Love Story Between Us [Part 1]

request-pc21-asafitri-2

Judul : Love Story Between Us || Poster by : Arin Yessy || Cast : All Got7’s member || Support Cast : You can find it! || Ratting : PG-12 || Genre : Friendship, Romance || Disclaimer : cerita 100% milik author. Mohon maaf jika alur gaje dan cerita nggak nyambung. Part ini khusus perkenalan karakter tokoh jadi feel romancenya belum dapet(?)

Happy Reading, be a good Readers

—<>—

“Jaebum-ah, ada apa? Kenapa tiba-tiba kau ingin mengajakku untuk bertemu?” tanya Sohyun sambil berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Jb pun memasukan ponselnya kedalam saku celana jeans-nya, kemudian mulai melirik Hara dengan tatapan yang sulit untuk Sohyun definisikan.

“Sohyun-ah, maafkan aku…” ujar Jb.

“Maaf? Untuk apa?” tanya Sohyun tak mengerti. Jb pun memeluk kekasihnya itu dengan erat, kemudian melepaskannya sambil menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Itu merupakan pelukan terakhir dariku…” ujar Jb lagi.

“Maksudmu? Kau kenapa, Jaebum?”

“Kita… sampai disini saja ya,” jawab Jb.

“Maksudmu… kita…”

“Iya…” ujar Jb cepat, memotong ucapan Sohyun. “Kita putus.”

“Tapi… kenapa?”

“Kau terlalu baik untukku Sohyun. Aku takut kalau aku justru akan menyakitimu.”

“Tidak apa-apa Jaebum, aku tidak merasa disakiti olehmu. Itu karena aku sayang padamu. Apa tidak ada alasan lain, yang lebih logis?” tanya Sohyun berusaha menahan sakit di dadanya. Jb hanya menggeleng lemah.

“Lupakan aku, Sohyun. Kau bisa mencari pria yang lebih baik dariku. Pria yang benar-benar tulus mencintaimu,” ujar Jb, kemudian melangkah menjauhi Sohyun. Pergi meninggalkan Sohyun dengan segudang pertanyaan.

 

—<>—

 

Jb menutup pintu apartemennya dan memperhatikan ruang tamu apartemen yang tidak begitu luas itu. Pasti semua belum pulang, pikir Jb. Di apartemen itu, dia tidak tinggal sendirian. Dia tinggal bersama beberapa orang, yang juga merupakan siswa dan mahasiswa di SMA JYP dan Universitas JYP, sama seperti dirinya. Ada Mark, yang lebih tua setahun darinya, yang merupakan mahasiswa semester 3. Lalu ada Jackson dan Junior, yang seumuran dengannya—mahasiswa semester 2—hanya saja mereka berbeda jurusan. Jackson di fakultas perfilman, Junior di fakultas komunikasi, sementara dirinya di fakultas geofisika. Dan ada Youngjae, masih duduk di bangku kelas 3 SMA JYP, yang tahun depan akan lulus dan masuk ke universitas JYP. Serta Bambam dan Yugyeom, murid kelas 2 SMA JYP.

Sekolah JYP, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, bahkan Perguruan Tinggi pun memiliki kualitas yang cukup baik. Termasuk kedalam 5 sekolah favorit di Korea, oleh karena itu banyak orang dari dalam ataupun luar negeri yang berminat untuk sekolah disana. Bagi yang rumahnya jauh dari sekolah itu, mereka bisa menyewa gedung apartemen yang banyak berdiri di sekitar sekolah. Seperti Jb yang berasal dari Daegu, Junior dan Yugyeom dari Busan, Youngjae dari Mokpo, atau bahkan Bambam yang dari Thailand dan juga Jackson dari Hongkong serta Mark dari California.

Jb pun segera masuk kamar dan rebahan di kasurnya. Dia mengambil ponsel dari saku celana jeans-nya dan menatap wallpaper ponsel itu dengan perasaan sedih. Wallpaper itu merupakan foto dirinya, bersama seorang gadis. Gadis yang beberapa waktu lalu sudah menjadi mantan kekasihnya.

“Kwon Sohyun, sejujurnya aku juga tak mau berakhir seperti ini. Kau mau memaafkanku, kan?”

 

–<>–

 

“Apa? Putus?” tanya Junior sambil berusaha menahan makanan di mulutnya agar tidak tersedak di tenggorokan.

“Iya, entah kenapa, Jaebum memutuskanku begitu saja,” sahut Sohyun lemas sambil mengaduk-aduk ramyun pesanannya.

“Putus tanpa alasan? Aneh,” gumam Junior, tapi Sohyun masih dapat mendengarnya.

