30 DAYS CUPID [Chap. 9]

30 DAYS CUPID

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship, Romance||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC) Jeon Junmi, (BTS) Suga/Yoongi, (A-Pink) Bomi, (BAP) Youngjae, (OC) Gu Sonsaengnim||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog|Chp.1|Chp.2|Chp.3|Chp.4|Chp.5|Chp.6|Chp.7|Chp.8>>Chp.9

HAPPY READING \(^O^)/


Jungkook merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya. Sejak ia tahu target terakhirnya adalah Taehyung dan Shina, entah kenapa… ada sebagian dari dirinya yang merasa tidak rela. Lucu? Iya! Terlebih, ia sendiri tidak tahu dia merasa tidak rela karena alasan apa?

Karena Taehyung!?

Tidak mungkin!

Pertama, dia menyukai Taehyung, tapi hanya sebagai sahabat.

Kedua, Jungkook bukan homo!

Jadi, tidak mungkin ia merasa tidak rela karena Taehyung akan ia jodohkan dengan Shina. Tapi, kenapa perasaan tidak rela itu ada, hah!? Apa mungkin karena… Oh Shina!?

Hahaha… itu lebih mustahil lagi!

Jelas-jelas Jungkook tidak menyukai gadis itu. Dulu, ia bahkan menyuruh Shina untuk berhenti menyukainya—dan karena itu ia harus menjalankan hukuman ini. Ya, tapi Jungkook mengakui kalau sekarang… ia tidak begitu merasa kesal lagi setiap berada di dekat gadis itu sejak kejadian di hutan beberapa hari yang lalu.

Hanya saja… Jungkook masih bingung. Apa yang membuatnya merasa tidak rela dengan fakta bahwa ia harus menjodohkan Taehyung dengan Shina?

Apa?

“Hei! Kenapa kenapa kau hanya memandangi makananmu seperti itu?” tegur Taehyung, menyadari Jungkook yang sedari tadi sama sekali belum mencicipi gimbap yang baru saja dipesannya pada ajumma penjaga kantin sekolah.

Jungkook terkesiap, lalu mengulum senyum salah tingkah pada Taehyung. “Ti-tidak. Tidak apa,” sahutnya. Buru-buru ia menyumpitkan sepotong gimbap ke dalam mulutnya.

Taehyung menggidikkan bahunya. Cuek dengan sikap aneh Jungkook beberapa saat lalu. “Oh, ya, Jungkook-ah. Apa kau merasa kalau belakangan ini… beberapa sunbae yang cukup populer di sekolah sudah mulai pacaran?”

“Memangnya kenapa?” Jungkook tidak mengerti arah pembicaraan Taehyung.

“Tidak apa-apa. Tapi, aku merasa aneh karena waktunya berdekatan. Pertama, Nickhun Sunbae, mantan ketua OSIS, dan Tiffany Sunbae, lalu Baekhyun Sunbae, ketua klub vocal, dan Taeyeon Sunbae, mantan ketua klub vocal, kemudian Jimin Sunbae, ketua klub dance, dan Hara Sunbae, ketua klub sains, dan terakhir, Namjoon Sunbae, senior tergalak di sekolah, dan gadis-kutu-buku-yang-aku-lupa-namanya…”

“… Gyeoul Sunbae!?” celetuk Jungkook.

“Ya, itu maksudku,” ucap Taehyung membenarkan. “Apa kau merasa tidak aneh? Mereka seperti janjian untuk jadian di dalam waktu yang dekat,” analisis Taehyung.

Tentu saja mereka jadian di dalam waktu yang dekat. Nickhun-Tiffany dan Baekhyun-Taeyeon itu kan target dari Hoseok. Lalu, Jimin dan Namjoon, mereka adalah target Jungkook. Kalau mereka jadian pada waktu yang berdekatan, itu karena ulah Hoseok dan juga Jungkook yang menjalani hukuman di waktu yang nyaris bersamaan—meski Hoseok lebih dulu.

“Tidak ada yang aneh dengan hal itu, Taehyung-ah,” bantah Jungkook. “Kalau mereka jadian di waktu yang berdekatan, ya… mungkin saja itu hanya kebetulan,” tambahnya, lantas menyuapkan gimbap ke-3 ke dalam mulutnya.

Taehyung mengembuskan napas. “Iya, juga. Tapi…, aku merasa aneh saja.”

“Kau memang selalu merasa aneh karena kau alien, kan!?” canda Jungkook, berhasil membuatnya mendapat tatapan tajam dari Taehyung.

“Enak saja kau bicara!” tegur pemuda berambut light caramel itu.

“Lagi pula, untuk apa kau memikirkan hal itu, hah!?” Jungkook menatap Taehyung.

Pemuda yang ditanya lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu berkata, “Tidak apa-apa. Tapi…, aku merasa kalau… aku juga ingin seperti mereka.”

Jungkook nyaris tersedak gimbap karena berusaha menahan tawanya. “Maksudmu… kau juga mau punya kekasih?” tanyanya.

“Ya.”

Pemuda berambut merah marun itu tertawa samar. Sabarlah, Taehyungie. Sebentar lagi kau akan memiliki kekasih.

“Menurutmu, apa aku cukup menarik, Jungkook-ah?” tanya Taehyung, lantas memperbaiki posisi duduknya. Entahlah. Mungkin ingin disebut menarik atau apapun, pemuda itu kemudian menunjukkan senyum lebarnya pada Jungkook.

Jungkook tidak bisa lagi menahan tawanya. Oke. Ini lucu. Ah, tidak! Ini terlalu lucu baginya.

“Hei! Kenapa kau malah tertawa, Kookie?” kesal Taehyung.

“Aku… hehehe… aku… aish.” Jungkook belum mampu mengendalikan tawanya. “Ah, beri aku waktu sebentar.”

Dan Jungkook masih tertawa. Jujur saja, Taehyung ingin sekali memukulnya, paling tidak memarahinya. Memangnya apa yang lucu dari keinginannya untuk memiliki kekasih? Justru yang aneh adalah Jungkook! Kenapa pemuda itu sama sekali tidak punya perasaan suka sedikit pun kepada seorang gadis di usianya yang menginjak remaja akhir. Seharusnya Jungkook menertawai dirinya sendiri, bukannya menertawakan Taehyung.

“Sudah puas ketawanya?” tanya Taehyung agak galak setelah melihat Jungkook sudah bisa meredakan tawanya.

Jungkook mengangguk—masih tertawa samar. Mengembuskan napas. “Oke. Oke. Maafkan aku, Taehyungie.”

Taehyung mendengus.

Jungkook berdehem. “Lalu…, gadis seperti apa yang kau inginkan untuk menjadi kekasihmu, hm?” tanya pemuda itu, pura-pura tertarik dengan topik yang ingin dibahas Taehyung. Ya, siapa tahu saja lewat pembicaraan ini ada sesuatu yang bisa lebih memudahkan Jungkook untuk menyelesaikan misi terakhirnya.

Taehyung mengelus-elus dagunya, sedang berpikir, ceritanya. “Hmm… sebenarnya, aku punya 1 keinginan, Jungkook-ah. Aku mau cinta pertamaku yang jadi kekasih dan juga istriku nantinya.”

Pemuda berambut merah itu mengangguk. Well, meski terdengar sederhana, tapi keinginan Taehyung cukup sulit. Ayolah. Berpacaran dengan cinta pertama, tidak semua orang bisa merasakannya!? Bukankah pacar pertama belum tentu cinta pertama? Banyak orang yang seperti itu.

