[Final: Chapter 15] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: AU, Romance || Length: Chapter 15/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2014 by Shinyoung.

Chapter 15 — Past, Now, and Future

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14

*

Sebelumnya: Setibanya Kim Joon-Myeon membuat bulu kuduk Naeun langsung merinding. Ditambah, mereka harus menghadapi Kim Joon-Myeon yang rupanya membawa Barvseu dan juga pasukannya.

Melihat pasukan mereka membawa Transrobo, Kim Joon-Myeon dengan bodohnya memulangkan para pasukannya—yakni Robolars—dan bertarung sendirian bersama Barvseu. Setelah mengalahkan Kim Joon-Myeon dan Barvseu, Son Naeun langsung pingsan. Ada apa dengannya?

*

“Astaga,” ujar Namjoo. Ia mengusap peluhnya yang terdapat pada keningnya. “Ini benar-benar buruk, mereka bertiga pingsan dalam waktu bersamaan dan kita harus menunggu mereka sampai bangun.”

“Apa kau tidak tahu mantra untuk membangunkan mereka?” tanya Myungsoo dengan wajah berharap-harap pada Namjoo. Namun, Namjoo hanya menggeleng pelan. “Aku pikir kau tahu.”

“Aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Ini adalah perubahan mereka dari setengah robot menjadi manusia. Itu adalah perubahan alami,” jelas Namjoo. “Yang pasti, aku tidak mau mengganggu. Bisa-bisa, aku salah mantra dan mereka gagal berubah menjadi manusia.”

“Yasudahlah,” kata Myungsoo menyerah. “Ayo, kita harus segera membawa mereka kembali ke—tunggu. Bagaimana kita bisa kembali jika hanya Bomi yang bisa meneriakkan Banishment the World-nya?”

Namjoo dan Sungjong sama-sama tertawa misterius.

“Ada apa dengan kalian?” tanya Myungsoo curiga. Tahu-tahu saja, ia sudah memasang kuda-kuda untuk berjaga-jaga. Namun, kedua Faylars itu langsung tergelak saat melihat Myungsoo yang memasang kuda-kuda. “Ada apa? Jelaskan! Kalian jangan hanya ketawa-ketiwi.”

“Tentu saja, kita bisa kembali,” ujar Namjoo santai.

“Kita punya mantra untuk kembali dan aku sudah menghafalnya. Kita bisa kembali sekarang. Maksudku, tentu saja setelah kita mengangkut seorang Robolars masing-masing.”

Dengan cepat, Myungsoo langsung menarik Naeun ke dalam pelukannya dan mengangkat gadis yang tertidur sementara itu. “Aku membawanya. Kalian bawa mereka.”

Sungjong berdecak kagum. “Kau berubah ya, Kim Myungsoo. Aku tidak menyangkanya.”

“Sudahlah.” Namjoo menengahi mereka. Lalu, ia menoleh ke arah Sungjong. “Ayo, bantu aku bawa mereka berdua. Kau bawa Jaehyun dan aku bawa Bomi. Setelah itu kau sebutkan mantranya.”

Ne, ne.”

Masing-masing Namjoo dan Sungjong merangkul dua Robolars itu. Kemudian, mereka bertiga—termasuk Myungsoo—saling mendekat. Lalu, Sungjong menyebutkan mantra agar mereka segera kembali ke dunia asal mereka.

Dalam waktu sekejap, mereka sudah berada di depan rumah Bomi. Dengan tergopoh-gopoh, ketiganya langsung melangkah masuk ke dalam rumah bersama orang-orang yang ada pada mereka.

“Agar lebih mudah, lebih baik, letakkan mereka di atas sofa,” saran Namjoo. Kedua pria itu mengangguk.

Tiga Robolars pun sudah berada di atas sofa dan Namjoo pun mendekati sofa dimana Naeun tertidur diatasnya. Ia menghela nafas panjang lalu merapalkan sebuah mantra pada gadis itu. Munculah sebuah layar transparan.

“Naeun bisa bangun besok. Sebaiknya kita tidak mengganggunya karena mereka bertiga akan bertransformasi menjadi manusia,” kata Namjoo. Ia menoleh pada Myungsoo. “Dan, itu semua karena bantuan kau, Naeun bisa bangun dalam waktu secepat itu.”

“Aku?”

“Iya, kau menyukainya kan?” Itu suara milik Sungjong yang bertanya. Alisnya dinaikkan sebelah sambil menatap Myungsoo.

**

Angin sepoi-sepoi yang masuk membuat udara di dalam ruangan menjadi lebih sejuk. Angin tersebut menerpa rambut Myungsoo dan membuat laki-laki itu jadi ikut terbangun.

Malam yang menyejukkan.

Sejak awal, Myungsoo memang memutuskan untuk menjaga Naeun sampai gadis itu terbangun. Jika memang Naeun akan bangun besok, itu akan membuatnya lebih senang.

Ingatannya kembali pada pertanyaan Sungjong beberapa jam yang lalu.

“Kau menyukainya kan?

Sejujurnya, jika Myungsoo ingin menjawab, ia masih tidak tahu dengan perasaannya. Selama ini, ia hanya merasa seperti manusia biasa yang mencintai seseorang. Tidak ada rasa spesial pada Naeun. Tapi, itu tidak mungkin, karena selama ia bersama Naeun, jantungnya selalu tak karuan.

Sesekali ia juga mendapati wajah Naeun yang merona merah akibat perlakuannya yang tiba-tiba. Ia sering tersenyum sendiri jika melihat Naeun yang tiba-tiba menjadi salah tingkah. Terkadang juga, ia membuat Naeun menjadi seseorang yang polos—tidak tahu apa-apa.

Ia merindukannya.

“Naeun,” panggil Myungsoo pelan. Perlahan, ia mendekatkan tangannya pada wajah Naeun dan menyentuh wajah gadis itu. Lalu, disentuhnya wajah tersebut dengan lembut.

“Setelah kau bangun nanti, apa kau mengingatku?”

Rasanya tidak adil jika Myungsoo harus bertanya hal itu. Dari tadi siang, wajahnya selalu ditekuk memikirkan pertanyaan itu sebab ia takut akan hal itu terjadi. Ia bahkan tidak tahu harus apa jika nantinya Naeun benar-benar melupakannya?

Hanya saja, ia merasa bahwa seseorang yang bangun dari tidur lelapnya akan melupakan sesuatu. Namun, ia berharap bahwa Naeun tidak akan melupakannya melainkan mengingatnya terus menerus. Karena, ia memposisikan dirinya sebagai orang yang selalu berada disamping Naeun setiap saat.

Perlahan, Myungsoo terlelap dalam tidurnya dan menjatuhkan wajahnya diatas pergelangan tangan Naeun yang kiri. Terakhir kali yang ia tahu adalah bahwa ia merasakan sentuhan lembut pada kepalanya dan setelah itu hari berganti menjadi pagi.

Matahari masuk ke dalam kamar Naeun dan membangunkannya dari tidur lelapnya. Myungsoo mengangkat wajahnya dan mengerjapkan matanya. Samar-samar ia melihat sesuatu yang tak asing.

