Because It’s You (Saranghae) Part 10 A

ul-300x192

Because It’s You (Saranghae) Part 10

 

Title: Because It’s You (Saranghae) Part 10 || Author: Keyindra || Cast:  Yesung Super Junior,Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior. || Support Cast: Donghae Super Junior, Woohyun Infinite || Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment || inspirate by novel, K-drama, music, MV, etc || Dont copy paste them without my permission. So please don’t be a silent readers. || Credit Poster by Hyeri Putri Artworker ||

 

*****

Memahami sebuah perasaan akan cinta memang terlalu sulit untuk ditafsirkan. Bagai menggapai suatu asa di langit tertinggi terkadang akan membuat insan tersebut jatuh sebelum mencapainya. Jangankan lelah, bahkan orang ,mustahil untuk mencapai langit angan tersebut. Ketika cinta menjadi sebuah anugerah yang semestinya datang menghampiri setiap dua insan yang berbeda jenis untuk saling mengikat dalam pertalian kasih. Memahami, mengerti, dan dapat memenuhi apa yang hati seseorang inginkan adalah sesuatu hal yang sulit. Sulitkah mencoba membuka hati untuk mencintai orang lain?. Sebuah alasan esensial dimana saat mengetahui keterpaksaan atas cinta yang ia rasa hanya ia saja yang mengalaminya. Atau hanya bisa memberi harapan palsu akan sebuah cinta yang tak ada hasrat untuk mencintai?.

            Mengukir sebuah kisah manis dihadapan Tuhan dengan disaksikan para jemaatnya mungkin adalah impian bagi para sepasang insan untuk merasakan sebuah kebahagiaan dari kisah yang terukir itu, saat pernikahan menjadi jembatan bagi dua insan untuk mengikat hati mereka dalam keabadian cinta. Binar penuh kekagumam nampak semua orang perlihatkan pada sosok yang kini tengah berjalan dari pintu geraja dengan menggunakan gaun putih panjang dengan keranda yang menutupinya. Im Yoona Wanita itu terlihat anggun dengan gaun pernikahan yang membalut tubuh nya yang indah. Sangat mengagumkan dan membuat semua pasang mata begitu antusias menatap wanita itu. Ia tampilkan senyuman itu, menyambut ratusan tamu yang datang menghadiri acara pernikahannya. Meski senyuman itu palsu, hanya untuk formalitas belaka diatas sebuah pernikahan atas dasar bisnis belaka. Dari depan pandangan berbeda dilayangkan dari seorang lelaki bermarga Choi yang kini sudah berada dihadapan pendeta untuk mengucap janji suci itu—yang telah digadang-gadang bersanding dengannya karena sebuah alasan klise belaka bagi sebagian orang penyokong salah satu saham terbesar korea. Apalagi kalau bukan pernikahan berlandaskan bisnis keluarga.

            Sang pedeta mulai berkhotbah dengan surat-surat dalam salah satu kitab Tuhan tersebut yang menggambarkan suasana dalam sebuah perhelatan janji suci itu. Kini sang pendeta mulai menatap kearah kedua mempelai—dari mempelai lelaki dan pertanyaan serupa itu juga pun kini sang pendeta lontarkan pada Im Yoona. Kalimat itu mudah untuk diucapkan sebenarnya. Tapi siapa saja yang berada pada masa dimana dirinya terjepit suatu masalah pastinya semua akan terasa sedikit lebih sulit. Ketika hati ingin berkata berbeda dengan apa yang seharusnya diucapkan maka sah lah mereka menjadi sepasang suami istri, meski tak ada cinta yang mendasarinya.

            Im Yoona, si pengantin wanita wanita mulai mengangkat wajahnya. Ia tatap wajah Siwon sejenak yang kini tengah menggenggam sebelah tangannya. Ia turunkan pandangannya untuk ia tujukan pada tautan tangan itu.

            “aku tak akan memaksamu untuk mencintaiku. Jika pun saat ini kau ingin membatalkannya. Aku siap.” Yoona berucap lirih membisikki Siwon. Entah mengapa sudut hatinya mengatakan jika ia tak ingin menyakiti lelaki itu dalam pernikahan semu ini. Jika bukan karena kedua belah keluarga yang meminta, tak mungkin Yoona akan melakukan ini semua.

            “pergilah jika kau tak menginginkan pernikahan ini. Kesempatan ini masih ada. Aku rela jika harus membatalkannya.”

            Siwon menoleh sebentar lalu menatap Yoona dengan tatapan sendunya. Sebuah keputusan telah dibuatnya. Meski wanita itu belum mencintainya, tapi setidaknya lelaki itu ingin menebus kesalahan masa lalu yang telah dibuatnya. Ya, lelaki itu ingin menjaga Im Yoona. Emtah atas dasar cinta atau tidak.

“tidak..aku tidak akan pernah merubah keputusan. Aku akan mencobanya, meski tak semudah membalikkan telapak tangan.”

            “aku akan menikahinya.. Aku akan membuka kembali ingatannya dengan mendiang kakak lelaki Kwon Yuri. Lee Donghae.”

            Mendengar kata-kata menikah Jongwoon edarkan pandangannya pada Siwon lalu terbelalak menatapnya tak percaya. “kau jangan asal mengambil keputusan yang tak masuk akal dengan menikahi Yoona Choi Siwon-sshi!. Apa tak ada cara lain selain menikahinya?.”

            “siapa bilang ini tak masuk akal?. Dengan menikahinya aku bisa mengembalikkan ingatan Yoona. Dulu Yoona mencintaiku. Kau tak tahu bagaimana posisiku begitu sulit saat ini ditengah peliknya masalah ini. Dan setelah ia ingat, aku akan pergi menjauhinya—membiarkan ia bahagia, jika ia memang tak mencintaiku. Karena aku sadar dan aku tahu Yoona tak mencintaiku saat ini.” Siwon tegaskan pembicaraannya, masih berbicara lembut namun tetap teguh pada pendapatnya sendiri.

            “tapi dulu dan sekarang berbeda!. Dia bukan Yoona yang mencintaimu. Dia masih terbelenggu dengan prospanogsia yang ia derita. Dia masih dalam keadaan hilang ingatan. Bahkan masa lalunya pun ia lupa.”

            “apa kau pernah berpikir ada sesuatu yang janggal dengan ingatan Im Yoona?.”

            “maksudmu?.” Jongwoon buka lagi suaranya, sementara Siwon kemudian berjalan menuju kaca jendela besar ruangan Jongwoon. Dapat ia lihat matahari kian berjalan kearah barat dan tampak berwarna merah dan aktivisas kerja yang begitu ramai dan bising, namun bertolak belakang dengannya. Semuanya terasa sama dan sepi.

            “kau tahu jika masih ada teka-teki dibalik hilang ingatannya Yoona yang berhubungan dengan kebencian Kwon Yuri. Apa kau tak pernah berpikir jika ada Sesuatu yang janggal saat Im Yoona pergi meninggalkan mendiang Donghae?.” Siwon memberi jeda pembicaraannya, lalu melanjutkannya kembali.

            “dia bercerai dan benci terhadap suami dan anaknya?. Apakah masuk akal jika seorang ibu membenci anak kandungnya sendiri?. Dan jika memang ia membenci Donghae sebagai suaminya tak apa, tapi tidak masuk di akal jika Im Yoona membenci putrinya sendiri, meskipun telah membuangnya?! Tanpa sebuah alas an yang klise.”

            “tapi bukan dengan cara seperti ini kau menyadarkan ingatan Yoona. Apa dengan menikahinya semua ingatan Yoona akan kembali?. Dan apa kau tak berpikir jangka panjang terhadap bagaimana perasaan Kwon Yuri jika Yoona mengingat semua masa lalunya?!.” Jongwoon memekik keras. Ia pandang Siwon tak mengerti akan ide gila yang baru saja muncul dari pemikiran Siwon itu. Mereka tengah berada didalam ruangan praktik Jongwoon. Siwon menundukkan kepalanya seraya tersenyum kecut.

            “Ya, aku tahu. Tapi aku tidak punya cara lain…hanya ini yang bisa aku lakukan untuk Lee Donghae. Aku yang telah memasukkannya dalam lubang keputusasaan cinta akibat rela mencintai gadis yang mencintaiku pula.”

            “tapi ini konyol, apa kau tak berpikir ulang lagi tentang kau yang akan melukai Yoona dengan menikahinya—lalu pergi meninggalkannya setelah ia sudah bisa mengingat semua kenangan masa lalunya. Tidakkah kau berpikir kesana, Choi Siwon-sshi?.”

            “awalnya aku berpikir kesana. Tapi Donghae memintaku untuk menjaga Yoona. Dan hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku pada Donghae.”

            “lalu, apa yang kau harapkan dari semua ini?. benarkah kau hanya bermaksud mencoba mengembalikan ingatan Yoona?. Lalu setelah itu kau mempunyai niat untuk meninggalkannya?. Pikirkan sekali lagi, jika ulahmu menyiksa semua orang termasuk dirimu sendiri?.”

            Jongwoon mencoba menahan amarahnya. Ini gila. benar-benar gila. kenapa Choi Siwon malah membuat masalah semakin runyam ketika ia ingin menikahi Im Yoona. Ia Khawatir jika Yuri kedepannya akan semakin benci dengan yeoja itu.

            “sadarlah, Choi Siwon-sshi…ini hanya akan membuat masalah semakin runyam saja. kau tahu Kwon Yuri belumlah sepenuhnya memaafkan Yoona. Dan apa jadinya, jika Yuri berpikir. Setelah sekian tahun meninggalkan putri yang pernah dilahirkannya lalu setelah itu menikah dengan sahabat dekat dari mendiang kakak lelakinya. ini sangatlah konyol. Hentikan semuanya sebelum kau akan benar-benar terluka.”

            “ ini tak seberapa. Jauh dari kata luka yang pernah Donghae rasakan karena Yoona!.”

            “Jangan bilang kau memang ingin melindungi wanita itu terlepas dari keinginan mendiang Donghae yang menitipkannya padamu?.” Tanyanya penasaran. Siwon menoleh sejenak. Ia kemudian mengalihkan pandangannya dari Jongwoon.

            “ya..sekarang aku melakukannya memang karena hatiku yang menginginkannya” jawabnya semakin tertunduk dalam. Mendengar itu, Jongwoon semakin murka pada sosok Choi Siwon itu. Ia merasa jika dirinya terlalu bodoh tak bisa mencegah semuanya ini terjadi. Niat mereka berdua hanyalah ingin menyadarkan ingatan Yoona tanpa membuat Yuri terluka, karena wanita itu. Choi Siwon benar-benar tolol karena mengorbankan dirinya pada sesuatu hal yang ia tahu itu adalah sebuah kesalahan.dan prediksi korbannya adalah Kwon Yuri.

            “Oohh…stupid! Your stupid boy. Are you dumb to understand situation?. Apa jadinya kau hanya mempermainkan pernikahanmu dengan Yoona?. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia akan sangat marah dan..dan…akkhh….kau memang gila. Micheoseo?.” Tampaknya yang memang sedang khawatir dan frustasi saat ini adalah Jongwoon bukan Siwon. Tapi Siwon coba tetap tenang. Ia pasang senyumnya walau itu terlihat sangat hambar.

            Terlepas dari kemelut pemikiran kedua lelaki itu yang masih carut-marut dan tak berarah. Walau pada akhirnya mereka tetap menyetujui hal itu. Dan sekarang, ia merasa diberi kekuatan saat ia mendapat seorang teman yang bisa ia percayai untuk menjaga rahasia ini untuk sementara waktu.

 

Bukan sebuah penyesalan sebenarnya kenapa baik Choi Siwon ataupun Im Yoona merasa mereka telah terucap salah dan diluar keinginan hatinya. Namun pria itu masih coba untuk bertanya, benarkah keputusan yang dia ambil? Tepatkan cara yang dia lakukan? Semua itu menuntut dengan secara bersamaan ketika akibat ulahnya sendiri, pria itu tetap harus melakukannya. Ia ingat sekali pedebatan yang ia lakukan dengan Jongwoon sebelum ia benar-benar menikahi Im Yoona. Siwon tatap Jongwoon dengan tatapan matanya seolah meminta persetujuan Jongwoon untuk menjalankan rencananya. Sorot pandangan matanya menyatakan jika ini adalah jalan satu-satunya.

