Secret Butler [Chapter 1]

Secret Butler

Secret Butler

by

RettaVIP

Genre : Drama, Romance

Rating : Teen

Length : Chapters

Main Cast : Sehun (EXO) and Suzy (Miss A)

Prologue

Suzy’s POV

Aku terbangun kaget dengan posisi terduduk. Keringat membasahi sekujur tubuhku. Tubuhku gemetar hebat, tak terkontrol. Kejadian itu begitu nyata. Meski sudah seminggu berlalu sejak hari tragis itu, benakku masih dipenuhi oleh gambaran saat terjadinya pembunuhan orang tuaku sampai sekarang. Ini sudah kesekian kalinya terjadi. Setiap malam sejak hari itu, aku belum pernah sekali pun mendapatkan tidur yang pulas.

Mataku melirik ke arah jam dinding di kamarku. Masih pukul empat pagi, lebih tepatnya subuh. Namun, aku sama sekali tidak ada keinginan untuk melanjutkan tidurku dan bertemu dengan gambaran menyeramkan itu lagi. Aku meninggalkan ranjangku yang nyaman dan beranjak keluar dari kamar.

Aku membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai ke ruang makan. Tentu saja, dengan bisnis ayahku yang berhasil, rumahku menjadi semakin besar seiring dengan perkembangan bisnis tersebut. Semua pelayan-pelayan di rumahku masih sibuk membersihkan rumah pada jam ini. Aku sempat melihat beberapa dari mereka membersihkan koridor. Membersihkan rumah sebesar ini pasti sangat susah. Meski mereka total berjumlah sepuluh orang, tetap saja rumah ini masih terlalu besar. Aku juga merasa demikian, apalagi yang tinggal di rumah ini hanya aku seorang bersama dengan sepuluh pelayan tersebut.

“Selamat pagi, Agassi. Pagi sekali Agassi sudah bangun,” sapa salah satu pelayanku yang bernama Jia di ruang makan. (Agassi = Miss)

“Pagi, Jia. Seperti biasa, aku mimpi buruk. Apa kalian sudah sarapan?” Aku memberikan senyum lemah padanya sambil mengambil tempat duduk di meja makan yang luar biasa besar. Terlalu besar jika hanya untuk aku seorang, sehingga biasanya aku mengajak para pelayanku untuk makan bersama di meja ini. Mereka semua kuanggap sebagai temanku.

“Sudah. Terimakasih sudah bertanya. Agassi ingin sarapan apa?”

“Apa saja yang sudah kalian siapkan.”

Jia kemudian berlalu dari ruang makan dan menuju ke dapur untuk mengambilkan sarapan. Setelah kepergiannya, tak ada suara satu pun dalam ruangan. Sangat hening. Aku sangat tidak menyukainya. Mungkin inilah yang disebut trauma, tapi sejak kejadian itu aku tidak suka sendirian.

Segera setelah aku menyelesaikan sarapan, asisten ayahku, Kim Junmyeon, tiba di ruang makan. “Pagi, Agassi. Aku akan membacakan jadwal hari ini dan perkembangan bisnis perusahaan-perusahaan ayahmu.”

Asisten Kim adalah bawahan ayahku yang paling dapat kuandalkan. Setiap hari ia akan membacakan jadwalku dan apa saja yang telah terjadi di perusahaan, serta pertemuan apa yang harus kudatangi. Ialah yang mengurus semua perusahaan ayahku sejak ayahku meninggal. Karenanya, semua perusahaan ayahku tetap berjalan dengan lancar sampai sekarang. Dia juga yang mengurusku dan semua kegiatanku. Mungkin dialah orang yang paling kuandalkan setelah Bubble Tea saat ini.

“Pagi, Asisten Kim. Pagi sekali kau ke sini?” tanyaku dengan nada tak percaya. Biasanya, Asisten Kim datang beberapa menit sebelum aku berangkat sekolah.

“Karena aku akan mengenalkanmu pada pelayan baru,” jawab Asisten Kim.

“Untuk apa? Bukankah kita sudah mempunyai banyak pelayan?”

“Kali ini pelayan khusus untuk melayanimu seorang, Agassi.”

Asisten Kim pergi meninggalkan ruang makan untuk memanggil pelayan yang dimaksud. Memang aku tidak memerlukan pelayan khusus, namun setelah kupikir lagi, bila dialah yang akan selalu menemaniku, maka aku membutuhkannya agar aku tak sendirian di rumah ini lagi. Benar, aku membutuhkan teman. Meski aku sudah memiliki Bubble Tea, tidak ada salahnya lagi bila aku menambah teman.