Ketika penglihatannya sudah jernih, kedua matanya hampir keluar jika ia tidak menahannya. Bagaimana ia tidak terkejut, Naeun sudah bangun dan gadis itu langsung tersenyum kecil ke arah Myungsoo. Di dalam hatinya, Myungsoo berterimakasih karena Naeun masih mengingat dirinya dan tentu saja ada yang berubah dari gadis itu.

Auranya tampak bersinar dan wajahnya tampak lebih cantik.

“Kau sangat cantik,” ujar Myungsoo sangat pelan sampai-sampai Naeun tak bisa mendengarnya.

Naeun menaikkan alisnya. “Apa aku mendengar kau mengatakan sesuatu, Kim Myungsoo?”

“Aku kira kau sudah melupakanku,” ujarnya sambil tertawa pelan. Lalu, ia bangkit dari kursinya dan meregangkan otot-ototnya. “Sebaiknya kau mandi dan kita sarapan. Aku mau kembali ke kamarku untuk mandi.”

Sebelum Myungsoo benar-benar pergi, Naeun menyahutinya, “apa kau yang menjagaku sejak kemarin?”

Myungsoo menolehkan kepalanya lalu mengangguk pelan. Ia menggosok tengkuknya karena malu lalu meninggalkan Naeun. Pagi itu menjadi pagi yang paling menyenangkan seumur hidupnya karena ia bisa melihat senyuman terindah yang pernah ia lihat.

Sejak saat itu, ia memutuskan untuk menyebut Naeun sebagai yeoshin—dewi.

**

“Apa Jaehyun belum bangun?”

Pertanyaan Naeun tentu saja membuat Namjoo langsung membeku. Sebenarnya, laki-laki itu sudah bangun dan Namjoo sendiri bahkan bingung kenapa laki-laki itu bisa bangun secepat itu. Padahal, Bomi saja belum bangun dan masih terlelap dalam koma sementaranya.

Namjoo menghela nafas lalu menggeleng. “Dia sudah bangun. Jika kau ingin menemuinya, tentu saja dia ada di kamarnya. Tapi, kuharap kau tidak terlalu memaksakan kemauanmu.”

“Aku tidak akan memaksanya. Jika dia tidak ingin bercerita, aku tidak akan memintanya untuk menceritakannya,” ucap Naeun sambil tersenyum tipis.

Ia pun bangkit dari kursi makannya lalu membenarkan rambutnya yang berantakan. Lalu, ia melangkah menuju lantai dua dan bergerak ke arah pintu kamar Jaehyun yang ditempeli UFO. Sama sekali tidak mencerminkan dirinya, namun ia menyukai sifat Jaehyun yang kekanakkan itu.

Keraguan langsung menjalari pikirannya ketika ia ingin mengetuk pintu kamar tersebut. Namun, setelah berpikir lama, ia pun memutuskan untuk mengetuk pintu tersebut beberapa kali. Tak ada sahutan, ia kembali mengetuknya hingga suara Jaehyun yang menggerutu di dalam sana. Lalu, mengizinkannya untuk masuk.

Ia menarik handel pintu tersebut lalu mengintip ke dalamnya. Dilihatnya Jaehyun yang masih diatas tempat tidur dengan wajah terkantuk-kantuk. Gadis itu tersenyum ke arah Jaehyun lalu melangkah masuk.

“Apa aku boleh duduk?”

Naeun menunjuk kursi yang ada di depan meja komputer. Jaehyun mengangguk pelan lalu Naeun langsung duduk disana. Tanpa basa-basi, Naeun langsung membuka topik.

“Aku mau tahu soal rahasia itu. Tapi, kalau kau belum siap menceritakannya, aku tidak apa-apa.”

Jaehyun menggeleng lemah. “Aku bisa menjelaskannya,” katanya tegas. “Aku akan menceritakannya. Tapi, kuharap kau percaya dengan semua hal ini. Terutama, ini soal aku dan kau.”

Naeun terdiam lama, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. “Arasseo.”

 

Seoul, 2006

“Apa kau sinting? Kau akan membiarkannya begitu saja?”

“Aku tidak bisa membiarkannya. Tapi, jika begini terus tentu saja ia akan dihabisi oleh Kim Joon-Myeon,” kata pemuda itu sambil menahan air matanya. Lalu, ia menatap ke arah gadis kecil yang masih berumur sekitar 14 tahun tersebut dengan nanar. “Maafkan aku, Naeun-ah.”

“Oke, Ahn Jaehyun, kau memang manusia paling sinting di dunia ini! Aku tidak percaya kau benar-benar akan melakukan ini!”

Jaehyun menoleh ke arah sahabatnya itu. “Biarkan aku melakukannya. Ini untuk kepentinganku dan dirinya. Bantulah aku, Sohee-ya.”

Arasseo! Kalau saja aku bukan saudara sepupumu, aku tidak akan membantumu!”

Ahn Sohee namanya. Ia seumuran dengan Ahn Jaehyun yaitu 16 tahun. Saat di tahun 2006, ia hanyalah gadis biasa. Tanpa ia sadari, ia menginjakkan kakinya melalui portal yang tanpa disengaja belum ditutup oleh salah satu Ownlars.

Yakni, Kim Joon-Myeon.

Sohee melakukan perjalanan ke tahun 2050 dimana saat itu di tahun 2005, Jaehyun dan Naeun masih merupakan salah satu anggota keluarga bermarga Son. Jaehyun hanyalah anak angkat, namun kedua orang tua Naeun memutuskan untuk menganggap Jaehyun sebagai kakak Naeun.

Semenjak Sohee melakukan perjalanan ke tahun 2050, Sohee di tahun 2050 yang berumur 60 tahun langsung hilang. Tentu saja, itu melanggar peraturan. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk tinggal disana karena bagaimanapun, jika ia menghilangkan dirinya di masa depan lalu kembali ke masa lalu, ia tidak bisa hidup sampai tahun 2050.

Ia tengah berjalan mengelilingi Veloza Land, saat ia bertemu dengan Kim Joon-Myeon. Kim Joon-Myeon mengajaknya berbicara dan tanpa sengaja Kim Joon-Myeon mengetahui keahlian Sohee—membaca masa depan. Sohee langsung digeret menuju rumah Kim Joon-Myeon dan mereka membicarakan masa depan.

Sohee menyebut-nyebut bahwa nanti Kim Joon-Myeon akan mati di tangan seorang manusia yang tentu saja berasal dari masa lalu. Tanpa sengaja, ia menyebutkan namanya dan nama tersebut milik Ahn Jaehyun dan juga Son Naeun.

Kim Joon-Myeon mengeluarkan ultimatum bahwa siapapun yang menemukan Naeun atau Jaehyun akan ia beri hadiah besar-besaran. Bagaimana Sohee tidak takut, ia langsung kembali ke masa lalu—secara sementara—untuk menemui mereka.