“Sekarang kalian telah sah di mata Tuhan Yang Maha Esa” ujar pendeta itu pada Siwon dan juga Yoona.

“Mempelai pria dipersilahkan untuk mencium mempelai wanita.”

            Kalimat itu begitu berat terdengar bagi keduanya. Ritual dari setelah selesainya pernikahan adalah setiap mempelai pria mencium istri yang kini telah sah menjadi istrinya. Namun Masih mereka rasakan bagaimana mereka begitu sulit saat mengucapkan kata janji tadi. Dan sekarang mereka harus tetap melanjutkan ritual akhir dengan melakukan sebuah ciuman di muka umum.

            Hati Yoona merasakan sesuatu yang sangat sakit saat tangan Siwon membuka kain tipis yang sebelumnya menutupi wajah cantiknya. Tidak!. Yoona merasakan jika ia pernah mengalami keadaan seperti ini tapi ia masih ragu apakah itu. Perlahan tangan Siwon membuka kain tipis yang sebelumnya menutupi wajah cantiknya. Demi Tuhan mendadak ia merasakan rasa pening yang memucak pada ubun-ubunnya. Keringat dingin muncul begitu saja keluar. ia takut jika lelaki bermarga Choi itu akhirnya menciumnya. Namun inilah scenario dari Tuhan tak sesuai dengan ketakutan yang muncul dalam pikiran Yoona.

            Choi Siwon bergerak begitu ragu. Saat detik berubah menjadi menit, ia hanya bisa memandang wajah itu tanpa ia lakukan sesi ciuman yang harus dirinya lakukan. Perasaannya campur aduk antara rela atau tidak, akan semuanya yang sangat terlambat untuk ia sesali. Hingga saat waktu kian berlanjut dan dia melakukannya. Ketika pria itu tak melakukannya, dan hanya mengecup dahinya membuat ia dirundung rasa kecewa. Beginikah? . haruskan ia mengatakan sejujurnya jika ia mencintai Yoona?.  ia sendiri bahkan masih bingung dengan perasaannya. Tidak!. Itu tak akan pernah terjadi. Ada pun yang ada hanya sebuah kekecewaan saat dirinya mengabaikan perasaan cinta wanita itu.

            ‘Bisakah ia merubah takdir dan mengembalikan perasaan wanita itu seperti semula, saat dulu Yoona mencintainya?. Apakah hanya sebuah angan belaka ketika hatinya berbalik dan mencintai wanita itu?.’

            Entahlah…

            Biarkan semuanya berjalan sesuai dengan waktu saja….   

*****

            Niatannya memang sudah bulat, dikatakan mau menghindarpun rasanya ia sudah terlalu jauh masuk kedalamnya. Jika ditanya apakah ia bahagia?. Tentu ia bahagia dengan pernikahan yang baru saja ia laksanankan. Bahkan seharusnya mereka menikmati kebersamaan layaknya pengatin baru yang baru saja melaksanakan ritual pernikahan. Dia memang ingin sejenak menenangkan diri tanpa harus bertemu pandang wanita yang beberapa jam lalu berstatus sebagai istru sahnya. Choi Siwon bisa dikatakan berbahagia secara sepihak, karena bisa mencintai wanita yang menjadikannya cinta pertama ataukah masih ragu akan cintanya? . Tapi entah mengapa hatinya masih merasa berat jika seandainya kenyataan ini mengharuskan jika semua dia tahu maka perpisahan itu sudah didepan mata. Dan ia siap berpisah dengan Im Yoona kapanpun—ini resiko yang ia telah ambil.

            Dalam lingkup suasana remang disebuah Bar, dentingan music layaknya suasana dunia malam yang gemerlap, Choi Siwon memutar-mutar ujung gelas kecil berisi cairan berwarna emas yang mengandung alcohol berada didepannya dengan satu telunjuk jarinya. 2 jam sudah ia hanya terduduk diam dengan pandangan kosong dan carut marut pikiran yang sejatinya terlalu rumit untuk diterjemahkan. Satu tangan yang lain menopang kepalanya akibat efek alcohol yang ia konsumsi terlalu banyak dan membuatnya pusing.

            “Tambah lagi minumnya” seru pria itu pelan saat ia sadar minuman alkohol itu telah habis.

            “ya!. Shaekiya!.” Pekiknya.” Siwon menoleh mendapati Jongwoon kini ada du hadapannya. Lelaki itu hanya tertawa melihat kedatangan Jongwoon.

            “kau memang gila Choi Siwon!!. Sadarlah!. Jangan kau teruskan semuanya jika memang sangat menyiksa kalian!!. Kau meninggalkannya saat kalian baru beberapa jam lalu menikah?!.” Kini lelaki itu tiba dihadapannya, setelah beberapa menit yang lalu ia hubungi melalui sambungan seluler. Satu tangannya ia gunakan untuk menyentuh pundak Siwon, lalu membalikan kearahnya. Terlalu malas jika kini mereka bertengkar hanya karena wanita yang sama.

            Sesaat dirinya terkekeh tatkala ia ingat satu hal yang ikut mewarnai masalah yang tengah ia hadapi. Rasa tidak percaya, tidak mengerti, tidak paham, semuanya ia rasakan. Terutama pada satu hal itu. “ya, aku memang gila. Jika bukan karena untuk menebus kesalahanku dan amanat dari mendiang Donghae. Aku tak mungkin menikahinya.” Siwon memandang datar. Sejurus kemudian ia tesenyum kecil pada Jongwoon.

            “ini semua demi Lee Hana.”

            “Lee Hana?!. Apa itu alasanmu?!. Jawabanmu meragukan.”

            “Nada bicaramu seperti seseorang yang tengah merasa iba. Bagaimana aku bisa mencintai wanita itu jika yang dia cintai saja kini berada dihadapanku.”

            Jongwoon tersenyum sinis, terlalu malas meladeni perkataan orang yang sedikit mabuk. “cihh..dari segi omonganmu, kau terlihat takut Choi Siwon-sshi?!. Kau takut kehilangan Im Yoona, kan?. Karena kau mulai mencintainya?.” Rasa keterkejutan itu ada. Siwon pandang dalam sorot mata Jongwoon yang kini menunggu jawabannya.

            “kau menyedihkan sekali. Aku tidak rela jika rencana gilamu akan melukai Kwon Yuri dan Lee Hana. Camkan itu baik-baik.”

            Siwon melenguh panjang, Ah..satu pertanyaan berat kembali menelingsiknya. Perasaan Siwon terlalu sulit dideskripsikan. Ia bertanya-tanya atas dasar apa ia tak menolak sedikitpun pernikahannya. Apa haruis sejauh itu ia ikut terlibat urusan Im Yoona, Lee Hana dan Lee Donghae?. Betapa bodohnya lelaki itu jika secara mudah wanita itu mau menerimanya.

            Terus karena apa?

            Tegukan demi tegukan itu mengalir dengan lancar menuju tenggorokan, Siwon minum lagi alkoholnya ketika ia merasa begitu penasaran akan apa sebenarnya yang ia sendiri pikirkan. “Hae..” gumamnaya pelan masih dengan gelas yang masih bertengger manis ditangannya. “maaf telah membuatmu seperti ini. Jika aku bisa aku ingin kembali ke masa itu.” Ia mengecap rasa pahit ketika secara lirih menyebut nama itu kembali.

            Dia bawa kepalanya menunduk. Sekali lagi ia hela napasnya, karena sekeras apapun ia memanggil rekannya tersebut hanya akan berakhir pada kesia-siaan. Sementara ia merasa jika sosok lelaki yang sedari tadi menahan emosinya telah meninggalkannya sendirian.

            “Lee Donghae-Im Yoona.” Akhirnya nama itu ia ucapkan yang selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya.ia tersenyum miris menatap kepergian lelaki bermarga Kim tersebut, semakin menjauhinya.

*****

            Ia telah memilih dan pilihan itu ia jatuhkan ketika ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Keputusan itu entahlah apa itu benar atau tidak yang pasti ia ingin yang terbaik untuk sosok yang kini masih dalam keadaan lemah dengan senyuman yang tulus. Kwon Yuri—benarkah wanita itu tak menyesali keputusannya untuk memberitahukan semuanya?. Apakah dengan cara ini semuanya akan membaik?. Tak dipungkiri jika rasa sayangnya pada Hana sangatlah besar dibandingkan rasa bencinya pada wanita itu. Walaupun masalalu menyakitkan itu tak bias secara cepat dihapus namun ia benar-benar tulus menyayangi Hana.

            “apa masih sakit?.” Suara lembut itu mengalun dari mulut Yuri. Ia elus lembut pipi Hana penuh sayang. Dia tampilkan senyum manisnya melihat sang puteri yang kini telah sadar.

            “aniyo..” gadis kecil menggeleng pelan tersenyum. Yuri bantu Han yang ingin merubah posisi tidurnya menjadi terduduk. Ia ikut duduk di kursi samping ranjang.

            Kehidupan memang harus sebagaimana mestinya. Roda kehidupan adalah alur untuk menuju masa depan. Ekspetasi berlebih itu adalah gantungan bagi semua insan untuk dapat merasakan kebahagiaan yang diimpikan, meski tak sesuai keinginan. Harus diterima apapun yang kita dapatkan dari apa yang Tuhan berikan. Ketika seorang manusia mempunyai sebuah maksud maka saat tu pula manusia itu harus berpuas hati ketika maksudnya tak sejalan dengan apa yang terjadi. Dan kini, rasanya semua seperti kini tak ada gunanya. Tak bisa disamakan dengan pemikiran yang sesuai dengan nalar. Rapuh. Berkeping, hancur namun tetap menyisakan satu makna dalam sebuah rasa keterpurukan. Kesedihan. Dan kekacauan hati seorang anak manusia.

            Tangan itu masih saja terampil memeriksa beberapa lembar kertas—mengecek beberapa laporan keuangan yang dikirikan oleh sekeretaris dan karyawannya saat ia mendengar bunyi bel apartemen untuk kesekian kalinya. Keplanya terlalu penat untuk mengingat hal tersebut. Oh, ayolah ia muak dengan ibunya ataupun Kwon Yuri yang membicarakan masa lalu yang ia tak mngerti sama saja. Percuma saja ia berdebat dan meminta penjelasan pada ibunya, toh wanita itu bahkan seperti psikopat yang akan melakukan apapun untuk kepentingan dirinya dan tentunya Yoona sendiri. Termasuk menghapus ingatan wanita cantik itu.

            ‘Kwon Yuri..Lee Hana?. Kenapa mereka ada kaitannya denganku?.’

            Satu tekaki yang sejak beberapa hari mengganggu dirinya dan ia butuh kejelasan saat ini juga. Tapi tak mungkin ia meminta Kwon Yuri untuk menjelaskan semunya. Saat dirinya masih juga berperang hati dengan Kwon Yuri, meski mereka sudah dalam kata damai.Merasa penat dan jenuh dengan jenuh dengan semua masalah yang ada. Wanita berambut pendek sebahu itu meletakkan laptop ke meja dan mengecilkan volume TV yang sedang menayangkan acara yang tidak terlalu diperhatikannya. Ia lihat intercom siapa yang datang.

            “Kwon Yuri.”

            Entahlah apa sebuah keberuntungan bagi dirinya saat ia sedang memikirkan Kwon Yuri—dan wanita itu kini sudah berada tepat didepan apartemennya. Yoona mengernyitkan dahinya. Tapi perasaannya mengatakan bahwa Kwon Yuri datang bukan karena motif negative. Setelah menimbang sejenak, Yoona membuka pintu apartemennya.

            Kwon Yuri dari balik pintu terbuka melihat wanita itu membukakkan pintu rasanya anatara ia ingin menangis dan marah tercampur aduk saat ia melihat siapa sosok yang kini berada dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan sosok ibu kandung Hana. Yoona tersenyum tipis mengangguk, mempersilahkan Kwon Yuri masuk kedalam.

            Ia kini sudah duduk disofa besar dalam ruangan itu. Yuri melihat apartemen berukuran sedang yang sedang ia kunjungi itu. Tidak terlalu luas. Namun desain interior yang disuguhkan sangatlah berkelas. Bahkan kertas-kertas tergeletak sembarangan diatas meja.