“Maksudmu?” tanya Sohyun tak mengerti.

“Aku juga tidak terlalu mengerti, sih. Tapi biasanya kalau seseorang memutuskan kekasihnya dengan tanpa alasan, biasanya dia…” Junior menghentikan kalimatnya, sementara Sohyun menatapnya dengan wajah penasaran. Tidak, dia tidak boleh mengatakannya. Dia takut akan melukai perasaan sahabatnya tersebut.

“Biasanya apa?” tanya Sohyun penasaran.

“Tapi sebelumnya aku minta maaf. Bukannya aku mau berpikiran aneh tentang mantan kekasihmu itu, tapi mungkin saja dia memutuskanmu karena…” Jinyoung menghentikan kalimatnya sesaat, memandang Sohyun dengan tatapan iba. “Karena dia… sudah memiliki gadis incaran lain.”

“Mungkinkah begitu?” Sohyun pun menatap Junior dengan tatapan kesal. “Jaebum bukan tipe orang seperti itu.”

“Itu kan hanya prakiraan. Kan, sebelumnya aku sudah minta maaf,” ujar Junior membela diri.

“Tapi, yang harusnya minta maaf itu kan, aku,” sahut Sohyun kembali mengaduk-aduk ramyunnya.

“Lho, memangnya kenapa? Kan kau belum ada salah padaku?” kali ini Junior yang tidak mengerti maksud perkataan Sohyun.

“Iya, aku salah padamu, Jinyoung-ah. Aku belum sempat mengenalkan Jaebum padamu, padahal kau sangat ingin bertemu dengannya ketika aku berpacaran dengannya. Sudah 2 bulan dan aku belum sempat mengenalkannya padamu, tapi akhirnya aku malah putus dengannya. Maafkan aku.”

“Tidak Sohyun, itu kan karena aku, kau, ataupun Jaebum sedang sibuk, sehingga tidak ada waktu untuk bertemu. Sudah ya jangan sedih,” hibur Junior.

“Ne, gomawo Jinyoung-ah. Kau memang sahabat kecilku yang baik. Sejak kecil kau selalu menghiburku.”

 

—<>—

 

Seluruh pandangan mata seluruh gadis yang ada di kantin tertuju pada Bambam, ketika Bambam baru saja melangkahkan kakinya didalam kantin. Dalam hati Bambam merasa agak risih dipandangi seperti itu. Sudah dua tahun sejak ia mulai sekolah di SMA JYP, entah kenapa seluruh gadis disekolah itu seperti tergila-gila padanya. Ada yang salting ketika Bambam lewat dihadapan gadis itu, ada yang berteriak tidak jelas seperti orang gila, bahkan ada yang memotret dirinya diam-diam. Sudah seperti artis saja, pikir Bambam.

“Bambam-ah!!!!” teriak seseorang dari ujung kantin. Bambam pun menoleh ke sumber suara, tampak Yugyeom—teman sekelasnya sekaligus satu apartemen—sedang duduk di meja paling ujung kantin sambil tersenyum kepadanya.

“Aish, kenapa Yugyeom harus duduk diujung? Kan jadi makin banyak cewek yang caper padaku,” gerutu Bambam dalam hati. Dengan langkah ekstra cepat dan tidak terlalu menarik perhatian, Bambam pun segera melanglah menuju meja Yugyeom.

“Ciee ternyata imejmu sebagai cowok idola tetap tidak rutuh, ya?” goda Yugyeom ketika Bambam duduk di kursi dihadapan Yugyeom.

“Justru itu, aku ingin segerah runtuh!” sanggah Bambam.

“Lho, kenapa? Bukankah jadi cowok populer itu enak? Kalau kau ingin punya pacar, kau kan tinggal memilih satu diantara semua penggemarmu,” ujar Yugyeom sambil memakan rotinya. Bambam justru menghela napas panjang.

“Kenapa kau ke kantin sendirian?” tanya Bambam mengalihkan topic pembicaraan.

“Kupikir, kau tidak mau ke kantin. Daritadi kau hanya baca komik di kelas. Jangan mengalihkan topic, jawab dulu perkataanku tadi,” protes Yugyeom.

“Aku baca komik, karena aku bosan dengan bisikan para cewek dari kelas sebelah tentang diriku. Kalau aku lewat, mereka selalu memperhatikanku dengan tatapan aneh. Jadi cowok populer itu tidak enak, kau akan bilang enak karena kau tidak merasakannya,” jelas Bambam. “Lagipula, sudah ada cewek yang kuincar, tetapi aku takut kalau aku jujur padanya, semua fansku akan berbuat jahat padanya,” sambungnya.

