[Epilogue] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: AU, Romance || Length: Epilogue || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2014 by Shinyoung.

Epilogue — Our Future

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15

*

Seoul, 2019

Sekali lagi, ia menatap cermin di hadapannya, lalu menghela nafas panjang. Seolah tidak siap akan hari ini, ia berputar-putar lagi, membuat gaun putih yang elegan tersebut menyapu lantai. Saat angin bertiup kencang menerpa rambutnya, ia pun beranjak lalu menutup pintu jendela. Ia menatap keluar dimana sebuah mobil sedan hitam dengan hiasan bunga terparkir di depan pagar rumahnya.

Suara pintu diketuk membuatnya berjengit. Lalu, pintu terbuka dan masuklah Jaehyun dengan tux hitam dan kemeja putih di dalamnya. Ia mengintip melalui celah pintu dan tersenyum kecil. Bak anak kecil, cengirannya semakin lebar ketika melihat adiknya menatapnya malas. Ia keluar dari persembunyiannya dan masuk ke dalam. Tangan kanannya dimasukkan ke dalam jas hitamnya.

“Ayo kita berangkat, Son Naeun.”

Naeun menghela nafas panjang lagi, lalu menganggukkan kepalanya pasrah. Ia mengikuti Jaehyun melangkah keluar dari kamar sembari mengangkat gaunnya yang terlalu panjang itu.

Menyadari langkah terpaksa adiknya, membuat Jaehyun menoleh. “Ada apa, Naeun? Kau tidak seharusnya menampilkan wajah murung di hari bahagia ini. Kau bilang bahwa kau siap.”

Naeun melangkah masuk ke dalam mobil sedan tersebut dan memasang sabuk pengamannya. Ia memijit pelipisnya yang penat. “Oh, ayolah. . . Aku hanya merasa sedikit takut. Aku tahu 5 tahun adalah waktu yang paling lama, tapi aku hanya—aku hanya tidak bisa saja menerimanya. Aku harus bersama dengannya?”

Jaehyun melotot ke arahnya. “Kau yang memutuskan dan Myungsoo menerimamu saat kau mengatakan tidak siap dua tahun yang lalu. Sekarang, kau mengatakan tidak siap lagi? Astaga, Naeun. Ini sudah 5 tahun dan kau masih tidak siap dengannya? Myungsoo benar-benar serius denganmu.”

Naeun mendengus. “Ne, ne. Arasseo,” ia beralih pada supir yang duduk di depan, “ayo, Pak, jalan sekarang.”

Entah kenapa, rasanya Jaehyun ingin memarahi adiknya itu. Tapi, jika ia pikir-pikir juga, ia tidak bisa memarahi adiknya itu. Karena, apa yang dirasakan adiknya sama dengan apa yang dirasakan olehnya saat itu.

*

15 menit kemudian, Naeun dan Jaehyun sudah sampai di tempat yang dituju. Begitu banyak orang-orang yang berpakaian gaun mewah dan juga jas hitam bermerek. Tas-tas mahal dan juga sepatu-sepatu bernuansa glamor. Beberapa wanita muda lalu-lalang dengan pria disamping mereka.

Ketika Naeun turun dari mobil, seorang gadis dengan rambut cokelat cerah tersenyum cerah lalu berlari menuju ke arahnya. Gadis itu memeluk Naeun erat, melepasnya, lalu menatap mata Naeun dalam-dalam. Seolah ada pesan yang ia antarkan melalui matanya. Kemudian, ia beralih pada laki-laki yang baru saja keluar dari mobil.

Gadis itu memeluk Jaehyun erat dan mengecup bibir pria itu sekilas. Sejenak, Jaehyun mengerjap lalu terkekeh pelan.

Aish, Bomi,” komentar Naeun lalu tertawa kecil.

Jari-jari kecil milik Naeun bergerak menuju juntaian rambut yang mengganggu penglihatannya, kemudian diselipkannya juntaian rambut tersebut di balik telinga kanannya. Bomi yang menangkap pergerakan tersebut langsung menyoraki Naeun dengan berbagai ejekan.

“Kau saja yang terlalu lama membuat pernikahannya terjadi,” kata Bomi.