Dan saat ini, Jaehyun meminta bantuan Sohee untuk mengubah dirinya dan Naeun menjadi Robolars. Sohee yang tentu saja sudah mengenal kehidupan tentang Robolars buatan Kim Joon-Myeon marah pada Jaehyun.

Setahu dirinya, manusia yang diubah menjadi Robolars tidak dapat kembali menjadi manusia.

Dengan Screvisible yang ia miliki, ia pun mengubah Jaehyun dan Naeun secara bersamaan. Tentu saja, Naeun tidak tahu apa-apa sebab ia hanya menuruti perkataan kakaknya. Walaupun ia sudah 14 tahun, ia hanya menurutinya.

Ketika berubah, ternyata ada kesalahan pada Naeun.

“Sial, dia hilang ingatan!”

Mata Jaehyun membesar dua kali lipat. “Hilang, katamu?”

Dengan wajah murung, Sohee mengangguk lalu menutup layar Screvisible-nya. “Maafkan aku, tapi aku pikir itulah yang terbaik. Sebaiknya aku memindahkanmu ke tahun 3000 dan Naeun ke tahun 2014.”

“Terserah kau yang penting kami hilang dari pikiran Kim Joon-Myeon. Aku tidak mau nyawa Naeun melayang begitu saja di tangan pria itu.”

Sama seperti Sohee, Naeun di tahun 2050 langsung menghilang dan digantikan Naeun yang berumur 14 tahun. Hukumnya, siapapun yang melakukan perjalanan ke masa depan tidak dapat mengikuti tahun selanjutnya karena mereka akan menetap disana selamanya dan umur mereka tetap bertambah.

Kehidupan Naeun berjalan lancar semenjak ia bekerja sebagai Robolars yang mengantarkan barang kepada Faylars. Begitupula dengan Jaehyun di tahun 3000. Mereka bertambah umur namun mereka masih disana tanpa ada yang mencurigai mereka.

Umur mereka menjadi 22 tahun dan 24 tahun.

Berbeda dengan Naeun, Jaehyun memutuskan untuk kembali ke tahun 2014 semenjak ia tahu bahwa ia masih bisa kembali ke masa lalu dan menjalani kehidupan seperti biasa.

Bahkan, ia bisa kembali berubah menjadi manusia.

Ia mencari Faylars yang dapat membantunya yaitu Choi Minho. Sayangnya, ia tidak bisa berubah menjadi manusia seutuhnya sebab ia awalnya adalah manusia. Hingga akhirnya ia berubah menjadi setengah Robolars yang dinamakan Robovent.

Jika ada Robovent yang lain, itu hanya karena ada ketidaksempurnaan transformasi yang dilakukan oleh Faylars.

Sama seperti Jaehyun, Naeun juga mengalaminya sebab ia awalnya adalah manusia. Namun, ia kembali ke tahun 2014 karena tidak disengaja. Berbeda dengan Jaehyun yang kembali ke tahun 2014 dengan bantuan Minho yang sengaja.

 

“Jadi, kau kakak angkatku?”

Jaehyun mengangguk pelan setelah menyelesaikan cerita panjangnya. “Sekarang, kita bisa hidup seperti biasanya. Seperti yang aku katakan, umur kita adalah umur yang tepat. Di tahun 2014 ini, kau memang berumur 22 tahun dan aku berumur 24 tahun.”

“Hukumnya kita akan mati di tahun 2050 kan jika kita sekarang hidup disini?”

“Itu hanyalah karangan Kim Joon-Myeon,” jawab Jaehyun sambil tersenyum tipis. Lalu, Naeun menghela nafas lega.

“Lalu, ada apa dengan Bomi?”

“Bomi—“ Jaehyun terdiam sejenak berusaha mengingat-ingat. “Ah, dia juga diramalkan oleh Sohee, namun Sohee belum sempat menyebutkan namanya. Sehingga, Sohee lah yang berusaha mati-matian untuk menemui Bomi. Bomi pasti akan senang nanti jika ia bisa kembali ke wujud aslinya.”

“Orang tua kita?”

“Mereka sudah meninggal,” kata Jaehyun pelan. Ia mengacak rambut gadis itu lalu tersenyum tipis. “Kau tidak usah khawatir, setelah Bomi terbangun, lalu kembali ke Seoul, kita bisa mengunjungi makam mereka.”

Naeun hanya mengangguk pelan dan kembali meresapi apa yang baru saja dikatakan oleh Jaehyun.

**

Sudah tiga hari dan Bomi baru terbangun tadi pagi. Namjoo sempat panik sebab Bomi tertidur terlalu lama, walaupun begitu saat tadi pagi Bomi terbangun, warna rambut gadis itu berubah menjadi blonde dengan ujung merah muda yang membuatnya cantik.

Keadaan semuanya berubah, bahkan Naeun dan Jaehyun yang sudah mengunjungi makam kedua orang tuanya. Namun, ada satu yang belum berubah sampai saat ini, perasaan Naeun pada Myungsoo.

Ia mengerti kenapa ia bisa terbangun sangat cepat. Itu karena ia menyukai Myungsoo dari awal pertemuan mereka.

Jantungnya terus berdegup kencang saat Myungsoo menyapanya di pagi hari, menepuk kepalanya, mengacak rambutnya, mengajaknya berbicara, bahkan mengajaknya bercanda. Semua orang yang melihat keadaan itu tentu saja merasa iri.

Son Naeun adalah gadis cantik, bahkan secantik dewi. Kim Myungsoo adalah pemuda tampan dengan mata tajamnya yang menarik perhatian orang. Mereka sangat sempurna jika bersama. Namun, tak ada satupun dari mereka yang berusaha menyatakan perasaan mereka. Myungsoo yang sudah sering kali dibujuk oleh Jaehyun masih juga belum berani, itu semua karena laki-laki itu trauma soal cinta lamanya.

“Tidak bisakah kau menggunakan sihirmu?”

Namjoo menggeleng pelan. “Aku tidak bisa menggunakan sihir untuk keadaan seperti ini. Jika bisa, maka sejak awal aku sudah menyihir Kim Myungsoo. Terutama, aku tidak mau ikut campur dalam cerita cinta mereka karena merekalah yang menentukan segalanya.”

Jaehyun menghela nafas panjang. “Namjoo benar, Sungjong. Kita tidak bisa memaksanya.”

“Aku punya ide,” celetuk Bomi.

Sontak ketiganya langsung menoleh ke arahnya dengan wajah serius. Melihat ketiganya menoleh ke arahnya membuat Bomi merasa sedikit terintimidasi oleh pandangan itu. Ia mendesah lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja bundar itu.

“Tentu saja, aku punya ide,” katanya sekali lagi. “Kita buat mereka berdua kencan tanpa sengaja.”

Jaehyun mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu? Membuat mereka kencan tidak sengaja? Oke, aku mengerti soal kencan-nya, tapi apa tidak sengaja itu?”

