[FF Freelance] Water Room

water-room

Storyline by

Deriza Lau

Main Cast : Krystal f(x) &Kai EXO || Genre : Romance, Sad, Angst(?) || Length : Vignette || Rating : Teen || Disclaimer : Inspired by Owl City – The Saltwater Room, the novel “Perahu Kertas” by Dee, and quote from One Piece.

Thanks to Nakashimura-ART[http://nakashimuraart.wordpress.com/] for her beautiful poster

Typo bertebaran

Happy Reading!🙂

 

 

“Menurutmu kapan seseorang disebut mati?”

“Entahlah, tapi secara medis seseorang dianggap mati jika jantungnya sudah tidak berdetak, ia tak lagi bernafas, dan otaknya tidak berfungsi.”

“Kau salah, seseorang akan mati jika ia telah dilupakan,”

Hujan itu sungguh berisik. Setidaknya begitulah kesan Krystal terhadap guyuran masal yang membasahi sepatu pantofelnya sore ini. Ia baru saja pulang dari kelas menarinya bersama Lay dan hampir saja ketinggalan bus karena kondisi becek yang memperlambat perjalanannya. Krystal mendengus lagi. Entah sudah berapa kali mulutnya komat kamit sambil melontarkan ungkapan kesal pada kekasihnya. Ya, kalau saja pria itu tidak menelepon Krystal sesaat sebelum menaiki bus, ia pasti sudah hidup damai dan tentram dibawah naungan atap kendaraan umum itu.

Kai memang sedikit merepotkan akhir-akhir ini. Terhitung sejak kondisinya yang makin lemah dan menjalani rawat inap disebuah rumah sakit. Ia tidak tahu pasti seberapa parah sakit yang dialami kekasihnya, kedua mertua –orang tua Kai– terus merahasiakannya. Bahkan Kai pun tidak mau angkat bicara.

Krystal sendiri tidak ambil pusing. Selama Kai masih dalam taraf kejiwaan yang normal dan bersikap layaknya orang terkeren seantero sekolah, ia yakin kekasihnya akan baik-baik saja.

Sampai di pelataran rumah sakit ia bisa melihat suasan mencekam yang makin menjadi disaat hujan deras begini. Jika diperhatikan sedikit kedalam, terlihat seorang pria dengan lesung pipi khasnya, hidung mancung, berkulit putih pucat, dan perawakan manly sekaligus charming yang tidak dibuat-buat. Benar-benar tipe ideal Krystal. Tapi yang disebut itu bukanlah kekasihnya. Dia adalah salah satu dokter bedah yang terkenal di seoul, namanya Lee Jonghyun. Dan jika kalian ingin tahu, di atas kepalanya sudah ada peringatan besar berbunyi “Milik Im Yoon, enyahlah!” yang sangat mujarab mengusir perawat genit disekelilingnya. Lagi pula ciri kulit putih pucat yang sempat Krystal sebutkan tadi sudah menjadi bukti yang jelas, dilihat dari sudut manapun Kai tidak terlihat seperti itu. Kekasihnya lebih . . . ah, bagiamana menjelaskannya? Kai itu berkali-kali lipat lebih sexy dan keren tentunya.

Krystal melanjutkan langkahnya sambil melongok sedikit kedepan. Dan disanalah kekasihnya. Duduk di bangku teras dengan mengenakan piama ala rumah sakit yang membosankan. Mungkin para pengagum Kai di sekolah bisa tertawa jika melihat “bentuk” original dari seorang Kim Jongin. Benar-benar kontras!

Pria itu menggesek-gesekkan alas sepatunya pada lantai keramik rumah sakit, ujung jemarinya mengetuk-ngetuk bangku kayu, sedangkan matanya menatap lurus guyuran air yang jatuh dari atap tanpa alasan yang jelas. Ia bosan. Sekali lihat pun Krystal bisa mengartikan gelagat kekasihnya dengan baik.

“Kembali kedalam atau bawa selimutmu keluar Kim Jongin!”

Kai menolehkan kepalanya ke kanan. Matanya memeriksa dari ujung sepatu sampai ujungrambut, semacam program sensor untuk memastikan Krystal tiba dengan selamat tanpa tergores sedikit pun. Ya, meski sepatu dan kaus kaki yang dikenakannya basah kuyup, juga rambut coklatnya yang sedikit becek. Itu adalah pegecualian. Gadisnya tetap cantik sama seperti biasanya.

“Kubilang kembali kedalam Kim Jongin. Kau bisa kena flu.”

Krystal mengacung-acungkan telunjuknya penuh amarah, ditambah beberapa menit lalu ia mengomel sampai berbusa sepanjang perjalanan. Ah, hujan benar-benar merepotkan. Bahkan dinginnya tidak lantas mendinginkan kepala Krystal.