“Iya juga sih, kalau begitu memang agak susah. Ngomong-ngomong, siapa cewek beruntung yang lagi kau incar?” tanya Yugyeom dengan tampang super kepo.

“Kau akan tahu pada akhirnya. Orang itu adalah kakak kelas, satu kelas dengan Youngjae Hyung.”

Belum sempat Yugyeom bertanya lebih jauh, bel pun sudah bordering di seluruh penjuru sekolah. Tanda istirahat sudah berakhir.

 

—<>—

 

Youngjae sedang focus membaca sebuah buku sastra. Namun, pikirannya sedang pergi entah kemana, sehingga taka da satupun kalimat di buku itu yang masuk kedalam pikirannya. Youngjae mencoba focus, tetapi bayangan tentang tugas wawancara yang diberikan oleh Guru Jang selalu menghantuinya. Youngjae tak sadar kalau Hayoung, pasangannya untuk wawancara datang menghampiri.

“Youngjae-ya, untuk tugas wawancara bulan depan, kau sudah tentukan topiknya?” tanya Hayoung sambil menghampiri Youngjae yang sedang asyik membaca buku.

“Belum, aku sedang mencari tema, makanya aku membaca buku disini,” jawab Youngjae tanpa sedikitpun menoleh pada Hayoung. Hayoung pun segera duduk di hadapan Youngjae.

“Haish, kupikir kau sudah bertobat ingin jadi anak rajin, makanya kau pergi ke perpus. Rupanya belum,” cibir Hayoung, sementara Youngjae hanya tersenyum.

“Sesekali kan tidak apa-apa,” ujar Youngjae sambil menutup buku yang sedang dibacanya. “Oiya, di apartemen tempatku tinggal, ada seorang mahasiswa jurusan komunikasi. Kalau kita minta bantuan dia untuk menentukan topic, apa kau keberatan?” usul Youngjae.

Hayoung pun berpikir sejenak, berusaha menimbang usul Youngjae, “Hmm, boleh. Kalau orang itu tidak keberatan.”

“Mungkin saja tidak. Namanya Junior, dan Junior Hyung lumayan dekat denganku. Nanti malam aku minta persetujuannya, dan besok sepulang sekolah kita ke apartemenku atau ke kampusnya. Eotte?”

“Boleh saja, memang dia kuliah dimana?”

“Di sana, Universitas JYP.”

“Oh, baiklah kalau begitu.”

“Hayoung-ah, maukah kau menemaniku?” tanya Youngjae setelah mengembalikan buku yang tadi dibacanya ke sebuah rak.

“Kemana? Kalau ke toilet cowok, aku tidak mau,” canda Hayoung yang langsung dijawab oleh kekehan Youngjae.

“Bukan, bukan itu,” ujar Youngjae ketika selesai tertawa.

“Lalu?”

“Kantin. Aku lapar setelah satu jam membaca buku sastra tadi.”

“Baiklah, tapi kau yang traktir aku makan ya,” pinta Hayoung. Youngjae pun tersenyum simpul sambil mengacak-acak rambut Hayoung, kemudian mereka pun melangkah meninggalkan perpustakaan dan melangkah ke kantin.

 

—<>—

 

Jackson kembali melempar bola basketnya kedalam ring. Dia bermain sendirian di lapangan, sudah 7 angka yang dia buat, tapi tetap saja dia tak berselera untuk bermain. Di kuris penonton, tampak Hyeri yang setia menontonnya, meskipun dia tahu kalau Jackson sedang unmood seperti itu, dia takkan berhenti bermain.

“Jackson-ah, kau mau main sampai kapan?” tanya Hyeri pada akhirnya. Jackson tetap tidak menoleh pada Hyeri, seolah melupakan keberadaan Hyeri disana. Jackson pun kembali memasukan bola basket ditangannya kedalam ring.

“Ya, Jackson Wang!!! Kau kenapa, sih?!”

“Tinggalkan aku sendiri, Lee Hyeri,” ujar Jackson kembali mencetak angka yang ke-8. Hyeri hanya menghela napas kemudian dia menghampiri Jackson.

“Kau sedang ada masalah, kan?” tanya Hyeri sambil menepuk pelan pundak Jackson. “Ceritakan saja padaku, siapa tahu aku dapat membantumu.”

Jackson pun menghela napas, kemudian dia berbalik,menatap Hyeri dengan tatapan apa-kau-bisa-mengerti-masalahku.

“Ini tidak semudah yang kau bayangkan. Aku takut kau akan menjauhiku.”

