Please Call Me Seonsaengnim! (Part 5)

pcms2Author : Xan She

Title : Please Call Me Seonsaengnim!

Main Cast :

  • Bae Suzy ‘Miss A’
  • Ok Taecyeon ‘2PM’

Support Cast :

  • Jung Yunho ‘DBSK’

Genre : Romance, School life

Length : Chapter

Rating : PG-13

Disclaimer : inspired by Japanese comic’s ‘Seishun Shiteru Kai’ by Ryo Azuki. Just the main idea, the story is mine.

Previous : Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

—<><>—

Pagi ini sekolah digemparkan dengan siaran yang tak biasanya dari club penyiaran sekolah. Percakapan itu diputar terus menerus hingga semua penghuni sekolah mulai mengira hal yang sebenarnya terjadi.

Jinyoung dan Jaebum mengunci diri mereka di dalam ruang pengyiaran sekolah dan tak membiarkan club penyiar sekolah memasuki wilayah yang seharusnya mereka kuasai.

“Ya! Apa yang kalian lakukan di dalam? Cepat hentikan siaran itu!” Salah satu anggota club penyiaran sekolah tak henti-hentinya berusaha membuka pintu markasnya yang sengaja dikunci dari dalam. Beberapa anggota club yang lain pun berusaha membantu sebisanya, namun tak banyak membuahkan hasil. Jinyoung dan Jaebum di dalam nampak tak memberikan tanda-tanda untuk membuka pintu itu.

“Kami hanya meminjam ruangan ini sebentar. Sungguh tidak akan lama!” Sahut Jinyoung datar. Tangannya berkali-kali memberikan kode agar para anggota club penyiaran menghentikan keributannya di depan pintu.

Jinyoung dan Jaebum melakukan itu semua bukan tanpa alasan, dini hari tadi Taecyeon menghubungi mereka untuk meminta bantuan menyiarkan rekaman percakapan itu pagi ini di sekolah. Alasannya masuk akal, untuk membersihkan nama wali kelas mereka, Suzy dan mencoba menghentikan kepergian wanita itu dari sekolah ini.

—<><>—

“Apa hasilnya benar-benar memuaskan?”

“Berkat gambar yang kau ambil, aku berhasil mendapatkan sepatu yang kuidam-idamkan,”

“Jinjjayo? Lalu apa yang terjadi pada yeoja yang kufoto itu, Eonni? Ceritakan padaku!”

“Tentu saja dipecat. Guru itu sudah dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah. Kurasa cepat atau lambat wanita itu akan keluar dari Kirin. Aku hanya membantu membuatnya keluar lebih cepat. Haha~. Pulanglah, aku akan menghubungimu lagi apabila aku membutuhkan bantuanmu. Aku akan memberimu uang jajan lebih banyak bila kau bekerja semakin baik!”

“Ne, sepertinya aku menemukan bakat baruku. Aku akan belajar lebih keras lagi untuk mengambil gambar lebih bagus lagi. Gomawo, Eonni!”

 

Jiyeon meremas buku-buku jari tangannya dengan gelisah. Ia tengah duduk di closet duduk di salah satu bilik toilet wanita di sudut sekolah. Percakapannya dengan seorang gadis kecil yang mengambil gambar wali kelasnya yang bersama dengan Taecyeon di sebuah hotel membuatnya memutuskan untuk menyembunyikan dirinya sendiri.

Ia memperhatikan cukup lama sepatu yang dikenakannya. Ia belum rela sepatu itu akan dirampas kembali oleh pemilik awalnya, Eunjung. Tapi lebih dari itu, ia lebih merasa bersalah karena mengakibatkan wali kelas barunya, Suzy harus dikeluarkan dari sekolah karena perbuatannya. Awalnya Jiyeon merasa tidak melakukan hal yang salah sama sekali karena membuat Suzy diberhentikan sebagai guru dari sekolahnya. Namun, entah mengapa setelah Taecyeon membentaknya dan meluapkan emosi padanya kemarin, Jiyeon menyadari telah melakukan kesalahan besar. Ia telah menghancurkan impian wali kelas barunya itu untuk mendidik murid-muridnya dengan tulus. Jiyeon juga tidak menyangkan Taecyeon begitu keras membela Suzy, padahal yang ia tau, pemuda itu sangat tidak peduli dengan semua wali kelas yang dikeluarkan beberapa tahun belakangan ini.

—<><>—

“Kau dengar siaran percakapan itu? Itu semua pasti upaya siswa siswi kelas 3F untuk membuat wali kelasnya kembali ke sekolah ini,” Jia seonsaengnim memangku kedua tangannya sambil berkata sinis kepada Minyoung seonsaengnim di depan ruang guru. Mereka telah bertahan di posisi mereka sejak siaran percakapan itu terdengar tak henti-hentinya diputar terus menerus. Bahkan guru-guru lain dan juga wakil kepala sekolah mendengarkannya dengan sangat jelas.

“Apa gunanya mengulang percakapan siswi yang bernama Jiyeon itu dengan seorang yang mengambil gambar insiden kejadian Suzy seonsaengnim dan siswa brutal di hotel beberapa waktu lalu? Anak-anak bodoh itu pikir dapat dengan mudah membersihkan nama wali kelas barunya itu?” Minyoung seonsaengnim menanggapi dengan tak kalah sinis. “Aku justru merasa siswi bernama Jiyeon itu patut diberikan penghargaan karena telah mengungkap cara licik guru baru itu demi mendapatkan perhatian dari siswa brutal bernama Taecyeon,” lanjutnya.

Yunho yang mendengar percakapan kedua guru itu hanya mampu terdiam. Tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk membantu Suzy dalam kasus ini karena foto di surat kabar sekolah yang lalu sangat menyudutkan wanita itu.

Tidak lama kemudian seorang petugas sekolah berjalan sedikit berlari menuju ruang wakil kepala sekolah yang bersebelahan dengan ruang guru. Ia segera menyampaikan maksud tujuannya kepada wakil kepala sekolah, tuan Park yang kebetulan sedang berada di luar ruangan bersama dengan guru yang lain.

“Parmisi, Tuan Park. Ada yang ingin bertemu dengan Anda. Beliau adalah penanggung jawab hotel ternama di kota ini. Beliau sengaja datang untuk menyampaikan sesuatu kepada Anda,” petugas sekolah menyampaikan dengan hormat lalu memiringkan sedikit tubuhnya hingga tuan Park dapat melihat seorang wanita cantik berpakaian formal yang berdiri santun sambil tersenyum ramah ke arahnya.

“Persilahkan beliau masuk ke ruanganku!”Tuan Park mengangguk pelan lalu mendahului masuk ke ruangannya sendiri disusul wanita cantik yang diantarkan petugas sekolah tadi.

Guru-guru yang berada disana kompak menunjukkan tatapan penasaran, bahkan beberapa diantara mereka spontan bergerak ke ruang wakil kepala sekolah dan mengintip kejadian di dalam ruangan itu setelah tuan Park dan tamunya telah masuk ke dalam. Terlebih Jia dan Minyoung seonsaengnim yang terlihat berlebihan mendongakan kepalanya saat mencoba mengintip ke dalam ruangan melalui kaca gelap di pintu itu.

“Jia-ssi, Minyoung-ssi, apaa yang kalian lakukan? Sikap kalian sama sekali tidak menunjukkan profesi kalian sebagai seorang guru,” kata Yunho. Nada suaranya tenang namun penuh peringatan.

Seketika kedua guru itu menyadari kesalahan sikapnya lalu kembali bersikap penuh wibawa sambil berbalik dan berjalan menuju ruangan mereka dengan dagu yang sengaja diangkat tinggi-tinggi, lalu melewati Yunho yang hanya dapat menatap sinis kearah keduanya.

—<><>—

“Apa yang membawa nyonya Kim hingga menyempatkan diri datang ke sekolah ini?” Tanya tuan Park setelah beberapa waktu lalu tamu di depannya telah memperkenalkan dirinya sendiri.

“Aku datang kesini atas permohonan siswa yang bernama Ok Taecyeon,” jawab nyonya Kim ramah.

“Taecyeon? Maksud Anda?” Tuan Park nampak masih belum mengerti.

“Mengenai kasus yang heboh di sekolah ini. Aku dengar anda memberhentikan guru baru yang bernama Suzy? Apakah benar?”

