[Ficlet] Face The Truth

h

Face The Truth

by Atikpiece (@atikranasa)

Main Cast : Kim Himchan [B.A.P], Kenni Jung (OC) | Support Cast : Jung Daehyun [B.A.P] | Genre : AU, Angst, Family, Supernatural, Tragedy | Rated : PG | Length : Ficlet (±2000w)

©2014

.

“Kim Himchan adalah teman baikku.”

 

*****

 

Rintik hujan sore itu baru saja reda. Seperti yang kudengar, desau angin berembus menerpa kaus longgarku hingga ke sela-selanya. Aroma rerumputan basah seolah terbang merayap ke hidungku. Damai, sejuk, menenangkan, memicu kedua sudut bibirku agar terangkat tinggi-tinggi. Kudongakkan kepalaku lalu menghirup udara di sekelilingku sekali lagi. Ada sebesit rasa senang yang kudapati ketika merasakan nuansa seperti ini, saat aku tengah berusaha menegakkan kedua lututku lantas memandang jauh, mencoba menerka apa yang bisa kujangkau dengan sisa-sisa tenagaku. Meskipun aku tahu akan tampak sangat mustahil, sebab aku tidak benar-benar bisa memperhatikan apa yang ada di sekitarku.

Cahaya dari retinaku kini telah meredup, dan kegelapan itu selalu menyertaiku kemana pun aku pergi. Selamanya, sampai Tuhan benar-benar menyuruhku untuk pulang.

“Aku benar-benar tidak mengerti akan jalan pikiranmu.”

“Apa?”

“Dari tadi aku bertanya kau mau membawaku ke mana. Semisterius itukah kau sampai aku tidak boleh mengetahuinya?”

“Sudah kukatakan berkali-kali, Nona. Kau tidak lihat?”

“Maksudmu mendengar? Aku kan tidak bisa melihat.”

“Sudahlah. Lebih baik kau diam dan ikuti saja aku.”

Percakapan antara aku dan dia pun berakhir. Agak kolot dan menyebalkan, ditambah aku sedikit tersinggung mendengar pertanyaannya yang berujung pada penglihatanku, seolah mengungkit-ungkit permasalahan yang menggerayangi pikiranku ketika aku sendiri ingin mengenyahkannya mati-matian.

Kecelakaan yang hampir saja merenggut kedua kakiku dua bulan lalu itu telah membuat jalan hidupku berubah. Tragedi sialan yang menjadikan sebagian diriku hancur. Aku tak lagi dapat melihat seperti dulu, dan aku tidak bisa menelusuri hiruk-pikuk Seoul di bawah langit biru yang menjuntai seperti dulu lagi. Awalnya aku sangat membenci keadaanku. Banyak orang yang kali pertamanya begitu baik terhadapku, kini meninggalkanku dengan sumpah serapah menjijikkan yang aku sendiri muak mendengarnya.

Aku nyaris putus asa. Walaupun aku sudah berusaha berdoa agar penglihatanku bisa kembali utuh, namun sepertinya aku sudah tidak punya harapan lagi. Kakakku—Jung Daehyun—berkali-kali mengatakan belum ada seorangpun yang mau mendonorkan matanya untukku, semenjak hari di mana kecelakaan itu terjadi.

Rasa-rasanya aku ingin menangis sejadinya. Aku bahkan sedikit kelewatan karena berulang kali menyalahkan takdirku. Itu sebabnya aku mengumpat lalu menyesali andai saja aku lebih berhati-hati. Tolol memang, tapi rasa yang berkecamuk di dadaku seolah ingin mengatakan bahwa tidak semestinya aku hidup seperti ini dan menjadi beban hidup sosok yang selama ini kusayangi. Kakakku, keluargaku,

Dan dia.

“Kau tahu,” Senyum tipisku tersungging. “Aku rasa kau telah membawaku ke suatu tempat di mana aku bisa merasakan dinginnya udara musim gugur. Rasanya sejuk sekali, dan aku juga bisa merasakan hangat tepat di wajahku. Apa yang ada di depanku? Matahari? Di mana ini? Di tengah-tengah sabana kah? Atau di puncak bukit?”