 

—<>—-

 

Mark mengeluarkan ponsel daru saku celana jeansnya. Ada sebuah panggilan masuk dari Jb. Tumben Jb meneleponku, ada apa? Pikir Mark. Tak biasanya Jb meneleponnya. Kalaupun ada perlu, Jb pasti menunggu Mark pulang untuk bicara keperluan tersebut. Mereka kan, tinggal satu rumah.

“Halo, kenapa Jb-ya?” tanya Mark setelah menekan tombol hijau di ponselnya.

“Hyung, kau masih diluar?” tanya Jb. Suaranya terdengar sangat lemah. Apa Jb sedang sakt?

“Aku baru saja mau pulang. Hei, ada apa dengan suaramu? Kau sedang sakit?”

“Tidak, aku baik-baik saja,” sanggah Jb, walau Mark tahu kalau Jb sedang berbohong. “Sebelum kau sampai apartemen, bisakah kau membelikan ramyun untuk makan malam? Hari ini aku sedang ingin makan ramyun, dan Junior bilang akan pulang agak telat, sehingga dia tidak bisa membuatkan ramyun untukku.”

“Ramyun? Baiklah akan kubelikan untuk makan malam kita nanti. Mau sekalian kubelikan obat flu? Suaramu terdengar agak berat.”

“Aku tidak sakit, Hyung. Aku baru bangun tidur. Yasudah, hati-hati dijalan ya, kutunggu kau dirumah,” ujar Jb cepat, kemudian dia menutup telepon sebelum Mark sempat menjawab.

“Kalau kau sakit, bilang saja. Jangan jaim begitu,” kata Mark sambil memasukan kembali ponselnya ke saku celana.

“Hyung, kau baru mau pulang?” tanya Youngjae ketika Mark melewati gedung SMA JYP.

“Rencananya sih begitu, tapi sepertinya aku akan mampir ke kedai ramyun dan apotik dulu,” jelas Mark. “Mana Bambam dan Yugyeom?”

“Kau ada perlu apa Hyung kesana? Mereka bilang mereka sedang mengerjakan tugas tambahan di perpustakaan bersama dengan teman-temannya. Tadi aku sempat bertemu mereka di perpus,”

“Jb sepertinya sedang sakit. Tadi dia menelepon untuk minta dibelikan ramyun, dan aku berinisiatif untuk membelikannya obat flu atau penurun demam. Kau mau ikut?”

“Hmm… baiklah dengan senang hati. Jadi menu makan malam kita hari ini ramyun?” tanya Youngjae. Mark pun mengangguk sambil tersenyum.

 

—<>—

 

“Jb-ya, ramyunnya sudah siap,” kata Mark sambil menepuk pundak Jb yang sedang tertidur pulas. Jb memang sedang demam ketika Mark menyentuh bahunya yang agak hangat.

“Ah, gomawo Hyung,” ujar Jb sambil berusaha bangun. Wajahnya agak pucat.

“Kau tunggu sini saja, biar aku ambilkan,” kata Mark kemudian mengholang dibalik pintu kamar Jb. Jb hanya menghela napas. Kemudian diatas meja belajar Jb melihat ada tas Youngjae terparkir disana. Itu artinya Youngjae sudah pulang sekolah. Youngjae merupakan teman satu kamar Jb.

“Hyung, kau tidak apa-apa?” tanya Youngjae sambil masuk ke kamar sambil membawa sebuah baki. “Kata Mark Hyung suhu tubuhmu panas. Wajahmu juga agak pucat.” Youngjae pun meletakan baki berisi semangkuk ramyun, segelas air putih dan sebotol obat itu diatas meja disamping kasur Jb.

“Aku tidak apa-apa, hanya kelelahan sedikit,” sahut Jb sambil mengambil segelas air putih. “Gomawo, Youngjae-ya.”

“Mau kubantu, Hyung? Mark Hyung sedang sibuk dengan tugas kuliahnya, jadi aku yang mengantarkan ramyun pesananmu kesini,” jelas Youngjae sambil menyuapi Jb.

“Tidak usah repot-repot Youngjae-ya, aku terima tawaranmu saja,” ujar Jb sambil mengambil semangkuk ramyun dari tangan Youngjae. “Yang lain sudah pada pulang?”

“Bambam dan Yugyeom bilang mereka ada pertandingan basket, Junior Hyung akan pulang telat, sementara Jackson Hyung tidak ada kabar,” jelas Youngjae. Jb hanya mengangguk sambil memakan ramyunnya itu.

“Youngjae-ya…” ujar Jb pelan sambil meletakkan mangkuk yang sudah kosong keatas baki.

“Ne, Hyung? Oiya jangan lupa minum obat agar demammu turun,” sahut Youngjae sambil memberikan sebutir parasetamol. Jb pun mengagguk dan segera menelan parasetamol yang diberikan Youngjae.