            “Kwon Yuri-sshi…maaf hanya ini yang aku punya.” Yoona menyuguhkan secangkir teh hijau hangat .

            “tidak usah repot –repot aku hanya sebentar saja..sajangnim.” ucapa Yuri tak enak hati. Melihat teh hijau, ia ingat tulisan di buku harian Donghae mengenai Yoona. Mendiang lelaki itu pertama kali bertemu dengan sosok Im Yoona juga karena teh.

            “apa yang membuatmu kemari?.”

            Yuri yang tengah menyesap teh hijau hangatnya mendongak. Kemudian ia meletakkan cangkir itu hati-hati, “aku datang kemari hanya untuk meminta bantuan anda. dia sedang sakit. Aku mohon anda mau melakukannya demi Hana.” Yoona mpak mengernyitkan dahinya sesaat. Lantas pikiran Yoona terlempar ke waktu satu bulan yang lalu saat dirinya bertemu terakhir dengan Hana.

            “Hana?.” Tanya Yoona serak.

            “Hana membutuhkan anda sajangnim..”

            “mwo?.”

            “dia bukan putri kandungku. Aku hanya membesarkan dan mencoba menjadi ibu baginya. Tapi aku sepertinya gagal karena terlalu sakit saat aku mengingat semuanya.” Tersirat nada kekecewaan dari nada bicara Yuri. Yuri tersenyum samar, “tapi aku baru tahu jika Hana menderita kelainan katup jantung dan harus menerima transplantasi jantung 1 tahun lalu.”

            “kelainan katup jantung?.” Tanya Yoona tak percaya.

            Yuri mengangguk lemah, “menurut dokter jika dia tak sadar dalam waktu satu bulan, maka ia kemungkinan besar tak memiliki harapan hidup.”

            Percaya atau tidak itulah kenyataannya. Yoona tak dapat mempercayai ucapan Yuri. Bagaimana gadis itu akan kehilangan harapan hidup, secara terkhir kali ia bertemu dengan gadis cantik itu masih tersenyum ceria kepadanya. Iabahkan tak ingin mempercayai Kwon Yuri, tapi raut wajah Yuri terlihat sedang tidak bercanda.

            “aku ingin mempertemukan Hana dengan ibu kandungnya. Sebelum…,” Yuri gantungkan kalimatnya, tak kuasa jika ia harus mengatakan jika ia harus kehilangan satu-satunya orang yang ia miliki saat ini. Namun air mata itu terlalu kering untuk sekedar keluar. “sebelum ia pergi..” lirihnya.

            Yoona terpaku ditempat, terdiam membisu.

            Hana?. Gadis kecil yang sangat ia sayangi itu menderita kelainan katup jantung?.

            “lalu?. Apa maksudmu menemuiku?. Yuri melihat jelas raut wajah Yoona yang memandangnya penuh Tanya. Ia tak ingin semuanya harus berakhir dengan kehilangan Hana dan jika pun ia harus kehilangan Hana, setidaknya ia harus memberikan kebahagiaan untuk yang terakhir kalinya. Impian Hana hanya ingin bertemu dengan ibu kandungnya.

            “Lee Hana sangat merindukan dan impiannya adalah bertemu dengan anda Yoona-sshi. Karena baginya anda adalah sosok yang akan dirindukannya selama ini. Hampir 7 tahun harapannya hanya satu memeluk dan melihat senyumnya sudah cukup. Dan andalah sosok itu Yoona-sshi..karena anda..karena anda..” Yuri tak dapat tahan perasaannya lagi, ia terisak hebat namun terdengar sangatlah lirih. Ada jeda disana. Yuri coba tarik napasnya dengan berat—ia genggam pergelangan tangan Yoona seolah meminta suatu permohonan.

            “Kau adalah ibu kandung Lee Hana…” wanita itu menangis, duduk bersimpuh dihadapan Yoon dengan tangan yang masih menggenggam.

            “aku tahu anda sedang menderita hilang ingatan yang berkelanjutan, tapi kumohon anda berikan sedikit saja waktu anda untuk bertemu dengan Hana. Bukan sebagai temannya tapi sebagai ibunya. Jika kau teringat akan semuanya kau boleh tidak memaafkanmu. Tapi kumohon, kali ini saja kau mau bertemu dengannya. Demi Hana..Lee Hana.”

            “ak..ku ibb..bu kandung Hana?. Apa maksud dari semua ini Kwon Yuri?!.” Yoona memekik keras, tak mengerti dengan semua ucapan dari Kwon Yuri. Ia pandang Yuri tak mengerti dengan wanita itu perbuat.”

            “ya. Anda pernah menikah dengan mendiang kakak lelakiku Lee Donghae 7 tahun lalu. Mungkin terlalu shock anda saat mendengar semua ini. Tapi inilah kenyataannya. Anda kehilangan ingatan dan tak mengingat sedikitpun masa lalu anda yang pernah menikah dan memiliki seorang putri. Kumohon..aku akan melakukan apa saja asal anda mau menemui putrimu—Hana.”

            “Kwon Yuri..”

            “aku tahu mungkin ini membingungkan bagi anda yang belum pulih benar untuk mengingat semuanya. Tapi..aku berjanji akan menjelaskan semuanya jika kau mau. Datanglah padaku, maka kau akan tahu yang sebenarnya.”

            Kembali wanita itu meraih sesuatu yang berada didalam tas. Sebuah buku, tampak lusuh dan lama memang, tapi masih dalam keadaan rapi dan baik. Ia lantas meletakkan buku tebal yang diketahui sebagai buku harian itu di atas meja di depannya.

            “buku ini adalah buku harian mendiang Lee Donghae. Sejak kematiannya hampir 7 tahun lalu. Aku tidak pernah membukanya karena tak tahu kuncinya. Dulu kuncinya ada dua kau dan Mendiang Lee Donghae yang hanya mempunyainya. Tapi aku sudah tak menemukan yang satunya.”

            Yuri lantas beranjak dan membungkuk, “termakasih sajangnim. Aku akan sangat menghargai ketersediaanmu.” Tanpa menunggu respon dari Yoona yang masih saja memandang kosong tak mengerti sama sekali, Yuri keluar dari apartemen itu.

            Tergerak hati akan semua perkataan Yuri barusan tanpa sengaja wanita itu terisak dalam diam yang bahkan sama sekali ia mendadak merasakan itu?. 7 tahun lalu sebelum ia hilang ingatan ia pernah menikah dan melahirkan seorang putri. Harus Yoona telan rasa pahitnya seorang diri ketika ia ingat apa yang dia lakukan memang terlampau jauh. Semuanya terjadi tanpa menyisakan sesuatu yang berharga barang sedikitpun pada dirinya. Ia raih buku harian itu yang kemungkinan besar dapat mengetahui masa lalunya.

            “eonni Mianhae..”

 

            Yuri coba tak pejamkan matanya barang tak sedikit pun, hanya untuk sekedar tak ingin melewatkan perkembangan kondisi Hana. Meski keadaannya sudah membaik dan kesehatannya dan sudah dipindahkan dari ruang ICU. Suara alat medis yang masih digunakan pada tubuh gadis kecil itu menjadi pengisi keheningan yang terjadi seiring dengan mata indah itu mulai tertutup rapat menuju alam mimpinya.

            Kembali Yuri usap wajah pucat Hana. Ia ingat betapa dirinya memang merindukan wajah itu sudah lama. Yuri menghela napasnya karena dirinya belum bias berkata apa-apa. “dia sadar nak, kakakmu telah sadar. Setidaknya eomma sudah melakukan yang terbaik. Maaf jika terlalu mengabaikanmu. Eomma janji akan melakukan yang terbaik untuk kalian berdua.” Ia lirik perut ratanya seraya ia pandang lagi wajah Hana.

            “cepat sembuh, sayang..” lagi, Yuri kecup singkat dahi Hana begitu dalam. Setetes air matanya tak sengaja jauh membasahi wajah cantoik gadis kecil itu. Ia tak dapat menahan Haru karena keinginannya untuk dapat melihat dan menyentuh wajah tersebut terkabul. Hana selamat.

            Entahlah, bias disamakan atau tidak kondisi perasaan yang ia rasa dengan apa yang telah Yuri rsakan sama pula. Ia melihat pemandangan itu begitu memilukan tersaji. Wanita bermarga Im tersebut sejatinya masih tak tahu arah, apa yang harus dilakukan olehnya. Yoona pandangi wajah Hana serta Kwon Yuri yang masih setia menjaganya dari balik kaca transparan berukuran kecil pada pintu. Ia lega karena beberapa hari yang lalu Hana telah sadar dan kondisinya berangsur membaik. Namun keberanian itu tak cukup ia punya yang pada akhirnya membuat dia lebih memilih menyaksikan semuanya dari luar. Ia tak tahu—Yoona tak tahu entah benar atau tidak, amesia sialan yang ia derita tak kunjung pulih juga. Tapi perasaanya ada sesuatu yang ia rasakan saat ia berdekatan gadis kecil tersebut yang diketahui sebagai putrinya.

            Krekkk…

            Pintu itu terbuka secara otomatis menampilkan sosok Yuri yang baru saja keluar dari arah yang berlawanan. Pandangan mata mereka bertemu, dan saat itu juga bagi keduanya untuk mematung diam menyaksikan satu sama lain. Dalam hening yang mereka ciptakan sendiri untuk beberapa detik, Kwon Yuri mencoba membuang muka, menutupi rasa keterkagetannya. Sudut hati Yuri berubah saat oa pandang dengan lekat wajah Yoona. Ini memang harus ia dapatkan. Ia tak mampu untuk menolak atau memberi suatu perkataan sebuah pembelaan diri karena dirinya memang salah. Ia tak berhak untuk itu.

            “apa aku bisa..” suara lirih itu membuat Yuri tersenyum kecil memandangnya, walau tak ia lanjutkan, Yuri sudah bias menebak apa yang akan dilakukan oleh wanita itu.

            “masuklah, dia baru saja tertidur. Sedari tadi ia menanyakanmu.” Kembali Yuri torehkan senyum kecilnya yang terasa sarat akan paksaan. Wanita itu mengangguk pelan, tanda setuju.

            “Tunggu!.” Langkah Yuri seketika terhenti saat ia akan menjauh dari pintu tersebut. Wanita itu menoleh, saat sebuah pergelangan tangan menghentikannya.

            “aku tak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada diriku dan hubunganku dengan Lee Donghae. Tapi jika benar Lee Hana adalah putri yang pernah kulahirkan dulu…” keheningan tercipta di antara keduanya, namun tidak lama begitu Yoona kembali memberanikan diri mengeluarkan kalimatnya kembali. “terlalu besarkah luka yang kutinggalkan dulu, dan sebegitukah kau membenciku hingga keadaan menjadi seperti ini?.”

            Yuri terkejut sesaat. Luka itu masih membekas, saat ia tak bisa lepas dari bayang-bayang Im Yoona yang menakutkan. Ia takut jika ia akan menjadi pelampiasannya kembali. apa kata maaf masih berharga untukku?.” Nyaris terdengar lirih, tapi cukup menusuk telinga—membuat Yoona terkejut.

            “aku berbohong jika aku mengatakan saat ini baik-baik saja. Aku takut jika kau memperlakukan Hana sama sepertiku dulu. Menjadi pelampiasan kemarahanmu yang menakutkan. Tolong jangan sakiti Hana, sama seperti kau menyakitiku dan mendiang Lee Donghae.” Perkataan Yuri sedikit menusuk hati Yoona. Berulangkali, Yoona merasa bahwa dirinya sangatlah bodoh tak tahu tentang masa lalunya yang menyakiti orang lain.

            “aku tidak tahu. Tapi jika waktu bisa diputar kembali, apakah kau berniat untuk mengembalikakan semuanya?. Memperbaiki semuanya dan meninggalkan apa yang kau miliki sekarang?…apa jawabanmu?.”

            “aku akan melakukannya jika itu memang bisa merubah keadaan.”

          tapi sayangnya tidak bisa Yoona—sshi. Karena semuanya sudah terlambat. Dia sudah tenang dialam sana. Dan kau bahagia bersama dengan keserakahanmu yang tamak.”

            “Apa kata maaf tak cukup untuk..anii..setidaknya untuk sedikit mengurangi rasa bersalahkaku. Apakah semuanya sudah terlambat?.”