“Hmm… kalau bisa, sih. Aku ingin gadis yang berwajah imut,” lanjut Taehyung kemudian. Lagi Jungkook mengangguk. Shina masuk dalam kriteria gadis berwajah imut, bonusnya, Shina juga manis. Tapi, tentang masalah cinta pertama…, Jungkook tidak yakin Shina adalah cinta pertama Taehyung. Lagi pula, Jungkook juga tidak yakin apakah Taehyung punya perasaan khusus terhadap Shina, meski Taehyung beberapa kali mengatakan Shina itu manis. “Bagaimana denganmu, Jungkook? Seperti apa gadis yang kau inginkan.”

Mendapat pertanyaan seperti itu, Jungkook mengalihkan pandangannya dari Taehyung. Tapi, bukan Taehyung namanya kalau tidak mengerti arti dari sikap yang ditunjukkan Jungkook.

“Ayolah, Buddy. Aku yakin suatu hari nanti kau akan menyukai seseorang, meski sekarang kau selalu berpaling dari gadis-gadis yang menyukaimu. Aku cuma ingin tahu gadis seperti apa yang menarik perhatianmu.”

Jungkook melihat ke arah Taehyung. “Tidak ada!” tegasnya.

Taehyung mengembuska napas. “Benarkah? Tidak ada 1 pun gadis yang bisa menarik perhatianmu, hah? Bagaimana dengan gadis seperti Junmi Noona? Atau—Hei! Bukankah dulu kau juga penasaran dengan Hara Sunbae?”

Jungkook memutar kedua bola matanya jengah. “Dengar ya, Kim Taehyung. Tidak ada gadis yang menarik perhatianku. Gadis seperti Junmi Noona itu tidak ada karena aku yakin orang yang seperti Junmi Noona hanya 1, hanya Junmi Noona itu sendiri. Dan untuk masalah Hara Sunbae, aku tidak menyukainya. Waktu itu aku hanya iseng bertanya tentangnya, paham?”

“Jadi…, kau benar-benar yakin tidak ada 1 orang gadis pun yang bisa menarik perhatianmu?” tanya Taehyung agak hati-hati.

Jungkook mengangguk mantap.

“Bagaimana dengan Shina?”

Pemuda itu tiba-tiba saja terbatuk mendengar nama gadis itu disebut. Ia lantas berdehem, lalu berkata, “Shina sama sekali tidak menarik perhatianku!”

“Benarkah? Tapi…, kuperhatikan sejak kejadian di hutan itu, kau sudah… lebih bersikap baik pada gadis itu. Apa… itu bukan tanda kalau kau—”

“Aku baik padanya karena dia sudah menolongku. Itu saja,” potong Jungkook. “Sudahlah. Jangan bahas hal ini lagi. Tidak menarik,” kesal Jungkook, lalu memenuhi mulutnya dengan gimbap.

Dia benar-benar tidak mau membicarakan tipe-gadis-yang-menarik-perhatiannya.

@@@@@

Diskon komik!

Kalau bukan karena hal itu, Jungkook dan Taehyung tidak mungkin berada di sebuah toko buku yang terletak di dalam sebuah mall yang tidak jauh dari sekolah. Kedua pemuda itu terlihat berdiri di depan rak komik diskonan, sibuk memilih komik apa yang harus mereka beli dengan harga yang lebih murah dari harga normal.

“Kendaichi ini diskon. Yang ini juga. Aduh, aku harus beli yang mana!?” Taehyung dilema.

“Beli dua-duanya saja. Biasanya kau juga beli banyak kan kalau ada diskon!?” ujar Jungkook.

Taehyung menoleh ke arah Jungkook. “Kali ini aku mau berhemat. Aku harus membeli 1 atau 2 saja. Tidak boleh lebih dari itu. Aku harus hemat.”

Pemuda berambut merah marun itu terkejut. Taehyung rela menghemat uangnya meski ada diskon komik. Oke, itu hal yang sangat langka terjadi. Biasanya, jika ada diskon, Taehyung adalah orang yang paling kalap menghabiskan uangnya. Pernah, pemuda itu sampai membeli 10 buah komik dalam 1 hari.

Jungkook tidak membalas. Memilih melihat-lihat komik yang pas dengan sisa uang jajannya hari ini. Sementara Taehyung semakin bingung memutuskan pilihan setelah ia lagi-lagi menemukan seri yang belum ia punya dari komik koleksinya. Hah, benar-benar penyiksaan batin bagi orang maniak komik seperti Taehyung.

Hampir setengah jam kemudian, Jungkook dan Taehyung keluar dari toko buku. Dan kali ini, Taehyung benar-benar menepati ucapannya. Dia… hanya membeli 1 dari 5 buah komik yang bisa saja dibelinya kalau dia tidak sedang berhemat.

“Tumben kau hanya membeli 1 komik,” celetuk Jungkook memulai pembicaraan. Keduanya kini berjalan-jalan di dalam mall, belum mau pulang ke rumah.

Taehyung mengembuskan napas berat seolah ada beban yang keluar seiringi dengan embusan napasnya itu. “Aku kan sudah bilang padamu, kali ini aku harus hemat, Jungkook,” balasnya.

“Memangnya kenapa kau mau menghemat uangmu, hah!? Sudah sadar kalau menghemat itu penting untuk masa depan?” Jungkook lalu terkekeh.

“Bukan begitu, tapi…” Taehyung menggantungkan kalimatnya.

“Tapi apa?” tanya Jungkook penasaran.

“Ada sesuatu yang lebih penting yang harus aku biayai.”

Jungkook kemudian tertawa samar. “Apa, hah!? Apa yang lebih penting dari komik?”

“Pokoknya ada. Tapi, aku tidak mau memberitahumu!” kata Taehyung.

“Sekarang kau main rahasia-rahasiaan padaku, hah!?” ucap Jungkook kemudian.

Taehyung melirik pemuda itu sekilas. “Bukannya kau juga sering seperti itu padaku!?” bantahnya. Jungkook mendengus, tidak berniat membalas ucapan Taehyung.

Kedua pemuda itu masih berjalan-jalan di sekitar mall. Menyegarkan pikiran setelah berjam-jam berkutat dengan pelajaran di sekolah. Sesekali mengobrol atau sekedar melihat-lihat barang yang dipajang di bagian depan toko.

“Hei! Kau mau mampir di situ?” tanya Jungkook, menunjuk ke arah sebuah foodcourt yang berada di dekat eskalator. Melihat gelagat Taehyung yang hendak menolak—mengingat ia sedang berhemat, Jungkook langsung berkata, “Aku yang traktir!”

“Baiklah kalau begitu!” seru Taehyung cepat.

Jungkook dan Taehyung lantas mengayunkan langkah menuju foodcourt. Masuk ke dalam tempat yang cukup cozy itu, lalu duduk di tempat yang tidak jauh dari pintu masuk. Setelah meletakkan tasnya di kursi, Jungkook beranjak memesan makanan ringan dan minuman untuk dia dan Taehyung yang menunggu di meja.

“Selamat datang. Mau pesan apa?” tanya kasir yang merangkap pelayan. Berdiri di balik meja panjang yang membatasi ia dan Jungkook.

Jungkook mendongakkan sedikit kepalanya, melihat ke arah neon box yang terpajang pada dinding di belakang sang pelayan, bertuliskan menu yang dijual di tempat ini. “Eumm… kentang goreng 2 dan cola 2,” sahut Jungkook.

“Baik. Mohon tunggu sebentar,” kata sang pelayan, lalu bergerak membuat pesanan Jungkook.

Sembari menunggu, Jungkook iseng membaca kembali deretan menu pada neon box. Tidak lama kemudian, seseorang menepuk pelan bahunya.

“Jungkook-ssi~” sapa orang tersebut.

Jungkook menoleh, agak terkejut. “Ah, Bomi-ssi,” gumamnya, sedikit mengulum senyum. “Sedang apa di sini?” tanya Jungkook.