Ne, kabar itu benar. Aku memang merasa harus mengeluarkan guru yang tidak bermoral sepertinya. Suzy hanya akan mencoreng nama sekolah ini apabila dipertahankan.” Jelas tuan Park. Nada suaranya terdengar bergetar karena amarah. Kasus guru baru itu memang secara tidak langsung juga mencoreng namanya sendiri.

“Apa Tuan Park sudah menyelidiki langsung hal yang sebenarnya terjadi? Atau Anda hanya menyimpulkan sendiri dari foto yang ada di surat kabar sekolah itu?” Nyonya Kim masih nampak sangat tenang.

Tuan Park mengerutkan keningnya, “Apa yang Anda maksud?”

“Kebetulan saat Taecyeon membawa guru itu ke hotel, saya berada di tempat. Taecyeon memang menyewa satu buah kamar di hotel itu dengan meminta bantuan salah satu pelayan wanita untuk menggantikan pakaian gurunya yang basah kuyub. Gurunya pingsan karena kedinginan di tengah hujan deras, itu alasan yang sebenarnya. Taecyeon juga hanya sebentar di hotel itu. Tidak beberapa lama setelah ia mengantar gurunya untuk beristirahat, ia keluar lebih dulu dari hotel seorang diri dengan pakaian yang juga masih sangat basah.” Terang nyonya Kim sambil sesekali tersenyum tenang.

Tuan Park mulai terpancing dengan pembawaan tenang nyonya Kim. Ia mulai berpikir sesaat, “Jinjjayo? Apa aku telah salah mengira?”

“Kurasa begitu, aku mengenal Taecyeon sebagai siswa pemberontak di sekolah ini. Aku juga sudah sangat sering melihat siswa itu berkeliaran di luar pada jam sekolah berlangsung. Tapi aku sangat tersentuh dengan tekadnya ketika datang padaku kemarin malam untuk meminta bantuanku menjelaskan semuanya pada Anda. Kupikir seorang siswa pemberontak seperti Taecyeon tidak akan peduli dengan siapapun, termasuk guru yang dikeluarkan dari sekolah. Tapi aku menyaksikan sendiri tekadnya yang kuat. Ia bahkan berlutut dan berjanji padaku akan belajar di sekolah dan tidak akan membolos lagi.”

“Benarkah? Kau yakin tidak sedang membantunya menutupi sesuatu yang busuk?” Tanya tuan Park berusaha menyelidik.

“Kau bisa memegang ucapanku. Aku adalah seorang penaggung jawab hotel, aku juga pasti bertanggung jawab atas semua ucapanku yang berhubungan dengan hotel itu. Aku bisa menjamin semua perkataanku adalah benar adanya,” nyonya Kim tersenyum ramah diakhir perkataannya. Nampak jelas kesungguhan dan ketulusan akan setiap ucapannya tadi.

Tuan Park menghela nafas berat begitu mendengar semuanya. Perasaan bersalah mulai menghinggapinya. Sejenak ia merasa bodoh karena terlalu gegabah mengambil keputusan tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.

“Terima kasih karena telah menjelaskan semuanya. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu Anda yang sangat berharga untuk meluruskan permasalahan di sekolah ini. Saya merasa sangat malu karena telah mengambil keputusan sendiri tanpa memikirkannya matang-matang. Aku terlalu emosi saat itu.” Tuan Park tampak mengusap-usap wajahnya dengan frustasi.

“Aku memaklumi tindakan tuan Park sebagai wakil kepala sekolah. Mohon pertimbangkan kembali untuk memberikan kesembatan Suzy kembali bekerja di sekolah ini.”

Tuan Park menegakkan kepalanya, nampak berpikir. “Apakah bisa? Apakan Suzy mau kembali ke sekolah ini?” tanyanya ragu pada dirinya sendiri.

—<><>—-

Taecyeon berlari sekuat tenaga memasuki bandara yang nampak padat dengan orang-orang yang berlalu lalang disana. Banyaknya orang disana, membuat Taecyeon kesulitan mencari seseorang yang ia cari sedari tadi.

Pemuda itu sengaja tidak masuk sekolah hari ini. Seharian kemarin ia sudah berupaya melakukan segala hal untuk menahan kepergian Suzy ke Australia hari ini. Taecyeon sangat ingin wanita itu kembali mengajar di sekolahnya. Ia yang selama ini tidak pernah peduli dengan guru-guru di sekolahnya mendadak berubah semenjak kehadiran Suzy. Pemuda itu berubah semenjak menyadari terlalu banyak kesamaan guru baru itu dengan seseorang di masa lalunya, dengan gadis kecil yang selalu ia sebut Bulan.

Taecyeon tidak ingin kehilangan Bulan untuk kedua kalinya. Dulu ia memang masih terlalu kecil untuk berbuat sesuatu, tapi berbeda dengan sekarang. Taecyeon telah menanti Bulan terlalu lama, dan ia tau apa yang harus ia lakukan untuk membuat Bulan bertahan di negara ini, di sekolahnya, di sisinya.

“Suzy-ah!” Panggil Taecyeon pada seorang wanita yang sedang duduk menyendiri di bangku bandara. Wanita itu nampak sedang menunggu penerbangannya tanpa senyum sama sekali.

Suzy menoleh, untuk beberapa saat ia hanya mampu menatap Taecyeon yang berdiri agak jauh darinya tanpa kedip, tak menyangkan pemuda itu akan menyusulnya di bandara.

Setelah mulai dapat mengendalikan keterkejutannya, Suzy mulai bangkit dari duduknya. “Taecyeon? Kenapa kau bisa ada disini? Apa kau membolos lagi?”

Taecyeon belum bergerak dari pijakannya, matanya memerah. Ia terlalu kelelahan untuk sekedar bersuara lagi. Tubuhnya kaku sesaat setelah menemukan wanita yang dicarinya itu sejak satu jam yang lalu.

“Apa kau membohongiku?” Tanya Taecyeon yang perlahan mulai melangkah mendekati Suzy.

“Apa maksudmu?”

“Kau bilang menjadi guru adalah cita-citamu sejak kecil. Tapi apa kau akan menyerah begitu saja dan memilih kembali ke Australia tanpa melakukan apa pun?” Suara Taecyeon mulai meninggi. Matanya memerah karena berusaha mencoba menolak kenyataan bahwa sebentar lagi Suzy akan pergi jauh darinya dan mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya untuk melihat wanita itu dari jarak dekat.

“Bukankah aku sudah mengatakannya padamu. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membersihkan namaku dan kembali mengajar di sekolah. Semua terasa terlalu menyudutkanku. Aku sudah coba memikirkannya, tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain menerima kenyataan pahit ini,” Suzy menunduk, meratapi kenyataan pahit yang mau tak mau harus ia terima. Membayangkan impiannya harus hancur begitu saja tanpa bisa berbuat apa-apa, membuat hatinya hancur. Ia merasa sangat kecewa.

“Bagaimana kalau kau diberikan kesempatan kedua?”

Suzy mengangkat kepalanya, manatap Taecyeon tak percaya. “Jangan mencoba menghiburku, itu tidak akan pernah terjadi.”

“Bagaimana bila itu benar-benar terjadi? Apa kau akan tetap di Seoul dan kembali mengajar di sekolah?” Taecyeon menghentikan langkahnya tepat di hadapan Suzy. Jarak mereka hanya terpisah tiga langkah.

Suzy perlahan tersenyum tipis. Ia menghargai Taecyeon dengan membayangkan kemungkinan yang dikatakan pemuda itu akan terjadi. “Tentu aku akan mengajar kembali, dan tak akan menghancurkan impianku,”

“Kalau begitu kembalilah, kembalilah ke sekolah untuk mengajar kami,” pinta Taecyeon tulus. Matanya masih memerah, ia sangat tidak mau terjadi perpisahan di bandara ini.

“Sayangnya semuanya sudah tidak mungkin lagi,” Suzy masih tersenyum. Perlahan ia melangkah mendekati Taecyeon yang sepertinya enggan untuk mendekatinya. Tangan kanan Suzy perlahan melayang mendekati wajah Taecyeon hingga menyentuh wajah pemuda itu. Suzy merasakan kesedihan dari tatapan mata Taecyeon yang tak pernah lepas dari matanya. Suzy terharu, sangat terharu dengan pamandangan itu. “Berjanjilah padaku, kau akan belajar dengan sungguh-sungguh dan lulus dengan nilai yang memuaskan tahun ini?” Mata Suzy berkaca-kaca ketika mengatakan itu.