Jaehyun menggenggam erat tangan Bomi, lalu menuntun adik tirinya itu masuk ke dalam bagian gereja yang di belakang untuk ditata ulang. Acaranya memang dimulai sekitar satu jam lagi, namun para undangan sudah mulai ramai berdatangan. Terutama, dari sahabat-sahabat Naeun saat kuliah.

Begitu juga dengan Ahn Sohee yang juga datang menghadiri acara tersebut dengan gaun hitam yang melekat indah pada tubuhnya. Sepatu hak tinggi lengkap dengan kemerlap-kemerlip pun ikut menambah gaya dari gadis itu.

“Aku tidak membuatnya lama,” Naeun membalas.

Ia memutar bola matanya dengan malas. Dia memang selalu menampik bahwa pernikahan ini bukanlah salahnya. Bagaimanapun, ia masih belum siap soal pernikahan. Terutama memiliki seorang anak saja membuatnya pusing kepalang. Jika ia melirik Yoon Jongshin, ia selalu ketakutan karena membayangkan betapa repotnya mengurus seorang anak.

Beberapa kali, ia sempat melakukan riset soal gen dari dirinya dan Myungsoo. Ia menduga bahwa ia mungkin saja memiliki seorang anak cerewet seperti dirinya atau juga manja seperti dirinya. Atau juga pendiam seperti Myungsoo namun romantis dan juga dingin namun periang.

“Jangan memikirkan yang aneh-aneh, Naeun,” kata Bomi. Ia menoleh ke arah Hayoung. “Atur lagi rambutnya. Dia selalu membuat kekacauan dengan rambutnya. Gadis ini memang benar-benar harus diatur padahal dia sudah 27 tahun.”

Ne, ne,” tukas Naeun sebal.

Jaehyun terkekeh pelan kemudian ia menepuk kepala adiknya. “Anggap saja apa yang dikatakan Bomi benar. Dia memang benar dan kau selalu menampik bahwa Bomi benar.”

Naeun menoleh ke belakang lalu mendengus. Ia kembali menatap cermin di hadapannya dan mengikuti bagaimana Jaehyun menyarankannya. “Tentu saja kau membelanya karena Bomi adalah istrimu.”

“Aku serius,” kata Jaehyun.

“Aku juga serius.”

“Kau selalu bercanda.”

“Oh, yaampun hentikan, kalian berdua,” potong Bomi akhirnya.

Naeun mendengus pelan. “Oke, aku setuju.”

*

Jaehyun menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan nafasnya perlahan, lalu menarik nafas lagi, dan membuangnya perlahan. Ia menatap lurus ke depan ke arah pintu gereja yang siap dibuka. Bersama Naeun disampingnya, mereka pun berjalan bersama dan pintu gereja pun terbuka.

Seiring dengan terbukanya pintu gereja, para peserta undangan mulai melirik ke arah mereka berdua lalu berdiri dan menghadap ke arah mereka. Mata mereka semua mengikuti Jaehyun dan Naeun. Alunan musik yang berasal dari piano mulai mengisi satu gereja, bersamaan dengan Jaehyun dan Naeun yang mulai melangkah menuju altar dimana Myungsoo sudah berdiri disana bersama pamannya.

Anak-anak gadis yang mengiringi Naeun pun ikut masuk ke dalam gereja. Ketika Jaehyun dan Naeun sampai di dekat altar, Myungsoo segera mengulurkan tangannya ke arah Naeun dan menggiring gadis itu naik ke atas altar. Para penggiring pengantin pun pergi meninggalkan Naeun, termasuk Jaehyun. Ketika Naeun, Myungsoo, dan seorang pendeta sudah berkumpul, para undangan mulai duduk.

“Aku berjanji akan sehidup semati bersama Son Naeun dalam suka maupun duka, dalam susah maupun senang, sampai maut memisahkan kami,” janji Myungsoo.

“Aku berjanji akan sehidup semati bersama Kim Myungsoo dalam suka maupun duka, dalam susah maupun senang, sampai maut memisahkan kami,” ulang Naeun.

Setelah keduanya mengucapkan janji suci di depan pendeta, banyak orang, dan Tuhan, keduanya pun memasangkan cincin di jari manis masing-masing. Myungsoo pun mendekatkan wajahnya pada Naeun, kemudian keduanya mempertemukan bibir mereka secara perlahan.