“Ah, itu. Aku sedang menemani Shina melihat-lihat sepatu,” Bomi melihat ke arah meja dimana Shina berada—meja tempat Taehyung menunggu—diikuti Jungkook yang melihat ke arah yang sama, “Tapi, kami mampir di sini sebentar sebelum pulang. Tidak tahunya ada kau dan juga Taehyung~” jelas Bomi.

Pemuda berambut merah marun itu hanya mengangguk sebagai respon atas penjelasan panjang Bomi. Ia lantas kembali melihat ke arah Taehyung dan Shina yang duduk bersebelahan di meja sana. Entah apa yang dikatakan Taehyung, tapi Jungkook melihat Shina tertawa. Keduanya terlihat saling merasa nyaman berada di dekat masing-masing, tapi—hei! Kenapa perasaan itu muncul lagi? Perasaan tidak rela yang juga muncul saat pertama kali Jungkook tahu bahwa Taehyung dan Shina adalah target terakhirnya.

Apa mungkin…

“Ini pesanan Anda. 2 kentang goreng dan 2 cola.” Ucapan sang pelayan sontak membuat Jungkook mengalihkan pandangannya dari meja Taehyung dan Shina.

“Ah, iya, berapa?” tanya Jungkook agak salah tingkah. Terlebih, ada Bomi yang juga memperhatikannya. Ah, semoga saja Bomi tidak menyadari kalau tadi Jungkook melihat ke arah pasangan di meja sana.

“38.000 won,” jawab si pelayan.

Jungkook lantas mengeluarkan sejumlah uang dari dompet merahnya, menyerahkan uang tersebut kepada si pelayan. Sesaat kemudian, ia mengangkat nampan dari plastik yang terdapat pesanannya.

“Bomi-ssi, aku ke sana duluan,” katanya, lantas beranjak menghampiri Taehyung dan Shina.

Jungkook merasa ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya ketika dirinya semakin mendekat dengan tempat yang ia tuju. Seperti ada sesuatu yang membuatnya salah tingkah, tapi ia sendiri tidak tahu apa. Ingin menjauh, tapi… itu tidak mungkin.

“Ah, akhirnya Jungkook datang,” seru Taehyung.

Jungkook mengulum senyum ketika ia bertemu mata dengan Shina. Begitu pun gadis tersebut, mengukir senyum yang menambah manis wajahnya. Pemuda itu meletakkan nampan di atas meja, menyerahkan 1 porsi kentang goreng dan 1 cola untuk Taehyung, sementara yang 1 lagi miliknya. Ia kemudian duduk di kursinya, kursi yang berhadapan dengan Taehyung.

“Terima kasih, Jungkook-ssi. Aku makan, ya~” ucap Taehyung, kemudian mengambil sebatang kentang gorengnya. Lagi, Jungkook tersenyum sebagai balasan dari kalimat Taehyung. “Kau mau, Shina?” Taehyung menawarkan kentang gorengnya pada gadis manis di sebelahnya.

“Ah, tidak usah. Aku tunggu Bomi saja,” tolak Shina. Taehyung hanya mengangguk.

Beberapa saat kemudian, Bomi pun bergabung bersama mereka sambil membawa nampan dengan 2 gelas strawberry milkshake dan 2 porsi cheesecake di atasnya. Duduk bersebelahan dengan Jungkook, berhadapan dengan Shina.

“Kalian berdua sedang apa di mall, hm?” tanya Bomi usai mencicipi strawberry milkshake-nya, memandang Jungkook dan Taehyung bergantian.

“Ada diskon komik,” jawab Taehyung.

Bomi memutar kedua bola matanya, lalu berkomentar, “Dasar anak laki-laki.”

Keempatnya kemudian menikmati makanan masing-masing sambil mengobrol 1 sama lain, meski Bomi dan Taehyung terlihat menguasai pembicaraan. Jungkook dan Shina hanya sesekali ikut berbicara, menimpali topik yang dikeluarkan Bomi atau Taehyung. Sampai… pembicaraan itu terhenti ketika sebuah ponsel berdering.

“Ah, ponselku!” gumam Shina.

Bergegas gadis manis itu merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya dari sana.

“Ya, halo, Eomma?”

“….”

“Aku ada di mall. Kenapa?”

“….”

“Pulang sekarang?”

“….”

“Ah, ya, Baiklah. Aku pulang sekarang~” ucap Shina, lalu menutup flip ponselnya.

“Ada apa, hm?” tanya Bomi, beberapa detik setelah Shina memutuskan panggilan dari eomma-nya.

“Aku harus pulang sekarang,” jawab Shina sembari menyampirkan tas pada bahu kirinya. “Kau masih mau di sini, hm?”

Bomi menghela napas pelan. “Ya, sudah. Aku juga mau pulang.”

Kedua gadis itu pun berpamitan, lalu keluar dari foodcourt, meninggalkan Taehyung dan Jungkook yang masih duduk di sana. Dan entah sadar atau tidak, Jungkook… terlihat sedang memperhatikan salah satu dari gadis yang terlihat buru-buru menuruni eskalator. Memperhatikan Bomi… atau… Shina.

Entahlah.

“Ehm!” Suara berat Taehyung seketika membuat Jungkook menoleh ke arahnya.

“Ada apa?” tanya Jungkook, memasang wajah polos, sebisa mungkin berusaha untuk tidak salah tingkah.

“Melihat siapa, hm?” Taehyung memulai investigasinya.

Jungkook mengernyitkan dahinya. “Melihat siapa apa? Aku tidak melihat siapa-siapa,” elaknya.

“Bohong~” goda Taehyung. “Pasti memperhatikan Shina, kan!?”

Jungkook agak membulatkan kedua matanya, lantas menggeleng cepat. “Tidak. Aku tidak melihat Shina~” elaknya sekali lagi.

“Baiklah, aku percaya~” ucap Taehyung, pura-pura menyerah. “Ngomong-ngomong tentang Shina…, tadi beberapa kali aku perhatikan Shina curi-curi pandang ke arahmu.”

“Sok tahu!” balas Jungkook.

“Tidak. Aku tidak sok tahu. Dia… diam-diam melihat ke arahmu,” tutur Taehyung. “Aku pikir… dia masih menyukaimu, Jungkook-ah~” lanjut Taehyung.

Jungkook terbatuk pelan. Apa benar yang diucapkan Taehyung? Apa… Shina masih menyukainya? Kalau iya, lalu… bagaimana dengan misi terakhirnya, hah?

“Kau pasti salah lihat,” ucap Jungkook, masih berusaha membantah ucapan Taehyung.

“Tidak. Aku yakin dia masih menyukaimu,” ucap Taehyung terdengar mantap.

Pemuda berambut merah marun itu meraih gelas cola-nya, meminum sedikit minuman berwarna hitam kecoklatan itu. Bagaimana ini? Bagaimana kalau yang dikatakan Taehyung benar?

Shina masih menyukainya.

@@@@@

Mawar merah itu ada lagi di loker Shina.

Shina mengeluarkan bunga itu dari lokernya, menatapnya untuk beberapa saat. Mawar itu adalah mawar yang ke-18 dan sampai sekarang orang yang meletakkan mawar itu belum juga mau menunjukkan dirinya.

Shina lelah.

Mau sampai kapan orang itu terus meletakkan mawar di lokernya? Dan…, apa maksud dari tindakannya meletakkan mawar itu? Apakah dia penggemar rahasia Shina? Apakah dia menyukai Shina? Atau mungkin… dia hanya orang iseng yang ingin membuat Shina merasa besar kepala karena memiliki seorang penggemar rahasia yang setiap hari meletakkan bunga di dalam lokernya?

“Ada lagi, hm?” Entah kapan datangnya, tahu-tahu Bomi sudah berdiri di dekat Shina.

Gadis manis itu mengalihkan pandangannya ke arah Bomi, lalu mengangguk.

