30 DAYS CUPID [Chap. 12]

30 DAYS CUPID

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC) Jeon Junmi, (A-Pink) Bomi, (OC) Min Chanmi & (OCs) Taehyung-Jungkook’s classmates||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog|Chp.1|Chp.2|Chp.3|Chp.4|Chp.5|Chp.6|Chp.7|Chp.8|Chp.9|Chp.10|Chp.11>>Chp.12

HAPPY READING \(^O^)/


Jungkook, Taehyung dan Bomi, bahkan seluruh siswa-siswi kelas 1.2 yang membentuk kerumunan, terdiam begitu melihat Shina—objek pembicaraan—muncul di antara mereka. Sejak tadi gadis manis itu memandang satu per satu wajah Jungkook, Taehyung dan Bomi, meminta penjelasan.

“Bomi-ya, Jungkook-ssi, Taehyung-ssi, sebenarnya ada apa? Apa yang kalian bertiga bicarakan? Kenapa kalian menyebut-nyebut namaku?” tanya Shina lagi.

Ketiga orang yang disebut namanya itu bungkam.

“Kenapa kalian bertiga diam saja?” bentak Shina. “Jawab pertanyaanku!” tuntutnya.

“Shi-shina-ssi…,” Taehyung memberanikan dirinya untuk bersuara, “ya-yang… yang kau dengar barusan bukan apa-apa.”

Shina mendecih. “Bohong!” tukas gadis itu. “Caramu meminta Bomi membicarakan hal yang kalian rahasiakan padaku terlihat seperti kau ingin membicarakan sesuatu yang penting. Katakan padaku, Taehyung-ssi, apa yang kau, Bomi dan Jungkook ingin bicarakan? Apa yang kalian sembunyikan dariku?”

“Kau benar-benar ingin tahu?” Tiba-tiba Bomi bersuara. Sontak, Jungkook, Taehyung dan Shina menoleh ke arahnya.

“Y-ya,” jawab Shina.

“Jangan katakan, Bomi,” gumam Taehyung memperingatkan sambil menatap gadis itu tajam.

“Sudahlah, Taehyung. Biarkan Shina tahu semuanya!” bentak Bomi, balas menatap tajam pemuda berambut light caramel itu. “Kau setuju, kan, Jungkook?” Kali ini Bomi melihat ke arah pemuda berambut merah marun yang sejak tadi hanya diam saja.

“Jungkook, katakan kau tidak setuju!” perintah Taehyung.

Jungkook tetap diam. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Di satu sisi, dia ingin membiarkan Shina mengetahuinya. Tapi…, di sisi lain, ia juga tidak ingin hal itu terjadi.

Jika Shina tahu semuanya, bisa saja dia gagal menjalani hukuman cupid-30-hari ini. Jungkook tidak berani membayangkan kalau Bomi mengatakan bagaimana perasaan Jungkook kepada Shina sebenarnya. Shina mungkin akan benar-benar tidak akan melihat Taehyung jika tahu ternyata Jungkook juga menyukainya.

Hanya saja… Jungkook juga ingin Shina mengetahui perasaannya. Ayolah. Detik ini, dia masih manusia. Dia tidak ingin membohongi dirinya kalau… ya, dia memang menyukai Shina. Tapi, bagaimana dengan Taehyung? Bagaimana dengan pemuda berambut light caramel itu kalau tahu… bahwa Jungkook memang menyukai Oh Shina.

Oh, ini sulit.

Hidupnya, perasaannya dan sahabatnya.

Yang mana yang lebih penting sekarang?

“Katakan apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kalian malah bertele-tele seperti ini, hah?” tuntut Shina, mulai tidak sabar. “Bomi-ya, katakan padaku, apa yang terjadi?”

Bomi mendengus melihat Jungkook yang tidak berucap satu patah kata pun. “Shina-ssi, orang yang selama ini meletakkan mawar di lokermu bukan Youngjae Sunbae, tapi—” kata Bomi, memberi jeda pada ucapannya, diam-diam melirik Jungkook dan Taehyung bergantian. Jantung Taehyung mulai berdebar-debar, tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Shina kalau tahu yang sebenarnya.

“Siapa?” Shina benar-benar penasaran.

Bomi mengembuskan napas, lalu berkata, “—Kim Taehyung.”

Sontak, gadis manis itu mengarahkan pandangannya pada Taehyung. Mendapati Taehyung yang memalingkan wajahnya. Kedua mata yang membulat sempurna dengan kedua bibir yang tidak merapat merupakan tanda bahwa Shina benar-benar terkejut.

“Ki-kim Taehyung?” gumamnya pelan, masih melihat ke arah pemuda berambut light caramel itu.

Di sisi lain, Jungkook bisa merasakan betapa tubuh Taehyung bergetar melalui pegangan erat pemuda itu di tangannya. Pemuda itu mungkin tidak sadar kalau ia masih memegang pergelangan tangan Jungkook. Sementara, pelan-pelan perasaan bersalah mulai merasuki pemuda berambut merah marun itu. Taehyung pasti akan menyalahkannya atas semua ini. Pasti. Seharusnya…, seharusnya ia tidak mengatakan apapun pada Bomi.

Beberapa detik kemudian, dengan jelas Jungkook bisa melihat Bomi beringsut ke arah Taehyung. Dalam satu gerakan cepat, tangan kiri gadis itu bergerak menyentuh pipi kanan Taehyung, membuat wajah tampan pemuda itu menghadap ke arahnya.

“Taehyung-ssi, apa yang dikatakan Bomi itu benar?” tanya Shina ingin memastikan langsung. Tangan kirinya kini tidak menempel pada pipi Taehyung lagi. “Apakah orang yang selama ini meletakkan mawar di lokerku adalah… kau?” ulangnya dengan kedua mata yang menatap langsung pada mata pemuda di hadapannya.

“…”

“Jawab, Kim Taehyung!” tegur Shina dengan nada tinggi.

“Iya.” Dan, suara berat yang terdengar itu menjawab semuanya.

Sejenak, Shina mengalihkan wajahnya ke arah lain, mengembuskan napas. Seorang Kim Taehyung adalah sang Tuan Mawar sama sekali tidak pernah terpikir olehnya.

“Kenapa kau melakukan itu, Taehyung-ssi?” tanya Shina lagi.

“Kau ingin tahu?” Taehyung malah bertanya balik.

Sepersekian detik kemudian, Shina mengangguk.

Taehyung mengembuskan napasnya sambil sejenak mendongakkan kepalanya. Mungkin… memang ini waktunya untuk Shina mengetahui perasaannya. Toh, dia sudah mengakui bahwa… dia adalah orang yang meletakkan bunga mawar di dalam loker Shina. Dia adalah sang Tuan Mawar yang selama ini membuat Shina penasaran.