“Aku tidak bisa menepatinya kalau kau tidak kembali ke sekolah,” ucap Taecyeon memaksakan kata-katanya keluar dari mulutnya.

“Kau—” Suzy tidak meneruskan kata-katanya lagi ketika mendengar pengumuman bahwa ia harus segera memasuki pesawat karena penerbangan yang ia tuju akan berangkat tidak lama lagi. Suzy melepaskan sentuhannya di wajah Taecyeon, lalu mundur beberapa langkah. Ia masih memaksakan senyumnya mengembang walau terlihat sangat menyedihkan. “Berjanjilah kau akan lulus tahun ini. Sudah waktunya aku harus pergi,”

Taecyeon menggeleng kuat, menolak untuk menepati permintaan Suzy. Ia tidak mampu bergerak sedikitpun dari pijakannya. Hatinya semakin sakit ketika kini Suzy mulai berbalik membelakanginya untuk menghampiri kopernya di bangku dan menariknya menjauh dari Taecyeon.

“Suzy jangan pergi, kembali lah ke sekolah. Percayalah semua sudah baik-baik saja!” Sekeras apa pun Taecyeon berteriak, Suzy tetap berjalan semakin menjauh darinya. Hingga seketika langkah Suzy terhenti ketika Taecyeon memanggilnya sekali lagi, dengan sebutan, “Seonsaengnim, kumohon jangan pergi.”

Suzy menghentikan langkahnya, namun tak berniat untuk menoleh. Ia tertegun sekaligus terharu dengan panggilan itu. Panggilan yang baru pertama kali ia dengar dari Taecyeon. Tanpa ia sadari air mata haru telah membasahi kedua pipinya. Sedetik kemudian ia menyesal, menyesal karena tidak dapat membimbing Taecyeon hingga akhir, hingga pemuda itu lulus dengan membanggakan. Suzy menghapus air matanya dengan punggung tangannya asal. Biar bagaimana pun ia harus menerima semua kenyataan ini. Dalam hati, ia hanya bisa berdoa semoga Taecyeon mau belajar dengan keras hingga lulus dengan nilai memuaskan tahun ini.

Dengan tegar, Suzy mencoba kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Bersamaan dengan itu pula kembali terdengar teriakan dari Taecyeon di belakangnya.

Seonsaengnim, aku barjanji tidak akan membolos lagi kalau kau mau kembali ke sekolah. Kumohon!” Suara Taecyeon bergetar hebat dan terdengar sangat menyedihkan. Ia semakin terpukul dengan semua ini. Meyakinkan Suzy untuk kembali ke sekolah benar-benar sangat sulit. Dan sebentar lagi ia harus rela merasakan perpisahan pahit untuk kedua kalinya.

Teriakan Taecyeon barusan membuat air mata Suzy semakin mengalir deras, namun tidak membuat ia menghentikan langkahnya.

Kenyataan ini sangat memukul Taecyeon. Suzy sudah hampir tak terlihat di antara kerumunan padat orang-orang di tengah bandara. Wanita itu bahkan tidak menoleh untuk menatapnya sekali lagi. Taecyeon merasakan kakinya sangat lemas hingga ia harus berlutut di pijakan awalnya. Wajahnya ia tundukkan dalam-dalam, bersamaan dengan itu pula air matanya mulai menetes membasahi lantai bandara. Ia menangis tanpa suara.

Secara tiba-tiba Suzy menghentikan langkahnya. Kali ini bukan karena panggilan Taecyeon, namun karena getaran ponsel di sakunya. Setelah meredakan tangisnya susah payah, ia mulai meraih ponselnya. Eksprsinya berubah heran ketika membaca nama penelpon yang tertera pada layar ponselnya.

Suzy segera menjawab panggilan itu karena tidak ingin membuat sang penelepon menunggu terlalu lama, “Yeobuseo, tuan Park.”

—<><>—

Taecyeon mulai mengendalikan tangisannya ketika mendengar langkah kaki yang semakin mendekatinya hingga dapat ia lihat sepasang sepatu putih milik perempuan tepat di bawah matanya. Dengan panasaran, Taecyeon mengangkat kepalanya untuk melihat wanita yang mengenakan sepatu itu.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya wanita itu yang ternyata adalah Suzy.

Taecyeon segera menegakkan diri, dan menatap wanita di depannya dengan tatapan tak percaya. “K-kau..” hanya kata itu yang berhasil meluncur dari bibirnya. Ia kehabisan kata-kata untuk mencerna semuanya.

“Ada apa dengan matamu? Apa kau menangis?” Suzy menatap Taecyeon dengan sangat teliti. Ia menemukan jejak-jejak air mata di sudut mata pemuda itu.

Dengan cepat Taecyeon mengusap kasar setiap sudut matanya dengan punggung tangannya. “A-aku tidak menangis,” jawabnya yang sebisa mungkin tanpa getaran. “Untuk apa aku menangis?” Lanjutnya disertai tawanya yang terdengar kaku.

Suzy masih menatapnya dengan tatapan menuduh. “Arraseo,” ia akhirnya mengalah. Karena Suzy tau, pemuda di depannya akan terus mengelak sekuat tenaga.

“Mengapa kau kembali? Kau tidak jadi pergi?” Tanya Taecyeon yang masih sangat terkejut. Padahal suara pengumuman yang memberitahu pesawat yang hendak ditumpangi Suzy akan segera terbang terus menggema di bandara, namun Suzy malah tidak bergeming dari hadapannya.

“Aku mau melihatmu memenuhi janjimu hingga akhir. Aku mendengar kau berjanji tidak akan membolos lagi kalau aku kembali ke sekolah,” Suzy tersenyum, kali ini senyum yang sangat lega dan bahagia. Telepon dadakan dari tuan Park barusan seketika merubah moodnya menjadi baik. Tuan Park memohon agar ia kembali mengajar di sekolah dan memberitahu bahwa ia telah meredakan kesalah pahaman di sekolah. Semua penghuni sekolah menantinya kembali dengan tangan terbuka.

“Jadi, kau tidak akan berangkat ke Australia?” Taecyeon masih nampak tak percaya. Namun, hatinya sangat lega menyadari ia tidak akan berpisah dengan Bulan. Perlahan senyumnya mengembang ketika menyadari ia tidak akan pernah jauh dari Bulan.

“Penuhi janjimu! Aku tidak akan segan-segan menghukummu kalau kau bermalas-malasan.” Suzy mempertegas ancamannya.

Seketika senyum di wajah Taecyeon luntur. Ia mulai teringat ucapannya saat meneriaki Suzy tadi. “J-janji! Memangnya apa yang kuucapkan? Mungkin kau salah dengar!” Dengan salah tingkah, Taecyeon berbalik dan mulai melangkah menjauh dengan langkah-langkah cepat.

“Ya! Ok Taecyeon! Jangan pura-pura lupa ingatan!” Teriak Suzy sambil berjalan cepat, berusaha mengejar kepergian pemuda itu.

—<><>—

Keesokan harinya, ketika Suzy menginjakkan kakinya ke sekolah, seluruh guru dan petinggi sekolah telah berjajar rapih untuk memberikan sambutan kecil kepadanya. Dengan langkah penuh sungkan, Suzy memberanikan diri mendekati tuan Park, wakil kepala sekolah yang berdiri paling depan dan paling dekat dengannya. Ia merasa tidak pantas diberikan sambutan seperti ini.

“Selamat datang kembali di sekolah ini.” Tuan Park menyalami tangan Suzy dengan sangat erat. “Sebelumnya mohon maaf karena telah salah menilaimu hingga aku gegabah memecatmu.”

G-gwaenchanha. Terima kasih karena telah bersedia menerimaku kembali,” sambut Suzy masih dengan sungkan.

Selanjutnya Suzy menyambut uluran tangan dari guru-guru yang memberikan ucapan selamat datang kembali kepadanya, termasuk Yunho. Pria itu dengan sanyuman cerah, terus menggenggam erat tangan Suzy seperti enggan untuk melepaskannya.