Agassi, perkenalkan ini Oh Sehun, pelayan pribadimu,” kata Asisten Kim.

Asisten Kim berjalan menuju tempatku duduk di ruang makan, diikuti oleh seorang pria tinggi di belakangnya. Pertama, aku tidak menyangka bahwa pelayan yang dimaksud olehnya adalah pria. Kedua, wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang tinggi benar-benar membuatnya lebih cocok menjadi artis daripada menjadi pelayan. Ketiga, dia kelihatan seumuran denganku, mengapa dia tidak sekolah dan malah menjadi pelayan?

“Salam kenal, aku Oh Sehun.” Pria yang bernama Sehun itu membungkukkan badannya.

Aku juga otomatis membungkukkan badanku. “Aku Bae Suzy. Salam kenal.”

Lumayan, orang ini punya sopan santun. Sepertinya dia orang yang baik. Dia juga tampan. Tidak terlalu buruk. Kurasa tidak akan masalah bila dia menjadi pelayan pribadiku.

“Baiklah kalau begitu—” Perkataanku terpotong.

“Suzy, kamarku di mana? Aku ingin beristirahat.” Sehun dengan santainya menarik satu kursi dari meja makan dan mendudukinya.

Suzy? Apa? Dia baru saja memanggilku Suzy? Dia pikir dia siapa? Semua pelayan di rumah ini, bahkan Asisten Kim memanggilku Agassi tetapi dia memanggilku Suzy? Jia saja yang merupakan pelayan yang terdekat denganku tidak memanggilku dengan nama.

“Ah, biar aku saja yang mengantarmu.” Jia menghampiri Sehun dengan terburu-buru untuk segera membawanya pergi.

Namun, Sehun membalikkan badannya untuk menatapku sebelum ia keluar dari ruang makan. “Suzy, aku tidak sabar untuk segera bekerja sebagai pelayan pribadimu.”

Keadaan menjadi canggung sesaat. Kini hanya tinggal Asisten Kim dan aku yang berada di ruang makan.

“Maafkan aku atas tingkah laku Sehun yang tidak sopan. Dia masih pemula dan belum terlatih. Aku janji aku akan segera merubah sikapnya.” Asisten Kim melirik ke arah jam tangannya. “Sudah mendekati jam sekolah. Agassi lebih baik segera bersiap-siap dan sebaiknya beritahu Sehun juga agar dia tidak menyebabkanmu terlambat.”

Mataku terbelalak mendengar kata-kata terakhir Asisten Kim. “Terlambat? Apa maksudnya?”

“Ah, aku lupa bilang padamu. Dia yang akan menemanimu di sekolah mulai dari hari ini.”

Aku terlompat dari tempatku duduk. “Apa? Aku akan pergi sekolah dengan orang menjengkelkan itu? Tidak dalam seribu tahun! Lebih baik Jia saja yang menemaniku, seperti biasanya.”

Asisten Kim menghampiriku dan tiba-tiba menundukkan kepalanya. “Untuk masalah ini saja. Tolong biarkan Sehun menemanimu sekolah. Kau tahu, keamananmu merupakan segalanya bagiku. Di luar sana tidak aman untukmu, bahkan di rumah besar ini saja tidak aman untukmu. Sehun mungkin memiliki sikap dan sifat yang jelek, namun dia merupakan orang yang paling dapat diandalkan.”

Aku tahu, Sekolah Geum merupakan sekolah untuk anak-anak orang kaya, sehingga kepala sekolah menetapkan para muridnya untuk membawa satu pelayan sebagai pendamping. Sekolah Geum tidak bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada kami. Tentu saja sekolah itu akan berbahaya dan menarik orang jahat. Semua anak dari pemilik perusahaan besar berkumpul jadi satu di sekolah itu. Siapa yang tidak tertarik? Mudah sekali untuk menculik di tengah-tengah pelajaran, di saat mereka tak ada perlindungan. Karena itu, kebijakan ini dijalankan.

Aku tahu fakta itu, maka aku tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Aku berhutang budi pada Asisten Kim. Setidaknya aku akan menuruti perkataannya.

Aku menghela nafas. “Baiklah. Sehun atau Jia sama saja. Aku akan segera bersiap-siap.”

“Terimakasih, Agassi.” Asisten Kim kemudian membacakan jadwalku untuk hari ini dan perkembangan perusahaan. Sepertinya, hari ini aku hanya memiliki satu acara nanti malam, yaitu menghadiri pernikahan direktur dari perusahaan cabang. “Kalau begitu, aku akan berangkat ke perusahaan dahulu. Sampai ketemu nanti malam.”

