[Two-Shots] Don’t Love Me (Part 1)

dont love me

Don’t Love Me

Author : Hyorenji

Genre : Angst, Romance, AU

Rating : PG-13

Length : Two-Shots

Main Casts : CNBlue’s Kang Minhyuk, F(X)’s Krystal as Jung Soojung

Supporting Cast : CNBlue’s Jonghyun, SNSD’s Yoona

Disclaimer : Inspired by FT Island’s Don’t Love (It’s better to read while listening to this song! T.T) Made by me.

***

Jangan pernah mencintaiku, karena perpisahan akan segera tiba. Akan terasa sakit, bahkan hanya untuk bernafas…

***

Seoul General Hospital

“Lee Jonghyun seonsaeng?” Seorang dokter pria berusia sekitar empat puluh tahunan tampak sibuk membacakan nama-nama yang tertera di kertas berisi daftar calon dokter resident baru yang ada dalam genggamannya. Di hadapannya, beberapa orang berjas dokter berbaris rapi menunggu nama mereka disebut oleh sang dokter yang merupakan dokter—yang juga sudah mendapat gelar professor—yang bertanggung jawab untuk mengurus calon resident yang akan bekerja di rumah sakit umum Seoul.

“Ne, saya!” Seorang dokter muda yang bernama Lee Jonghyun mengangkat tangannya sambil berseru keras penuh semangat, membuat sang profesor tampak terkejut. Namun seperti tak terjadi apapun, Jonghyun hanya mengumbar senyum.

“Ehm. Jung Jaewook seonsaeng?”

“Ne!”

“Choi Sehee seonsaeng?”

“Ne!”

“Kang Minhyuk seonsaeng?”

“…”

Semua kepala langsung menoleh ke kanan kiri saat tak mendengar satupun jawaban. Orang-orang itu saling menatap, melayangkan tatapan tuduhan ‘apa-kau-Kang-Minhyuk’ satu sama lain. Namun nihil. Tak ada jawaban. Sang professor sempat hening beberapa detik, namun kemudian kembali membaca nama di daftar absensinya.

“Kim Jaehyun seonsaeng?”

Jonghyun menghela nafas sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia tak menyangka Minhyuk akan terlambat di hari pertamanya menjadi resident di rumah sakit yang sudah lama ia idam-idamkan. Ia tahu Minhyuk yang berkuliah kedokteran di satu universitas yang sama dengannya itu jelas akan mendapat masalah besar, karena professor yang bertanggung jawab atas mereka sepertinya takkan menerima keterlambatan Minhyuk begitu saja.

“Sekarang kalian ikut—”

“—Jamkkanmanyo! Jamkkanmanyooo!”

Semua orang otomatis menoleh ke asal suara teriakan seseorang yang membuat perkataan sang professor terhenti. Dari ujung koridor, tampak seorang lelaki berjas dokter berlari tergopoh-gopoh dengan rambutnya yang berantakan, kemeja putih yang belum dikancing seluruhnya, dan bahkan tali sepatu yang belum sempat terikat sempurna.

“Minhyuk. Matilah kau.” Jonghyun menepuk dahinya sendiri sambil menggeleng-geleng. Minhyuk benar-benar kelewatan kali ini.

Minhyuk berhenti berlari tepat di hadapan sang professor, bahkan hampir menabraknya. Ia meletakkan kedua tangannya di lutut sambil berusaha mengatur nafas. “Hh.. Hhh.. Saya.. Hh.. Kang.. Minhyuk.. Hh..” Minhyuk masih berusaha mencari oksigen lebih saat sang professor tiba-tiba memukul kepalanya dengan papan kecil yang digunakan untuk menjepit daftar absensi.

Belasan pasang mata yang ada disana membelalak kaget, termasuk mata Minhyuk yang langsung mengelus-elus kepalanya yang mulai terasa pedih. “Ah, sakit!”

“Harusnya kau pikirkan itu sebelum kau berani terlambat di hari pertamamu!”

Suasana mendadak hening dengan teriakan sang professor, membuat bahkan tak seorangpun berani bernafas—apalagi tertawa. Minhyuk membungkuk berkali-kali, berharap sang professor mau memberikannya kesempatan. Ia benar-benar tak menyangka obat tidur yang tadi malam diminumnya karena insomnia akan berefek hingga ia tak mendengar suara alarmnya.

“Choesonghamnida. Choesonghamnida.”

Sang professor kemudian melanjutkan kalimatnya yang tak sempat terucap tadi, berusaha mengabaikan Minhyuk. “Semuanya ikut saya. Saya akan menunjukkan departemen kalian masing-masing.”

Minhyuk menghela nafas sambil berjalan mundur, memberikan ruang untuk sang professor dan rombongan resident baru selain dirinya berjalan. Ia tahu ia tak termasuk ke dalam ‘semuanya’ yang disebut oleh sang professor. Profesor itu tampaknya masih cukup marah untuk membiarkan Minhyuk ikut.

Langkah sang professor terhenti saat menyadari Minhyuk tak ikut dalam rombongan. “Kau!”

“Ne?” Minhyuk tampak terkejut saat mendapati sang professor tengah menatap marah ke arahnya. “Saya?” Minhyuk menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, kau!”

Secercah harapan mulai tumbuh di hati Minhyuk. Sepertinya professor itu masih memaafkannya. Ia kemudian ikut dalam rombongan, memilih tempat di samping Jonghyun yang menyambutnya dengan pukulan ringan di bahunya.

“Dasar kau.” Jonghyun terkekeh pelan. “Aku pikir Gyosoonim tidak akan membiarkanmu ikut.”

“Aku juga berpikir begitu. Tapi.. ya.. mungkin dia pikir akan sangat sayang jika dokter tampan sepertiku tidak menjadi resident disini!” Minhyuk menunjuk-nunjuk bangga dirinya sendiri, yang hanya direspon oleh putaran bola mata Jonghyun.

Minhyuk hampir menabrak resident di hadapannya saat tiba-tiba barisan terhenti di depan tempat penyimpanan obat.

“Kang Minhyuk seonsaeng, ini departemenmu.” Ucap sang professor, membuat Minhyuk mengernyit bingung.

“Tapi, gyosoonim.. Bukannya saya ditempatkan di departemen bedah jantung? Kenapa..”

“Menyingkir dari barisan dan masuk ke dalam! Kau sekarang masih dalam masa percobaan, artinya kau harus menuruti semua perintahku!” lagi-lagi bentakan sang profesorlah yang menanggapi perkataan Minhyuk. Ia melirik Jonghyun, berharap sang teman dapat memberikannya pertolongan namun Jonghyun hanya mengedikkan bahunya tanda tak bisa apa-apa.