“Lalu, apa orang itu membalas pesan yang kau letakkan di lokermu?”

Shina menggeleng.

Sejak beberapa hari yang lalu, Shina menaruh pesan di lokernya. Pesan yang isinya meminta ‘sang Tuan Mawar’ menunjukkan siapa dirinya dan menjelaskan apa maksud dari bertangkai-tangkai mawar yang ia letakkan di lokernya. Shina berharap ‘sang Tuan Mawar’ membaca pesan dan membalasnya. Tapi, setiap pagi Shina mengecek lokernya, pesan ia letakkan di dalam loker sama sekali tak tersentuh. Yang ada hanyalah setangkai mawar lagi dan lagi. Entah, ‘sang Tuan Mawar’ memang tidak melihat pesan itu atau… sengaja mengabaikannya.

“Astaga! Sebenarnya apa maunya orang itu?!” Bomi ikut kesal.

Shina mengembuskan napas. “Aku tidak tahu. Tapi…, aku benar-benar hanya ingin tahu siapa dia. Aku ingin tahu alasannya meletakkan mawar itu di lokerku,” kata Shina.

“Apa mungkin… pelakunya adalah salah seorang dari beberapa orang yang sejak beberapa minggu lalu mendekatimu, hm?!” tebak Bomi.

“Siapa maksudmu?”

Bomi menghela napas. “Entahlah. Mungkin… Yugyeom, Jongin Sunbae atau… Youngjae Sunbae.”

“Youngjae Sunbae?!”

“Kenapa kalian menyebut namaku?”

Sontak kedua gadis itu berbalik ketika mendengar suara yang tidak asing. Hampir bersamaan keduanya membelalakkan mata saat melihat sosok pemuda tinggi dengan wajah tampan, berdiri di dekat mereka. Benar-benar terkejut.

Susunbae~” gumam Shina.

Pemuda bernama Youngjae itu tersenyum. “Kenapa menyebut namaku, Shina?” tanyanya lembut.

Gadis manis itu mengalihkan wajahnya dari Youngjae. Menghindari kontak mata dengan senior yang sejak beberapa minggu belakangan ini selalu mendekatinya. “I-itu….” Shina bergumam. Jujur, ia agak ragu mengatakan kalau… ia mencurigai Youngjae sebagai orang yang selalu meletakkan mawar di lokernya.

“Kami mencurigai Youngjae Sunbae sebagai orang yang meletakkan mawar di loker Shina!” Dan untuk saat seperti ini, Bomi selalu bisa diandalkan. Dengan lantang gadis itu mengatakan apa yang ia dan Shina bicarakan sebelum Youngjae mengagetkan mereka.

Youngjae agak membulatkan kedua matanya, lantas terkekeh. “Kalian… mencurigaiku? Kenapa?”

“Ya…, itu karena Youngjae Sunbae selalu mendekati Shina selama beberapa minggu ini. Jadi, bisa saja kan kalau sunbae yang menaruh mawar di loker Shina. Iya, kan, Shina?” jelas Bomi, lantas mencari dukungan kepada gadis yang memegang mawar di sebelahnya.

Shina mengangguk.

Youngjae mengangguk paham. “Jadi, kalian mencurigaiku karena itu, hm?”

“Iya!” Bomi yang menjawab.

Untuk beberapa saat ketiganya terdiam. Hanya terdengar suara siswa-siswi di sekitar mereka yang keluar masuk ruang loker, tidak mempedulikan 3 orang yang tiba-tiba terpaku di tempat masing-masing.

Dan di saat ruangan mulai sepi, tiba-tiba Youngjae bertanya, “Bagaimana jika memang benar aku yang meletakkan mawar itu di lokermu?”

Shina dan Bomi membulatkan kedua matanya.

Tidak mungkin!

“Jika aku yang meletakkan bunga itu di lokermu, apa… kau mau menjadikan aku sebagai kekasihmu, Oh Shina?” tanya Youngjae lagi, menatap Shina dalam.

Dalam sekejap, jantung Shina berdebar kencang. Tubuhnya terasa agak bergetar. Meski ia memang penasaran dengan siapa orang yang selalu meletakkan mawar di lokernya, tapi… jujur saja ia belum siap mengetahui siapa orang itu hari ini. Apalagi…, orang itu adalah… Youngjae Sunbae.

“Bagaimana, Shina?” tanya Youngjae, sedikit tidak sabar menunggu jawaban dari Shina.

Gadis manis itu masih terdiam. Ia benar-benar terkejut dengan kenyataan. Apa benar Youngjae Sunbae yang selama ini mengiriminya mawar? Apa benar? Lantas, Shina harus bagaimana? Memarahinya? Mengomelinya? Atau… menyukainya?

“Shina?” gumam Youngjae.

“Ma-maaf, Sunbae,” lirih Shina. “A-aku… aku tidak bisa,” lanjutnya. Agak tidak tega melakukan penolakan terhadap seorang senior yang… bisa dibilang selama ini baik padanya. Bomi yang berada di dekat Shina langsung berinisiatif mengelus punggung gadis manis itu, berusaha menenangkan sahabatnya.

Youngjae berdehem. Dia baru saja ditolak. Padahal, selama ini dia dikenal sebagai salah satu senior yang paling populer di kalangan para siswi. “Ke-kenapa?” tanya Youngjae.

Shina menghirup udara dengan rakusnya hingga terasa memenuhi kedua rongga paru-parunya, lantas membuang udara itu perlahan melalui mulutnya. “A-aku… aku menyukai… orang lain,” jawab Shina.

“Siapa? Siapa orang yang beruntung bisa menarik perhatianmu, Shina?” lirih Youngjae.

Shina menelan ludah, lalu mengalihkan pandangannya dari Youngjae. Oh, Tuhan, haruskah dia mengatakan siapa orang yang selama ini ia sukai? Haruskah ia membongkar sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan dari Bomi, sahabatnya?

“Jeo-Jeon Jungkook.”

@@@@@

Jungkook berjalan menyusuri koridor utama sambil menggendong ransel hitamnya di punggung. Ya, ia baru saja tiba di sekolah. Pemuda berambut merah marun itu lantas berbelok menuju ruang loker, ingin mengambil beberapa buku yang ia simpan di lokernya. Namun, belum sempat ia masuk ke dalam ruangan itu, ia menghentikan langkahnya, lalu bergegas bersembunyi di balik tembok di dekat pintu ruangan.

Ia melihat Bomi dan Shina berdiri di depan loker Shina. Lengkap dengan setangkai mawar di dalam genggaman Shina. Ah, Jungkook hampir saja lupa kalau… Shina memiliki penggemar rahasia.

“Lalu, apa orang itu membalas pesan yang kau letakkan di lokermu?” Jungkook mendengar suara Bomi bertanya pada Shina.

Ya, dia menguping pembicaraan 2 gadis yang baru ditemuinya kemarin di foodcourt mall.

“Astaga! Sebenarnya apa maunya orang itu?!” Suara Bomi lagi. Dari nadanya, Bomi sepertinya sedang kesal.

“Aku tidak tahu. Tapi…, aku benar-benar hanya ingin tahu siapa dia. Aku ingin tahu alasannya meletakkan mawar itu di lokerku.”

Jungkook semakin mempertajam pendengarannya. Bukannya bermaksud tidak sopan menguping pembicaraan orang, tapi… siapa tahu saja pembicaraan Bomi dan Shina bisa berguna untuknya. Iya, kan!?

“Apa mungkin… pelakunya adalah salah seorang dari beberapa orang yang sejak beberapa minggu lalu mendekatimu, hm?!”

Jungkook baru tersadar kalau selama ini Shina memiliki banyak penggemar setelah ia merubah penampilannya. Pemuda itu hanya berharap kalau… para penggemar Shina itu tidak menghalangi misi ke-4-nya.