Pemuda itu kembali menatap Shina, lalu berkata, “Karena aku menyukaimu!”

Shina terperanjat kaget. Selama ini, di dalam pikirannya, ia menganggap Taehyung hanyalah seorang teman yang sangat baik padanya. Entah, karena ia yang tidak peka atau bagaimana, ia sama sekali tidak pernah berpikir bahwa… Taehyung baik padanya karena… Taehyung menyukainya.

Sementara Jungkook yang masih berdiri di dekat Taehyung pun tidak kalah kagetnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa Taehyung akan seberani itu mengatakan yang sebenarnya pada Shina—meski dengan paksaan dari Yoon Bomi.

“Tae-Taehyung-ssi…, kau…”

“Aku tahu ini pasti sangat mengejutkan bagimu, bukan!? Kau… tidak pernah menyangka bahwa aku adalah orang yang selama ini meletakkan mawar di lokermu. Bahkan, mungkin kau sama sekali tidak pernah menyangka bahwa aku 1 dari sekian banyak laki-laki yang menyukaimu. Ya, tapi seperti itulah kenyataannya, Oh Shina,” jelas Taehyung. “Tapi…, aku tahu… semua usahaku sia-sia. Kau tidak menyukaiku, begitu juga dengan laki-laki lain yang setiap hari datang menemuimu. Ya, itu karena… kau hanya menyukai Jungkook.” Taehyung lantas menolehkan wajahnya ke arah Jungkook. Sontak, pemuda berambut merah marun itu mengalihkan wajahnya.

Shina menundukkan kepalanya. Dalam hati ia menggerutu betapa bodohnya dia. Betapa bodohnya ia tidak menyadari kenapa Taehyung begitu baik padanya, terlebih… ia teringat bahwa… ia pernah… mengatakan kalau ia menyukai Jungkook di hadapan Taehyung. Oh Tuhan, tiba-tiba saja gadis itu benar-benar merasa sangat bersalah pada Taehyung.

“Ma-maafkan aku, Taehyung-ssi,” gumam Shina.

Taehyung menghela napas panjang, menahan sesuatu di dalam dadanya yang terasa ngilu. Lehernya terasa sakit saat ia menelan ludah. “Bukan salahmu,” lirih Taehyung. “Semuanya… sudah jelas sekarang. Kau puas, ‘kan, Bomi? Shina sudah tahu semuanya,” kata Taehyung, terdengar kesal ketika ia menyebut nama Bomi. Sedetik kemudian, pemuda itu hendak beranjak dari kerumunan, tapi…

“Tunggu!” cegah Bomi. Taehyung menoleh ke arah Bomi, begitu pun Jungkook, Shina dan para siswa yang masih setia mengerumuni mereka. “Masih ada hal yang belum kau ketahui,” sahut Bomi.

“Apa maksudmu, Yoon Bomi?” balas Taehyung agak kesal. Ayolah, tidak ada alasan yang membuatnya tidak kesal pada Bomi hari ini.

“Jungkook!” sahut Bomi. Seketika, Taehyung dan Shina memandang ke arah pemuda berambut merah marun yang sejak tadi hanya mengatup bibirnya rapat-rapat. “Bukankah… kau juga menyembunyikan sesuatu dari Shina dan Taehyung, hm?”

Jungkook menghela napas. Hah, setelah memaksa Taehyung mengaku, sekarang Bomi mau memaksanya untuk mengakui perasaannya yang sebenarnya pada Shina. Terlebih, ia harus mengakui itu semua di hadapan Taehyung!? Yang benar saja? Bomi benar-benar menyebalkan hari ini.

Taehyung lantas beringsut ke arah Jungkook, berdiri tepat di hadapan pemuda itu. “Apa yang dimaksud Bomi, Jungkook-ah? Apa yang kau sembunyikan dariku dan Shina?”

“Ayolah, Jungkook. Katakan saja. Tidak ada gunanya kau menyembunyikan hal itu. Percuma. Kau hanya menyakiti dirimu sendiri!” celetuk Bomi.

“Jungkook-ssi, sebenarnya ada apa? Apa yang kau sembunyikan?” Kali ini Shina yang membujuk pemuda berambut merah marun itu.

Jungkook menundukkan kepalanya. Menghindari tatapan Taehyung, Shina dan Bomi padanya. Pemuda itu nampak menggigiti bibir bagian bawahnya, gelisah. Dia… bingung harus melakukan apa sekarang. Semua orang seperti sedang mengintimidasinya. Hah, apa dia harus mengakui semuanya? Apa dia harus mengatakan kalau… dia menyukai Shina?

Tapi…, bagaimana dengan Taehyung?

Bagaimana dengan misi terakhirnya?

“Jungkook-ah, kenapa kau diam, hah? Katakan, Jungkook!” tuntut Taehyung sambil mengguncang pelan kedua bahu Jungkook.

“Apa aku yang harus mengatakannya pada semua orang, Jungkook?” Kali ini suara Bomi.

“Ti-tidak!” Akhirnya Jungkook bersuara. “Biar… aku saja,” katanya pelan. Pemuda itu menghela napas panjang. Untuk sesaat memastikan bahwa keputusan mendadak yang dibuatnya… adalah benar. Semua orang yang berada di sekitarnya pun terdiam, berdebar-debar menunggu apa yang akan diucapkan oleh Jungkook.

“Aku… menyukai Shina.”

@@@@@

Jeon Jungkook.

Pemuda berambut merah marun itu duduk sendirian di sudut kantin sekolah sambil menyantap ramyeon yang beberapa menit lalu ia pesan. Ya, hanya pemuda itu sendiri yang duduk di sana. Sementara itu, tidak jauh dari tempatnya, Taehyung sedang duduk bersama beberapa teman sekelasnya yang lain, menyantap ramyeon juga.

Hah~

Sejak Jungkook mengakui semuanya pagi tadi, tidak ada lagi Taehyung di sebelahnya. Bahkan saat di dalam kelas pun, Taehyung memaksa seorang teman untuk bertukar tempat duduk dengannya. Ya, Taehyung tidak lagi duduk di sebelah Jungkook.

Taehyung marah?

Entahlah! Mengingat selama ini dialah yang selalu heboh menjodoh-jodohkan Jungkook dengan Shina, mungkin saja… dia hanya kecewa. Ya, kecewa dengan sahabatnya itu. Bukankah… setiap kali Taehyung mengatakan ‘kau menyukai Shina?’ atau ‘bagaimana dengan Shina? Kau menyukainya?’ atau pertanyaan yang serupa, jawaban yang keluar dari mulut Jungkook hanya 1, DIA TIDAK MENYUKAI SHINA!