Minhyuk menarik nafas panjang sebelum akhirnya keluar dari barisan dan membungkuk ke arah sang professor yang kemudian kembali membawa rombongannya berjalan, menuju departemen mereka masing-masing.

Ia kemudian masuk ke dalam ruang penyimpanan obat yang ternyata lebih luas daripada dugaannya. Lalu apa? Ia bahkan tak tahu apa yang harus ia lakukan di dalam sana.

“Seonsaengnim?”

Minhyuk menoleh saat merasakan seseorang menyentuh pundaknya. Ia kemudian membungkuk pada seorang gadis cantik berpakaian perawat yang sedang tersenyum ke arahnya. Mendadak kekesalannya pada sang professor sedikit berkurang melihat senyum si perawat yang sangat manis.

“Aku Im Yoona, perawat yang bertugas mengurus persediaan obat.” Perawat yang ternyata bernama Yoona itu menjulurkan tangan ke arah Minhyuk, dengan senyum yang tampaknya enggan pergi dari wajahnya.

“Ah, iya. Aku.. Kang Minhyuk. Resident baru yang harusnya bertugas di departemen bedah jantung.” Minhyuk memasang senyum terbaiknya sambil meraih tangan Yoona yang hangat.

“Pasti karena Han gyosoonim. Ia memang selalu menempatkan dokter-dokter yang berbuat salah padanya disini sebagai hukuman. Mungkin hanya beberapa hari atau satu dua minggu saja, lalu kau pasti akan kembali ke departemen bedah jantung. Jangan dianggap sebagai hukuman ya?”

Minhyuk kemudian tertawa dalam hati. Hukuman? Seenaknya saja professor itu. Tapi kehadiran Yoona sepertinya sedikit mengobati kemarahan Minhyuk. Toh hanya beberapa hari atau satu dua minggu, kan?

“Baiklah, perawat Im.”

“Panggil aku Yoona-sshi saja.” Ujar Yoona, membuat Minhyuk langsung menanggapinya dengan positif.

“Baik, Yoona-sshi. Apa yang harus aku lakukan?”

***

Minhyuk menghela nafas panjang sambil mendudukkan dirinya di bangku taman rumah sakit. Ia kemudian sadar mengapa Yoona bersikap begitu baik padanya, karena jika tidak ia benar-benar tidak memiliki alasan untuk mengangkat kotak-kotak berisi obat-obatan dan memindahkan isinya ke rak-rak yang ada di dalam ruangan itu.

“Aduh..” Minhyuk memijat-mijat punggungnya sendiri dengan susah payah. Siapa sangka di hari pertamanya menjadi resident ia malah menjadi kuli panggul? Namun kata Yoona, semakin ia berusaha, semakin cepatlah professor akan membebaskannya dari hukuman itu. Yang benar saja…

“Seorang dokter harusnya menyelamatkan nyawa orang lain! Dengan pisau bedah atau apa.. bukannya malah mengangkat kotak yang beratnya mungkin hampir sama dengan keponakanku yang berumur empat tahun!” Minhyuk kemudian mengoceh pada dirinya sendiri.

 Ia memandangi jas dokter yang ia lepas karena ia merasa terlalu kepanasan karena pekerjaan beratnya tadi. “Aku malu padamu. Harusnya aku mengenakanmu terus-terusan sebagai kebangganku, bukannya melepasmu dan menelantarkanmu seperti ini. Maafkan aku..”

“Seonsaengnim berbicara dengan siapa?”

Minhyuk kemudian hampir melompat kaget saat seorang gadis tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Gadis itu berambut panjang kecokelatan, berbadan langsing, dan berwajah pucat. Dada Minhyuk sempat berdesir saat melihat wajah gadis itu yang walaupun pucat namun sebenarnya sangat cantik. Minhyuk menduga gadis itu hanya berbeda tiga atau empat tahun dengannya.

“Ah, tidak ada.” Minhyuk kemudian memandangi gadis itu lekat-lekat. Ia bersumpah ia pikir gadis itu adalah pasien rumah sakit yang sedang menderita anemia atau apa, tapi mungkin tidak karena gadis itu tidak memakai pakaian rumah sakit seperti pasien lainnya.

Mungkin ia memang  terlahir dengan kulit putih pucat seperti boneka porselen, atau memang ia membutuhkan pemeriksaan medis? Minhyuk sejenak sibuk dengan pemikirannya sendiri.

“Kenalkan, aku Soojung. Jung Soojung.” Gadis yang bernama Soojung itu mengulurkan tangan pada Minhyuk, mengajaknya berjabat tangan. Minhyuk kemudian bertanya dalam hati mimpi apa dia tadi malam hingga hari ini dua orang gadis cantik mengajaknya berkenalan.

“Minhyuk. Kang Minhyuk.” Minhyuk menerima tangan Soojung dan menjabatnya, namun ia merasakan sensasi yang berbeda dengan saat ia berjabat tangan dengan Yoona tadi. Tangan Yoona yang dijalari kehangatan sungguh sangat kontras dengan tangan Soojung yang sedingin es, jika Minhyuk boleh berlebihan. Namun entah kenapa ia suka sengatan yang ia rasakan saat tangannya dan Soojung bersentuhan. Sensasi yang berbeda, yang membuatnya enggan melepaskan tangan Soojung.

“Seonsaengnim?” Soojung terlihat tidak nyaman, dan Minhyuk kemudian sadar akan hal itu. Ia melepaskan tangan Soojung sambil memasang sebuah senyum simpul.

Soojung membalas senyumnya dengan senyum yang lagi-lagi membuat Minhyuk merasa aneh. Senyum Soojung tidak memancarkan keceriaan seperti Yoona, namun ia jauh lebih suka pancaran aura spesial yang dimiliki senyum Soojung. Sedikit.. magis, mungkin? Minhyuk menampar dirinya dalam benaknya, berusaha terlihat senormal mungkin di hadapan Soojung yang bisa saja menganggapnya gila.

“Menjenguk.. teman?” Minhyuk berusaha membuka percakapan, karena dalam beberapa detik mereka diterpa keheningan.

“Yaa.. Begitulah.” Jawab Soojung singkat. Ia kemudian memandangi Minhyuk lekat-lekat. “Seonsaengnim dokter baru disini? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”

Minhyuk tersenyum sambil mengangguk semangat. “Iya. Baru hari ini aku bekerja di sini. Di departemen..” Minhyuk kemudian terdiam. Departemen apa yang harus ia katakan pada Soojung? Bedah jantung? Atau departemen bantu-bantu?