            “aku tidak tahu. Terlambat tidaknya kau yang menutup semuanya sendiri 7 tahun lalu.”

*****

            Jenuh dan muak. Dua kata yang sejeneis dan berbeda arti yang melambangkan pelampiasan perasaan dari alam bawah sadarnya. Terlalu pusing ia memikirkan semuanya saat kenyataan kini telah terbuka —meski belum sepenuhnya. Kwon Yuri merapatkan sweater yang melindungi tubuhnya dari hembusan angina malam kota Seoul. Wanita itu nikmati hembusan angina yang menerpa wajahnya hanya sekedar untuk ber-refressing dan merilekskan diri dengan satu pandang memandang awan hitam malam yang sedikit berhias bintang. Suasana jalan mulang lenggang saat memasukki waktu malam, hanya ada sepi ditemani lampu-lampu jalan yang berpendar dan semilir angin yang mulai membuatnya sedikit kedinginan. Bisakah ia membenci keadaan seperti ini dan bisakah ia memlih pula?. Apakah ia bisa protes pada keadaannya saat ini dan mengeluh pada hidupnya?. Tidak, semuanya tidak ada yang tahu jalan Tuhan tidak ada yang tahu seperti apa.

            Yuri hapus air matanya yang turun tanpa disengaja. Sejak ia tahu jika harapan hidup Hana sangatlah kecil. Tak bisa ia bayangkan bagaimana jika seandainya hal itu terjadi. Belum reda rasa sakit karena lelaki yang dicintainya, dicintai pula oleh Yoona. Entah apa yang bias dibayangkan jika ia harus kehilangan Hana pula.

            “iya..jeongmal gomawo ahjumma. Ceritannya sangat panjang, nanti aku ceritakan. Aku tak tahu bagaimana lagi harus berterima kasih. Tapi ini hukan waktu yang tepat” Yuri tutup sambungan teleponnya, lekas memasukkannya kedalam sakunya.

            “Kwon Yuri.” Wanita itu menoleh pada asal sumber suara dengan seruan yang begitu keras. Ia tolrhkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari tahu siapa yang memanggilnya barusan.

            Kim Jongwoon, lelaki itu yang memanggilnya.Yuri melebarkan matanya—memastikan jika lelaki yang dicintainya itu sedang mengikutinya dari belakang. Kepalanya menoleh menatap lelaki itu yang kini sudah berada didepannya. Sorot pandang Jongwoon memperhatikan seksama gurat wajah kelelahan dan pucat nampak diwajah Yuri.

            “Jongwoon oppa?.” Pria itu kembali memasang wajah dingin dan datar, namun sorot matanya tak bias menyembunyikan jika lelaki itu tengah khawatir. “ada apa?.”

            “Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?.” Tegur Jongwoon dengan nada bicara dan ekspresi serius sambil melangkah mendekati Yuri. Langkahnya ia sejajarkan dengan langkah Yuri.

            “kenapa pulang malam sendirian hum?.”

            Yuri tersenyum tipis kikuk, wanita itu terlalu polos tak tahu jika kekasihnya sedari tadi mengikutinya. “aku baru akan menunggu bus untuk pulang?. Kenapa oppa bias berada disini?.” Tanyanya balik seolah mengalihkan pembicaraan—tak memperdulikan raut wajah Jongwoon yang datar dan dingin mengintimidasinya.

            “jangan mengalihkan pembicaraan Kwon Yuri. Jam sebelas malam kau mau menunggu bus?. Kau jangan gila Kwon Yuri mana ada bus lewat pada jam selarut ini.”

            “tidak apa-apa. Aku harus pulang sebentar untuk mengistirahatkan diri sejenak. Kurasa aku sedikit tidak enak badan mungkin karena….”

            “aku tak membiarkan ibu dari anakku jatuh sakit kedinginan dihalte bus seperti ini. Kita ke apaertemenku. Tidak baik bagi wanita hamil berkeliaran malam-malam seperti ini.” Ucapnya sedikit geram dan sukses membuat wanita itumembelalakkan mata menatap Jongwoon.

            “aniyo..Masih ada bus terakhir yang akan beroperasi.” Kilahnya. Bukan anggukan mengerti yang ia lihat dari Jongwoon justru malahan tatapan lekat-lekat pria itu. Ia sadar betul jika Jongwoon menatapnya seperti ini memmbuatnya kikuk. Oh, demi Tuhan sungguh ia tak dapat apa-apa jika lelaki itu menatapnya intens.

            “pulanglah bersamaku. Ini sudah malam, kau mau aku mati berdiri jika bus malam itu tidak datang atau kau sendirian naik bus tersebut dan terjadi apa-apa?. Jangan Konyol Kwon Yuri!.”

            “oh, ayolah aku tidak apa-apa oppa aku….hatttcchiuu..” ia usap hidungnya yang tiba-tiba mengeluarkan cairan bening tersebut.

            Dan ucapan itu terputus kala secara tiba-tiba lelaki itu mengangkat tubuh Yuri dengan sekali gendongan—masuk kedalam dekapannya. Jantung wanita itu mendadak berdegub kencang saat ia lelaki bermarga Kim itu memperlakukannya seperti ini. Ia mencoba meronta pelan namun sepertinya pria itu cukup kuat untuk menggedongnya dan membawanya pergi. Sepertinya Yuri tidak boleh bermain-main dengan ucapan Jongwoon. Wanita itu secara mati-matian merota untuk dilepaskan, nyatanya dengan mudah pria itu mengalahkannya.

            “diamlah!, ternyata kau sangat berat. Kau mau pulang bersamaku atau aku akan menciummu disini hingga kau kehabisan napas!?.” Ancamnya. Oh, God tidak bias ditebak jalan pikiran pria itu. Niatannya ia hanya ingin pulang dan mengistirahatkan diri, tetapi pria itu entah sejak kapan mengikuti dirinya dan dengan seenaknya sendiri membawanya pulang kerumahnya. Ucapan datar dan bernada tenang itu sukses membuat Yuri membelakakan matanya, terlihat mengerikan memang namun sama sekali tak mengandung emosi yang justru membuat Yuri hanya bisa menundukkan kepala sebelum omongan Jongwoon terealisasikan untuk menciumnya. Ia kalungkan tangannya dileher Jongwoon agar tak jatuh meski berpura-pura kesal dengan membuang muka.

            Diam-diam pria itu tersenyum geli karena berhasil menggoda Yuri dengan cara memaksanya seperti ini. Ia sedikit membuat rasa sebal pada Yuri, tapi justru itulah yang ia inginkan. Ya—bukan apa-apa memang jika ia ingin membuat wanita itu sedikit melupakan kesedihannya dan menggantinya dengan kebahagiaan.

            Dan perdebatan kecil malam itu berakhir dengan Kwon Yuri berada didalam dekapan lelaki itu—Ia hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun hingga sampai di kawasan apartemen elite tersebut.

            **

            Dan disinilah kini mereka berada, di apartemen elite Jongwoon kawasan Gangnam. Tak heran jika ia memiliki apartemen kelas atas tersebut, mengingat keluarganya juga golongan terpandang. Siapa tak kenal direktur ketua dari rumah sakit tempat Hana bernaung demi kesembuhannya saat ini dan tentunya pemilik setidaknya 4 perusahaan penyokong ekonomi Seoul pada pertumbuhan nasional—siapa lagi kalau bukan nyonya Kim. Cukup aneh dan terasa canggung saat ia berada didalamnya.

            “Yul..kau telihat sangat lelah.”

            “ah,” Yuri terkejut. “apa sangat terlihat?.” tanyanya seakan tidak percaya jika rasa lelah memang terlihat dari wajahnya.

            “jangan terlalu lelah, kasihan dia. Dia juga butuh perhatianmu.” Jongwoon tersenyum lembut, ia lirik permukaan perut Yuri yang masih rata—bakal calon buah hatinya kelak akan tumbuh. “masih mual?.” Tanyanya sekali lagi.

            “akhir-akhir ini sudah berhenti rasa mualnya. Mungkin ia mengerti bagaimana kedaan yang yang sedang dialami ibu dan kakaknya.” Yuri tersenyum simpul mengelus perut datarnya seraya memandang wajah lelaki itu.

            Jongwoon acak pelan rambut Yuri, ia bawa tubuhnya berdiri dan melangkah pada Kitchet set yang ada didapur, sepertinya tidak salah jika sekedar mengisi perut sebelum tidur. Pria itu masih berkutat dengan berbagai bahn makanan yang ia keluarkan dari dalam kulkan tersebut—makanan ringan namun mengenyangkan. Sementara Yuri hanya bisa megikutinya dari belakang, ia lihat sekilas lelaki itu yang kini sedang berjongkok memilah-milah bahan makanan.

            “apa yang kau lakukan?.”

            “malam seperti ini entah mengapa perutku tak mau diajak berkompromi, sepertinya butuh asupan makanan.”

            “perlu kubantu oppa?.” Jongwoon menoleh.

            “kau mau?. Tentu saja dengan senang hati.” Jong Woon beranjak dari jongkok-nya dengan mengelus ujung kepala Yuri dengan gerakan cepat. “bagaimana jika malam ini kita buat spageety saja, ottohake?.”

            Kim Jongwoon, masih berkutat dengan beberapa bahan yang ia masukkan kedalam panci, sementata Yuri sibuk mencucci dan mengiris tomat yang dibutuhkannya untuk masakan tersebut dan menyiapkan semuanya untuk mereka berdua. Tak jarang Yuri sedikit mencuri-curi pandang saat ia lihat lelaki itu dengan serius—memperhatikan Jongwoon yang sedang membuat saus spaghetti dengan danging cincang dan bahaa lainnya. Tanpa Yuri sadari, dirinya lihat dengan seksama dan terdiam terpaku menatap sosok yang begitu sempurna dan mempesona bagaimana pria itu beraksi memasak dengan sedikit keahliannya. Bahkan tak jarang otaknya sedikit sulit diajak berkomunikasi saat dirinya terlalu sibuk berpikir, sampai kapan ia akan jatuh kedalam pesona lelaki itu dan akan menjadi tawanan hatinya dengan jutaan penuh pesona dari Kim Jongwoon yang berpotensi membuatnya semakin gila karena semakin mencintainya.

            Menyadari pandangan Yuri, Jongwoon tolehkan kepalanya menghentikan kegiatannya yang sedang mengaduk saus tersebut dan beralih memandang Yuri bingung. “Yuri-aa.” Panggil pria itu, dan tentunya senyuman maut yang membuat jantungnya berdebar-debar.

            Wanita itu terbangun dari alam lamunanya dan terperanjat kaget. “Ah…. Nde?”  Buru-buru ia mengalihkan pandangannya kesana dan kemari—dan tentu saja salah tingkah dihadapan lelaki itu. Sebisa mungkin berusaha menutupi kenyataan bahwa dirinya sudah tertangkap basah sedang terpana pada sosok Kim Jongwoon. Jongwoon yang melihat gelagat salah tingkah aneh Yuri hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh geli.

            “kenapa melamun, ada yang salah denganku?.” Ucapnya lagi. Mati kau Kwon Yuri dihadapan lelaki itu. Susah payah ia menyembunyinya rona merahnya, menutupi rasa malunya kembali dihadapan lelaki itu. Oh, ayolah Kwon Yuri, ini bukan pertama kalinya kau melihat lelaki itu, tapi kenapa jantungnya masih saja berdebar saat menatap wajahnya. Ok, calm down just relax. Yuri membatin mencoba menenangkan dirinya.

            “kau butuh apa lagi biar aku yang ambilkan.”

            “Bisakah kau membantuku mengambilkan piring?. Ada di laci atas.”

            Jongwoon mendekat saat Yuri segera ambil sebuah bangku kecil dan menaikkinya, lalu berjinjit berusaha melihat kedalam sebuah rak lemari tinggi didepannya. Hampir saja Yuri terjatuh jika Jongwoon tak sigap menangkap tubuh Yuri dari belakang.

                “astaga Yuri-ya..” seru Jongwoon. “Be Carefull babe.” ucapnya lagi seraya memapah tubuh Yuri yang terkejut lalu ia tersenyum. “gomawo oppa.” Balas Jongwoon sambil menurunkannya. Ia lantas menggantikan tugas Yuri mengambilkan beberapa piring. Tubuh Jongwoon yang proposional—tidak terlalu kekar namun berisi saat ia mendongakkan kembali wajahnya pada Jongwoon, sekilas bayangan yang pernah mereka lakukan berdua terulang kembali dan kembali muncul dan Kwon Yuri berusaha menepisnya seraya menghilangkannya dengan menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan.