Lantas, kenapa sekarang dia mengatakan kalau dia menyukai Shina. Lebih buruk lagi, Bomi yang notabene bukan siapa-siapa Jungkook malah lebih dulu tahu perasaan Jungkook sebenarnya. Taehyung mulai ragu kalau Jungkook menganggapnya sahabat.

“Taehyung-ah, mau sampai kapan kau membiarkan Jungkook sendirian seperti itu, hah?” tanya seorang teman Taehyung.

Pemuda berambut light caramel tersebut menatap temannya, lalu berkata dengan cueknya, “Tidak tahu.”

“Hei. Bukannya kalian bersahabat, hah!?”

Taehyung tidak membalas ucapannya itu, pura-pura asik menikmati ramyeon di hadapannya. Cukup malas untuk membahas hal yang berkaitan Jungkook setelah kejadian menyebalkan pagi tadi. Entah sampai kapan dia akan menjauh dari Jungkook seperti ini.

Kembali ke tempat Jungkook.

Pemuda berwajah bulat itu masih sendirian menikmati ramyeon-nya. Terasa sepi? Sudah pasti iya. Tapi…, Jungkook berusaha memahami semuanya. Ya, dia sudah memperkirakan Taehyung akan seperti ini setelah pengakuannya tadi. Entah sampai kapan Taehyung akan membuatnya terlihat menyedihkan seperti ini.

“Jungkook-ssi?”

Seketika Jungkook mendongak begitu mendengar suara perempuan yang memanggilnya. Bukan Shina, tapi… Bomi.

“Boleh aku duduk di sini?” Gadis berambut cokelat itu menunjuk kursi kosong yang berhadapan dengan Jungkook.

Agak ragu, pemuda itu mengangguk.

“Taehyung… marah padamu, ya?”

“Menurutmu?” Jungkook malah bertanya balik—terkesan ketus, tetapi kedua matanya tidak melihat ke arah Bomi.

Bomi menghela napas. “Maafkan aku, Jungkook-ssi. Aku tidak tahu kalau akan seperti ini jadinya,” sesal Bomi. “Aku tidak tahu kalau Taehyung akan seperti ini padamu.”

Jungkook pun menghela napas. “Aku kan sudah bilang padamu untuk tidak mengatakan ini pada siapa pun. Aku mempercayaimu, Bomi-ssi,” ucap Jungkook, menatap Bomi.

Gadis itu agak menundukkan kepalanya. Ya, kali ini dia mungkin sedikit keterlaluan. “Aku benar-benar minta maaf.”

“Sudahlah. Tidak perlu meminta maaf. Semuanya sudah terjadi. Taehyung dan Shina sudah tahu semuanya,” balas Jungkook, lalu menyeruput sedikit teh botol di dekatnya.

“Ya~” gumam Bomi. “Lalu…, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

Jungkook menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Melihat-lihat keadaan sekitar sebelum menjawab pertanyaan Bomi. “Aku akan memperbaiki hubunganku dengan Taehyung,” jawab Jungkook. “Ya, itu kalau dia… mau memaafkanku.”

“Lalu…, bagaimana dengan… Shina?” tanya Bomi sedikit hati-hati.

Pemuda berambut merah marun itu mengembuskan napasnya. “Entahlah,” jawabnya singkat.

“Tapi…, kau… tidak akan mengubur perasaanmu pada Shina, kan!?”

Lagi, Jungkook mengembuskan napasnya. “Aku akan tetap pada ucapanku, Bomi-ssi. Aku akan mengubur perasaanku pada Shina.”

“Tapi, kenapa, hah? Shina sudah tahu kau menyukainya dan kau pun tahu kalau Shina menyukaimu. Lalu, kenapa kau mau mundur, hah? Apa karena Taehyung?”

“Meski pun Taehyung tidak menyukai Shina, aku tetap akan mengubur perasaanku, Bomi,” kata Jungkook. “Aku tahu Shina sudah mengetahui perasaanku padanya, tapi… aku punya alasan yang membuatku harus mengubur perasaanku pada Shina.”

“Sebenarnya alasan apa yang kau sembunyikan, hah?”

“Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena ini benar-benar sangat rahasia.”

Bomi menghela napas. “Jadi, kau akan menjauhi Shina, begitu?”

“Aku tidak bilang akan menjauhinya. Aku hanya mengatakan kalau… aku akan mengubur perasaanku padanya. Katakan pada Shina agar dia tidak berharap lebih setelah tahu semuanya, Bomi-ssi. Jangan sampai dia kecewa,” pesan Jungkook, berdiri dari duduknya. “Aku permisi~” pamitnya, lantas meninggalkan Bomi.

@@@@@

“TEEETTT!!!”

Bel tanda pelajaran hari ini berakhir terdengar meraung-raung ke seluruh penjuru kelas. Para guru yang mengajar pun lekas mengakhiri penjelasan materi, sementara para siswi-siswi—dengan senyum lebar yang tersemat di wajah masing-masing—buru-buru memasukkan buku ke dalam tas.

Hah, akhirnya pulang juga.

“Jadi, tolong kerjakan tugas kelompok kalian dengan baik, paham? Saya tidak mau menerima alasan apapun kalau ada kelompok yang tidak mengerjakan tugasnya dengan baik,” pesan Han Sonsaengnim sebelum keluar dari ruang kelas 1.2.

“YA, SONSAENGNIM!”

“Baiklah. Kalian boleh pulang. Hati-hati di jalan. Sampai ketemu di pertemuan selanjutnya,” ujar Han Sonsaengnim, lalu beranjak keluar dari kelas diikuti siswa-siswi yang sudah tidak sabar pulang ke rumah.

Jungkook terlihat menghela napas. Tugas kelompok lagi? Mengerjakan tugas kelompok beberapa saat lalu saja sudah cukup membuatnya canggung setengah mati. Taehyung sama sekali tidak mau diajak berdiskusi, malah sibuk membaca buku cetak biologinya. Sementara Jungkook sedikit merasa tidak enak karena… mau tidak mau, ia harus berdiskusi dengan Chanmi dan juga… Shina tentu saja. Bukan apa-apa, tapi… setelah kejadian pagi tadi, hubungan mereka bertiga—Jungkook, Shina dan Taehyung—terlihat tidak begitu baik.

“Hei!” Pemuda berambut merah marun itu agak terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang saat ia berjalan menyusuri koridor. Sejenak ia berhenti, mendapati Chanmi berdiri di dekatnya.

“Ah, Chanmi-ssi. Ada apa?” tanya Jungkook.

Gadis bernama Chanmi itu tersenyum. “Kenapa kau lesu begitu, hah?” tanyanya. Keduanya pun terlihat berjalan bersisian.

Jungkook menggeleng pelan. “Tidak apa-apa.”