“Aku tau kau pasti akan kembali. Aku senang berita yang lalu itu tidak benar sama sekali. Selamat datang kembali, Suzy-ssi.” Sambut Yunho penuh keceriaan.

Dengan enggan, Jia dan Minyoung seonsaengnim pun mengulurkan tangannya ke arah Suzy sambil mengucapkan ‘selamat datang’ hanya sebatas formalitas untuk menghargai wakil kepala sekolah yang berada disana.

Tidak jauh dari jajaran para guru, Suzy dapat melihat siswa siswi didiknya, kelas 3F berkumpul menanti Suzy mendekat ke arah mereka. Tatapan mereka penuh rasa haru dan bahagia. Ada pula yang menunduk malu, tak berani menatap sosok wali kelas mereka itu.

Suzy mendekat, Eunjung adalah siswi pertama yang menyambutnya dengan pelukan, disusul siswi-siswi lainnya. “Seonsaengnim, aku tau kau akan kembali. Kami merindukanmu!” Ucap Eunjung penuh haru yang disetujui oleh teman-temannya yang lain.

Suzy tersentuh, sangat tersentuh. Anak didik yang baru dikenalnya selama dua bulan, menyambut bahkan mengharapkannya kembali ke sekolah. Suzy sangat bersyukur atas semuanya, ia bersyukur karena telah mengambil keputusan yang tepat untuk kembali ke sekolah dan mengurungkan niat untuk berangkat ke Australia.

Seongsaengnin, maafkan aku atas kejadian beberapa waktu lalu. Aku tidak bermaksud..” Siswa berbadan kurus mulai bersuara ketika pelukan Suzy sudah terlepas dari Eunjung.

“Maaf kan aku juga, Seonsaengnim. Aku sangat menyesal,” Siswa bertubuh gempal ikut mengakui kesalahannya.

Suzy mengerti maksud ucapan kedua siswa itu. Dengan senyum cerah, diusapnya kepala kedua siswa yang menunduk di depannya itu. “Aku maafkan. Kuharap kalian tidak akan mengulanginya lagi.”

Kedua siswa tersebut kompak menegakkan kepalanya sambil tersenyum sumeringah. “Pasti, Seonsaengnim. Kami berjanji.” Ucap keduanya serempak.

Suzy sangat bahagia berdiri di tengah-tengah anak didik yang menyayanginya, begitu pun sebaliknya. Di sudut lain, Suzy melihat Taecyeon memperhatikannya sedari tadi dengan senyum tipis di wajahnya. Ketika menyadari Suzy balas menatapnya, Taecyeon dengan santai berpaling dan meninggalkan lokasi itu dengan langkah tengang. Ada kelegaan yang luar biasa dari setiap helaan nafasnya.

“Dimana Jiyeon?” Tanya Suzy. Sejak tadi ia tidak bisa menemukan siswi itu di sekitarnya.

“Mengapa seonsaengnim masih sempat menanyakan keberadaan orang yang telah mencelakakan seonsaengnim?” Sahut sinis Eunjung di sampingnya.

Suzy menoleh dengan raut tenang dan ramah ke arah Eunjung, lalu berkata dengan lembut, “Tak ada sesuatu hal yang tidak bisa dimaafkan.”

Eunjung tertegun, begitu pula dengan seluruh siswa siswi yang ada di sekitarnya. Wali kelasnya itu bukan hanya cantik parasnya, tapi juga hatinya.

“Bisakah kau menemaniku mengunjungi rumahnya hari ini?” Pinta Suzy pada Eunjung.

—<><>—

“Apa seonsaengnim yakin disini rumah Jiyeon?” Tanya Eunjung yang nampak tidak betah menginjakkan kakinya di jalanan becek tepat di depan sebuah rumah sederhana yang sangat minimalis. Eunjung menatap tanpa kedip rumah itu yang mungkin hanya sepersepuluh dari besar rumahnya.

“Aku yakin, rumah di depan kita ini persis seperti alamat yang ada di biodata Jiyeon. Ayo kita masuk ke dalam,” ajak Suzy.

Setelah mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah itu beberapa kali, seorang wanita paruh baya nampak membuka pintu sambil mengerutkan keningnya, “Nuguya?” Tanyanya kemudian.

“Perkenalkan, Bae Suzy imnida. Aku adalah wali kelas Jiyeon. Apa Jiyeon ada di dalam?” Sapa Suzy seramah mungkin. Ia mengulurkan tangannya saat memperkenalkan diri.

“Oh, Suzy seonsaengnim.” Raut wajah wanita paruh baya itu seketika berseri dan segera menyambut uluran tangan itu, “Aku ibunya Jiyeon.” Ia segera membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilahkan Suzy masuk ke dalam. “Silahkan masuk, Jiyeon ada di dalam. Sejak kemarin anak itu mengurung dirinya di kamar. Aku sendiri tidak tau apa yang terjadi.”

Khamsahamnida. Aku datang bersama teman sebangkunya Eunjung.”

“Selamat siang, Ahjjuma.” Sapa Eunjung sambil tersenyum.

Ibu Jiyeon mengengguk ramah ke arah Eunjung.

“Boleh aku menemuinya?” Tanya Suzy.

“Tentu saja, biar kuantar ke kamarnya,” ibu Jiyeon berjalan mendahului menuju kamar putrinya.

“Jiyeon, cepat buka pintunya. Wali kelasmu datang bersama temanmu.” Ibu Jiyeon mencoba mengetuk pintu kamar putrinya berkali-kali, namun tidak juga ada jawaban dari dalam, hingga akhirnya ia menyerah dan mulai menyingkir dari sana. “Sepertinya ia sedang tidak ingin diganggu,” ucapnya kecewa.

Suzy juga nampak kecewa, namun kemudian mulai bergerak mendekati pintu kamar Jiyeon, “Biar aku coba.”

Cukup lama Suzy mengetuk pelan pintu itu sambil mengucapkan kata-kata lembut agar Jiyeon mau keluar dari kamarnya. Belum juga ada tanggapan, namun Suzy tidak putus asa, ia yakin Jiyeon mendengar perkataannya dengan jelas dari dalam.

“Jiyeon, aku tidak marah padamu. Bisakah kau mambiarkanku menemuimu sebentar?” Pinta Suzy berkali-kali.

Tidak lama kemudian, perlahan pintu itu terbuka dan memperlihatkan Jiyeon dari baliknya. “Benarkah seonsaengnim tidak marah padaku?” Tanyanya sambil menahan tangis. Wajah Jiyeon sudah basah karena seharian menangis. Dan kehadiran Suzy menambah air matanya mengalir tanpa henti.

Suzy mengangguk ramah. Bersamaan dengan itu pula Jiyeon membuka lebar pintu kamarnya dan memperbolehkan wali kelasnya itu untuk masuk ke dalam.

Seonsaengnim, maafkan aku. Aku orang yang jahat karena telah membuatmu dipecat. Aku tak pantas dimaafkan,” Jiyeon menangis sejadi-jadinya di pelukan Suzy.

“Aku memaafkanmu. Aku tidak marah padamu. Aku justru akan marah bila kau tidak mau ke sekolah dan hanya bisa mengurung dirimu sendiri di kamar seperti orang bodoh!” Suzy melepaskan pelukannya dan membantu Jiyeon menghapus air mata di wajah gadis itu. “Berjanjilah kau akan kembali ke sekolah besok.”

Jiyeon mangangguk kuat-kuat, mengiyakan permintaan Suzy. Ia sudah tak sanggup lagi berucap karena ia mulai sesenggukkan karena menangis. Seketika matanya membulat ketika melihat teman sebangkunya, Eunjung di belakang Suzy. Temannya itu terus memperhatikannya dengan tatapan haru.

“E-eunjung, kau ju-ga da-tang kemari?” Tanya Jiyeon terbata karena belum bisa menguasai tangisnya.

Eunjung mengangguk lemah.

Jiyeon masuk ke kamarnya yang lebih dalam lalu kembali dengan membawa sepasang sepatu berwarna merah yang sudah di kemas rapih ke dalam sebuah plastik bening. “Kabetulan, aku ingin mengembalikan ini padamu,” ucapnya susah payah. Ia mengulurkan sepatu itu kepada Eunjung. “Maafkan aku karena telah bermain curang,” lanjutnya sambil tertunduk malu.