Bomi tersenyum penuh arti. “Tentu saja, kita yang merancang kencan tersebut. Lalu, mereka berdua bertemu.” Dua jarinya dibuat angka dua lalu dirapatkan dan mulai berjalan di atas meja bak Myungsoo dan Naeun. “Mereka berdua akan menjalankan kencan secara tidak sengaja. Lalu, bum! Mereka akan berpacaran.”

“Tidak semudah itu,” kata Namjoo. “Siapa yang akan merencanakan kencan mereka?”

Lagi-lagi, Bomi tersenyum penuh arti. “Aku yang akan ambil ponsel Naeun dan kau—“ Ia menunjuk Jaehyun dengan dua jari tangan kanannya. “—yang mengambil ponsel Myungsoo. Lalu, kita saling mengirim pesan yang berisi akan bertemu di… di mana ya?”

“Taman yang kemarin saja mereka menonton kembang api,” saran Sungjong.

Namjoo tertawa. “Kau memang hebat, Yoon Bomi!” pujinya. “Ayo, sekarang kita harus bergerak. Pertama-tama, kita harus menyuruh mereka pergi ke minimarket, lalu Bomi kau menyelinap ke dalam kamar Naeun dan mengambil ponselnya. Sedangkan itu, Jaehyun kau pinjam saja pada Myungsoo langsung agar mereka tidak curiga.”

“Pinjam?” Alis Jaehyun bertautan. “Aku mau pinjam untuk apa?”

“Kau ini bodoh,” ucap Bomi sambil mendorong kening Jaehyun dengan telunjuknya. Jaehyun meringis pelan, lalu mengusap keningnya, dan menatap tajam ke arah Bomi. Namun, Bomi tidak menghiraukannya dan terus melanjutkan. “Tentu saja untuk mengirim lagu atau kau bilang saja kau tidak punya paket internet untuk mengunduh lagu. Jadi kau meminjamnya dan kau harus meminjamnya tepat sebelum ia keluar pintu.”

“Baiklah,” kata Jaehyun malas. “Ini demi kepentingan Naeun. Jika bukan, aku tidak sudi melakukannya. Terutama, aku selalu ada paket internet!”

**

Myungsoo mengerutkan keningnya dan menatap Jaehyun tak percaya. Ia menimang-nimang ponselnya, lalu menatap lagi Jaehyun. Helaan nafas panjang berhembus keluar dari hidunya lalu ia mengangguk pelan tanpa mengatakan apapun.

Arasseo, ini ponselku,” katanya. Ia menunjuk Jaehyun dan berkata, “tapi ingat, jangan sekali-sekali kau mengutak-ngatik ponselku.”

Jaehyun tertawa pelan lalu mengangguk dan menerima ponsel tersebut. Sedangkan Myungsoo langsung masuk ke dalam mobilnya. Mobil sedan hitam itu meninggalkan halaman rumah Bomi. Dengan kepergian Myungsoo dan Naeun membuat keempat yang lainnya langsung bersorak-sorak bahagia seakan mereka memenangkan lotere.

“Ayo, sekarang kita mulai misinya,” kata Jaehyun.

“Apa Naeun tidak menyadari bahwa ponselnya menghilang?”

Bomi menggeleng lalu tertawa senang. “Naeun memang tidak peduli soal ponselnya. Dia sudah bilang padaku, kalau dia kehilangan ponselnya dia bisa beli baru. Lagipula, dia sudah menyimpan seluruh data ponselnya di Screvisible.”

“Hei, kalian kan sudah jadi manusia,” ucap Namjoo.

Jaehyun tersenyum misterius. “Walaupun kita memang manusia, tapi Screvisible-nya masih terus aktif dengan tubuh kita. Lihat ini.” Ia menggerakkan tangannya ke depan wajahnya dan dalam sekejap munculah layar Screvisible.

Sungjong pun ternganga. “Hebat, kalian memang hebat!”

“Yah, begitulah,” ujar Bomi bangga. “Ayo, sekarang kita mulai. Tapi, jika kita mengirimkannya secara bersamaan apa itu tidak aneh? Maksudku, tentu saja ponsel mereka akan mendeteksi waktu masuknya pesan tersebut. Lebih baik jika pesan Naeun pada Myungsoo kita lakukan saat mereka sudah pulang.”

“Oh, kau benar,” kata Namjoo. “Ah, aku tau. Sungjong bisa mengubah waktunya dengan sihir.”

Sungjong mengerutkan keningnya bingung saat Namjoo menatapnya senang. Ia mengangkat bahunya. “Aku tidak bisa melakukannya, bodoh.”

Namjoo mendengus. “Kau bisa, bodoh!” pekiknya marah. “Kau melakukannya waktu di tahun 2050. Ayolah, kau pasti bisa. Kau harus melakukannya! Kalau tidak, tidak akan ada cara lain.”

Arasseo, biar aku ingat-ingat dulu caranya. Jika aku tidak ingat, artinya kita harus berpasrah saja.”

“Kalau begitu, sekarang kirim saja pesan Myungsoo pada Naeun,” saran Jaehyun.

**

“Hei, ini ponselmu,” kata Jaehyun sebal. “Terimakasih.”

Myungsoo menerima ponselnya dan menatap layar ponselnya dengan hati-hati. Ia menelitinya mencari secuil kerusakan yang dibuat oleh Jaehyun, namun nihil. Setelah Jaehyun pergi, ia membuka kunci ponselnya dan membulatkan matanya saat melihat sebuah pesan dari Naeun.

Son Naeun: Temani aku besok jalan-jalan di taman hiburan. Aku mau mencari udara segar. Ingat, jam 8 pagi kita bertemu disana, jadi kita tidak berangkat bersama. Tidak usah dibalas. Intinya kau HARUS menemaniku.

Myungsoo mengerutkan keningnya, tanpa membaca waktu pengirimnya ia pun langsung mengunci ponselnya dan tersenyum senang. Lalu, ia bergerak masuk ke dalam kamarnya.

Sedangkan itu, Naeun sendiri yang baru saja menemukan ponselnya di balik selimut tebalnya dan langsung membuka ponselnya. Alisnya bertautan saat membaca sebuah pesan masuk dari Myungsoo.

L: Naeun, temani aku besok jalan-jalan di taman hiburan. Jam 8 pagi, kita bertemu disana. Tidak usah dibalas.

Naeun hanya menghela nafas panjang lalu menghapus pesan tersebut. Ia melangkah keluar dari kamarnya dan mencari-cari Bomi. Saat menemukan Bomi yang sedang asik tidur diatas sofa dengan liur mengalir langsung membuatnya terbahak.

Ia menggoyang-goyangkan tubuh Bomi dan membuat gadis itu terbangun. Posisi yang sangat tidak manis itu membuat Bomi memiliki pandangan buruk di mata Naeun. Naeun sempat menepuk kepalanya karena ia lupa mengambil momen tersebut.

“Hei, Bomi-ya!”

Bomi mengusap air liur keringnya yang menempel di bawah bibirnya. Ia bergumam pelan dan mendumel sebal karena Naeun membangunkan tidur nyenyaknya. Ia membuka matanya malas dan menarik rambut Naeun pelan. Naeun spontan langsung memekik.