“Hei! Apa yang kau lakukan di situ?” Tiba-tiba ada seseorang yang menegur Jungkook. Agak terkejut, pemuda itu melihat ke arah orang yang menegurnya. Ah, Jungkook tahu orang ini. Dia seorang senior yang beberapa kali datang ke kelas untuk mencari Shina.

Jungkook mengulum senyum salah tingkah, lalu menggeleng pelan. “Ti-tidak apa-apa, Sunbae.”

Senior itu menatap Jungkook sejenak, kemudian tidak mempedulikan pemuda itu dan melenggang masuk ke dalam ruang loker. Sesaat, Jungkook menghela napas lega, lalu kembali melanjutkan kegiatannya beberapa saat lalu.

“Siapa maksudmu?” Ia mendengar suara Shina.

“Entahlah. Mungkin… Yugyeom, Jongin Sunbae atau… Youngjae Sunbae.”

“Youngjae Sunbae?!”

“Kenapa kalian menyebut namaku?” Jungkook mendengar orang lain bersuara. Diam-diam ia mengintip ke dalam ruangan, melihat seseorang berdiri di sekitar Bomi dan Shina. Hei! Bukankah… dia senior yang menegurku tadi?

Susunbae~” Shina sepertinya terkejut.

“Kenapa menyebut namaku, Shina?”

Ada jeda sesaat. Namun tidak lama setelahnya, terdengar Shina menggumam ragu, “I-itu….”

“Kami mencurigai Youngjae Sunbae sebagai orang yang meletakkan mawar di loker Shina!” Jungkook agak terkejut mendengar suara lantang Bomi. Ckckck… gadis itu benar-benar tidak tahu cara mengontrol suaranya. Tapi, apa benar senior itu yang selama ini menaruh mawar di loker Shina?

“Kalian… mencurigaiku? Kenapa?”

“Ya…, itu karena Youngjae Sunbae selalu mendekati Shina selama beberapa minggu ini. Jadi, bisa saja kan kalau sunbae yang menaruh mawar di loker Shina. Iya, kan, Shina?”

“Jadi, kalian mencurigaiku karena itu, hm?”

“Iya!” Bomi yang menjawab.

Jungkook tidak mendengar suara ketiga orang itu lagi. Hei, ada apa? Apa yang terjadi? Tepat di saat Jungkook hendak melihat ke dalam ruangan lagi, tiba-tiba Youngjae bertanya, “Bagaimana jika memang benar aku yang meletakkan mawar itu di lokermu?”

Apa? Jadi benar Youngjae Sunbae yang meletakkan mawar itu di loker Shina?

“Jika aku yang meletakkan bunga itu di lokermu, apa… kau mau menjadikan aku sebagai kekasihmu, Oh Shina?”

“Apa?” Tanpa sadar sebuah gumaman lolos dari mulut Jungkook. Ya, sama seperti Shina dan Bomi, ia juga terkejut. Youngjae Sunbae meminta Shina menjadi kekasihnya? Astaga! Yang benar saja! Lalu, bagaimana dengan misi terakhirku?

Pemuda berambut merah marun itu mulai merasa gelisah. Perasaan tidak rela itu muncul lagi. Jika sampai Shina menerima Youngjae Sunbae, maka—Oh, tidak! Shina, aku mohon jangan terima Youngjae Sunbae.

“Bagaimana, Shina?”

Suara Youngjae lagi. Tapi, Jungkook belum mendengar respon dari Shina. Kumohon Shina, jangan jadikan Youngjae Sunbae sebagai kekasihmu.

“Shina?” gumam Youngjae.

“Ma-maaf, Sunbae.” Akhirnya Shina berbicara. “A-aku… aku tidak bisa… menerimamu.”

Jungkook menyandarkan punggungnya pada dinding. Mengelus dada sembari bernapas lega. Syukurlah Shina menolak senior itu.

“Ke-kenapa?”

Suara Youngjae membuat Jungkook kembali menajamkan pendengarannya. Tidak peduli beberapa orang yang keluar-masuk ruang loker.

“A-aku… aku menyukai… orang lain.”

Jungkook baru bernapas lega beberapa saat lalu, tetapi ucapan Shina barusan kembali membuatnya merasa gelisah. Shina menyukai orang lain. Apa mungkin… orang itu adalah…

“Siapa? Siapa orang yang beruntung bisa menarik perhatianmu, Shina?”

Jantung Jungkook berdebar-debar menunggu jawaban dari pertanyaan Youngjae Sunbae barusan. Semoga saja jawabannya bukan nama yang terpikir olehnya saat ini.

“Jeo-Jeon Jungkook.”

Dan Jungkook terpaku di tempatnya begitu mendengar nama yang terpikir olehnya benar-benar terucap dari mulut Shina. Jadi benar apa yang dikatakan Taehyung kemarin, Shina… masih menyukainya.

Tiba-tiba saja Jungkook melihat Shina berlari keluar dari ruang loker. Tanpa tahu ada Jungkook berdiri di dekat pintu, gadis itu membuang setangkai mawar yang digenggamnya begitu saja. Jungkook melihat mawar itu tergeletak di tanah, lantas mengalihkan pandangannya ke arah Shina yang berlari menyusuri koridor di sana, sepertinya menuju ke toilet. Tidak lama setelah Shina keluar, Bomi menyusul. Shina sepertinya sedih dan Bomi tahu itu.

Begitu Shina dan Bomi menghilang di belokan, Jungkook bergerak memungut setangkai mawar yang dibuang oleh Shina tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dalam jarak sangat dekat, Jungkook melihat mawar yang biasanya didapat Shina setiap pagi. Mawar yang dibungkus plastik dan diikat dengan pita merah muda di bagian tangkainya. Bergegas pemuda itu meninggalkan bagian depan ruang loker sebelum Youngjae mendapatinya lagi.

Hmm… Tuan Mawar ternyata adalah Youngjae Sunbae.

@@@@@

Shina benar-benar berlari ke arah toilet. Agak membuat gaduh ketika ia masuk ke dalam toilet sambil menangis, berhasil menarik perhatian beberapa siswi yang sedang memperbaiki penampilannya di depan cermin besar di atas deretan wastafel. Gadis manis itu masuk ke dalam salah satu stall, menguncinya dari dalam.

Ia menangis. Tidak peduli bedak yang di wajahnya manisnya luntur karena air mata. Jujur, ia benar-benar merasa sangat bersalah pada Youngjae Sunbae. Tapi, ia juga tidak mau membohongi perasaannya sendiri. Ia menyukai Youngjae, namun hanya sebagai seorang senior. Tidak lebih. Belum lagi, Youngjae sampai rela meletakkan mawar di lokernya setiap hari. Shina benar-benar merasa bersalah karena menolak perasaan pemuda itu.

“Shina-ya? Apa kau di dalam?” Shina bisa melihat bayangan seseorang di bawah pintu, tanda ada yang berdiri di depan pintu yang menghalanginya dari orang itu. Dari suaranya, Shina yakin itu Bomi.

“Oh Shina. Ini aku Bomi. Aku mohon keluarlah~” bujuk gadis itu.

Tapi Shina tidak bergerak dari tempatnya. Gadis itu masih menangis. Menutup wajahnya yang basah dengan kedua telapak tangannya. Tidak peduli Bomi berkata di luar, membujuknya agar mau keluar atau… paling tidak menghentikan tangisnya.

“Shina-ya? Kau baik-baik saja kan di dalam? Kau… tidak melakukan yang aneh-aneh, kan?” tanya Bomi lagi, terdengar agak panik.

Tidak terdengar Shina menyahut.

“Shina-ya, ayolah. Aku mohon kau bicara~” bujuk Bomi lagi.