Lagi, Chanmi mengulum senyum. “Kau tenang saja. Mengenai tugas biologi, biar aku yang atur,” ujar Chanmi seolah tahu apa yang membuat Jungkook lesu.

“Yang benar?” Jungkook sangsi.

“Tentu saja. Aku tidak mau kalau nilai Biologiku hancur karena masalahmu dengan Shina dan Taehyung,” kata gadis itu, lalu terkekeh.

“Maaf,” gumam Jungkook merasa sedikit tidak enak pada Chanmi.

Ya, bagaimana pun, karena masalahnya dengan Taehyung dan Shina, kelompok mereka menjadi kelompok terakhir yang mengumpulkan tugas tadi. Kalau bukan karena Chanmi yang berinisiatif mengajak Jungkook, Taehyung dan Shina diskusi, mungkin saja kelompok mereka tidak akan mengumpulkan tugas pada Han Sonsaengnim.

“Ya. Tidak apa-apa,” sahut Chanmi. “Nanti aku akan memberitahumu tentang kapan dan dimana kita akan mengerjakan tugas. Dan, mungkin lebih baik kalau… kau memperbaiki hubunganmu dengan Taehyung dan Shina, hm. Aku tidak mau selamanya mengatur kelompok ini, oke?”

Jungkook hanya mengangguk.

“Ya, sudah. Aku duluan, Jungkook-ssi,” ujar Chanmi, menepuk-nepuk pundak kanan Jungkook, kemudian berjalan mendahului pemuda itu.

Sejenak, Jungkook bernapas lega. Setidaknya, ada Chanmi yang mau membantunya kali ini.

@@@@@

Kedua gadis itu, Shina dan Bomi sejak tadi duduk di atas tempat tidur beralaskan sprei berwarna merah muda. Shina berbaring menghadap langit-langit kamar sambil memeluk sebuah boneka Hello Kitty, sementara Bomi duduk di sebelahnya, memeluk boneka beruang yang cukup besar dari belakang dan menumpukan dagunya pada puncak kepala boneka berwarna cokelat muda itu.

Usai makan malam, kedua gadis itu sudah berada di dalam kamar. Bukan mengerjakan tugas atau apapun yang berkaitan dengan sekolah, tetapi… membicarakan masalah yang terjadi pagi tadi.

Yap.

“Itu yang dikatakan Jungkook padaku saat aku menemuinya di kantin tadi,” ujar Bomi mengakhiri ceritanya tentang percakapannya dengan Jungkook.

Shina menghela napas, mengeratkan pelukannya pada boneka Hello Kitty itu. “Jadi…, Jungkook menyukaiku, tapi… tidak mau pacaran denganku, begitu?”

Bomi mengangguk. “Dia mau mengalah demi Taehyung.”

“Begitu, ya?”

Lagi, Bomi mengangguk. “Katanya…, dia sengaja melakukan itu karena ada alasan lain, tapi… dia tidak mau mengatakannya padaku.”

“Benarkah?”

“Ya. Aku tidak tahu alasan apa, tapi… sepertinya itu adalah alasan penting. Jungkook benar-benar sangat merahasiakannya.”

Shina menghela napas panjang. Kecewa? Tentu saja. Padahal, tinggal sedikit lagi. Seandainya Taehyung tidak ada, mungkin…

“Jungkook juga bilang, meskipun Taehyung tidak menyukaimu, dia tetap tidak akan menjadikanmu pacarnya,” ujar Bomi, tepat di saat Shina berpikir untuk… eung, menyalahkan Taehyung.

“Memangnya…, kenapa dia seperti itu, hm? Sebenarnya ada apa?” Shina penasaran.

Bomi menggidikkan kedua bahunya. “Aku juga tidak mengerti. Jungkook… benar-benar anak aneh,” sahut Bomi. “Aku heran kenapa kau bisa menyukai orang seperti itu,” ledeknya yang langsung membuat Shina melemparkan boneka yang dipeluknya ke wajah Bomi. Yang dilempar malah terkekeh.

Sedetik kemudian, Shina mengambil posisi duduk. “Lalu menurutmu…, aku harus bagaimana, Bomi?” tanyanya, menatap Bomi sambil menunjukkan wajah memelasnya.

Gantian Bomi yang mengambil posisi tidur. “Menurutku, lebih kau lupakan si dingin berhidung besar itu. Ini sudah kedua kalinya dia ‘menolakmu’, bukan?” kata Bomi. “Itu artinya, kau tidak berjodoh dengan orang itu,” lanjut Bomi sok tahu.

“Tapi…, bagaimana kalau aku… tidak bisa melupakan… Jungkook?” tanya Shina lagi. Kali ini suaranya terdengar serak. Kedua matanya bahkan terlihat berkaca-kaca.

“Hei! Jangan menangis, Oh Shina. Kau pasti bisa melupakan Jungkook. Mungkin butuh waktu lama karena kau dan dia sekelas, tapi… aku yakin kau bisa. Mulai hari ini kau harus bertekad untuk move on!” jelas Bomi agak menggebu-gebu. “Jangan mengharapkan Jungkook. Masih banyak lebah di taman, Shina~” hibur Bomi dengan peribahasa asal-asalan.

Entah untuk keberapa kalinya…, Shina menghela napas. “Apa… tidak ada kemungkinan kalau… Jungkook berubah pikiran?”

Bomi langsung mengambil posisi duduk, membuat Shina agak terkejut. “Sudahlah. Aku pikir… si hidung besar itu tidak akan mengubah pikirannya. Anggap saja dia itu makhluk terbodoh di muka bumi karena menolak gadis seperti kau,” hibur Bomi sambil menepuk-nepuk pundak Shina.

Shina mendongakkan kepalanya, menahan air matanya agar tidak jatuh. Bagaimana ini? Bagaimana kalau yang dikatakan Bomi itu benar? Jungkook… tidak akan mengubah pikirannya? Apakah… Jungkook sama sekali tidak sedikit pun memikirkan perasaannya?

@@@@@

Jin pasti pusing melihat Jungkook berjalan mondar-mandir di hadapannya sejak tadi. Pemuda berambut merah marun itu bahkan belum sempat menjawab pertanyaan Jin: sudah sejauh mana penyelesaian misi ke-4-mu? Yang terjadi malah Jungkook bertingkah seperti sebuah setrika.

“Hei! Berhentilah bertingkah seperti orang pusing!” tegur Jin.

Sontak, Jungkook berhenti dan menoleh ke arah Jin. “Aku memang pusing, Jin! Waktu tinggal 3 hari lagi, kan!? Dan semuanya malah bertambah buruk. Aish! Aku tidak mau menjadi cupid, Jin! Aku tidak mau!” Jungkook frustasi. Dia nampak mengatur napasnya yang tersengal.

“Memangnya apa yang terjadi tadi, hah? Kenapa malah bertambah buruk?”