“Bedah jantung?”’

Mata Minhyuk membulat dengan tebakan Soojung. Bagaimana dia bisa menebak dengan benar? “Ah! Tepat sekali! Darimana kau tahu?”

Soojung tersenyum—tentu, Minhyuk merasa sensasi aneh dengan senyuman itu *namun ia tak ingin senyum itu hilang dari wajah Soojung, entah kenapa. “Lucky guess, I think?”

Minhyuk tertawa mendengar jawaban Soojung yang tidak terlalu ia mengerti karena Soojung sangat fasih melafalkannya dalam bahasa inggris. Ia menyesal sempat bolos pelajaran bahasa inggris saat sekolah dulu.

“Kenapa tertawa?” Soojung memandangi dirinya sendiri, bertanya-tanya apakah ada yang aneh pada dirinya.

“Tidak, tidak apa-apa.” Minhyuk kemudian meraih sakunya dan mengeluarkan sebatang lollipop. Ia kemudian menyerahkan lollipop itu pada Soojung. “Kau mau? Pertama aku pikir aku akan memberikan lollipop ini pada pasien kecil yang akan takut saat akan kuperiksa. Tapi aku rasa aku lebih ingin memberikan ini padamu..”

Soojung tersenyum (lagi) sambil menerima permen dari Minhyuk. “Thank you, ssaem!”

Minhyuk ikut tersenyum mendengar respon Soojung. Bukan karena ia tak mengerti—siapa sih orang di dunia ini yang tidak tahu artinya Thank You?—tapi karena Soojung yang tadi memanggilnya dengan sebutan seonsaengnim kini memanggilnya dengan sebutan ssaem, yang merupakan bentuk lebih akrab dari seonsaengnim. Mungkin jika mereka sering bertemu, Soojung akan memanggilnya oppa, atau bahkan jagi?

Minhyuk kali ini menampar dirinya sungguhan. Apa-apaan yang barusan ia pikirkan? Ia baru mengenal Soojung beberapa menit namun ia sudah mengkhayalkan Soojung memanggilnya jagi?

“Ssaem, gwaenchana?” Soojung tampak khawatir dengan perilaku aneh Minhyuk. Ia kemudian terkesiap saat sebuah tanda merah membekas di pipi Minhyuk. “Omo!”

Minhyuk hanya bisa menahan nafas saat tangan dingin milik Soojung secara otomatis terangkat ke wajahnya, mengelusnya perlahan. Minhyuk mengerjap-ngerjapkan matanya. Heran. Ia baru saja menampar dirinya hingga membekas namun kenapa bukan sakit yang dirasakannya? Malah sebuah kesejukan di dalam hatinya?

“Sepertinya ssaem harus ke Unit Gawat Darurat!” Soojung tampak khawatir, dan sebuah kesenangan muncul di hati Minhyuk melihat betapa khawatirnya Soojung. Apa Soojung merasakan hal yang sama dengannya? Yang biasa orang sebut Love at First Sight?

“Ssaem?”

“Ah, aku tidak apa-apa. Hehe.. Sedikitpun sakit juga tidak..”

“Baguslah kalau ssaem tidak apa-apa. Tapi apa ssaem benar-benar tidak harus ke UGD?”

“Tidak, aku..” Minhyuk kemudian tersentak. Ia segera melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah pukul enam sore. Ia harus cepat-cepat ke UGD untuk mengirimkan persediaan obat untuk luka bakar seperti yang sudah dipesankan Yoona tadi sebelum ia pergi ke taman untuk beristirahat dan akhirnya berjumpa dengan Soojung hingga ia hampir saja lupa. “Soojung-sshi, aku harus ke UGD untuk mengantarkan obat! Aku.. pergi dulu, ya!”

Minhyuk menyambar jas dokternya sambil kemudian setengah berlari meninggalkan Soojung. Ia sempat melayangkan senyum pada Soojung yang melambaikan tangan ke arahnya sambil juga tersenyum. Dalam hati ia berharap Soojung masih akan ada disana saat ia selesai mengantarkan obat nanti.

***

‘Mengantar obat’ tentu saja bukan pekerjaan mudah jika disertai kesalahan-kesalahan yang membuat Minhyuk harus berkali-kali bolak-balik UGD-ruang penyimpanan. Ia masih baru dalam hal ini, dan wajar saja jika ia melakukan kesalahan, kan? Namun dokter jaga di UGD sepertinya tak begitu suka dengan Minhyuk hingga ia membuat Minhyuk menghabiskan seluruh tenaganya hanya untuk mengantar obat—plus bonus marah-marah.

Jonghyun yang mendapat tempat di departemen anak meluangkan waktunya sebelum pulang untuk melihat keadaan sahabatnya, namun malah disambut dengan kondisi mengenaskan Minhyuk yang tengah duduk di lantai, kehabisan tenaga.

“Ini jauh lebih melelahkan daripada sepuluh operasi dalam satu hari.” Kata Minhyuk sambil menyesap Americano yang dibawa oleh Jonghyun yang menyempatkan diri ke sebuah coffee shop yang ada di lantai bawah rumah sakit sebelum menuju ke ruang penyimpanan.

“Memangnya kau pernah menjalankan sepuluh operasi dalam satu hari?” Jonghyun kemudian tertawa mengejek sambil ikut duduk di lantai, di samping Minhyuk. “Kau tahu, chingu? Kau tidak terlihat seperti dokter sekarang.” Jonghyun memandangi penampilan Minhyuk yang jauh lebih berantakan dari tadi pagi. “Kau lebih terlihat seperti..”

“..Kuli panggul?”

“Iya! Benar sekali! Hahaha..”

Minhyuk menyesap kembali Americano-nya, berusaha mengabaikan Jonghyun. Ia hanya berharap suatu saat Jonghyun melakukan kesalahan pada Han Gyosoonim hingga ia berada di tempat yang sama dengannya sekarang. Ia kemudian tersadar akan sesuatu.

“Aku harus pergi.” Minhyuk berdiri sambil merapikan sedikit kemejanya.

Jonghyun memandanginya bingung. “Kau mau kemana? Bukannya kita harus berganti shift? Apa kau masih ada pekerjaan?”

“Ada, tapi tidak ada hubungannya dengan obat-obatan sialan ini.” Minhyuk melayangkan senyum misterius ke arah Jonghyun. “Ini berhubungan dengan.. wanita.”