“Bo-Bomi-ya, apa… di luar ada orang selain kau?” Akhirnya, gadis itu mengeluarkan suara yang terdengar serak.

Bomi melihat sekitar. Tidak ada. Beberapa gadis yang tadi sempat memperhatikannya saat mengetuk pintu stall, berusaha membujuk Shina, sudah keluar. “Tidak ada, Shina-ya. Kenapa? Kau mau keluar?”

Beberapa detik kemudian, Bomi melihat Shina membuka pintu stall. Terlihat wajah gadis itu memerah, lengkap dengan mata sembab dan sisa-sisa air mata di kedua belah pipinya. Tnap berkata-kata, gadis itu melewati Bomi, berjalan menuju wastafel. Bomi menyusul gadis itu.

“Kau tidak apa-apa, hm?” tanya Bomi, berdiri di sebelah Shina yang tengah membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran wastafel.

Shina mengangguk.

“Kenapa kau tiba-tiba lari?”

Gadis manis itu melihat Bomi melalui cermin yang berada di hadapannya sembari mengeringkan wajahnya dengan selembar tisu. “Aku… hanya terkejut, Bomi-ya. Aku… tidak siap,” tutur gadis itu.

Bomi balas melihat Shina melalui cermin. “Kau… tidak berharap Youngjae Sunbae yang menjadi ‘Tuan Mawar’, hm?” tebak Bomi.

Shina menundukkan pandangannya, lantas mengangguk pelan.

“Memangnya… kau mengharapkan siapa?” tanya Bomi.

Shina bungkam.

“Apa… kau mengharapkan Jungkook?”

Sontak Shina menoleh ke arah Bomi, mendapati gadis itu menatapnya lamat. Ia tidak menjawab pertanyaan Bomi, hanya menatap gadis itu untuk beberapa detik, lalu kembali menatap cermin di hadapannya.

“Kenapa… kau tidak pernah memberitahuku kalau… kau menyukai Jungkook, Shina?”

Gadis manis itu mengembuskan napas. “Maafkan aku, Bomi. Aku tidak bermaksud merahasiakan itu darimu. Tapi…, aku berpikir bahwa… perasaanku pada Jungkook sebaiknya hanya aku dan Tuhan saja yang tahu.”

“Sejak kapan, Shina?” tanya Bomi lagi.

“Sejak aku masuk di sekolah ini.”

Bomi menghela napas, lalu berkata pelan, “Berarti sudah lama.”

Shina mengangguk.

“Tapi, apa kau sadar kalau selama beberapa minggu sebelumnya, kau dan Jungkook tidak terlihat berhubungan baik. Maksudku, kau bahkan tidak mengundangnya di acara ulang tahunmu waktu itu. Sebenarnya… ada apa? Apa… ada sesuatu yang lain yang kau sembunyikan dariku?” tanya Bomi. Namun sedetik kemudian, ia tersadar dengan apa yang ia katakan. “Ah, maafkan aku, Shina. Aku tidak bermaksud untuk—”

“Tidak apa-apa,” potong Shina. Ia menoleh ke arah Bomi, lalu berkata, “Sebenarnya, Jungkook sudah tahu tentang perasaanku padanya.”

Rahang Bomi jatuh mendengar kalimat Shina. “Kau serius? Jungkook tahu? Apa itu sebabnya… kalian terlihat tidak berhubungan baik, hm?” tebak Bomi yang langsung disambut anggukan dari Shina.

“Ya, Bomi. Jungkook tidak suka aku menyukainya. Ia marah padaku. Ia bahkan menyuruhku untuk menganggapnya tidak ada di sekolah ini, karena itu aku tidak mengundangnya di acara ulang tahunku,” jelas Shina. “Aku berusaha untuk menghilangkan perasaanku padanya, Bomi-ya dan kupikir, untuk sesaat aku berhasil. Tapi… sejak kejadian di perkemahan waktu itu, sepertinya… aku kembali menyukainya. Malah, terasa semakin menyukainya.”

Sesaat kemudian, dengan rakus Shina menghirup oksigen hingga memenuhi kedua paru-parunya, lalu mengembuskannya perlahan. Ia merasa tenang. Beban perasaan yang selama ini dipikulnya sudah terasa lebih ringan. Harusnya, sejak dulu ia mencurahkan isi hatinya pada Bomi.

Bomi lantas menepuk pelan bahu Shina. “Sudahlah, Shina. Untuk saat ini, sebaiknya kau menenangkan dirimu lebih dulu. Tentang perasaanmu pada Jungkook, cukup Tuhan, kau, aku dan Youngjae Sunbae yang tahu. Jungkook tidak tahu kan kalau kau masih menyukainya?”

Shina mengangguk.

“Ya, sudah. Lebih baik kau rapikan riasan di wajahmu. Sebentar lagi bel. Kau tidak mau terlambat masuk di kelas Hwang Sonsaengnim, kan?”

Shina terkekeh pelan, kemudian mengangguk. Ia kemudian merapikan riasan di wajahnya dengan bedak dan lipbalm yang ia bawa dari rumah. Setelah penampilannya terlihat baik, ia pun mengajak Bomi keluar dari toilet. Namun…, tepat di saat itu, keduanya berpapasan dengan Jungkook yang baru keluar dari toilet siswa di sebelah toilet siswi.

“Ju-jungkook-ssi?” gumam Shina agak terkejut.

Pemuda berambut merah marun itu tidak membalas. Hanya menunjukkan wajah datar, kemudian mengangguk pelan, lalu bergegas meninggalkan Shina dan Bomi.

“Jungkook terlihat agak berbeda hari ini,” gumam Bomi sedikit curiga.

@@@@@

Pemuda itu berbaring di atas tempat tidurnya, memejamkan kedua matanya. Kedua tangannya menangkup hidung mancungnya. Tidak, ia tidak sedang tidur. Dia… hanya pusing memikirkan sesuatu saat ini. Kupikir, kau tahu apa yang dia pikirkan.

Ya, masalah perasaan Shina padanya.

Sesekali pemuda itu, Jungkook, mengerang frustasi. Mengacak rambut kemerahannya atau sekedar menggerak-gerakkan kedua kakinya sembarangan sebagai bentuk pelampiasannya. Aish! Ini benar-benar menyebalkan! Kenapa Shina—aish!

“Hei! Hei! Kau kenapa, hah?”

Sepersekian detik kemudian Jungkook membuka kedua matanya, melihat ke arah seseorang yang bersuara di dekatnya. Lantas, ia mendengus.

“Hei! Kenapa sikapmu seperti itu saat melihatku? Kau sudah bosan melihatku?” sewot Jin setelah mendapatkan sambutan yang agak tidak enak dari cupid-30-harinya. Ia berdiri sambil berkacak pinggang di sisi tempat tidur Jungkook.

“Iya! Aku sudah bosan melihatmu!” ketus Jungkook, lalu mengambil posisi duduk.

Jin agak memanyunkan Ajummarnya mendengar kalimat itu lolos dari mulut Jungkook. “Kalau begitu, lekaslah selesai hukumanmu. Jangan menunggu sampai batas waktu kalau kau sudah bosan melihatku, Jeon Jungkook!” balas Jin tak kalah ketusnya.

“Justru itu masalahnya! Aku tidak cepat menyelesaikan misi terakhirku karena kau tahu apa, target perempuannya masih menyukaiku!” jelas Jungkook berapi-api. “Aish! Benar-benar!”

Jin kemudian mengangguk paham. “Ah, dia seperti Junmi di misi ke-3-mu, hm?”

Jungkook mengangguk. Tidak lama, ia melihat ke arah Jin dengan gelagat seolah menyadari sesuatu. “Jin-ah, kalau Shina menyukaiku lagi, itu berarti kau dan cupid-cupid lain di Istana Dewi Venus mendapat tambahan sumber kehidupan, bukan!? Apakah… hal itu tidak bisa membatalkan hukumanku? Bukankah… aku dihukum karena membuat Shina sakit hati?”