“Ambillah, sepatu itu untukmu.” Jawab Eunjung penuh dengan ketegaran. Hari ini ia telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga berkat wali kelasnya, Suzy. Ia adalah teman sebangku Jiyeon sejak kelas satu, tapi bahkan ia baru berkunjung ke rumah temannya itu hari ini. Ia merasa harus lebih memperdulikan teman-temannya mulai hari ini. Dan itu semua berkat Suzy.

Jiyeon mengangkat kepalanya ragu. Ia menatap teman sebangkunya itu dengan tatapan tak percaya. Beberapa saat kemudian ia mulai percaya ketika melihat senyum tulus di wajah Eunjung. Jiyeon berlari dan melesat memeluk temannya itu dengan penuh haru, “Gomawo, Eunjung-ah!”

Sementara di sisi lain, ibu Jiyeon memperhatikan pemandangan di hadapannya sejak tadi dengan ekspresi haru dan tersentuh. Baru kali ini ia melihat langsung guru Jiyeon datang berkunjung untuk membujuk putrinya agar mau bersekolah. Padahal awalnya, ia tidak tau harus melakukan apa lagi untuk membuat Jiyeon mau pergi ke sekolah.

—<><>—

“Mari kita bersulang untuk menyambut kembalinya Suzy seonsaengnim ke sekolah kita,” Yunho mengajak para guru yang hadir di sebuah restaurant malam ini untuk minum bersama. Yang lain menurut, beberapa dari mereka turut senang namum beberapa diantaranya nampak tidak terlalu suka dengan pesta penyambutan itu.

“Apa kau tidak terlalu berlebihan? Untuk apa repot-repot mengadakan pesta penyambutan yang tidak penting ini?” Jia seonsaengnim mencibir pedas Yunho sambil melirik tajam Suzy yang duduk tepat di sebelah pria itu.

“Benar yang dikatakan Jia-ssi. Seharusnya tidak perlu sampai mengadakan pesta untuk menyambutku.” Suzy menambahkan.

Gwaenchanha,” Yunho meraih tangan Suzy di sebelahnya dan meremasnya lembut. “Atau anggap saja pesta ini untuk merayakan ulang tahunmu yang belum lama lewat, bagaimana?” Yunho tersenyum sangat menawan ke arah Suzy.

Suzy tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa membalas Yunho dengan senyuman singkat sambil berusaha membebaskan tangannya dari genggaman pria itu. Tatapan para guru yang menghadiri pesta kecil itu membuatnya tersudut, terlebih tatapan dari Jia seonsaengnim yang seolah ingin membunuhnya.

Mereka kembali melanjutkan acara makan-makan dengan suka cita. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Beberapa diantara mereka bahkan sudah mabuk berat, termasuk Yunho.

“Suzy-ssi, kau sangat membuatku bahagia.” Yunho berucap saat mabuk menguasai dirinya. Matanya setengah terbuka, tangannya meraih tangan Suzy yang bebas. Sementara kepalanya ia sandarkan di bahu wanita di sampingnya itu tanpa permisi.

Suzy terkejut dengan sikap aneh guru olahraga itu. Dengan perlahan ia mencoba membebaskan tangannya dari genggaman pria itu dan menjauhkan kepala Yunho dari dirinya. Namun hanya bertahan beberapa detik, pria itu kembali melakukan hal yang sama, kali ini malah lebih kuat seolah enggan untuk dipisahkan dari Suzy.

“Aku sangat senang kau kembali ke sekolah. Aku sangat menyukaimu, Suzy-ssi,” ucap Yunho lagi setengah sadar.

Suzy terkejut, begitu pula dengan beberapa guru yang masih sadar di sekitarnya. “Yunho-ssi, kau mabuk berat. Tolong lepaskan aku.” Suzy terus berusaha mendorong tubuh berat pria itu untuk menjauh darinya. Bau alkohol yang sangat menyengat dari mulut pria itu membuatnya memalingkan wajahnya jauh-jauh.

“Aku tidak mabuk,” elak Yunho. “Aku sungguh sangat menyukaimu,” Yunho tidak menghiraukan dorongan Suzy, ia malah mempererat rangkulannya hingga memeluk wanita itu.

“Yunho-ssi, tolong jangan seperti ini. Lepaskan aku.” Suzy mulai panik karena tindakan pria itu yang semakin berani.

Jia seonsaengnim menyaksikan adegan itu sejak tadi dengan hati memanas. Ia segera bangkit dan berpindah duduk di sisi Yunho lainnya. Dengan sedikit gerakan memaksa, Jia menarik Yunho ke sisinya hingga membuat pria itu mau tak mau melepaskan pelukannya di tubuh Suzy.

Suzy sejenak menghela nafas lega setelah terbebas. Ia segera bergeser menjauh dari Yunho. “Terima kasih, Jia-ssi,” ucapnya kemudian.

“Pulanglah, hari sudah sangat larut. Yunho seonsaengnim akan pulang bersamaku.” Jia masih menatap sinis ke arah Suzy. Kedua tangannya masih berusaha menahan pergerakan dari Yunho. Ia menahan pria itu agar tidak bangkit untuk kembali menghampiri Suzy.

K-khamsahamnida, aku pulang sekarang.” Suzy mengangguk pelan kepada Jia dan beberapa guru yang masih sadarkan diri disana, baru kemudian melesat pergi tanpa menoleh lagi.

“Suzy, biar aku antar kau pulang,” Yunho nampak masih berusaha mencegah kepergian Suzy, namun sudah tak berdaya akibat mabuk yang menguasainya. Terlebih rangkulan Jia yang sangat erat membuatnya tak bisa berbuat banyak.

“Kau akan pulang bersamaku, Yunho-ssi,” bisik Jia tepat di telinga kanan Yunho. Bibirnya bergerak nakal saat membisikkan kalimat itu di telinga pria itu.

—<><>—

“Bulan, akhirnya kau datang. Sudah beberapa hari ini kau tidak datang menemuiku,”

“Apa kau menungguku?” Tanya gadis kecil yang disebut bulan itu.

Bocah lelaki mengangguk kuat-kuat.

“Maafkan aku, eomma memintaku membantunya mengemasi mainan dan juga pakaianku beberapa hari ini.”

“Apa kau akan pergi jauh?”

“Entahlah, mungkin saja hanya liburan sementara.” Bulan tersenyum cerah. Bocah itu masih terlalu polos untuk memikirkan rencana orang-orang dewasa seperti orang tuanya.

“Jinjjayo?” Bocah lelaki menunduk lemas.

“Bintang, ada apa denganmu? Aku janji tidak akan pergi lama. Kau tidak boleh bersedih karena hari ini adalah hari ulang tahunku.”

“Hari ini tanggal berapa?”

“10 Oktober,”

“Tunggu sebentar disini,” Bintang berlari kecil menjauh dari Bulan yang menatapnya heran.

Setelah menunggu cukup lama di tempatnya, akhirnya Bulan mulai mendekati Bintang karena bocah itu tidak juga kembali menghampirinya. “Bintang, mwohaneungoya?” Tanyanya ketika telah berdiri tepat di belakang Bintang yang sedang berjongkok sambil sibuk melakukan sesuatu yang tidak diketahuinya.

Saengil chukkahamnida,” ucap Bintang yang kini tengah berdiri menghadap Bulan dengan setumpuk tanah padat berbentuk bulat di tangannya.

“Ige mwoya?” Tanya Bulan masih tak mengerti.

“Kubuatkan kue bulan untukmu,” Bintang tersenyum cerah.

Sedetik kemudian Bulan tertawa terbahak-bahak. Tawa yang cukup lama hingga membuat Bintang mengerutkan keningnya.

“Apa kau menertawakan kue buatanku? Aku tau ini hanya sebuah tumpukan tanah yang tak beraturan bentuknya, tapi aku janji akan memberikanmu kue bulan sungguhan yang sangat besar suatu saat nanti.” Bintang nampak kecewa dengan reaksi Bulan yang hanya menertawakannya.

Tawa Bulan mulai mereda, “Aku bukan menertawakan kue buatanmu, tapi wajahmu.” Suara Bulan kembali berguncang karena tak sanggup meredam tawanya.

“Wajahku?” Bintang hanya bisa mengerutkan kening karena kedua tangannya masih sibuk mengangkat kue buatannya.

