalu pandangan orang itu tertuju pada Jong In. Jong In yang merasakan bahwa sedari tadi sejak orang itu masuk, dirinya adalah target utama dari orang itu. Apa yang dipikirkan Jong In benar ketika dia mendengar orang itu mengucapkan salamnya seperti seorang kerabat yang sudah lama tidak berjumpa dan terdengar seperti nada mengintimidasi yang sudah Jong In duga sebelumnya.

“Halo, Kai. Lama tidak bertemu. Do you miss me?”

***

6 thoughts on “[FF Freelance] Our Little Promise – Of Friend and Karma (Chapter 9)

  1. siapa sih ‘orang itu’? punya firasat kalo sebenernya ‘orang itu’ nggak jahat dia baik buktinya selama berapa tahun itu dia selalu menemani jongin memberi semangat ya walaupun akhirnya menusuk dari belakang, entahlah mungkin dia ingin punya suatu alasan lain
    iyasih seperti karma buat jongin atas apa yg telah dilakukan sama soojung
    next part soon

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s