“Ya, memang benar yang kau katakan. Dengan Shina menyukaimu lagi, para cupid akan mendapat tambahan sumber kehidupan, tapi… hal itu tidak bisa menyelamatkanmu dari hukuman cupid-30-hari. Jadi, satu-satunya cara kalau kau tidak mau melihatku lagi adalah selesaikan misi terakhirmu!” jelas Jin.

Jungkook mendengus sebal. Dia berpikir, harusnya ia kembali membenci Shina seperti dulu. Bukankah gadis itu yang membuatnya terjebak di dalam hukuman bodoh ini? Dan sekarang, gadis itu lagi yang membuatnya kesulitan menyelesaikan misi terakhir YANG SEHARUSNYA BISA LEBIH MUDAH ANDAI SAJA SHINA SUDAH TIDAK MENYUKAINYA!

Pemuda itu lantas berdiri dari tempat tidurnya. Berjalan dengan langkah lebar menuju lemari pakaian untuk mengganti seragam kuning-hitam dengan kaos dan celana jeans. Terlihat tergesa-gesa dan sedikit emosi, pemuda itu lantas mengeluarkan beberapa buah komik dari laci di bawah meja belajarnya, memasukkan benda itu ke dalam tas.

“Hei! Kau mau kemana, hah?” tanya Jin, merasa kalau Jungkook ingin pergi ke suatu tempat. Kedua matanya mengikuti setiap gerakan pemuda berambut merah marun itu.

“Rumah Taehyung! Aku mau meminjam komiknya untuk menghilangkan sakit kepalaku.”

“Kau jangan hanya membaca komik! Pikirkan juga hukumanmu,” pesan Jin.

“Aku tahu! Karena itu ke rumah Taehyung. Dia targetku. Yah, siapa tahu saja ada sesuatu yang lain yang bisa membantuku,” kata Jungkook, lalu meyampirkan 1 tali ransel di bahu kirinya. “Ya, sudah. Aku pergi sekarang. Sampai jumpa, Jin~” pamit Jungkook.

Jin hanya mengangguk pelan melihat Jungkook keluar dari kamar. Beberapa saat kemudian, ia pun menghilang dari kamar itu, meninggalkan selembar bulu sayapnya di lantai kamar.

@@@@@

Jungkook berdiri di depan rumah bercat krem dengan beberapa buah pot kecil yang di gantung di bagian depan atap teras. Tanpa ragu, pemuda itu menekan bel, menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.

“CKLEK!”

Seorang wanita paruh baya berdiri di balik pintu. Seketika tersenyum begitu melihat siapa yang datang. “Ah, Jungkook-ah. Mencari Taehyung, hm?”

Jungkook mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Ajumma. Dia ada di rumah, kan?!”

“Ah, Taehyung sedang ajumma suruh belanja.”

“Ah, begitu~” gumamnya terdengar agak kecewa.

“Lebih baik kau tunggu dia di kamarnya. Sebentar lagi dia pasti pulang. Dia sudah berangkat dari tadi,” kata ajumma itu, ibu Taehyung.

Jungkook mengangguk. “Baiklah, Ajumma.”

Setelah dipersilahkan, Jungkook pun berjalan sendirian ke kamar Taehyung yang berada di lantai 2. Kamar yang terletak di sebelah kanan tangga dengan pintu yang terdapat tempelan gambar kepala singa. Ya, Jungkook sudah biasa ke rumah ini tentu saja. Makanya ia tahu kamar Taehyung.

Jungkook langsung membuka pintu kamar Taehyung yang tidak dikunci. Sepersekian detik kemudian, kedua matanya bisa melihat deretan puluhan atau mungkin ratusan komik yang terpajang di sebuah lemari tinggi di sisi kiri tempat tidur Taehyung. Pemuda itu benar-benar penggila komik.

Pemuda berambut merah marun itu melangkah ke dalam kamar, lalu menutup pintu. Ia lantas beranjak menuju meja belajar Taehyung, meletakkan ranselnya di sana. Ia lantas bergerak menghampiri rak komik Taehyung, ingin memilih komik yang hendak dipinjamnya kali ini.

“Giliran siapa hari ini~? Giliran siapa hari ini~?” senandung Jungkook. Kedua matanya membaca setiap judul yang tertulis di sisi komik dengan jari telunjuk yang ikut menyisir sisi komik itu. “Ah, ini dia!” Jungkook menemukan 1 buah komik yang belum dibacanya. Lekas, ia menarik komik itu keluar dari deretan, namun tanpa sengaja, ia malah menjatuhkannya. Sekilas, Jungkook melihat sesuatu yang keluar dari komik itu. Seperti selembar kertas yang terselip ke dalam kolong tempat tidur yang berada di dekat rak.

Jungkook kemudian menungging di sisi tempat tidur, bermaksud mengambil kertas yang mungkin saja sesuatu yang penting untuk Taehyung. Namun, tepat di saat Jungkook menungging, ia melihat sebuah kotak di kolong tempat tidur itu.

Kotak apa itu?

Rasa penasaran Jungkook mulai tercungkil. Melupakan tujuannya mengambil kertas yang keluar dari komik, ia malah menjulurkan tangannya ke arah kotak itu, mengeluarkan kotak itu dari kolong tempat tidur.

‘JANGAN DIBUKA!!!’

Tertulis dengan huruf besar dan tebal, lengkap dengan 3 tanda seru yang menandakan bahwa kotak itu benar-benar tidak boleh dibuka. Tapi, tulisan itu semakin mencungkil rasa penasaran Jungkook. Apa yang ada di dalam kotak ini sampai Taehyung menulis pesan untuk tidak membukanya?

Jemari Jungkook bergerak menyentuh penutup kotak tersebut. Oh, tidak! Rasa penasarannya benar-benar tercungkil sudah. Ia membuka penutup kotak tersebut dan… ia melihat beberapa tangkai mawar di sana. Bunga mawar yang dibungkus plastik dengan pita berwarna merah muda.

Hei! Ini kan seperti…

Dengan kecepatan cahaya Jungkook mengahampiri ranselnya di atas meja belajar Taehyung. Tergesa-gesa ia membuka ransel hitamnya, lalu mengeluarkan setangkai bunga mawar dari sana. Bunga mawar yang dibuang Shina pagi tadi. Bunga mawar yang diletakkan Youngjae Sunbae di loker Shina sejak beberapa minggu yang lalu.

Jungkook kembali menghampiri kotak rahasia Taehyung yang telah dibukanya. Mencocokkan bunga mawar yang berada di tangannya dengan bunga mawar di kotak itu. There’s no different! Tidak ada bedanya!

Pemuda itu tertegun. Jantungnya berdebar-debar. Napasnya agak tersengal. Ia menyadari ada sesuatu yang aneh di sini.

Benarkah Youngjae Sunbae adalah Tuan Mawar yang selama ini menaruh bunga mawar di loker Shina?

Atau… Tuan Mawar yang sebenarnya adalah… KIM TAEHYUNG!?

Tanpa disadari oleh Jungkook, seseorang membuka pintu kamar. “APA YANG KAU LAKUKAN, JUNGKOOK?”

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

Nah loh? Apa yang akan terjadi? O.O😄

Duh, minggu lalu banyak banget yang protes, kenapa Shina sama Taehyung? Kenapa gak bareng Kookie? Sampe yang komen dipenuhi dengan capslock. Kontroversi(?) ah chapter kemarin. Tapi, eonni *ngerasa paling tua* seneng aja bacanya. Terharu(?).

Well, di beberapa chapter lalu juga udah ada yang tanya siapa penggemar rahasia Shina. Di chapter ini, udah bisa tahu siapa, kan? Penjelasan(?)-nya di chapter depan😄

Apa lagi, ya?