“Ada apa?” tanya Bomi malas. Gadis itu terduduk diatas sofa dan menunggu Naeun menjawab pertanyaannya.

“Ayolah, kau kan paling hebat soal berpakaian. Aku harus memakai baju apa besok?” tanyanya. Bomi mengerutkan keningnya—pura-pura. “Oh, aku lupa menjelaskan padamu. Myungsoo mengajakku pergi ke taman hiburan. Aku harus mengenakan pakaian apa?”

Mata Bomi langsung melebar dua kali lipat. “Apa kau serius?” Ia pun tertawa puas. “Orang sinting itu akhirnya mengajakmu jalan! Tentu saja, ayo kita ke kamarku dan kita cari baju baru dengan teknologi!”

“Bomi,” ucap Naeun pelan. “Aku bukan ingin pergi ke pesta. Aku hanya ingin menemani laki-laki itu ke taman hiburan.”

“Baiklah, ayo ke kamarku,” kata Bomi senang. “Jam berapa kalian bertemu?”

“Jam 8 disana. Artinya, kita tidak berangkat bersama, bukan?”

Bomi mengangguk lalu turun dari sofanya dan menarik gadis itu untuk mengikutinya. “Dengar, kau harus baik-baik dengannya disana. Kalau kau tidak baik-baik, dia akan membuatmu menjerit histeris disana! Kau tau kan permainan di taman hiburan itu?”

Naeun terdiam sejenak lalu mengangguk. “Memangnya seseram itu?”

“Ya! Kau harus mencoba membuat suasana hangat,” kata Bomi sambil menaiki tangga. “Setidaknya, memang itulah yang seharusnya terjadi. Lalu, kalau Myungsoo mau membayarimu, biarkan saja dia membayarimu! Itu namanya laki-laki.”

Ne, ne,” tukas Naeun malas. “Ngomong-ngomong, untuk apa dia mengajakku? Kenapa dia tidak mau mengajak orang lain saja?”

“Oh, ayolah, Naeun. Selama ini yang dekat dengannya hanyalah kau seorang! Kau tinggal bersamanya. Jika bersama Jaehyun, keadaannya akan aneh. Kalau pergi bersamaku, hanya aku yang akan menikmati hiburannya. Pergi bersama Sungjong atau Namjoo? Ayolah, mereka berdua kan pasangan. Tidak mungkin jika Myungsoo berdua dengan Namjoo. Mau tidak mau, dia harus membawa Sungjong, bukan?”

Untuk kedua kalinya Naeun terdiam lagi, lalu ia mengangguk menyetujui ucapan Bomi. Keduanya masuk ke dalam kamar dan Bomi langsung melengos menuju lemari pakaiannya. Dibukanya lemari tersebut dan mata Naeun langsung melebar ketika melihat isi lemari pakaian Bomi.

Matanya menelusuri isi lemari pakaian itu. Ada beragam pakaian yang ditata dengan rapi, bahkan pada pintu lemarinya terdapat sebuah layar yang bisa langsung membeli pakaian baru. Ia menebak bahwa Bomi merancang menggunakan programnya saat itu. Bahkan, Naeun bisa menemukan kertas-kertas desain pakaian yang bertebaran di lantai. Tangannya mengambil salah satu kertas dan melihatnya.

Senyum terukir di bibirnya sambil menggoyangkan kertas itu pada Bomi. “Apa ini?” tanyanya. “Kau suka mendesain pakaian?” Ia meletakkan kembali kertasnya, lalu matanya beredar lagi mengelilingi kamar Bomi.

Bahu Bomi terangkat. “Aku pikir akan lebih baik jika aku belajar desain dan bekerja sebagai designer saat aku sudah menjadi manusia. Kupikir, bekerja sebagai designer adalah pekerajaan yang menyenangkan.”

Sebuah kertas bergambar gaun putih langsung menarik perhatian Naeun. Ia mengambilnya dan menoleh ke arah Bomi. “Memangnya kau mau tinggal disini selamanya? Ini kan, rumah orang tua angkatmu. Kau tidak mungkin tinggal disini selamanya kan?”

“Tentu saja, aku akan membeli apartemen di Seoul.” Ia menunjuk kertas itu. “Apa kau tertarik dengan gambar itu? Biar aku buatkan untukmu kalau kau menikah nanti. Dan, memangnya kau tidak mau tinggal disini? Kau terlahir untuk tinggal di tahun ini, Naeun.”

“Aku memang mau tinggal disini kok,” jawab Naeun. “Memangnya aku mau menikah dengan siapa?” Tawa kecil keluar dari bibirnya. Ia meletakkan kertas itu dan beralih pada lemari pakaian Bomi, lalu menelusuri lemari itu.

“Kau akan menikah dengan Kim Myungsoo.”

Spontan Naeun langsung menoleh ke arah gadis itu. “Kau pasti bercanda,” katanya lalu beralih lagi pada lemari pakaian Bomi dan mengambil salah satu kemeja merah muda berlengan panjang. Ia membalikkan badannya sambil menempelkan kemeja itu pada tubuhnya. “Aku ambil ini.”

**

Taman hiburan di hari kerja tidak terlalu ramai sehingga Myungsoo bisa duduk tenang di salah satu bangku dekat area permainan anak-anak. Ia datang 15 menit lebih awal karena sebagai laki-laki seharusnya ia lah yang menunggu. Matanya beredar mengelilingi taman hiburan. Ada banyak anak-anak kecil yang berlarian.

Matanya langsung menajam saat melihat salah seorang laki-laki yang ia kenal. Anak laki-laki itu menarik-narik ibunya sambil menunjuk salah satu wahana yang tak jauh darinya. Di tangan kirinya terdapat es krim rasa cokelat dan juga arloji yang menempel pada pergelangan tangannya. Ketika anak laki-laki itu menoleh ke arah Myungsoo, wajahnya langsung cerah.

Ia melepaskan genggaman tangannya pada ibunya dan berlari menuju Myungsoo. Cepat-cepat, Myungsoo merentangkan tangannya lalu membalas pelukan anak laki-laki itu.

“Halo, ajussi!” sapa anak laki-laki itu.

Senyum Myungsoo langsung melebar dan menepuk kepala anak laki-laki itu. “Halo juga, Jongshin. Kau lupa? Panggil aku dengan hyung.” Myungsoo mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak setua itu, Jongshin-a.”

“Ah, arasseo, aku lupa, hyung.” Jongshin tertawa pelan. Lalu, matanya mencari-cari sesuatu. “Dimana Nuna? Kau tidak bersama pacarmu, hyung?”

“A—E—Eh, ada kok,” jawab Myungsoo terbata-bata lalu ia menggaruk tengkuknya. “Dia sebentar lagi akan datang. Kami memang berniat kesini, jadi aku datang duluan. Nanti, kalau Nuna sudah datang, aku akan menemuimu.”

Wanita muda yang tampak berumur 30 tahun itu menghampiri anaknya dan tersenyum ke arah Myungsoo. “Apa kau mengenalnya, anak muda?”