“Sial kau!” Jonghyun mengumpat. “Ini hari pertamamu dan kau sudah mendapatkan target? Hebat, Kang Minhyuk. Ah, apa yang kau maksud.. perawat cantik yang tadi baru keluar dari ruangan ini?”

“Siapa? Yoona?” Minhyuk bergidik membayangkan bagaimana Yoona menyuruhnya ini itu selama seharian ini. Walaupun ia memerintahkan dengan lembut disertai senyuman, namun tetap saja itu mengerikan mengingat berapa banyak tenaga yang harus dihabiskan Minhyuk dalam kurun waktu beberapa jam.

“Jadi namanya Yoona..” Jonghyun menggumam pada dirinya sendiri. “Beruntung sekali kau bisa melihat wajahnya sering-sering. Aku iri..”

“Iri? Baiklah. Gantikan posisiku. Dia memang cantik dan ramah. Tapi.. Ah sudahlah. Lagipula bukan dia gadis yang kumaksud.” Minhyuk menyeruput habis Americano-nya lalu kemudian melempar gelas kopi yang sudah kosong itu ke arah Jonghyun. “Aku pergi!”

“Ya! Kang Minhyuk!!”

***

Minhyuk mendudukkan diri di sebuah ayunan yang ada di taman rumah sakit, sedikit merasa kecewa karena Soojung tak lagi ada disitu. Mungkin dia sudah pulang. Ya tentu saja, memangnya ia tinggal di rumah sakit?

Sebuah doa secara tak langsung diucapkan oleh Minhyuk, doa agar teman Soojung belum sembuh jadi ia masih bisa bertemu dengan Soojung sekedar untuk menanyakan nomor handphone atau alamat Soojung. Namun ia buru-buru menghilangkan pemikiran jahat itu. Mana ada dokter yang ingin pasien tidak sembuh?

Minhyuk baru saja ingin menampar lagi dirinya sendiri saat ia merasakan seseorang menahan tangannya. Ia tak perlu repot menebak siapa orang itu karena rasa dingin yang kini menjalari tangannya tentu saja hanya bisa dialirkan oleh seorang Jung Soojung.

“Kenapa ssaem suka memukul diri ssaem sendiri?”

Minhyuk tertawa malu. “Kau masih disini?”

Soojung tersenyum sambil mengangguk. Ia kemudian mendudukkan diri di ayunan di samping Minhyuk. “Sepertinya aku akan sering melihat ssaem.”

“Benarkah?” Minhyuk tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang ia rasakan. Ia kemudian berusaha menormalkan kembali dirinya sambil menatap Soojung. “Apa temanmu…”

“Penyakitnya parah. Sepertinya ia akan menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit ini.” Ekspresi Soojung berubah murung. Ia menunduk, memandangi kakinya sendiri yang terbalut sepatu kets warna merah.

“Ah, maaf.” Minhyuk merasa tidak enak telah bereaksi senang beberapa detik lalu. Ia harusnya prihatin dengan kondisi teman Soojung, namun ia tak bisa menyembunyikan perasaannya! Ia senang jika Soojung masih mau sering-sering bertemu dengannya!

“Karena itu, sepertinya aku masih akan ada di rumah sakit ini untuk beberapa waktu ke depan. Kalau ssaem tidak sibuk, aku akan menemani ssaem!” raut murungpun perlahan tergantikan oleh senyuman magis Soojung, membuat Minhyuk ikut tersenyum.

“Tentu saja! Aku sangat senang jika kau mau menemaniku.” Tangan Minhyuk secara otomatis terangkat untuk membelai rambut Soojung, membuat mereka berdua kemudian tenggelam dalam keheningan yang canggung.

“Ehm.” Minhyuk melepaskan belaiannya lalu kemudian mengalihkan pandangannya dari Soojung. Ia merasa wajahnya memanas karena malu. Apa-apaan dia.. menyentuh gadis yang baru ia kenal seenaknya? Ia bisa dilaporkan ke polisi!

“Itu.. Aku..” Minhyuk kemudian terkejut saat Soojung tak lagi duduk di sampingnya. Ayunan itu masih bergoyang, menandakan orang yang duduk di atasnya baru saja pergi. Minhyuk menghela nafas. Ia sepertinya harus bisa lebih menahan diri. Ia jelas tak mau Soojung enggan untuk mendekatkan diri padanya yang sepertinya terlalu.. agresif, mungkin?

“Hh.. Kang Minhyuk babo.” Minhyuk menepuk kepalanya sendiri sambil menggeleng-geleng. Ia hanya berharap esok Soojung masih mau menemuinya.

***

Minhyuk datang lebih awal dari jam kerjanya pagi itu. Ia sangat bersemangat untuk bertemu lagi dengan Soojung. Ia masih penasaran dengan gadis itu—apa yang ia suka dan tidak sukai, bagaimana kebiasaannya, ah.. Minhyuk juga ingin menanyakan tahun lahir gadis itu agar ia tak lagi menduga-duga—dan juga bisa menyuruh Soojung memanggilnya oppa jika dia memang lebih muda dari Minhyuk.

Senyuman terbentuk di wajah Minhyuk membayangkan pembicaraannya dan Soojung nanti. Ia yakin, semakin ia tahu tentang Soojung, akan semakin menarik Soojung di matanya. Minhyuk baru saja ingin membuka pintu ruang penyimpanan obat saat gerakan kenopnya terhenti. Sepertinya masih dikunci, itu artinya Yoona yang bertugas memegang kunci ruangan belum datang.

Hebat. Seorang Kang Minhyuk yang semalam mendapat masalah karena terlambat justru datang terlalu cepat hari ini sehingga ia bahkan belum bisa untuk melakukan pekerjaan apa-apa.

Bunyi yang meraung di perut Minhyuk kemudian menyadarkannya ia tak sempat sarapan tadi pagi karena ia terlalu sok terburu-buru.

“Apa boleh buat.” Gumamnya, yang kemudian melangkahkan kaki menuju cafeteria.

“Ssaem!”

Langkah Minhyuk menjadi lebih cepat saat ia melihat Soojung tengah duduk di sebuah kursi yang ada di cafeteria, melambaikan tangan sambil mengumbar senyum ke arahnya. Untunglah, Soojung masih mau menyapanya.

“Morning!” sapa Minhyuk ceria. Ia bertaruh Soojung pasti akan senang ia menyapanya dengan bahasa inggris. Anggap saja itu hadiah untuk Soojung yang hari ini tampak manis kemeja kotak-kotaknya. Dan poin plus untuk rambut Soojung yang dikuncir rapi hari ini.