            Yuri menjadi wanita paling tolol nan ideot dengan pesona lekaki itu yang membuatnya terlena saat bayangan-bayangan kebersamaannya dengan lelaki saat menghabiskan malam bersama hingga jatuh kedalam pesonanya dan akhirnya hubungan membuahkan hasil. Satu hal hal yangpasti Jongwoon was great. Ia tak tahu tapi entahlah sulit ntuk dideskripsikan saat mereka terlena oleh kenikmatan surgawi yang diciptakannya berdua.

            “Kau mau mencoba?.” Ucapnya sambil mengambil garpu.

            “penampilannya bagus, dan kelihatannya enak. Tapi aku tak yakin dengan rasanya.” Yuri terkikik geli seolah-olah meledek ia pusatkan pandangan matanya pada piring saji yang sudah beisi dengan spagetty beserta sausnya yang membuatnya meneguk air liur, ingin segera menikmati. Padahal baru 3 jam yang lalu ia makan, kenapa ingin makan lagi?.

            “tidak mungkin jika masakkankulayak makan aku bisa bertahan hidup hingga saat ini, bahkan aku mungin sudah mati karena masakanku yang tak layak makan. Untuk apa aku bisa hidup di Amerika jika aku tak bisa memasak.” lantas Yuri menggulung pasta tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.

            “otte?.”

            “eeuhhmm..mashiita. that’s good taste. Selera yang bagus. Kukira kau lebih baik beralih profesi sebagai koki dari pada dokter.” Responnya dengan mulut yang masih penuh.

            “Yul…”

            “hmm..”

            “lihatlah kau?!. Bahkan keponakanku saja bisa makan tanpa tercecer dimulutnya. Sedangkan calon istriku masih saja belepotan untuk makan. “ seakan mengerti lelaki itu lantas menghapus noda saus spagetty yang ada di ujung bibirnya.

            “ah..gomawo.” kikuknya kembali. “cobalah kau harus mencoba juga masakanmu.” Jongwoon melirik sebentar lalu mengambil garpu yang kini dipegang Yuri. Namun tanpa diduga wanita itu justru menolak memberikannya. “biar aku yang menyuapimu. Buka mulutmu oppa.” Keduanya terlihat menikmati makan malam dengan gembira dan gelak tawa yang menyelingi makan malam mereka. Ralat bukan makan malam tapi makan tengah malam.

            “sini biar aku yang cuci!.” Tangan Yuri dengan cekatn membereskan beberapa piring kotor dan semua yang mereka gunakan untuk makan. Sesekali mereka kembali bergelak tawa saat Jongwoon dan Yuri sama-sama ketahuan saling menatap karena curi-curi pandang. Tak heran jika sepasang anak muda tersebut sedang dimabuk asmara. Entahlah apa yang mereka obrolkan yang pasti Jongwoon bisa melihat raut wajah Yuri yang sudah lama tidak tertawa. Wajah ayunya lebih sering tertutup oleh banyak beban permasalahan yang ia pikul. Yuri membilas piring terakhirnya lalu mengibaskan tangannya agar bersih, sementara Jongwoon masih berdiri diam memandangi sosok Yuri dengan satu tangan berda manis didalam saku. “kemarin aku bertemu dengan kakekmu..” ucapnya yang sukses membuat Yuri menatap Jongwoon penasaran.

            “nde?.”

            “Awalnya aku terkaget dan tak menyangka jika kau adalah.”

            “cucu presdir Kwon..” Lanjutnya. Jongwoon pandang sorot mata Yuri yang baru saja menoleh kearahnya. Mungkin inilah saatnya ia memantapkan hatinya dan mengatakan semua apa yang telah ia bicarakan dengan lelaki tua tersebut.

            “kau mengetahuinya?.”

            “ya, tapi aku tidak akan membahas itu.”

            “lalu..”

            “presdir Kwon, sudah mengetahui semuanya. Jika kau sedang hamil dan mengandung anakku.” Ucapnya tenang. Sementara Yuri masih diam tanpa mengatakan atau mengekspresikan sesuatu akibat perbuatannya yang ia lakukan, sedikitnya Yuri merasa heran. Oh, ayolah bahkan yang tahu jika ia tengah hamil hanya Jongwoon saja—selaku ayah kandungya. Bagaimana kakeknya bisa mengetahui jika dirinya seperti ini?.

            “dia meminta kita untuk segera menikah tanpa menunda lagi. Ia hanya takut jika terjadi apa-apa denganmu.”

            “aku tahu jika terlalu mendadak dan lancang untuk memanggilmu dan bertemu dengaku. Tapi ini menyangkut cucuku.” Jongwoon pandang satu wajah itu dengan raut wajah tidak mengerti. Pria dihadapannya tersenyum kecil. Ia hembuskan napasnya berat.

            Cucu?. Ada apa lagi dengan Yoona?.

            “sejauh mana hubungan kalian dan apakah sudah sampai pada tahap seserius itu?.”

            “maksud anda?. hubungan?. Kami bahkan tidak pernah berhubungan sama sekali. Aku dan Im Yoona hanya berteman saja.”

            “bukan Im Yoona tapi Kwon Yuri. Dia cucuku. Wanita yang menjalin hubungan denganmu.”

            “Kwon Yuri?.” Tanyanya tak percaya.

            “Kwon Yuri adalah cucu kandungku yang aku telantarkan selama 20 tahun lebih. Dan kau harus bertanggung jawab atas sesuatu yang kau perbuat dengannya Kim Jongwoon!.” Pria itu meneruskan. Ia pandang tepat pada bola mata Jongwoon yang jelas memberi ekpresi keterkejutan.

            “ini foto hasil USG 4 Dimensi milik Yuri, yang tak sengaja aku temukan didalam tasnya. Yuri sudah menceritakan jika kau adalah ayah dari janin yang sedang Yuri kandung. Cucuku sangat mencintaimu. Apapun akan ku lakukan asalkan di bahagia, sudah terlalu lama ia menderita.” Ia serahkan beberapa lembar foto hitam putih tersebut yang bergambar abstrak, namun bagi Jongwoon itu adalah gambar kebahagiaannya. Ia tersenyum kecil memperhatikan seksama—itu adalah foto darah dagingnya yang sedang berkembang dalam Rahim wanita yang dicintainya.

            “Kim Jongwoon!. Aku mengenalmu dan dari latar belakang mana kau berasal. Nikahilah Kwon Yuri. Aku ingin ia hidup bahagia dengan orang yang dicintainya. Bahagiakanlah dia, setidaknya kau dapat menjadi sandaran hidupnya sekarang dan dimasa depan. Akan kuberikan apapun asal kau mau menikahinya.”

            “wanjangnim…aku mencintai Kwon Yuri sejak kami dipertemukan pertama kali. Kami memang melakukan sebuah kesalahan, tapi aku bukanlah tipikal pria yang tak bertanggung jawab. Tentu dengan sangat senang aku akan menikahi Kwon Yuri—tanpa anda meminta pun.” Lanjutnya dengan antusias.

            “terima kasih..tolong bahagiakan cucuku. Nikahilah secepatnya.”

 

            “jad..di ka..kau..”

            “kakekmu segera memintaku untuk menikahimu. Menikahlah denganku Kwon Yuri.” Kata-kata Jongwoon sukses membuat Yuri terpaku diam. Ini sudah beberapa kalinya pria itu mengatakan jika ingin menikah dengannya. Tapi masalah Hana belumlah usai, gadis kecil itu masih berada dalam keadaan yang kurang baik. Apakah ia bisa menikah dan bahagia, sementara beban Hana belumlah usai.

            “aku tahu kau masih belum bisa berbahagia diatas sakitnya Hana. Tapi sampai kapan Yuri-aa?. Sampai semua orang tahu kau sedang mengandung tanpa diketahui siapa ayahnya?.”

            Skakk matt, kau Kwon Yuri!. Kata-kata Jongwoon berhasil membuatnya diam membisu—bungkam tak percaya. Tatapan mata Jongwoon berubah serius, meskipun kelembutan dan ketulusan pria itu masih terpatri jelas di matanya. Pria itu meraih tangan Yuri dan menggenggamnya erat. “aku tahu ini begitu berat bagimu. Tapi kita menikah bukan untuk bersenang-senang. Tapi aku ingin kita hidup bersama, membesarkan Hana dan anak-anak kita kelak, berbagi suka duka. Aku ingin disisimu setiap waktu. Aku serius Kwon Yuri.”

            Tanpa terduga pria itu merogoh kembali saku celannya, bukan barang yang tampak besar memang tapi cukup membuat Yuri terperanjat heran dengan benda tersebut. Ia ambil benda bulat berwana kilau itu, lekas memasangkannya pada jari manis milik Yuri. “ini..kan..”

            “ya, itu cincin untuk melamarmu beberapa bulan yang lalu dan sempat kau kembalikan. Tapi bagiku cincin itu milikmu dan selamanaya akan menjadi milikmu meski kau mengembalikkannya ataupun membuangnya.” Jongwoon tersenyum manis dibibirnya, dikuti oleh kecupan sayang yang ia layangkan pada kening Yuri. Kemudian ia tautkan jari-jarinya yang ia tautkan dengan Yuri sembari menatap mata cantik milik Yuri sedalam yang ia bisa.

            “jangan pernah lakukan seperti itu lagi. Aku tidak mau menerima kata tidak untuk lamaranku kali ini!.”

            “Kim Jongwoon..” lirihnya.

            “bagaimana jika 2 minggu lagi, otte?.”

            “mwonde?.”

            “Pernikahan kita hmm.” Jongwoon lingkarkan tangannya pada pinggang Yuri, dahinya ia lekatkan pada dahi Yuri hingga otomatis mereka berdua saling menatap lekat , hidung keduanya bersentuhan. Keduanya saling memandang, Yuri tersenyum manis menatap dalam lelaki itu, lelaki sempurna yang sudah bersabar untuknya dan lelaki yang mau menerima ia apa adanya. “bukankan itu waktu yang singkat jika untuk mempersiapkannya?.” Tanyanya kembali.

            “lalu kau minta sampai kapan?. Usianya sudah menginjak 10 minggu, dan 2 minggu lagi ia akan memasukki bulan ketiga.”

            Ia tatap wajah Jongwoon untuk beberapa, tidak ada kebohongan atau kepalsuan sedalam yang ia lihat saat bola mata itu menatapnya dalam. “terima kasih, kau sudah mau bersabar karenk aku. Maaf jika selama ini aku sering menyakitimu dengan sifat keegoisanku.” Dia beranikan diri untuk memagut singkat bibir Jongwwoon saat mata mereka menatap saling menatap lekat satu sama lain. Lelaki itu hampir tak percaya jika Kwon Yuri menciumnya secara mendadak dan terlebih dahulu. Untuk beberapa saat Jongwoon menikmati sentuhan lembut bibir itu tanpa memjamkan matanya. Ia balas ciuman Yuri untuk beberapa menit, melumatnya lembut, membuka mulutnya secara perlahan dan membiarkan mereka untuk saling merasakan.

            Bibir mereka masih saja saling bertautan, meski mereka secara cepat menginterupsi ciumannya satu sama lain, lalu kembali menautkan bibir. Dengan sigap Jongwoon memutar posisi tubuhnya sehingga kini Yuri sudah bersandar pada tembok dapur. Ia condongkan tubuhnya, lekas mendorong pelan tubuh Yuri hingga terpojok. Jongwoon dekatkan kembali wajahnya pada Yuri, hingga hembusan naps mereka saling menerpa satu sama lain. Ketika jarak tersebut semakin dekat, Yuri pejamkan matanya menerima sapuan lembut Jongwoon untuk kesekian kalinya. Tidak terlalu lama saat hingga mereka bisa menikmatinya secara intim, ketika Yuri biarkan rongga mulutnya dijelajahi oleh Jongwoon—wanita itu membiarkannya saja. Ciuman keduanya pun mulai dalam bergairah, Yuri lingkarkan tangannya pada pria itu dan menyisipkan jari-jarinya diantara helaian rambut hitam Jongwoon. Seakan mengerti, ia biarkan Jongwoon terus memimpin ciumannya. Ketika ia bisa merasakan jika tangan pria itu memeluknya erat dan mulai sedikit mengelus punggungnya tanpa melepas ciumannya. Yuri tahu apa yang dikehendaki oleh lelaki itu. Dan untuk kesekian kalinya ia jatuh kedalam pesona pria itu, tanpa menolaknya sedikit pun. Sebuah malam panjang dan penuh cinta akan mereka lalui bersama lagi.

