[FICLET] EYES

Eyes

 

Eyes

A fanfiction by Umatoki

Starring ;

YOU and Park Jimin of BTS

Ficlet [±900w] | AU, Fluff, Slight! | General

©2014

Mataku mirip dengannya.

Mataku mirip dengannya. Itulah kesimpulan yang kudapat setelah berkutat dengan pikiranku yang nyaris buntu.

Aku pertama kali melihatnya di perpustakaan sekolah saat jam istirahat sedang berlangsung.  Saat itu aku sedang memilih buku yang tertata rapi di salah satu rak. Ketika tanganku hendak mengambil buku, tangan lain seseorang muncul juga hendak mengambil buku yang sama. Aku menoleh dan mendapati  seorang pria yang sedikit lebih tinggi dariku. Irisku menangkap nama yang tertera di name tagnya. Park Jimin.  Aku memang sering datang ke perpustakaan, tapi aku jarang melihat pria satu ini. Ia menoleh pun menatapku.  Ia menarik tangannya kembali lantas memasukkannya kedalam saku celana.

“Ambilah, aku bisa meminjamnya lain waktu”

Aku terdiam, kemudian tersenyum padanya “Jika kau lebih membutuhkannya, tidak apa-apa. Kau saja dulu”

Ia mengendikkan bahu;tangannya mengambil buku. “Baiklah, terimakasih” Ucapnya lantas membalikkan badan dan pergi.

Aku menelengkan kepala;melihat punggungnya yang semakin jauh dan menghilang di balik rak buku yang berjejer rapi. Pria itu mengingatkanku dengan seseorang. Tapi siapa?

.

.

Dua hari kemudian aku kembali bertemu dengannya. Tapi bukan diantara rak buku, melainkan di sebuah kedai ice cream favoritku. Aku sedang menikmati ice cream kesukaanku—rasa stroberi dengan toping coklat—ketika seseorang yang datang membuka pintu kedai hingga lonceng selamat datang berdentang. Manikku mengikuti gerak tubuh pemuda yang sekarang berjalan memasuki kedai. Melekat ditubuhnya kaos cokelat lengan pendek dan celana jeans hitam serta tas yang menggantung di punggungnya.

Maniknya bertemu denganku ketika ia sedang mencari bangku kosong di antara bangku-bangku yang telah berpenghuni. Dan satu-satunya bangku kosong yang masih tersisa adalah bangku di depanku. Aku menundukkan kepala saat ia duduk di depanku. Jujur saja aku merasa tidak nyaman. Aku ingin cepat-cepat menhabiskan ice creamku dan pergi dari sini. Tapi entah kenapa saat aku sudah berdiri, aku kembali duduk dan mengamati wajahnya yang terasa familiar.

“Tidak pernah melihat pria tampan?”

Aku tertegun saat suara lembut itu menembus gendang telingaku, membuat sesuatu mengembang di dalam rongga dadaku. Iris kami saling bertemu beberapa waktu—entahlah—menurutku terasa cukup lama. Kemudian ia berdehem, menembus kabut keheningan yang sempat tercipta.

Sekarang aku ingat, dia pria yang di perpustakaan waktu itu.

“Setampan itukah aku?”

“Apa—tidak” Aku menundukkan kepala. Apa yang sudah aku lakukan? Merasa malu aku kembali bangkit hendak pergi sampai suaranya kembali terdengar.

“Kau yang di perpustakaan waktu itu, ‘kan?”

Aku menoleh menatapnya;aku mengangguk pelan, mengiyakan ucapannya. Aku kembali duduk saat tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Tak lama kemudian sebuah buku telah berada diatas meja. Aku menatapnya;meminta penjelasan.

“Kau bisa membacanya, tapi besok kau yang mengembalikan ke perpustakaan.”

“Apa? Kenapa aku?”

“Kalau kau tidak mau, ya sudah.” Tangannya hendak kembali mengambil buku tapi dengan cepat aku meraih buku itu.

“Baiklah, aku yang kembalikan”

Aku mendengus saat ia tertawa pelan. Aku mulai merasa dia sedikit menyebalkan.

“Ah iya, siapa namamu?” Ucapnya.

“Kenapa kau ingin tau? Ku dengar seorang Park Jimin bukanlah orang peduli dengan sekelilingnya”

Ia terdiam, setedik kemudian sudut bibirnya tertarik keatas mengukir senyum di wajah putihnya.

“Kau tau namaku?” Ucapnya. “Bahkan aku belum memperkenalkan diri. Bagaimana kau bisa tau?”

Oops. Aku salah bicara. Jantungku berdegup dan wajahku mulai memanas. Seakan aku baru tertangkap basah telah mengagumi seseorang.

“Jangan-jangan kau  seorang stalker? Benar ‘kan?”