Myungsoo mengangguk pelan. “Saat itu ia bermain—”

“Iya, Eomma! Aku saat itu bermain dengan pacarnya yang cantik,” kata Jongshin senang. “Lalu, saat Nuna tercebur ke dalam danau, ia langsung menghampiri, dan menolong Nuna.”

“Uh, maaf, aku terlambat!”

Spontan, ketiganya langsung menoleh dan mendapati Naeun yang baru saja datang. Mata Myungsoo menatap gadis itu dari atas sampai bawah. Naeun mengenakan kemeja merah muda yang lengannya digulung sampai siku dan celana pendek yang berujung di pahanya. Sebuah tas selempang berwarna cokelat disampirkan di bahu kanannya.

Mata Myungsoo beranjak naik ke wajah gadis itu. Rambutnya dibiarkan tergerai. Hampir saja Myungsoo mengatakan bahwa gadis itu sangat cantik, namun langsung ditahannya saat Jongshin menunjuk Naeun.

Naeun menoleh ke arah Jongshin dan tersenyum lebar. “Halo, Jongshin?” Kemudian ia menoleh ke arah wanita yang ia duga sebagai ibunya. “Halo, Ahjumma. Anakmu sangat tampan dan lucu.”

“Ah, terimakasih,” ucap wanita itu. Ia menoleh ke arah Myungsoo lalu tersenyum. “Kekasihmu memang cantik, anak muda.”

Naeun melebarkan matanya dan menoleh ke arah Myungsoo kesal. “Kekasih—”

Myungsoo langsung berdiri dan melingkarkan tangannya pada pinggang Naeun, lalu menoleh pada Naeun sambil tersenyum misterius. “Ayo, chagiya. Kita harus pergi sekarang, kalau tidak, kita tidak akan bisa bermain semua wahana disini.”

Tanpa Myungsoo ketahui, pipi Naeun sudah semerah tomat. Jantungnya berdegup tak karuan. Sambil mencoba menahan rasa malunya itu, ia mengalihkan pandangannya dari wanita muda tersebut dan memilih agar menoleh pada Jongshin. Jongshin sendiri asik memainkan robot yang ada pada genggamannya. Tangan Naeun menepuk kepala anak laki-laki itu.

Wanita muda itu tersenyum senang, lalu menoleh pada Jongshin. “Nah, Jongshin, kita juga harus pergi. Mereka pasti tidak mau diganggu.” Ia tertawa kecil. “Bersenang-senanglah kalian berdua. Kalian memang tampak serasi dan lucu.”

Setelah wanita itu pergi, Myungsoo melepaskan tangannya. Keduanya langsung salah tingkah dan berusaha tidak menoleh. Myungsoo berdeham pelan lalu menoleh pada gadis itu. “Maaf,” ujarnya pelan.

Naeun menoleh. “Bukan masalah, L,” ucapnya. “Ayo, kita mau main apa dulu?”

“U—Um, kau saja yang tentukan. Kau yang mengajakku kesini, bukan?”

Alis Naeun bertautan. “Kau yang mengajakku kemarin.”

“Kenapa aku?” tanya Myungsoo. “Aku bahkan tidak mengirimu pes—” Omongan Myungsoo langsung terpotong ketika ia teringat sesuatu. Di dalam hatinya, ia mengumpat kesal pada dirinya sendiri.

Dasar sialan Ahn Jaehyun, batinnya.

“Ada apa? Kau kan yang mengajakku?” tanya Naeun.

Ia menoleh pada Naeun. “Iya, aku lupa. Ayo, kita sebaiknya kita masuk ke dalam dulu.”

Naeun mengangguk, ketika ia akan berjalan, Myungsoo menarik tangannya dan menggenggamnya erat. Ia menoleh ke arah Myungsoo bingung, namun Myungsoo memilih diam. Lagi-lagi, jantung Naeun tidak bisa diajak kompromi. Ia mencoba mengatur nafasnya.

Ketika mereka tiba di loket, Myungsoo langsung mengeluarkan dompetnya dan membeli dua karcis. Sebelum Naeun sempat mengeluarkan uangnya, Myungsoo sudah memberikannya sebuah tiket.

“Hei, tidak adil,” ucap Naeun.

Myungsoo tertawa kecil lalu mengacak rambut gadis itu. “Biar aku yang membayarimu hari ini. Aku yang mengajakmu, bukan?” Myungsoo kembali menggenggam tangan Naeun. “Aku tidak mau kau hilang. Sebaiknya kita terus bersama.”

**

Wajah Naeun tampak lebih cerah daripada sebelumnya. Senyum lebar masih menempel pada bibir gadis itu. Di tangan kanannya terdapat gulali. Sejak awal memang ia menginginkannya, jadi Myungsoo memutuskan untuk membelikan gadis itu setangkai. Mereka berdua kini duduk di salah satu bangku dan sibuk dengan gulali mereka masing-masing.

Hari sudah sore ketika mereka hampir menyelesaikan semua wahana dan mereka memutuskan untuk memilih gondola sebagai wahana terakhir yang mereka mainkan. Matahari sudah hampir tenggelam seluruhnya. Samar-samar, suara burung bersahutan dan gemerisik daun kering membuat Naeun perlahan memejamkan matanya.

“Kau mau berlama-lama disini?”

Perlahan, Naeun membuka matanya lalu tersenyum tipis. “Bukan, aku hanya ingin sebentar saja disini. Rasanya ini pertama kalinya aku merasa senyaman ini. Hembusan angin yang segar.”

“Kalau begitu, kau mau menaiki gondola-nya nanti malam? Disini buka sampai pukul 11 malam,” saran Myungsoo. Ia mendongakkan wajahnya dan menatap langit sore. “Kalau kau mau, kita bisa pergi ke wahana lain.”

Naeun menoleh ke arah Myungsoo. “Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal? Ayo, kalau begitu kita bisa selesaikan semua permainannya dulu.”

Myungsoo terkekeh pelan. “Sudah aku duga kau akan bilang begitu.” Ia beranjak dari tempatnya duduk dan meregangkan otot-ototnya. “Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi ke rumah hantu.”

“E—E—”

Belum sempat Naeun membereskan kalimatnya, Myungsoo sudah menarik gadis itu menuju wahana yang ditakuti oleh Naeun sejak awal. Ia tidak menyangka bahwa Myungsoo akan mengajaknya kesini.

Antriannya memang sedikit karena rata-rata pengunjung takut akan permainan tersebut. Genggaman Naeun pada Myungsoo mengerat begitu mereka melangkah masuk ke dalam rumah hantu tersebut. Derit kayu yang diinjak mereka langsung memekakkan telinga. Suara-suara burung hantu memenuhi ruangan.

Keringat dingin mulai menjalari tubuh gadis itu. Giginya bergemeletuk ketika lampu-lampu kecil mulai menyala. Naeun langsung membulatkan matanya begitu ia melihat sebuah kepala yang tiba-tiba turun dari atas. Pekikkan keras yang terlontar dari mulut gadis itu membuat Myungsoo langsung membalikkan badannya.