*****

            Sang waktu kini telah menampakkan pergeserannya, ketika malam gulita berubah menjadi pagi menjelang. Cahaya dari ufuk timur tengah memulai satu hari yang baru, . Penguasa waktu telah memenggani redupnya malam yang berbintang dengan kemilau cahaya di pagi hari. Meninggalkan cerita lama dan membuka kembali kesempatan bagi insan untuk memperbaiki lebih baik dari kemarin. Hah, kepalanya terasa sedikit pusing hanya untuk sedikit bergerak dari ranjangnya. Choi Siwon, menggeliat kecil dikasurnya. Letih yang ia rasakan membuatnya malas untuk membuka mata. Secara refleks dia meraba sampingnya. Oh. Ia lupa jika dirinya kini memang telah menikah, namun tidak pernah tidur bersama. Setidaknya skrenario drama pernikahan palsu yang sah dimata Negara tidak diketahui oleh orang lain. Dan mereka pun hanya sekali saja tidur bersama, tanpa melakukan apapun. Matanya pun langsung menoleh kearah jam wecker-nya. Senyum miris ia ukir pada wajahnya yang sedikit berantakan karena tertidur begitu saja akibat terlalu berlebihan mengkonsumsi alcohol.

            Siwon teguk air mineral yang kini berada dalam genggamannya. Beberapa Bar adalah tempatnya untuk melampiaskan semuanya emosinya, akibat peliknya masalah dalam hidupnya. Lalu matanya kembali ia fokuskan pada layar monitor laptop yang ada dihadapannya. Nampaknya pria itu tengah mencoba memfokuskan diri dengan pekerjaannya, melupakan semua masalahnya dengan Im Yoona, Kim Jongwoon, bahkan dengan Kwon Yuri. Siwon edarkan pandangannya ketika mendengar decitan keras sebuah pintu utama apartemennya terbuka. Ia tahu siapa dia. Siapa lagi kalau bukan sosok Im Yoona yang masuk kedalamnya. Ia tolehkan wajahnya saat wanita itu sudah berada didepannya, seorang wanita dengan rambut sebahu berjalan santai dan wajah yang lelah. Apa ia tak pulang semalaman?.

            Tanpa sadar wanita itu memperhatikan Siwon yang acuh seperti ini. Jika bayangan pernikahan adalah sebuah kebahagiaan antara sepasang muda-mudi yang tengah dimabuk asmara, tidak bagi mereka. Pernikahan mereka jauh dari kata cinta, yang ada hanya rasa hambar. Dan hari ini ia akhirnya melihat pria itu dirumah setelah beberapa hari Choi Siwon tak memberi kabar sama sekali. Dengan keberanian yang ia kumpulkan, wanita itu akhirnya berjalan mendekatinya, ia hampiri Siwon.

            “darimana saja kau?.” Siwon alihkan wajahnya sejenak ia pandang wajah Yoona sebelum wanita itu mengucapkan sepatah kata pun.

            “istrirahatlah. Kau pasti semalaman tak pulang karea bekerja keras.” Siwon jawab sendiri pertanyaaanyya, ia alihkan pandangannya kembali ke layar monitor laptop dan berkutat dengan pekerjaannya.

            Yoona mengatupkan mulutnya. Walau kata -kata  itu memang terasa biasa, namun ia meresap rasa tidak enak dengan kalimat tersebut. Ada rasa janggal ketika lelaki itu mengucapkannya.seolah ia menyadari, jika ada perubahan yang terjadi .

            “kau kenapa?. “ Siwon berhenti sejenak. Ia kembali memandang Yoona datar. “aku sedang sibulk malas untuk diganggu.” keacuhan itu kali ini mampu membuat Yoona tak mampu lagi mengeluarkan kalimat pembicaraan, hanya sekedar untuk berbasa-basi.

            “Maaf jika mengganggumu.” Dalam hitungan detik Yoona langkahkan kakinya menuju ruangannya sendiri, toh memang ini kan seharusnya. Pernikahan hanya diatas kertas. Dan suatu saat bisa diakhiri dengan mudahnya.

            **

            Suntuk, penat. Semua kini menjadi satu, Yoona mulai rebahkan tubuhnya diatas ranjang secara sembarangan. peduli sekali ia dengan sikap dan sifat Choi Siwon yang sudah berubah. Bukankan ini wajar dalam sebuah pernikahan karena keterpaksaan?. Kembali wanita itu alihakan pandangan matanya, ia menatap lekat langit-langit kamarnya yang berwarna putih, berhias lampu. Pikirannya melanglang buana tanpa sengaja pada saat dirinya bersama Lee Hana. Gadis kecil yang diceritakan Yuri sebagai putri yang pernah ia lahirkan—putri masa lalunya. Ia tak memungkiri Ada sesuatu hal yang dia anggap lebih penting dari sekedar menyayanginya. Entah benar atau tidaknya yang pasti sosok Lee Hana ang membuatnya harus tersenyum secara tiba-tiba dan merasakan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Saat ia dengan jelas dihadapannya binar bahagia itu muncul dari senyuman tulus gadis kecil nana cantik itu—Saat dirinya tak pernah sekalipun melihat senyuman indah yang terukir dari bibir kecilnya, meski sering sekali saat gadis kecil itu selalu tersenyum. Sekarang yang ada dalam benak dn pikirannya adalah antara percaya dan tak percaya. Entahlah semua terasa begitu cepat dan sekejap, meski yakin dan tak yakin.

            Pikirannya kembali pada perkataan Kwon Yuri beberapa hari yang lalu dan tentunya perkatannya tadi malam. Tak dipungkiri jika masih ada teka-teki yang harus ia pecahkan sendiri tentang masa lalu yang ia lupakan. Ia ingat jika ada sesuatu yang belum ia ketahui tenang semuanya dan mungkin benda itu bisa menjadi awal dirinya mengetahui semuanya—semua tentang masa lalunya.

            “disinikah aku bisa mengetahuinya..” Yoona raih sebuah benda berbentuk buku berwarna coklat dari dalam laci dengan lemah. Ia amati buku harian tersebut seksama, yang sampulnya tertutup dan tergembok oleh gembok kecil dan terkunci. Hanya sebuah kunci yang ia tidak ketahui keberadaannya da nasal usulnya yang dapat membukanya. Dan disaat itu pula ia teringat akan kata-kata Jongwoon tempo hari saat mereka berdua datang dihari dimana teman mereka dimakamkan, dia—Jung Nicole.

            “Yoong—ahh..”

            “ne..”

            “aku tidak tahu ini apa. Tapi ini benda terakhir yang Nicole titipkan padaku sebelum ia meninggal, ia takut jika waktunya sudah habis dan tidak bisa memberikan ini untukmu.”

            “mwo?. Apa itu?”

            “entahlah. Nicole menemukannya diruanganmu saat kau masih koma di New York. Itu wasiat terakhir dari Nicole saat untuk pertama kalinya ia bertemu orang itu tempat dimana kau dirawat.”

            Yoona alihkan pandangannya pada kotak beludru berwarna biru, kontak dimana hadiah terakhir yang Nicole berikan untuknya sebelum sahabatnya itu pergi menginggalkan dunia selamanya. Sebuah kunci. Yoona dapati isi kotak beludru tersebut adalah sebuah kunci kecil dengan tali kalung berwarna perak. Tak hanya itu ia dapati selembar surat—surat tulisan tangan Nicole.

Maaf hanya kata itu yang aku bisa ucapkan padamu Im Yoona. Aku rasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk memberikannya, tapi justru terlambat. Aku menemukan ini saat kau terbaring koma 5 tahun lalu. Entahlah aku tak tahu apa itu, yang pasti kunci kecil itu terjatuh dari seorang laki-laki yang setia menungguimu saat kau tertidur panjang. Dia mencintaimu Im Yoona.

 

            Kini tangan Yoona terdorong untuk mengambil kunci berkalung itu. Entah mengapa, hatinya justru terdorong untuk mencicokkan kunci tersebut dengan buku berwarna coklat tersebut. Ia ingat perkataan Yuri tempo hari yang lalu.

‘Lelaki yang mencintainya?’

                ‘Kakak Kwon Yuri?.’

                ‘mungkinkah…pria itu?…”

            “buku ini adalah buku harian mendiang Lee Donghae. Sejak kematiannya hampir 7 tahun lalu. Aku tidak pernah membukanya karena tak tahu kuncinya. Dulu kuncinya ada dua kau dan Mendiang Lee Donghae yang hanya mempunyainya. Tapi aku sudah tak menemukan yang satunya.”

            Perlahan tangan Yoona bergerak mengambil kunci dan mencoba mencocokannya dengan buku haria yang diberikan oleh Yuri. Mata Yoona mengerjap, dan ternyata cocok dengan gembok kecil yang mengunci buku harian tersebut. Ia beranikan dirinya untuk membaca kalimat-kalimat yang tertulis itu tanpa melewatkannya sedikitpun.

        10 Desember 2007

Entah bagaimana harus mengungkapkannya, yang jelas wanita itu telah setengah dari hatiku. Tak pantas memang mencintai yang hatinya belum milik kita. Terlebih dia  adalah rekan terdekatmu. Tapi mengetahui ia menerima ajakanku untuk kencan. Adalah sebuah awal yang baik. Im Yoona gadis itu.

***flashback***

“aku tahu ini sedikit lancang, tapi kau kan tak punya pasangan untuk pesta akhir tahun nanti. Jadi maukah kau menjadi pasanganku?.”

Yoona tak bergeming, ia terdiam yang membuat Donghae mengerti akan itu, gadis itu menolaknya. “ah, aku tahu. Kau pasti tidak mau ya, tidak apa. Aku bisa pergi dengan Sandara.”

Namun tanpa diduga Yoona justru mengehentikan langkahnya. “tunggu..siapa yang menjawab tidak, kau kan belum tahu jawabanku. Ya..aku mau pergi ke pesta itu bersamamu.”

Yoona balik lagi halaman selanjutnya secara acak..

 

 12 Februari 2008

Dia sadar dari tidur panjangnya. Dan yang ia butuhkan adalah lelaki itu. Lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Orang yang dicintainya menghindarinya, membawa hatinya yang masih setengah untuk lelaki itu. Ini memang menyakitkan, namun jika ia bahagia. Melepasnya adalah hal yang paling membahagiakan atas nama cinta.

***flashback***

“terima kasih ya sudah mau menungguiku yang cukup lama tersadar. Untung saja aku tidak amesia karena itu.” Yoona terkikik gelimerasa dirinya sudah membaik akibat peristiwa menyeramkan antara dirinya dengan Ahn Sohee..

“dia bagaimana?.”

Donghae terkejut sesaat. Mereka sama-sama terdiam, Donghae tak tahu harus memberitahunya bagaimana pada Yoona. Saat lelaki itu masih terdiam. Dan dari gurat wajah itulah Yoona mengatahui semuanya, bahwa ia telah pergi. Lelaki yang membawa separuh hatinya pergi begitu saja.

“dia sudah pergi ya?.” Donghae masih terdiam dan itu membuktikan jika jawaban itu memanglah benar.

“gwenchana. Aku sudah tidak sedih lagi, karena aku mempunyai kau disisiku.”

“kau tahu?.” Tanya Yoona pada Donghae. “saat kau mengungkapkan perasaanmu, kau orang pertama yang menyatakan cinta padaku, tapi justru aku menolakmu. Aku mencintai sahabatmu.”

“tapi sekarang setengah dari hatiku untukmu. Aku sadar jika aku belum bisa melupakannya. Dan setengah hatiku yang lain, ia bawa pergi jauh entah kemana tanpa ia mengetahui perasaanku sedikitpun.”