“Kalau kau memutuskan kekasihmu tanpa memberikan penjelasan apa-apa, apakah itu suatu kesalahan besar?” tanya Jb.

“Maksudmu Hyung? Aku tidak mengerti.”

“Aku memutuskan kekasihku tanpa memberikannya penjelasan apa-apa. Apakah aku telah bersikap jahat pada mantan kekasihku itu?”

Youngjae menaikan sebelah alisnya, berusaha mencerna pertanyaan yang diberikanJb. Namun akhirnya, ia mengerti maksud pertanyaan itu. “Kupikir iya Hyung. Tapi, kau pasti tidak ingin memberikan penjelasan itu karena takut menyakiti hati gadis itu, kan?”

“Iya, mungkin begitu. Aku takut dia akan berpikiran macam-macam padaku.”

“Tapi mungkin gadis itu akan mengerti. Perasaan perempuan kan, lebih peka. Kau baru putus dengan kekasihmu, Hyung?”

Jb hanya mengangguk, kemudian menatap Youngjae, membuat adik-satu-kamarnya itu bingung bercampur iba. “Semoga saja begitu.”

 

—<>—

 

“Junior-ssi, terimakasih atas kerjasamanya,” ujar Junho pada Junior ketika mereka telah menyelesaikan tugas kuliah. Junho merupakan senior Junior, mahasiswa semester 4.

“Ne, terimakasih juga sudah membantuku, Sunbae,” kata Junior sambil membungkuk.

“Jangan memanggilku Sunbae, panggil saja aku Hyung. Umur kita tidak terlalu jauh kan?” tegur Junho sambil tertawa. “Nama aslimu Park Jinyoung, kenapa kau dipanggil Junior?” tanya Junho setelah tawanya reda.

“Itu karena namaku sama dengan nama pemilik sekolah ini, yaitu Mr Park Jinyoung. Sejak SMA aku sekolah disini, dan teman-teman SMA-ku memanggilku Mr Jinyoung Junior, akhirnya aku terbiasa dan mulai menyukai panggilan Junior,” jelasnya. Junho hanya mengangguk mengerti.

Setelah berbincang cukup lama, Junior pun akhirnya pamit pulang. Junho sebenarnya sudah menawarkan tumpangan, namun entah kenapa Junior menolak tawaran itu. Dia lebih suka berjalan kaki menuju apartemennya, karena letak kampus dan apartemennya tidak begitu jauh. Meskipun begitu, tetap saja waktu telah menunjukan pukul 9 malam. Artinya Junior tetap harus berhati-hati.

Junior menatap suasana kampus di malam hari. Koridor dengan lampu yang remang-remang, suasana yang sepi dan ruangan yang gelap sukses membuat Junior merinding. Sejujurnya, dia sangat penakut. Dia takut dengan semua hal yang berbau horror, terutama hantu. Junior pun mempercepat langkahnya dan berharap tidak bertemu hantu.

“Junior-ssi…”

Terdengar sebuah suara memanggilnya. Junior semakin takut saja. Dia pun kembali mempercepat langkahnya. Kini dia menyesal kenapa dia tidak ikut tumpangan dari Junho.

“Junior-ssi….”

Lagi. Suara itu memanggilnya lagi. Kali ini bukan hanya berjalan cepat, dia juga berlari. Namun rupanya ada seseorang atau sesosok yang mengikutinya berlari. Junior semakin panic saja.

Tiba-tiba, ada sebuah tangan yang menepuk bahu kurusnya.

“Ampun!!! Hantu tolong jangan makan akuuuuuuu!!!!!” jerit Junior memecah keheningan.

“Hahahaha!!!” terdengar suara tawa dibelekangnya. Tunggu, sepertinya aku kenal dengan tawa ini? Pikirnya. Junior pun menoleh, dan betapa kagetnya dia mengetahui kalau ‘sosok’ yang daritadi menakutinya adalah Jackson.

“Jackson-ah, kau membuatku taku!” pekik Junior. Jackson pun terus tertawa terpingkal-pingkal.

“Hahaha, maaf maaf. Habis kau lucu sekali,” kata Jackson setelah tawanya reda.

“Cih, sama sekali tidak lucu. Kau kan tahu sendiri kalau aku takut hantu. Melihat suasana sepi saja membuatku takut setengah mati!”

“Nah justru itu, kenapa kau takut pada hantu? Kau kan laki-laki. Jadi tadi aku sengaja mengerjaimu. Maaf.”

Junior pun menatap sebal pada Jackson yang sepertinya belum puas untuk mengerjainya. “Kau, kenapa malam-malam begini masih ada di kampus?”

“Aku habis membaca di perpus sampai lupa waktu. Kau sendiri?”