“He—Hei,” panggil Myungsoo. Mulutnya langsung ternganga saat melihat wajah Naeun yang ketakutan. Perlahan, gadis itu menangis. “Naeun, kenapa kau tidak bilang bahwa kau takut? Seharusnya kau bilang padaku sejak awal. Dengan begitu, aku tidak akan mengajakmu kesini.”

“A—Aku, sudah berusaha bilang padamu. Tapi, kau terlanjur menarik—”

Myungsoo menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Ia mengelus rambut gadis itu. “Ayo, kita keluar dari sini. Aku minta maaf.”

Setelah itu, Myungsoo benar-benar menggiring gadis itu keluar tanpa membuat Naeun melihat kemanapun. Saat mereka sudah berada di luar, Myungsoo melepaskan pelukannya dan menatap wajah gadis itu. Perlahan, Myungsoo menghapus air mata yang masih menempel dibawah mata gadis itu dengan ibu jarinya.

Naeun hanya terdiam ketika Myungsoo menatap ke dalam matanya. “Maafkan aku, Naeun,” kata Myungsoo pelan. Naeun hanya menganggukkan kepalanya. Ia menepuk kepala gadis itu pelan. “Kau mau minum?”

“A—E—Eh, tidak usah,” ucap Naeun cepat-cepat.

“Kau benar-benar tidak mau minum? Kita belum makan malam.”

Naeun menggeleng. “Aku belum lapar. Kalau kau mau makan, kita bisa makan dulu,” katanya.

“Oh, tidak usah. Aku makan kalau kau makan.” Ia melirik arlojinya yang menunjukkan pukul setengah 7 malam. “Ayo, kita mau ke gondola?” tanyanya. Naeun menganggukkan kepalanya.

Keduanya pun berjalan menuju wahana gondola. Ketika dalam perjalanan, keduanya memilih diam dan Naeun sendiri memilih untuk melihat-lihat sekelling. Hari memang sudah gelap dan lampu-lampu terang memenuhi taman bermain itu.

“Hei, lihat disana, gadis itu cantik.”

“Ajak saja dia kenalan.”

Spontan, Myungsoo langsung melirik ke arah sekumpulan laki-laki yang tak jauh dari mereka dan tengah menunjuk-nunjuk Naeun. Yang ditunjuk tampaknya tidak sadar, namun Myungsoo langsung menggenggam tangan gadis itu erat membuat Naeun menoleh ke arahnya dengan wajah merah padam.

“Siapa laki-laki itu?”

“Ah, tentu saja, dia pasti sudah punya pacar.”

“Beruntung sekali laki-laki itu.”

Naeun menatap Myungsoo bingung. “Ada ap—”

Myungsoo menarik Naeun sehingga wajah keduanya mendekat, meletakkan telunjuknya di depan bibir Naeun, lalu tersenyum kecil. “Jangan jauh-jauh dariku,” ucapnya. Jantung Naeun langsung berirama tak karuan.

“Siapa yang jauh-jauh darimu?” tanya Naeun. “Dari awal, aku selalu ada disampingmu.”

Ketika mereka mendapatkan giliran untuk menaiki kabin gondola tersebut, Myungsoo membiarkan Naeun menaikinya duluan. Kabin tersebut berbentuk seperti telur dan cukup besar. Kabinnya juga menggunakan kaca. Keduanya duduk berhadapan, namun Myungsoo memilih menatap keluar jendela ketika gondola mulai berputar.

Hening menjawab mereka berdua. Tak ada yang berani angkat suara karena memilih untuk menatap keluar gondola. Naeun bisa melihat seluruh bagian dari taman hiburan tersebut. Warna-warni lampu yang ada di taman hiburan itu membuatnya senang.

“Naeun,” panggil Myungsoo saat kabin mereka berada di posisi tertinggi.

Naeun menolehkan wajahnya ke arah Myungsoo. Ia sedikit terkejut ketika melihat wajah Myungsoo yang serius. Cepat-cepat ditolehkan wajahnya tersebut, namun Myungsoo justru menggenggam tangannya.

“Apa?” tanya Naeun ketus.

“Aku berbicara denganmu, bukan dengan rambutmu.”

Dengan malas, Naeun menolehkan kepalanya lalu menatap Myungsoo. “Ada apa, Kim Myungsoo?” Ia mencoba melepaskan tangannya, namun Myungsoo lebih kuat menggenggamnya. “Myungsoo, lepaskan.”

Myungsoo melepaskan tangan Naeun dan menghela nafas. “Aku minta maaf soal rumah hantu tadi. Aku membuatmu takut.”

“Bukan masalah,” ucap Naeun. Ia menarik nafas dalam-dalam. “Aku hanya sedikit terkejut saja saat melihat kepala itu. Saat kecil, aku pernah pergi ke taman bermain dan Jaehyun menakut-nakutiku. Dia membuatku trauma dan aku baru mengingat hal itu ketika aku melangkah masuk ke dalam rumah hantu tadi.”

“Kau pasti kaget saat melihat kepala itu.”

“Memang benar, tapi aku justru berteriak sekeras itu. Kau pasti juga kaget saat mendengar teriakanku,” ucap Naeun pelan. Lalu, ia tersenyum tipis. “Aku minta maaf kalau aku tidak sempat bilang padamu. Bukan salahmu sepenuhnya.”

“Anggap saja aku bersalah,” paksa Myungsoo. Ia menatap keluar jendela. “Kau tahu, sebenarnya bukan aku yang mengirimu pesan itu.”

Naeun menolehkan kepalanya. Alisnya ikut bertautan. “Apa maksudnya? Jelas-jelas kau yang mengirim pesan itu.”

“Jaehyun yang mengirimnya,” kata Myungsoo. “Dia ingin kita kesini. Aku sempat curiga saat kita ke supermarket dan Jaehyun meminjam ponselku untuk mengunduh lagu. Menurutku, mereka berempat memang sengaja mengerjai kita.”

“Untuk apa?”

“Kau masih tidak mengerti?” tanya Myungsoo.

Naeun menggeleng pelan dan menatap Myungsoo bingung. Myungsoo menangkap bahwa gadis itu meminta penjelasan lebih. Ketika gondola berhenti sejenak untuk dinaiki penumpang lain, Myungsoo bergerak dan duduk disamping Naeun.

Kabin mereka sempat bergoyang, namun kembali seimbang ketika gondola bergerak lagi. Lagi-lagi, Naeun meoleh padanya dan menatapnya dengan bingung. Sebaliknya, Myungsoo menatapnya dalam dan tak berkedip. Belum sempat Naeun membuka mulutnya untuk bicara, Myungsoo sudah mendahuluinya.

“Aku menyukaimu, Son Naeun.”

Nafas Naeun tertahan saat mendengar ucapan Myungsoo yang begitu pelan, namun jelas. Jantung Naeun berpacu cepat ketika wajah Myungsoo mendekat. Tepat saat kabin mereka berada pada posisi tertinggi, Naeun memejamkan matanya. Perlahan bibir Myungsoo menyentuh bibirnya dengan lembut.