Pemuda itu lantas mengambil tempat tepat di sebelah Jin yang duduk di tepi tempat tidurnya. “Kacau! Shina sudah tahu kalau aku menyukainya!”

“Lalu?”

“Ya, tentu saja aku khawatir kalau Shina berharap lebih padaku dan benar-benar tidak menggubris perasaan Taehyung, Jin! Kalau seperti itu, semua usahaku selama 27 hari ini menjadi sia-sia, kau tahu?” sewot Jungkook. “Aish! Menyebalkan!”

“Kau sudah bicara dengan Shina, hm?” tanya Jin mencoba tenang.

“Bicara dengan Shina?” ulang Jungkook agak terkejut.

“Ya. Mungkin sebaiknya kau bicara dengan gadis itu. Lihat saja target ketigamu, Junmi dan Yoongi. Bukankah… semua menjadi lebih setelah aku bicara dengan noona-mu itu, hm?”

Jungkook terdiam sejenak.

Ya. Kenapa dia… tidak ingat semua itu!?

Mungkin saja… kalau dia yang langsung berbicara dengan Shina, semuanya akan menjadi lebih baik. Lagi pula, kalau dia masih menyuruh Bomi yang berbicara pada Shina…, gadis itu malah semakin ikut campur nantinya.

Aish! Kenapa Jungkook baru memikirkan hal itu sekarang?

“Masalah akan selesai kalau kalian saling bicara dibanding menyuruh orang lain yang berbicara,” nasehat Jin.

Jungkook masih diam.

“Bagaimana dengan target laki-lakinya, hm?” Jin mencoba mengalihkan topik.

Mendengar pertanyaan itu, Jungkook menghela napas. “Sudah kubilang semuanya semakin bertambah buruk, Jin. Taehyung sudah tahu aku menyukai Shina dan… sekarang dia tidak mau bicara denganku!”

“Coba ajak dia bicara sekali lagi. Dia sahabatmu, kan!? Seharusnya kau tahu cara membujuknya agar mau bicara denganmu,” kata Jin.

Pemuda berambut merah marun itu menghela napas. “Ya, tapi—ah, entahlah. Aku pusing.” Jungkook mengacak rambutnya.

“Coba ajak Taehyung atau Shina bicara besok. Kau tidak boleh membuang-buang waktu lagi, Jeon Jungkook. Kau harus ingat waktumu!”

Jungkook tidak membalas.

“Semoga berhasil, Jungkook. Aku pergi dulu~” pamit Jin, menghilang begitu saja dan hanya meninggalkan selembar bulu sayapnya yang terayun-ayun lembut dan mendarat di puncak kepala Jungkook. Tangan kanan pemuda itu bergerak mengambil selembar bulu itu, menatapnya sejenak.

Ya, benar kata Jin. Aku… harus mengajak Shina atau Taehyung bicara besok.

@@@@@

Tersisa 2 hari lagi untuk Jungkook menyelesaikan misi terakhirnya. Pemuda berambut merah marun itu terlihat berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya, menyiapkan diri untuk mengajak Shina atau Taehyung atau keduanya berbicara hari ini. Sepanjang koridor yang dilaluinya, Jungkook sibuk merangkai kata-kata apa yang harus ia ucapkan nanti.

Hah~

Ini… menyebalkan!

“Jungkook-ssi~”

Jungkook menoleh sejenak begitu ada yang memanggilnya, agak menyunggingkan senyum setelah ia tahu siapa orang itu.

“Oh, Chanmi-ssi~”

Gadis itu tersenyum singkat. “Oh ya, tentang tugas Biologi, bagaimana kalau… kita mengerjakannya sore ini di rumahku? Kau ada waktu, kan? Hari lain aku ada les dan besok aku mau ke rumah sepupuku, cuma hari ini saja yang kosong.”

Jungkook mengangguk pelan. “Ya. Ada.”

“Oke. Nanti aku yang beritahu Taehyung dan Shina,” lanjut gadis itu.

“Ya. Terima kasih, Chanmi-ssi,” balas Jungkook.

Kedua orang itu pun berjalan bersisian menuju kelas. Tidak saling bicara, hanya berjalan bersampingan saja. Toh, keduanya tidak begitu akrab.

Dari kejauhan, pintu kelas mereka sudah terlihat. Beberapa siswa-siswi berada di depan kelas; sekedar berdiri di dekat pintu atau duduk mengobrol di taman depan kelas. Salah satu dari mereka ada Taehyung. Yap, rambut berwarna mencoloknya itu memang sangat mudah dikenali, bahkan dari jauh.

“Taehyung-ssi~!” Chanmi berlari pelan menghampiri Taehyung yang berdiri di dekat pintu kelas sambil mengobrol dengan seorang teman, mendahului Jungkook yang beberapa saat lalu berjalan bersisian dengannya. Mendengar namanya dipanggil, Taehyung menoleh ke asal suara.

“Chanmi-ssi? Ada apa?”

“Hari ini kita kerja tugas Biologi di rumahku, oke? Jam 5 sore. Ada waktu, kan?” ucap Shina.

Tepat di saat itu, Jungkook terlihat mendekati pintu kelas. Sesaat, Taehyung melihat ke arahnya, namun detik berikutnya, ia mengalihkan pandangannya dari Jungkook, pura-pura tidak kenal.

“Bagaimana, Taehyung-ssi?” tanya Chanmi sekali lagi.

Taehyung mendengus. “Tidak. Aku tidak bisa,” tolaknya, lalu pergi begitu saja, melintas di sebelah Jungkook.

Perlahan, Jungkook mendekati Chanmi. “Taehyung… tidak mau, ya?” tebaknya.

Chanmi menghela napas, agak kesal dengan Taehyung. “Iya. Dia tidak mau! Ugh!”

“Aku akan coba membujuknya.”

“Apa?” Chanmi agak terkejut. “Bukannya kalian…”

“Aku akan coba. Aku… memang ingin membicarakan sesuatu dengannya,” ujar Jungkook.

Pemuda itu kemudian berlalu dari hadapan Chanmi. Beruntung, Taehyung belum terlalu jauh dari kelas. Jungkook sengaja berlari pelan untuk mengejar Taehyung yang berjalan beberapa langkah di depannya.

“Taehyung-ah!” teriaknya.

Pemuda berambut light caramel itu menoleh, namun… melihat siapa yang memanggilnya, ia malah mempercepat langkahnya. Jungkook sudah menduga itu. Masih tetap berlari pelan, ia mengejar Taehyung hingga…

“Hei! Taehyung-ah! Aku mau bicara denganmu!” ucap Jungkook agak tersengal setelah ia berhasil menghadang jalan Taehyung.