Asisten Kim berjalan meninggalkan ruang makan. Kali ini, kembali aku sendirian di dalam ruangan besar ini. Teringat pada Bubble Tea, aku membuka ponselku.

 

To : Bubble Tea

From : Suzy

Selamat pagi, Bubble Tea. Apa tidurmu nyenyak? Tidurku tidak nyenyak sama sekali. Hari ini ada hal yang sangat tidak kuduga. Tiba-tiba seorang pria menjengkelkan menjejakkan kaki ke dalam rumahku dan menjadi pelayan pribadiku. Namanya Oh Sehun. Memikirkannya saja membuatku muak. Dia memang tampan tapi sifatnya seperti sampah. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain karena Asisten Kim yang menerimanya menjadi pelayanku. Katanya dia dapat diandalkan dalam melindungiku. Padahal aku sama sekali tidak memerlukannya, aku sudah memiliki Bubble Tea, iya kan?

 

Setelah memastikan tidak ada perkataan yang salah dalam pesan itu, aku menekan tombol untuk mengirim. Setiap hari kita selalu saling mengirim pesan untuk menceritakan kehidupan sehari-hari, terkadang juga menanyakan hobi dan kesenangan, juga untuk aku meminta tolong padanya. Tanpa perlu diragukan, Bubble Tea akan selalu menolong. Seperti biasa, hari ini aku juga mengirimkan pesan padanya.

Di perjalanan kembali ke kamar, aku bertemu dengan Jia di koridor. “Jia, di mana kamar Sehun?”

“Di sebelah kamar Agassi. Asisten Kim mengatakan bahwa Agassi harus dalam perlindungan dua puluh empat jam. Bila Sehun berada dekat dengan Agassi, dia pasti akan menolong bila terjadi apa-apa dengan Agassi,” kata Jia lalu beranjak pergi untuk berkumpul dengan pelayan lainnya.

Aku sempat ragu antara hendak memanggil Sehun untuk bersiap-siap terlebih dahulu lalu aku bersiap-siap atau lebih baik aku bersiap-siap dahulu lalu memanggil Sehun. Akhirnya aku memutuskan pilihan kedua. Di mana-mana pria pasti mandi lebih cepat kan?

Aku mengumpulkan segala niat dan kesabaranku untuk mengetuk kamar sebelah. “Sehun? Apa kau di dalam?”

Berkali-kali ia kupanggil dan kuketuk pintu kamarnya, namun tak sekali pun ia menjawab. Aku menelan semua kemarahanku. Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk marah. Dengan sabar sekali lagi kuketuk, tapi tidak ada jawaban. Tersirat di benakku untuk mencoba membuka pintunya, dan ternyata pintunya terbuka.

Kamar itu sama besarnya dengan kamarku, bentuk ruangannya juga sama, hanya perabotan-perabotannya yang berbeda. Perabotan kamar ini lebih sederhana dan lebih sedikit dari kamarku. Seusai melihat sekeliling, aku teringat dengan tujuan utamaku ke sini dan segera mencari Sehun di seluruh ruangan. Aku menemukan sosok itu terbaring di ranjang. Matanya terpejam dan selimut menutupi tubuhnya. Ia terlihat lelah, namun apapun yang terjadi aku harus membangunkannya. Bisa-bisa aku terlambat ke sekolah karena ini.

“Sehun? Sehun?” panggilku sambil mengguncang-guncangkan bahunya dengan perlahan agar tidak mengagetkannya. Setelah itu aku baru menyadari, untuk apa aku bersikap manis dengan orang menyebalkan ini? Ah, mungkin karena aku tidak ingin memulai pertengkaran dengannya.

“Suzy?” Sehun membuka matanya. Ia terlihat kaget saat melihatku berdiri di sebelah ranjangnya. “Kenapa kau di sini? Siapa yang bilang kau boleh masuk ke kamarku?”

Dalam sekejap, aku menyesal bersikap manis kepadanya.

“Kamarmu? Ini rumahku berarti ini adalah kamarku! Cepat ganti baju! Awas sampai aku terlambat!” Aku berjalan dengan langkah kasar dan membanting pintu saat keluar kamar.

Sama sekali tidak ada bagusnya bersikap manis dengan orang ini.

***

Seperti yang aku duga. Aku terlambat datang ke sekolah. Ini pertama kalinya.

“Suzy! Kau terlambat! Berdirilah di luar kelas sampai jam pelajaranku selesai!” kata guru yang mengajar pelajaran inggris pada jam pelajaran pertama. Sepertinya ia adalah guru baru. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.