Aku memutar bola mata sebal. “Tentu saja bukan. Siapa yang tidak tau Park Jimin? Murid baru yang langsung populer di sekolah.” Ucapku. Sejujurnya aku barusan mengutip salah satu ucapan teman-temanku tentang Jimin.

“Benarkah?” Air mukanya kemudian berubah. Suaranya tak lagi terdengar. Membiarkan keheningan kembali menyelusup diantara kami.

“Sebenarnya aku senang jika kau benar stalkerku.”

“Apa?” Ucapku setelah mendengarnya bergumam tak jelas.

“Tidak, lupakan.” Ia kembali memakan ice creamnya.

Manikku kembali menelisik wajahnya. Dia benar-benar mengingatkanku pada seseorang, tapi siapa? Aku nyaris frustasi karena merasa sesuatu mengganjal di dalam benakku.

“Kau tau? Kau mirip dengan seseorang.”

Jimin mendongak, menatapku dengan mata hitamnya yang menohokku.

.

.

Gendang telingaku terasa hampir pecah saat puluhan anak perempuan memekikkan nama yang sama sejak tiga puluh menit lalu.

Park Jimin.

Pria itu sedang bermain basket dengan anak-anak lainnya di tengah lapangan sana. Kuakui, kemampuan basketnya lumayan. Berkali-kali ia memasukkan bola kedalam ring dengan mulus. Aku mendecak kagum saat ia kembali menyumbang poin untuk timnya.

Ia kembali mendribble bola;menghindari pemain lawan;dan akan kembali menembak. Bolanya nyaris masuk jika saja bahunya tidak terhantam—atau lebih tepatnya dihantam—seorang pemain lawan dengan keras hingga terjatuh.

Semua orang berteriak. Aku pun jadi ikut berteriak karenanya.  Ehm maksudku aku juga khawatir.

Jimin berjalan ke pinggir lapangan dengan sedikit tertatih sambil memegangi lengan kirinya. Maniknya bertemu denganku. Aku hanya terdiam melihatnya yang tersenyum padaku.

Suara riuh langsung terdengar saat Jimin berjalan kearahku dan duduk di sampingku. Baiklah, aku mulai merasa gugup. Tunggu, kenapa aku gugup?

“Sakit?” Ucapku mencoba memulai pembicaraan.

Ia mengangguk, “Lumayan”

“Tadi, kau lumayan hebat.”

“Lumayan?”

“Lumayan.”  Tegasku.

Ia mendecak kemudian tersenyum, “Sekali lagi kau membuatku kecewa.”

Aku tertegun. Apa dia bilang? Kecewa? Sekali lagi?

“Tunggu, kapan aku pernah membuatmu kecewa?”

Keningnya berkerut, seakan sedang berpikir atau mungkin mengingat sesuatu. Ia menoleh ke arahku, mempertemukan iris kami. Aku terhenyak, merasa terkunci oleh manik kelamnya. Sesuatu hangat mulai memenuhi rongga dadaku.

“Saat kau bilang, kau bukan stalkerku.”

Aku mendengus, memalingkan wajah ke arah lapangan. “Jangan berharap.”

“Jadi kau tidak mau jadi stalkerku?”

“Tidak.”

“Kalau aku yang menjadi stalkermu, boleh ‘kan?”

Aku terkejut setengah mati. Cepat-cepat aku menoleh kearahnya. Menerka-nerka apa maksudnya. Tapi aku tidak menemukan jawaban apa pun atas ucapannya.

“Bolehkah aku menjadi stalkermu yang selalu melindungimu? Menjadi stalker yang tinggal dihatimu?”

Aku terdiam. Tak mampu berkata-kata. Aku hanya menatap matanya dan melihat keseriusan disana. Sedetik kemudian aku mengangguk. Ia tersenyum, matanya terus menatapku. Aku merasa ribuan kupu-kupu tengah berterbangan di dalam perutku membuat sesak yang menjalar ke dadaku. Tak lama kemudian aku merasakan tangannya menggenggam tanganku.

Sepertinya aku sudah menemukan jawaban atas pertanyaan yang memenuhi otakku tiap kali melihat Jimin. Mataku mirip denganya, itulah kenapa aku merasa pernah melihatnya. Karena aku melihat diriku di dalam matanya.

.

[FIN]

A/N : Hai-hai 🙂 ini postingan pertama aku sebagaii author baru disini >< Sebenernya ini hasil promp pesenan dari temen aku 😀 Juga udah pernah aku post di blog pribadi aku.

At least, maaf kalo ini mengecewakan dan em rada gaje lol. Please like or comment. Aku nerima komen apa pun kok asal gak nyakitin aja /?

Thanks for your attention 🙂

Umatoki

 

Advertisements

2 thoughts on “[FICLET] EYES

  1. Aiiih, Jimin>< jadi stalker-ku juga dooong /ngarep banget/ tendang/ hahaha ini bagus loooh, aku suka.
    Keep writing ya^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s