Ciuman itu terasa aneh, namun Naeun bisa merasakan bahwa perlahan kehangatan menjalari tubuhnya. Tanpa ia sadari, ia membalas ciuman itu dan membuat Myungsoo langsung tersenyum kecil lau melepaskan tautan bibirnya.

Ia menatap Naeun dan kembali tersenyum. Ia menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangan gadis itu. “Apa artinya aku tidak butuh jawaban?”

Pipi Naeun merona, namun ia justru mengalungkan kedua tangannya pada leher Myungsoo. “Kau butuh itu agar jelas,” ucapnya.

Setelah itu, ciuman mereka kembali berlanjut. Kali ini, Naeun bisa mengetahui bagaimana rasanya menyentuh bibir seseorang yang ia cintai.

“Aku mencintaimu, Kim Myungsoo.”

“Aku juga mencintaimu, Naeun.”

 

The End

 

a.n

Halo! Ya Allah, Alhamdulillah, akhirnya beres juga cerita ini. Oh, yaampun. Aku terharu banget di chapter 14 banyak banget yang komentar dan readers baru juga mulai ada. Makasih banyak untuk semua yang udah baca fanfiction gak jelas ini. Maaf banget kalau selama ini, aku suka gak bales komentar kalian. Tapi, kalau lagi rajin, aku pasti balesin kok.

Waktu itu aku janji kalau aku bakal selesaikan cerita ini di chapter 15 atau 16 kan? Akhirnya, beres di chapter 15.

Buat project baru, ada kemungkinan aku bakal tulis lagi Myungsoo-Naeun. Hm, tapi aku juga pengin suasana baru. Jadi, liat nanti aja ya? Um, akhir kata, terimakasih buat komentarnya! Kritiknya sangat membantu. Aku juga udah belajar buat suasana yang gak bikin bosen. Kalau cuma narasi, kemungkinan bikin bosen. Ini kan bukan novel ‘City of Bones’. Hehe.

Ngomong-ngomong, kalau cast-nya bukan Myungsoo-Naeun, kalian mau baca kan fanfiction lain punyaku? /maksa. hihi. Tapi, terserah kalian sih. Udahlah, kepanjangan nih, author note nya. Sekali lagi, yang mau sekuel 2050, bisa klik link dibawah untuk vote! So, goodbye everyone! See you in the next project!

Vote for the Sequel? Here!

Vote for the next fanfiction? Here!

35 thoughts on “[Final: Chapter 15] 2050

  1. Aaaa…. Thorrr dohh d updatenya subuhsubuh yahh,, omoo,, duuhh to tweettt :)) ayoo buat squelnya dong , hahahah,, lanjut myungeun ff /eehh, nahh thorr fighting smngat buat ff slnjutnya (ง’̀⌣’́)ง

  2. Aduh eonnieee~~ akhirnya deh si myungsoo berani juga,, wkwkwk, trus dulu kenapa ahn jaehyun katanya diciptain sama kim myungsoo eon? Penasaran.__. kalo ada sequel critain ya, gak mau juga gpp sih;_;
    Ya udah deh, ditunggu new ff nya sama sequel 2050~

  3. huaaaaa.. sweet banget thor adegan myungeunnya hihihi..
    pengin sekuelnya, ditunggu sekuelnya thor. aku harap sih sekuelnya berpart part terus genrenya marriage life hihi sama ditunggu kelanjutannya boomi jaehyun😀

  4. Akhirnyaaaaa mereka pacaran hihihiw. Sequel dah thor wkwk. Yah myung-eun aja dah castnya thor untk ff baru jebalyo;(

  5. cie~ fanfictnya udah selesai selamat~ aku suka baca cerita ini dari awal sampai tamat, pas baca itu langsung terhanyut sama alurnya ini udah bagus dan baik menurutku
    saya ngefans sama anda hahaha~ semangat thor buat cerita selanjutnya

  6. ditunggu ff barunya lho thor .. tpi sequelnya juga mau -,- … castnya harus Myungsoo & Naeun thor . harus !!*maksa .
    Faighting ya thor bikin ffnya … ffnya sangat ditunggu ^^

  7. Huaaaa minn daebak uwoo daebakkk:””” bagus benet/? Dah ahh bingung pengen kmen apa ,bagus pokonya bagus minn ToTb

  8. readers baru here ^-^
    sequel thor sequel >< penasaran T^T
    kalo bisa castnya tetep myungeun soalnya aku ngga terbiasa #peacee ._.v

    • waaaah makasih banyaaak udah bacaaa:”) hihi. itu sebenernya ide mendadak dan udah beribu kali buat mikirin bakalan aku jadiin kakak angkat atau enggak. setelah mengurung diri di kamar beberapa jam, akhirnya aku masukin bagian itu dan ternyata hasilnya alhamdulillah:)
      sipsip makasih banyaak udah bacaa<3

  9. Author daebak!!! 👍👍👍👌 Maaf ya thor baru comment di part ini karena seharian aku baca dari part 6-15 jadi kupikir comment disini aja. Sequel udah ada kan thor??. Ff sama authornya sama-sama keren 😎. Bisa punya ide buat bikin ff fiction seru kaya gini. Author kalo aku minta tolong buat baca ff yang belum aku post bisa gak?? Hehe *lah. Pokoknya sukses buat author dan ffnya keep writing 😊

  10. Haii…..
    kali ini aku bakal comment karena berhubung pakai laptop jadi gk bermasalah….
    Sebelumnya aku minta maaf gk bisa komen di setiap chapter aku cuman bisa ngasih like doang >,< .
    Tapi kalau di teaser sama Final aku bakal comment kok ^^.

    Btw, aku seneng ff nya ^,^
    MyungEun cocok😀 tapi menurutku konfliknya kurang seru sama pertarungannya aku kurang begitu menarik (mian) terus di teaser nya kalau gk salah ada tentang Woohyun sama Chorong kan ? Karakternya di ff sama teasernya beda …
    Tapi menurutku ff nya udh T O P B G T !!! TOP BANGET !!!

    hehehehe "Keep writing and keep creative!!!"

    • waaah terimakasih banyak buat komentarnya. emang nih konfliknya kurang seru hehe buat aku juga ff ini kurang bagus:”’ tapi aku udah berusaha kok buat bikin ff terbaik hehe.

      terimakasih banyak yaaa komentarnya<3

  11. Wah. Ga nyangka Jaehyun ternyata saudara angkatnya Naeun, dan mereka dahulunya merupakan manusia.
    Tp kalau melihat kebaikan dan perhatiannya selama ini ke Naeun sih jd ga heran.
    Syukurlah, happy ending! Lel.
    Untuk kekurangannya, dlm penulisan atau jln ceritanya itu, gpp kok. Yg penting kan prosesnya (Y)
    Ide ceritanya udah ok aja, kamu bisa bgt buat fic yg kayak gini😉

    Sippo….
    Keep writing n fighting ya! ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s