“Membaca buku? Jangan bohong, pasti kau numpang online di komputer perpus kan? Aku habis membantu Junho Hyung melakukan penelitian untuk skripsinya.”

“Hahaha, kau memang tidak bisa dibohongi. Yasudah kita pulang, Mark Hyung bilang cepat pulang, nanti ramyunnya keburu dingin.”

Junior pun mengangguk dengan perkataan Jackson. Dia enggan untuk berdebat lagi, karena dia sudah tak ingin berada di kampus yang suasananya cukup menegangkan itu.

 

—<>—

 

Tok tok tok!

Terdengar suara pintu kamarnya diketok keika Junior sudah bersiap untuk tidur. Walau lelah, tapi dia merasa tidak enak untuk menolak memberi pertolongan ketika ada salah satu orang dirumahnya yang membutuhkan bantuannya.

“Masuk saja, tidak dikunci kok,”seru Junior. Perlahan-lahan pintu kamarnya pun terbuka. Rupanya Youngjae.

“Hyung, kau belum tidur?” tanya Youngjae sambil duduk disamping Junior.

“Kalau aku sudah tidur, aku tidak akan mengizinkanmu untuk masuk ke kamarku,” ujar Junior. “Ada apa Youngjae-ya?”

“Begini Hyung, bisakah kau membantuku dalam tugas wawancara? Guru bahasaku memberikan tugas wawancara, tapi sampai sekarang aku dan temanku belum menemukan tema yang pas. Kau bisa membantuku tidak? Kau kan, mahasiswa Komunikasi,” jelas Youngjae.

“Baiklah, tapi jangan sekarang ya, aku sangat lelah,” ujar Junior.

“Aku tidak memintamu untuk membantuku sekarang,” sahut Youngjae. “Kalau besok bisa? Aku akan mengajak partnerku.”

“Baiklah. Kita bertemu di café Jung yang didekat sekolahmu sekitar jam 2 siang ya.”

“Baik, hyung.”

“Hubungi aku kalau kau sudah tiba.”

“Siap, selamat istirat Hyung,” ujar Youngjae sambil melangkah keluar kamar. Setelah Youngjae menutup pintu kamarnya, Junior segera rebahan di kasur yang lumayan luas itu. Dia sendirian. Tidak memiliki teman sekamar seperti teman satu rumahnya yang lain.

 

—<>—

 

“Jaebum-ah, kumohon berikan aku penjelasan…”ujar Sohyun lirih. Suaranya tercekat, tanda dia berusaha menyembunyikan tangisnya. Jb merasa tak tega, tapi dia tetap merahasiakan alasannya memutuskan Sohyun.

“Jaebum-ah…”

“Kumohon Sohyun-ah, biarkan itu tetap menjadi privasiku,” jelas Jb sambil memalingkan wajah. Dia tak ingin melihat mantan kekasihnya itu menangis didepannya.

“Baik, kalau itu tetap keinginanmu. Aku terima!” sentak Sohyun, kemudian berlari meninggalkan Jb. Sohyun terus berlari, sampai akhirnya…

Dia tidak melihat keadaan saat menyebrang jalan raya. Dia terus berlari.

“Kwon Sohyun!!!” teriak Jb.

Brak!

Terlambat. Mantan kekasihnya sudah terbujur kaku diatas aspal. Dengan darah segar mengalir dikepalanya.

 

“Sohyun-ah!!” Jb pun terbangun dari tidurnya.

“Hyung, kau bermimpi buruk?” tanya Youngjae sambil duduk di kasurnya. Jb pun mengatur napasnya. Dia sudah melihat Youngjae sudah rapi dengan seragam sekolahnya.

“Sekarang jam berapa?” tanya Jb.

“Jam 6.15 Hyung,” jawab Youngjae sambil melihat arolji yang melilit di pergelangan tangan kirinya.

“Sudah pagi rupanya. Pantas kau sudah siap,” ujar Jb.

“Demammu sudah turun?” tanya Youngjae.

“Iya Youngjae-ya, sudah kok. Berkat obat pemberianmu kemarin, aku jadi merasa agak baikan,” jelas Jb sambil tersenyum.

“Hari ini ada kuliah, Hyung? Kalau tidak ada, sebaiknya kau beristirahat saja,” saran Youngjae.

“Tidak, aku tidak bisa melewatkan mata kuliah hari ini. Kajja kita ke dapur,” ajak Jb. Youngjae pun mengangguk. Setelah memakai rompi seragamnya, kedua kakak-adik-satu-kamar itu segera meninggalkan kamar.