Gemuruh tepuk tangan pun mengisi ruangan tersebut membuat keduanya saling tersenyum. Setelah itu, baik Naeun dan Myungsoo melepas bibir mereka. Perlahan, tangan Myungsoo menepuk kepala gadis itu pelan.

Waeyo?” tanya Naeun sambil menoleh ke arah wajah laki-laki itu.

Myungsoo hanya menggeleng pelan kemudian tersenyum kecil, tanpa maksud. Ia mengambil nafas dalam-dalam lalu melepaskannya perlahan. “Aku hanya senang kita bisa menjadi keluarga.” Ia menarik pipi gadis itu pelan. “Kau terlihat. . . Manis hari ini.”

“Apa aku tidak terlihat cantik?” tanya Naeun sebal.

Myungsoo lagi-lagi menggelengkan kepalanya. “Cantik, semua orang bisa mengatakan hal itu padamu. Tapi, yang boleh mengatakan manis hanyalah aku. Kau memang tampak manis dan akan selalu manis di mataku.”

Tanpa Naeun sadari, pipinya sudah berubah menjadi kepiting rebus akibat perkataan Myungsoo. Dalam hati, ia membenarkan ucapan Myungsoo. Dalam diam ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak menyesal jika ia pernah menjadi setengah manusia dan setengah robot. Jika ia tidak menjadi Robovent dan melakukan perjalanan itu, apakah ia akan menemui Myungsoo?

*

Seoul, 2035

“Kim Soojin!”

Soojin menolehkan kepalanya ketika mendengar namanya dipanggil. Senyum kecil langsung terukir di bibirnya saat melihat kedua orang tuanya berjalan ke arahnya. Dalam hati kecilnya, ia selalu merasa iri jika melihat keromantisan orang tuanya.

“Dimana adikmu, Soo?”

Soojin mengangkat bahunya. “Terakhir kali aku melihat Ryujin disana,” jawab Soojin sambil menunjuk ke arah taman bermain yang dipenuhi oleh anak-anak berumur 10 tahun. “Kurasa, dia pasti bermain dengan teman-temannya juga atau dengan Jinwoo.”

“Ah, Soo, kau ini bagaimana? Seharusnya kau menjaga adikmu baik-baik,” ucap ibunya.

Laki-laki berumur 42 tahun disamping ibunya langsung menepuk kepala istirnya pelan. “Tidak apa-apa, Naeun. Biar aku yang cari Jihoon. Dia pasti berada di sekitar sana, aku harap dia bersama Jaeho.”

“Tapi, Myungs

Myungsoo menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan pada Naeun agar tidak melanjutkan percakapan tersebut. Setelah itu, Myungsoo pergi meninggalkan Naeun dan Soojin. Soojin menghela nafas panjang, merasa bersalah.

“Maafkan aku, Bu,” katanya pelan.

Naeun menoleh ke arah Soojin yang beberapa senti lebih pendek darinya. “Tidak apa-apa, Soo,” ujar ibunya. Ia menepuk kepala anaknya. “Ayo, sebaiknya kita masuk ke dalam dan kita cari tempat duduk yang tepat untukmu.”

“Aku harap kita mendapatkan tempat terbaik.”

Kemudian keduanya mulai melangkah bersama masuk ke dalam gedung aula Gavieroo Middle School dimana rupanya sudah ramai orang-orang. Naeun menoleh ke arah anaknya yang tampak gugup. “Ada apa?”

“Aku hanya sedikit gugup. Entahlah,” jawab Soojin. “Aku penasaran, apa Jaeho sudah pulang?”

“Jaeho oppa,” Naeun membenarkan perkataan anaknya. “Dia satu tahun lebih tua daripada dirimu, Soo. Seharusnya kau memanggilnya dengan panggilan oppa. Aku tidak tahu, tapi aku harap dia sudah pulang dari Perancis.”

“Aku tidak mengerti kenapa paman Jaehyun menyekolahkannya di Perancis.”

Naeun mengangkat bahunya. “Aku juga tidak mengerti. Tapi, aku dengar bahwa bulan ini Jaeho akan pulang dan menetap disini. Kuharap bibimu tidak membeberkan rahasia yang salah.”