Taehyung memutar kedua bola matanya malas. “Mau bicara apa, hah? Mau membahas masalah yang kemarin? Maaf, aku tidak tertarik!” sinis Taehyung, hendak melintas di sebelah kiri Jungkook, namun sekali lagi pemuda itu menghadang jalan Taehyung dengan tubuhnya.

“Aku ingin bicara, Taehyung-ah. Sebentar,” bujuk Jungkook.

“Sudah kubilang aku tidak mau, Jeon Jungkook!” tegas Taehyung, kali ini hendak mengambil jalan di sebelah kanan Jungkook, namun lagi-lagi Jungkook menghadangnya. “Hei! Apa yang kau lakukan? Aku mau lewat!” tegurnya. Tidak peduli beberapa siswa-siswi yang melintas di sekitar mereka tengah memandang.

“Aku ingin bicara, Taehyung-ah. Aku mohon. Sebentar saja.” Jungkook tidak menyerah membujuk Taehyung.

Pemuda berambut light caramel itu mendengus. “Baik. Hanya sebentar,” katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan hidung Jungkook, seperti mengancam.

Jungkook mengangguk agak takut. “O-oke. Aku janji. Hanya sebentar.”

Taehyung melintas di sebelah kiri Jungkook, seperti tanda bahwa dia yang akan menentukan tempat dimana ia akan meladeni Jungkook berbicara mengenai hal kemarin. Pemuda berambut merah marun itu mengikuti saja kemana Taehyung mengayunkan langkahnya, berusaha berjalan bersisian di sebelah pemuda berambut light caramel itu.

Tidak lama kemudian, Jungkook dan Taehyung tiba di halaman parkir motor sekolah. Taehyung duduk di sadel motornya, sementara Jungkook duduk di sadel motor yang berada di sebelah kiri motor Taehyung—entah motor milik siapa.

“Bicaralah!” ujar Taehyung agak dingin.

Jungkook mengembuskan napas panjang sebelum mengeluakan kata-kata dari mulutnya. Ia menatap Taehyung untuk beberapa detik, lalu bergumam pelan, “Maaf~”

Taehyung mendengus. “Aku sudah bosan mendengar kata itu, Jungkook. Kau sudah terlalu banyak mengucapkan kata itu padaku kemarin,” sinisnya.

“Tapi, aku benar-benar minta maaf, Taehyung-ah. Aku tahu aku salah. Aku tidak memberitahumu tentang perasaanku yang sebenarnya pada Shina,” sesal Jungkook.

“Aku kecewa padamu, kau tahu!?” sinis Taehyung.

Jungkook menundukkan pandangannya, lalu berkata, “Aku tidak bermaksud—”

“Kau bilang kau tidak menyukai Shina,” potong Taehyung, seketika membuat Jungkook terdiam. “Aku pikir kau benar-benar tidak menyukai gadis itu, tapi kenyataannya, kemarin kau bilang kau menyukainya di depan teman-teman sekelas. Kau tahu? Aku merasa dikhianati, Jungkook! Kau bohong padaku, kau bohong pada dirimu sendiri dan yang paling mengecewakan, Bomi bahkan lebih dulu tahu semuanya dibanding aku.” Taehyung mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya. “Apa kau menganggap aku sahabat, hah?”

“Apa?” seru Jungkook terkejut. “Tentu saja kau sahabatku,” sahut Jungkook.

Taehyung tertawa samar. “Bullsh*t! Aku mulai ragu, Jungkook. Kau bohong padaku! Kau tidak percaya padaku! Apa seperti perlakuanmu pada sahabatmu, hah?”

“Taehyung-ah, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak bermaksud berbohong padamu atau tidak percaya padamu. Perasaanku pada Shina seperti muncul tiba-tiba. Beberapa hari yang lalu aku sadar kalau… aku juga menyukai gadis itu. Aku sengaja tidak mengatakannya padamu karena… aku tidak mau kau mundur. Aku tidak mau jadi penghalang di antara kau dan Shina. Tapi, aku tidak bisa menahan perasaanku, Taehyung. Aku tidak bisa. Karena itu, aku menceritakan semuanya pada Bomi,” jelas Jungkook, menghela napas sejenak. “Aku pikir dengan bercerita pada Bomi, aku akan merasa lega, tapi… aku tidak mengira kalau Bomi akan membongkar semuanya.”

Taehyung mendengus entah untuk keberapa kalinya. “Kau terlalu naif!”

“Maafkan aku~”

Pemuda berambut light caramel itu lantas mengibaskan telapak tangan kanannya di depan wajah Jungkook, lantas turun dari sadel motornya. “Sudahlah. Aku tidak mau membicarakan ini lagi. Kau benar-benar membuatku kecewa!” tegas Taehyung, kemudian beranjak meninggalkan Jungkook.

“Taehyung-ah, sore ini tolong datang ke rumah Chanmi,” teriak Jungkook sebelum Taehyung benar-benar menjauh.

“Aku tidak berjanji untuk datang!” balas Taehyung tanpa menoleh sedikit pun.

Jungkook masih duduk di sadel motor, mengembuskan napas panjang. Taehyung belum pernah seperti ini padanya.

@@@@@

Setelah meninggalkan Jungkook di tempat parkir, Taehyung kembali menuju kelasnya. Mimik wajah datar nampak jelas terukir di wajahnya. Bicara dengan Jungkook cukup membuat mood-nya memburuk pagi ini.

Masuk di dalam kelas, Taehyung langsung mendapati beberapa teman laki-laki yang berkerumun sambil menonton sesuatu di sebuah laptop. Entah apa yang ditonton, tapi teman-teman Taehyung tampak heboh menertawakan sesuatu sambil menunjuk layar laptop. Penasaran, ia langsung menghampiri teman-temannya itu.

“Kalian melihat apa, hah?” tanya Taehyung, menyerobot tempat seorang temannya agar bisa melihat apa yang terpampang di layar laptop.

“Oh. Ini… video saat kita sedang menjalani masa orientasi dulu,” jawab seorang teman Taehyung.

Ya, itu video yang memperlihatkan bagaimana siswa-siswi yang seangkatan dengan Taehyung menjalani masa orientasi sekolah sekitar 6 bulan yang lalu. Satu dari sekian kenangan yang tidak akan pernah terlupakan, terlebih saat harus menjalani hukuman atau permintaan super aneh dari para senior.

“HAHAHAHA…”

Sesekali suara tawa terdengar heboh ketika mereka melihat betapa culunnya tingkah dan penampilan mereka berbulan-bulan yang lalu. Sesekali terdengar komentar-komentar sinis, sisa-sisa dari kekesalan terhadap senior yang dengan ‘senang hati’ menggertak mereka. Juga terdengar ledekan puas begitu melihat saat dimana teman mereka dihukum.