Tawa kecilnya mengudara, tanpa sedikitpun mengendurkan genggaman tangannya pada jemariku.

“Apapun yang kaukatakan, jawabannya hanya ada dua,” katanya. “Pertama, kau memang sedang menatap matahari, dan yang kedua, kau tidak sedang berada di tengah sabana maupun di puncak bukit. Kau berada di suatu tempat, di mana hanya ada kita berdua. Kau dan aku.”

“Aku benar-benar sulit mencerna otakmu, Him.”

“Apa aku perlu menciummu agar kau percaya padaku? Buktinya, kau tidak sedang menginjak rumput.”

“Oh, pantaslah. Aku baru ingat jika aku sedang bertelanjang kaki.”

“Dan aku pun begitu.”

.

.

.

Namanya Kim Himchan.

Aku mengenalnya tepat sebulan yang lalu, setelah aku menjalani terapi kedua kakiku di rumah sakit dekat komplek apartemenku—begitulah yang dibilang kakak. Jika dirasakan dari auranya, dia adalah sosok yang baik. Pribadinya menyenangkan, ekspresif, namun kadang juga tidak mudah dipahami—serentetan hal yang kusukai dari seorang Himchan.

Bagiku dia cukup unik, mengesankan, mungkin saja dia mempunyai perawakan tinggi dan jauh lebih dewasa dariku. Terasa sekali ketika dia merengkuh tubuhku saat aku menangis, atau mencoba melindungiku dari pohon besar yang hendak tumbang. Suaranya pun terdengar sangat lembut, meskipun kadang-kadang ucapannya begitu sarkastis, retoris serta menohokku.

Tetapi aku tidak peduli. Setidaknya dia bisa lebih menyenangkanku dengan kalimat-kalimatnya yang sok romantis hingga membuat ujung saraf otakku terasa lebih nyaman, atau lelucon konyolnya yang sanggup membuatku terbahak, jemari tangannya yang tidak pernah lepas dari tanganku, pun aroma tubuhnya yang jelas-jelas membuatku candu. Dia ada jika aku sedang membutuhkannya, dan aku tak tahu apa jadinya kalau dia lenyap begitu saja dariku. Memikirkannya saja hampir membuatku sinting.

Dan yang terpenting saat ini, dari kesemua yang kupunyai dalam hidupku, aku lebih bahagia bersamanya ketimbang lingkunganku sendiri.

“Kim Himchan.”

Awal yang cukup membuatku merasa lebih tenang ketika aku menyentuh angin yang berputar di sampingku. Kemudian aku meyakini bila Himchan menoleh ke arahku, meski tanpa menyahut.

“Apa… kau pernah mengalami hal yang sama sepertiku?”

Aku sama sekali tidak mendengar suaranya. Mungkin pertanyaanku barusan membuatnya bingung.

“Eng… maksudku seperti… kecelakaan. Ya, pokoknya sesuatu yang bisa membuatmu berdarah dan kau merasa nyaris mati.”

Tanganku cepat-cepat meremas kausku sampai kusut. Aku tidak mengira apa yang bakal terjadi setelah ini. Aku menunduk, Himchan pasti sudah menganggapku gila.

“Aku pernah merasakannya,” jawabnya. “Tapi itu tidak seperti aku bakal benar-benar mati. Semuanya terjadi begitu saja. Aneh, tapi nyata.” Hempasan udara dari bibirnya terdengar di gendang telingaku. Mungkin tidak seharusnya aku bertanya soal itu. Sepertinya ini bukan hal mudah bagi sosok seperti kami yang nyatanya sama saja, membiarkan satu kata itu tertulis dalam buku kehidupan kami. Kecelakaan, kemudian terpuruk begitu lama.

“Tidak usah menyalahkan diri. Aku senang kau bertanya begitu, tapi yang jelas, kau memang sudah gila, Ken.”

“Lihat, kau saja bisa menebak apa yang kupikirkan. Mengapa aku tidak?”

“Karena kita berbeda.”

“Kita bahkan sama-sama hidup.”

“Tapi aku bisa melihatmu.”