Ketika mereka baru saja melangkah masuk, seseorang meneriakkan nama Naeun. Spontan, Naeun langsung mengedarkan pandangannya dan menangkap seorang perempuan seumuran dengannya tengah melambaikan tangan ke arahnya. Tentu saja, Yoon Bomi.

“Ayo, kita kesana,” ajak Naeun sambil menarik tangan Soojin.

Soojin hanya menganggukkan kepalanya kemudian ia mengedarkan pandangannya ke arah bibinya itu. Matanya langsung membulat ketika menangkap wajah pamannya dan juga saudara sepupunya. Jantungnya langsung berdegup kencang.

“Rupanya kalian sudah memesankan tempat untuk kami?”

Bomi menganggukkan kepalanya. “Begitulah, kupikir kalian pasti akan datang tak lama setelah kami tiba. Sebaiknya kau duduk disampingku dan biarkan Myungsoo duduk disampingmu lagi.”

Jaehyun pun berpindah tempat ke kiri agar mereka semua mendapatkan tempat duduk. Jadilah urutanya seperti ini; Jaehyun, Bomi, Naeun, dan Myungsoo. Naeun menoleh lagi ke arah Jaehyun. “Hei, Oppa, kau tidak menyapaku? Kau selalu saja sibuk dengan ponselmu.”

“Biarkan saja dia, dia baru-baru saja mendapatkan banyak tugas di kantornya jadi dia harus menjernihkan pikirannya dengan mainan-mainan baru.” Bomi menoleh ke arah Soojin. “Ah, Soojin-ah, kau semakin cantik.”

“Terimakasih, Imo. Kau lebih cantik. Tapi, tentu saja lebih cantik ibuku,” ujar Soojin diiringi dengan tawa kecil setelahnya.

Bomi mendengus pelan lalu menoleh ke arah Naeun. “Kau mengajari hal seperti itu pada anakmu? Sungguh, aku tidak percaya padamu.” Lalu, ia menoleh lagi pada Soojin. “Ah, kau bisa duduk disamping Jaeho dan menjaga adik-adikmu itu.”

“E—Eh, apa tidak apa?”

“Apanya yang tidak apa? Tentu saja tidak apa-apa!”

Sekali lagi, Soojin menoleh ke arah Ahn Jaeho yang sedang sibuk dengan lagunya dan tertidur pulas disana. “Aku takut dia tidak mengenaliku.”

“Tentu saja dia mengenalimu! Dia pasti mengenalmu walaupun kalian sudah 10 tahun belum bertemu,” ujar Bomi santai. Lalu, ia mendorong Soojin. “Ayo, sana duduk. Ajak dia mengobrol dan dia tidak pernah berbicara pada perempuan.”

Dengan lemas, Soojin mengangguk lalu mengambil tempat disamping Jaeho. Soojin hanya menegup ludahnya dalam-dalam saat menyadari bahwa ia duduk di paling ujung. Sementara itu adiknya, Ryujin dan Jinwoo—adik Jaeho—duduk diantara Myungsoo dan Jaeho. Ketika Soojin baru saja ingin memasang earphone di telinganya, sebuah tangan langsung menggenggam pergelangan tangannya tiba-tiba.

“Halo, Kim Soojin.”

Soojin pun menoleh dan mendapati tangan Jaeho yang sudah berada di pergelangan tangannya. “Ja—”

“Ada apa? Kau terkejut?”

Perlahan, Jaeho membuka matanya lalu menolehkan wajahnya ke arah Soojin. Dalam waktu sekejap, jantung Soojin sudah berdegup dengan kencang. “E—E—”

“Aku merindukanmu, Kim Soojin.”

Ucapan itu terasa dingin di telinga Soojin, namun ketika ia menatap lurus ke dalam mata Jaeho, ia baru mengerti bahwa laki-laki itu hanya merindukannya sebagai seorang saudara. Tentu saja, tidak lebih.

Walaupun ia tahu bahwa Jaeho sangat dingin sekarang, tebakannya sangatlah salah. Karena di detik selanjutnya, laki-laki yang ada disampingnya itu, menarik tangan gadis itu. Membuat Soojin langsung tertarik ke arah laki-laki itu dan mempertemukan kedua bibir mereka.