            Apakah ini ada hubungannya dengan dirinya, kenapa dalam catatannya lelaki itu justru menyembunyikan sakitnya akan cinta?. Apa dirinya dulu keterlaluan menyakitinya?. Yoona lanjutkan kembali lembar demi lembar yang ia baca kini.

 

29 Mei 2009

Inikah takdir yang harus aku jalani secara bersamaan?. Kebahagiaan dan perpisahan. Mungkin kata itu erat kaitannya dalam sekejap waktu. Dia hadir didunia ini. Malaikat kecil kami lahir, seorang perempuan berparas cantik seperti ibunya.

Lee Hana

Cukup singkat namun perpisahan itu akhirnya datang juga. Kami berpisah dalam cinta yang sekejap ini, pernikahan tidak ada artinya saat ia tak mau menerimanya. Sadar akan semua hal, tapi aku tahu bukan ini keinginanya. Tapi yakin akan hal itu, takdir tak akan sepenuhnya kelam, suatu saat sosok itu pasti akan bersama.

Im Yoona >>flashback lihat part8<<

 

18 Agustus 2009

Untuk kedua kalinya aku melihat ia terbaring koma tanpa respon apapun. Cinta itu masih ada meski perpisahan kami lakukan. Mungkin ini anugerah dari Tuhan, dan mungkin untuk terakhir kalinya aku bisa menatapnya dan merasakan wajah hangatnya. Perpisahan itu datang dan aku yakin tak dapat lagi brtemu dengannya. Ini terakhir kalinya, tapi hatiku akan selalu untuknya.

 

Lee Donghae.

Satu kata yang berhasil membuatnya terpaku diam membaca kalimat-kalimat itu. Apakah masa lalunya, ia menyakiti lealki itu hingga lelaki itu terluka karenanya. Ia bahkan mau mengalah hanya demi cinta pertamanya. Cinta pertama?. Siapa lelaki itu?. Dan Lee Donghae dengan senang hati mencintainya, walau tak sepenuhnya Yoona mencintainya.

Dan saat itu juga pertahannan Yoona sebagai wanita idealis nan arogan bobol seketika saat ia dapati nama Lee Hana dan dirinya berada didalam buku catatan itu. Apakah kenyataan membawanya sampai kesini hingga ia menyakiti banyak orang. Maaf untuk semuanya, hanya itu yang ia bisa lakukan dan ucapkan sebelum isakannya pecah. Mengisi semua masa lalu yang ia tak pernah ketahui sama sekali.

*****

                Gemericik air itu ia hentikan dari kran shower yang berada tepat didekatnya, saat tubuhnya sudah selesai membasuh semuanya, wanita itu Nampak baru saja selesai mandi. Ia balutkan handuk pada sebagian tubuhnya, lalu tergerak menatap pantulan dirinya didepan cermin. Sungguh kontras dan bertolak belakang dengan hatinya dengan tadi malam. Ia dapati noda merah keunguan pada bahunya dan disekitar dadanya, meski dileher tak begitu nampak. Kwon Yuri—wanita itu merasa ada yang aneh dari dalam dirinya, perasaan campur aduk itu mendominasinya. Ia torehkan senyuman malu menghadap cermin wastafel, membayangkan kejadian itu terulang lagi. Kejadian tadi malam yang membuatnya berada dialam kenikmatan, entah apa itu yang pasti memabukkan. Bahkan ia sendiri malu berhadapan dengan pria itu.

            Yuri ingat saat Jongwoon menyentuh dirinya untuk kesekian kalinya. Sentuhan pria itu mampu membuat kupu-kupu berterbangan dari dalam perutnya yang secara otomatis merubah semua system kinerja otak dan tubuhnya. Bagiman ia tak jatuh dalam pesona pria itu, jika pria itu membuatnya gila setiap harinya—Pria itu sangat begitu tampat saat ia bisa melihatnya dari dekat. Untuk kesekian kalinya Yuri mematut dirinya pada cermin, ia lihat kembali selurub tubuhnya—dan kini berpusat pada perutnya. Ia elus perutnya dari luar handuk yang ia kenakan. Ya, ia semalam menerima pinangan Jongwoon, dan untuk 2 minggu kedepan ia akan berstatus sah sebagi istrinya.

            “kau tahu, sebentar lagi kau akan bertemu appa. Maaf, jika selama ini sedikit mengacuhkanmu. Tapi keadaan yang membuat kita seperti ini.” Ia elus permukaan perutnya yang mulai nampak saat ia mengenakan pakaian ketat.

            “appamu sangat tampan—dan kau beruntung memilikinya. Setidaknya ia melakukan dengan baik tanpa mengganggumu.” Yuri kembali tersenyum sendiri mengingat akan semuanya. Dan virus cinta lelaki itu telah menyebar dan memabukkan—membuatnya ia pasrah akan perlakuan lelaki itu.

            Beberapa saat kemudian Yuri beranikan dirinya untuk keluar dari kamar tersebut, setelah mengenakan setelan rapi. Entahlah, mungkin ia masih malu saat berhadapan dengan lelaki itu. Ia langkahkan kakinya menuju keruang tengah seiring dengan suara-suara teriakan yang menarik perhatiannya.

            “ini pasti perbuatanmu Kim Ryewook..Kim Seohyun?!. Teriaknya. Ia mengenal betul suara sipa itu. Siapa lagi kalau bukan Kim Jongwoon yang berteriak.

            “eomma!!.” Teriaknya kembali.

            “Yak! Kim Jongwoon!. Kau benar-benar anak kurang ajar,kenapa tidak memberitahu ibumu ?!. seharusnya aku mendengar itu dari mulutmu bukan dari orang lain. Kau tahu betapa malunya aku saat aku diberitahu olehnya.”

            “kau memang anak kurang ajar, bagaimana bisa kau menyembunyikannya. Ya!. Shaekkeiya..” wanita paruh baya itu mabil bantal sofa yang berada didekatnya, lekas ia pukulkan pada putra sulungnya yang terlalu kelewatan. Mencoba menghindar justru wanita tua itu semakin mengejar Jongwoon tanpa ampun.

            “kalian berdua tunggu pembalasanku. Kalian berdua bersekongkol dengan eomma memberitahu password apartemenku!.”

            “bukan kau kim Jongwoon pabo.” Adik perempuan Kim Jongwoon menatap kesal sang kakak yang kini menjadi buronan sang ibu.

            “kkaau!!.” Tunjuk Jongwoon, kali ini pada adik lelakinya.

            “mian, Hyung. Kemarin setelah eomma mendengar berita itu dari presidir Kwon tentang kau dan Kwon Yuri. Eomma menjadi murka pada kami semua. Jadi dengan sangat terpaksa aku memberitahunya.”

            “setidaknya kau menikahinya dulu jika ingin memberiku cucu. Kenapa kau menghamilinya dulu. Dasar bodoh!. Apakah aku pernah melarangmu untuk berhubungan dengannya?!. Bukankah kau sendiri juga telah melamarnya?!.”

            “ampun eomma..iya aku tahu aku salah. Tapi buka dengan menyiksa anakmu sendiri kau meminta pertanggung jawaban!.” Kesalnya setelah ia berhasil lolos dari amukan maut seorang nenek sihir.

            “kenapa kau bisa melakukannya. Dasar namja..assshhh..selalu.” ia tak sanggup melanjutkan ucapannya. Terlalu jengkel dengan darah dagingnya sendiri.

            “eomma tahu kan, jika kami tidak sengaja melakukannya dan akhirnya dia ada karena kehendak nirwana.” Jongwoon tersenyum tanpa dosa membalas ucapan ibunya yang tergolong narkis seperti pegawai demo. Toh, ibunya juga meretui hubungan keduanya. Lalu apa salahnya jika ia melakukannya dulu terhadap Yuri.

            “kehendak nirwana?. Kau bilang?!!. Kau tahu Yuri…” Murkanya kembali. Ia mulai jengah dengan sikap Jongwoon. “kapan kau akan menikahinya ?. “ lanjutnya.

            “dua minggu lagi. Tepat saat usianya masuk bulan ketiga.

            “MWO?.”

            “Jeongsohamnida wanjangnim. “ ucapan itu akhirnya terpotong oleh sebuah suara dari arah berlawanan. Serempak mereka menoleh saat sosok tersebut kini berhadapan mereka.

            “Kwon Yuri//Yuri-aa.”

            “aniyo..ini semua bukan kesalahan Kim Jongwoon-sshi. aku juga bersalah dalam hal ini. Aku yang melarang putra anda memberitahukan semua ini. Karena aku belum siap untuk memberitahukannya pada anda dan kakek.” Ucapnya menyesal, ia tundukkan kepala dan badannya berjkali-kali guna meminta maaf.

            “maaf jika membuat anda marah dan merasa tak nyaman.”

            Dan sekarang wanita pauh baya itu menatap Yuri seksama, ia tak tahu apa yang harus diungkapnya lagi saat melihat Yuri berada didepannya. Nyonya Kim merestui hubungan keduanya sudah saat Jongwoon membawa untuk pertama kalinya kerumah. Ia bahkan berhutang nyawa dan budi pada gadis. Meskipun seandainya Yuri bukanlah orang yang dicintai Jongwoon, tapi wanita itu tentu pasti akan menerimanya. Demi Tuhan tak maksud hati ia ingin membuat sakit hati Kwon Yuri, tapi justru putranya lah yang membuatnya seperti ini. Kelakuan Jongwoon yang setiap harinya begini membuat wanita itu kadang ingin melemparnya sejauh-jauhnya.

            Nyonya Kim dekati Yuri, ia mati lekat wajah Yuri yang mengingatkannya pada seseorang. Jika bukan karena presidir Kwon, ia bahkan tak tahu jika wanita yang dihadapnnya kini adalah putri kandung dari sahabatnya dulu.

            “Kwon Yuri..” Yuri mendongak menatap wajah nyonya Kim.

            “benarkah yang presidir Kwon bilang?. Kau itukah?.”

            “nde?.”

            “kau cucu presdir Kwon?. Ja..jadi..kau adalah putri dari Sangwoo?.”

            “nyonya..”lirih Yuri terkejut menanggapinya.

            “kemarin aku baru mengetahuinya jika Sangwoo memiliki seorang putri dari pernikahannya dengan Haena 20 tahun lebih silam.”

            “bag..bagaimana anda tahu tentang ayah dan ibuku nyonya.”

            “jangan panggil aku nyonya, panggil aku eommanim. Ya, mendiang Kwon Sangwoo—ayah kandungmu. Dia temanku saat kami masih berjuang sama-sama. Aku berhutang banyak pada Sangwoo, saat ayah Jongwoon menerima tuduhan jika ia melakukan malpraktek. Dan Kwon Sangwoo—ayahmu adalah seorang pengacara yang setelah itu ia meninggalkan pekerjaannya demi kakekmu membebaskan tuduhan suamiku. Ceritanya panjang, lainkali aku akan menceritakannya. yang pasti terima kasih karena kau sudah mau menerima si kepala besar berotak udang itu untuk menjadi ayah dari janin yang kau kandung. Jaga dia hingga ia lahir.”

            Yuri mengangguk, sementara pekikan keras itu bersuara dari Jongwoon.“ya!. Eomma.”

            “minggu depan nikahidia Jongwoon!. Eomma tidak mau terjadi hal-hal yang tidak-tidak pada Yuri dan cucu keduaku. Mengerti!.”

            “mwo?. Kenapa mendadak seperti itu eomma?!.//eommanim.” Serentak mereka.

            “jika Jongwoon tak menikahimu, minggu depan. Apartemen ini akan aku naikkan biaya angsurannya sebesar 3 kali lipat ntuk penghuni baru bernama Kim Jongwoon!.” Tekannya.

            “kenapa Kim Jongwoon?!. Kau kaget, eomma tidak heran itu. Yang kau tahu hanya rumah sakit saja. Kau tahu, saham dari bisnin property apartemen ini setengahny adalah milikku. Milik ibumu..dan ingat ucapku, kalian mingu depan menikah,. Tidak ada penolakan!. “

            “mwo?!.”

            Dibalik itu semua Yuri tersenyum lega, karena semuanya terjadi lebih dari apa yang diinginkannya. Yang ia takutkan adalah jika ibu Jongwoon tidak menerima bayi yang kini dikandungnya. Yuri tundukan kepalanya dengan satu tangannya ia bawa untuk mengelus perut ratanya. “Ini semua karenamu, terima kasih.”