Kalimat balasan yang hendak kumuntahkan kutelan mentah-mentah. Lagi-lagi topik pembicaraan yang mengesalkan. Pria itu selalu menyeretku ke dalam zona di mana aku sendiri hampir tidak bisa mengendalikan kata-kataku yang jelas-jelas sepaham dengan ‘aku membencimu, Tuan Kim Himchan. Sangat sangat membencimu!’ Dan faktanya, aku bukanlah orang yang setega itu mengucapkannya pada orang yang sudah menemaniku selama empat puluh hari belakangan dengan tulus seperti dirinya.

Himchan sudah berhasil menempati sebagian besar ruang yang kututup rapat-rapat dari memoar orang lain. Tidak sepantasnya aku memberi jarak terlalu jauh darinya.

“Berhentilah berkata seperti itu, bodoh.”

“Maaf.”

“Dan parahnya, kau teman yang baik.”

Aku tersenyum. Tanganku meraba-raba sisi kananku sampai aku menemukan tangan kirinya. Baru kali ini aku merasakan tangannya sedingin es di kutub utara. Tapi aku tidak begitu mempermasalahkannya. Dia pernah bilang suhu tubuhnya kadang suka berubah. Awalnya terasa hangat, namun tiba-tiba berubah dingin. Salah satu hal menarik yang bisa kurasakan di detik yang kuinginkan.

“Kadang-kadang aku sering berpikir, apakah sosok sepertimu benar-benar ada di dunia ini.” Aku berhenti sejenak. “Kau sangat perhatian, membunuh waktumu hanya untuk selalu bersamaku. Kakakku bahkan tidak percaya jika selama ini aku punya teman dekat.”

“Benarkah? Senang bisa mendengarnya.”

“Tapi satu hal yang membuatku kesal.” Mimik mukaku bersungut-sungut. “Dia membenciku karena aku terus-menerus bercerita tentangmu.”

“Apakah itu berarti cemburu?” kelakarnya. “Mungkin dia merasa wajahnya kurang tampan jika dibandingkan denganku. Benar, kan?”

Aku lantas tertawa pelan. Leluconnya cukup bagus, aku merasa terhibur.

Tetapi kemudian, aku membawa diriku kembali menyelam dalam pikiranku sendiri. Membiarkan rasa penyesalan itu menyergap lagi hingga ke relung terdalamku.

Sebenarnya aku ingin membuktikan apa yang baru saja dikatakan Himchan, apakah dia benar-benar setampan itu. Walapun kutahu aku hanya bisa mengulangi kalimat yang sama sekali tak dapat mengubah hidupku. Bagi sosok yang telah divonis buta permanen sepertiku itu cuma buang-buang waktu. Sungguh membutakan pikiran, dan nyaris membuatku kembali beranggapan jika Tuhan benar-benar membenciku.

“Yah, andai saja, aku bisa melihat seorang Kim Himchan.”

Aku mengucapkannya tanpa sadar.

“Jika aku diberikan kesempatan kedua untuk melihat, mungkin aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin.” Aku tersenyum tipis. “Ini salahku karena aku tidak berhati-hati menyeberang jalan.”

“Tapi kau tenang saja, Kau masih bisa melihat hatiku.”

Aku merasa dia sedang memandangi wajahku lekat-lekat. Tapi aku harus berusaha untuk tidak menangis. Aku tidak ingin mempermalukan diriku di hadapan Himchan hanya karena ucapannya yang agaknya menyentuh, meskipun aku dan dia hanyalah sebatas teman.

Sampai-sampai aku lupa jika kaki kananku sudah melangkah satu kali ke arah depan, mengikuti dia yang sekarang tengah mencoba merekatkan ujung ibu jarinya pada punggung tanganku. Genggaman tangannya semakin erat melingkar di jemari kananku. Di tempat kuberpijak, kedua ujung kakiku terasa dingin, seperti baru saja menginjak lantai linolium. Namun di sisi lain, aku juga yakin tengah menceburkan kakiku ke dalam kubangan kecil. Sensasi basah merambat hingga tungkaiku. Aku agak menggigil, tapi aku baik-baik saja. Desau angin kembali berembus menghantam tubuhku, meski dingin, aku sangat senang merasakannya lagi.