Oh. Ada yang nanya ini berapa chapter lagi baru end, ya? Udah chapter 9 sekarang, berarti… masih ada 5 chapter lagi. Woooh… masih sebulan lagi… heheh. Lama, ya? Duh, mudah-mudahan kalian tidak bosan dengan FF ini😄

Oke deh. Segini aja.

EEEEEHHH!!! Sebentar… hampir lupa.

Sekarang 1 September. Salah satu maincast FF ini ultah. Yap, uri Jungkookie~ *potongtart**lemparinkemukaJungkook*

Oke deh. Segini aja. Ditunggu komennya dongsaeng-deul(?) sekalian~~😄

 

24 thoughts on “30 DAYS CUPID [Chap. 9]

  1. Wah update lgi nih… bnr jga dugaanku kl si taehyung yg ngasih. Bnrkah jungkook ultah??? Wah chukkanda… maaf ya q gk tau kl dia ultah. Tunggu lanjutannya min bnr2 penasaran nih…..

  2. Uhuk… sok so sweet banget si Taetae. Aku sedikit sebel baca FF ini. Kenapa Jin munculnya dikit banget? Perasaan banyak’an partnya Taetae daripada Jin. Padahal di covernya kan fotonya Jin sama Jungkook, Eonni! Terus, aku setuju aja Taetae sama Shina. Asal dia jangan sama Jin aja gitu. Aku gak rela kalo Jin yang sama Taetae, mendingan Jin sama Jungkook aja😀

    Hm, aku bingung mau komen apalagi, nih…
    Btw, HBD Kakak Jungkook!!! ^^

    Ya udah deh, di tunggu kelanjutannya ada😀

    With Love,
    Siwan Lovely Wife

    • Hehe😄
      Aaah… tumben kamu sebel kalo Jin munculnya dikit banget. Biasanya kamu seneng2 aja tuh Jin part-nya seimprit😄
      Emang itu sengaja di cover cuma fotonya Jin sama Kookie. Kan Jin masih maincast juga😄

      Ya enggaklah. Mana mungkin Taetae sama Jin?
      Eh? Ya ampun tumben kamu setuju sama couple JinKook.😄

      Sip.
      Gomawo udah RC, saeng ^^

      • Iya sebel. Kurang greget eonni. Lagian dia kan main cast, kenapa partnya malah dikit? Kan aneh!😀

        Haha. Siapa tahu aja kalo eonni fujonya lagi kumat.😀
        Terpaksa. Daripada sama Taetae mending Jungkook. Tapi aku lebih suka Jin sama Mark :p

  3. CIEEE CIEEE WOOOO!!! si taehyung suka sama shina tuh, AKHIRNYA SI TUAN MAWAR KETAHUAN JUGA EON, ADUH TAPI KAN SI TAEHYUNG KASIHAN,, ONE SIDE LOVE LHO EON ONE SIDE LOVE!! ALIAS CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN! ADUH URI TAEHYUNGIEEE~~😭😭😭
    Trus shina so sweet nih, cieee~~
    Uri kookie juga tuh, ciee yang mulai suka suka sama shinaa~~ woo~~ atau jangan” kook suka sama tae ya?!o_O ㅋㅋㅋㅋㅋ~ gak kok eon, cuma bercanda, haha
    Ya udah deh segini aja komennya
    Next chap ditunggu~~
    btw, SAENGIL CHUKKAE URI JUNGKOOKIE!!!🎂🎉🎁

    • Hahaha… iya. Akhirnya ketahuan juga dan ternyata… dia adalah… uri Taehyung ^^
      Kekeke… iya. Tau kok ini jadi one sided love. Hehehe ^^v
      Hehe. Shina kan emang selalu sweet *eh?
      Ciyee… Jungkook ciyee~ *ikutan
      Waduw, gak mungkin lah Kook suka sama Tae😄

      Sip.
      Gomawo udah RC, saeng ^^

  4. duh kasian jungkook ya:( misi terakhirnya biki JLEB bangetTT gatau deh dia bisa selesein targetnya yang satu ini wkwkk pasti rasanya sakit banget ya harus jodohin orang yang kita suka sama sahabt kita sendiri:( yang sabar yah kookie:)
    dari awal emang aku udah curiga kalo ‘tuan mawar’ itu si taehyung. dan lumayan kecewa sih pas tau kecurigaanku bener:( pengennya kan shina sama jungkook ajaaaTT duh makin penasaran sama kelanjutan ceritanya>< bener bener gak bisa nebak endingnya bakal kayak gimana wkwkk tapi aku mohon banget lho eon, pliss jangan dibikin sad ending ya? happy ending kan lebih seruuuu:3 ya? ya? ya? kkk
    oke fix. aku komen terlalu panjang kayaknya kkk😄 Keep writing ya eonnnie:) Fighting!!! kelanjutannya ditunggu ne~~~

    • Heheh… iya kasian *puk2 Jungkook
      Waaah… udah cuirga dari awal ya kalo Tuan MAwar itu Tae? Hehe… duh gampang ketebak nih si Tae
      Kkk~ maaf banget loh kalo udah ngecewain ^/\^

      Iya. iya. Ntar dibikin happy end kok ^^
      Makasih udah RC, saeng ^^

  5. Ciee jungkook cemburu ciee :3
    Salahnya sendiri dulu nolak shina *kalo gak nolak ceritanya gajadi* haha
    Bener firasatku ceilee taehyung kan yang kasih mawarnya, dedede aku masi galo tapi taehyung ama shina ._.
    Ya walaupun tingkat keexcitedan*?nya udh agak berkurang, tapi masih penasaran akhirnya hehe lanjut eonn, ditunggu :3

    • Iya cieee(?)
      Wkwkwkw… bener. Kalo gak nolak, gak bakal jadi cupid dan gak bakal ada cerita ini ._.v
      kkk~ iya Tae ama Shina.
      Waaaah… udah menurun, ya? Mungkin karena udah nggak ada yang disembunyikan(?) lagi😄

      Sip ^^
      Gomawo udah RC ^^

  6. Cuma mau bilang kalau ini FF ceritanya makin seru dan bikin nagih terus buat nunggu next chap-nya… fighting Thor!!! aku sangat suka baca karyamu dari awal sampai saat ini.. *aishhreaderlebay*😀
    Aku juga suka nulis ff tapi belum sebagus ini ~ arghhh seriusan gak tau kenapa baca ff ini malah jadi naksir Jin padahal bias aku Min Saesenim a.k.a Suga, thor tanggung jawab ya kalo kamu bikin aku jadi nambah bias😀
    *btw maaf aku gk panggil kmu eonni, coz kayaknya usia aku diatas kamu *berasatua* , salam kenal aja deh buat author Anditia Nurul. tetap semangat ya memanjakan reader dengan karyamu!!

    • Benarkah?
      Wah… syukurlah kalo begitu ^^
      Makasih pujiannya.
      Aaah… kalo begitu banyak nulis dan baca FF aja. Lama-lama bisa kok nulisnya. Saya juga dulu gitu, meski sekarang juga belum bagus sih sebenarnya.
      Aaaah… iya deh. Nanti saya tanggung jawab kalo kamu masukin Jin jadi bias (tapi kenapa harus Jin, sih? *eh?)

      Aah, gitu ya. Panggil nama aja kalo gitu.
      Gomawo udah baca, ya, Kak(?) ^^

  7. huweee ternyata kim taehyung diem diem romantis idiee jadi mau(?)
    duh jadi dilema mau ngeship jung-shin apa hyung-shin wkwk
    tapi garelaaa kalo jungkook harus berubah jadi makhluk serba pink kayak jin unn~~
    ditunggu lanjutannyaaa!!! #demodepangedungmpr

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s