            **

@@next week@@

            Kesempatan membuka lembaran baru memang taka da habisnya, membuka hari yang baru dan lebih bahagia kini seakan didepanmatanya. Senyuman tipis terbitkan saat ia tak bisa mempercayai itu semua. Ketika semuanya tak dapat ia percaya, seminggu yang lalu ia masih berstatus sebagai single, namun sekarang seakan ia memperoleh kebahagiaan yang tak ternilai. Seminggu sudah ia melewati hari-harinya dengan pria yang dicintainya, dan tentu saja putri kecilnya yang kini sudah dalam keadaan kondisi membaik.

            Aroma wangi bunga itu menyeruak begitu saja dalam sebuah ruangan. Ruangan yang dihiasi dengan ornament berenda dan pita serta bunga disekelilingnya itu terlihat berantakan saat mata memandangnya pada meja rias besar yang kini didepannya sudah ada wanita cantik yang masih diliputi oleh rasa gugup akibat hari bahagianya ini. gaun putih tanpa lengan sudah melekat pada tubuhnya, rambut hitam panjangnya disulap membentuk chignon sederhana tapi tampak manis setelah disemati tiara perak yang terlihat berkilau tepat diatas kepalanya. Entahlah, hatinya semakin berdebar menjelang hari sakral yang akan ia janjikan dihadapan Tuhan bersama dengan lelaki yang dicintainya.

“apa semuanya sudah siap?. Pemberkatan pernikahan akan dimulai satu jam lagi.” Suara lelaki tua itu spontan mengalihkan perhatian Yuri pada sosok yang masuk kedalam ruangan tersebut. Lelaki yang dipanggil kakek oleh Yuri tersebut melangkahkan dirinya mendekati Yuri yang tersenyum manis padanya sembari menggandeng lengan tangan gadis kecil dengan wajah berseri-seri juga. gadis kecil itu—Hana sedikit mempercepat kakinya mendekati sang ibu.

“aigoo..cucuku cantik sekali. Sungguh kau terlihat sangat cantik. Jongwoon tak salah jika mmilih cucu kakek ini.” Kedua mata pria tua bermarga Kwon tersebut melebar, melambangkan kebahagiaan—terpesona dengan rupa satu-satunya yang terlihat agak berbeda dari hari-hari biasanya.

“eomma…Astaga..ini benar eomma Hana kan?. Eomma cantik sekali. Pantas saja jika Jongwoon appa sangat mencintai eomma.” Puji gadis kecil itu tak percaya sembari terkikik geli dengan omongannya.

Yuri lantas terkekeh mendengar ocehan kecil sang putri. “Harusnya eomma yang bertanya pada nona kecil yang cerdik dan cerewet ini. sejak kapan memanggil sebutan Jongwoon samchon menjadi Jongwoon appa, hmm?.” Ia cubit pelan hidung Hana yang lantas membuat gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya lucu.

“tadi malam..aku menelpon Jongwoon appa dan dia menyuruhku untuk memanggilnya appa..” ia elus wajah Hana dan menciumnya singkat.”

“kalau boleh jujur sebenarnya aku belum siap untuk ini.” lirih Yuri berucap pelan. “Tapi, mengapa aku harus merasa tidak siap jika calon suamiku adalah orang yang baik dan mampu bertanggung jawab?. Serta menerimaku apa adanya?.”

“kau bukannya belum siap. Hanya saja kegugupan itu masih mendominasi dirimu.” Lelaki tua itu hanya bisa menenagkan Yuri dalam dekapannya, menarik yeoja itu agar sedikit tenang.

“maafkan kakek. Selama ini kakek menelantarkan kalian semua. Kau, ibumu, dan tentunya Sangwoo. Dan meskipun kita baru dipertemukan, tapi kakek bangga padamu. Kakaek bangga padamu karena pada akhirnya kau telah dewasa―kau mampu melewati semua yang telah terjadi dalam hidupmu. Meski itu berat, tapi kau wanita tegar.”

Merasa ada seusuatu yang membasahi punggungnya. Yuri sedikit melonggarkan pelukannya, menatap seksama sang kakek yang terlihat baru saja menangis. “kakek..kenapa menangis?.”

“kakek hanya bahagia. Jika dulu kakek tidak melihat Sangwoo dan ibumu menikah, setidaknya kakek masih diberi kesempatan untuk mendampingimu di altar sana.”

“terima kasih..”

“kakek harap kau berbahagia dengan lelaki yang kau pilih.”

“pasti..aku kan bahagia demi semuanya.”

**

Gereja berkonsep eropa dan bernuansa klasik itu kini menjadi saksi bisu dua insan yang akan mengikatan cinta dan janji setianya dihadapan Tuhan. Menjadi sepasang insan yang bahagia sampai maut memisahkannya. Altar merah itu kini menjadi jalan untutu peresmian hubungan mereka, dentingan wedding march Kim Jongwoon dan Kwon Yuri. Mereka akan meresmikan hubungan nya hari ini. Berpegang pada lengan sang kakek,Kwon Yuri tak hentinya mengukir senyum bahagia menyambut ratusan tamu yang menghadiri acara tersebut. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagianya dia karena beberapa saat lagi dia akan resmi menjadi istri dari seoirag Kim Jongwoon.

Diujung sana, tepat dimana didepan pendeta akan memulai khotbahnya Kim Jongwoon tersenyum lembut menyambut kedatangan Yuri. Pria itu nampak bahagia dengan hari ini. Ada perasaan haru yang dirasakan saat lelaki tua itu menyerahkan Yuri pada Jongwoon lewat uluran tangannya. Waktunya sudah benar-benar tiba. Tepat setelah pengucapan janji pernikahan oleh keduanya, maka Kwon Yuri resmi milik Kim Jongwoon. Dan Yuri tak harus menanggung beban itu sendiri, setidaknya ia punya sandaran dalam hidupnya.

“tolong jaga cucuku, aku percayakan dia padamu.”

“tentu kakek.” Ucapnya menerima uluran tangan itu.

“Kim Jongwoon, bersediakan engkau menerima Kwon Yuri sebagai istrimu, menemaninya disaat suka maupun duka, kaya maupun miskin, dan sulit maupun senang sampai kematian memisahkan kalian?.” Ucapan pastur tersebut sukses memantapkan hati Jongwoon untuk menyunting Kwon Yuri. Ia mengangguk mantap dan menjawabnya lantang.”

“ya. Aku bersedia.” Seraya mengangkat tangannya tanda bersumpah.

“—dan kau Kwon Yuri , bersediakan engkau menerima Kim Jongwoon sebagai suamimu, menemaninya disaat suka maupun duka, kaya maupun miskin, dan sulit maupun senang sampai kematian memisahkan kalian?.” Tanya pastur itu, kali ini ia beralih menatap yuri.

Yuri menatap kedua mata Jongwoon dalam-dalam. Tidak adak kebohongan pada lelaki itu, ia meresapinya hingga darahnya berdesir sedikit kencang. Pria inilah yang beberapa detika lagi akan menjadi pendamping hidupnya, dan akan akan menjadi ayah bagi anak-anaknya kelak. Ia yakin keputusannya tepat melabuhkan hatinya pada sosok lelaki itu. Karena ia adalah sosok lelaki yang dikirimkan Tuhan untuknya

“ya, aku bersedia.” Jawab Yuri mantap.

Ketika ucapan pastur tersebut mengesahkan semuanya, keduanya tersenyum haru. Satu tangan mereka gunakan masing-masing untuk memasukkan cincin pada jari mereka. Dan mereka kini resmi menjadi sepasang suami istri di hadapan Tuhan maupun Negara. Saat mereka berdua saling menatap atas dasar cinta dan kain penutup wajah itu terbuka, sebuah sapuan lembut berhasil bendarat dari bibir Kwon Yuri. Lelaki itu menciumnya manis dan lembut nan panjang penanda jika mereka akan memulai sebuah gerbang bahtera baru. Bahtera rumah tangga yang hanya ada mereka berdua sebagi tokoh utamanya.

**

Namun berkategori berbeda, dulu hanyalah dulu dan sekarang tu terjadi sekarang. Tapi entah mengapa ketika menyaksikan pernikahan mereka berdua justru membuatnya berpikir bahwa ini adalah takdir wanita itu, ia tak berhak mencampuri urusan pernikahan yang dilakukan oleh Kim Jongwoon dan Kwon Yuri. Dada wanita itu sesak menggebu menyaksikan semuanya. Pertahannanya mulai runtuh saat ia lihat kebahagiaan lelaki yang dicintainya itu bersama Kwon Yuri. Sebulir air matanya jatuh begitu saja saat ia merasakan betapa sakitnya mencintai lelaki yang sama meski ia sudah mudur dari perebutan cinta tersebut.

Gadis itu, Im Yoona masih duduk dikursi paling belakang, tanpa ada yang mengetahui keberadaannya. Terlepas dari semua itu ia hanya bisa menatap nanar pasangan yang baru saja mengikrarkan janji sehidup semati. Tak ingin ada yang menyadari kehadirannya, Yoona memilih berlari keluar dari acara perhelatan tersebut. Mencoba menghilangkan rasa pengap yang menghinggapi rongga paru-parunya, setelah jenuh berada didalam gereja. Ia ingin membuang semuanya, membuang semua rasa bencinya. Tapi tak bisa, rasa sakit hati itu masih mendominasinya sementara yang untuk menghapus dan merelakannya sendiri masih dihadapi oleh bayang-bayang masa lalu yang tak kunjung hilang.

“aku tahu aku terlalu banyak kesalahan pada kalian, maafkan aku Kwon Yuri. Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” Tangisan itu tampak menyesakkan dada saat kesalahan yang ia sebabkan membuat banyak orang lain terluka. Ia terisak pelan, Yoona terisak menyesali semuanya.

Dan tampak dari kejauhan lelaki bermarga Choi it uterus memperhatikannya. Hatinya seakan ahancur melihat wanita itu menangis seperti ini. Ini sudah ketiga kalinya ia melihat Yoona terluka akan cinta.

            “maafkan aku Yoong..”

–TBC–

Maaf banget ya terpaksa aku putus sampai disana. dan maaf bangaet..banget baru bisa publish cerita ngawur ini 3 bulan setelahnya.

sebelumnya mau ngucapin dulu, minal aidin walfaidzin buat semuanya readers di RFF..

Mohon maaf lahir dan batin ya.😀

oh, ya mungkin pada lupa kan ceritanya darai part kemarin, iya aku meklumin kog, soalnya ku sendiri juga males ngelanjutinnya. tiap buka laptop pasti yang pertama adlah nonton drama ^_^ #curcol.

oh ya mungkin aku bakalan akhirin cerita ini 1-2 part lagi, dan maaf mungkin alurnya aku enggak runtutin kaya FF lain yang alurnya rapi banget. alurnya sengaja aku campur kaya yang ada di drama2 korea. (yang hobi nonton drama korea pasti tahu). iya tiap part aku kasih didkit-dikit flashback..Saya sadar jika tulisan saya jauh dari kata sempurna dan amburadulnya kebangetan. jadi mmaf2 kata ya..soory for typo..

sekian dulu ya, author rempong mohon maaf yang sebesar-besarnya. next part pasti aku perjelas lagi soalnya mendekati END. OH, YA JANGAN LUPA KOMENNYA YA, KRITIK DAN SARAN SAYA TERIMA, AGAR TIDAK MENJADI SIDERS.

60 KOMENTAR GAK MEMBERATKAN KALIAN KAN BUAT LANJUT KE NEXT PART..

THANKS READERNIM..

LUV YOU ALL

67 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) Part 10 A

  1. ooohh…….,my…

    akhirnya …mereka bersatu juga…….

    poor yoona…
    tp…be better for yoona…….

    hanna and siwon….sudah nungguin….buat hidup bahagia…..

    biarlah yuri sama si kepala besar itu menikah…………kikikikikik…….

  2. aku lupa2 inget sama ceritanya thor xD tpi akhrnya inget juga,hahaha. seneng deh akhrnya yoonwon,yulsung pada nikah juga😀 tapi.. tapi.. berbnding terblik dgn couple yulsung yg berbhagia,yoonwon seudah nikah malah saling acuh gt😥 aku tgu nextnya thor,tlisanmu daebak,beneran brasa nntn drakor deh😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s