“Selamat pagi Jb Hyung, selamat pagi Youngjae Hyung,” sapa Yugyeom begitu Jb dan Youngjae keluar kamar.

“Jb-ya, apa demammu sudah turun?” tanya Mark sambil meletakan beberapa menu sarapan diatas meja.

“Iya Hyung. Terimakasih ya obatnya,” ujar Jb. Mark hanya tersenyum.

“Hyung, nanti jangan lupa ya, kutunggu di kafe didekat kampusmu,” kata Youngjae pada Junior saat Junior duduk dihadapannya.

“Iya Youngjae-ya, arasseo.”

“Kalian akan melakukan kencan buta?” tanya Bambam asal yang membuat semua Hyungnya shock. Termasuk Junior dan Youngjae sendiri.

“Apa? Kencan buta? Youngjae Hyung, kau…” ujar Yugyeom.

“Junior-ah, Youngjae-ya, jadi selama ini kalian…” tambah Jackson sambil berusaha menelan roti dimulutnya.

“Ternyata… Youngjae-ya, kau masih waras kan? Kau masih SMA, ingat itu.” Mark ikut menimpali.

“Kalian ini bicara apa, sih?” tanya Junior dan Youngjae keheranan.

“Kalian ingin janjian di kafe berdua kan? Berarti… ah, aku tak bisa mengatakannya,” ujar Bambam ragu-ragu.

“Bambam-ah, jangan salah sangka,” sangkal Youngjae. “Aku hanya meminta tolong pada Junior Hyung untuk membantuku mengerjakan tugas. Dan kami tidak berdua, tetapi aku membawa seorang temanku. Ara?” jelas Youngjae.

“Nah, benar itu. Kalau aku membantu mengerjakan tugas disini, yang ada diganggu oleh kau dan Yugyeom,” tambah Junior.

“Oh begitu. Kupikir apa,” sahut Bambam.

“Bambam, Yugyeom, Youngjae, kalian tidak berangkat? Sudah jam 6.30,” ujar Jb mengingatkan. Sebagai pemimpin di apartemen itu, Jb bertanggung jawab untuk mengurus adik-adiknya yang masih SMA itu.

“Ah baiklah. Kami berangkat Hyung,” ujar Youngjae sambil melangkah pergi, diikuti oleh Bambam dan Yugyeom, yang merupakan adik kelasnya.

 

—<>—

 

“Jinyoung-ah!” panggil Sohyun begitu ia melihat Junior keluar dari perpustakaan.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Junior bertubi-tubi. Sohyun hanya tertawa kecil.

“Kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu?” kali ini Junior bertanya dengan nada jengkel. Membuat Sohyun semakin ingin tertawa.

“Memangnya aku tidak boleh tertawa mendengar gaya bicaramu yang lucu itu?” kata Sohyun setelah tawanya reda. “Pertanyaanmu yang berulang, dan juga kau bertanya sambil kesal seperti itu, memangnya aku tidak boleh tertawa?”

Junior hanya menghela napas, kemudian pergi meninggalkan Sohyun.

“Jinyoung-ah, jangan marah…” ujar Sohyun sambil mengejar Junior. “Maafkan aku.”

Junior pun menghentikan langkahnya. Kini dia pun menatap Sohyun sambil tertawa.

“Jinyoung-ah, kenapa kau tertawa?”

“Kau lucu, melihatmu merasa bersalah seperti tadi membuatku ingin tertawa. Kini kita impas, kan?” ujar Junior sambil melanjutkan tawanya. Sementara Sohyun hanya mengacak-acak jambul Junior yang ditata rapi itu.

“Aish, kupikir kau benar-benar marah padaku,” gerutu Sohyun.

“Tidak, aku hanya bercanda. Oiya, ada apa kau menemuiku?”

1 step and 2 step girl
everybody wanna makes that noise
modu dagati hands up yeogi moyeo hands up
gireul gireul bikyeora

Belum sempat Sohyun menjawab pertanyaan Junior, tiba-tiba ponsel Junior berbunyi.

“Minahae Sohyun-ah, sebentar ya,” ujar Junior sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“Ne, silakan,”

“Yeoboseyo?” tanya Junior setelah menekan tombol hijau di smartphone-nya.

“Hyung, ini aku. Aku dan temanku sudah berada di kafe,” beritahu orang yang ada di sebrang telepon. Mendadak Junior pun teringat sesuatu.

“Oh, baiklah Youngjae-ya. Aku akan segera kesana. Annyeong.”

“Siapa?” tanya Sohyun setelah Junior kembali memasukan ponselnya ke saku celananya.

“Adik kelasku yang tinggal satu apartemen denganku. Dia memintaku untuk membantunya mengerjakan tugas di kafe. Kau mau ikut?” ajak Junior.