“Joheun achim.” Soojung menjawab dengan bahasa korea, membuat Minhyuk sedikit merasa malu.  Namun Soojung kemudian tertawa dan membalas dengan bahasa Inggris. “Haha.. Morning, Doctor. Haven’t eaten yet?”

“Eo?” Minhyuk mengerutkan keningnya. Sepertinya Soojung berkata dengan terlalu cepat, makanya ia tak bisa menangkap maksudnya.

“Ssaem belum sarapan?” Soojung mengulangi dengan bahasa Korea yang langsung dijawab Minhyuk dengan gelengan.

“Belum. Kau? Sudah sarapan?”

“Sudah.” Soojung kemudian menepuk-nepuk kursi di sampingnya. “Ssaem pesan makanan dulu, lalu duduk disini. Aku akan menemani ssaem sarapan. Hmm.. Kalau boleh?” Soojung kemudian terdengar ragu. Ia sendiri heran kenapa ia bisa segampang itu menawarkan diri untuk menemani Minhyuk. Bagaimana kalau Minhyuk ternyata sudah punya pacar?

“Call!” Minhyuk tersenyum senang sambil mengacungkan jempolnya sebelum beranjak pergi untuk memesan makanan. “Tunggu disini, ya..”

Soojung ikut mengacungkan jempol sambil mengangguk. Ia kemudian memandangi Minhyuk yang tampak bingung memesan menu dari kejauhan, dan seulas senyum terlukis di wajah pucatnya.  Soojung kemudian memejamkan matanya—ia suka melakukan ini jika sedang memikirkan sesuatu.

Minhyuk memang tampan, tinggi, dan berkepribadian unik. Dia juga seorang dokter! Tapi Soojung tahu bukan itu yang membuatnya tertarik pada Minhyuk. Mungkin karena Minhyuk adalah satu-satunya orang yang..

“Soojung-ah!” Soojung kemudian tersadar dari lamunannya saat Minhyuk tiba-tiba mengejutkannya.

“Ah, kamjjak!” Soojung mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal. Namun itu malah membuat Minhyuk semakin gemas melihatnya, tanpa ia tahu. “You scared me, Ssaem!”

“Haha.. Sorry.. Sorry..” Minhyuk meletakkan nampan berisi makanannya sambil duduk di samping Soojung. “Ah, ada yang membuatku penasaran dari kemarin. Kenapa bahasa Inggrismu bagus sekali?”

“Aku lahir di San Fransisco dan menetap beberapa tahun disana. Jadi ya aku menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari.”

Minhyuk mengangguk-angguk mengerti sambil kemudian menyendok sundubu jjigaenya dan melahapnya perlahan. Satu fakta telah ia dapatkan dari Soojung. Tinggal fakta yang lainnya.

“Kau lahir tahun berapa?” Minhyuk secara tak sengaja bertanya langsung ke poinnya, bahkan tanpa basa-basi apapun.

“94.” Jawab Soojung. “Ssaem pasti lebih tua dariku, kan?”

“Haha. Tentu. Aku lebih tua tiga tahun darimu.” Minhyuk meneguk air putihnya sambil berpikir sejenak. Apa wajar jika ia langsung meminta Soojung memanggilnya Oppa?

“Aku boleh.. memanggil ssaem… oppa?” Soojung merangkai kalimatnya dengan hati-hati. Ia tak mau terdengar kurang ajar, namun ia sangat ingin semakin akrab dengan Minhyuk.

“Boleh!” Minhyuk menjawab bahkan saat ia belum menenggak total air mineralnya, membuatnya hampir saja batuk-batuk dan mempermalukan diri di depan Soojung. “Tidak apa-apa, jika kau mau. Lagipula tadi aku memanggilmu dengan sebutan Soojung-ah. Apa kau keberatan?”

“Tidak,” Soojung tersenyum, dan lagi-lagi Minhyuk seolah tersihir. Tiba-tiba mata Soojung menangkap sesuatu yang membuatnya merasa ia harus cepat-cepat pergi. Ia kemudian segera berdiri.

“Kau mau kemana, Soojung-ah?” tanya Minhyuk bingung.

“Aku.. harus pergi. Temanku sepertinya sedang mencariku. Nanti aku akan menemuimu lagi. Annyeong, Minhyuk oppa!”

Minhyuk baru saja ingin menahan Soojung saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Minhyuk menoleh kaget dan mendapati seseorang itu adalah Jonghyun.

“Ah, kau. Mengagetkanku saja!” Minhyuk kemudian mencari-cari lagi Soojung, namun ia sudah tak terlihat. Minhyuk hanya ingin meminta nomor handphone atau ID KakaoTalknya agar mereka tak perlu mengandalkan takdir lagi jika ingin bertemu selanjutnya.

“Kau, sih.. Makan sendiri tanpa mengajakku. Aku juga belum sarapan, tahu!” Jonghyun duduk di hadapan Minhyuk, namun temannya itu tak sedikitpun memperhatikannya. Minhyuk masih tampak sibuk mencari-cari sesuatu. “Hey, hey. Kau mencari apa, sih?”

“Itu.. Gadis yang kuceritakan kemarin padamu. Tadi dia disini menemaniku makan.” Minhyuk akhirnya menyerah dan duduk untuk menghabiskan sarapannya.

“Jinjja?” Jonghyun terdengar takjub. “Ah, sayang sekali aku tidak sempat melihatnya.”

Minhyuk mengernyit. “Masa kau tidak melihatnya? Kalian hanya berselisih beberapa detik.” Dalam hati Minhyuk bersyukur Jonghyun tak sempat berpapasan dengan Soojung. Akan sangat bahaya jika dia juga menaruh hati pada si senyum magis.

“Entahlah.” Jonghyun mengedikkan bahu sambil menyantap makanannya. “Lain kali kau harus benar-benar mengenalkanku padanya.”

“Eung..” Jawab Minhyuk acuh tak acuh. Lebih baik Jonghyun tak usah mengenal Soojung, ujarnya dalam hati.

***

3 Months Later

Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Minhyuk. Profesor Han akan mencabut hukumannya—setelah tiga bulan, jauh dari yang dikatakan Yoona waktu itu—dan itu artinya ini adalah hari pertamanya bekerja di departemen Bedah Jantung. Lagi-lagi Minhyuk datang lebih pagi dari biasanya, karena ia ingin membagi momen membahagiakan itu dengan Soojung—yang sudah menjadi bagian dari hidupnya sekarang ini.