Bulan mendekat lalu membantu membersihkan wajah Bintang yang cemong karena tanah. Tangan kecilnya bergerak lembut membersihkan setiap noda tanah di wajah Bintang. “Terima kasih kuenya, tapi aku mau kue sungguhan seperti janjimu,” ucapnya kemudian.

“Arraseo, aku akan memberikanya padamu suatu saat,” Bintang membuang tumpukan tanah yang sedari tadi digenggamnya, lalu mengajak Bulan berlari menuju pohon besar yang rindang.

Bocah lelaki kecil itu kemudian nampak sibuk menggores pohon itu dengan batu yang runcing.

“Mwohaneunghoya?” Tanya Bulan heran.

“Selesai,” ucap Bintang girang seraya berbalik menghadap Bulan yang mulai melirik hasil goresannya di pohon itu.

“Apa yang kau tulis disana?”

Bintang bergesar satu langkah ke samping agar Bulan dapat dengan jelas melihat hasil goresannya di pohon.

Bulan mendekat dan mulai meraba goresan itu. “Apa artinya ini?” Tanyanya yang masih tak mengerti ketika hanya melihat satu goresan tegak seperti angka satu.

“Hari ini aku berhutang satu kue bulan di hari ulang tahunmu. Tahun depan, aku akan menggoreskan lagi di pohon itu apabila aku belum bisa menepati janjiku untuk memberikanmu kue bulan. Begitu seterusnya. Tapi berjanjilah padaku kau akan menemuiku disini setiap hari ulang tahunmu,” Bintang mengulurkan kelingkingnya ke arah Bulan untuk mengesahkan perjanjian itu.

Bulan menyambutnya dengan riang. Kelingking mereka bertautan, senyum mereka merekah cerah sekali.

 

Taecyeon terbangun dari tidurnya dengan gelisah. Mimpi itu lagi. Sejak kehadiran Suzy, ia semakin sering memimpikan tentang masa kecilnya dulu bersama gadis kecil yang ia sebut Bulan.

Pemuda itu beranjak dari tidurnya lalu berjalan dan membuka jendela kamarnya. Ia menatap benda langit yang paling terang di atas kepalanya, Bulan.

Entah ada angin apa, Taecyeon meraih ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang yang sedang ada di pikiriannya saat ini. Namun, baru dering pertama, kesadarannya muncul hingga ia dengan segera memutuskan sambungan itu. Ia kemudian mulai terhanyut dalam kesibukan awalnya, menatap Bulan.

—<><>—

Suzy menghentikan langkahnya sesaat setelah ponselnya bergetar singkat di sakunya. Ia hampir sampai di apartemennya setelah pulang dari acara makan-makan bersama guru-guru di sekolahnya. “Taecyeon?” Ia membaca nama penelepon yang tidak sempat dijawabnya itu. “Untuk apa ia meneleponku?”

Untuk menjawab pertanyaannya, ia segera menempelkan ponselnya ke telinganya. Suzy menelepon balik pemuda itu.

Tidak butuh waktu lama sampai panggilannya di jawab dari seberang telepon. “Yeobboseo?”

“Taecyeon, apa tadi kau menghubungiku?” Tanya Suzy sambil mulai melanjutkan langkahnya dengan santai.

“Aku? Menghubungimu? Mungkin kau salah!”

“Ya! Jelas-jelas nomormu yang tertera di ponselku!”

“Mungkin aku tak sengaja menekan ponselku hingga menghubungkannya ke nomormu,” jawab Taecyeon tenang.

Suzy tidak berniat untuk memperpanjang hal itu. Ia kini merasakan sunyi yang mencekam dari ujung ponselnya. Tidak ada suara sama sekali dari Taecyeon untuk waktu yang cukup lama. Hingga Suzy merasa penasaran, “Kau sedang apa?” Tanyanya akhirnya.

“Memandang bulan,”

Jawaban Taecyeon singkat namun mampu membuat Suzy menghentikan langkahnya dan terpaku di tempatnya berdiri. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap wujud sempurna bulan malam ini. Banyak bintang-bintang yang terhampar indah di sekitarnya. Pemandangan itu memaksa pikirannya untuk melayang sejenak ke masa kecilnya dulu.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Taecyeon balik bertanya ketika tak juga ada tanggapan dari Suzy.

“Memandang bintang,”

Kali ini, Taecyeon yang terpaku mendengar jawaban singkat dari Suzy. Pikiran masa kecilnya berkelebat hebat hingga merangkaikan semuanya kepada wanita yang sedang berbicara dengannya saat ini. Menghubungkan sang Bulan kecil dengan sosok Suzy. Matanya masih enggan ia alihkan dari sosok bulan yang tengah bersinar indah di atas langit malam.

Keduanya bertahan di posisinya masing-masing untuk waktu yang cukup lama. Hingga saking menikmati kesibukan dan pikiran masing-masing, tidak ada yang tau siapa yang mengakhiri sambungan telepon lebih dulu.

—<><>—

“Mana tugasmu?” Tanya Suzy yang telah berdiri di depan meja Taecyeon. Ia sengaja menghampiri pemuda itu di sudut kelas untuk menagih hasil pekerjaan rumah yang ditugaskan pada semua siswa siswi di kelas 3F. Semua orang telah mengumpulkan tugas mereka masing-masing di depan kelas, kecuali Taecyeon.

Taecyeon nampak tak menghiraukan Suzy di depannya. Pemuda itu hanya mengangkat kepalanya dan menatap wali kelasnya itu dengan tatapan menantang.

“Ya! Ok Taecyeon, apa kau tidak mengerjakan tugasmu lagi?” Kesal Suzy. Ia kesal karena sudah lebih dari sebulan sejak kedatangannya kembali ke sekolah ini, namun Taecyeon sama sekali tidak pernah mau mengerjakan tugas-tugas yang diberikannya ataupun dari guru-guru yang lain.

“Sepertinya kau keliru bila mengharapkanku mau mengerjakan semua tugas-tugas membosankan itu. Saat itu aku hanya berjanji tidak akan membolos lagi. Aku sama sekali tidak berjanji untuk mengerjakan semua tugas,” gaya Taecyeon masih menantangnya.

Suzy geram, ia sama sekali merasa tidak dihormati sebagai seorang guru sekaligus wali kelas. “Panggil aku seonsaengnim!”

Taecyeon terdiam. Matanya menunjukkan ketidaksukaan atas paksaan dari Suzy yang meminta dipanggil dengan sebutan itu. Pikirannya melayang mengingat saat ia memanggil Suzy dengan sebutan ‘seonsaengnim’ di bandara. Saat itu ia hanya ingin membuat Suzy kembali ke sekolah dan mengurungkan niat untuk pergi ke Australia. Dalam hatinya, ia tidak suka memanggil Suzy dengan sebutan itu. Sebutan itu hanya membuatnya merasakan jarak yang sangat jauh dengan Suzy.

Taecyeon beranjak dari duduknya dan meraih tasnya dengan malas. Jam sekolah hampir usai, dan ia memutuskan untuk pulang tanpa menunggu bel berbunyi. “Aku lelah berdebat denganmu,”

“Ya! Taecyeon, kau tidak boleh pulang dulu. Mulai hari ini kau harus mengikuti pelajaran tambahan setiap jam dua siang. Aku akan menunggumu di kelas.”

Teriakan Suzy tak juga menghentikan niat Taecyeon untuk keluar dari kelas.

—<><>—

Taecyeon berjalan pelan memasuki ruang kelasnya setelah cukup lama bel tanda jam sekolah berakhir berbunyi. Waktu sudah menunjukkan lebih sepuluh menit dari jam dua siang, waktu yang dijanjikan Suzy untuk memberikannya pelajaran tambahan setelah pulang sekolah.

Sepi, suasana kelas kosong. Dengan langkah ragu ia duduk di kursinya di pojokan kelas. Ia yakin Suzy tidak akan mengingkari perkataannya tadi, wanita itu pasti datang untuk memberikannya pelajaran tambahan sesuai yang diucapkan wanita itu tadi.

Taecyeon menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ia sedang berusaha mencari alasan yang tepat ketika Suzy manemukannya disini tidak lama lagi. Ia berpikir wanita itu pasti akan besar kepala karena menganggapnya begitu mudah menuruti permintaannya.