“Aku ingin cepat-cepat bertemu pacarku. Itu saja,”

DEG!

Dalam sedetik Krystal langsung mengatupkan mulutnya. Entah ada petir dari mana yang membuat Kai berkata hal semacam itu. Mungkin karena hujan? Oh baiklah, berarti ia harus meralat kalimatnya tadi. KrystalJung menyukai hujan. Lupakan soal umpatan dan cacian beberapa menit lalu. KrystalJung mencintai hujan mulai sekarang. Camkan!

“Apa kau bilang?”

Krystal mendekat dan susah payah mengecek kening kekasihnya. Bersamaan dengan itu Kai justru menarik lengan Krystal dan membuat tubuh ramping gadisnya mendarat dengan posisi yang sangat rekat di sisinya. Krystal bisa merasakan suhu tubuh Kai. Hangat.

“Kubilang aku merindukanmu,” Kai berbisik pelan. Tepat pada telinga Krystal dengan efek hembusan nafas yang memantul lewat kulit pelipisnya. Sangat ampuh untuk membuat pipi gadis itu merona layaknya kepiting rebus.

Hening setelahnya. Mereka di telan oleh pikirannya masing-masing. Kai tidak berani menatap gadisnya. Sama halnya dengan Krystal, hanya saja yang ia alami lebih parah. Kepalanya berisi ribuan pertanyaan yang serasa menusuk-nusuk seperti jarum akupuntur. Oh, mungkin Krystal bisa gila setelah ini. Kalau tahu begini mungkin seharusnya ia tidak datang. Krystal tahu benar nanti malam ia tidak akan bisa tidur.

“Emm… kau butuh sesuatu? Ini terlihat seperti kau sedang merayu untuk meminta sesuatu dariku,”

Akhirnya Krystal duluan yang buka suara. Sudah hal biasa, Kai memang terkenal dengan gaya irit bicaranya.

Pria itu kembali mengetuk-ngetuk jemarinya di permukaan bangku. Apa lagi sekarang? Ia terlihat tidak tenang.

“Bukan begitu,” bantah Kai. Kini ia berani menatap manik mata gadisnya. “Aku berkata jujur tentang merindukanmu. Jika kau tanya kenapa, aku tidak yakin dapat menjelaskannya,”

Pembicaraan mereka begitu ringan hari ini. lebih terkesan romantis dan menyenangkan. Mengingat biasanya Krystal akan banyak mengumpat dalam bahasa inggris saat Kai berbicara tentang anjing peliharaannya. Bahkan terkadang  Kai biasa menusuk-nusuk mejanya dengan pensil jika mendengar ceramah pagi tentang model tas keluaran terbaru. Tapi sekarang berbeda.

Ditemani hujan yang membuat daun-daun ditaman terlihat segar, Krystal jatuh cinta untuk kedua kalinya. Gadis bodoh sepertinya memang selalu jatuh pada sosok yang sama, hanya pada Kim Jongin. Betapa menyenagkannya jika waktu membeku di saat seperti ini.

“Dengar,” Kai meraih tangan Krystal, menyatukan jemari merka menjadi satu genggaman, lalu membiarkan mata mereka bertemu. “Aku mencintaimu. Aku menyukaimu JungSoojung,”

Krystal merasakan ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya. Bersamaan dengan itu sendi-sendinya membeku. Ia tidak dapat bergerak. Krystal hanya diam, menikmati manik coklat milik Kai dan memberinya seulas senyum terindah yang ia miliki.

Sampai sekarang pun Krystal tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ini terlalu mendadak. Dan ia bukanlah tipikal orang yang mampu mengurai perasaannya sebaik Kai. Ya meskipun Kai juga tipe orang yang sedikit cuek bebek, tapi Krystal punya penyakit gengsi yang sedikit aneh. Mengungkapkan rasa cinta juga masuk dalam kamus gengsinya. Bisa dihitun berapa kali ia mengucapkan i love you pada Kai. Sekali? Tidak-tidak, kalau tidak salah dua kali, itupun gara-gara melindur saat diantar pulang oleh kekasihnya itu.

“Aku harus masuk, jam besuk sudah hampir berakhir,”

Senyum Krystal memudar, secepat kilat ia merasakan kekecewaan menghantam ulu hatinya disaat bersamaan. Kai mulai melepaskan genggaman tangannya lalu beralih membelai rambut Krystal lambat-lambat. “Kau tidak ingin menyampaikan sesuatu untukku?”

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Penyakit lamanya kembali kambuh. Ia tidak bisa membedakan mana yang disebut gengsi dan mana yang disebut keberanian.