Setiap hari Minhyuk selalu menyempatkan diri untuk sarapan dengan Soojung, sesibuk apapun ia. Begitu juga dengan makan siang dan makan malam.  Jika ia ada waktu, ia dan Soojung akan berkeliling rumah sakit dan berbagi cerita menarik. Terkadang mereka memesan ayam dan memakannya di atap rumah sakit sambil menikmati pemandangan kota Seoul di malam hari dari sana, walaupun mereka harus melakukannya diam-diam agar tak ada orang yang melihat mereka.

“Ada apa, oppa? Kenapa kau senang sekali hari ini?” Soojung mengernyit heran saat Minhyuk menyeretnya menuju pintu rumah sakit.

“Benar. Akhirnya Han gyosoonim mencabut hukumanku. Itu artinya aku akan benar-benar bekerja di departemen bedah jantung!” Minhyuk berseru senang.

Ya, ia memang menceritakan semuanya pada Soojung. Ia tak mau menyembunyikan kebohongan sekecil apapun pada Soojung, karena ia rasa ia benar-benar serius pada gadis yang ternyata mampu mencuri hatinya lewat senyum magis itu.

“Jeongmal? Chukhahae, oppa!” Soojung tampak senang, ia bahagia akhirnya Minhyuk akan benar-benar menjadi seorang ‘dokter’. Namun ia menghentikan langkahnya dan menarik tangan Minhyuk untuk juga menghentikannya. “Tapi.. kau mau membawaku kemana?”

“Aku akan mentraktirmu sarapan di luar. Aku tahu tempat yang menjual Seolleongtang terenak di dunia!”

Soojung tak bergeming saat Minhyuk menariknya lagi. Ekspresinya tidak terlihat begitu bagus.

“Kenapa?” Minhyuk tampak khawatir. Ia meneliti raut wajah Soojung yang susah ditebak. “Kau.. tidak suka Seolleongtang? Ah, baiklah. Kau mau makan apa?”

Soojung menggelengkan kepalanya. “Aku.. tidak lapar.” Ia kemudian menatap wajah Minhyuk yang tadi tampak begitu bersemangat namun kini berubah khawatir. “Lagipula.. aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit.”

“Kena—ah. Temanmu?” tebak Minhyuk.

“Ne. Ia bisa membutuhkanku sewaktu-waktu.” ujar Soojung. Ia menggenggam tangan Minhyuk sambil kemudian tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, kan?”

Minhyuk tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ia mengelus rambut Soojung lalu kemudian mencubit pipinya gemas. “Apapun yang tuan putri mau, aku akan turuti.” Minhyuk tertawa pelan melihat Soojung yang tersipu karena ia memanggilnya tuan putri.

“Aku lapar. Menemaniku sarapan seperti biasanya?”

“Sure!” Soojung tertawa sambil menarik tangan Minhyuk dan membawanya menuju cafeteria.

***

“Yoona-sshi, sudah kuduga ada yang aneh.” Jonghyun berbisik pada Yoona yang ada di sampingnya. Mereka kini tengah berdiri di balik sebuah pilar besar di dekat pintu rumah sakit, mengamati Minhyuk yang kini sedang tertawa dari kejauhan. Yang aneh adalah ia sedang berdiri sendiri, dan ia tidak sedang menelepon atau apa.

“Iya, seonsaengnim benar.” Yoona menggelengkan kepalanya tanda prihatin. Ia memandangi punggung Minhyuk yang berjalan menjauh dengan langkah ringan. “Awalnya aku juga merasa aneh. Kang seonsaengnim sering tertawa sendiri di taman rumah sakit. Aku juga pernah melihatnya berbicara sendiri saat berjalan di koridor dekat ruang penyimpanan. Apa dia..” Yoona terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. ‘Gila’ atau ‘Kurang waras’ sepertinya kurang sopan.

“..Tidak. Bertahun-tahun aku mengenalnya, dia baik-baik saja.” Jonghyun mengusap lehernya yang mendadak terasa dingin. “Dia tidak pernah mengkhayal berlebihan atau apa. Tapi kali ini sudah kelewatan.”

Yoona mengangguk paham. Berarti bukan karena Minhyuk menderita personality disorder atau semacamnya. Pasti ada sesuatu yang aneh. Dan Yoona merasa ia takkan tahan untuk tinggal diam.

***

Minhyuk menghela nafas panjang sekeluarnya ia dari ruangan dokter kepala bedah jantung, dokter Park. Ia tak menyangka ternyata menjalani kehidupan di departemen bedah jantung jauh lebih melelahkan ketimbang mengangkat kotak obat di ruang penyimpanan. Otaknya dipaksa bekerja terus menerus menganalisis kasus, dan itu membuatnya pusing.

Minhyuk dan Jonghyun adalah lulusan terbaik di universitas mereka, itu sebabnya mereka bisa menjadi resident di rumah sakit sebesar Seoul General Hospital. Tentu saja kasus-kasus sulit itu wajar, dan tugas para dokterlah untuk memecahkannya agar tahu solusi terbaik bagi pasien. Namun Minhyuk mungkin sudah terlalu lama menghabiskan waktu di ruang penyimpanan sehingga otaknya sedikit kekurangan fungsi. Ia sering blank mendadak, dan itu membuat dokter Park marah padanya.

“Aku rasa aku harus belajar lagi.” Minhyuk melangkahkan kakinya menuju perpustakaan rumah sakit yang hanya boleh dimasuki oleh dokter resident disitu. Itu sebabnya ia tak mengajak Soojung.

Namun Minhyuk hanya menggaruk-garuk kepalanya saat ia membaca buku kedokteran setebal lima belas sentimeter di hadapannya. Kenapa ia tak bisa fokus? Kenapa hanya Soojung-lah yang ada dalam pikirannya? Ia terus menerus khawatir karena Soojung tak bersamanya.

“Tidak. Aku tidak bisa begini,” Minhyuk berdiri dan mengangkat buku lima belas senti itu, lalu berjalan meninggalkan perpustakaan.

***

“Satu Americano, dan satu Café Latte.” ujar Minhyuk pada pelayan coffee shop yang ada di lantai bawah rumah sakit. Ia akhirnya menyerah, dan mengajak Soojung untuk menemaninya belajar. “Dan dua chocolate muffin,” tambahnya.

“Ne. Semuanya empat belas ribu won.” ucap sang pelayan, yang kemudian melihat ke sekeliling coffee shop—yang sudah sepi karena jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit malam—saat Minhyuk sibuk dengan dompetnya.

“Ini,” kata Minhyuk sambil menyerahkan selembar uang sepuluh ribu won dan selembar uang lima ribu won pada pelayan yang kemudian kembali ke fokusnya.