“Itu kau, kan!? Haha… kasihan. Kau disuruh jalan bebek oleh Namjoon Sunbae!” ledek salah satu di antara mereka.

“Ya. Aish! Namjoon Sunbae benar-benar galak sekali~” sahut yang diledek, menyaksikan sendiri betapa nelangsanya dia dulu.

Taehyung yang berada di antara mereka hanya tertawa sambil kedua matanya masih fokus menatap layar laptop, sesekali ikut meledek.

Layar laptop masih memperlihatkan barisan siswa-siswi yang berjalan bebek di koridor utama sekolah dengan Namjoon Sunbae yang mengomel di depannya, menyuruh mereka bergerak cepat. Sampai… seseorang dengan hebohnya menunjuk-nunjuk layar laptop sambil berkata, “Hei, Taehyung-ah, ini Jungkook, kan?”

Pemuda berambut light caramel itu diam, tapi ya, sosok yang ditunjuk oleh temannya itu memang Jungkook.

Gambar di dalam video kemudian berganti memperlihatkan rekaman saat perlombaan antar gugus. Mulai dari lomba mengambil koin pada yang ditancapkan pada semangka yang telah dilumuri saus ekstra pedas, lomba makan kerupuk yang digantung pada palang, lomba membawa kelereng dengan sendok dan lomba-lomba lainnya.

“WAHAHAHA! LIHAT WAJAHMU, TAEHYUNG! ASTAGA, KAU JELEK SEKALI!”

Teman-teman di sekitar Taehyung mulai heboh begitu melihat wajah Taehyung yang di-make-up oleh teman segugusnya. Bedaknya tebal, lipstick merahnya tercoret kemana-mana, alis yang terlalu hitam dan blush on yang berlebihan. Tentu saja hasilnya seperti itu. Siswi yang bertugas untuk me-make-over Taehyung ditutup matanya.

Taehyung hanya bisa mendengus kesal melihat teman-temannya malah menertawakannya.

Tayangan video kemudian berganti lagi. Kali ini memperlihatkan lomba menggendong-teman-dipunggung. Ah, Taehyung ingat lomba ini.

“Lihat wajahmu, Taehyung-ah! Kau kelihatan ngos-ngosan menggendong Jungkook!” Lagi-lagi temannya meledek.

Taehyung hanya mendengus kesal. Kedua matanya masih memperhatikan layar laptop yang memperlihatkan dirinya tengah menggendong Jungkook sambil berlari secepat mungkin untuk tiba di finish line. Ah, Taehyung ingat betapa beratnya menggendong Jungkook di punggungnya waktu itu. Namun, karena lomba ini… dia menjadi akrab dengan Jungkook.

Pemuda berambut light caramel itu mengembuskan napas panjang. Matanya masih memperhatikan layar laptop yang memperlihatkan keseruan di masa-masa orientasi dulu. Seperti sengaja direkam atau sengaja diperlihatkan kepada Taehyung, beberapa kali terpampang gambar dirinya berdekatan dengan Jungkook. Entah, itu gambar ketika mereka duduk bersampingan mendengar arahan dari senior pembimbing gugus, ketika mereka dihukum hormat kepada bendera karena datang terlambat, bahkan… terekam gambar ketika Taehyung sedang mengajari Jungkook meminum air dari botol dengan gaya manly di belakang seorang senior yang menghadap ke kamera.

“Bodoh~” gumam Taehyung, membuat teman di sebelahnya menoleh.

“Siapa yang bodoh?” tanya teman itu heran.

Taehyung menoleh ke arah teman itu, lantas menggeleng pelan. “Bukan siapa-siapa,” jawabnya. Tentu saja yang ia maksud adalah Jungkook. Mau saja diajari hal yang aneh-aneh olehnya. Haha… ha.

Hah, tapi… orang bodoh itu… sudah mengecewakannya.

Sangat.

@@@@@

“Ting… tong….”

Waktu telah menunjuk pukul 5 sore lebih 12 menit ketika Jungkook berdiri di depan rumah Chanmi sambil memencet bel. Ya, seperti yang sudah diatur oleh Chanmi, sore ini dia dan teman kelompok biologinya akan mengerjakan tugas kelompok.

“CKLEK!”

Tidak lama Jungkook berdiri, seseorang dari dalam rumah Chanmi membukakan pintu.

“Ah, Jungkook-ssi. Kau sudah datang~” Chanmi yang membuka pintu.

“Apa… Taehyung dan Shina sudah datang?” tanya Jungkook.

Chami menggeleng dan berkata, “Belum. Aku sudah menghubungi Shina, dia bilang dia sudah di jalan. Taehyung…, aku sudah menghubunginya tapi, dia tidak menjawab teleponku.”

Jungkook mengangguk paham, terlihat agak kecewa. Ah, Taehyung mungkin tidak akan datang seperti yang dikatakannya.

“Ayo, masuk Jungkook-ssi,” ajak Chanmi kemudian. Pemuda berambut merah marun itu berjalan mengikuti Chanmi memasuki rumah. Setiba di dekat tangga, Chanmi memintanya untuk duluan ke taman belakang, sementara gadis itu mau ke kamarnya untuk mengambil buku juga bahan dan peralatan untuk mengerjakan tugas.

Seperti yang dikatakan Chanmi, Jungkook melangkah sendirian ke taman belakang. Meletakkan tasnya di meja, lalu duduk di kursi. Agak terburu-buru pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah ponsel. Dengan gerakan cepat jemarinya menekan serentetan nomor yang sudah ia hapal, lalu sepersekian detik kemudian… ia merapatkan ponsel di telinga kirinya.

Jika kau menebak kalau Jungkook sedang menghubungi Taehyung, kau benar.

“Tuut… tuut… tuut….”

Dengan sabar Jungkook menunggu sambil berdoa semoga Taehyung mau menjawab panggilannya.

“Hai. Aku Taehyung…,” Jungkook agak terkejut. Ia mengira itu adalah suara Taehyung yang menjawab panggilannya, namun nyatanya… itu hanyalah sebuah voice mail dari ponsel Taehyung, “… maaf tidak menjawab teleponmu. Aku sibuk. Biasa, artis. Kalau penting, tolong tinggalkan pesan. Nanti aku balas. Semoga harimu menyenangkan~”

Jungkook menghela napas. Sekali lagi ia menghubungi Taehyung, namun…

“Hai. Aku Taehyung. Maaf tidak menjawab teleponmu. Aku sibuk. Biasa, artis. Kalau penting, tolong tinggalkan pesan. Nanti aku balas. Semoga harimu menyenangkan~”

Lagi dan lagi yang terdengar hanyalah suara deep husky Taehyung pada rekaman voice mail-nya. Hmph… Taehyung sepertinya sengaja tidak mau menjawab panggilannya. Dia… sepertinya benar-benar tidak akan datang ke sini.