“Kau sudah mengatakan banyak hal padaku hari ini. jadi–“ ia mengentikan kalimatnya diudara. Sementara Kai ikut memiringkan kepanya menunggu kelanjutan dari kalimat Krystal barusan. “Bagaimana jika sosokmu menghantuiku nanti malam?”

Ah, bukan itu! Dasar Soojung bodoh!

Krystal mengumpati dirinya dalam hati. Jika saja tangan Kai tidak melingkar di pergelangannya mungkin ia bisa puas memukuli kepalanya sekarang.

Dan seperti hal-hal langka beberapa saat lalu, Kai menaikkan sudut bibirnya. Krystal harus bersyukur hanya ia yang melihat Kai sekarang. Jika ada gadis lain, mungkin saja banyak yang akan menjadi pesaing baru baginya.

“Pacarku benar-benar lucu. Kenapa tidak bilang saja jika kau takut merindukanku?” Kai memberi cubitan ringan pada pipi Krystal. “Kalau begitu aku tidak  bisa berbuat apa-apa. Emm…” ia memutar bola matanya keatas. Mengamati atap teras yang sedikit lembab terkena hujan. Mungkin ini adalah ekspresi berpikir terkonyol yang pernah ia coba.

“Bagaimana jika air? Anggap saja aku adalah air. Sekarang masih hujan dan itu berarti aku bisa mengantarmu ke rumah jika kau menganggapku sebagai air hujan. Saat kau lelah di rumah kau bisa pergike dapur untuk meminumku agar kau menjadi segar kembali. Atau jika kau rindu denganku kau bisa ke pantai untuk menghilangkan stress dan menemukanku di sana. Laut adalah tempat dimana segala jenis air berkumpul. Bisa dibilang badan utuhku menyatu sepenuhnya di laut. Dan jika kau mau tahu, 80 persen tubuhmu terdiri dari air. Itu berarti aku adalah bagian darimu. Kau tidak bisa memungkirinya, itu sudah takdir.”

Kai menyelesaikan kalimatnya dengan senyum simpul. Sungguh menyenangkan berbicara panjang lebar pada kekasihnya. Ini pertama kalinya ia begitu antusias membicarakan tentang air. Lucu sekali.

Berbeda dengan Krystal, ia terus menunjukkan ekspresi tidak percayanya dengan mulut menganga. Pasti wajahnya terlihat jelek sekali sekarang.

“Dasar mesum!” pukulan ringan melayang ke bahu Kai. “Bukankah itu berarti kau juga menemaniku mandi? Yaa! Dasar pria mesum!”

Tinjuan-tinjuan tanpa tenaga terus melayang kebahu Kai. Ia tidak terpikir sampai ke sana. Mandi? Mungkin itu juga perandaian yang bagus. Kai terkekeh lalu menampakkan smirk-nya saat gadis itu mulai berhenti berulah.

“Ah sudahlah, aku harus kembali ke kamarku,”

Kai bangkit dari bangku kayu lalu melambai sekilas pada Krystal. Hanya butuh berjalan sepuluh meter sampai akhirnya ia memutuskan untuk berbalik. “Kau yakin tidak ingin mengatakan apapun padaku?”

Kini pertanyaannya kembali terlontar. Masih topik yang sama dengan beberapa menit lalu. Jelas sekali tidak ada yang ingin Krystal sampaikan. Gadis itu menggeleng pelan. Kai hanya bisa tersenyum sedih saat mendapati gadisnya masih tidak bersuara. Ia kembali melanjutkan jalannya dengan perasaan tidak karuan. Mungkin memang seharusnya begitu.

Punggungnya berjalan menjauh. Krystal menaruh lekat-lekat pandangannya pada sosok Kai yang makin tak terlihat. Bibirnya tersenyum simpul. Hatinya juga. Entah kenapa sore ini begitu menyenangkan. Tapi saat sosok itu benar-benar menghilang di belokan pertama,Krystal meneteskan air mata dalam sela senyumnya. Tidak jelas kenapa. Seperti ada yang salah dengan sore ini.

Tiupan angin menampar wajah mulusnya, tangannya telentang dan udara musim panas menyengati kulit putihnya. Krystal sedang di pantai sekarang. Musim panas datang sedikit lebih cepat dan hujan tak pernah lagi berkunjung. Jadi disanalah ia sekarang. Bertemu kekasihnya.

Krystal merindukan Kai.

Angin terus bertiup dan air matanya perlahan jatuh. Entah karena angin kering yang membuat matanya perih atau karena kerinduannya pada sosok Kai yang sejak setahun lalu meninggalkannya. Jemari lentiknya mengusap lembut buliran itu. Krystal tak mengenal rasa gengsi lagi sekarang. Hampir setiap bulan ia mengunjungi pantai dan berteriak aku mencintaimu layaknya orang gila. Krystal tidak peduli, mungkin ia memang sudah gila.