Karena terlalu kaget, Soojin hanya bisa melebarkan matanya. Kakinya yang menggunakan sepatu berhak tinggi itu langsung terasa lemas. Lalu, ciuman itu berakhir—cepat seperti jatuhnya kertas dari meja ke lantai.

Senyum kecil terukir di bibir Jaeho. “Maaf, kau pasti terkejut.”

Hanya diam yang menjawab perkataan laki-laki itu. Sebab, Soojin masih tidak dapat menggerakkan bibirnya untuk menjawab. Ciuman pertamanya diambil oleh laki-laki yang ia sukai. Sekali lagi, Soojin tidak menyesal.

“Aku menyukaimu, Kim Soojin.”

 

THE END

a.n

gaje banget kan? ok. maaf. ok. gue cuma gak tau aja lanjutannya mereka nikah kayak gimana, akhirnya gue bikin aja bagian anaknya. itu sebenernya cuma sedikit cuplikan aja dari kehidupan mereka kayak gimana. anak-anak mereka yang akhirnya saling jatuh cinta juga. udahlah ya. gausah banyak bacodh, intinya gue makasih banyak buat kalian semuaaaaaaa yang udah baca cerita abal bin alay ini.

ps: maaf sekali lagi buat yang baca epilogue ini merasa kurang puas. dan buat bagian pas mereka nikah, sorry banget gue gak bisa bikin bagus-bagus amat. soalnya gue gak ngerti kan cara nikahnya orang non-islam (read: agamanya naeun atau myungsoo) kayak gimana. itu juga, gue dibantuin sama temen gue yang satu-satunya non-islam di kelas gue. well, membantu juga lah tuh anak. awkwk. intinya, terima kasih banyak dan sampai jumpa di cerita selanjutnya!

pss: kalau ceritanya bukan myungsoo-naeun, tetep baca cerita gue ya?awkwk<3 laafyou all!

psss: sorry kalau gue banyak bacodh<3

23 thoughts on “[Epilogue] 2050

    • siiiip insyaAllah kalau aku lagi banyak waktu senggang:) seperti yang aku katakan diatas, aku selalu disibukkan oleh tugas. tugas-tugas dan ulangan memisahkan jarak antara diriku dan fanfiction yang ikut menumpuk di laptop:(

  1. sebenernya bagus juga sih anak – anaknya itu dibuat ff 😀 lumayanlah yang penting ada akhirnya keep writing thor~

  2. halo thor,hehe maaf banget thor,aku udah baca semua chap nya tapi baru komen di chap yang ini
    aku suka banget ceritanya ,imajinasi author parah,ampe bisa bikin ff kek gini .-.
    oh iya,aku follow author ya,kalau bisa follback 😀
    semangat thor !!!

  3. haloo thor~ aku baru nemu ffmu 4 hari yg lalu. maaf ya aku justru ninggalin jejak pas di chapter akhirnya doang..
    waktu teasernya br muncul bgt sebenernua aku udh tau ada ff ini. tp ga pernah sempet baca. soalnya tdnya aku pikir ttg robot doang. hehe..
    nah 4 hari yg lalu aku br nemu ff ini lg deh.. hehe.. ^^v

    aku ga nyangka loh tadinya ternyata naeun itu manusia yg di ubah jadi robot.. ><
    huah aku melting bgt pas baca partnya mungsoo yg mesra2an ama naeun.. beh… dpt bgt feelnya..
    next ff aku baca lagi thor. kalo ga telat.. wkkwk.. ^^v
    thor request ff hyukstal (minhyuk krystal) dongs.. soalnya aku hyuktsal shipper.. kkk~
    ndak mau juga rapopo kok.. 😉
    Smangat nulisnya thor! ^^9

    • halooo! gapapa kok kalau ninggalin di chapter terakhir doang hehe soalnya kan ff ini juga udah beres. heuheu. huahaha komentarnya panjang bangeet. keren aku terharu loh;—-;
      makasih banyaak udah baca dan komentaar yaaa;-) hyukstal? boleh-boleeeh! setelah ‘another cinderella story’ yaaa. soalnya kayaknya gak bakal sempet kalau aku masih nulis ACS. hehe.
      makash banyaaak<3

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s