“Ne, ini kembaliannya.” Sang pelayan memberikan selembar uang pecahan seribu won pada Minhyuk sebelum akhirnya sibuk membuat pesanan Minhyuk yang masih menunggu.

“Seonsaengnim akan menghabiskan dua minuman ini sendirian?” tanya si pelayan sambil menyerahkan nampan berisi dua gelas minuman yang Minhyuk pesan, serta sebuah piring berisi dua muffin cokelat yang tampak merekah.

“Haha, tentu tidak.” Minhyuk mengangkat nampan itu sambil kemudian menunjuk Soojung yang tengah duduk menghadap keluar jendela dengan dagunya. “Dia yang akan menemaniku belajar malam ini. Minuman ini adalah imbalan untuknya.”

Si pelayan tampak mengerutkan kening, kemudian menatap Minhyuk yang hanya mengumbar senyum dan pergi menuju meja dimana Soojung telah duduk.

“Ternyata dokter memang juga manusia yang terkadang bisa terserang penyakit dan menjadi aneh.” si pelayan menggumam pada dirinya sendiri sambil menyibukkan diri dengan mesin kasirnya.

***

“Hoam..” Minhyuk menguap lebar sambil mengucek-ngucek matanya. Sepertinya ia belajar terlalu keras tadi malam hingga ia tertidur di coffee shop karena kelelahan. Sebuah senyum tersungging di bibir Minhyuk saat ia melihat Soojung masih duduk di depannya, seperti saat terakhir kali ia melihat Soojung sebelum tertidur.

“Morning,” ujar Soojung sambil tersenyum. Ia tetap duduk di hadapan Minhyuk saat Minhyuk mulai tertidur, memandangi wajah tidur Minhyuk yang sangat polos sepanjang malam. Dan ia juga sangat ingin melihat wajah Minhyuk saat baru bangun, yang ternyata jauh lebih menggemaskan dari dugaannya.

“Morning,” balas Minhyuk yang kemudian mengusap-usap wajahnya kasar. “Jam berapa sekarang?”

“Jam.. sembilan.” jawab Soojung setelah melirik jam di dinding coffee shop.

“Mwo? Jam sembilan?” Minhyuk langsung berdiri dan sibuk memakai jas dokter yang ia sampirkan di belakang kursi. “Kenapa kau tidak membangunkanku? Aku terlambat!”

“Maaf,” Soojung ikut berdiri. “Aku tidak tega membangunkanmu. Kau belajar sangat keras tadi malam jadi..” Soojung menghentikan kalimatnya saat ia menyadari sepasang mata memperhatikan mereka—lebih tepatnya memperhatikan Minhyuk dari kejauhan.

“Maaf, Soojung-ah. Aku pergi dulu. Nanti kita bertemu lagi saat makan siang! Annyeong!” Minhyuk mengangkat bukunya kemudian melesat pergi meninggalkan Soojung yang masih berdiri terpaku di tempatnya, menyadari ia telah melakukan sebuah kesalahan besar.

***

One Week Later

Minhyuk tak fokus pada pekerjaannya. Sesuatu mengganjal di pikirannya, Soojung. Semenjak kejadian coffee shop itu, sikap Soojung berubah. Soojung hanya akan diam saat menemani Minhyuk sarapan, dan ia juga tak bersemangat saat Minhyuk menceritakan hal yang lucu padanya.

Berjam-jam Minhyuk memikirkan alasan apa yang tepat bagi Soojung untuk bersikap seperti itu padanya. Dan kemudian dia sadar akan sesuatu.

“Apa karena aku tidak mengatakan apapun padanya, walaupun kami sudah sangat dekat?” Mata Minhyuk berbinar-binar, ia merasa pemikirannya ini benar-benar tepat. “Apa dia ingin aku memperjelas hubungan ini?”

***

Minhyuk langsung melesat keluar dari rumah sakit sedetik setelah jam kerjanya berakhir. Tidak ada operasi atau apa malam itu hingga ia memiliki waktu bebas. Minhyuk langsung menuju ke sebuah toko bunga yang berjarak satu blok dari rumah sakit, dan membeli sebuket bunga mawar yang cantik.

“Untuk pacar seonsaengnim?” tanya ahjumma penjual bunga. Ia memang tahu Minhyuk adalah seorang dokter dari jas dokter yang ia kenakan. Ya, Minhyuk bahkan belum sempat melepas jas dokternya karena ia ingin menghemat waktu.

“Ya.. begitulah.” Minhyuk tersipu sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Ia kemudian keluar dari toko bunga dan menuju sebuah gift shop yang kebetulan berada persis di samping toko bunga itu. Ia kemudian menimbang-nimbang dan akhirnya memilih sekotak lilin berisi seratus batang lilin kecil.

Tak menghabiskan waktu, ia berlari menuju rumah sakit segera setelah ia membayar. Setiap langkah yang ia ambil maka semakin gugup pula ia. “Semoga Soojung suka dengan semua ini.” Doanya dalam hati.

***

“Oppa? Kau mau membawaku kemana?” tangan Soojung menggapai-gapai di udara karena ia tak bisa melihat apapun. Minhyuk yang ia jumpai di cafeteria tadi tiba-tiba menariknya dan menutup mata Soojung dengan kedua tangannya sambil menuntunnya berjalan.

“Rahasia. Sebentar lagi sampai.”

Minhyuk tersenyum saat mereka telah tiba di atap rumah sakit. Ia membuat Soojung berdiri tepat di depan lilin-lilin berbentuk love yang telah ia susun dan hidupkan sebelum ia menjemput Soojung.

“Tetap tutup matamu dan hitung sampai tiga,” kata Minhyuk sambil perlahan melepas tangannya dari mata Soojung.

“Eung?” Soojung terlihat bingung, namun ia menuruti kata-kata Minhyuk. “Satu..”

Minhyuk berlari ke tengah-tengah lilin-lilin itu sambil kemudian mengambil buket mawar ia letakkan di lantai.

“Dua..”

Minhyuk menelan ludahnya, berusaha bersikap normal. Ia harus berhasil dengan rencana ini. Soojung harus menerima pernyataan cinta darinya.

“Tiga.” Soojung membuka matanya dan langsung terkesiap melihat apa yang ada di hadapannya. Ia membekap mulutnya, tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya melihat event seperti ini di drama-drama, bukan di kehidupan nyata!

“Jung Soojung.. Aku.. mencintaimu.”