“Himchan-ah.”

“Apa?”

“Anginnya sejuk sekali,” kataku. “Aku serasa ingin terbang.”

“Kau mau terbang?” Instingku berkata Himchan tengah tersenyum ke arahku. “Kalau begitu kemarilah.”

Pria itu menarik lenganku sampai ujung jempol kakiku menyentuh sesuatu yang lebih dingin dari sebelumnya. Agaknya terbuat dari besi dan sedikit bergerigi. Aku tidak mengerti apakah aku bisa berdiri di atas sini lebih lama karena hanya beberapa menit saja gigiku sudah hampir bergemeletuk. Embusan angin yang menerpaku semakin kencang saja. Meskipun kini sepertinya Himchan tengah berdiri menghadapku, tetapi itu tidak cukup untuk meminimalisir udara yang semakin membuatku menggigil.

Lalu, ada firasat aneh langsung menyerbu batinku. Sepertinya pria itu sama sekali tidak peduli. Jantungku sudah berdetak tak normal tetapi dia masih bersikukuh pada posisinya sembari merentangkan kedua tanganku.

“Kira-kira, apa yang kaurasakan?”

“Eng…” Aku bingung mencari kata yang tepat. “Aku… seperti melayang.”

“Aku juga merasa seperti itu,” katanya. “Di sini adalah tempat yang paling kusukai. Aku bisa melihat matahari terbenam, melihat burung berkoloni kembali ke rumah mereka, atau merasakan angin berembus selayaknya kini.”

Aku mencoba tersenyum selepas mungkin. Dengan keadaanku yang seperti ini, sebenarnya aku sedikit takut. Aku bak berdiri di atas langit, berlandaskan besi pesawat terbang dan membiarkan terpaan angin saling bersahutan seperti hendak menjatuhkanku. Kondisi benakku benar-benar tidak dalam keadaan baik sekarang, walau Himchan tengah berusaha membuatku nyaman hanya dengan berdiri seraya berpegangan tangan. Dari tiga puluh detik yang lalu sampai sekarang, rasa aneh itu menggejolak di kepalaku.

Ada yang hilang.

Aku sama sekali tidak menemukan secercah pun aura menenangkan dari pria itu lagi, yang seolah menjadi bayangan bak mentari hangat di pagi hari. Namun yang kutemukan cuma siluet semu yang aku sendiri tak tahu apa artinya.

Jemari tangannya semakin lama terasa dingin, sewaktu akan keringat bersuhu sama mengalir dari telapak tanganku.  Udara di sekitarku seakan sudah di bawah nol derajat, dan aku yakin hampir merasakan beku di sekujur tubuhku.

“Eng, Himchan.”

“Ada masalah?”

“Ya,” sahutku cepat. “Dan aku berpikir jika tempat ini sangat berbahaya untukku. Bukan untukku saja, tapi juga untukmu. Hidup kita.”

“Apa maksudmu? Tidak ada yang perlu kautakutkan di sini. Aku ada di sisimu, percayalah padaku.”

“Tapi aku hampir mati beku, Himchan!”

“Kau bilang kau serasa ingin terbang. Jika itu yang kauinginkan, aku akan melakukannya untukmu.”

“Ta—tapi aku…”

“Aku berjanji akan mengabulkannya.”

Dadaku naik turun menyeret oksigen tanpa henti. Sungguh, ini sangat menyesakkan. Dari cengkeraman tangannya yang begitu kuat, kemungkinan besar aku hampir frustasi mencari tahu kebenaran dari perasaan yang berusaha kuterka. Himchan benar-benar mengatakan yang sebenarnya, benar, kan? Dan aku hanya butuh menenangkan diri supaya aku bisa melakukan yang kuinginkan bersamanya. Tetapi dengan suhu yang agaknya membuat bibirku semakin mengering hingga aku menyangka bakal memucat, rasanya aku…

 

Mataku terpejam dalam hitungan detik.

 

Aku sudah tidak kuat.

.