Belum juga menemukan alasan yang tepat, langkah seseorang mulai terdengar jelas di dekat pintu hingga berhenti disana.

Dengan bimbang dan gugup akhirnya Taecyeon membuka suara lebih dulu, “Kau jangan besar kepala dulu, aku disini—” suara Taecyeon mendadak hilang ketika mengangkat kepalanya dan melihat seorang gadis berseragam sekolah tengah berdiri di depan pintu kelas, menghadap ke arahnya.

Gadis itu menggunakan kaca mata tebal dengan rambut dikepang dua seperti gadis desa. Dari penampilannya, sangat jelas bahwa gadis itu adalah seorang kutu buku. Ia kemudian berjalan masuk penuh angkuh sambil membawa tas selempangnya yang ia sampirkan begitu saja di pundak kanannya.

Taecyeon masih menganga tak percaya di tempatnya duduk. Gadis itu kini telah menghempaskan tasnya di meja depan Taecyeon dan memutar kursi di depannya untuk berhadapan dengan pemuda itu langsung. Ia pun duduk di kursi itu tanpa senyum sedikit pun.

“Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Taecyeon masih heran.

“Perkenalkan, namaku Eunji dari kelas 3A. Aku adalah siswi terpintar di sekolah ini. Wali kelasmu memintaku untuk memberikanmu pelajaran tambahan setiap jam pulang sekolah. Kuharap kau tidak akan menyusahkanku!” Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan singkat dengan tidak menghiraukan ekspresi kebingungan di wajah Taecyeon.

“Maksudmu Suzy yang memintamu memberikanku pelajaran tambahan? Kemana dia?”

Eunji mendengus mendengar pertanyaan pemuda di depannya itu. “Kau bahkan memanggil wali kelasmu sendiri dengan namanya saja. Sepertinya kau memang seorang yang sulit sekali diatur!”

“Jawab saja pertanyaanku, dimana Suzy?” Tanya Taecyeon lagi, merasa tak peduli dengan komentar Eunji barusan.

“Suzy seonsaengnim memintaku kesini lebih dulu, ia bilang akan menyusul tak lama lagi!” Jawab Eunji masih dengan sikap angkuhnya.

Taecyeon tak bergeming. Ia mulai kecewa menyadari bukan Suzy yang akan memberikan pelajaran tambahan langsung kepadanya, melainkan melalui seorang perantara bernama Eunji. Ia mulai menyesali karena melakukan kesalahan telah hadir pada jam pelajaran tambahan saat ini.

“Baiklah, kita harus memulai dari pelajaran apa? Mata pelajaran apa yang tak kau kuasai?” Tanya Eunji kemudian. Cukup lama ia tidak mendapatkan jawaban dari pemuda di depannya itu. Ia akhirnya menyimpulkan sendiri pertanyaannya itu, “Pasti semuanya.” Cibirnya dengan nada meremehkan. “Baiklah, lebih baik kita mulai dengan pelajaran Fisika.” Eunji mulai mengeluarkan buku-buku tebal dari dalam tasnya, kemudian membukakan halaman tertentu dan mengarahkannya pada Taecyeon. “Coba kerjakan soal-soal ini. Katakan padaku bila kau mulai kesulitan menjawab!”

Taecyeon tidak menanggapi sepenuhnya arahan dari partner belajarnya itu. Beberapa kali diliriknya pintu kelas seperti menunggu seseorang datang. Ya, ia mengharapkan Suzy segera datang menemuinya, karena memang itu alasan utama Taecyeon yang secara tidak langsung menyetujui pelajaran tambahan ini.

Eunji juga tidak begitu memperhatikan Taecyeon yang belum juga memulai memecahkan soal-soal yang diberikannya. Gadis itu nampak sibuk dengan pekerjaan rumahnya yang lain. Ia tengah mencoret-coret buku pelajarannya, seperti berusaha menjawab soal-soal yang penuh dengan rumus yang memusingkannya itu.

Cukup lama Taecyeon hanya berdiam diri di tempatnya tanpa melakukan apa pun. Seseorang yang ditunggunya sedari tadi tidak juga nampak. Ia kemudian beranjak dari duduknya sambil meraih tas di atas mejanya. Ia memutuskan untuk menghentikan kegiatan membosankan di dalam kelas.

“Ya! Mau kemana kau? Apa kau telah selesai mengerjakan soal-soal yang kuberikan?” Tanya Eunji tak percaya. Ia segera mengecek soal-soal itu yang ternyata masih kosong tanpa jawaban.

“Aku bosan melihat angka-angka dan rumus-rumus yang membuat kepalaku pusing. Aku sedang tidak mood untuk belajar hari ini. Aku pergi dulu!” Taecyeon melangkah hendak melewati bangku Eunji, namun seketika berhenti ketika menyadari sesuatu. “Tanggu sebentar,” Taecyeon mundur beberapa langkah, lalu mendekatkan wajahnya dengan gadis di depannya.

Eunji mendadak gugup tanpa sebab yang jelas. Ekspresi marahnya mendadak berubah menjadi salah tingkah ketika menyadari wajahnya terlalu dekat dengan Taecyeon. Pemuda itu kemudian melepas kacamata yang dikenakannya dengan gerakan tiba-tiba. Hal ini membuat Eunji terkejut bukan main dan harus mengerjapkan matanya berkali-kali untuk membiasakan pandangannya tanpa kacamata. “Ya! Mwohaneungoya?” Bentaknya tak terima.

“Kau lebih cantik bila tak menggunakan kacamata,” ucap Taecyeon datar. Tangannya kemudian melepas kepangan rambut Eunji tanpa diperintah.

Taecyeon tidak menyadari gadis di depannya menegang di tempatnya. Eunji tidak percaya apa yang baru saja diucapkan dan dilakukan pemuda itu padanya. Jantungnya berdebar hebat dan ia kesulitan untuk sekedar mengarik nafas.

“Sebenarnya kau benar-benar cantik kalau saja mau merubah penampilanmu. Kusarankan padamu, jangan terlalu giat belajar. Perdulikan penampilanmu sedikit,” Taecyeon berbisik tepat di telinga kiri Eunji lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah gadis itu, baru kemudian beranjak pergi ke luar kelas dengan gaya cueknya.

Sukses! Pemuda itu sukses membuat Eunji kaku di tempatnya untuk waktu yang cukup lama. Gadis itu terlalu sulit mengumpulkan kesadarannya kembali. Entah mengapa sikap Taecyeon tadi membuatnya merasakan sesuatu yang baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Tangannya bergerak mencari sesuatu dari dalam tasnya. Setelah menemukan sebuah cermin kecil yang hampir tak pernah disentuhnya, Eunji mulai melirik dirinya sendiri dari pantulan cermin itu. Ia kini melihat dirinya yang berbeda, tanpa kacamata tebal dan tanpa kepangan yang mendadak dirasanya sangat kuno dan ketinggalan jaman.

—<><>—

Taecyeon menghentikan langkahnya sesaat setelah ia keluar dari pintu kelas. Ia melihat Suzy tengah berjalan menuju kelas diikuti seorang pria di belakangnya, Yunho seonsaengnim. Kedua orang di depannya itu nampak tengah meembicarakan sesuatu yang serius.

“Suzy-ssi, sebelumnya aku minta maaf atas perbuatanku saat pesta penyambutanmu semalam. Meskipun aku tak ingat jelas apa yang kulakukan padamu.” Yunho tiba-tiba saja telah menghalangi langkah Suzy dengan gelagat salah tingkah. Pria itu mengusap-usap pelan bagian belakang kepalanya untuk mengurangi rasa gugupnya.

“Tidak apa-apa, aku justru mengkhawatirkanmu semalam. Apa kau pulang dengan selamat?” Tanya Suzy ramah.

“Eh? T-tentu!” Jawab Yunho yang mendadak gugup entah karena apa.

“Baguslah kalau begitu, aku pergi dulu,”

Yunho spontan bergerak untuk menghalangi langkah Suzy selanjutnya, “Sebagai permintaan maafku, aku ingin mengajakmu menonton acara musik minggu depan? Kebetulan aku punya dua tiket gratis. Apa kau ada waktu?”

Suzy nampak berpikir, lalu mulai menjawab sambil tersenyum menyenangkan, “Akan kuusahakan.”