Minhyuk tersenyum sambil menyodorkan buket mawarnya pada Soojung. “Do you wanna be my girlfriend?” kata-kata dalam bahasa Inggris itu entah mengapa mengalir lancar dari bibir Minhyuk yang biasanya canggung berbahasa Inggris.

Ekspresi Soojung berubah. Minhyuk jujur saja tak mengharapkan ekspresi sedih di wajah Soojung. Namun malah ekspresi itu yang tergambar sekarang.

“Soojung-ah?” Minhyuk melangkah mendekati Soojung, namun Soojung malah melangkah mundur—menjauhkan dirinya dari Minhyuk.

“Jangan.” Tangan Soojung mengisyaratkan agar Minhyuk tak mendekatinya. “Jangan..” Suara Soojung terdengar bergetar. Minhyuk semakin bingung, apa yang terjadi pada Soojung?

“Soojung-ah!” Minhyuk tetap melangkah, namun langkahnya terhenti saat melihat air mata mengalir dari sudut mata Soojung. Sesuatu yang tidak beres benar-benar terjadi saat ini.

“Aku.. tidak bisa.” Soojung melangkah mundur lagi, membuat jaraknya dan Minhyuk menjadi semakin jauh. “Aku harus.. pergi.”

I should go, I should hurry up and go
Or else my lingering feelings will be tears
I should hurry up and go so I can’t see you left behind

Minhyuk merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Ia merasakan sakit yang amat sangat saat melihat Soojung melangkah menjauh. Ia bukan tipe lelaki cengeng yang akan menangis hanya karena satu adegan dalam film sedih tapi kali ini ia benar-benar tak bisa menahan ledakan perasaan di dalam dadanya.

“Soo..jung..” ia memanggil nama Soojung perlahan, mencoba menahan air matanya. Namun gadis itu malah membalikkan badan, memunggungi Minhyuk.

It’s crying, the leaving love is
The sadness filled up and poured out
It’s hard to even walk a step
So I turn around and just cry standing

Langkah Soojung terhenti. Ia merasa tak kuat bahkan hanya untuk berjalan satu langkahpun. Ia tak tahan untuk tak menangis, hingga akhirnya ia hanya membiarkan air matanya jatuh membasahi pipinya.

Semuanya begitu indah, terasa seperti mimpi. Ia sangat mencintai Minhyuk, dan jika situasinya berbeda ia pasti akan langsung menghambur ke arah Minhyuk dan memeluknya erat sambil berbisik “Yes, I do.” Namun ia tahu, keadaannya takkan mengizinkan ia berbuat seperti itu walaupun ia sangat ingin.

“Jangan, Soojung. Kau tahu.. Kau tidak bisa.” Soojung bergumam pada dirinya sendiri, masih tenggelam dalam tangisnya. “Perpisahan dapat datang kapan saja. Kau tahu itu.” Soojung semakin terisak, merasakan sakit yang menggebu di dalam dadanya.

Minhyuk hanya memandangi punggung Soojung, dan itu memberikannya rasa sakit yang baru lagi. Kenapa ia baru sadar punggung gadis itu terlihat rapuh? Seolah-olah ia bisa jatuh kapan saja, dan ia sedang menunggu seseorang untuk memeluknya.

Namun Minhyuk tak bisa menggerakkan kakinya. Ia tak mau Soojung semakin menjauhinya jika ia memutuskan untuk menghampiri dan memeluk Soojung. Namun demi Tuhan, ia sangat ingin memeluk gadis itu erat dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya, tanpa bertanya ada apa dengannya sebenarnya.

“Jangan.. mencintaiku.”

Don’t fall in love, break-up always comes along
It hurts so much that you can’t breathe
I thought that forgetting would hurt just as much as love
I thought it could happen but
No, it hurts a thousand times more

Kata-kata itulah yang terucap dari bibir Soojung yang kemudian berlari meninggalkan Minhyuk menuju tangga. Minhyuk berusaha mencerna kata-kata Soojung, namun nihil. Ia tak dapat mengerti kenapa Soojung berbicara seperti itu.

“Soojung-ah!” Minhyuk berlari menuju tangga, berniat mengejar Soojung namun gadis itu sudah tak terlihat. Kaki Minhyuk melemas, ia berjalan kembali menuju atap dan kemudian duduk di pembatasnya. Ia membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya, membiarkan air matanya mengalir jika memang ia tak bisa lagi menahannya.

Soojung adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Minhyuk jatuh cinta pada pandangan pertama, dan jatuh cinta lagi berkali-kali pada pandangan kedua, ketiga, bahkan hingga saat terakhir ia melihat Soojung.

Ia tak ingin melepaskan Soojung. Ia ingin hari-harinya selalu ia lalui bersama Soojung, seperti yang mereka lakukan beberapa bulan terakhir ini, bahkan ia ingin lebih dari itu. Namun sepertinya Soojung tak merasakan hal yang sama dengannya.

Tes.. Tes..

Langit sepertinya turut bersedih atasnya dan Soojung, terbukti dengan tetesan air yang kini perlahan jatuh membasahinya. Minhyuk tak berniat untuk bergerak, walaupun tetesan hujan semakin deras menerpanya. Tetes hujan itu mengenai lilin-lilin yang Minhyuk susun, memadamkannya dalam sekejap. Begitu juga dengan buket mawar yang Minhyuk letakkan begitu saja di sampingnya.

Rasa sakit dalam dada Minhyuk semakin bertambah. Bahkan terasa sesak hanya untuk bernafas. Ia tak tahu seseorang yang baru dikenalnya selama beberapa bulan dapat membuatnya merasakan sakit seperti itu, namun ia tak peduli lagi.

***

 

 

 

 

 

13 thoughts on “[Two-Shots] Don’t Love Me (Part 1)

  1. Wow keren thor ff nya…
    Ceritanya tak terduga, bikin penasaran dan jadinya nebak-nebak😀
    Aku kira awalnya Soojung itu bukan arwah, tp orang yg punya penyakit jantung😀
    Atau jangan-jangan Soojung itu sebenernya msh ada tp koma di RS itu .___.
    Duhhh penasarannnnnn, ditunggu lanjutannya loh thor😀

  2. ceritanya aku suka, feel nya juga dpet
    waktu awal pertemuan minhyuk krys sama minhyuk jg aku udh ngerasa kalao soojung bukan manusia biasa/?
    dia roh atau apa? aaaaa buat aku penasaran ><
    udah dilanjut kah? smoga sudah, kalau gitu aku mau ubek2 kelanjutannya yaaaa xD
    Semangat thor!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s