.

.

 

“Kenni!”

Kelopakku langsung membelalak lebar seperti orang kesetanan. Ada seseorang memanggilku, namun telingaku berdengung bagai berada dalam sarang lebah.

“Jangan berdiri di situ, Kenni!”

Aku terkesiap. Aku benar-benar mendengar seseorang memanggilku. Suara yang kukenal, tapi aku ragu.

“Hi—Himchan, suara siapa itu?”

“Kau hanya mendengar suaraku. Tidak ada suara siapapun selain aku, Ken.”

“Tapi…”

“Kenni-ya!”

Dengungan itu lagi.

“Himchan, aku benar-benar mendengarnya!”

Dia tidak menjawab. Malah kini, dia mulai mengendurkan cengkeramannya dari tanganku. Aku menggeleng kuat-kuat. Aku hampir saja menangis. Tidak, ini tidak benar. Aku tidak ingin Himchan melepaskanku begitu saja.

“Himchaan!!”

“Aku berjanji akan membuatmu terbang, sayang.”

 

“Kenni, ini aku, Jung Daehyun!!”

 

Seketika itu pula, sesuatu yang rasanya kuabaikan tengah menghimpit telingaku menyeruak keluar. Aku dapat mendengar jelas teriakan kencang kakakku, bersamaan dengan suara besi bergesekan terlepas dari pengaitnya.

Dan di saat itulah, aku hanya bisa merasakan angin, gaya gravitasi menerjang tubuhku,

Beserta suara tawa lirih Kim Himchan.

 

 

 

 

“Selamat terjun dari lantai dua puluh lima, Kenni Jung…”

 

“Terima kasih sudah membunuhku.”

 

.

.

.

Two hours ago…

 

KRIING!

Yeoboseyo?

“Yongjae, ini aku, Daehyun. Bagaimana kasusnya?”

“Oh, Bung, wajahnya sudah tidak beraturan.” Ada nada malas terselip dalam kalimat Yongjae. “Tapi beruntung, ada salah satu temanku yang sangat pintar menganalisa. Dia berhasil mengautopsi mayat tersangka. Sekarang kami sudah mendapatkan datanya.”

“Jadi, siapa yang menabrak adikku dua bulan lalu?”

 

 

 

 

“Dia adalah seorang pengusaha kaya, berusia 26 tahun.”

 

“Namanya Kim Himchan.”

 

 

-fin

 A/N : HALOOO~ KETEMU LAGI SAMA AKU, DAN AW, SI HIMCHAN GENTAYANGAN HIII~ Dan aku ngga bisa ngomong apa-apa setelah sampe kata -fin- O,o” Ini aneh banget ngga sih, kayaknya alurnya itu lho yang bikin ilfiil T^T Terus, aku juga yakin banget fic ini gagal. Karena jujur, genre supernatural adalah genre pertamaku dan baru dicoba sekarang. Tapi aku berharap semoga ngga begitu mengecewakan. Kalo sekiranya ada yang perlu diperbaiki tolong kasih tahu yaaaa ;__;

Terima kasih banyak buat yang udah baca. Sebelum aku ngilang, ada yang tahu maksud kalimat terakhir Himchan? 😄

Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet] Face The Truth

  1. Kak Atiiik ini apaan coba aku spechleesss~ ;__;
    Jadi selama sebulan bang Him sama Kenni itu tujuannya cumen pengen bales dendam gitu?? Aakh tau ga sih aku udah ketipu sama pembawaan kakak. Kirain si Kenninya ini udh mati terus diajak jalan2 sama bang Him tapi ternyataa…. bang Himnya yang udah mati,,, T^T Aku kasian sama si Kenninya haaa….

    tp mnurutku ngga gagal kok kak, cumen agak kcepetan aja 😀 tapi jujur, buatku ni udh kereeen banget! Aku suka!

    keep writing kak :3

  2. Aah, aku ketipu, kirain si himchan manusia tpi ternyata udah jd arwah.
    Menurutku ini supernaturalnya ngena kok, mrinding sndiri bacanya smpe akhir,,,

    keren pokoknya 🙂 keep writing!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s