“Ah tidak usah. Yang ada nanti aku malah menganggu. Lagipula aku mau menemui Jaebum.”

“Jaebum? Mantan kekasihmu?” tanya Junior dengan tatapan menyelidik. Sohyun hanya mengangguk.

“Untuk apa kau menemuinya? Kalian kan sudah berakhir.”

“Memangnya salah kalau aku menemuinya?”

“Tidak sih, terserah kau saja. Baiklah aku pergi dulu.”

“Ne Jinyoung-ah, hati-hati.”

 

—<>—

 

“Yugyeom-ah,” panggil Bambam sambil mengoper bola futsal pad Yugyeom. Mereka bersama beberapa teman sekelasnya sedang bermain futsal saat jam olahraga.

“Kenapa?” tanya Yugyeom sambil menggiring bola kearah gawang.

“Kalau aku mengubah model rambutku, apa reaksimu?” tanya Bambam setengah tidak penting.

“Kau ini kenapa?” Yugyeom justru balik bertanya.

“Lalu, kalau aku memotong habis rambutku bagaimana?”

“Kau kenapa, Bambam-ah? Kau ingin menjadi seorang biksu?” tanya Jungkook yang kebetulan ada dibelakang Bambam.

“Anni, aku hanya merasa keren kalau tidak memiliki rambut,” jawab Bambam.

“Nanti ketampanan mu hilang baru tahu rasa. Tidak ada lagi gadis yang mau mendekatimu lagi,” sahut Jungkook.

“Nah benar tuh!” Yugyeom membenarkan pendapat Jungkook.

“Justru aku ingin seperti itu.”

Pertandingan futsal pun berakhir. Dengan sigap Yerin dan Jimin pun segera menghampiri Bambam. Yerin memberikan sebotol air mineral pada Bambam, sementara Jimin memberikan saputangan untuk mengelap keringat Bambam.

“Cih, si Bambam itu memang kurang bersyukur. Kalau aku jadi dia, aku akan senang dilayani oleh dua yeoja itu,” celetuk Yugyeom.

“Hei, kau cemburu?” ledek Jungkook sambil menyikut lengan Yugyeom.

“Cemburu? Mungkin saja…” Yugyeom pun mengambil sebotol air mineral dan langsung menghabiskan setengah.

“Kau menyukai kedua gadis itu?”

“Anni, aku hanya menyukai Yerin. Tapi sepertinya Yerin justru menyukai Bambam.”

“Wah, malang sekali nasibmu. Sabar ya.” Jungkook pun menepuk-nepuk punggung Yugyeom, sementara Yugyeom hanya bisa pasrah sambil terus menghabiskan minumannya.

“Yugyeom-ah!” tegur Bambam sambil menepuk pundak Yugyeom.

“Kenapa lagi? Pulang sekolah nanti kau mau mengajakku ke salon untuk memotong habis rambutmu?” ujar Yugyeom sebal.

“Anni, itu Youngjae Hyung!” ujar Bambam sambil menunjuk seseorang yang sedang berjalan kearah gerbang sekolah. Dia adalah Youngjae, dan bersama seorang perempuan.

“Youngjae Hyung? Kenapa? Mana?” tanya Yugyeom sambil melihat kearah yang dimaksud Bambam.

“Dia… kenapa dia pergi keluar sekolah. Anni, kenapa dia bersama Hayoung nuna?”

“Memang kenapa kalau Youngjae Hyung pergi dengan Hayoung Nuna? Mereka mungkin mau mengerjakan tugas.”

“Tapi, kenapa hanya berdua dengan Hayoung Nuna?”

“Kau kenapa, Bambam?” tanya Jungkook penasaran.

“Aku cemburu. Aku cemburu pada Youngjae Hyung yang jalan berdua dengan Hayoung Nuna!”

Yugyeom dan Jungkook pun hanya saling pandang, kemudian mereka menatap Bambam yang masih melihat kearah gerbang sekolah. Sementara Yerin dan Jimin yang masih berdiri dibelakang Bambam hanya bisa shock.

Apakah Bambam menyukai Hayoung?

 

—<>—

5 thoughts on “Love Story Between Us [Part 1]

  1. Part pertama masih ambigu yah…heheheheh

    Semoga dipart part selanjutnya bakalan lebih ketauan jalan ceritanya
    Aku seneng banget ada fanfiction Got7

    Di tunggu kelanjutannya yah…

  2. bambam suka hayoung tapi hayoung suka junior nanti youngjae sama sohyun gitu.

    huaa pengen youngjae jadian sama hayoung T.T
    bias aku dua”nya soalnya.. *abaikan ini thor

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s