“Kenapa Suzy?” tanya wanita itu lagi saat ia menyadari aku terus mengamatinya.

“Ah, tidak. Sonsaengnim adalah guru baru di sini?” tanyaku sebelum aku beranjak keluar dari kelas.

“Iya, namaku Krystal. Lain kali jangan terlambat lagi ya?”

Alhasil aku dihukum berdiri di luar kelas selama jam pelajaran pertama. Sedangkan si orang menjengkelkan itu sibuk menggoda gadis-gadis di kelasku. Enak sekali dia, dia yang menyebabkanku terlambat tetapi malah aku yang sengsara. Aku hanya bisa menatap isi kelasku sambil memendam rasa iri. Berdiri selama satu jam penuh benar-benar membuat kaki sakit.

“Kenapa kau berdiri di luar?” Seorang pria menghampiriku.

Dilihat dari seragamnya, pria ini terlihat seperti guru. Tetapi, aku tidak pernah melihatnya. Apa dia juga guru baru?

“Aku dihukum karena terlambat, Sonsaengnim. Jadi aku tidak bisa masuk kelas,” jawabku. Aku mengasumsi bahwa dia adalah guru.

“Namamu siapa?” Pria itu bertanya lagi.

“Bae Suzy, Sonsaengnim.” Dia sepertinya tidak menyangkal ketika kupanggil Sonsaengnim. Kurasa dia memang guru baru di sekolah ini.

“Bae? Bae katamu? Apa ayahmu pemilik dari Bae Corporation?” Nada bicaranya meninggi. Sepertinya ia tertarik setelah mendengar namaku, meski aku tak tahu mengapa.

“I-iya, Sonsaengnim,” jawabku ragu-ragu. Mengapa aku memiliki perasaan tidak enak mengenai hal ini?

“Kalau begitu, mari kita ke kantorku sebentar.”

Aku mengangguk dan membalikkan badan untuk berjalan ke ruang guru. Namun, seseorang sepertinya menyerangku dari belakang dengan obat bius. Karena hal ini adalah terakhir yang kuingat sebelum aku kehilangan kesadaran.

Aku terbangun di ruangan yang sangat gelap. Tetapi, tidak ada tanda siapa-siapa di ruangan itu. Tangan dan kakiku terikat. Namun untuk suatu hal, ponselku tidak diambil olehnya. Entah mungkin karena dia adalah penculik amatir atau memang dia bodoh. Aku menggeliat berusaha mengeluarkan ponsel dari kantong rokku. Setelah berhasil, aku segera menyalakan layarnya untuk melihat sekeliling. Banyak bola basket, bola voli, dan bola futsal berkeliaran di sini. Semua itu hanya berarti satu hal, aku berada di gudang olahraga sekolah. Dengan segera aku menggunakan ponselku untuk mengirim pesan kepada orang pertama yang terlintas di benakku. Bubble Tea. Ponselku menunjukkan bahwa terdapat satu pesan dari Bubble Tea, mungkin balasan dari pesanku tadi pagi. Namun, keadaan ini jauh lebih penting. Bahkan sebelum aku membaca pesan itu, aku mengirim pesan baru lagi.

 

To : Bubble Tea

From : Suzy

Seseorang menculikku dan menahanku di gedung olahraga sekolah. Tolong aku.

 

-To be continued-

A/N

Mumpung masih libur, author lanjutin nih wkwk. Semoga kalian suka dengan critanya. Buat yang penasaran sama Sehun, chapter selanjutnya bakalan dari sudut pandang Sehun hahaha. Trimakasih buat yang udah baca dan mau tinggalin komen ^^

6 thoughts on “Secret Butler [Chapter 1]

  1. wah keren banget thor… oh jadi misi sehun itu nyamar jadi asisten pribadinya suzy ya thor?? lanjut chapter 2nya jangan lama lama ya thor.. fighting

  2. annyeong,apkah bubble tea N sehun org yg sma???
    siapakah yg menculik suzy apkah sehun bisa menyelamatkanx..
    next part gpl yach..

  3. Ahhh dabakkkk ! Moga2 aja ntar ada genre action nya… sehun jadi pelayan pribadi, krystal jadi guru baru, wkwkwk daebakkk, lanjut thorrr !!! Sehun ayoo selametin suzyy

  4. Aku bener bener ga bisa nebak gimana cara Sehun nyelamatin Suzy diem diem-_-
    Itu kan lagi terjebak, trus kalo Sehun yang nyelametin, Bubble Tea ketahuan dong?
    Next chap ditunggu yaaa

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s