Yunho ikut tersenyum, “Aku akan sangat tersanjung bila kau menemaniku.” Ia kemudian melangkah ke samping untuk memberikan Suzy jalan. Ia tak henti-hentinya menatap wanita itu hingga tak terlihat di belokan kelas.

Taecyeon menyaksikan semuanya dan mendengar percakapan itu dengan sangat jelas dari jarak aman dan dari tempat yang tak diketahui kedua orang itu. Permintaan maaf Yunho seonsaengnim terkesan sangat aneh. Apa yang dilakukan guru itu pada Suzy? Juga mengenai permintaannya yang mengajak Suzy untuk menemaninya menonton acara musik, membuat Taecyeon sedikit merasa cemburu tanpa ia sadari.

—<><>—

“Ya! Ok Taecyeon, berhenti!” Perintah Suzy setelah melihat pemuda itu sedang berjalan ke area belakang sekolah esok paginya. Suzy nampak emosi sejak menemukan Eunji duduk seorang diri di dalam kelas kemarin. Dari informasi gadis itu, Taecyeon pergi ketika pelajaran tambahan yang diberikan Eunji belum berakhir, terlebih tak ada satu soal pun yang dikerjakan pemuda itu sesuai perintahnya.

Informasi itu tentu menyulut emosi Suzy. Padahal ia sudah bersusah payah memohon hingga mengemis pada Jia seonsaengnim untuk mengijinkan siswi kesayangannya yang sangat pintar, Eunji untuk membantu memberikan Taecyeon pelajaran tambahan. Tapi pemuda itu sama sekali tidak menghargai upayanya.

“Ya! Ok Taecyeon! Kubilang berhenti!” Teriak Suzy lagi lebih nyaring. Kali ini berhasil, pemuda yang diteriakinya telah berhenti tepat di belokan terakhir menuju area belakang sekolah yang sepi.

Taecyeon berbalik menghadap Suzy yang baru saja menghentikan langkahnya. “Ada apa?” Tanyanya dingin.

“Mengapa kau tidak mengikuti pelajaran tambahan kemarin hingga akhir dan meninggalkan Eunji sendirian di kelas?” Tanya Suzy masih emosi.

“Aku hanya merasa bosan dan sedang tidak mood untuk belajar kemarin!”

“Taecyeon, ujian semester sudah hampir dekat. Kau tidak boleh sampai gagal. Aku sangat ingin kau lulus dengan hasil memuaskan!”

Taecyeon nampak geram dengan sikap Suzy yang seolah-olah berbicara dengan orang yang sangat bodoh. “Aku tidak butuh pelajaran tambahan itu. Aku tidak mau Eunji yang menjadi partner belajarku,” sahut Taecyeon penuh emosi.

“Taecyeon,” nada suara Suzy memperingatkan.

“Berhenti!” Bentak Taecyeon cepat. “Berhenti memanggilku seperti itu. Berhenti memanggilku seperti anak kecil. Aku bukan anak kecil lagi!” Luapnya penuh emosi. Sudah lama ia ingin mengeluh dengan cara Suzy memanggil namanya. Seolah ia adalah anak kecil yang sangat sulit diatur.

Suzy terdiam, ia cukup terkejut dengan sikap Taecyeon yang penuh dengan amarah. Bahkan terlihat lebih marah darinya.

Arraseo,” Taecyeon mulai mengatur nafasnya yang kacau. “Seperti yang kau minta tadi. Ujian semester yang sudah hampir dekat. Kau memintaku untuk mendapatkan nilai yang memuaskan, bukan? Aku akan mewujudkannya.” Ucapnya masih penuh dengan amarah.

Suzy masih belum bisa berkata-kata. Suaranya mendadak hilang ketika melihat kilatan yang mengerikan dari mata Taecyeon.

“Tapi kau harus memenuhi permintaanku bila aku berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan dalam ujian semester nanti,” nada suara Taecyeon mendadak sengaja dikecilkan hingga terdengar berbisik di telinga Suzy. Terlabih posisi pemuda itu yang sengaja mendekati Suzy hingga wanita itu terpaksa mencondongkan tubuhnya sedikit ke belakang untuk mengatur jarak dengan wajah Taecyeon yang semakin dekat dengan wajahnya.

“A-apa permintaanmu?” Tanya Suzy penasaran. Ia masih tidak dapat menegakkan tubuhnya, karena Taecyeon belum juga menjauh darinya.

“Jangan paksa aku untuk memanggilmu dengan sebutan seonsaengnim!”

Deg!

Suzy menelan ludah dengan susah payah ketika mendengar permintaan Taecyeon barusan. Bukan permintaan yang sulit memang, namun terasa begitu menghantam dadanya dengan sangat keras. Ia sudah sangat terbiasa mendengar Taecyeon memanggilnya tanpa sebutan ‘seonsaengnim’. Tapi, apabila secara terang-terangan Suzy menyanggupi permintaan pemuda itu, bukankah sama saja ia memperkecil jarak kedekatan antara mereka? Dan hal ini akan membahayakan karena Taecyeon akan semakin mudah menindasnya, tanpa memandangnya lagi sebagai seorang guru.

 

To be continued…

 

Note: Sebelumnya, mohon maaf karena udah buat readers nunggu lama kelanjutan FF ini, itu pun kalau masih ada yang berharap FF ini diselesaikan. Mengingat jeda yang sudah terlalu lama, yaitu hampir dua tahun, aku harap readers baru pun bisa menikmati jalan cerita FF ini. Aku sengaja menyempatkan diri melunasi FFku yang tanggung dan belum terselesaikan. Mudah-mudahan FF ini dapat kuselesaikan hingga akhir. Fighting!!

12 thoughts on “Please Call Me Seonsaengnim! (Part 5)

  1. wahh… ini kan udah lama banget gak di lanjut.
    Seneng baget ff ini akhirnya dilanjut, soalnya ini salah satu ff taeczy fav aku😀
    fighting thor!

  2. Finally !! MasyaAllah udah gak tau sejak jaman kapan ini ff aku baca. Daaaaannn jreng jrengggg .. tadi pas buka email ada ini ff part5, uuwaaaahhh pengen deh langsung baca, tapi thor td tak ulang bacanya dr part1 biar dpt feel nya hahaha.
    Keep writing thor, fighting ☺

  3. Finally !! MasyaAllah udah gak tau sejak jaman kapan ini ff aku baca. Daaaaannn jreng jrengggg .. tadi pas buka email ada ini ff part5, uuwaaaahhh pengen deh langsung baca, tapi thor td tak ulang bacanya dr part1 biar dpt feel nya hahaha.
    Keep writing thor, fighting ☺ wait fo the next hehe

  4. Wah nggak nyangka banget ffnya bakal dilanjut lagi#iya thor, lama banget.
    Tapi fanficnya bagus jadi seru bacanya.
    Wihh keren yah, soalnya panjang banget chapter ini, tacyeon memang keterlaluan banget. Aku juga kurang suka murid yg gak ngehargain guru, soalnya suzy udah perhatian banget kaya ortu sendiri.
    Bagus thor, lanjut yah

  5. What?? 2 Tahun??
    aku new reader.. udh baca berapa ff yah di blig ini??
    nah salah satunya yg ini..
    Aku baca dari tadi baru selesai sekarang..haha
    Lanjutnya cepet yaahh
    Soalnya seru..hehe..
    Jgn ampe setahun apalagi dua tahun..nunggu seminggu jg udh lamaaaa bgt ..
    Oke dh.. fighting thor…!!!!!

  6. taec bener2 ga mo manggil saengsonim kayaknya kekekeke
    taec kau bisa bikin eunji jatuh cinta padamu nnt kalo gitu🙂
    cemburu ma junho, salah siapa knp ga ngaku aja kalo U bintang taec? temen kecil suzy

  7. hay kakak ff nya bagus..baru nenu
    mohon dilanjutin yaa .aq tunggu
    critanya sweet bgt hehehehe
    2 tahun tu lama bgt ternyata

  8. thor lanjut dong thor. FF kmu smua.a bagus thor. apalagi yang Love Vs Money. yang ini lanjutin dong thor.. please….. keren keren.. bagus banget thorr…. aku suka……🙂 anjut yah.. Semangat thor !!! 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s