“Kau sedang menghubungi Taehyung, hm?” tanya Chanmi yang baru saja menghampiri Jungkook sambil membawa mikroskop. Bersama gadis itu, Shina juga terlihat mendekat ke meja sambil membawa sebuah kantong plastik yang berisi 2 buah botol. Gadis itu sudah datang rupanya.

“I-iya,” jawab Jungkook agak canggung.

“Dia tidak menjawab panggilanmu juga?” tanya Chanmi lagi.

Jungkook mengangguk.

“Ck! Anak itu. Kalau ketemu besok di sekolah, aku akan memarahinya,” kesal Chanmi.

Pemuda berambut merah marun itu hanya diam saja di tempatnya, memperhatikan kedua temannya sibuk mempersiapkan peralatan dan bahan yang akan diteliti. Chanmi nampak sibuk mengatur posisi mikroskop, sementara Shina menyusun botol-botol berisi air kolam dan air got di atas meja.

Setelah melakukan persiapan, Jungkook, Chanmi dan Shina mulai mengerjakan tugas mengamati struktur tubuh alga hijau. Meski masih terlihat canggung 1 sama lain semenjak kejadian kemarin, namun Jungkook dan Shina sebisa mungkin bekerja sama. Ayolah, mereka akan merasa tidak enak pada Chanmi yang sudah mengatur semua ini jika mereka bersikap seperti kemarin.

“Hah~ akhirnya selesai~~” seru Chanmi begitu melihat kertas yang bertuliskan jawaban dari tugas kelompok mereka. Tulisan tangan Shina tampak rapi, terlihat bagus dengan gambar alga yang digambar oleh Jungkook. “Terima kasih kalian berdua sudah mau datang, ya~” Chanmi melihat Shina dan Jungkook bergantian.

“Ya, sama-sama,” sahut Shina dan Jungkook bersamaan.

Chanmi terkekeh. “Duh, kalian berdua kompak sekali~” goda Chanmi.

Shina menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang agak memerah. Sedangkan Jungkook bersikap senormal mungkin, seolah barusan bukan apa-apa.

“Oh ya, Chanmi-ssi, aku mau pulang,” kata Jungkook cepat.

“Uh, ya. Baiklah,” sahut Chanmi. “Kau juga sudah mau pulang Shina?” tanya gadis itu, melihat ke arah Shina.

Sedikit salah tingkah, Shina menjawab, “Ah, tidak. Aku pulang nanti saja,” jawabnya. Sejujurnya, ia sengaja menjawab seperti itu. Akan terasa semakin canggung jika dia pulang di saat yang bersamaan dengan Jungkook.

“Kalau begitu aku duluan~” pamit Jungkook.

“Ya. Hati-hati di jalan, Jungkook-ssi,” balas Chanmi.

Jungkook hanya mengangguk pelan sambil mengukir sebuah senyum simpul di wajahnya. Ia lantas beranjak dari hadapan Chanmi dan Shina.

Sekitar 10 menit setelah Jungkook pulang, giliran Shina yang pamit. Setidaknya, Jungkook pasti sudah jauh dari rumah Chanmi, mungkin sudah duduk manis di dalam bis, begitu menurut Shina. Usai berpamitan, gadis manis itu pun meninggalkan rumah Shina. Berjalan di atas trotoar menuju halte bis terdekat.

Beberapa menit berjalan, halte bis sudah terlihat di depan mata gadis itu. Tapi… hei, di sana ada seseorang dan sepertinya Shina mengenal pakaian berwarna biru muda itu. Gadis itu memicingkan matanya.

“Uh? Bukankah… itu Jungkook? Kenapa dia masih ada di sini?” gumam Shina dalam hati.

Semakin gadis itu mendekat ke halte, semakin jelas bahwa… yang duduk seorang diri itu adalah… Jeon Jungkook. Ah, kenapa dia masih ada di tempat itu, hm? Harusnya kan dia sudah pulang!

Berpura-pura seolah tidak ada Jungkook di halte, gadis itu memilih berdiri di dekat papan jadwal bis. Atmosfer kecanggungan benar-benar terasa di sekitarnya. Udara di pundaknya bahkan terasa berat. Huh~

Dan atmosfer kecanggungan itu semakin terasa ketika… Jungkook menghampiri Shina dan berkata, “Aku mau bicara sesuatu.”

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

Halo~~

Maaf ya chapter yang ini agak telat di-posting. Hari senin kemarin lagi gak ada pulsa modem sih, hehehe ^/\^

Btw, di chapter ini, selaku author…, aku merasa kurang maksimal deh. Atau ini cuma perasaan aku saja? Waktu kalian baca chapter ini gimana? Review, please~~

 

21 thoughts on “30 DAYS CUPID [Chap. 12]

  1. Yah eonnieeee~~ kenapa ending nya disituuuu…
    Hikss,, saya penasaran sekaliiii.___.
    woooo, 2 chapter lagii~~
    Pansaran sama nasib nya jungkook duuhh
    Ntar kalo jadi cupid gimanaa:(
    Ya pokoknya next chap ditunggu ya eonn,
    Fightingg~~

  2. ini keren sekaleee😀 doh nasibnya jungkook entar gimana ituuu?? TT kalo entar di jadi cupid gimanaaaa:( akkk penasaran banget>< lanjutin cepet ya eonnie🙂 keep writing!!

  3. Aigoo >.< greget banget bacanya. Kenapa harus tbc u.u, baca scane di tae marahan sama jungkook terus si tae nonton vidio moment mereka jadi kebawa suasana, jadi mewek gegara situasinya sama kaya aku *curcol untuk part ini bener-bener bikin suasana mellow dan greget. Next chap ya thor palliiiii ^^

  4. Kak, endingnya di part berapaaaa? Duhhhhhh. Kok jadi ikut geregetan ya sama mereka. Itu jungkook gimana dong? Yakali shina sama si taehyungggg.-. wkwkwkwwk.

    Aku tunggu part selanjutnya yaaa!!!!^^

  5. Eonnieeeeeeeeew tolong cepat ya penasaran tingkat akut nihhhh u,u jungkook sama shina aja… atau jungkook sama chanmi?
    Intinya harus hepi ending alias sama Shina hahahaha *ditabok

  6. maksimal kok thor.. masih dpt kok feelnya pas baca.. tapi… kenapa tbcnya pas disitu? aaaaa~ bikin penasaran tingkat akut.. dan pasti jungkook galau tingkat dewa.. huaaa… kasian jungkook… T.T
    oh iya td ada typo mau nulis Chanmi, tp yg ditulis malah shina.. ><
    ayo thor lanjut lanjut~~ penasaran banget banget!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s