Jika kalian bertanya kenapa Kai meninggalkan Krystal, gadis itu tidak bisa menjawab apapun. Mati? Ah, siapa yang berani mengatakan hal nista semacam itu? Asal kalian tahu, Kai tidak mati. Ia hanya pergi ketempat yang lebih baik di atas sana.

Kai sendiri yang mengatakan “Seseorang akan mati jika ia telah dilupakan” tapi Krystal tidak pernah melupkakan kekasihnya barang sedetik pun. Bukankah berarti Kai belum mati?

Ah, sudahlah. Mengingat-ingat tentang mati hanya makin mempersulit perasaanya.

Krystal tidak tahu jika sore itu adalah hari terakhirnya. Siapa pun tidak ada yang tahu, hanya Tuhan mungkin. Sekilas tidak ada yang berbeda saat punggung pria itu menjauh, karena sore itu mereka benar-benar saling jatuh cinta. Ingat saat Kai terus berucap tentang rindu dan cinta? Ah, andai saja Krystal melakukan hal yang sama. Pasti sore itu akan menjadi akhir yang baik. Betapa bodohnya ia.

Tapi itu sudah setahun yang lalu dan Krystal tidak mau membusuk karena berlarut-larut dalam kesedihan. Bukankah mereka sedang bertemu sekarang? Ia sedang berhadapan dengan Kai. Lewat deburan obak pria itu menyapanya, lewat sentuhan angin pria itu membelainya. Disinilah kekasihnya berada. Ruang dengan sosoknya yang utuh menyatu di sana.

Berita tentang penyakit Limfoma yang diderita Kai menjadi hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Memilukan sekali. Krystal menjalani masa krisisnya selama dua bulan. Selama itu ia hanya mengurung diri di kamar dengan tidur lebih dari dua belas jam sehari hingga tulang rusuknya serasa remuk. Ia pikir dengan begitu hidupnya yang kacau bisa sedikit tenang. Sampai pada suatu saat ia hampir gila karena rindu pada sosok maskulin kekasihnya. Dan gadis itu memutuskan untuk menghanyutkan perahu kertas berisi kerindunnya di Sungai Han. Bahkan ia menjadikan pantai sebagai kunjungan rutinnya setiap bulan.

 

Krystal memilih diam dan membiarkan keheningan membabi buta di kepalanya. Tidak lama, karena gidis itu langsung terisak dengan tumpukan air mata yang perlahan meluncur lewat pipinya.

“Kai, aku masih jatuh cinta padamu,” krystal tersenyum getir, tapi penuh kelegaan. Sesenggukannya tak lantas menghilang.

“Aku cinta padamu, cinta pada ruang berairmu,”

Ia mendekap tubuhnya sendiri. Angin bertiup sepoi dan matahari tidak begitu terik siang ini.

Susanan yang indah untuk kencan kita berdua. . .

Fin

Haloo.. dengan Deriza Lau disini J

Ini adalah FF absurd yang kembali aku publish. Semoga tidak mengecewakan karena cast-nya masih stag pada KaiStal couple. Sebenernya aku bukan fans F(x) maupun Exo [I’m ELF kekeke~], tapi entah kenapa aku sangat terobsesi dengan couple itu hahaha…😀

FF ini aku tulis karena serangan insomnia di pagi buta. Jadi mohon maaf jika banyak kekurangan disana-sini dan endingnya tidak jelas. Terima kasih untuk reader yang sudah berkenan membaca sampai ke cuap-cuap tidak penting ini. Sebagai good reader mohon tinggalkan jejak setelah membaca.

Thank You;)

12 thoughts on “[FF Freelance] Water Room

  1. aaa~ keren ffnya.. walaupun aku shippernya hyukstal, tp aku ttp suka sama ffnya.. tp kasian krystalnya ya? kalo gitu ceritanya berarti dia ga bisa move on dong? ya.. jgn larut dlm kesedihan dong krystal.. mending move on ke kang minhyuk aja? *diketok author* kkkk~ ^^v Semangat author nulisnya.. ^^

  2. huuaaa ternyata perlakuan kai yg semanis itu disaat hujan adalah pertemuan terakhir mereka
    kai belum mati karema aku belum melupakannya, oh ya ampun itu nyesek banget~
    nice ff! keren aku suka

  3. Cukup pendek tp keren😀
    yang pasti aku ngga ada bosennya sama KaiStal thor, jadi banyak-banyaklah mnulis ttg kaistal >.<

    Ditunggu karya selanjutnya.

  4. Aaaaah kenapa Kai pergi huhuhu. Aku suka banget sama semua ff yang castnya Krystal🙂 Kaistal salah satu couple favorite akuuuu

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s